Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Berbagai jenis transaksi telah muncul di dunia, termasuk Indonesia, disisi
lain untuk melindungi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam,
perlu dikaji kejelasan hukum dari berbagai transaksi tersebut dari sudut hukum
Islam. Karena itu berikut ini akan ditinjau beberapa transaksi modern dan
bagaimana pandangan hukum Islam terhadap masing-masing transaksi bisnis.
Dalam Era Globalisasi saat ini banyak terdapat sistem perniagaan salah
satunya adalah sistem Multi Lever Marketing (MLM). Secara umum Multi Level
Marketing merupakan suatu metode bisnis alternatif yang berhubungan dengan
pemasaran dan distribusi yang dilakukan melalui banyak level (tingkatan), yang
biasa dikenal dengan istilah Upline (tingkat atas) dan Downline (tingkat
bawah).Selain itu, Dalam MLM terdapat unsur jasa, artinya seorang distributor
menjualkan barang yang bukan miliknya dan ia mendapatkan upah dari presentasi
harga barang dan jika dapat menjual sesuai target dia mendapat bonus yang
ditetapkan perusahaan.
Berbagai pendapat dari para ilmuwan dan ulama Islam telah dikeluarkan.
Ada yang berpendapat MLM adalah haram dan ada yang berpendapat sebaliknya.
Masing-masing mengeluarkan uraian dan hujah tersendiri.
Selain itu terdapat pula jenis bisnis yang sangat berkembang pesat pada
masa sekarang ini, yaitu waralaba. Waralaba digambarkan sebagai perpaduan
bisnis besar dan kecil yaitu perpaduan antara energi dan komitmen individu
dengan sumber daya dan kekuatan sebuah perusahaan besar. Waralaba adalah
suatu pengaturan bisnis dimana sebuah perusahaan (franchisor) memberi hak pada
pihak independen (franchisee) untuk menjual produk atau jasa perusahaan tersebut
dengan pengaturan yang ditetapkan oleh franchisor. Franchisee menggunakan
nama, goodwill, produk dan jasa, prosedur pemasaran, keahlian, sistem prosedur
operasional, dan fasilitas penunjang dari perusahaan franchisor. Sebagai
imbalannya franchisee membayar initial fee dan royalti (biaya pelayanan

manjemen) pada perusahaan franchisor seperti yang diatur dalam perjanjian


waralaba.
Perkembangan teknologi informasi yang sangat dramatis dalam beberapa
tahun terakhir telah membawa dampak transformational pada berbagai aspek
kehidupan, termasuk di dalamnya dunia bisnis. Setelah berlalunya era total
quality dan reengineering, kini saatnya era elektronik yang ditandai dengan
menjamurnya istilah-istilah e-business, e-university, e-government, e-economy, eemtertainment, dan masih banyak lagi istilah sejenis.
Salah satu konsep yang dinilai merupakan paradigma bisnis baru adalah ebusiness atau dikenal pula dengan istilah e-commerce sebagai bidang kajian yang
relatif masih baru dan akan terus berkembang, e-business berdampak besar pada
praktek bisnis, setidaknya dalam hal penyempurnaan direct marketing,
transformasi organisasi, dan redefinisi organisasi.
B. MAKSUD DAN TUJUAN
Adapun maksud dan tujuan dalam pemb uatan makalah ini
adalah untuk membuka wawasan kita tentang Multi Level Marketing,
waralab ( franschise ) dan perniagaan elektronik ( e-commerce) serta
bagaimana bisnis tersebut jika ditinjau dalam hokum islam

C. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah yang telah kami angkat diatas maka
dapat kami simpulkan rumusan masalah yang akan dijelasakan pada
makalah ini berkenaan dengan :

1. Apa pengertian dan bagaimana konsep dasar multi level marketing


serta tinjauannya dalam hukum islam?
2. Bagaimana konsep waralaba ( franchise ) jika ditinjauan dalam islam?
3. Apa itu e-commerce serta bagaimana hukum e-commerce di dalam
islam

BAB II
PEMBAHASAN

A. MULTI LEVEL MARKETING ( MLM )


1. PENGERTIAN

DAN

KONSEP

DASAR

MULTI

LEVEL

MARKETING
Multi Level Marketing berasal dari Bahasa inggris. Multi berarti banyak,
level berarti berjenjang dan Marketing berarti pemasaran, jadi Multi Level
Marketing adalah pemasaran yang berjenjang banyak. Secara umum Multi Level
Marketing merupakan suatu metode bisnis alternatif yang berhubungan dengan
pemasaran dan distribusi yang dilakukan melalui banyak level (tingkatan), yang
biasa dikenal dengan istilah Upline (tingkat atas) dan Downline (tingkat bawah).
Promotor (upline) adalah anggota yang sudah mendapatkan hak
keanggotaan terlebih dahulu, sedangkan bawahan (downline) adalah anggota baru
yang mendaftar atau direkrut oleh promotor. Akan tetapi, pada beberapa sistem
tertentu, jenjang keanggotaan ini bisa berubah-ubah sesuai dengan syarat
pembayaran atau pembelian tertentu.
Mekanisme operasional pada MLM ini yaitu, seorang distributor dapat
mengajak orang lain untuk ikut juga sebagai distributor. Kemudian, orang lain itu
dapat pula mengajak orang lain lagi untuk ikut bergabung, begitu seterusnya,
semua yang diajak dan ikut merupakan suatu kelompok distributor yang bebas
mengajak orang lain lagi sampai level yang tanpa batas.
Selain itu, Dalam MLM terdapat unsur jasa, artinya seorang distributor
menjualkan barang yang bukan miliknya dan ia mendapatkan upah dari presentasi
harga barang dan jika dapat menjual sesuai target dia mendapat bonus yang
ditetapkan perusahaan. Komisi yang diberikan di dalam MLM dihitung
berdasarkan jasa distribusi yang otomatis terjadi jika konsumen dari tingkatan
bawah (downline) melakukan pembelian barang atau menjual kepada pihak lain

yang bukan anggota. Anggota MLM yang berada di tingkatan atas (upline) dari
downline tersebut mendapatkan pula komisi tertentu sebagai imbalan jasanya
memperkenalkan produk kepada downline dan membantu perusahaan MLM
mendapatkan konsumen dalam arti sebenarnya.
2. MLM MENURUT HUKUM ISLAM
Bisnis dalam syariah Islam pada dasarnya termasuk kategori muamalat
yang hukum asalnya adalah boleh berdasarkan kaedah Fiqh bahwa pada dasarnya
segala hukum dalam muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil/prinsip yang
melarangnya.
Islam memahami bahwa perkembangan budaya bisnis berjalan begitu cepat
dan dinamis. Berdasarkan kaedah fikih di atas, maka terlihat bahwa Islam
memberikan jalan bagi manusia untuk melakukan berbagai improvisasi dan
inovasi melalui sistem, teknik dan mediasi dalam melakukan perdagangan.
Namun, Islam mempunyai prinsip-prinsip tentang pengembangan sistem
bisnis yaitu harus terbebas dari unsur dharar (bahaya), jahalah (ketidakjelasan)
dan zhulm ( merugikan atau tidak adil terhadap salah satu pihak). Sistem
pemberian bonus harus adil, tidak menzalimi dan tidak hanya menguntungkan
orang yang di atas. Bisnis juga harus terbebas dari unsur Maysir (judi), Aniaya
(zhulm), Gharar (penipuan), Haram, Riba (bunga), Iktinaz atau Ihtikar dan Bathil.
Jika ingin mengembangkan bisnis MLM, maka ia harus terbebas dari unsurunsur di atas. Oleh karena itu, barang atau jasa yang dibisniskan serta tata cara
penjualannya harus halal, tidak haram dan tidak syubhat serta tidak bertentangan
dengan prinsip-prinsip syariah di atas. MLM yang menggunakan strategi
pemasaran secara bertingkat (levelisasi) mengandung unsur-unsur positif, asalkan
diisi dengan nilai-nilai Islam dan sistemnya disesuaikan dengan syariah Islam.
Bila demikian, MLM dipandang memiliki unsur-unsur silaturrahmi, dakwah dan
tarbiyah.
Bisnis yang dijalankan dengan sistem MLM tidak hanya sekedar
menjalankan penjualan produk barang, tetapi juga jasa, yaitu jasa marketing yang

berlevel-level (bertingkat-tingkat) dengan imbalan berupa marketing fee, bonus,


hadiah dan sebagainya, tergantung prestasi, dan level seorang anggota. Jasa
marketing yang bertindak sebagai perantara antara produsen dan konsumen.
Dalam istilah fikih Islam hal ini disebut Samsarah / Simsar.
Kegiatan samsarah dalam bentuk distributor, agen, member atau mitra niaga
dalam fikih Islam termasuk dalam akad ijarah, yaitu suatu transaksi
memanfaatkan jasa orang lain dengan imbalan, insentif atau bonus (ujrah) Semua
ulama membolehkan akad seperti ini.
Sama halnya seperti cara berdagang yang lain, strategi MLM harus
memenuhi rukun jual beli serta akhlak (etika) yang baik. Di samping itu
komoditas yang dijual harus halal (bukan haram maupun syubhat), memenuhi
kualitas dan bermafaat. MLM tidak boleh memperjualbelikan produk yang tidak
jelas status halalnya. Atau menggunakan modus penawaran (iklan) produksi
promosi tanpa mengindahkan norma-norma agama dan kesusilaan.
3. MLM SYARIAH
Gaung ekonomi syariah di tanah air tak cukup hanya dilihat dari tumbuhnya
lembaga keuangan syariah. Di luar itu, bisnis syariah di berbagai bidang terus
berkembang. Tak terkecuali salah satunya, bisnis MLM syariah. Di tengah
kontroversi hukum dari berbagai pihak dari sisi pandangan Islam tentang bisnis
ini, MLM syariah terus menunjukkan perkembangan.
Kuswara (2005: 86) mengemukakan, MLM Syariah adalah sebuah usaha
MLM yang mendasarkan sistem operasionalnya pada prinsip-prinsip syariah.
Aspek-aspek haram dan syubhat dihilangkan dan diganti dengan nilai-nilai
ekonomi syariah yang berlandaskan tauhid, akhlak, dan hukum muamalah.
Suhrawardi K.Lubis dalam Gemala Dewi dkk (2005: 191) menegaskan, MLM
syariah harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Sistem distribusi pendapatan, haruslah dilakukan secara professional dan
seimbang. Artinya tidak terjadi eksploitasi antarsesama.

2. Apresiasi distributor haruslah sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Tidak


memaksa, tidak berdusta, jujur, dan tidak merugikan orang lain, serta
berakhlak mulia.
3. Penetapan harga, kalaupun keuntungan (komisi dan bonus) bagi para
anggota berasar dari keuntungan penjualan barang. Semakin banyak
anggota dan distributor, maka harga makin menurun.
4. Jenis produk haruslah produk yang benar-benar terjamin kehalalannya
dan kesuciannya.
WARALABA (FRANCHISE)
1. PENGERTIAN
Waralaba menurut pasal 1 peraturan Pemerintah RI No 16 tahun 1997
adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan
atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas
usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan dan
atau penjualan barang dan jasa.
Menurut pasal 1 PP No. 42 Tahun 2007 pengertian waralaba adalah hak
khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem
bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan atau jasa
yang telah terbukti dan dapat dimanfaatkan dan atau digunakan oleh pihak lain
berdasarkan perjanjian waralaba.
Menurut peraturan Menteri Perdagangan RI no: 31/M-DAG/PER/8/2008
tentang penyelenggaraan waralaba, pengertian waralaba adalah hak khusus yang
dimiliki oleh perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri
khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan atau jasa yang telah terbukti
berhasil dan dapat dimanfaatkan dan atau digunakan oleh pihak lain.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat diambil sebuah kesimpulan
yang dimaksud dengan waralaba adalah hubungan antara dua pihak atau lebih,

guna mendistribusikan barang atau jasa yang telah terbukti berhasil melalui
franchisee yang membayar fee dan royalty kepada franchisor sesuai perjanjian.
Dengan demikian, secara resmi franchisee dapat menggunakan nama dan sistem
perusahaan tersebut.
2. KARAKTERISTIK WARALABA
Dalam bab II Pasal 3 PP No. 42 Tahun 2007 dan bab II pasal 2 dan 3
Peraturan Menteri perdagangan RI No. 31/MDAG/PER/8/2008, disebutkan
kriteria dan ruang lingkup waralaba:
1. Waralaba harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Memilik ciri khas usaha
b. Terbukti sudah memberikan keuntungan
c. Memiliki standar atas pelayanan dan barang dan atau jasa yang
ditawarkan yang dibuat secara tertulis
d. Mudah diajarkan dan diaplikasikan
e. Adanya dukungan yang berkesinambungan dan
f. Hak kekayaan Intelektual (HKI) yang telah terdaftar.
2. Waralaba terdiri dari pemberi waralaba dan penerima waralaba. Pemberi
dan penerima waralaba ini bisa berasal dari dalam negeri dan luar
negeri.Pemberi waralaba adalah orang perorangan atau badan usaha
yang memberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan
waralaba yang dimilkinya kepada penerima waralaba. Penerima
waralaba adalah orang perseorangan atau badan usaha yang diberikan
hak oleh pemberi waralaba untuk memanfaatkan dan atau menggunakan
waralaba yang dimiliki pemberi waralaba.
3. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP WARALABA
Dalam waralaba terdapat tiga transaksi yang berada dalam satu aqad, yaitu
transaksi sebagai sewa lisensi merek, transaksi sebagai sewa manajemen dan
pembayaran royalty. Tiga transaksi dalam satu aqad ini perlu ditinjau dari segi
hukum Islam apakah dibolehkan atau dilarang.

1. Transaksi Pembayaran Sewa Lisensi


Dalam transaksi pertama ini adalah sewa lisensi merek atau
franchise fee. Kewajiban membayar sewa lisensi tersebut dilakukan pada
awal kesempatan, dan biasanya dilakukan dua tahap. Franchiso
umumnya akan meminta ansuran pertama atau suatu deposito kepada
franchise pada saat pembicaraan awal, sedangkan sisanya dilunasi pada
saat penandatanganan perjanjian (aqad) franchise.[16]
Pembayaran sewa lisensi dilakukan karena merek dagang tersebut
adalah hak milik. Hak milik ini tidak dapat digunakan orang lain kecuali
atas izin pemiliknya. Untuk mendapatkan izin untuk menggunakannya
harus membuat perjanjian dan membayar lisensi, maka pihak kdua sudah
berhak memakai merek dagang dari suatu produk tersebut sesuai
perjanjian.
Transaksi pertama ini dapat dibenarkan dalam Islam. Ini sama saja
dengan bentuk transaksi sewa lainnya yaitu barangnya diterima dan
uangnya

dibayarkan. Akad dalam sewa menyewa

adalah akad

pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu
tertentu

melalui

pembayaran

sewa,

tanpa

diikuti

pemindahan

kepemilikan barang itu sendiri.[17]


Transaksi pembayaran sewa lisensi kalau dianalogikan kepada ijarah
haruslah memperhatikan lima hal[18]
a.

Para pihak yang menyelenggarakan akad khususnya waralaba (antara


franchisor dan franchise) harus berbuat atas kemauan sendiri dengan
penuh kerelaan.

b. Di dalam melakukan akad tidak boleh ada unsur penipuan baik yang
datang dari muajjir (pihak yang menyewakan atau franchisor)
ataupun dari mustajir (orang yang menyewa atau franchise)

c. Sesuatu yang diakadkan itu mestilah sesuai dengan realitas bukan


sesuatu yang tidak berwujud. Maka pada waralaba ada produk,
mereka serta royalty yang jelas yang telah disepakati.
d. Manfaat dari sesuatu yang jadi objek transaksi ijarah pada waralaba
mestilah sesuatu yang mubah bukan sesuatu yang haram.
e. Pemberian uapah atau imbalan dalam ijarah mestilah berupa sesuatu
yang bernilai, baik berupa uang ataupun jasa yang tidak bertentangan
dengan kebiasaan yang berlaku.
2. Transaksi pembayaran sewa manajemen
Dalam transaksi kedua ini adalah pembayaran honor oleh
franchisee kepada franchisor, yang dikaitkan dengan jasa teknis dan
menajerial yang diberikan oleh franchisor kepada franchisee, yang dikenal
dengan sewa menyewa.
Dalam sistem waralaba, franchisor berkewajiban memberikan
bimbingan kepada franchisee. Bimbingan tersebut meliputi pelatihan
teknik mengahasilkan produk dan pelatihan tentang manajemen produk
yang dihasilkan. Oleh sebab itu, franschsor berhak untuk menerima
pembayaran dari franschisee. Penyewa berkewajiban membayar jasa
pelatih (franschisor) atau honor tenaga ahli. Pembayaran honor atau jasa
itu dalam Islam disebut upah
Dalam transaksi kedua ini juga berbentuk sewa- menyewa yaitu:
upah mengupah dan masih erat kaitannya dengan transaksi pertama.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kedua transaksi yang berada
dalam satu akad ini termasuk ke dalam ijarah, yang dibenarkan oleh Islam.

3. Transaksi pembayaran royalty

10

Pembayaran royalty adalah salah satu ciri atau spesifik dari


waralaba. Di dalam sistem sewa-menyewa (ijarah) tidak ada mengenal
yang namanya royalty. Dalam ijarah, apabila suatu benda telah disewakan
manfaatnya, maka keuntungannya adalah milik penyewa bukan lagi milik
pemilik benda. Royalty dalam waralaba dikeluarkan sebagai imbalan jasa
bagi pemilik merek yang sudah go public. Itu menjadi syarat dari
penyewaan merek yang dugunakan sebagai pemegang lisensi. Sedangkan
fee franchise hanya sebagai biaya atas pemberian izin untuk memakai
merek dari produk dan hanya stu kali saja.
Dalam waralaba jasa franchisor sangatlah besar karena dia telah
memberikan izin kepada franchisee untuk memakai merek suatu produk
yang sudah terkenal. Franchisee tidak lagi susah payah untuk
mempromosikannya karena produknya sudah dikenali oleh orang banyak,
kemduian bahan-bahan dan peralatannya sudah dipersiapkan oleh
franchisor

walaupun

mendapatkan

dibayar.

keuntungan

Seorang

yang

sangat

franchisee

akan

mudah

besar

karena

sudah

terkenal. Selama royalty bisa diberikan oleh franchisee maka akad


penggunaan merek boleh diperbaharui terus setiap habis masa kontraknya.
Royalty adalah suatu hal yang wajar dibayarkan sebagai balas jasa
dari franchisor, yang dalam islam dinamakan dengan ijarah. Royalty tidak
merupakan tipuan karena telah disepakati bila sipnyewa sanggup
membayarnya barulah akad dapat berlansung. Jadi akad berlansung atas
suka saka sama suka.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa sistem waralaba adalah
berbentuk sewa menyewa bersyarat yaitu menyewa merek dengan syarat
membayar royalty yang dibenarkan dalam hukum Islam asalkan sesuai dengan
prinsip-prinsip ekonomi Islam.

ELECTRONIC COMMERCE ( E-COMMERCE)

11

1. PENGERTIAN
E-commerce adalah singkatan dari kata berbahasa Inggris Electronic
commerce, atau juga dikenal dengan istilah perdagangan elektronik atau e-dagang
adalah segala bentuk transaksi perdagangan/perniagaan barang atau jasa dengan
menggunakan media elektronik. E-commerce akan merubah semua kegiatan
marketing dan juga sekaligus memangkas biaya-biaya operasional untuk kegiatan
perdagangan.
Banyak perusahaan yang berkembang mulai mengaplikasikan service ecommerce ini karena dirasa sangat menguntungkan dan lebih efektif baik dari segi
waktu maupun tenaga. Dan ditinjau dari segi pendapatan, metode ini dapat
meningkatkan hingga lebih dari 2 kali lipat dari jumlah semula.
Pada masa persaingan ketat di era globalisasi saat ini, maka persaingan yang
sebenarnya

adalah

terletak

pada

bagaimana

sebuah

perusahaan

dapat

memanfaatkan e-commerce untuk meningkatkan kinerja dan eksistensi dalam


bisnis inti. Dengan aplikasi e-commerce, seyogyanya hubungan antar perusahaan
dengan entitas eksternal lainnya (pemasok, distributor, rekanan, konsumen) dapat
dilakukan secara lebih cepat, lebih intensif, dan lebih murah daripada aplikasi
prinsip manajemen secara konvensional (door to door, one-to-one relationship)
2. JENIS JENIS E-COMMERCE
E-Commerce dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :
1. Business to Business (B2B)
Karakteristik dari bisnis model B2B antara lain :
a. Trading partners yang sudah diketahui dan umumnya memiliki
hubungan yang cukup lama. Informasi hanya dipertukarkan dengan
partner tersebut. Dikarenakan sudah mengenal lawan komunikasi,

12

maka jenis informasi yang dikirimkan dapat disusun sesuai dengan


kebutuhan dan kepercayaan.
b. Pertukaran data berlangsung berulang-ulang dan secara berkala,
misalnya setiap hari, dengan format data yang sudah disepakati
bersama. Dengan kata lain, pelayanan yang digunakan sudah
tertentu. Hal ini memudahkan pertukaran data untuk dua entiti yang
menggunakan standar yang sama.
c. Salah satu pelaku dapat melakukan inisiatif untuk mengirimkan data,
tidak harus menunggu parternya.
2. Business to Consumer (B2C)
Business to Consumer e-Commerce memiliki karakteristik sebagai
berikut:
a. Terbuka untuk umum, dimana informasi disebarkan ke umum.
b. Servis yang diberikan bersifat umum dengan menggunakan layanan
sudah dinikmati masyarakat secara ramai.
c. Servis diberikan berdasarkan permohonan. Konsumen melakukan
inisiatif dan produser harus siap memberikan respon sesuai dengan
permohonan.
d. Pendekatan client/server sering digunakan dimana diambil asumsi
client (consumer) menggunakan sistem yang minimal (berbasis Web)
dan processing diletakkan di sisi server
3. BENTUK BENTUK PEMBAYARAN E-COMMERCE
Secara umum, bentuk pembayaran transaksi elektronik dibagai menjadi dua:
a. Full Payment. Pada mode pembayaran ini diperlukan suatu kepercayaan
dari pembeli, karena pembeli membayar terlebih dahulu barang-barang

13

secara penuh dengan metode pembayaran yang telah disepakati


sebelumnya. Untuk contoh penerapan, dapat dilihat pada amazon.com.
b. Made by Order (sistem uang muka). Dalam beberapa kasus, para
pembeli tidak terlalu percaya pada aspek bisnis dalam negara
berkembang. Hal ini didasarkan pada kondisi umum yang menunjang
terbangunnya trust tersebut,

misalnya

aspek

keamanan

dan

perekonomian. Dengan begitu, bangunan transaksi yang biasanya


dilakukan dengan pemesanan terlebih dahulu pada merchant. Yang
menjadi kegelisahan dengan sistem ini, banyak para merchant yang
harus menanggung kerugian karena dalam sejumlah kasus berpotensi
tidak adanya kelanjutan dari para pemesan. Akibatnya perusahaan
tersebut menerapkan kebijakan ganda. Mereka terlebih dahulu meminta
uang muka (down payment) sebelum produksi massal dilakukan. Pihak
merchant-dalam hal ini perusahaan, tidak mengambil kebijakan dengan
meminta pembayaran secara penuh, karena barang pesanan tersebut
terbilang mahal, yang dapat berpotensi gagalnya sebuah transaksi.
4. E-COMMERCE DALAM ISLAM
Dalam wilayah hukum Islam, hingga detik ini e-commerce tidak menjadi
polemik dikalangan para ulama. Hal ini dikarenakan banyaknya keuntungankeuntungan, selain dari bentuk kejelasan yang dapat dipahami bersama.
Dasar Hukum. Dalam kajian muamalah, akad e-commerce dapat diqiyaskan
dengan hukum as-salam atau salaf. Akad pada wilayah ini dilakukan terlebih
dahulu, lalu barang diserahkan pada waktu berikutnya. Menurut Haris Faulidi,
cikal bakal e-commerce pada masa Nabi, yang ditandai dengan surat al-Baqarah
ayat: 282 yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara
tunai untuk

waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.

Kemunculan ayat ini memang dapat bermakna ganda. Pertama, tentang


hutang-piutang yang wajib dicatatkan. Kedua, karena maraknya transaksi salaf

14

(as-salaf) yang biasa berkembang pada waktu itu. Hadis riwayat Bukhari yang
menguatkan indikasi terjadinya jual-beli salaf sebagai berikut:
Barang siapa yang melakukan salaf, hendaklah melakukannya dengan
takaran, timbangan, dan batas waktu yang jelas.
Dengan begitu, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa transaksi assalam sangat diperbolehkan dalam hukum Islam, dengan hukum dasar adanya
kejelasan

dan

kepentingan

bersama (maslahat).

Unsur

lain

yang

juga

diperbolehkan secara syara jika hukum asal terhadap sesuatu dibolehkan, kecuali
ada illat yang dapat mempengaruhi hukum asal. Illat yang dimaksud, misalnya
jika e-commerce tidak terdapat adanya jaminan kepercayaan untuk saling
merelakan, maka illat tersebut dapat merubah hukum asal.[20]
Berkenaan dengan syarat transaksi, metode ini tentunya ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi. Antara lain :
1. shighat.
Shighat merupakan

pernyataan

terpenuhinya shighat dengan

ijab-qabul.

adanya

bentuk

Indikasi

dari

penawaran

dari merchant.Lalu pada user mengesahkan dengan melakukan klik,


mengisi formulir, dan menentukan jenis pembayaran dan menyepakati
keberadaan tempat penyerahan. Dari aktifitas ini, dinyatakan sah
secara akad, karena adanya unsur komunikasi yang ditandai dengan
aktifitas user tadi. Secara logika, pelaku dapat dikenai hukum sebagai
mukallaf, karena dianggap mengerti terhadap segala penawaran
dari merchant.
2. rab as-salam (pelaku).

15

Pelaku yang dimaksud dalam hal ini adalah kedua belah pihak, baik
dari pihak penjual maupun pembeli. Meskipun dalam pelaku bisnis
pada jenis ini, pihak penjual hanya diwakili bentuk sistem-misalnya
website-secara hukum dapat disahkan, karena adanya sistem yang rapi,
sehingga dapat dipahami (komunikatif dua arah). Dalam kaidah fiqih
pembeli disebut dengan al-muslam, dan pihak penjual disebut
dengan al-muslam alaih.
3. obyek transaksi (al-muslam fih). Dalam term tersebut secara umum,
para pemikir ekonomi Islam hanya mengatakan bahwa wajib adanya
barang yang diperjualbelikan. Barang tersebut haruslah dapat diketahui
jenis, bentuk, ukuran, manfaat-nya. Meskipun keadaan barang yang
menjadi obyek, dapat terwakili melalui penawaran dalam bentuk
gambar yang disertai beberapa penjelasan. Terkait dengan obyek
transaksi,

terdapat

sistem pembayaran

(harga).

Hal-hal

yang

menyangkut alat tukar (rasmal as-salam), juga harus diketahui


bersama. Selain itu, titik tekan pada obyek transaksi juga harus
diketahui tempat yang disepakati untuk menyerahkan barang.[22]

16

BAB III
KESIMPULAN
Multi Level Marketing berasal dari Bahasa inggris. Multi berarti banyak,
level berarti berjenjang dan Marketing berarti pemasaran, jadi Multi Level
Marketing adalah pemasaran yang berjenjang banyak. Secara umum Multi Level
Marketing merupakan suatu metode bisnis alternatif yang berhubungan dengan
pemasaran dan distribusi yang dilakukan melalui banyak level (tingkatan), yang
biasa dikenal dengan istilah Upline (tingkat atas) dan Downline (tingkat bawah).
Bisnis dalam syariah Islam pada dasarnya termasuk kategori muamalat
yang hukum asalnya adalah boleh berdasarkan kaedah Fiqh bahwa pada dasarnya
segala hukum dalam muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil/prinsip yang
melarangnya. Namun, pengembangan sistem nya harus terbebas dari unsur dharar
(bahaya), jahalah (ketidakjelasan) dan zhulm ( merugikan atau tidak adil terhadap
salah satu pihak). Sistem pemberian bonus harus adil, tidak menzalimi dan tidak
hanya menguntungkan orang yang di atas. Bisnis juga harus terbebas dari
unsur Maysir (judi), Aniaya (zhulm), Gharar (penipuan), Haram, Riba (bunga),
Iktinaz atau Ihtikar dan Bathil.
MLM Syariah adalah sebuah usaha MLM yang mendasarkan sistem
operasionalnya pada prinsip-prinsip syariah. Aspek-aspek haram dan syubhat
dihilangkan dan diganti dengan nilai-nilai ekonomi syariah yang berlandaskan
tauhid, akhlak, dan hukum muamalah.
waralaba adalah hubungan antara dua pihak atau lebih, guna
mendistribusikan barang atau jasa yang telah terbukti berhasil melalui franchisee
yang membayar fee dan royalty kepada franchisor sesuai perjanjian. Dengan
demikian, secara resmi franchisee dapat menggunakan nama dan sistem
perusahaan tersebut.

17

Dalam waralaba terdapat tiga transaksi yang berada dalam satu aqad, yaitu
transaksi sebagai sewa lisensi merek, transaksi sebagai sewa manajemen dan
pembayaran royalty
Sistem waralaba adalah berbentuk sewa menyewa bersyarat yaitu
menyewa merek dengan syarat membayar royalty yang dibenarkan dalam hukum
Islam asalkan sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam.
E-commerce adalah singkatan dari kata berbahasa Inggris Electronic
commerce, atau juga dikenal dengan istilah perdagangan elektronik atau e-dagang
adalah segala bentuk transaksi perdagangan/perniagaan barang atau jasa dengan
menggunakan media elektronik. E-commerce akan merubah semua kegiatan
marketing dan juga sekaligus memangkas biaya-biaya operasional untuk kegiatan
perdagangan.
Dasar

Hukum.

Dalam

kajian

muamalah,

akad e-commerce dapat

diqiyaskan dengan hukum as-salam atau salaf. Akad pada wilayah ini dilakukan
terlebih dahulu, lalu barang diserahkan pada waktu berikutnya. Menurut Haris
Faulidi, cikal bakal e-commerce pada masa Nabi, yang ditandai dengan surat alBaqarah ayat: 282.
Dengan begitu, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa transaksi assalam sangat diperbolehkan dalam hukum Islam, dengan hukum dasar adanya
kejelasan

dan

kepentingan

bersama (maslahat).

Unsur

lain

yang

juga

diperbolehkan secara syara jika hukum asal terhadap sesuatu dibolehkan, kecuali
ada illat yang dapat mempengaruhi hukum asal. Illat yang dimaksud, misalnya
jika e-commerce tidak terdapat adanya jaminan kepercayaan untuk saling
merelakan, maka illat tersebut dapat merubah hukum asal.

18

DAFTAR PUSTAKA

Gemala Dewi, Wirdyaningsih, Yeni Salma Barlinti, Hukum Perikatan


Islam di Indonesia, Jakarta: Prenada Media, 2005
Hermawan. Waralaba diakses dari
https://perempuanditamandzikir.wordpress.com/2012/12/30/161/, 14 Januari 2015
Kuswara, Mengenal MLM Syariah Dari Halal-Haram, Kiat Berwirausaha,
sampai dengan pengelolaannya, Depok: QultumMedia,
Multi Level Marketing. Diakses dari
http://dokternasir.web.id/2009/03/multi-level-marketing-dalam-perspektif-fiqihislam.html, 14 Januari 2015
Strategi Pemasaran MLM Menurut Perspektif Islam. Diakses dari
http://www.scribd.com/doc/23090646/strategi-pemasaran-MLM-menurutperspektif-Islam, 14 Januari 2015
Zaman,

Badru, Mencegah

Mudharat

Dalam

Transaksi

Elektronik

(Perspektif Hukum Islam), Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, 2010.