Anda di halaman 1dari 17

Makalah Hubungan Pemerintahan Sipil

dan Militer

IAIN SUNAN AMPEL


BAB I
PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Negara adalah sebuah istilah yang secara terminologi berarti organisasi

tertinggi di antara satu kelompok masyarakat yang memiliki cita-cita untuk


bersatu, hidup dalam suatu kawasan, dan mempunyai pemerintahan yang
berdaulat.[1]
Suatu Negara haruslah memiliki sedikitnya 3 unsur yang menjadikan
Negara tersebut berdaulat di tengah-tengah negara lainnya. Mahfud M.D.
menyebutkan 3 unsur penting tersebut sebagai unsur konstitutif.[2] Unsur-unsur
tersebut antara lain adalah : Rakyat, Wilayah, dan Pemerintah, ditambah dengan
pengakuan dari Negara lain.
Berbicara tentang bentuk pemerintahan, kita mesti faham terlebih dahulu
apa yang dimaksud dengan negara dan perbedaannya dengan pemerintah.
Seperti yang telah dijelaskan di awal, sejatinya negara adalah sebuah
organisasi. Selayaknya organisasi, maka negara pun memiliki peraturan, selain
itu negara juga memiliki sebuah badan yang

berfungsi merumuskan,

menjalankan dan mengawasi peraturan itu.


Selanjutnya, dalam perjalanannya berkembang menjadi beberapa bentuk
pemerintahan,

sejarah

mencatat

banyak

negara

yang

memiliki

bentuk

pemerintahan yang berbeda-beda karena hal tersebut berdasar kepada para


penguasa negara tersebut. Dalam konteks ini muncul bentuk pemerintahan sipil

dan pemerintahan militer. Tentu saja kedua bentuk pemerintahan tersebut


mempunyai karakteristik yang satu sama lain berbeda.
Hubungan Sipil-Militer adalah satu perkara yang amat penting bagi satu
bangsa karena berpengaruh besar kepada ketahanan nasionalnya. Hal itu juga
berlaku bagi bangsa Indonesia. Pengertian Hubungan Sipil-Militer semula tidak
dikenal di Indonesia dan baru dipergunakan setelah pengaruh dunia Barat,
khususnya yang berpandangan liberal, makin kuat. Mula-mula itupun terbatas
pada kalangan terpelajar yang banyak berhubungan dengan ilmu sosial yang
berasal dari dunia barat. Akan tetapi lambat laun pengertian itu menyebar di
semua kalangan dan sekarang sudah menjadi pengertian yang diakui dan
dipergunakan secara umum di Indonesia. Namun ada satu perbedaan yang
menonjol dalam penggunaan pengertian itu antara mereka yang hidup dalam
alam sosial barat dengan bangsa Indonesia yang menerima dan menetapkan
Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Di dunia Barat yang
berpaham liberal Hubungan Sipil-Militer senantiasa berarti supremasi Sipil atas
Militer, sedangkan di Republik Indonesia yang berhaluan Pancasila tidak dengan
sendirinya Hubungan Sipil-Militer berarti supremasi sipil atas militer. Bahkan
dengan memperhatikan bahwa Panca Sila menekankan faktor kekeluargaan dan
kerukunan justru tidak ada supremasi satu golongan masyarakat atas yang lain,
melainkan dalam kebersamaan memperjuangkan dan mengusahakan hal yang
terbaik bagi bangsa, negara dan masyarakat.
B.

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan hal-hal yang tersurat dalam latar belakang, maka penulis

dalam hal ini akan merumuskan permasalahan dalam beberapa pertanyaan:


1.

Pengertian Pemerintahan Sipil dan karakteristiknya

2.

Pengertian Pemerintahan Militer dan karakteristiknya

3.

Hubungan Pemerintahan Sipil dan Militer di Indonesia


C.

TUJUAN PENULISAN MAKALAH

Dengan berdasar kepada poin-poin pertanyaan tersebut diatas, maka


penulis mempunyai tujuan dalam penulisan makalah ini, yaitu :
1.

Memahami Pengertian Pemerintahan Sipil dan karakteristiknya

2.

Memahami Pengertian Pemerintahan Militer dan karakteristiknya

3.

Memahami Hubungan Pemerintahan Sipil dan Militer di Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN

A. PEMERINTAHAN SIPIL
1.

Pengertian Pemerintahan Sipil


Sebelum berbicara tentang pemerintahan sipil, seyogyanya

perlu

diketahui arti dari istilah pemerintahan. Menurut CF Strong dalam bukunya yang
berjudul Modern Political Construction terbit tahun 1960 dikemukakan bahwa
pemerintah itu dalam arti luas meliputi kekuasaan eksekutif, legislatif, dan
yudikatif. Pemerintah juga bertugas memelihara perdamaian dan keamanan.
Oleh karena itu pemerintah harus memiliki (1) kekuasaan militer, (2) kekuasaan
legislatif, dan (3) kekuasaan keuangan.[3]
Sedangkan menurut SE Filner dalam buku Comperative Gonverment
(1974) istilah pemerintahan memiliki 4 arti yaitu :
1.

kegiatan atau proses memerintah;

2.

masalah-masalah kenegaraan;

3.

pejabat yang dibebani tugas untuk memerintah;

4. cara, metode, atau sistem yang dipakai pemerintah untuk memerintah.[4]


Adapun dalam melaksanakan pemerintahan, sejarah mengenal pula
bentuk pemerintahan sipil dan militer. Pembagian bentuk pemerintahan ini
berdasarkan kriteria gaya dan sifat memerintah sebuah pemerintah.
Yang

pertama

adalah

Pemerintahan

Sipil,

dalam

laman

e-book

Makalah/Training Islam Intensif/empiris-homepage.blogspot.com-83- Pengantar


Ilmu Negara dan Pemerintahan, disebutkan bahwa pemerintahan sipil adalah
pemerintahan di mana gaya pengambilan keputusan diambil dengan gaya sipil.
Sebelum sebuah keputusan menjadi perintah, keputusan itu dibicarakan terlebih
dahulu, dirembukkan dan kalau perlu diputuskan lewat pemungutan suara
(referendum). Setelah itu pun sebuah keputusan harus menunggu pengesahan
terlebih dahulu dari lembaga negara yang berwenang lewat sebuah sidang.

Sedangkan Sayidiman Suryohadiprojo menyatakan bahwa Perkataan


Sipil merupakan satu pengertian yang menyangkut kewarganegaraan (Websites
Ninth New Collegiate Dictionary : Civil : relating to citizens). Atau dapat dikatakan
bahwa Sipil adalah segala sesuatu yang bersangkutan dengan masyarakat, atau
warga negara pada umumnya.[5]
2.

Karakteristik Pemerintahan Sipil


Eric Nordlinger dalam bukunya Militer dalam Politik dikemukakan ada
3

bentuk

pemerintahan

sipil

1. Pemerintahan sipil Tradisional


Bentuk pemerintahan sipil ini terjadi karena tidak adanya perbedaan
antara sipil dan militer, tanpa perbedaan maka tidak akan timbul konflik yang
serius diantara mereka. dengan demikian tidak terjadi campur tangan militer.
Bentuk pemerintahan sipil tradisional begitu berpengaruh di bawah sistem
pemerintahan kerajaan pada abad ke-17 dan 18, mereka cenderung untuk tidak
menganggap diri mereka sebagai politisi, walaupun ketika sedang memerintah
mereka telah dicekoki dengan ciri-ciri sikap politik yang sama, yang ternyata
kurang

dikembangkan

oleh

elit

sipil.[6]

2. Pemerintahan sipil Liberal


Model pemerintahan liberal didasarkan pada pemisahan para elit
berkenaan keahlian dan tanggung jawab masing-masing pemegang jabatan
tinggi di dalam pemerintahan. Tapi sejalan Model liberal akan menutup
kemungkinan militer untuk menekuni arena dan kegiatan politik. Didalam
tindakan dan pelaksanaannya, pemerintah menghargai kedudukan, kepakaran,
dan

netralitas

pihak

militer.[7]

3. Pemerintahan sipil Serapan


Dalam model serapan ini, pemerintahan sipil memperoleh pengabdian
dan kesetiaan dengan cara menanamkan ide untuk menyatakan ideologi, dan
para ahli politik ke dalam tubuh angkatan bersenjata mereka. Model serapan ini
telah digunakan secara meluas dalam rezim-rezim komunis. Militer dipisahkan

dari bidang sipil karena keahlian profesionalnya, tetapi sejalan dari segi ideologi.
[8]
Dalam sejarahnya, pemerintahan sipil ini banyak dianut oleh negaranegara barat, karena kebanyakan dari mereka berideologi liberal yang
memunculkan supremasi sipil atas militer (civilian supremacy upon the military).
Dalam kata lain militer adalah subordinat dari pemerintahan sipil yang dipilih
secara demokratis melalui pemilihan umum. Berbeda dengan apa yang terjadi di
Indonesia yang berideologikan Pancasila, sipil dan militer adalah satu bagian,
tidak ada supremasi di antara keduanya. Yang harus dimunculkan adalah
bagaimana hubungan keduanya dapat menjamin kerukunan hidup rakyat
Indonesia itu sendiri. Sehingga tercipta kebersamaan dalam memperjuangkan
kepentingan bangsa.
Dalam hal ini muncul karakteristik pemerintahan sipil yang berpijak atas
hubungannya dengan militer, antara lain pemerintahan sipil adalah sebuah
bentuk pemerintahan yang bergaya sipil, semua keputusan pemerintah dapat
menjadi perintah apabila telah dimusyawarahkan terlebih dahulu dan diambil
keputusannya dalam suatu pemungutan suara (referendum). Dan telah
mendapat pengesahan dari lembaga negara yang berwenang.
B. PEMERINTAHAN MILITER
1.

Pengertian Pemerintahan Militer


Masa Orde Baru di Indonesia telah berakhir dengan tergulingnya Presiden
Soeharto dari kursi Presidennya, dan dimulailah masa baru yang dinamakan
Masa Reformasi. Sejalan dengan runtuhnya rezim Soeharto, maka runtuh pula
dominasi militer dalam politik Indonesia, masa orde baru tersebut dikendalikan
dengan sistem otoriter. Pada akhirnya, TNI/ABRI sebagai pucuk militer di
Indonesia harus menanggalkan dwifungsinya kembali ke barak dan hanya
memainkan peran sebagai alat pertahanan negara dari ancaman luar.
Perkataan Militer merupakan pengertian yang bersangkutan dengan
kekuatan bersenjata. Secara kongkrit perkataan Sipil di Indonesia adalah seluruh
masyarakat, sedangkan perkataan Militer berarti Tentara Nasional Indonesia,

yaitu organisasi yang merupakan kekuatan bersenjata dan yang harus menjaga
kedaulatan negara Republik Indonesia. Karena Sipil berarti masyarakat, maka
sebenarnya Militer pun bagian dari masyarakat. Oleh sebab itu di Indonesia
sebelum terpengaruh oleh pandangan Barat dipahami bahwa TNI adalah bagian
tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Bahkan yang menjadi TNI adalah
seluruh Rakyat yang sedang bertugas sebagai kekuatan bersenjata untuk
membela Negara.[9]
Adapun

yang

dimaksud

dengan

pemerintahan

militer

adalah

pemerintahan yang lebih mengutamakan kecepatan pengambilan keputusan,


keputusan diambil oleh pucuk pimpinan tertinggi, sedang yang lainnya mengikuti
keputusan itu sebagai perintah yang wajib diikuti -- konsekuensi rantai komando
dalam militer. Sebuah undang-undang dalam sebuah pemerintahan militer dibuat
oleh pucuk pimpinan tertinggi, tanpa menyerahkan rancangannya kepada
parlemen.[10]
2.

Karakteristik Pemerintahan Militer


Pemerintahan militer lebih merujuk ke arah gaya pemimpin suatu
organisasi/ institusi/ negara. Dimana kepemimpinan itu sendiri memiliki
hubungan yang erat antara seorang dan sekelompok manusia, karena adanya
kepentingan bersama; hubungan itu ditandai tingkah laku yang tertuju dan
terbimbing daripada manusia yang seorang itu; manusia atau orang ini biasanya
disebut yang memimpin atau pemimpin, sedangkan manusia yang mengikutinya
disebut yang dipimpin.
Gaya kepemimpinan pemerintahan militer ini memiliki karakteristik,
sebagaimana dikemukakan Ninik Widiyanti, adalah sebagai berikut:
Dalam pemerintahan militer, untuk menggerakkan bawahannya digunakan
sistem perintah yang biasa digunakan dalam ketentaraan, gerak geriknya
senantiasa tergantung kepada pangkat dan jabatannya senang akan formalitas
yang berlebih-lebihan, menuntut disiplin keras dan kaku dari bawahannya,
senang akan upacara-upacara untuk berbagai-bagai keadaan dan tidak
menerima kritik dari bawahannya dan lain sebagainya.[11] Dalam militer tidak

ada orang sipil di pemerintahannya, semuanya orang militer, tatanan sosial


terlalu ketat, seperti jam malam, tidak boleh demonstrasi, dan cara pemilihan
pemimpin dilakukan secara turun temurun
Selain Negara kita yang pernah didominasi oleh Militer, Negara lain yang
bisa diambil contoh melaksanakan pemerintahan militer, contoh Junta Militer di
Burma (Myanmar), Kuba Korea Utara, dan negara-negara di Amerika Latin.
Junta militer (diucapkan menurut ucapan bahasa Spanyol hun-ta)
biasanya merujuk ke suatu bentuk pemerintahan diktator militer. Dalam bahasa
Spanyol, junta sendiri berarti "(rapat) bersama", dan biasanya digunakan untuk
berbagai kumpulan yang bersifat kolegial (hubungan kerekanan).
Junta militer biasanya dipimpin oleh seorang perwira militer yang
berpangkat tinggi. Pemerintahan ini biasanya hanya dikuasai oleh satu orang
perwira yang mengendalikan hampir segala-galanya. Bentuk-bentuk junta militer
yang terkenal adalah pemerintahan Augusto Pinochet di Chili dan Proceso de
Reorganizacin Nacional, diktator militer yang terkenal karena kekejamannya di
Argentina dari 1976 hingga 1983.[12]
C. HUBUNGAN PEMERINTAHAN SIPIL DAN MILITER DI INDONESIA
Sebagai bangsa Indonesia kita mestinya bangga dengan TNI, karena
apa? ternyata Indonesia memperoleh peringkat yang luar biasa dalam bidang
kemiliteran. Jadi sebenarnya tidak beralasan kalau kita meremehkan tentara
nasional kita. Menurut data yang diambil oleh World Military Strengh Ranking.
Militer Indonesia berada pada posisi ke-14 dari seluruh negara di dunia ini, di
atas negara-negara maju lainnya seperti Kanada, Australia, dsb.[13]
Kembali kepada sejarah militer Indonesia, pengambilan alih kekuasaan
oleh pihak militer di Indonesia sekiranya sudah lama diramalkan. Militer
Indonesia tidak pernah jauh dari politik, sejak dari kemerdekaan pada tahun
1945. Organisasi nasional militer pun diperlukan untuk tugas yang maha penting
yakni membangun suatu negara bangsa dari beribu-ribu pulau yang membentuk
negeri ini.

Pada masa itu terjadi kompetisi politik antara Militer dan Partai Komunis
Indonesia yang kadang kala bersifat keras, Komunis yang dalam hal ini sejak
kemerdekaan ada dalam naungan Demokrasi Terpimpin ala Presiden Soekarno
bersaing ketat dengan golongan elit militer. Dan puncaknya adalah terjadinya
pemberontakan G30S/PKI.
Sampai munculnya Supersemar pada tanggal 11 Maret 1966, Soekarno
dengan ikhlas memberi Jenderal Soeharto wewenang yang diperlukan untuk
memulihkan keamanan. Soekarno yang pada saat itu dianggap sebagai presiden
seumur hidup kini nyaris hanya merupakan lambang, sampai secara resmi
digantikan oleh Jenderal Soeharto pada tanggal 27 Maret 1968.[14]
Setelah menjadi Presiden, Soeharto memandang tugasnya adalah :
memulihkan tingkat partisipasi rakyat dalam pemerintahan, menstabilkan negeri
yang secara politis terpecah belah, dan membangun perekonomian yang telah
diabaikan. Maka untuk mendukung upaya tersebut Soeharto memutuskan untuk
membentuk GOLKAR (Golongan Karya) atau kelompok yang fungsional,
mencakup buruh, petani, birokrat sipil, birokrat militer, mahasiswa, dan
intelegensia. Jika Soekarno ingin mengusahakan agar kelompok-kelompok
fungsional

tersebut

terlepas

dari

militer,

maka

Soeharto

lebih

suka

mengintergrasikan kedua badan tersebut, dalam kata lain Soeharto telah


menyertakan militer dalam politik sembari memberi fungsi politik pada militer.[15]
Sejak tahun 1959, menurut suatu penelitian, perwira-perwira angkatan
darat secara kasar telah memegang seperempat dari semua portofolio kabinet
maupun berbagai posisi penting pada departemen pemerintahan sipil. Pada
tahun 1972, 22 dari 26 Gubernur adalah bekas perwira militer, demikian juga
67% dari bupati dan camat, dan 40% dari kepala desa.[16]
Masuk

ke

Era

Reformasi,

setelah

lengsernya

Soeharto,

maka

kedigdayaan Militer dalam hal ini ABRI/TNI telah usai, Sejak itu nyaris tiada hari
tanpa hujatan dan caci maki terhadap ABRI. Jika sebelumnya tidak ada yang
berani mengusik, sejak itu keberadaan ABRI mulai banyak dipersoalkan. ABRI
bukan cuma dipersalahkan, karena telah membuat banyak orang di Aceh,
Lampung, Tanjung Priok, Irian Jaya, Timor Timur, kehilangan anggota

keluarganya, tetapi juga karena terlibat penculikan para mahasiswa dan aktivis
politik, karena dianggap tidak mampu lagi mengatasi kerusuhan di berbagai
tempat yang telah menelan korban ratusan nyawa sejak Mei 1998.
Saat ini ABRI harus menghadapi kenyataan sebaliknya yakni penolakan
atas keterlibatannya. Secara historis keterlibatan ABRI tersebut harus dipahami
dalam kerangka menjamin stabilitas nasional. Kalau mau jujur, sebenarnya
bangsa dan negara manapun di dunia ini membutuhkan stabilitas demi
pembangunan dan kemajuan bersama rakyatnya.
Menurut Jenderal Wiranto, ada tiga perkembangan ekstrem yang harus
dicegah dalah hubungan sipil militer di Indonesia, yaitu: pertama, military
overreach, yaitu militer menguasai berbagai aspek kehidupan masyarakat
seperti pada masa orde baru; yang kedua, subjective civilian control, yaitu
kontrol subyektif pemerintahan sipil terhadap militer seperti yang terjadi pada
masa Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Parlementer; ketiga, pemisahan
rakyat dari ABRI.[17]
Dalam

pengarahannya

kepada

peserta

Lokakarya

Kepemimpinan

Pertahanan 2010 di Istana Negara, Jakarta, Presiden Susilo Bambang


Yudhoyono mengatakan, tidak perlu lagi ada jarak antara militer dan non militer
pada era demokrasi. Beliau juga menyatakan saat ini tidak perlu lagi ada
dikotomi antara sipil dan militer dalam mengemban tugas untuk negara. "Dulu
pernah ada jarak antara militer dan nonmiliter, antara mahasiswa di perguruan
tinggi dan taruna di akademi. Tapi dengan era demokrasi ini dengan perubahan
di TNI tidak lagi menjalankan politik praktis maka sudah tidak ada perbedaan,"
tutur Presiden.[18]
Lalu, apakah artinya dalam konteks hubungan sipil-militer di Indonesia?
Dalam sejarah Indonesia, dikotomi sipil-militer bukanlah satu isu baru. Jika
sejauh ini ABRI terkesan tidak suka dan selalu mengelak adanya dikotomi sipilmiliter di Indonesia, sikap semacam itu tidak lepas dari penafsiran diri ABRI
dalam konteks sejarah Indonesia. ABRI juga mudah curiga kepada cendekiawan,
seniman, aktivis LSM dan kalangan intelektual lain yang memang selalu sangat

antusias memperbincangkan hubungan sipil-militer, yang selalu melemparkan


isu-isu demokratisasi, kebebasan berpendapat dan HAM.
Namun, benar juga bahwa hal ini lalu membuat penafsiran terhadap
batas-batas antara ranah politik dan perang, antara tugas-tugas sipil dan militer,
makin tidak jelas. Antara perang dan politik ibarat dua sisi pada sekeping mata
uang. Perang adalah jalan lain dari politik. Ini lah yang terjadi pada awal
pembentukan Indonesia.
Sejak awal kelahirannya ABRI tidak pernah mempersoalkan presiden dari
kalangan sipil dan tidak mendesakkan tampilnya pimpinan nasional dari
kalangan militer. Dalam sejarahnya Panglima Besar Soedirman memberikan
keteladanan dalam membentuk sikap TNI yang mengakui pemerintahan di
tangan sipil. Untuk itu dibuktikan oleh Panglima Besar Soedirman ketika kembali
ke Yogyakarta dari medan perjuangan bergerilya, TNI tetap mengakui kekuasaan
tertinggi berada di tangan Presiden Soekarno.[19]
Satu hal yang perlu kita (baik militer maupun sipil) refleksikan bahwa
militer Indonesia telah berkembang menjadi militer profesional. Dunia kemiliteran
telah berkembang menjadi dunia profesional, yang bekerja dan mengembangkan
solidaritas tidak hanya atas dasar "semangat patriotisme" tapi atas dasar
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan khusus (profesi)
yang terkait dengan kependidikan.
Tanggung jawabnya terhadap eksistensi bangsa dan negara Indonesia,
dengan demikian, bisa ditafsirkan sebagai tanggung jawab profesi. Kalau dulu
tanggung jawab ini ditafsirkan secara politis-ideologis, kini perlu dimaknai
sebagai tanggung jawab profesional. Kalau dulu ABRI di identifikasi dan dikenal
sebagai tentara rakyat kini harus tampil sebagai militer profesional (TNI adalah
tentara professional yang mengabdi kepada rakyat).
Namun, hal ini tidak berarti militer kehilangan peran politiknya. Peran
politik TNI, menurut saya, tidak boleh melebihi fungsi dasarnya yaitu pertahanankeamanan negara, dan hal itu kini bisa ditafsirkan sebagai tanggung jawab
profesi. Peran tersebut cukup diletakkan pada tataran "kebijakan" (policy) di
tingkat pusat, dan tidak perlu diterjemahkan lebih jauh dengan konsep kekaryaan

seperti pada masa Orde Baru. Dengan demikian, militer bukan lah institusi untuk
merintis karier politik dan meraih insentif ekonomi melalui model kekaryaan. Jika
ada militer yang ingin menjadi bupati, gubernur, menteri bahkan presiden, maka
harus melepas jaket hijau-lorengnya.
Mereka adalah warga sipil, sehingga jabatan politik yang didudukinya
bukan dalam kerangka doktrin dwifungsi, tapi sebagai hak politik setiap warga
negara. Fungsi pertahanan keamanan sebagai TNI professional itu juga
menuntut TNI untuk hanya punya komitmen dan tangung jawab moral terhadap
eksistensi Negara Kesatuan RI. Konsekuensi moral professional dari komitmen
dan tanggung jawab moral ini adalah bahwa TNI hanya mempunyai loyalitas
kepada Negara dan bukan kepada pemerintah. Loyalitas TNI kepada pemerintah
hanya sejauh pemerintah yang berkuasa. Tidak perduli sipil atau militer,
menjalankan kekuasaan negara sesuai dengan tuntutan dan cita-cita moral
bangsa, yaitu demi menjamin kehidupan bersama yang demokratis, adil,
makmur, berprikemanusiaan dan menjamin hak asasi manusia.
Maka tidak perlu dibicarakan lagi adanya civilian supremacy yang dianut
dunia Barat, karena adanya supremasi satu golongan terhadap golongan lain
tidak sesuai dengan pandangan Panca Sila dan dapat menjadi benih konflik.
Namun secara organisatoris dengan sendirinya setiap unsur negara harus
menjalankan keputusan dan perintah yang dikeluarkan oleh Pemerintah RI.
Maka tanpa ada ketentuan supremasi sipil dengan sendirinya TNI harus tunduk
kepada segala kepatuhan dan perintah yang dikeluarkan oleh Pemerintah,
siapapun yang duduk dalam pemerintah itu. Sebaliknya, sesuai dengan jati
dirinya TNI wajib dan berhak menyampaikan pendiriannya kepada Pemerintah
sekalipun mungkin pendirian itu berbeda dari pandangan Pemerintah. Dalam
mengembangkan pendirian itu TNI harus selalu berpedoman pada Panca Sila
dan Sapta Marga serta Sumpah Prajurit yang secara hakiki berarti bahwa TNI
harus selalu memperhatikan berbagai aspirasi yang berkembang dalam
masyarakat.[20]
Yang sekarang diperlukan adalah tekad untuk melaksanakan proses ini
secara konsisten dan sabar serta memelihara hasilnya secara terus menerus.

Hubungan Sipil-militer yang dihasilkan kemudian akan merupakan faktor positif


dalam perwujudan Ketahanan nasional Indonesia, termasuk pembinaan daya
saing nasional bangsa kita.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dalam melaksanakan pemerintahan, sejarah mengenal pula bentuk
pemerintahan sipil dan militer. Pembagian bentuk pemerintahan ini berdasarkan
kriteria gaya dan sifat memerintah sebuah pemerintah.
Pemerintahan

Sipil

adalah

suatu

bentuk

pemerintahan

yang

menggunakan gaya sipil dalam menjalankan kehidupan pemerintahannya,


sedangkan pemerintahan militer adalah suatu pemerintahan yang dipimpin oleh
penguasa diktator yang mengandalkan gaya militer yang sarat dengan disiplin
dan kental dengan ketentaraan.
Hubungan antara Sipil dan Militer dalam sejarah lebih diungkapkan dalam
bentuk ekstrim karena kegagalan pemerintahan sipil yang menyebabkan
terjadinya kudeta-kudeta, dan ketidakstabilan rezim militer yang tidak punya opsi
memerintah lebih baik dari pemerintahan sipil. Sehingga pada akhirnya kedua
hal tersebut tidak dapat berkembang sesuai dengan tujuan yang dimilikinya.
Dan pada saat ini ketika semua hal dihadapkan kepada profesionalisme
yang menitikberatkan sejauhmana peran seorang warga negara terhadap
negaranya, maka militer memfokuskan diri dalam ranahnya sendiri, demikian
pula dengan sipil yang sekarang terintegrasi dalam bentuk yang lebih dinamis.
Sehingga tidak akan terjadi supremasi sipil terhadap militer.
B. SARAN

Pergulatan politik antara ranah sipil dan militer telah menghasilkan


supremasi di antara kedua bentuk pemerintahan tersebut, maka seyogyanya
untuk menghindari hal tersebut diperlukan langkah perubahan ke arah yang
positif sehingga akan memunculkan hubungan yang baik antara sipil dan militer
dan dapat menunjang kepada terciptanya ketahanan nasional.

DAFTAR PUSTAKA
Janowitz, Morri, Hubungan Sipil Militer,Jakarta: Bina Aksara, 1985
Nordlinger, Eric, Militer Dalam Politik, Jakarta: Rineka Cipta, 1994
Syarafuddin, Makalah Konsep Dan Metodologi Perbandingan Pemerintahan,
2010
Ubaedillah, Ahmad, Pendidikan Kewarganegaraan, Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2008
Widiyanti, Ninik, YW. Sunindia, Kepemimpinan Dalam Masyarakat
Modern,Jakarta: Bina Aksara, 1988
Wirahadikusumah, Agus, E-book Mencari Format Baru Hubungan -Militer,
http: //www.detik.com/berita/199905/sayidiman. Html
http: //www. Wikipedia.com/id/juntamiliter
http//www. Globalfirepower. Com
http//www.antaranews.com/berita/1280488947/ presiden-tidak-perlu-adadikotomi-sipil-militer

[1] A. Ubaedillah dkk, Pendidikan Kewargaan, (Jakarta : Kencana Prenada Media


Grup,2008) hal. 84
[2] Ibid, hal 85
[3] Syafaruddin, Makalah KONSEP DAN METODOLOGI PERBANDINGAN
PEMERINTAH, disajikan tanggal 5
Maret 2010, halaman 5
[4] Ibid, hal 6
[5] http://www.detik.com/berita/199905/sayidiman.html
[6] Eric Nordlinger, Militer dalam Politik ( Jakarta : Rineka Cipta 1994) hal 18-19.
[7] ibid, hal 20-21
[8] ibid, hal 24-25
[9] http://www.detik.com/berita/199905/sayidiman.html
[10] Makalah/Training Islam Intensif/ empiris-homepage.blogspot.com-83Pengantar Ilmu Negara dan Pemerintahan
[11] Dra. Ninik Widiyanti, YW. Sunindhia,SH., Kepemimpinan dalam Masyarakat
Modern, Bina Aksara, Jakarta, 1988, hal 8-9
[12] http://www.wikipedia.com/id/juntamiliter
[13] http://www.globalfirepower.com/
[14] Morris Janowitz, Hubungan Sipil Militer, Bina Aksara, Jakarta,1985, hal. 14
[15] Ibid, hal 17, op cit hal 15-16.
[16] Ibid, hal 17
[17] E-book, Ikrar Nusa Bhakti, Hubungan Baru Sipil Militer, hal 9
[18] http://www.antaranews.com/berita/1280488947/presiden-tidak-perlu-adadikotomi-sipil-militer

[19] Mayjen TNI Agus Wirahadikusumah disampaikan dalam seminar nasional


"Mencari Format Baru HubunganSipil-Militer" Jurusan Ilmu Politik Fisip UI, 24 25 Mei 1999.
[20] http://www.detik.com/berita/199905/sayidiman.html