Anda di halaman 1dari 6

Tugas

Dosen Pembimbing : dr. Endang HD, Sp. KK


Nama : Elsi Rahmadhani Hardi
NIM : 0908120328
1. 10 cara pemeriksaan skabies :
a. Kerokan kulit
Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral atau KOH 10% lalu
dilakukan kerokan dengan meggunakan scalpel steril yang bertujuan untuk mengangkat
atap papula atau kanalikuli. Bahan pemeriksaan diletakkan di gelas objek dan ditutup
dengan kaca penutup lalu diperiksa dibawah mikroskop.
b. Mengambil tungau dengan jarum
Bila menemukan terowongan, jarum suntik yang runcing ditusukkan kedalam terowongan
yang utuh dan digerakkan secara tangensial ke ujung lainnya kemudian dikeluarkan. Bila
positif, Tungau terlihat pada ujung jarum sebagai parasit yang sangat kecil dan
transparan. Cara ini mudah dilakukan tetapi memerlukan keahlian tinggi.
c. Tes tinta pada terowongan (Burrow ink test)
Identifikasi terowongan bisa dibantu dengan cara mewarnai daerah lesi dengan tinta
hitam. Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan selama 20-30 menit. Setelah
tinta dibersihkan dengan kapas alkohol, terowongan tersebut akan kelihatan lebih gelap
dibandingkan kulit di sekitarnya karena akumulasi tinta didalam terowongan. Tes
dinyatakan positif bila terbetuk gambaran kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai
bentuk zigzag.
d. Membuat biopsi irisan (epidermal shave biopsy)
Diagnosis pasti dapat melalui identifikasi tungau, telur atau skibala secara mikroskopik.
Ini dilakukan dengan cara menjepit lesi dengan ibu jari dan telunjuk kemudian dibuat
irisan tipis, dan dilakukan irisan superficial secara menggunakan pisau dan berhati-hati
dalam melakukannya agar tidak berdarah. Kerokan tersebut diletakkan di atas kaca objek
dan ditetesi dengan minyak mineral yang kemudian diperiksa dibawah mikroskop.

e. Biopsi eksisional dengan pewarnaan HE.


Caranya dengan menjepit lesi dengan 2 jari kemudian buat irisan tipis dengan pisau dan
periksa dengan mikroskop cahaya.
f. Uji tetrasiklin
Pada lesi dioleskan salep tetrasiklin yang akan masuk ke dalam kanalikuli. Setelah
dibersihkan, dengan menggunakan sinar ultraviolet dari lampu Wood, tetrasiklin tersebut
akan memberikan fluoresensi kuning keemasan pada kanalikuli.
g. Congkel papul
Congkel papul, hasilnya letakkan di objek glass, dan tutup dengan deck glass. Periksa
dengan mikroskop cahaya.
h. Kuretase terowongan
Kuretase dilakukan secara superfisial sepanjang sumbu terowongan atau puncak papul.
Hasil kuret diletakkan pada objek glass dan ditetesi minyak mineral lalu diperiksa dengan
mikroskop.
i. Apusan kulit dengan selotip
Kulit dibersihkan dengan eter lalu dilekatkan selotip dan diangkat dengan cepat. Selotip
dilekatkan pada gelas objek kemudian diperiksa dengan mikroskop.
j. Histopatologi
Gambaran histopatologik menunjukkan bahwa terowongan terletak pada stratum
korneum, dan hanya ujung terowongan tempat tungau betina berada terletak diirisan
dermis. Pemeriksaan histopatologik tidak mempunyai nilai diagnostik kecuali bila pada
pemeriksaan tersebut ditemukan tungau atau telurnya. Daerah yang berisi tungau
menunjukkan sejumlah eosinofil dan sulit dibedakan dengan reaksi gigitan artropoda
lainnya misalnya gigitan nyamuk atau kutu busuk.

2. Antihistamin dibagi menjadi dua jenis, yaitu Antihistamin H1 dan Antihistamin H2.
Antihistamin H1 (AH1)
Farmakodinamik obat-obat AH1
Antagonisme terhadap histamin. AH1 menghambat efek histamin pada pembuluh darah,
bronkus dan bermacam-macam otot polos; selain itu AH1 bermanfaat untuk mengobati
reaksi hipersensitivitas atau keadaaan lain yang disertai penglepasan histamin endogen
berlebihan.
Kerja obat-obatan AH1 terhadap otot polos bronkus yaitu menghambat bronkokonstriksi
akibat histamin, menghambat peningkatan permeabilitas kapiler akibat histamin; mencegah
edama, menghambat reaksi alergi akibat histamin, menghambat sekresi saliva dan kelenjar
eksokrin lain akibat histamin. Kerja obat-obatan AH1 terhadap SSP dapat menyebabkan
perangsangan atau hambatan, perangsangan dapat berupa insomnia, gelisah dan eksitasi,
namun dosis terapi AH1 umumnya menyebabkan penghambatan SSP berupa rasa kantuk,
berkurangnya kewaspadaan dan waktu reaksi yang lambat. Efek obat-obat AH1 sebagai
anestetik lokal, antikolinergik tidak dapat digunakan dalam terapi karena membutuhkan
dosis beberapa kali lebih tinggi daripada sebagai antihistamin.

Penggolongan AH1, Dosis, Masa Kerja, Aktivitas Antikolinergiknya


Golongan dan
Dosis
Contoh Obat
Dewasa
Antihistamin 1 generasi I
Etanolamin
o Difenhidra
1
25-50
mg
min

Masa
Kerja

Aktivitas
Antikolinergik

Keterangan

3-4 Jam

+++

Sedasi kuat

25-50
mg

4-6 Jam

Sedasi sedang

25-100
mg
25-50
mg

6-24 Jam
4-6 Jam

?
-

Sedasi kuat
Sedasi ringan

4-6 Jam

Sedasi ringan

No

Etilenediamin
o Pirilamin

Piperazin
o Hidroksizin
o Siklizin

Alkilamin

Sediaan
tab 10mg/mL,
25mg, 50mg

tab 4mg
3

o Klorfenira
min Maleat
5

4-8 mg

Derifat Fenotiazin
o Prometazin

6 Siprohetadin
Antihistamin 1 generasi II

10-25
mg
4 mg

Feksofenidin

60 mg

Loratadin

10 mg

Setirizin

5-10 mg

4-6 Jam

+++

Sedasi kuat,
antiemetik

tab 4 mg

4-6 Jam

Sedasi sedang

Tab salut
30mg,
kapsul 5mg,
tab salut
10mg, syrup
5mg/5mL
tab kunyah
10mg, tab salut
10mg

12 -24
Jam

24 Jam

12-24
Jam

Indikasi
Penyakit Alergi. Profilaksis asma bronkial ringan, mengurangi perluasan urtikaria,
membantu mengatasi dermatitis atopik, dermatitis kontak dan gigitan serangga, sebagai
anti pruritus
a. Obat mabuk perjalanan. Difenhidramin, derivat piperazin dan prometazin dapat
digunakan untuk mencegah dan mengobati mabuk perjalanan udara, laut dan darat.
b. Penggunaan pada kelainan kulit. AH1 dilaporkan efektif meredakan pruritus dan
wheal pada urtikaria pada lebih dari 70% pasien.
Efek Samping
Terjadi pada 5-24% pasien yang diberi antihistamin, dengan drajat intensitas yang
berbeda secara individual.
a. Depresi atau stimulasi susunan saraf pusat, depresi SSP berupa tinnitus, dizzinus,
gangguan koordinasi, konsentrasi berkurang dan gangguan penglihaan/ diplopia,
b.
c.
d.
e.

stimulasi SSP berupa iritabel, insomnia, tremor


Efek antikolinergik berupa retensi rin, disuria, impotensia dan mulut/ mkosa kering
Hipotensi dapat terjadi pada pemberian antihistamin intravena yang terlalu cepat
Dermatitis, erupsi obat menetap, fotossensitisasi, urtikaria dan petechiae
Keracunana akut terutama pada anak-anak

Kontraindikasi
Ibu hamil, golongan piperazine memberikan efek teratogenik
ANTIHIASTAMIN H2
4

Macam-macam obat AH2,


1. Simetidin Dosis 3x 200-400mg/ hari, sediaan 200mg tablet
2. Ranitidin Dosis 2x 150mg/ hari, sediaan 150mg tablet salut selaput
3. Famotidin Dosis 2x20mg/hari, sediaan 20mg tablet salut selaput
Indikasi
a. Mengatasi gejala akut tukak dudenum dan mempercepat penyembuhannya, dosis
1x800mg Simetidine atau 1x300mg ranitidine
b. Mengatasi gangguan refluks lambung-esofagus (GERD)
c. Profilaksis tukak stress
d. Mengatasi gejala akibat meningkatnya harus sambung.
Efek Samping
Nyeri kepala, pusing
Malaise, mialgia
Mual, diare, konstipasi,
Ruam kulit, pruritus
Kehilangan libido
3. Nilai normal hitung jenis leukosit :

Basofil

: 0-1

Eosinofil

: 1-3

Neutrofil batang

: 2-6

Neutrofil segmen

: 50-70

Limfosit

: 20-40

Monosit

: 2-8

4. Mengapa pada pengobatan skabies dipilih permethrin 5%?


o

Aman dan efektif terhadap semua stadium S. scabiei

Diaplikasikan secara tunggal (sekali pemakaian)

Non-neurotoxic scabicide

5. Kekurangan pengobatan topikal skabies selain permethrin 5% :


a. Sulfur presipitatum 4-20% (salap atau krim)

Tidak efektif terhadap stadium telur


5

Penggunaan tidak boleh kurang dari 3 hari

Berbau dan mengotori pakaian

Dapat menimbulkan iritasi

b. Emulsi benzil-benzoas 20-25%

Diberikan setiap malam selama 3 hari

Obat sulit diperoleh

Sering menyebabkan iritasi

c. Gama benzena heksa 1% (krim atau losio)


Neurotoxic scabicide sehingga tidak dianjurkan penggunaannya pada anak di bawah 6
tahun dan wanita hamil

d. Krotamiton 10% (krim atau losio)