Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem endokrin merupakan bagian dari sistem regulasi pada hewan dan membantu
menjaga keseimbangan internal tubuh. Baik vertebrata dan invertebrata memiliki sistem
endokrin. Sistem endokrin mengatur banyak fungsi tubuh, termasuk pertumbuhan dan
metabolisme, keseimbangan air, gula dan keseimbangan kalsium dalam aliran darah,
dan fungsi yang berkaitan dengan kematangan seksual dan reproduksi. Dua fungsi
utama di bawah kontrol endokrin di invertebrata adalah penumpahan dari exoskeleton
untuk pertumbuhan, yang disebut molting, dan metamorfosis, fungsi yang tidak terjadi
pada vertebrata.
Sistem endokrin tidak secepat untuk menanggapi rangsangan seperti sistem saraf
(sistem peraturan utama lainnya pada hewan), yang dapat merespon dalam waktu
kurang dari satu detik. Sistem endokrin dapat merespon dalam hitungan menit, dan efek
biasanya berlangsung lebih lama dari efek dari sistem saraf.
Sistem endokrin terdiri dari organ-organ yang menghasilkan utusan kimia yang
disebut hormon. Hormon yang dilepaskan langsung ke aliran darah pada vertebrata dan
invertebrata. Hormon beredar dengan darah, sehingga terdapat di berbagai lokasi di
dalam tubuh.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Jelaskan pengertian kelenjar endokrin!
2. Bagaimana struktur kelenjar endokrin?
3. Bagaimana klasifikasi hormon?
4. Apa fungsi sistem endokrin?
5. Bagaimana sistem endokrin pada amfibi?
6. Bagaimana sistem endokrin pada aves?
7. Bagaimana sistem endokrin pada invertebrata?
1.3 Tujuan
Sesuai dengan permasalahan di atas, tujuan yang dicapai dalam penulisan ini adalah:
1. Mengetahui apa itu kelenjar endokrin dan klasifikasi kelenjar endokrin pada
hewan.
2. Memenuhi nilai tugas mata kuliah Anatomi Veteriner II.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kelenjar Endokrin

Kelenjar endokrin atau kelenjar buntu, merupakan suatu kelenjar yang tidak
memiliki saluran pelepasan (ductless) untuk mengeluarkan hasil sekresi atau
penggetahannya ke luar dari tubuh kelenjar. Sekret atau getah yang diproduksi oleh
kelenjar yang demikian ini disebut hormon. Kelenjar endokrin tidak memiliki saluran,
hasil sekresi dihantarkan tidak melalui saluran, tapi dari sel-sel endokrin langsung
masuk ke pembuluh darah. Selanjutnya hormon tersebut dibawa ke sel-sel target
(responsive cells) tempat terjadinya efek hormon. Sedangkan ekresi kelenjar eksokrin
keluar dari tubuh kita melalui saluran khusus, seperti uretra dan saluran kelenjar ludah.
Dalam hal ini hanya jaringan tertentu saja yang mampu memberikan tanggapan/respons
terhadap hormon-hormon yang tertentu pula.
Hormon adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin
(kelenjar buntu). Hormon berfungsi mengatur pertumbuhan, reproduksi, tingkah laku,
keseimbangan dan metabolisme. Hormon masuk ke dalam peredaran darah menuju
organ target. Jumlah yang dibutuhkan sedikit namun mempunyai kemampuan kerja
yang besar dan lama pengaruhnya karena hormon mempengaruhi kerja organ dan sel.
Hormon terdiri dari 2 jenis berdasarkan struktur kimiawinya yaitu hormon yang
terbuat dari peptida (hormon peptida) dan hormon yang terbuat dari kolesterol (hormon
steroid). Perbedaan saraf dan hormon adalah saraf bekerja cepat dan pengaruhnya cepat
hilang. Sedangkan hormon bekerja lambat dan pengaruhnya lama.
2.2 Struktur Kelenjar Endokrin
Sistem endokrin terdiri dari kelenjar-kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin
merupakan sekelompok susunan sel yang mempunyai susunan mikroskopis sangat
sederhana. Kelompok ini terdiri dari deretan sel-sel, lempengan atau gumpalan sel
disokong oleh jaringan ikat halus yang banyak mengandung pembuluh kapiler.

Derivat asam amino: dikeluarkan oleh sel kelenjar buntu yang berasal dari jaringan

nervus medulla supra renal dan neurohipofise, contoh epinefrin dan norepinefrin.
Derivat peptida: dibuat oleh kelenjar buntu yang berasal dari jaringan alat

pencernaan.
Steroid: dibuat oleh kelenjar buntu yang berasal dari mesotelium, contoh hormon

testes, ovarium dan korteks suprarenal.


Asam lemak: merupakan biosintesis dari dua FA, contoh hormon prostaglandin.

2.3 Klasifikasi Hormon

Hormon perkembangan/Growth hormone: hormon yang memegang peranan di


dalam perkembangan dan pertumbuhan. Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar
gonad.

Hormon metabolisme: proses homeostasis glukosa dalam tubuh diatur oleh


bermacam-macam hormon, contoh glukokortikoid, glukagon, dan katekolamin.

Hormon tropik: dihasilkan oleh struktur khusus dalam pengaturan fungsi


endokrin yakni kelenjar hipofise sebagai hormon perangsang pertumbuhan
folikel (FSH) pada ovarium dan proses spermatogenesis (LH).

Hormon pengatur metabolisme air dan mineral: kalsitonin dihasilkan oleh


kelenjar tiroid untuk mengatur metabolisme kalsium dan fosfor.

2.4 Fungsi Sistem Endokrin


Sistem endokrin mempunyai lima fungsi umum :
1. Membedakan sistem saraf dan sistem reproduktif pada janin yang sedang
berkembang.
2. Menstimulasi urutan perkembangan.
3. Mengkoordinasi sistem reproduktif.
4. Memelihara lingkungan internal optimal.
5. Melakukan respons korektif dan adaptif ketika terjadi situasi darurat.

Dalam tubuh mamalia ada tujuh kelenjar endokrin yang penting, yaitu hipofisis, tiroid,
paratiroid, kelenjar adrenalin (anak ginjal), pankreas, ovarium, dan testis.

1. Hipofisis
Kelenjar Hipofisis (pituitary) disebut juga master of gland atau kelenjar pengendali
karena menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur kegiatan kelenjar
lainnya. Kelenjar ini berbentuk bulat dan berukuran kecil, dengan diameter 1,3 cm.
Hipofisis dibagi menjadi hipofisis bagian anterior, bagian tengah (pars intermedia), dan
bagian posterior

Gambar : hipofisis bagian anterior dan posterior

Hipofisis lobus anterior

.
Gambar.Hormon yang dihasilkan hipofisis lobus anterior beserta organ targetnya
Hormon
Hormon Somatotropin (STH), Hormon

Fungsi dan gangguannya


Merangsang sintesis protein dan metabolisme

pertumbuhan (Growth Hormone/GH)

lemak, serta merangsang pertumbuhan tulang


(terutama tulang pipa) dan otot. Kekurangan
hormon ini pada dapat menyebabkan
terhambatnya pertumbuhan (kretinisme), jika
kelebihan akan menyebabkan pertumbuhan
raksasa (gigantisme). Jika kelebihan terjadi pada
saat dewasa, akan menyebabkan pertumbuhan
tidak seimbang pada tulang jari tangan, kaki,
rahang, ataupun tulang hidung yang disebut

Hormon tirotropin atau Thyroid

akromegali.
Mengontrol pertumbuhan dan perkembangan

Stimulating Hormone (TSH)

kelenjar gondok atau tiroid serta merangsang

Adrenocorticotropic hormone (ACTH)

sekresi tiroksin
Mengontrol pertumbuhan dan perkembangan
aktivitas kulit ginjal dan merangsang kelenjar
adrenal untuk mensekresikan glukokortikoid

(hormon yang dihasilkan untuk metabolisme


Prolaktin (PRL) atau Lactogenic

karbohidrat)
Membantu kelahiran dan memelihara sekresi susu

hormone (LTH)
Hormon gonadotropin pada wanita :

oleh kelenjar susu

1. Follicle Stimulating Hormone (FSH)

Merangsang pematangan folikel dalam ovarium


dan menghasilkan estrogen.

2. Luteinizing Hormone (LH)

Mempengaruhi pematangan folikel dalam ovarium


dan menghasilkan progestron.

Hormone gonadotropin pada pria :


1. FSH

Merangsang terjadinya spermatogenesis (proses


pematangan sperma)

2. Interstitial Cell Stimulating


Hormone (ICSH)

Merangsang sel-sel interstitial testis untuk


memproduksi testosteron dan androgen

Hipofisis pars media


Jenis hormon serta fungsi hipofisis pars media:
Hormon
MSH (Melanosit

Fungsi
Mempengaruhi warna kulit individu. dengan cara menyebarkan

Stimulating Hormon)

butir melanin, apabila hormon ini banyak dihasilkan maka


menyebabkan kulit menjadi hitam.

Hipofisis lobus posterior

Jenis hormon serta fungsi dari hipofisis posterior:


No
1.
2.

Hormon
Oksitosin

Fungsi
Menstimulasi kontraksi otot polos pada rahim selama proses

Hormon ADH

melahirkan
Menurunkan volume urine dan meningkatkan tekanan darah
dengan cara menyempitkan pembuluh darah

Regulasi hormon ADH


Banyak sedikitnya cairan yang masuk dalam sel akan di deteksi oleh hipotalamus. Jika
cairan (plasma) dalam darah sedikit, maka hipofisis akan mensekresikan ADH untuk
melakukan reabsorpsi (penyerapan kembali) sehingga darah mendapatkan asupan cairan
dari hasil reabsorpsi tersebut. Dengan demikian kadar cairan (plasma) dalam darah
dapat kembali seimbang. Selain itu, karena cairan pada ginjal sudah diserap, maka
urinenya kini bersifat pekat. Jika hewan buang air kecil terus menerus, diperkirakan
hipofisis posteriornya mengalami gangguan sebab ADH tidak berfungsi dengan baik.
Nama penyakit ini disebut diabetes insipidus.
2. Tiroid

Tiroid merupakan kelenjar yang terdiri dari folikel-folikel dan terdapat di depan
trakea. Kelenjar yang terdapat di leher bagian depan di sebelah bawah jakun dan terdiri

dari dua buah lobus. Kelenjar tiroid menghasilkan dua macam hormon yaitu tiroksin
(T4) dan Triiodontironin (T3).
Hormon ini dibuat di folikel jaringan tiroid dari asam amino (tiroksin) yang
mengandung yodium. Yodium secara aktif di akumulasi oleh kelenjar tiroid dari darah.
Oleh sebab itu kekurangan yodium dalam makanan dalam jangka waktu yang lama
mengakibatkan pembesaran kelenjar gondok hingga 15 kali.
Hormon yang dihasilkan dari kelenjar Tiroid beserta fungsinya:
Hormon
Tiroksin

Fungsi
Mengatur metabolisme, pertumbuhan, perkembangan, dan

Triiodontironin

kegiatan system saraf


Mengatur metabolisme, pertumbuhan, perkembangan dan

Kalsitonin

kegiatan sistem saraf


Menurunkan kadar kalsium dalam darah dengan cara
mempercepat absorpsi kalsium oleh tulang

Regulasi hormon Tiroid

3. Paratiroid

10

Kelenjar paratiroid berjumlah empat buah terletak di belakang kelenjar tiroid.


Kelenjar ini menghasilkan parathormon (PTH) yang berfungsi untuk mengatur
konsentrasi ion kalsium dalam cairan ekstraseluler dengan cara mengatur absorpsi
kalsium dari usus, ekskresi kalsium oleh ginjal, dan pelepasan kalsium dari tulang.
Hormon paratiroid meningkatkan kalsium darah dengan cara merangsang reabsorpsi
kalsium di ginjal dan dengan cara penginduksian selsel tulang osteoklas untuk
merombak matriks bermineral pada osteoklas untuk merombak matriks bermineral pada
tulang sejati dan melepaskan kalsium ke dalam darah.
Jika kelebihan hormon ini akan berakibat berakibat kadar kalsium dalam darah
meningkat, hal ini akan mengakibatkan terjadinya endapan kapur pada ginjal. Jika
kekurangan hormon menyebabkan kekejangan disebut tetanus. Kalsitonin mempunyai
fungsi yang berlawanan dengan PTH, sehingga fungsinya menurunkan kalsium darah.
Fungsi umum kelenjar paratiroid adalah:
1. Mengatur metabilisme fosfor
2. Mengatur kadar kalsium darah.

4. Kelenjar adrenalin (anak ginjal)

11

Kelenjar ini berbentuk bola, atau topi yang menempel pada bagian atas ginjal.
Pada setiap ginjal terdapat satu kelenjar suprarenalis dan dibagi atas dua bagian, yaitu
bagian luar (korteks) dan bagian tengah (medula).
Hormon dari kelenjar anak ginjal dan prinsip kerjanya :
No.
1

Hormon
Bagian korteks adrenal

Prinsip kerja

a. Mineralokortikoid

Mengontol metabolisme ion anorganik

b. Glukokortikoid
Bagian Medula Adrenal

Mengontrol metabolisme glukosa


Kedua hormon tersebut bekerja sama

Adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin

dalam hal berikut :


a. Dilatasi bronkiolus
b. Vasokonstriksi pada arteri
c. Vasodilatasi pembuluh darah otak
dan otot
d. Mengubah glikogen menjadi glukosa
dalam hati
e. Gerak peristaltik
f. Bersama insulin mengatur kadar
gula darah

Stimulus yang mencekam menyebabkan hipotalamus mengaktifkan medula


adrenal melalui impuls saraf dan korteks adrenal melalui sinyal hormonal. Medulla
adrenal memperantarai respons jangka pendek terhadap stress dengan cara
mensekresikan hormon katekolamin yaitu efinefrin dan norefinefrin. Korteks adrenal
mengontrol respon yang berlangsung lebih lama dengan cara mensekresikan hormone
steroid. (Campbell, 1952 : 146).
5. Pankreas

12

Kelenjar pankreas merupakan sekelompok sel yang terletak pada pankreas,


sehingga dikenal dengan pulau-pulau langerhans. Kelenjar pankreas menghasilkan
hormon insulin dan glukagon. Insulin mempermudah gerakan glukosa dari darah
menuju ke sel-sel tubuh menembus membran sel.
Kadar glukosa yang tinggi dalam darah merupakan rangsangan untuk
mensekresikan insulin. Sebagai contoh, insulin akan meningkat setelah makan. Setelah
makan, maka kadar glukosa dalam darah akan naik karena tubuh mendapatkan glukosa
dari pemecahan makanan tersebut. Tubuh mengambil kelebihan glukosa dengan cara
mensekresikan insulin untuk menyeimbangkannya pada kadar normal. Sebaliknya
glukagon bekerja secara berlawanan terhadap insulin. Glukagon berfungsi mengubah
glikogen menjadi glukosa sehingga kadar glukosa naik. Contohnya pada saat hewan
hibernasi. Karena tubuh tidak mendapatkan asupan glukosa ketika hibernasi, maka
tubuh mensekresikan glukagon untuk menyeimbangkan kekurangan glukosa tersebut.
Kekurangan hormon insulin akan menyebabkan penyakit diabetes mellitus
(kencing manis). Insulin berperan mengubah glukosa menjadi glikogen agar dapat
menurunkan kadar gula darah.
6. Ovarium
Ovarium merupakan organ reproduksi betina. Selain menghasilkan sel telur, ovarium
juga menghasilkan hormon. Ada dua macam hormon yang dihasilkan ovarium yaitu
sebagai berikut:
a. Estrogen
Pembentukan

estrogen

dirangsang

oleh

FSH.

Fungsi

estrogen

ialah

menimbulkan dan mempertahankan tanda-tanda kelamin sekunder pada betina.


Tanda-tanda kelamin sekunder adalah ciri-ciri yang dapat membedakan betina
dengan jantan tanpa melihat kelaminnya.
b. Progesteron
Pembentukannya dirangsang oleh LH dan berfungsi menyiapkan dinding uterus
agar dapat menerima telur yang sudah dibuahi. Plasenta membentuk estrogen

13

dan progesteron selama kebuntingan guna mencegah pembentukan FSH dan


LH. Dengan demikian, kedua hormon ini dapat mempertahankan kebuntingan.
7. Testis
Seperti halnya ovarium, testis adalah organ reproduksi jantan. Selain menghasilkan
sperma, testis berfungsi sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon
androgen, yaitu testosteron. Testosteron berfungsi menimbulkan dan memelihara
kelangsungan tanda-tanda kelamin sekunder.
2.5 Sistem Endokrin pada Amphibia
Katak memiliki beberapa kelenjar endokrin yang menghasilkan sekresi intern
disebut hormon. Fungsi hormon antara lain mengatur atau mengontrol tugas-tugas
tubuh, merangsang, baik yang bersifat mengaktifkan atau menghambat pertumbuhan,
mengaktifkan bermacam-macam jaringan dan berpengaruh terhadap tingkah laku
makhluk hidup.
Pada dasar otak terdapat glandulae pituitaria atau glandula hypophysa. Bagian
anterior kelenjar ini menghasilkan hormon pertumbuhan. Hormon ini mengontrol
pertumbuhan tubuh terutama pada panjang tulang. Juga merangsang gonad untuk
menghasilkan sel kelamin. Bagian tengah glandula pituitaria menghasilkan hormon
intermidine yang mempunyai peranan dalam pengaturan cromatophora dalam kulit.
Bagian posterior glandula Pituitaria menghasilkan hormon yang mengatur pengambilan
air. Hormon tyroid yang mengatur metabolisme. Kelenjar ini menjadi besar pada berudu
sebelum metamorphose menjadi katak. Kelenjar pankreas menghasilkan enzim dan
hormon insulin yang mengatur meteabolisme zat gula.
2.6 Sistem Endokrin pada Aves
Kelenjar endokrin terdiri atas glandulae pituitaria atau hypophysa terletak
didasar otak pada ujung infundibulum, glandulae thyroidea yang terletak di bawah vena
jugularis dekat cabang arteri subclavia dan arteri carotis. Glandulae pancreatucus
menghasilkan hormon insulin. Glandulae sub renalis atau glandula andrenalis terletak
pada permukaan ventral dan Ren, Glandulae sexualis menghasilkan hormon yang
mempengaruhi tanda kelamin sekunder terutama terletak pada warna bulu.

14

2.7 Sistem Endokrin pada Invertebrata


Hormon pada invertebrata berfungsi untuk mengatur penyebaran kromatofor,
molting (pergantian kulit), pertumbuhan, reproduksi secara seksual dan perkembangan.
Sejumlah invertebrata tidak mempunyai organ khusus untuk sekresi hormon sehingga
sekresinya dilaksanakan oleh sel neurosekretori. sel neurosekretori dapat ditemukan
pada semua Metazoa (hewan bersel banyak), antara lain Coelentrata, Platyelminthes,
Annelida, Nematoda, dan Mollusca.
a. Coelentrata
Contoh hewan dari golongan ini adalah Hydra. Hydra mempunyai sejumlah sel
yang mampu menghasilkan senyawa kimia yang berperan dalam proses reproduksi,
pertumbuhan, dan regenerasi. Apabila kepala Hydra dipotong, sisa tubuhnya akan
mengeluarkan molekul peptida yang disebut aktivator kepala. Zat tersebut menyebabkan
sisa tubuh Hydra dapat membentuk mulut dan tentakel, dan selanjutnya membentuk
daerah kepala.
b. Platyelminthes
Hewan ini dapat menghasilakan hormon yang berperan penting dalam proses
regenerasi. Diduga hormon yang dihasilkan tersebut juga terlibat dalam regulasi
osmotic dan ionik, serta dalam proses reproduksi.
c. Annelida
Sejumlah annelida seperti poliseta (mis. neris), oligiseta (mis. Lumbricus), dan
Hirudinae (misalnya untuk lintah) sudah memperlihatkan adanya derajat sefalisasi yang
memadai. Otak hewan tersebut memiliki sejumlah besar sel saraf yang berfungsi
sebagai sel sekretori. Hewan ini juga telah memiliki sistem sirkulasi yang berkembang
sangat baik sehingga kebutuhan untuk menyelenggarakan sistem kendali endokrin dapat
terpenuhi. Sistem endokrin annelida berkaian erat dengan aktivitas pertumbuhan,
perkembangan, regenerasi, dan reproduksi.
d. Nematoda
Sejumlah nematoda dapat mengalami molting hingga empat kali dalam siklus
hidupnya. Hewan ini mempunyai struktur khusus yang berfungsi untuk sekresi
neurohormon, yang berkaitan erat dengan sistem saraf. Struktur khusus tersebut terdapat
pada ganglion di daerah kepala dan beberapa diantaranya terdapat pada korda saraf.

15

e. Mollusca
Mollusca terutama siput mempunyai sejumlah besar sel neuroendokrin yang
terletak pada ganglia penyusun sistem saraf pusat. Hewan ini juga memiliki organ
endokrin klasik. Senyawa yang dilepaskan menyerupai protein dan berperan penting
dalam mengendalikan osmoregulasi, pertumbuhan serta reproduksi.
Reproduksi pada Mollusca sangat rumit karena hewan ini bersifat hermaprodit.
Beberapa spesies hewan dari kelompok ini bersifat protandri (gamet jantan terbentuk
terlebih dahulu daripada gamet betina). Pada hewan ini ditemukan adanya hormon yang
merangsang pelepasan telur dari gonad dan pengeluaran telur dari tubuh.
f. Crustacea
Sistem endokrin pada crustacea umumnya berupa sistem neuroendokrin, meskipun
mempunyai organ endokrin klasik. Fungsi tubuh yang dikendalikan oleh sistem
endokrin antara lain osmoregulasi, laju denyut jantung, komposisi darah, pertumbuhan,
dan pergantian kulit. Sistem kendali endokrin yang berkembang paling baik ditemukan
pada Melacostra (misalnya ketam, lobster, dan udang).
g. Insecta
Pada sistem saraf insecta terdapat tiga kelompok sel neuroendokrin yang utama,
yaitu:
Sel neurosekretori medialis
Sel neurosekretori lateralis
Sel neurosekretori subesofageal
Organ endokrin klasik lainnya yang terdapat pada insecta yaitu kelenjar protoraks.
Pada insecta yang lebih maju, kelenjar protoraks terdapat di daerah toraks, namun pada
insecta yang kurang berkembang dapat ditemukan di daerah kepala.
Sistem endokrin pada insecta berfungsi untuk mengendalikan berbagai aktivitas
antara lain aktivitas pertumbuhan.
Sistem saraf dan sistem endokrin suatu serangga berperan dalam mengendalikan
respons fisiologis dan tingkah lakunya. Sistem saraf mengendalikan aktivitas yang
memerlukan respon yang cepat. Sebaliknya, sistem endokrin mengendalikan perubahanperubahan yang berlangsung lama dalam perkembangan, pertumbuhan, reproduksi, dan
metabolisme. Sistem endokrin dan informasi sensori yang berasal dari lingkungan

16

dikoordinasikan melalui otak serangga. Sistem endokrin terdiri dari kelenjar dan sel-sel
khusus yang mengsekresikan hormon.
Beberapa kelenjar dan sel neurosekretori pada serangga telah diketahui
menghasilkan hormon. Fungsi utama dari hormon tersebut adalah untuk mengendalikan
proses reproduksi, pergantian kulit, dan metamorfosis. Adapun beberapa diantara
hormon tersebut adalah:
Hormon Otak atau Hormon Protoraksikotropik (PTTH): berperan dalam pergantian
kulit dan dalam pengendalian diapause. Berperan juga dalam merangsang
penghasilan hormon ekdison.
Hormon Ekdison: berperan dalam hal mengawali pertumbuhan dan perkembangan
serangga, dan juga yang menyebabkan terjadinya apolisis (peristiwa terjadinya
pemisahan epidermis dari kutikula sebagai bagian dari proses molting).
Hormon Juvenil: berperan dalam hal penghambatan metamorfosis maupun dalam
hal vitellogenesis, aktivitas tanbahan kelenjar reproduksi dan produksi feromon.
Feromon adalah zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh
makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk
membantu proses reproduksi. Berbeda dengan hormon, feromon menyebar keluar
tubuh dan hanya mempengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu
spesies).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
a. Sistem Endokrin disebut juga kelenjar buntu. Sekret dari kelenjar endokrin
dinamakan hormon. Hormon berperan penting untuk mengatur berbagai
aktivitas dalam tubuh hewan, antara lain aktivitas pertumbuhan, reproduksi,
osmoregulasi, pencernaan, dan integrasi serta koordinasi tubuh.
b. Dalam tubuh mamalia ada tujuh kelenjar endokrin yang penting, yaitu hipofisis,
tiroid, paratiroid, kelenjar adrenalin (anak ginjal), pankreas, ovarium, dan testis.
c. Sistem endokrin pada invertebrata masih sederhana dan organ endokrin yang
dimiliki pada umumnya berupa organ neuroendokrin, sedangkan sistem
endokrin pada vertebrata sangat kompleks. Organ endokrin yang dimiliki
vertebrata umumnya berupa organ endokrin klasik dan organ endokrin tepi

17

3.2 Saran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi
penyempurnaan makalah ini. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA
https://pustakabiolog.files.wordpress.com/2011/10/sistem-endokrin-klp-9.pdf
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/anatomitubuhmanusia/bab12_sistemendogri
n.pdf
https://mulyanipharmaco.files.wordpress.com/2013/04/makalah-sistem-endokrin.pdf

18