Anda di halaman 1dari 20

REFERAT HEPATITIS

TRISNO SOSILO
RITA RISANTI
FITRA DINI

1.1 Latar Belakang


Hepatitis virus akut merupakan
urutan pertama dari berbagai
penyakit hati di seluruh dunia.
Penyakit tersebut atau gejala sisanya
bertanggung jawab atas 1 2 juta
kematian setiap tahunnya

Anatomi dan Histologi Hepar

Fisiologi Hepar

Fungsi hati sebagai metabolisme


karbohidrat
Fungsi hati sebagai metabolisme lemak
Pembentukan cholesterol
Pembentukan dan pemecahan fosfolipid
Fungsi hati sebagai metabolisme protein
Fungsi hati dalam pembekuan darah
Fungsi hati sebagai metabolisme vitamin
Fungsi hati sebagai detoksikasi
Fungsi hati sebagai fagositosis dan
imunitas
Fungsi hemodinamik

Klasifikasi

Hepatitis
Hepatitis
Hepatitis
Hepatitis
Hepatitis

A
B
D
C
E

Gejala Klinis
hepatitis A memiliki masa inkubasi 15
45 hari ( 4 minggu), hepatitis B dan
D masa inkubasi 30 180 hari ( 4
12 minggu), hepatitis C masa inkubasi
15 160 hari ( 7 minggu) dan
hepatitis E masa inkubasi 14 60 hari
( 5 6 minggu)

Gejala awal hepatitis bersifat umum dan bervariasi.


Gangguan pencernaan seperti mual,muntah, lemah
badan, pusing, nyeri sendi dan otot, sakit kepala,
mudah silau, nyeri tenggorok, batuk dan pilek
dapat timbul sebelum badan menjadi kuning
selama 1 2 minggu. Demam yang tidak terlalu
tinggi antara 38,0 C 39,0 C lebih sering terjadi
pada hepatitis A dan E. Keluhan lain berupa air seni
menjadi berwarna seperti air teh (pekat gelap) dan
warna feses menjadi pucat terjadi 1 5 hari
sebelum badan menjadi kuning.

gejala utama yaitu badan dan mata menjadi


kuning (kuning kenari), gejala-gejala awal tersebut
biasanya menghilang, tetapi pada beberapa pasien
dapat disertai kehilangan berat badan (2,5 5 kg),
hal ini biasa dan dapat terus terjadi selama proses
infeksi. Hati menjadi membesar dan nyeri
sehingga keluhan dapat berupa nyeri perut kanan
atas atau terasa penuh di ulu hati. Terkadang
keluhan berlanjut menjadi tubuh bertambah
kuning (kuning gelap) yang merupakan tanda
adanya sumbatan pada saluran kandung empedu

Pemeriksaan
Laboratorium

DIAGNOSIS
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang

Terapi
hepatitis A akan mengalami
penyembuhan sendiri apabila tubuh
cukup kuat. Sehingga pengobatan
hanya untuk mengurangi keluhan
yang ada, disertai pemberian vitamin
dan istirahat yang cukup

Infeksi virus hepatitis B pada dewasa


sehat 99% akan mengalami
perbaikan. Tetapi apabila infeksi
berlanjut dan menjadi kronis
pemberian analog nukleosida
(lamivudin) dapat memberikan hasil
yang baik.

Infeksi virus hepatitis C jarang


mengalami penyembuhan spontan,
sehingga diperlukan pemberian
antivirus dengan -interferon
monoterapi memberikan hasil yang
baik hingga 70%. Perawatan di
rumah sakit atau dengan isolasi
diperlukan apabila penderita
mengalami komplikasi

Rekomendasi Umum

Pasien dapat rawat jalan selama terjamin hidrasi


dan intake kalori yang cukup.
Tirah baring tidak lagi disarankan.
Tidak ada diet yang spesifik atau suplemen yang
memberikan hasil efektif.
Protein dibatasi hanya pada pasien yang
mengalami ensefalopati hepatik.
Selama fase rekonvalesen diet tinggi protein
dibutuhkan untuk proses penyembuhan.
Alkohol harus dihindari dan pemakaian obatobatan diatasi.
Obat yang dimetabolisme di hati harus dihindari.
Pasien diperiksa setiap minggu selama fase awal
penyakit dan terus dievaluasi sampai sembuh.

Harus terus dimonitor terhadap kejadian ensefalopati


seperti keadaan somnolen, mengantuk, dan asteriks.
Pasien yang menunjukkan gejala hepatitis fulminan
harus segera dikirim ke pusat transplantasi.
Pasien dengan hepatitis akut tidak memerlukan
rawatan isolasi.
Orang yang merawat pasien hepatitis akut A dan E
harus selalu mencuci tangannya dengan sabun dan
air.
Masa protombin serum petanda yang baik untuk
menilai dekompensasi hati.
Memonitor konsentrasi transminase serum
Anti mual muntah dapat membantu menghilangkan
keluhan.
Orang yang kontak erat dengan pasien hepatitis B
akut seharusnya menerima vaksin hepatitis B.

Komplikasi
Hepatitis Fulminant

Pencegahan
Hepatitis A
Pemberian immunoglobulin atau virus yang dilemahkan
dapat mencegah terjadinya infeksi ini. Pemberian dapat
diberikan efektif dari sejak pasien terpapar virus sampai
2 minggu setelahnya. Pemberian vaksin ini dianjurkan
pada anak dengan resiko tinggi. Profilaksis ini tidak
diperlukan pada penderita dewasa yang sering kontak
(kantor, pabrik, sekolah dan rumah sakit) yang biasanya
sudah memiliki imunitas. Pemberian ini dapat diberikan
pula pada tentara, petugas kesehatan, pemelihara
primata, pekerja laboratorium, dan mereka yang akan
berpergian ke daerah yang sedang mengalami endemi
hepatitis ini.

Hepatitis B

Pemberian dapat berupa immunoglobulin atau


komponen virus. Profilaktik untuk preexposure
hepatitis B diberikan pada tenaga kesehatan, pasien
hemodialisis, petugas pengembangan orang-orang
cacat, pengguna obat-obatan terlarang, pelaku seks
bebas, penderita yang membutuhkan tranfusi
berulang, ibu yang hamil. Pemberian vaksin dapat
diberikan juga setelah terpapar dari hepatitis B tetapi
pemberian berupa rekombinasi vaksin. Pemberian
vaksin hepatitis B dapat mencegah infeksi hepatitis D,
selain itu tidak ada sediaan vaksin untuk hepatitis D.

Hepatitis C

Tidak ada vaksin yang efektif


untuk mencegah terjadinya infeksi
hepatitis C, sehingga pencegahannya
adalah dengan menjaga keamanan
darah pada proses donor dan tranfusi
darah, dan perubahan pola gaya
hidup.