Anda di halaman 1dari 19

Muhammad Rizqi Akbar

135060400111040

SOAL 3
CURAH HUJAN MAKSIMUM DAN RATA-RATA DAERAH

3.1 Latar Belakang


Para pakar hidrologi dalam melaksanakan pekerjaannya seringkali memerlukan
informasi besarnya volume presipitasi rata-rata untuk suatu daerah tangkapan air atau
daerah aliran sungai. Untuk mendapatkan data curah hujan yang dapat mewakili daerah
tangkapan air tersebut diperlukan alat penakar hujan dalam jumlah yang cukup. Dengan
semakin banyaknya alat-alat penakar hujan yang dipasang di lapangan diharapkan dapat
diketahui besarnya variasi curah hujan di tempat tersebut dan juga besarnya presipitasi
rata-rata yang akan menunjukkan besarnya presipitasi yang terjadi di daerah tersebut.

Secara umum, ketelitian hasil pengukuran presipitasi akan meningkat dengan


meningkatnya jumlah alat penakar hujan yang digunakan. Tetapi, tingkat kerapatan alat
penakar hujan yang tinggi seringkali sulit mengaturnya di lapangan, disamping mahal
biayanya. Cara penyelesaian yang merupakan kompromi antara keterbatasan jumlah alat
penakar hujan yang digunakan dengan hasil ketelitian tetap memadai adalah dengan
membuat klasifikasi, antara lain, klasifikasi tentang karakteristik topografi seperti
ketinggian tempat, kemiringan lereng, dll. Sebagai contoh, apabila pengukuran besarnya
presipitasi di suatu daerah dimaksudkan untuk penelitian air larian, maka strategi
penempatan alat penakar hujan lebih diprioritaskan pada tempat-tempa yang dianggap
sebagai sumber air larian. Dengan pendekatan yang sama, hal tersebut dilakukan untuk
pengukuran curah hujan untuk penelitian erosi dan sedimentasi. Dengan cara
penempatan alat penakar hujan yang disesuaikan dengan keperluan pengukuran, maka
jumlah alat penakar hujan yang diperlukan di lapangan dapat dikurangi tanpa
mengorbankan tingkat ketelitian yang diinginkan.
Untuk menghitung curah hujan harian, bulan, dan tahunan di suatu subDAS/DAS, umumnya digunakan tiga cara perhitungan, yaitu rata-rata aritmatik, teknik
poligon (Thiessen polygon), dan metode isohiet. (Asdak, 2001: 53-54)

3.2 Identifikasi Masalah


Sebuah peta DAS yang terdapat beberapa buah stasiun pengukur hujan. Pada
setiap stasiun hujan tersebut terdapat data nilai curah hujan harian maksimum. Data
tersebut digunakan untuk menentukan nilai curah hujan maksium dan rata-rata daerah
pada DAS tersebut. Untuk melakukan penghitungan nilai curah hujan maksimum dan
rata-rata daerah digunakan ketiga metode berikut, yaitu metode rata-rata aritmatik,
metode poligon theissen, dan metode isohiet.
3.3 Rumusan Masalah
1. Berapa nilai curah hujan rata-rata daerah setelah dihitung dengan metode rata-rata
aritmatik, metode poligon thiessen, dan metode isohiet?
2. Bagaimana hasil perbandingan metode rata-rata aritmatik, metode poligon
thiessen, dan metode isohiet

3.4 Batasan Masalah


Penghitungan nilai curah hujan maksimum dan rata-rata daerah akan dibatasi pada
ketiga metode berikut.
a.

Metode Rata-rata Aritmatik

b.

Metode Poligon Thiessen

c.

Metode Isohiet

3.5 Tujuan
1. Untuk mengetahui nilai curah hujan rata-rata daerah setelah dihitung dengan
metode rata-rata aritmatik, metode poligon thiessen, dan metode isohiet?
2. Untuk mengetahui perbandingan metode rata-rata aritmatik, metode poligon
thiessen, dan metode isohiet
3.6 Manfaat
Manfaat yang diharap diperoleh dengan adanya laporan ini adalah penulis
mengetahui nilai curah hujan maksimum dan rata-rata daerah setelah dihitung dengan
metode rata-rata aritmatik, metode poligon thiessen, dan metode isohiet.

3.7 KAJIAN PUSTAKA


3.7.1 Presipitasi
Presipitasi adalah curahan atau jatuhnya air dari atmosfer ke permukaan bumi
dan laut dalam bentuk yang berbeda, yaitu curah hujan di daerah tropis dan curah hujan
serta salju di daerah beriklim sedang. Mengingat bahwa di daerah tropis presipitasi
hanya ditemui dalam bentuk curah hujan, maka presipitasi dalam konteks daerah tropis
adalah sama dengan curah hujan. (Asdak, 2001: 30)
Presipitasi merupakan salah satu fenomena yang terjadi dalam sebuah siklus
hidrologi. Fenomena ini pasti terjadi dan harus terjadi karena apabila fenomena ini tidak
terjadi, air di bumi akan terus berkurang akibat evaporasi tanpa ada pengisian ulang
yang seharusnya merupakan peran presipitasi. Presipitasi memiliki banyak bentuk
misalnya hujan, salju, es, embun, dan bentuk lainnya.
3.7.2 Bentuk-Bentuk Presipitasi

Presipitasi yang ada di bumi ini berupa :


a. Hujan, merupakan bentuk yang paling penting.
b. Embun, merupakan hasil kondensasi di permukaan tanah atau tumbuh-tumbuhan
dan kondensasi dalam tanah. Sejumlah air yang mengembun di malam hari akan
diuapkan di pagi harinya. Ini sangat penting bagi tanaman, tetapi tidak
memegang peranan penting dalam daur hidrologi, karena jumlahnya tidak besar,
dan penguapannya di pagi buta.
c. Kendensasi, di atas lapisan es terjadi jika ada massa udara panas yang bergerak
di atas lapisan es. Kondensasi dalam tanah pada umumnya terjadi beberapa
sentimeter saja di bawah permukaan tanah.
d. Kabut, pada saat terjadi kabut, partikel-partikel air di endapkan di atas
permukaan tanah dan tumbuh-tumbuhan. Kabut beku atau rime merupakan
presipitasi kabut beku. Kabut sangat penting bagi pertumbuhan hutan, yang
menurut penelitian di Jerman dapat menaikkan hujan tahunan (30%-40% di
tengah hutan dan 100% di tepinya).
e. Salju dan es.
3.7.3 Pengukuran curah hujan
Fenomena hujan yang terjadi di suatu daerah pasti akan dicatat oleh stasiun hujan.
Stasiun hujan tersebut akan mencatat nilai dari curah hujan yang terjadi, biasanya data
curah hujan bersatuan mm. Ada 5 unsur yang mempengaruhi besar kecilnya nilai sebuah
data hujan, yaitu:
1.

Intensitas (i), sering disebut juga laju hujan. Dapat diartikan sebagai tinggi air
persatuan waktu, misal: mm/menit, mm/jam, dan lain-lain.

2.

Durasi (t), adalah lamanya curah hujan.

3.

Tinggi hujan (d), merupakan jumlah hujan yang dinyatakan dengan ketebalan air
di atas muka tanah.

4.

Frekuensi, dapat disebut sebagai kala ulang kejadian.

5.

Luas, adalah luas geografis suatu curah hujan.


Dalam praktek pengukuran curah hujan, terdapat dua jenis alat yang memiliki

fungsi berbeda pula, yaitu: alat pencatat hujan dan alat penakar hujan. Untuk alat
pencatat hujan biasanya sudah bersifat kerja secara otomatis, sehingga kita hanya perlu
memasang dan menyambungkannya ke server tempat menampung data.
3.7.4 Distribusi curah hujan wilayah/daerah

Hujan yang terjadi dapat merata di seluruh kawasan yang luas atau terjadi hanya
bersifat setempat. Hujan bersifat setempat artinya ketebalan hujan yang diukur dari
suatu stasiun hujan belum tentu dapat mewakili hujan untuuk kawasan yang lebih luas,
kecuali hanya untuk lokasi di sekitar lokasi stasiun itu. Peluang hujan pada intensitas
tertentu dari suatu lokasi satu ke lokasi yang lain dapat berbeda-beda. Untuk lokasi pos
hujan di tempat A mungkin nilai intensitas hujan itu ada periode ulang 50 tahunan,
tetapi untuk lokasi pos hujan di tempat B dengan intensitas yang sama mungkin hanya
periode ulang 10 tahunan saja, meskipun kedua lokasi stasiun hujan itu jaraknya tidak
jauh.
Data hujan yang terukur selalu dianggap mewakili kondisi bagian kawasan dari
suatu DPS tersebut. Oleh karena itu semakin sedikit pos hujan dan semakin luas DPS itu
maka anggapan tersebut akan semakin besar kesalahannya. Beberapa metode
pendekatan yang dianggap dapat digunakan untuk menentukan hujan rata-rata dari suatu
DPS antara lain :
a) Rata-rata aritmatik
b) Poligon thiessen
c) Isohiet

3.7.4.1 Metode Rata-Rata Aritmatik (Aritmatic Mean)


Metode ini adalah metode paling sederhana. Pengukuran dengan metode ini
dilakukan dengan merata-ratakan hujan di seluruh DAS. Stasiun hujan yang digunakan
untuk menghitung dengan metode ini adalah yang berada di dalam DAS, akan tetapi
stasiun yang berada di luar DAS dan jaraknya cukup berdekatan masih bisa
diperhitungkan.
Untuk menentukan curah hujan baru dengan metode rata-rata hitung (aritmatic
mean) dipergunakan persamaan:
n

pi

Dimana :
p

p= i=1
n
= hujan rerata di suatu DAS (mm)

pi
n

= hujan di tiap-tiap stasiun (mm)


= jumlah stasiun

Metode aljabar ini memberikan hasil yang tidak teliti, metode ini
memberikan hasil yang cukup baik jika penyebaran hujan merata, serta hujan tidak
terlalu bervariasi.

Gambar 3.1

Contoh

Penggambaran

Metode Rata-

Rata Hitung
Sumber:
http://www.srh.noaa.gov/abrfc/?n=map
3.7.4.2 Metode Poligon Thiessen
Metode ini digunakan untuk menghitung bobot masing-masing stasiun yang
mewakili luasan di sekitarnya (luasan menunjukkan daerah pengaruh hujan stasiun yang
bersangkutan). Metode ini digunakan bila penyebaran hujan di daerah yang ditinjau
tidak merata.
Berikut ini adalah prosedur hitungan metode poligon thiessen seperti pada
gambar 3.2 :
a. Stasiun hujan digambar pada peta daerah yang ditinjau
b. Stasiun-stasiun tersebut dihubungkan dengan garis lurus, sehingga akan didapatkan
bentuk segitiga
c. Tiap-tiap sisi segitiga dibuat garis berat sehingga saling bertemu dan membentuk
suatu poligon yang mengelilingi tiap stasiun. Tiap stasiun mewakili luasan yang
dibentuk oleh poligon, sedangkan untuk stasiun yang berada di dekat batas daerah, garis
batas daerah membentuk batas tertutup dari poligon.
d. Luas tiap poligon diukur, kemudian dikalikan dengan kedalaman hujan di tiap
poligon. Hasil jumlah hitungan tersebut dibagi dengan total luas daerah yang ditinjau,
seperti pada rumus dibawah ini :

PA . AA PB . AB PC . AC .... Pn . An
AA AB AC .... An

Dimana:
P

= curah hujan rata-rata (mm)

PA ,...., Pn
= curah hujan pada setiap stasiun (mm)

AA ,...., An
= luas yang dibatasi tiap poligon (km2)

Gambar 3.2 Contoh Penggambaran Metode Thiessen


Sumber: http://www.srh.noaa.gov/abrfc/?n=map
3.7.4.3 Metode Isohiet
Pada prinsipnya isohiet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan
tinggi/kedalaman hujan yang sama. Kesulitan dari penggunaan metode ini adalah jika
jumlah stasiun di dalam dan sekitar DAS terlalu sedikit. Hal tersebut akan
mengakibatkan kesulitan dalam menginterpolasi.
Pada cara Isohiet, daerah di antara 2 garis isohiet dianggap mempunyai tinggi
hujan yang merata yang besarnya merupakan nilai rata-rata antara 2 garis isohiet
tersebut. Pembuatan garis isohiet dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Lokasi stasiun hujan dan ketinggian hujan digambar pada peta daerah yang ditinjau
2. Dari nilai ketinggian hujan pada stasiun yang berdampingan dibuat interpolasi
dengan pertambahan nilai yang ditetapkan
3. Dibuat kurva yang menghubungkan titik-titik interpolasi yang mempunyai ketinggian
hujan yang sama. Ketelitian bergantung pada pembuatan garis isohiet dan intervalnya
4. Diukur luas daerah antara 2 isohiet yang berurutan dan kemudian dikalikan dengan
nilai rerata dari nilai ketinggian hujan pada dua garis isohiet tersebut
5. Jumlah hitungan pada butir 4 untuk semua garis isohiet dibagi dengan luas daerah
yang ditinjau menghasilkan ketinggian hujan rerata daerah tersebut.

Berikut ini adalah ilustrasi penggambaran garis isohiet :

Gambar 3.3 Contoh Penggambaran Metode Isohyet


Sumber: http://www.srh.noaa.gov/abrfc/?n=map
Tampak bahwa metode isohiet mempunyai persyaratan yang lebih rumit
dibandingkan metode aritmatik atau poligon, oleh karenanya apabila persyaratan
tersebut tidak terpenuhi, maka metode aritmatik dan terutama metode poligon lebih
diutamakan.
Dalam metode isohiet, luas bagian diantara isohiet-isohiet yang berdekatan
diukur, dan harga rata-ratanya dihitung sebagai harga rata-rata timbang dari nilai kontur
seperti berikut ini:
n

Ai

p= i=1
Dimana :
p = hujan rerata kawasan
Ai
Ii

= luasan dari titik i


= garis isohiet ke i

3.8

Analisa Data

I i + I i +1
2

Ai
i

Diketahui data curah hujan yang telah diestimasi pada soal sebelumnya sebagai
berikut.
Tabel 3.1 Data Hujan Stasiun Hujan A, B, C, dan D
No.

Tahun

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

A
(mm)
289,0
246,0
332,0
279,0
243,0
211,0
309,0
271,0
148,8
270,0
329,0
319,0

Stasiun Hujan
B
C
(mm)
(mm)
245,7
231,2
209,1
196,8
282,2
287,7
237,2
223,2
206,6
194,4
179,4
168,8
262,7
247,2
230,4
216,8
158,1
148,8
229,5
216,0
279,7
263,2
271,2
255,2

D
(mm)
216,8
184,5
249,0
209,3
182,3
158,3
231,8
203,3
139,5
238,5
246,8
239,3

Sumber: Data, 2014


Berdasarkan data di atas, akan dihitung nilai curah hujan maksimal dan rata-rata
daerah pada DAS di atas dengan tigametode, yaitu: Metode Rata-rata Aritmatik, Metode
Poligon Thiessen, dan Metode Isohyet.
3.8.1 Metode Rata-rata Aritmatik
Contoh perhitungan untuk tahun 2000:
Mencari nilai curah hujan rata-rata aritmatik
R A + R B + RC + R D = 289,0+245,7+231,2+216,8 =245,68 mm
R=
n
4

Sedangkan untuk tahun-tahun yang lain akan dicantumkan pada Tabel 3.2
berikut :

Tabel 3.2 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Metode Rata-rata Aritmatik


No.

Tahun

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

A
(mm)
289,0
246,0
332,0
279,0
243,0
211,0
309,0
271,0
148,8
270,0
329,0
319,0

Stasiun Hujan
B
C
(mm)
(mm)
245,7
231,2
209,1
196,8
282,2
287,7
237,2
223,2
206,6
194,4
179,4
168,8
262,7
247,2
230,4
216,8
158,1
148,8
229,5
216,0
279,7
263,2
271,2
255,2

D
(mm)
216,8
184,5
249,0
209,3
182,3
158,3
231,8
203,3
139,5
238,5
246,8
239,3

Jumlah
(mm)

Rerata
(mm)

982,7
836,4
1150,9
948,7
826,3
717,5
1050,7
921,5
595,2
954,0
1118,7
1084,7

245,68
209,10
287,73
237,18
206,58
179,38
262,68
230,38
148,80
238,50
279,68
271,18

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Tabel 3.3 Tabel Tinggi Hujan Daerah Maksimum Tahunan dengan Metode RataRata Aritmatik
No
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Tahun
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

Tinggi Hujan
(mm)
245,68
209,10
287,73
237,18
206,58
179,38
262,68
230,38
148,80
238,50
279,68
271,18

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


3.8.2 Metode Poligon Thiessen
Berikut merupakan gambar yang menjelaskan pembagian area DAS berdasarkan
metode Poligon Thiessen ini. Berdasarkan gambar tersebut, dapat diketahui luasan
wilayah yang dicakup oleh tiap stasiun pengukur hujan dalam DAS tersebut.
Berikut ini data hujannya :
Tabel 3.4 Data Hujan Stasiun Hujan A, B, C, dan D

No.

Tahun

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

A
(mm)
289,0
246,0
332,0
279,0
243,0
211,0
309,0
271,0
148,8
270,0
329,0
319,0

Stasiun Hujan
B
C
(mm)
(mm)
245,7
231,2
209,1
196,8
282,2
287,7
237,2
223,2
206,6
194,4
179,4
168,8
262,7
247,2
230,4
216,8
158,1
148,8
229,5
216,0
279,7
263,2
271,2
255,2

D
(mm)
216,8
184,5
249,0
209,3
182,3
158,3
231,8
203,3
139,5
238,5
246,8
239,3

Sumber: Data, 2014


Lalu ini adalah luas wilayah dengan menggunakan metode poligon thiessen :
Tabel 3.5 Luas Wilayah Cakupan Stasiun
Stasiun
Hujan
A
B
C
D
Jumlah

Luas
(cm2)
291.754
181.416
534.772
166.836
1.176.778

Skala
0,04
0,04
0,04
0,04

Luas
(km2)
1,167
0,726
2,139
0,675
4,71

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Berikut ini adalah perhitungan untuk koefisien thiessen :
Tabel 3.6 Perhitungan Koefisien Thiessen
Stasiun
Hujan
A
B
C
D
Jumlah

Luas
(km2)
1,167
0,726
2,139
0,675
4,707

Kr
0,25
0,16
0,45
0,14
1

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014

Contoh perhitungan untuk tahun 2000:


Mencari nilai curah hujan rata-rata daerah

R=R
A . Kr A + R B . Kr B + R C . Kr C + R D . Kr D


R=

(289,0 . 0,25) + (245,7 . 0,15) + (231,2 . 0,45) + (216,8 . 0,14)

R=71,65+37,88+
105,07+31,10=245,70 mm

Sedangkan untuk hasil perhitungan yang lain akan disajikan dalam Tabel 3.6
berikut.
Tabel 3.7 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Metode Poligon Thiessen
No.

Tahun

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

PA.KA
(mm)
71,65
60,99
82,31
69,17
60,25
52,31
76,61
67,19
36,89
66,94
81,57
79,09

PB.KB
(mm)
37,88
32,24
43,50
36,57
31,85
27,66
40,50
35,52
24,37
35,38
43,12
41,81

PC.KC
(mm)
105,07
89,43
130,76
101,43
88,34
76,71
112,34
98,52
67,62
98,16
119,61
115,97

PD.KD
(mm)
31,10
26,47
35,72
30,03
26,16
22,71
33,26
29,17
20,01
34,22
35,41
34,33

Pmax
(mm)
245,70
209,13
292,30
237,20
206,59
179,39
262,70
230,40
148,90
234,70
279,70
271,20

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Tabel 3.8 Tabel Tinggi Hujan Daerah Maksimum Tahunan dengan Metode
Poligon Thiessen
No.

Tahun

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

Tinggi
Hujan (mm)
245,70
209,13
292,30
237,20
206,59
179,39
262,70
230,40
148,90
234,70
279,70
271,20

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Tabel 3.9 Perbandingan Hasil Perhitungan Metode Rata-rata Aritmatik dengan
Metode Poligon Thiessen
No.

Tahun

Tinggi Hujan (mm)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

Rata-rata
hitung
245,68
209,10
287,73
237,18
206,58
179,38
262,68
230,38
148,80
238,50
279,68
271,18

Thiessen
245,70
209,13
292,30
237,20
206,59
179,39
262,70
230,40
148,90
234,70
279,70
271,20

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


3.8.3 Metode Isohyet
Pada Metode Isohyet, setelah kita menggambarkan nilai curah hujan pada peta
sebagai garis-garis isohyet, kemudian kita dapat mencari rerata isohyet sebagai nilai
curah hujan yang diapit dua buah garis isohyet dan luas areanya juga. Berdasarkan dua
hal tersebut kita dapat mencari nilai curah hujan rata-rata daerah tersebut. Berikut
contoh perhitungan untuk Metode Isohyet.
Berikut ini data hujannya :
Tabel 3.10 Data Hujan Stasiun Hujan A, B, C, dan D
No.

Tahun

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

A
(mm)
289,0
246,0
332,0
279,0
243,0
211,0
309,0
271,0
148,8
270,0
329,0
319,0

Stasiun Hujan
B
C
(mm)
(mm)
245,7
231,2
209,1
196,8
282,2
287,7
237,2
223,2
206,6
194,4
179,4
168,8
262,7
247,2
230,4
216,8
158,1
148,8
229,5
216,0
279,7
263,2
271,2
255,2

Sumber: Data, 2014


Contoh perhitungan untuk tahun 2000
Mencari nilai curah hujan rata-rata daerah

D
(mm)
216,8
184,5
249,0
209,3
182,3
158,3
231,8
203,3
139,5
238,5
246,8
239,3

= 1170,61 =248,69 mm
R
4,71

Untuk Perhitungan Metode Isohyet akan dijabarkan pada Tabel berdasarkan


tahunnya, yaitu sebagai berikut :
Tabel 3.11 Hujan Daerah Tahun 2000
Daerah

I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII

Isohyet
(mm)

Rerata Dua
Isohyet
(mm)

290,0
280,0
285,0
270,0
275,0
260,0
265,0
250,0
255,0
240,0
245,0
230,0
235,0
220,0
225,0
210,0
215,0
Jumlah
Curah Hujan Rata-Rata (mm)

Luasan Antara Dua Isohyet


(km2)

Volume Hujan
(mm.km2)

0,03
0,40
0,93
0,85
0,56
1,69
0,12
0,13
4,71

8,55
111,07
246,30
217,10
137,24
396,03
26,88
27,44
1170,61
248,69

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Tabel 3.12 Hujan Daerah Tahun 2001
Daerah

I
II
III
IV
V
VI
VII

Isohyet
(mm)

Rerata Dua
Isohyet
(mm)

250,0
240,0
245,0
230,0
235,0
220,0
225,0
210,0
215,0
200,0
205,0
190,0
195,0
180,0
185,0
Jumlah
Curah Hujan Rata-Rata (mm)

Luasan Antara Dua Isohyet


(km2)

Volume Hujan
(mm.km2)

0,01
0,42
1,03
0,96
0,64
1,53
0,13
4,71

1,49
97,58
230,84
205,85
132,18
298,72
23,28
989,93
210,30

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014

Tabel 3.13 Hujan Daerah Tahun 2002

Daerah

I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX

Isohyet
(mm)

Rerata Dua
Isohyet
(mm)

330,0
320,0
325,0
310,0
315,0
300,0
305,0
290,0
295,0
280,0
285,0
270,0
275,0
260,0
265,0
250,0
255,0
250,0
250,0
Jumlah
Curah Hujan Rata-Rata (mm)

Luasan Antara Dua Isohyet


(km2)

Volume Hujan
(mm.km2)

0,10
0,55
1,07
1,11
1,36
0,13
0,13
0,12
0,14
4,71

32,83
174,33
325,10
326,70
387,88
35,73
33,27
30,60
35,02
1381,46
293,48

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Tabel 3.14 Hujan Daerah Tahun 2003
Daerah

I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII

Isohyet
(mm)

Rerata Dua
Isohyet
(mm)

280,0
270,0
275,0
260,0
265,0
250,0
255,0
240,0
245,0
230,0
235,0
220,0
225,0
210,0
215,0
200,0
205,0
Jumlah
Curah Hujan Rata-Rata (mm)

Luasan Antara Dua Isohyet


(km2)

Volume Hujan
(mm.km2)

0,04
0,47
0,91
0,86
0,58
1,62
0,13
0,09
4,71

11,72
125,66
233,02
211,02
137,44
363,48
27,00
18,32
1127,65
239,56

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Tabel 3.15 Hujan Daerah Tahun 2004
Daerah

I
II
III
IV
V
VI

Isohyet
(mm)

Rerata Dua
Isohyet
(mm)

240,0
230,0
235,0
220,0
225,0
210,0
215,0
200,0
205,0
190,0
195,0
180,0
185,0
Jumlah
Curah Hujan Rata-Rata (mm)

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014

Luasan Antara Dua Isohyet


(km2)

Volume Hujan
(mm.km2)

0,24
0,94
0,97
0,73
1,63
0,20
4,71

56,10
212,03
208,74
148,63
317,65
37,20
980,36
208,27

Tabel 3.16 Hujan Daerah Tahun 2005


Daerah

I
II
III
IV
V
VI

Isohyet
(mm)

Rerata Dua
Isohyet
(mm)

210,0
200,0
205,0
190,0
195,0
180,0
185,0
170,0
175,0
160,0
165,0
150,0
155,0
Jumlah
Curah Hujan Rata-Rata (mm)

Luasan Antara Dua Isohyet


(km2)

Volume Hujan
(mm.km2)

0,22
1,10
1,09
0,67
1,47
0,15
4,71

45,45
215,19
201,65
116,72
243,25
23,33
845,59
179,65

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Tabel 3.17 Hujan Daerah Tahun 2006
Daerah

Isohyet
(mm)

Rerata Dua
Isohyet
(mm)

310,0
I
300,0
305,0
II
290,0
295,0
III
280,0
285,0
IV
270,0
275,0
V
260,0
265,0
VI
250,0
255,0
VII
240,0
245,0
VIII
230,0
235,0
Jumlah
Curah Hujan Rata-Rata (mm)

Luasan Antara Dua Isohyet


(km2)

Volume Hujan
(mm.km2)

0,02
0,34
0,76
0,83
0,62
0,53
1,38
0,23
4,71

7,41
100,62
216,12
226,96
165,12
135,09
337,30
53,72
1242,34
263,92

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Tabel 3.18 Hujan Daerah Tahun 2007
Daerah

I
II
III
IV
V
VI
VII

Isohyet
(mm)

Rerata Dua
Isohyet
(mm)

270,0
260,0
265,0
250,0
255,0
240,0
245,0
230,0
235,0
220,0
225,0
210,0
215,0
200,0
205,0
Jumlah
Curah Hujan Rata-Rata (mm)

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014

Luasan Antara Dua Isohyet


(km2)

Volume Hujan
(mm.km2)

0,10
0,45
1,00
0,79
0,60
1,56
0,21
4,71

27,02
114,81
244,81
186,11
135,30
334,68
42,76
1085,50
230,47

Tabel 3.19 Hujan Daerah Tahun 2008


Daerah

I
II
III

Isohyet
(mm)

Rerata Dua
Isohyet
(mm)

160,0
150,0
155,0
140,0
145,0
130,0
135,0
Jumlah
Curah Hujan Rata-Rata (mm)

Luasan Antara Dua Isohyet


(km2)

Volume Hujan
(mm.km2)

2,44
1,88
0,39
4,71

377,83
272,39
52,79
703,01
149,35

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Tabel 3.20 Hujan Daerah Tahun 2009
Daerah

I
II
III
IV
V
VI

Isohyet
(mm)

Rerata Dua
Isohyet
(mm)

270,0
260,0
265,0
250,0
255,0
240,0
245,0
230,0
235,0
220,0
225,0
210,0
215,0
Jumlah
Curah Hujan Rata-Rata (mm)

Luasan Antara Dua Isohyet


(km2)

Volume Hujan
(mm.km2)

0,17
0,97
0,93
0,91
0,41
1,32
4,71

44,67
246,96
228,71
213,08
92,35
283,69
1109,46
235,69

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Tabel 3.21 Hujan Daerah Tahun 2010
Daerah

I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX

Isohyet
(mm)

Rerata Dua
Isohyet
(mm)

330,0
320,0
325,0
310,0
315,0
300,0
305,0
290,0
295,0
280,0
285,0
270,0
275,0
260,0
265,0
250,0
255,0
240,0
245,0
Jumlah
Curah Hujan Rata-Rata (mm)

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014

Luasan Antara Dua Isohyet


(km2)

Volume Hujan
(mm.km2)

0,02
0,68
0,70
0,82
0,61
0,45
1,16
0,15
0,13
4,71

5,27
213,84
213,85
241,35
174,99
123,15
306,81
38,29
30,85
1348,39
286,28

Tabel 3.22 Hujan Daerah Tahun 2011


Daerah

I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX

Isohyet
(mm)

Rerata Dua
Isohyet
(mm)

Luasan Antara Dua Isohyet


(km2)

Volume Hujan
(mm.km2)

0,02
0,52
0,55
0,79
0,66
0,50
1,45
0,14
0,10
4,71

6,29
157,37
162,32
225,21
182,41
131,23
370,86
34,52
23,48
1287,77

320,0
310,0
315,0
300,0
305,0
290,0
295,0
280,0
285,0
270,0
275,0
260,0
265,0
250,0
255,0
240,0
245,0
230,0
235,0
Jumlah
Curah Hujan Rata-Rata (mm)

273,41

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Tabel 3.23 Tinggi Hujan Daerah Maksimum Tahunan dengan Metode Isohyet
No.

Tahun

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

Tinggi Hujan
(mm)
248,69
210,30
293,48
239,56
208,27
179,65
263,92
230,47
149,35
235,69
286,28
273,41

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014

Tabel 3.24 Perbandingan Hasil Perhitungan Metode Rata-Rata Hitung, Metode


Poligon Thiessen dan Metode Isohyet
No.

Tahun

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011

Tinggi Hujan (mm)


Rata-rata hitung
Thiessen
245,68
245,70
209,10
209,13
287,73
292,30
237,18
237,20
206,58
206,59
179,38
179,39
262,68
262,70
230,38
230,40
148,80
148,90
238,50
234,70
279,68
279,70
271,18
271,20

Isohyet
248,69
210,30
293,48
239,56
208,27
179,65
263,92
230,47
149,35
235,69
286,28
273,41

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


3.9 Kesimpulan
Berdasarkan analisis yang telah dijabarkan pada sub bab sebelumnya, penulis
dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut. Data tinggi hujan dengan menggunakan
metode rata-rata hitung, metode poligon thiessen maupun metode isohyet menghasilkan
data yang mirip. Namun alangkah baiknya menggunakan data dari metode isohyet,
karena lebih teliti dan detail dalam pengerjaannya.
3.10 Daftar Bacaan
Asdak, C. 2001. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta :
GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS
Limantara, L.M. 2010. Hidrologi Praktis. Bandung : Lubuk Agung
Soewarno. 1991. Hidrologi Aplikasi Metode Statistik. Bandung : NOVA
Anonim. 2009. (online). (http://www.srh.noaa.gov/, diakses tanggal 18 Juni 2014)

Anda mungkin juga menyukai