Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN DIAGNOSA KEPERAWATAN

PERUBAHAN PROSES PIKIR: WAHAM


1. Masalah Utama
Perubahan Proses Pikir : Waham
2. Pengertian
Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi dipertahankan
dan tidak dapat diubah secara logis oleh orang lain. Kenyataan ini berasal dari pemikiran
klien yang sudah kehilangan kontrol ( Depkes RI, 2000 ). Waham adalah suatu keyakinan
yang salah yang dipertahankan secara kuat / terusmenerus, tetapi tidak sesuai dengan
kenyataan ( Keliat, 2010 ). Waham adalah keyakinan terhadap suatu yang salah dan
secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan
dengan realita normal (Stuart & Sundeen,1998). Berdasakan pengertian diatas maka
dapat disimpulkan pengertian waham adalah suatu keyakinan klien berdasarkan realita
yang salah, tidak diyakini oleh orang lain dan terus dipertahankan.
3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala dngan perubahan proses pikir : waham adalah sebagai berikut :

Kognitif :

Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata

Individu sangat percaya pada keyakinannya

Sulit berfikir realita


Tidak mampu mengambil keputusan

Perilaku dan Hubungan Sosial

Hipersensitif

Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal

Depresif

Ragu-ragu

Mengancam secara verbal

Aktifitas tidak tepat

Streotif

Impulsive

Curiga

Afektif

Situasi tidak sesuai dengan kenyataan

Afek tumpul

4. Rentang Respon
Respon Adaptif

Pikiran Logis
Persepsi akurat
Emosi konsisten
dengan
pengalaman
Perilaku sesuai
Hubungan sosial
harmonis

Respon Maladaptif

Kadang proses
piker terganggu
Ilusi
Emosi berlebihan
Berperilaku yang
tidak biasa
Menarik diri

Gangguan isi pikir


halusinasi
Perubahan proses
emosi
Perilaku tidak
teroganisir
Isolasi sosial

5. Faktor Predisposisi
Faktor Perkembangan
Hambatan perkembangan alam mengganggu hubungan interpersonal seseorang. Hal
ini dapat meningkatkan stres dan ansietas yang berakhir dengan gangguan persepsi,
klien menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak
efektif.

Faktor sosial budaya


Seseorang yang merasa diasingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbulnya
waham.
Faktor Psikologis
Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda / bertentangan, dapat menimbulkan
ansietas dan berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan.
Faktor Biologis

Waham diyakini tejadi karena adanya atrofi otak, pembesaran ventrikel di otak, atau

perubahan pada sel kontrikal dan limbik.


Faktor Genetik

6. Faktor Presipitasi
Faktor sosial budaya
Waham dapat dipicu karena adanya perpisahan dengan orang yang berarti atau

diasingkan dari kelompok.


Biokimia
Dopamin, norepineprin, dan zat halusinogen lainnya diduga dapat menjadi penyebab

waham pada seseorang.


Psikologis
Kecemasan yang memanjang dan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah
sehingga klien mengembngkan koping untuk menghindari kenyataan yang
menyenangkan.

7. Jenis Jenis Waham


Waham Agama: Keyakinan terhadap suatu agama secar berlebihan diucapkan
berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh :
kalau saya masuk surga saya harus menggunakan pakaian putih setiap hari, atau

mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan yang dapat mengendalikan makhluknya.


Waham Kebesaran: Keyakinan secara berlebihan bahwa dirinya memiliki kekuatan
khusus atau kelebihan yang berbeda dengan orang lain, ducapkan berulang-ulang

tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.


Contoh: saya ini presiden Amerika lho
Waham curiga: Keyakinan bahwa seseorang atau kelompok orang berusaha merugikan
atau mencederai dirinya, diucapkan berulang ulang tetapi tidak sesuai dengan
kenyataan.
Contoh :
saya tahu semua saudara saya mungkin ingin menghancurkan hidup saya karena

mereka semua iri dngan kesuksesan yang dialami saya.


Waham Somatik: Keyakinan seseorang bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu
atau terserang penyakit, diucapkan berulang ulang tetapi tidak sesuai dengan
kenyataan.
Contoh :

Klien selalu mengatakan bahwa dirinya sakit kanker, namun setelah dilakukan

pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan adanya sel kanker pada tubuhnya.


Waham Nihilistik
Keyakinan seseorang bahwa dirinya sudah meninggal dunia, diucapkan berulang
ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh :
ini kan alam kubur ya, semua yang ada di sisni adalah roh-roh.

8. Status mental
Berdandan dengan baik dan berpakaian rapi, tetapi mungkin terlihat ekstrinsik dan aneh.
Tidak jarang bersikap curiga atau bermusuhan terhadap orang lain. Klien biasanya cerdik
ketika dilakukan pemeriksaan sehingga dapat memanipulasi data. Selain itu perasaan
hatiya konsisten dengan isi waham.
a.

9. Fase Terjadinya Waham


Fase of human need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien baik secara fisik
maupun psikis. Secara fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang
dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya klien sangat miskin dan
menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk
melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang secara sosial dan ekonomi
terpenuhi tetapi kesenjangan antara realiti dengan self ideal sangat tinggi.

b.

Fase lack of self esteem


Tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self ideal
dengan self reality (keyataan dengan harapan) serta dorongn kebutuhan yang tidak
terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya.
c. Fase control internal external
Klien mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia
katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan keyataan,
tetapi menghadapi keyataan bagi klien adalah suatu yang sangat berat, karena
kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima
lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum
terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar klien mencoba memberikan
koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien itu tidak benar, tetapi hal ini tidak

dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan keinginan menjaga perasaan.
Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau konfrontatif
berkepanjangan dengan alasan pengakuan klien tidak merugikan orang lain.
d. Fase environment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya menyebabkan
klien merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap sesuatu yang dikatakan
tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai
terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya norma (super ego) yang
ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat berbohong.
e.

Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap
bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan
sering disertai halusinasi pada saat klien menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya
klien sering menyendiri dan menghindari interaksi sosial (isolasi sosial).
f. Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu keyakinan
yang salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul sering berkaitan
dengan traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai
yang hilang). Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat
menimbulkan ancaman diri dan orang lain.
10. Sensori dan kognisi
Tidak memiliki kelainan dalam orientasi kecuali klien waham spesifik terhadap orang,
tempat, dan waktu. Daya ingat atau kognisi lainnya biasanya akurat. Pengendalian impuls
pada klien waham perlu diperhatikan bila terlihat adanya rencana untuk bunuh diri,
membunuh, atau melakukan kekerasan pada orang lain.
Gangguan proses pikir waham biasanya diawali dengan adanya riwayat penyakit berupa
kerusakan pada bagian korteks dan limbik otak. Bisa dikarenakan terjatuh atau didapat
ketika lahir. Hal ini menunjukkan terjadinya perubah emosional seseorang yang tidak
stabil. Bila kepanjangan akan menimbulkan perasaan rendah diri, kemudian mengisolasi
diri dari orang lain dan lingkungan. Waham curiga akan timbul sebagai manifestasi

ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhannya. Bila respons lingkungan


kurang mendukung terhadap perilakunya dimungkinkan akan timbul resiko perilaku
kekerasan pada dirinya, orang lain dan lingkungan. Dan kerusakan komunikasi kepada
orang lain.

11. Pohon Masalah


Effect

Risiko tinggi perilaku kekerasan

Core Problem

Perubahan sensori: Waham

Cause

Isolasi Sosial: menarik diri


HDR Kronis

12. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul

No

Data
DS :

1.

klien mengatakan kesal, ingin berteriak,klien


Klien mengancam
Klien menyalahkan

Masalah Keperawatan
Risiko perilaku
kekerasan

DO:
Wajah tegang
Pandangan tajam

DS :
2

Klien mengatakan hal-hal yang tidak nyata.

Pasien menolak makanan yang disajikan merasa ada

Gangguan proses Pikir


: Waham

racunnya.
DO :
Pembicaraan klien cenderung berulang-ulang
Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan.
Klien tampak bingung dan ketakutan
3

DS:

Isolasi Sosial

Klien mengatakan malas bergaul dengan orang lain


Klien mengatakan tidak mau berkenalan
Klien meminta untuk menyendiri
DO:
Klien enggan untuk berkomunikasi
Apatis
Afek: datar
DS :

Klien merasa malu berinteraksi dengan orang lain

Klien mengatakan dirinya bodoh


DO:

Gangguan konsep
diri : harga diri
rendah

Ekspresi muka klien sedih dan murung

13. Rencana Asuhan Keperawatan (Terlampir)

Referensi:
Carpenito, L., J. (1998). Handbook of Nursing Diagnosis. (Monica, alih bahasa). (6 th ed). Jakarta: EGC.

Fitria, Nina (2009). Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Stuart & Sundeen. (1998). Pocket Guide to Psychiatric Nursing. Jakarta : EGC.
Tim Keperawatan Jiwa FIK UI. (1999). Kumpulan Proses Keperawatan Masalah Keperawatan Jiwa.
Jakarta.