Anda di halaman 1dari 8

TUHAN MELIHAT HATI (Denny Teguh Sutandio)

TUHAN MELIHAT HATI


oleh: Denny Teguh Sutandio

Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat


apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.
(1Sam. 16:7b)

Kitab 1 Samuel 16 sedang berbicara tentang pengangkatan Daud


sebagai raja. Di ayat 1 diawali dengan Tuhan yang tidak menghendaki
Saul menjadi raja atas Israel (Saul dibiarkan Tuhan memimpin Israel
karena Israel memberontak dipimpin oleh Allahbdk. 1Sam. 8:1-22).
Sebenarnya penyesalan Tuhan atas diangkatnya Saul sudah dapat
dilihat ketika Saul tidak menaati firman Tuhan (bdk. 1Sam. 15:1-10).
Sebagai ganti Saul, maka Tuhan menyuruh Samuel untuk pergi kepada
Isai, orang Betlehem untuk mengurapi salah satu dari anak Isai (1Sam.
16:1b) dan supaya Saul tidak marah dan membunuh Samuel, maka
Tuhan menyuruh Samuel untuk mengadakan upacara pengorbanan (ay.
2-3). Di saat itulah, Samuel mengundang Isai dan semua anaknya.
Ketika anak sulung Isai, Eliab muncul di hadapan Samuel, Samuel
dengan cepat menganggap bahwa inilah yang dipilih Tuhan. Mengapa?
Karena Samuel melihat Eliab itu tampan dan tinggi. Namun, apa jawab
Tuhan? Di ayat 7, Ia berfirman kepada Samuel, Janganlah pandang
parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya.
Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa
yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. Kemudian dilanjutkan
dengan anak kedua, ketiga, dst, dan ketika anak ketujuh Isai yang
bernama Daud (bdk. 1Taw. 2:15) muncul di hadapan Samuel (setelah
dipanggil pulang oleh Isai), maka Tuhan menjatuhkan pilihan kepadanya
(ay. 12). Dari ayat 7 ini (dan juga nantinya alasan Tuhan memilih Daud

menjadi raja Israel menggantikan Saul), kita belajar 2 prinsip penting:


Pertama, Tuhan menolak hal-hal lahiriah (ay. 7a). Hal-hal lahiriah adalah
apa yang dipandang baik dan menawan di mata manusia, misalnya:
kaya, tampan/cantik, pandai, dermawan, bahkan tampak religius, dll.
Dan uniknya, Tuhan menolaknya. Prinsip ini secara konsisten diterapkan
oleh Allah sendiri di seluruh Alkitab. Di dalam Perjanjian Lama, Tuhan
berfirman kepada umat Israel melalui nabi Amos, Aku membenci, Aku
menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan
rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku
korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka,
dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau
pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu,
lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan
bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu
mengalir. (Am. 5:21-24) Di dalam Perjanjian Baru, ketika hendak
memilih para murid, Kristus sendiri TIDAK memilih murid dari kalangan
Farisi, tetapi justru dari nelayan (Mat. 4:18-22). Bahkan di dalam 1
Korintus 1:19 yang mengutip Yesaya 29:14, Tuhan melalui Paulus
mengajar, Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan
kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan. Bahkan lebih tajam lagi
di 1 Korintus 1:25, Paulus mengatakan, Sebab yang bodoh dari Allah
lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah
lebih kuat dari pada manusia. Dari sini, kita belajar perspektif Allah jauh
lebih tinggi dari perspektif manusia, meskipun seolah-olah perspektif
Allah itu terlihat bodoh.
Jika Tuhan menolak hal-hal lahiriah, mengapa di ayat 12, Tuhan sendiri
akhirnya memilih Daud yang parasnya elok? Apakah Allah tidak
konsisten? TIDAK. Tuhan menolak hal-hal lahiriah, karena:
Kedua, Tuhan melihat hati, sedangkan manusia melihat apa yang di
depan mata (ay. 7b). Dengan kata lain, alasan Tuhan menolak hal-hal
lahiriah bukan karena Dia tidak menyukai sama sekali hal-hal lahiriah,
tetapi Tuhan lebih melihat hati. Meskipun Daud secara paras elok,
namun hati Daud itu tulus.

Sekarang, yang menjadi pertanyaannya, mengapa Tuhan melihat hati?

Saya menemukan dua alasan:


1, hati adalah inti dan totalitas hidup Kristen. Ketika Tuhan melihat hati,
itu berarti Tuhan melihat inti hidup Kristen di mana dari hati keluar
pikiran, perkataan, dan tindakan. Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus
mengajar hal ini sebanyak 2x. Menjawab fitnahan orang-orang Farisi,
Kristus berfirman, yang diucapkan mulut meluap dari hati. (Mat.
12:34b) Di Matius 15:19, menjawab pertanyaan Petrus, Kristus
berfirman, Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan,
perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Berarti,
ketika hati kita beres dan murni di hadapan-Nya, maka pikiran,
perkataan, dan tindakan kita (secara proses) pasti beres. Selain itu, hati
berbicara tentang totalitas hidup Kristen di mana kehidupan Kristen
dilihat dari hati. Di Amsal 4:23, Tuhan melalui Salomo mengajar,
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah
terpancar kehidupan. Dengan kata lain, ketika kita sebagai orang
Kristen kurang menampakkan karakter Kristiani, terlebih dahulu,
periksalah hati kita, sudahkah hati kita murni di hadapan-Nya? Setelah
itu, kita baru melihat kehidupan orang lain yang juga Kristen, lalu menilai
mereka. Dengan melihat hati sebagai totalitas hidup Kristen, kita TIDAK
akan terkecoh dengan performa. Mengutip perkataan Pdt. Yohan
Candawasa, S.Th., jika agama-agama di luar Kristen bisa dikategorikan
sebagai agama performa yang menampilkan tampilan-tampilan religius
(seperti: berpuasa, meditasi, dll; bahkan ada agama yang sengaja
menampilkannya di depan umum supaya agamanya dihormati oleh
orang beragama lain, hehehe), maka Kekristenan tampil sebagai satusatunya AGAMA HATI. Performa memang perlu, tetapi bukan hal
penting! Alangkah bahayanya jika kita sibuk mengurusi hal-hal lahiriah
(bahkan secara rohani): sibuk belajar Alkitab, mengikuti pembinaan, dll,
tetapi hati kita kering bahkan busuk!
Kedua, hati berbicara tentang ketulusan. Apa arti tulus?
1. Murni (tidak bercabang).
Murni berarti hidup bersih berdasarkan hati yang telah, sedang, dan
akan dikuduskan Roh Kudus. Dengan kata lain, di dalam kemurnian,
tidak ada maksud lain ketika berkata dan bertindak sesuatu (tidak ada
tedeng aling-aling). Seorang yang hatinya murni mengatakan dan
bertindak apa pun sesuai kebenaran. Namun perlu diperhatikan,

mengatakan dan bertindak apa pun sesuai kebenaran TIDAK berarti


harus kasar. Perhatikanlah ketika Tuhan Yesus mengkritik keras para
pemimpin agama di Matius 23. Hal yang sama dilakukan Paulus ketika
mengkritik Petrus di Galatia 2:11-14. Kristus dan Paulus sama-sama
keras menegur dosa, namun mereka TIDAK mengeluarkan sumpah
serapah yang tidak sopan.
2. Konsisten.
Seorang yang hatinya murni ditandai dengan kekonsistenan hidupnya
antara hati dan pikiran, hati dan perkataan, pikiran dan tindakan, dan
perkataan dan tindakan. Tidak ada kemunafikan dan sungkan-isme
dalam diri seorang yang konsisten. Apa yang dipikirkan, dikatakan, dan
dilakukannya sesuai dengan hatinya. Hal ini berbeda dengan orang
yang munafik (orang Israel) yang Tuhan Allah jelaskan sendiri,
bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku
dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya
kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, (Yes. 29:13)
Bangsa Israel dihakimi Tuhan sebagai bangsa yang munafik dan ini juga
menjadi pelajaran berharga bagi kita sebagai orang Kristen. Acapkali
banyak orang Kristen terlihat beribadah di gereja, mengikuti acara
rohani, memberikan persepuluhan, dll, tetapi maafkan, semua aktivitas
rohani banyak yang dilakukan BUKAN keluar dari hati yang benar-benar
mencintai Tuhan dan firman-Nya, tetapi itu semua hanya rutinitas belaka
untuk membuktikan bahwa mereka bertobat dan Kristen. Apakah
seorang Kristen yang secara mulut berkata bahwa ia bertobat adalah
sungguh-sungguh seorang petobat sejati? Belum tentu. Pertobatan
sejati TIDAK dilihat dari perkataannya, tetapi dari hati: apakah sungguhsungguh ia menomersatukan Tuhan di atas apa dan siapa pun di dunia
ini? Jika seorang yang mengaku bertobat, tetapi masih menomerduakan
Tuhan (dengan menomersatukan BlackBerry atau lainnya) atau bahkan
menganggap Tuhan hanya sebagai ban serep yang bisa dipergunakan
seenaknya sendiri, saya terus terang meragukan pertobatan orang ini.
Seorang yang konsisten juga adalah seorang yang tidak sungkan. Saya
tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh sungkan sama sekali, karena
dalam beberapa hal, sungkan ada baiknya, namun harus disadari, juga
ada buruknya. Seorang yang sungkan biasanya seorang yang kurang
bisa tegas dalam bersikap, karena didasari oleh motivasi yang seolah-

olah baik yaitu tidak ingin menyakiti perasaan orang lain! Hal ini sangat
nampak pada diri banyak cewek (tidak menutup kemungkinan cowok
juga) muda zaman sekarang yang karena sungkan lalu kurang bisa
tegas dalam bersikap berkenaan dengan hubungan lawan jenis: sudah
punya pacar, eh, masih jalan berdua dengan lawan jenis lain dengan
alasan si lawan jenis tidak bertanya apakah si cewek sudah punya pacar
atau belum. Bukankah seharusnya cewek beres yang sudah punya
pacar bisa menyangkal diri untuk tidak jalan berdua dengan cowok lain
dengan alasan apa pun? Benar-benar mengerikan generasi muda
zaman sekarang!

Jika Tuhan melihat hati, lalu apa respons kita sebagai orang Kristen?
Mengutip perkataan terkenal dari Dr. John Calvin, salah satu reformator
besar, cor meum tibi offero domine prompte et sincere (my heart I offer
to you Lord promptly and sincerely). Biarlah kerinduan Calvin yang
mempersembahkan hatinya kepada Tuhan dengan tulus dan sungguh
juga menjadi kerinduan setiap orang Kristen. Bagaimana
mempersembahkan hati kita kepada Tuhan dengan tulus dan sungguh?
Caranya dengan mengasihi-Nya dengan seluruh hidup kita seperti yang
diajarkan baik dalam Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru:
Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. (Ul. 6:5) dan
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Mat. 22:37) Dari
dua ayat ini, Tuhan mengatakan hal yang sama yaitu mengasihi Tuhan
Allah dimulai dari hati, berarti ketika kita hendak mempersembahkan hati
kita kepada Tuhan sama dengan mulai mengasihi-Nya dengan hati kita.
Bagaimana mengasihi Allah dengan hati kita?
Pertama, memiliki hati sebagai hamba. Di dalam 1 Petrus 3:15a, Tuhan
melalui Rasul Petrus mengajar kita, kuduskanlah Kristus di dalam
hatimu sebagai Tuhan! Memang secara konteks, Petrus mengatakan
hal ini sebagai dasar agar orang Kristen nantinya dapat memberi
pertanggungjawaban kepada orang lain yang meminta tanggung jawab
dari kita, namun ayat ini juga dapat menjadi pelajaran berharga bagi
orang Kristen agar biarlah hati kita men-Tuhan-kan Kristus. Ketika hati
kita men-Tuhan-kan Kristus, berarti secara otomatis di dalam hati kita,

kita menghambakan diri di bawah takhta pemerintahan Kristus. Itulah


artinya memiliki hati sebagai hamba. Memiliki hati sebagai hamba
berarti: Pertama, secara aktif, dengan inisiatif sendiri mempelajari firman
Allah dan mengizinkan Allah dan firman-Nya memimpin dan mengoreksi
hidup kita (entah itu motivasi hati, pikiran, perkataan, dan tindakan)
seperti kerinduan pemazmur, Dengan segenap hatiku aku mencari
Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.
Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa
terhadap Engkau Condongkanlah hatiku kepada peringatanperingatan-Mu, dan jangan kepada laba. (Mzm. 119:10-11, 36) Kedua,
secara pasif, siap dikoreksi oleh orang lain ketika kita bersalah. Ketika
kita bersalah dalam motivasi hati, pikiran, perkataan, dan tindakan, tentu
ada orang lain (yang dekat dengan kita) yang mengoreksi kita, dan
itulah saatnya bagi kita menerima teguran itu dengan bijaksana, lalu
memikirkannya ulang, dan berkomitmen untuk tidak melakukan
kesalahan yang sama (jika memang teguran itu benar-benar objektif).
Saya tahu, secara teori, hal ini mudah dikatakan, namun biarlah Roh
Kudus terus-menerus memimpin kita untuk siap ditegur dan siap
berubah.
Kedua, hati memimpin pikiran, pikiran memimpin perkataan, dan
perkataan memimpin tindakan. Ketika hati kita telah dimurnikan oleh
Allah dan firman-Nya, maka kita tidak boleh berhenti hanya di tataran
hati, sebaliknya hati kita harus memimpin seluruh hidup kita di mana:
1. Hati memimpin pikiran.
Hati yang tulus dan murni yang telah dipersembahkan kepada Allah
memimpin pikiran, sehingga pikiran menjadi semakin tulus dan murni
bagi Allah (bdk. Ams. 14:33). Pikiran yang tulus dan murni bukan hanya
pikiran yang bersih, tetapi juga pikiran yang tajam. Semakin seseorang
memiliki hati yang murni di hadapan-Nya, (secara proses) ia semakin
memiliki pikiran yang tajam. Pikiran yang tajam meliputi pikiran kritis
yang memikirkan hal-hal yang tak dipikirkan oleh orang dunia. Pikiran
kritis tidak hanya berbicara tentang kepandaian, tetapi juga
kebijaksanaan. Contoh, di dalam Perjanjian Baru, Paulus adalah
seorang rasul Kristus yang memiliki hati yang murni sekaligus pikiran
yang tajam yang mengerti filsafat, sehingga ia diutus Tuhan
memberitakan Injil di daerah Eropa (Roma, dll). Salah satu reformator

gereja dari Prancis, Dr. John Calvin yang berkomitmen menyerahkan


hatinya kepada Tuhan dengan tulus dan sungguh juga merupakan
sosok theolog agung yang memiliki hati yang murni sekaligus pikiran
yang tajam. Biarlah kita meneladani doa dari hamba-Nya, Pdt. Dr.
Stephen Tong: agar kita semakin pandai (dan juga semakin bijaksana)
dan semakin murni demi kemuliaan-Nya.
2. Pikiran memimpin perkataan.
Pikiran yang murni dari seorang Kristen akan memimpinnya untuk dapat
berkata sesuatu yang tulus sekaligus membangun dan bermanfaat bagi
orang lain khususnya untuk memuliakan-Nya. Berkata sesuatu yang
tulus berarti apa pun yang dikatakannya benar-benar tulus dari hatinya,
bukan berpura-pura demi menyenangkan pihak lain. Alangkah
menyedihkan jika ada beberapa orang Kristen yang aktif mengikuti
kebaktian dan seminar rohani ternyata seorang yang juga gemar
bermulut manis demi merayu orang lain (bahasa Jawa: mbasahi lambe).
Bagi saya, selain tidak tulus, orang ini juga berdusta dengan dirinya
sendiri dan mendustai orang lain. Berkata hal yang membangun dan
bermanfaat bagi orang lain TIDAK berarti selalu mengatakan hal-hal
positif tentang dan kepada orang lain. Ketika kita perlu menegur orang
lain dengan kasih (bukan dengan ancaman/tuntutan yang
membelenggu), di saat itulah, kita juga membangun orang lain. Saya
terus terang sedih dengan beberapa orang Kristen yang gemar belajar
theologi dan hal-hal lain semata-mata hanya untuk mengisi akalnya
saja, tetapi akalnya tidak pernah mengontrol perkataannya, sehingga
makin belajar theologi, makin sering berdebat dengan orang lain
ditambah mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan, seperti:
goblok, dll.
3. Perkataan memimpin tindakan.
Sesudah perkataan kita dikuduskan oleh Roh Kudus, maka perkataan
kita memimpin tindakan kita. Seorang anak Tuhan yang hatinya murni di
hadapan Tuhan akan konsisten antara apa yang dikatakannya dengan
apa yang dilakukannya. Ketika ia memuji Tuhan melalui pujian bahwa ia
mencintai Yesus, maka secara aplikasi, ia juga berkomitmen untuk
menjalankan apa yang dikatakannya melalui pujian tersebut dengan
menaati apa yang Kristus ajarkan di dalam Alkitab. Ketika seseorang

berkata sayang dan cinta kepada orang lain, maka hendaklah ia


membuktikan apa yang dikatakannya dengan berusaha menunjukkan
rasa sayang dan cinta itu, misalnya: dengan berkorban seperlunya
(berkorban paling tinggi HANYA kepada Allah yang telah
menyelamatkan kita), memprioritaskan seseorang yang kita
sayang/cintai lebih daripada teman lain, dll. Jika kita belum berani
menjalankan apa yang kita katakan, lebih baik berhentilah mengatakan
sesuatu, karena, Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus
dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. (Mat. 12:36)
Biarlah kita yang makin mencintai Tuhan, makin bertanggung jawab
dalam berkata-kata dengan komitmen menjalankan apa yang kita
katakan, sehingga kita bisa dipercaya oleh orang lain dan nama Tuhan
dipermuliakan.