Anda di halaman 1dari 16

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 48 TAHUN 2013
TENTANG
BUDI DAYA HEWAN PELIHARAAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 33 UndangUndang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan
Kesehatan Hewan, perlu menetapkan Peraturan Presiden
tentang Budi Daya Hewan Peliharaan;

Mengingat:

1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan
dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 84, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5015);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan: PERATURAN PRESIDEN TENTANG BUDI DAYA HEWAN
PELIHARAAN.

BAB ...

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

-2BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan:
1.

Budi Daya Hewan Peliharaan adalah usaha yang dilakukan di suatu


tempat tertentu pada suatu kawasan budi daya secara berkesinambungan
untuk Hewan Peliharaan dan produk hewan.

2.

Hewan Peliharaan adalah hewan yang kehidupannya untuk sebagian atau


seluruhnya bergantung pada manusia untuk maksud tertentu.

3.

Ternak adalah Hewan Peliharaan yang produknya diperuntukkan sebagai


penghasil pangan, bahan baku industri, jasa, dan/atau hasil ikutannya
yang terkait dengan pertanian.

4.

Peternakan adalah segala urusan yang berkaitan dengan sumber daya


fisik, benih, bibit dan/atau bakalan, pakan, alat dan mesin peternakan,
budi daya Ternak, panen, pascapanen, pengolahan, pemasaran, dan
pengusahaannya.

5.

Satwa Liar adalah semua binatang yang hidup di darat, air, dan/atau
udara yang masih mempunyai sifat liar, baik yang hidup bebas maupun
yang dipelihara oleh manusia.

6.

Hewan Laboratorium adalah hewan yang dipelihara khusus sebagai


hewan percobaan, penelitian, pengujian, pengajaran, dan penghasil bahan
biomedik ataupun dikembangkan menjadi hewan model untuk penyakit
manusia.

7.

Hewan Kesayangan adalah hewan yang dipelihara khusus sebagai hewan


olah raga, kesenangan, dan keindahan.
8.

Peternak ...

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

-38.

Peternak adalah perorangan warga negara Indonesia atau korporasi yang


melakukan usaha Peternakan.

9.

Perusahaan Peternakan adalah orang perorangan atau korporasi, baik


yang berbentuk badan hukum maupun yang bukan badan hukum, yang
didirikan dan berkedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang mengelola usaha Peternakan dengan kriteria dan skala
tertentu.

10.

Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di


bidang Budi Daya Hewan Peliharaan.

BA B II
PENYELENGGARAAN BUDI DAYA HEWAN PELIHARAAN

Bagian Kesatu
Jenis Hewan Peliharaan

Pasal 2
(1) Hewan Peliharaan yang dapat dibudidayakan meliputi jenis Hewan
Peliharaan:
a. Ternak;
b. Hewan Kesayangan; dan/atau
c. Hewan Laboratorium.
(2) Rincian Hewan Peliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan oleh Menteri.

Pasal ...

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

-4Pasal 3
(1)

Hewan Peliharaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dapat


berasal dari Satwa Liar yang tidak dilindungi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam
hayati.

(2)

Hewan Peliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh


Menteri setelah mendapat saran dan pertimbangan dari menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang konservasi sumber
daya alam hayati.

Bagian Kedua
Kawasan Budi Daya Hewan Peliharaan

Pasal 4
(1) Budi Daya Hewan Peliharaan diselenggarakan pada kawasan Budi Daya

Hewan Peliharaan dan/atau melalui integrasi dengan usaha lainnya.


(2) Penyelenggaraan Budi Daya Hewan Peliharaan pada kawasan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan


perundang-undangan.
( 3)

Kawasan Budi Daya Hewan Peliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) harus memenuhi kriteria:
a. ketersediaan air dan pakan;
b. persyaratan teknis Peternakan dan teknis kesehatan hewan;

c. tersedia prasarana dasar berupa jalan, jembatan, dan pasar hewan;


d. kelestarian fungsi lingkungan hidup dan kondisi sosial budaya
masyarakat; dan
e. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4)

Ketentuan ...

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

-5-

(4) Ketentuan mengenai kriteria kawasan Budi Daya Hewan Peliharaan


sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Menteri.

Pasal 5
(1)

Dalam hal suatu lahan telah memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 4, pemerintah daerah kabupaten/kota dapat menetapkan
lahan tersebut sebagai kawasan Budi Daya Hewan Peliharaan.

(2)

Kawasan Budi Daya Hewan Peliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat


(1), ditetapkan dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan

di bidang penataan ruang.

Pasal 6

(1) Pemerintah daerah kabupaten/kota wajib menetapkan suatu lahan


sebagai tempat penggembalaan umum.

(2) Penetapan suatu lahan sebagai tempat penggembalaan umum


sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan jika di daerahnya
mempunyai persediaan lahan yang memungkinkan dan memprioritaskan
budi daya Ternak skala kecil.

( 3)

Tempat penggembalaan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2),


berfungsi sebagai:
a. penghasil tumbuhan pakan;
b. tempat perkawinan alami, seleksi, kastrasi, dan pelayanan inseminasi
buatan;
c. tempat pelayanan kesehatan hewan; dan/atau
d. tempat atau objek penelitian dan pengembangan teknologi Peternakan
dan kesehatan hewan.
(4) Ketentuan

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

-6-

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tempat penggembalaan umum


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagian Ketiga
Pola Budi Daya Hewan Peliharaan

Pasal 7
(1) Pola Budi Daya Hewan Peliharaan meliputi pola budi daya:
a.

intensif;

b.

semi intensif; atau

c.

ekstensif.

(2) Pola budi daya intensif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
diselenggarakan dengan cara mengelola seluruh kebutuhan hidup dan
kesehatan Hewan Peliharaan.
(3 ) Pola budi daya semi intensif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b, diselenggarakan dengan cara mengelola sebagian kebutuhan hidup dan
kesehatan Hewan Peliharaan.
(4) Pola budi daya ekstensif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,
diselenggarakan dengan tidak mengelola sebagian besar kebutuhan hidup
Hewan Peliharaan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pola Budi Daya Hewan Peliharaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

-7-

Pasal 8
(1)

Budi Daya Hewan Peliharaan dengan pola sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 7, dapat diselenggarakan melalui integrasi dengan usaha lainnya.

(2)

Budi Daya Hewan Peliharaan yang diselenggarakan secara terintegrasi


sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dilakukan secara sinergi
dengan usaha di bidang tanaman pangan, hortikultura, perkebunan,
perikanan, kehutanan, dan/atau industri pertanian.

(3)

Sinergi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dimaksudkan untuk


memanfaatkan sumber daya yang dihasilkan dari komoditas tanaman
pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, kehutanan, dan/atau
industri pertanian sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Pasal 9
Budi Daya Hewan Peliharaan yang diselenggarakan secara terintegrasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, dapat diselenggarakan oleh badan
usaha milik negara, badan usaha milik daerah, atau perusahaan swasta yang
bergerak dalam budi daya tanaman pangan, hortikultura, perkebunan,
perikanan, kehutanan, dan/atau industri pertanian.

Pasal 10
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan Budi Daya Hewan
Peliharaan secara terintegrasi diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal ...

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

-8Pasal 11
(1)

Untuk mencegah terjadinya penularan jenis penyakit hewan tertentu, dari


satu spesies hewan ke spesies hewan lainnya, Budi Daya Hewan
Peliharaan harus diselenggarakan secara tersendiri berdasarkan
spesiesnya.

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaran Budi Daya Hewan


Peliharaan secara tersendiri berdasarkan spesiesnya sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagian Keempat
Penyelenggara Budi Daya Hewan Peliharaan

Pasal 12
(1) Setiap warga negara Indonesia perorangan atau korporasi dapat menjadi
penyelenggara Budi Daya Hewan Peliharaan.
(2) Penyelenggara Budi Daya Hewan Peliharaan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) wajib memiliki:
a. izin Budi Daya Hewan Peliharaan; atau
b. tanda daftar Budi Daya Hewan Peliharaan.
(3) Izin Budi Daya Hewan Peliharaan atau tanda daftar Budi Daya Hewan
Peliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diberikan oleh
Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 13
(1) Izin Budi Daya Hewan Peliharaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
ayat (2) huruf a, diwajibkan bagi penyelenggara Budi Daya Hewan
Peliharaan dengan jenis dan jumlah Ternak di atas skala tertentu.
(2) Izin ...

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

-9-

(2) Izin Budi Daya Hewan Peliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
berlaku selama penyelenggara melakukan Budi Daya Hewan Peliharaan.

Pasal 14
(1)

Tanda daftar Budi Daya Hewan Peliharaan sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 12 ayat (2) huruf b, diwajibkan bagi penyelenggara Budi Daya
Hewan Peliharaan dengan jenis dan jumlah Ternak di bawah skala
tertentu.

(2)

Tanda daftar Budi Daya Hewan Peliharaan sebagaimana dimaksud pada


ayat (1), berlaku selama penyelenggara melakukan Budi Daya Hewan
Peliharaan.

Pasal 15
Ketentuan lebih lanjut mengenai skala Budi Daya Hewan Peliharaan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan Pasal 14, diatur dengan Peraturan
Menteri.

Pasal 16
Penyelenggara Budi Daya Hewan Peliharaan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12, wajib menerapkan tata cara Budi Daya Hewan Peliharaan yang baik
sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal ...

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

- 10 -

Pasal 17
Penyelenggara Budidaya Hewan Peliharaan untuk keperluan Tentara Nasional
Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, instansi kepabeanan,
instansi penelitian dan lembaga pendidikan serta kepentingan khusus lainnya
harus menerapkan tata cara budi daya yang baik dan memenuhi kebutuhan
khusus untuk setiap jenis Hewan Peliharaan.

Bagian Kelima
Kerja Sama dan Kemitraan Budi Daya Hewan Peliharaan

Pasal 18
Penyelenggara Budi Daya Hewan Peliharaan dapat melakukan kerja sama
dengan pihak asing untuk menyelenggarakan Budi Daya Hewan Peliharaan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
penanaman modal dan peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait.

Pasal 19
(1)

Penyelenggara Budi Daya Hewan Peliharaan dapat melakukan kemitraan


dalam menyelenggarakan Budi Daya Hewan Peliharaan.

(2)

Kemitraan Budi Daya Hewan Peliharaan sebagaimana dimaksud pada


ayat (1), dilakukan berdasarkan perjanjian yang saling memerlukan,
memperkuat, menguntungkan, dan berkeadilan.

Pasal

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

Pasal 20
( 1 ) Kemitraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, dapat dilakukan:
a.

antar Peternak;

b.

antara Peternak dengan Perusahaan Peternakan; dan

c.

antara Peternak dengan perusahaan di bidang lain.

(2) Kemitraan dapat juga dilakukan antara Perusahaan Peternakan dengan


pemerintah atau pemerintah daerah.
(3 ) Kemitraan antar Peternak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
dilakukan berdasarkan kesamaan jenis hewan yang dibudidayakan,
pemanfaatan kandang bersama, pemanfaatan fasilitas sarana produksi,
pembiayaan, pemasaran produk, pelayanan Peternakan dan kesehatan
hewan, dan/atau memperjuangkan kepentingan bersama.
(4) Kemitraan antara Peternak dengan Perusahaan Peternakan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b, dilakukan berdasarkan kesamaan jenis
hewan yang dibudidayakan, kerjasama manajemen dan teknis,
penyediaan sarana produksi, pembiayaan dan pemasaran produk,
dan/atau alih teknologi.
( 5 ) Kemitraan antara Peternak dengan perusahaan bidang lain sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c, dilakukan untuk memperoleh
kemudahan sarana produksi, pembiayaan, pengolahan dan/atau
pemasaran produk.
(6) Kemitraan antara Perusahaan Peternakan dengan pemerintah atau
pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan
untuk memberdayakan Peternak dalam rangka meningkatkan daya saing
usaha Hewan Peliharaan.

Pasal ...

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

- 12 Pasal 21
(1) Kemitraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1), dilakukan
dalam bentuk perjanjian tertulis.
(2) Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1), paling sedikit
memuat:
a.

jenis Ternak, jenis produk hewan, dan/atau jenis sarana produksi


yang dikerjasamakan;

b.

hak dan kewajiban;

c.

penetapan standar mutu;

d.

harga dasar;

e.

jaminan pemasaran;

f.

pembagian keuntungan dan risiko usaha;

g.

mekanisme pembayaran;

h. jangka waktu; dan


i.

penyelesaian perselisihan.

( 3 ) Dalam hal kemitraan dilakukan antar Peternak bersifat tradisional dan


berdasarkan kearifan lokal, perjanjian dapat dilakukan dalam bentuk
tidak tertulis.

BAB III
PERLINDUNGAN BUDI DAYA HEWAN PELIHARAAN

Pasal 22
(1) Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
melindungi Budi Daya Hewan Peliharaan dari persaingan usaha tidak
sehat di antara pelaku pasar sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2) Untuk ...

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

- 13 (2) Untuk meningkatkan daya saing penyelenggara Budi Daya Hewan


Peliharaan, pemerintah kabupaten/kota melakukan:
a.

kemudahan dalam pemberian perizinan dan pendaftaran Budi Daya


Hewan Peliharaan;

b.

penyediaan prasarana dan kemudahan memperoleh sarana budi


daya;

c.

penyediaan informasi pasar dan promosi pemasaran hasil budi daya;

d.

pencegahan dari gangguan usaha berupa polusi, penyakit, dan


keamanan;

e.

pemberian pendidikan dan pelatihan dan/atau penyuluhan;


dan/ atau

f.

pengutamaan penggunaan benih, bibit, bakalan dan bahan pakan


produksi dalam negeri.

Pasal 23
Ketentuan lebih lanjut mengenai peningkatan daya saing penyelenggara Budi
Daya Hewan Peliharaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2),
diatur dengan Peraturan Menteri.

BAB IV
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN BUDI DAYA HEWAN PELIHARAAN
Pasal 24
( 1 ) Pembinaan terhadap Budi Daya Hewan Peliharaan yang baik dilakukan
berdasarkan aspek:
a.

teknis yaitu penerapan tata cara Budi Daya Hewan Peliharaan yang
baik; dan

b.

non teknis yaitu pemberdayaan kelembagaan dan pengembangan


usaha.
(2) Menteri ...

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

- 14 -

(2)

Menteri melakukan pembinaan melalui penetapan pedoman praktik Budi


Daya Hewan Peliharaan yang baik.

(3)

Gubernur dan bupati/walikota melakukan pembinaan terhadap Budi


Daya Hewan Peliharaan yang baik sesuai dengan kewenangannya masingmasing.

(4)

Pembinaan non teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b,


dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 25
(1)

Untuk menjamin efektivitas pelaksanaan Budi Daya Hewan Peliharaan


bupati/walikota melakukan pengawasan baik secara langsung maupun
tidak langsung.

(2)

Pengawasan langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan


terhadap kesesuaian lokasi budi daya dengan tempat budi daya dan
penerapan tata cara Budi Daya Hewan Peliharaan yang baik.

(3)

Pengawasan tidak langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1),


dilakukan melalui evaluasi atas laporan yang dilakukan oleh Perusahaan
Peternakan yang melakukan budi daya.

(4)

Bupati/walikota menyampaikan laporan hasil pengawasan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), kepada gubernur, dan gubernur menyampaikan
laporan hasil pengawasan kepada Menteri.

(5)

Pedoman mengenai pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),


diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri.

BAB ...

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

- 15 -

BAB V
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 26
Pada saat Peraturan Presiden ini mulai berlaku, tanda daftar atau izin Budi
Daya Hewan Peliharaan yang telah dimiliki oleh penyelenggara Budi Daya
Hewan Peliharaan sebelum diundangkannya Peraturan Presiden ini
dinyatakan masih tetap berlaku.

Pasal 27
Pada saat Peraturan Presiden ini mulai berlaku, semua ketentuan peraturan
perundang-undangan mengenai Budi Daya Hewan Peliharaan yang telah ada
dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan
Peraturan Presiden ini.

Pasal 28
Peraturan pelaksanaan Peraturan Presiden ini ditetapkan paling lama 1 (satu)
tahun terhitung sejak diundangkannya Peraturan Presiden ini.

Pasal 29
Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar ...

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

- 16 -

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan


Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 22 Juli 2013
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 22 Juli 2013
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
AMIR SYAMSUDIN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOMOR 115

Salinan sesuai dengan aslinya


SEKRETARIAT KABINET RI

. ._,
ePut r3141*.ng Perekonomian,
.,

..

ft:,..C3t
t-,.

, \

' \

P',;)

h Nurdiati