Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN TEORI

A.

Tinjauan teori

1. Nifas

a. Definisi masa nifas

Masa

nifas

(puerpurium)

dimulai

sejak

plasenta

lahir

dan

berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum

hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu. Puerpurium (nifas)

berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari, merupakan waktu yang

diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada keadaan yang normal

(Ambarwati dan Wulandari, 2010, p.1).

Masa nifas adalah dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir

ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.

Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Abdul bari, 2002,

p.N23).

Masa nifas atau post partum disebut juga puerpurium yang

berasal dari bahasa latin yaitu dari kata “Puer” yang artinya bayi dan

Parous” berarti melahirkan. Nifas yaitu darah yang keluar dari rahim

karena sebab melahirkan atau setelah melahirkan (Anggraeni, 2010,

p.1).

Masa nifas adalah masa setelah persalinan yang diperlukan

untuk pulihnya alat kandungan sampai kepada keadaan sebelum hamil

(Waryana, 2010, p.59).

Jadi masa nifas adalah masa yang dimulai dari plasenta lahir

sampai

alat-alat

kandungan

kembali

seperti

sebelum

hamil,

memerlukan waktu kira-kira 6 minggu.

b. Tahapan masa nifas

dan

Anggraeni (2010, p.3) menyatakan bahwa tahapan masa nifas di bagi

menjadi 3 yaitu :

1) Puerpurium dini

Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.

Dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah

40 hari.

2) Puerpurium intermedial

Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.

3) Remote puerpurium

Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama

bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.

Waktu

untuk

tahunan.

sehat

sempurna

bisa

c. Perubahan fisiologi masa nifas

1) Uterus

berminggu-minggu,

bulanan,

Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga

akhirnya kembali seperti sebelum hamil dengan berat 60 gram.

Tabel 2.1 Perubahan uterus masa nifas

Involusi uteri

Tinggi

Berat

Diameter

Palpasi servik

fundus uteri

uterus

uterus

Plasenta lahir

Setinggi pusat

1000 gram

12,5 cm

Lembut/lunak

7 hari

Pertengahan pusat

500 gram

7,5 cm

2 cm

(1 minggu)

simfisis

14 hari

Tidak teraba

350 gram

5 cm

1 cm

(2 Minggu)

6 Minggu

Normal

60 gram

2,5 cm

Menyempit

Sumber : Ambarwati dan Wulandari, 2010, p.76.

2) Bekas luka implantasi plasenta dengan cepat mengecil, pada minggu ke

2 sebesar 6-8 cm dan pada akhir masa nifas sebesar 2 cm (Anggraeni,

2010, p.36).

3) Luka-luka pada jalan lahir, seperti bekas episiotomi yang telah dijahit,

luka pada vagina dan serviks umumnya bila tidak disertai infeksi akan

sembuh per primam (Prawirohardjo, 2005, p.239).

4) Rasa sakit

Yang

disebut

after

pain

(meriang

dan

mules-mules)

disebabkan

kontraksi

rahim,

biasanya

berlangsung

3-4

hari

pasca

persalinan

(Anggraeni, 2010, p.35).

5) Lochea

Menurut Waryana (2010, p.60), lochea dibagi menjadi :

a) Lochea rubra

Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua,

vornik

kaseosa,

persalinan.

lanugo

dan

meconium,

selama

2

hari

pasca

b) Lochea sanguilenta

Berwarna

merah

kuning

berisi

darah

dan

lendir

hari

3-7

hari

persalinan.

c) Lochea serosa

Berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 hari

pasca persalinan.

d) Lochea alba

Cairan putih setelah 2 minggu.

e) Lochea purulenta

Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.

f) Locheastasis

Lochea yang tidak lancar keluarnya.

6) Serviks

Setelah persalinan, bentuk serviks agak menganga seperti corong,

berwarna merah kehitaman, konsistennya lunak. Setelah bayi lahir

tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui oleh

2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari (Prawirohardjo,

2005, p.238).

7) Ligamen-ligamen

Ligamen, vasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu

kehamilan dan persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur-angsur

menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh

kebelakang

dan

menjadi

retrofleksi

karena

ligamentum

rotundum

menjadi kendur (Prawirohardjo, 2005, p.239).

d. Adaptasi psikologi masa nifas

1) Fase Taking in (1-2 hari post partum)

Wanita menjadi pasif dan sangat tergantung serta berfokus pada diri

dan tubuhnya sendiri. Mengulang-ulang, menceritakan pengalaman

proses bersalin yang dialami.

Wanita yang baru melahirkan ini perlu istirahat atau tidur untuk

mencegah gejala kurang tidur dengan gejala lelah, cepat tersinggung,

campur baur dengan proses pemulihan (Anggraeni, 2010, p.80).

2) Fase hold period (3-4 hari post partum)

Ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuan menerima tanggung jawab

sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu menjadi

sangat sensitif sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan

perawat untuk mengatasi kritikan yang dialami ibu (Waryana, 2010,

p.65).

3) Fase Letting go

Pada

fase

mengambil

ini

pada

tanggung

umumnya

ibu

jawab

untuk

sudah

pulang

dari

merawat

bayinya,

RS.

Ibu

dia

harus

menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayi, begitu juga adanya

grefing karena dirasakan dapat mengurangi interaksi sosial tertentu.

Depresi post partum sering terjadi pada masa ini (Anggraeni, 2010,

p.81).

e. Perawatan pasca persalinan

1) Kebersihan diri menurut Abdul bari (2002, pp.N24-N25), yaitu :

a) Anjurkan kebersihan seluruh tubuh.

b) Mengajarkan

dengan

sabun

ibu

dan

bagaimana

membersihkan

air.

Pastikan

bahwa

ibu

daerah

kelamin

mengerti

untuk

membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan

ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus.

Nasihatkan kepada ibu untuk membersihkan vulva setiap kali

selesai buang air kecil atau besar.

c) Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut

setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah

dicuci

dengan

diseterika.

baik

dan

dikeringkan

dibawah

matahari

atau

d) Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum

dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.

e) Jika

ibu

mempunyai

luka

episiotomi

atau

laserasi,

sarankan

kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka.

2) Istirahat menurut Abdul bari (2002, p.N25), yaitu :

a) Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang

berlebihan.

b) Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan rumah tangga secara

perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi

tidur.

c) Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal :

(1) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi.

(2) Memperlambat

perdarahan.

proses

involusi

uterus

dan

memperbanyak

(3) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat

bayi dan dirinya sendiri.

3) Latihan menurut Abdul bari (2002, p.N25), yaitu :

a) Diskusikan

pentingnya

otot-otot

perut

dan

panggul

kembali

normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot

perutnya

menjadi

punggung.

kuat

sehingga

mengurangi

rasa

sakit

pada

b) Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat

membantu, seperti :

(1) Dengan tidur terlentang dengan lengan disamping, menarik

otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas ke dalam dan

angkat dagu ke dada, tahan satu hitungan sampai 5. Rileks dan

ulangi sebanyak 10 kali.

(2) Untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul

(latihan kegel).

c) Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot pantat

dan pinggul dan tahan sampai 5 hitungan. Kendurkan dan ulangi

latihan sebanyak 5 kali.

Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan.

Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu

ke 6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak

30 kali.

2. Penyembuhan luka

a. Pengertian

Penyembuhan luka adalah proses penggantian dan perbaikan

fungsi jaringan yang rusak (Boyle, 2008, p.36).

 

Pada

ibu

yang

baru

melahirkan,

banyak

komponen

fisik

normal

pada

masa

postnatal

membutuhkan

penyembuhan

dengan

berbagai tingkat. Pada umumnya, masa nifas

cenderung berkaitan

dengan proses pengembalian tubuh ibu kekondisi sebelum hamil, dan

banyak proses di antaranya yang berkenaan dengan proses involusi

uterus, disertai dengan penyembuhan pada tempat plasenta (luka yang

luas) termasuk iskemia dan autolisis. Keberhasilan resolusi tersebut

sangat penting untuk kesehatan ibu, tetapi selain dari pedoman nutrisi

(yang idealnya seharusnya diberikan selama periode antenatal) dan

saran yang mendasar tentang higiene dan gaya hidup, hanya sedikit

yang bisa dilakukan bidan untuk mempengaruhi proses tersebut.

b. Fisiologi penyembuhan luka menurut Smeltzer dan Suzanne C (2002,

p.490)

Beragam proses seluler yang saling tumpang tindih dan terus

menerus memberikan kontribusi terhadap pemulihan luka, regenerasi

sel, proliferasi sel, dan pembentukan kolagen. Respon jaringan terhadap

cidera melewati beberapa fase yaitu :

1) Fase inflamasi

Respon vaskuler dan seluler terjadi ketika jaringan terpotong

atau mengalami cidera. Vasokontriksi pembuluh terjadi dan bekuan

fibrinoplateler terbentuk dalam upaya untuk mengontrol perdarahan.

Reaksi ini berlangsung dari 5 menit sampai 10 menit dan diikuti oleh

vasodilatasi

venula.

Mikrosirkulasi

kehilangan

kemampuan

vasokontriksinya karena norepinefrin dirusak oleh enzim intraseluler.

Sehingga

histamin

dilepaskan

yang

dapat

meningkatkan

permebialitas kapiler. Ketika mikrosirkulasi mengalami kerusakan,

elemen darah seperti antibodi, plasma protein, elektrolit, komplemen,

dan

air

menembus

spasium

vaskuler

selama

2

sampai

3

hari,

menyebabkan edema, teraba hangat, kemerahan dan nyeri. Sel-sel

basal pada pinggir luka mengalami mitosis dan menghasilkan sel-sel

anak

yang

bermigrasi.

Dengan

aktivitas

ini,

enzim

proteolitik

disekresikan dan menghancurkan bagian dasar bekuan darah. Celah

antara kedua sisi luka secara progresif terisi, dan sisinya pada

akhirnya saling bertemu dalam 24 sampai 48 jam.

2) Fase proliferatif

Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk jaring-jaring

untuk sel-sel yang bermigrasi. Sel-sel epitel membentuk kuncup pada

pinggiran

luka,

kuncup

ini

berkembang

menjadi

kapiler

yang

merupakan

sumber

nutrisi

bagi

jaringan

granulasi

yang

baru.

Fibroblas melakukan sintesis kolagen dan mukopolisakarida. Banyak

vitamin, terutama vitamin C sangat membantu proses metabolisme

yang terlibat dalam penyembuhan luka.

3) Fase maturasi

Jaringan parut tampak lebih besar, sampai fibrin kolagen

menyusun kedalam posisi yang lebih padat. Hal ini sejalan dengan

dehidrasi

yang

kekuatannya.

mengurangi

jaringan

c. Proses penyembuhan luka

parut

tetapi

meningkatkan

Luka dapat sembuh melalui proses utama (primary intention)

yang

terjadi

ketika

tepi

luka

disatukan

(approximated)

dengan

menjahitnya.

Jika

luka

dijahit,

terjadi

penutupan

jaringan

yang

disatukan dan tidak ada ruang yang kosong. Oleh karena itu, dibutuhkan

jaringan

granulasi

yang

minimal

dan

kontraksi

sedikit

berperan.

Penyembuhan yang kedua yaitu melalui proses sekunder (secondary

intention) terdapat defisit jaringan yang membutuhkan waktu yang lebih

lama (Boyle, 2008, p.43).

d. Penghambat keberhasilan penyembuhan luka menurut Boyle (2008,

pp.44-49) adalah sebagai berikut :

1) Malnutrisi

Malnutrisi

secara

umum

dapat

mengakibatkan

berkurangnya

kekuatan

luka,

meningkatkan

dehisensi

luka,

meningkatkan

kerentanan terhadap infeksi, dan parut dengan kualitas yang buruk.

Defisien

nutrisi

(sekresi

insulin

dapat

dihambat,

sehingga

menyebabkan glukosa darah meningkat) tertentu dapat berpengaruh

pada penyembuhan.

2) Merokok

Nikotin dan karbon monoksida diketahui memiliki pengaruh yang

dapat merusak penyembuhan luka, bahkan merokok yang dibatasi

pun

dapat

mengurangi

aliran

darah

perifer.

Merokok

juga

mengurangi

kadar

vitamin

C

yang

sangat

penting

untuk

penyembuhan.

 

3) Kurang tidur

Gangguan tidur dapat menghambat penyembuhan luka, karena tidur

meningkatkan anabolisme dan penyembuhan luka termasuk ke dalam

proses anabolisme.

4) Stres

Ansietas

dan

stres

dapat

mempengaruhi

menghambat penyembuhan luka.

sistem

imun

sehingga

5) Kondisi medis dan terapi

Imun yang lemah karena sepsis atau malnutrisi, penyakit tertentu

seperti

AIDS,

ginjal

atau

penyakit

hepatik

dapat

menyebabkan

menurunnya

kemampuan

untuk

mengatur

faktor

pertumbuhan,

inflamasi, dan sel-sel proliperatif untuk perbaikan luka.

6) Apusan kurang optimal

Melakukan apusan atau pembersihan luka dapat mengakibatkan

organisme tersebar kembali disekitar area kapas atau serat kasa yang

lepas ke dalam jaringan granulasi dan mengganggu jaringan yang

baru terbentuk.

7) Lingkungan optimal untuk penyembuhan luka

Lingkungan yang paling efektif untuk keberhasilan penyembuhan

luka adalah lembab dan hangat.

8) Infeksi

Infeksi dapat memperlambat penyembuhan luka dan meningkatkan

granulasi serta pembentukan jaringan parut.

3. Tingkat kecukupan protein

a. Pengertian

Protein merupakan sumber asam amino yang mengandung

unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Protein berasal dari kata

yunani yaitu proteos yang berarti yang utama atau yang didahulukan.

Protein merupakan zat gizi ke dua yang banyak terdapat di dalam tubuh

setelah air, seperlima bagian dari tubuh manusia dewasa adalah protein

(Sulistyoningsih, 2011, p.22). Konsumsi protein adalah jumlah protein

dari pangan baik hewani maupun nabati yang dikonsumsi, dinyatakan

dalam

satuan

gram

perkapita

perhari

Pembangunan Nasional, 2007).

(Badan

Perencanaan

b. Klasifikasi protein menurut Sulistyoningsih, (2011, pp.22-23)

Berdasarkan sumbernya, protein dikelompokkan menjadi dua

yaitu

protein

hewani

dan

protein

nabati.

Jika

dikelompokkan

berdasarkan

proporsi

asam

amino

yang

terkandung,

protein

dikelompokkan menjadi :

1) Protein lengkap/ protein dengan nilai biologik tinggi/ bermutu.

Protein

yang

mengandung

semua

asam

amino

esensial

dalam

proporsi yang mampu memberikan pertumbuhan secara optimal.

2) Protein tidak lengkap/ protein bermutu rendah.

Protein yang tidak memiliki jumlah terbatas satu atau lebih asam

amino esensial. Sebagian besar protein nabati merupakan protein

tidak lengkap, kecuali kedelai.

c. Metabolisme protein

Protein

dalam

makanan

baru

akan

mengalami

proses

pencernaan di lambung dengan adanya enzim pepsin yang bekerja sama

dengan HCL untuk memecah protein menjadi metabolit intermediet

tingkat

polipeptida

yaitu

pepton,

albumosa

dan

proteosa.

Protein

makanan dicerna total menjadi asam amino larut dalam air sehingga

dapat berdifusi secara pasif melalui membrane sel. Umumnya protein

dicerna dan diserap secara sempurna sehingga di dalam tinja tidak ada

protein makanan (Sulistyoningsih, 2011, p.23)

d. Fungsi protein menurut Sulistyoningsih (2011, pp.23-24)

Protein

memiliki

fungsi

penting

yang

diperlukan

tubuh

diantaranya adalah:

 

1) Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan

 

Pertumbuhan

atau

penambahan

otot

juga

pemeliharaan

dan

perbaikan jaringan hanya akan terjadi jika cukup tersedia campuran

asam amino yang sesuai. Protein selalu dalam kondisi dinamis,

secara

bergantian

akan

dipecah

dan

disintesis

kembali.

Tubuh

manusia akan menggunakan kembali asam amino yang diperoleh

dari pemecahan jaringan untuk membangun kembali jaringan yang

sama atau jaringan yang lain.

2) Salah satu penghasil utama energi

Apabila

pemenuhan

kebutuhan

energi

tidak

tercukupi

dari

karbohidrat, maka protein dapat digunakan sebagai sumber energi, 1

gram protein dapat menghasilkan 4 kkal.

3) Merupakan bagian dari enzim antibodi

Menyediakan asam amino yang diperlukan dalam membentuk enzim

pencernaan dan metabolisme serta antibodi yang dibutuhkan.

4) Mengangkut zat gizi

Protein memiliki peranan dalam mengangkut zat gizi dari saluran

cerna melalui membran sel menuju sel. Kekurangan protein dapat

menyebabkan gangguan pada absorpsi dan transportasi zat gizi.

5) Mengatur keseimbangan air

Protein dan elektrolit berperan penting dalam menjaga keseimbangan

cairan

tubuh.

Penumpukan

cairan

dalam

jaringan

(oedema)

merupakan salah satu tanda awal kekurangan protein.

e. Sumber protein

Protein terdapat pada pangan nabati maupun hewani. Nilai

biologi protein pada bahan pangan bersumber hewani lebih tinggi

dibandingkan dengan bahan makanan nabati. Bahan makanan hewani

sumbernya yaitu dari ikan, susu, telur, daging, unggas dan kerang.

Bahan makanan nabati yang memiliki kandungan protein adalah kedelai

dan olahannya seperti tempe dan tahu, serta kacang-kacangan lain,

Kedelai merupakan bahan nabati dengan nilai biologi yang tertinggi

(Sulistyoningsih, 2011, p.24).

f. Kebutuhan

ibu

masa

nifas

menurut

Ambarwati

dan

Wulandari

(2010,pp.98-103) itu harus mengandung :

1) Sumber tenaga (energi)

Untuk pembakaran tubuh, pembentukan jaringan baru, penghematan

protein, jika sumber tenaga kurang, protein dapat digunakan sebagai

cadangan

untuk

memenuhi

kebutuhan

terdiri

jagung, tepung terigu dan ubi.

2) Sumber pembangunan (protein)

dari

beras,

sagu,

Protein diperlukan untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang

rusak atau mati. Protein dari makanan harus diubah menjadi asam

amino sebelum diserap oleh sel mukosa usus dan dibawa ke hati

melalui pembuluh darah vena. Sumber protein dapat diperoleh dari

protein hewani (ikan, udang, kerang, kepiting, daging ayam, hati,

telur, susu dan keju) dan protein nabati (kacang tanah, kacang

merah, kacang hijau, kedelai, tahu dan tempe). Sumber protein

terlengkap terdapat dalam susu, telur dan keju, ketiga makanan

tersebut juga mengandung zat kapur, zat besi dan vitamin B.

Tabel. 2.2 Nilai protein dalam beberapa jenis bahan makanan

Hewani

Protein

Nabati

Protein

(gr%)

(gr%)

Daging sapi

18,8

Kacang kedelai kering Kacang merah Kacang hijau Kacang tanah terkelupas Beras Kentang Tempe Tahu Daun singkong

34,9

Hati

19,7

29,1

Babat

17,6

22,2

Jeroan

14

25,3

Daging ayam

18,2

7,6

Ikan segar

17

2

Kerang

16,4

18,3

Udang segar

21

7,8

Telur ayam

12

6,8

Susu sapi

3,2

Bayam

3,5

Sumber : Daftar komposisi bahan makanan, Sulistyoningsih (2011) dalam buku almatsier (2003).

3) Sumber pengatur dan pelindung (Mineral, vitamin dan air)

Unsur-unsur

tersebut

digunakan

untuk

melindungi

tubuh

dari

serangan penyakit dan pengatur kelancaran metabolisme dalam

tubuh.

Ibu menyusui

minum air sedikitnya

3

liter

setiap hari

(anjurkan ibu untuk minum setiap kali habis menyusui). Sumber zat

pengatur dan pelindung biasa diperoleh dari semua jenis sayuran

dan buah-buahan segar.

4) Jenis-jenis mineral penting :

a) Zat kapur

Untuk pembentukan tulang, sumbernya yaitu susu, keju, kacang-

kacangan dan sayuran berwarna hijau.

b) Fosfor

Dibutuhkan

untuk

pembentukan

kerangka

dan

gigi

sumbernya yaitu susu, keju, daging.

c) Zat besi

anak,

Tambahan zat besi sangat penting dalam masa menyusui karena

dibutuhkan untuk kenaikan sirkulasi darah serta membentuk sel

darah merah (HB) sehingga daya angkut oksigen mencukupi

kebutuhan. Sumber zat besi antara lain kuning telur, hati, daging,

kerang, ikan, kacang-kacangan dan sayuran hijau.

d) Yodium dan Kalsium

Sangat penting untuk mencegah timbulnya kelemahan mental

dan kekerdilan fisik yang serius, sumbernya yaitu minyak ikan,

ikan laut dan garam beryodium.

Jenis-jenis vitamin :

(1) Vitamin A

Digunakan untuk pembentukan sel, jaringan, gigi dan tulang,

perkembangan saraf penglihatan, meningkatkan daya tahan

tubuh terhadap infeksi. Sumbernya yaitu dari kuning telur,

hati, mentega, sayuran berwarna hijau dan buah berwarna

kuning (wortel, tomat, nangka).

(2) Vitamin B1 (Thiamin)

Dibutuhkan agar kerja syaraf dan jantung normal, membantu

metabolisme

karbohidrat

secara

tepat

oleh

tubuh,

nafsu

makan yang baik, membantu proses pencernaan makanan,

meningkatkan

pertahanan

tubuh

terhadap

infeksi

dan

mengurangi kelelahan. Sumbernya yaitu kuning telur, hati,

susu,

kacang-kacangan,

tomat,

jeruk,

nanas

dan

kentang

bakar.

(3) Vitamin B2 (Riboflavin)

Dibutuhkan untuk pertumbuhan, nafsu makan, pencernaan,

sistem saraf, jaringan kulit dan mata.

(4) Vitamin B3 (Niacin)

Dibutuhkan

dalam

proses

pencernaan,

kesuburan

kulit,

jaringan

saraf

dan

pertumbuhan.

Sumbernya

yaitu

dari

kuning telur, susu, daging, kaldu daging, hati, daging ayam,

kacang-kacangan, beras merah, jamur dan tomat.

(5) Vitamin B6 (Pyridoksin)

Dibutuhkan

untuk

pembentukan

sel

darah

merah

serta

kesehatan gigi dan gusi. Sumbernya yaitu gandum, jagung,

hati dan daging.

(6) Vitamin B12 (Cyanocobalamin)

Dibutuhkan

untuk

pembentukan

sel

darah

merah

dan

kesehatan jaringan saraf. Sumbernya yaitu telur, daging, hati,

keju, ikan laut dan kerang laut.

(7) Folic acid

Vitamin ini diperlukan untuk pertumbuhan pembentukan sel

darah merah dan produksi inti sel. Sumbernya yaitu daging,

hati, ikan jerman dan sayuran hijau.

(8) Vitamin C

Untuk pembentukan jaringan ikat dan bahan semua jaringan

ikat (untuk penyembuhan luka), pertumbuhan tulang, gigi dan

gusi, daya tahan terhadap infeksi, serta memberikan kekuatan

pada pembuluh darah. Sumbernya yaitu jeruk, tomat, melon,

brokoli, jambu biji, mangga, pepaya dan sayuran.

(9) Vitamin D

Dibutuhkan untuk pertumbuhan, pembentukan tulang dan

gigi serta penyerapan kalsium dan posfor. Sumbernya yaitu

antara lain minyak ikan, susu, margarin dan penyinaran kulit

dengan sinar matahari pagi (sebelum pukul 09.00 wib).

(10) Vitamin K

Dibutuhkan

untuk

mencegah

perdarahan

agar

proses

pembekuan darah normal. Sumber vitamin K adalah kuning

telur, hati, brokoli, asparagus dan bayam.

g. Penyakit akibat konsumsi protein

Penyakit yang berhubungan dengan protein terjadi karena

adanya 2 hal yaitu defisiensi protein serta adanya kelainan sintesis dan

metabolisme protein.

Timbulnya penyakit

akibat

defisiensi

protein

biasanya disertai dengan penyakit penyerta berupa infeksi, terutama

penyakit

infeksi

saluran

nafas

serta

infeksi

saluran

pencernaan.

Terdapat dua kondisi defisiensi energi dan protein, yaitu marasmus dan

kwashiorkor (Sulistyoningsih, 2011, pp.25-26).

h. Batas anjuran konsumsi protein

Angka kecukupan protein untuk orang dewasa menurut hasil

penelitian mengenai keseimbangan nitrogen adalah 0,8-1,5 gr/kg BB.

Angka

kecukupan

protein

sangat

dipengaruhi

oleh

mutu

protein

hidangan yang dinyatakan dalam skor asam amino (SAA), daya cerna

protein (DP), dan berat badan seseorang (Sulityoningsih, 2011, p.26).

Tabel 2.3 Perbandingan angka kecukupan energi dan zat gizi wanita dewasa dan tambahannya untuk ibu hamil dan menyusui.

No

Zat gizi

Wanita

Ibu hamil

Ibu menyusui

 

dewasa

0-6 bulan

7-12 bulan

1

Energi (kkal)

2200

285

700

500

2

Protein (gr)

48

12

16

12

3

Vitamin A

500

200

350

300

(RE)

4

Vitamin D

5

5

5

5

(mg)

5

Vitamin E

8

2

4

2

(mg)

6

Vitamin K

6,5

6,5

6,5

6,5

(mg)

7

Tiamin (mg)

1,0

0,2

0,3

0,3

8

Riboflavin (mg)

1,2

0,2

0,4

0,3

No Zat gizi

Wanita

Ibu hamil

Ibu menyusui

dewasa

0-6 bulan

7-12 bulan

9 Niasin (mg)

9

0,1

3

3

10 Vitamin B 12 (mg)

1,0

0,3

0,3

0,3

11 Asam folat (mg)

150

150

50

40

12 Pyridoksin (mg)

1,6

0,6

0,5

0,5

13 Vitamin C

60

10

25

10

14 Kalsium (mg)

500

400

400

400

15 Posfor (mg)

450

200

300

200

16 Besi (mg)

26

20

2

2

17 Seng (mg)

15

5

10

10

18 Yodium (mg)

150

25

50

50

Sumber : Ambarwati dan Wulandari, (2010, p.103).

4. Hubungan tingkat kecukupan protein dengan penyembuhan luka

Menurut Boyle (2008, p.45), protein memiliki peran utama

dalam fungsi imun, karena protein dibutuhkan tubuh dalam pembelahan

sel normal untuk menghasilkan komponen seluler. Antibodi dan agen vital

lainnya juga menyusun asam amino. Oleh karena itu defisiensi protein

akan mengakibatkan defek sistem imun. Asam amino penting untuk

sintesis dan pembelahan sel yang sangat vital untuk penyembuhan luka.

Kekurangan protein mengakibatkan penurunan angiogenesis, penurunan

proliferasi fibroblast dan sel endotel, serta penurunan sintesis kolagen dan

remodeling. Protein telur dan susu terutama penting untuk perbaikan

jaringan yang rusak (Boyle, 2008, pp.62-63).

Hasil

penelitian

serupa

yaitu

hasil

penelitian

Arif

wibowo

(2005), menunjukkan bahwa ada hubungan pola perilaku makan ibu post

partum dengan proses penyembuhan luka episiotomi, sehingga perlu

adanya

pola

perilaku

makan

ibu

post

partum

yang

baik

untuk

mempercepat proses penyembuhan luka episiotomi.

B. Kerangka teori

Status nutrisi : a. Tingkat kecukupan protein. b. Vitamin C Gaya hidup : a. Merokok
Status nutrisi :
a. Tingkat kecukupan
protein.
b. Vitamin C
Gaya hidup :
a. Merokok
b. Kurang tidur
c. Stress
Lingkungan :
a. Kondisi medis dan
terapi
b. Lingkungan optimal
untuk penyembuhan
c. Apusan luka
d. Infeksi

Penyembuhan luka perineum

tidak ditelitic. Apusan luka d. Infeksi Penyembuhan luka perineum : diteliti : Gambar 2.4 Kerangka teori Sumber

:

ditelitiluka d. Infeksi Penyembuhan luka perineum tidak diteliti : : Gambar 2.4 Kerangka teori Sumber :

:

Gambar 2.4 Kerangka teori Sumber : Boyle (2008, pp.43-49)

C. Kerangka konsep Variabel

Variabel

independen

dependen

Tingkat kecukupan protein

Penyembuhan luka perineum

dependen Tingkat kecukupan protein Penyembuhan luka perineum Gambar 2.5 Kerangka konsep D. Hipotesis Hipotesis dalam

Gambar 2.5 Kerangka konsep

D. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

Ada hubungan antara tingkat kecukupan protein dengan lama penyembuhan

luka perineum ibu nifas.