Anda di halaman 1dari 9

http://wordpress.com/tag/sumur-bor/ Feed of posts on WordPress.

com tagged "sumur-bor" Sat,


24 May 2008 05:17:48 +0000 http://wordpress.com/tags/ en http://gus7.wordpress.com/?p=25
Sun, 23 Mar 2008 15:53:49 +0000 BaNi MusTajaB http://gus7.wordpress.com/?p=25
Hari Air Sedunia kembali diperingati pada tgl.22 Maret 2008. Merupakan tindak lanjut Konferensi
Rio De Janeiro, Brasil tahun 1992. Kali ini diusung tema: Tahun Sanitasi Internasional.
Menarik juga melihat acara TV yang meliput seputar kegiatan menyambut Hari Air Sedunia.
Seperti diliput Global TV, beberapa siswa sekolah dasar ikut andil dalam memperingati hari air,
termasuk aksi teatrikal yang menarik. Sementara mereka yang dewasa berpawai membawa
poster bertuliskan: No Water, No Life.
Air adalah sumber kehidupan. Tidak perlu dibantah lagi.Tetapi benarkah kita sudah peduli dengan
air? Sepertinya belum. Kalau dilihat dengan tema-tema sebelumnya seperti: Air Untuk
Kesehatan, Air Untuk Pembangunan, Air Untuk Masa Depan, Air dan Bencana, Air Untuk Hidup,
Air Untuk Budaya dan Kelangkaan Air, memang menarik diusung sebagai tema. Tetapi dalam
bentuk yang bagaimana realisasi dari tema-tema tersebut?
Di Negeri ini, harga 1 liter air lebih mahal dari premium. Belum lagi yang kemasan atau galon.
Menunjukkan air bukan lagi barang murah yang mudah didapatkan. Terlebih di kota-kota besar
dimana air PDAM tidak lagi menarik untuk dikonsumsi menjadi air minum.
Dengan mengusung nama: Air Mineral, maka air menjadi komoditas bisnis yang luar biasa
menguntungkan. Lihat saja beragam merek air mineral yang dijual di negeri ini. Mulai dari
kemasan gelas, botol atau galon. Kemasan pun ada yang dari botol kaca dengan harga yang
lumayan mahal (untuk ukuran air, lho). Umumnya dalam kemasan air mineral itu tertulis: dari
sumber mata air pegunungan.
Daerah pegunungan memang memiliki banyak sumber mata air, terlebih daerah-daerah seperti
Ciawi, Sukabumi, dll. Bahkan di satu wilayah saja bisa terdapat beberapa produsen air mineral
yang memanfaatkan air pegunungan. Produsen lokal maupun mancanegara. Itu artinya,
beberapa mata air yang ada diambil oleh para produsen untuk diproduksi menjadi air mineral
dalam kemasan.Terkadang diolah lagi dengan istilah ozonisasi.
Begitulah, sumber mata air menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Tetapi masalahnya,
sampai berapa lama sumber mata air itu dapat memancarkan airnya? Apakah akan terus
memancar selamanya? Ataukah pada suatu waktu akan habis?
Bagi para produsen, bukan hal sulit apabila sumber mata air habis. Dicarinya lagi mata air yang
baru. Bisa dari pegunungan yang sama atau dari pegunungan lain. Sangat mudah? Rasanya
tidak juga. Untuk berpindah lokasi pasti dibutuhkan dana yang besar. Terutama untuk
membangun infrastruktur yang baru.
Nah, disinilah masalahnya. Andaikan sumber mata air itu habis, tetapi produsen enggan
berpindah lokasi, lalu apa yang harus dilakukan agar produksinya tetap berjalan. Pilihannya tentu
dengan mengebor air tanah. Lalu apakah ini bisa disebut mata air? Dengan kata lain, samakah
keluarnya air dari dalam tanah secara alami (natural) dengan keluarnya air memakai cara
pemboran (drilling)?
Sepertinya tidak sama. Apabila memakai cara pemboran, menunjukkan cadangan air yang keluar
melalui mata air mungkin sudah habis. Lalu dicari sumber air yang lebih dalam. Untuk
mengeluarkannya, ya dengan cara bor itu tadi. Istilahnya: water well.
Apabila air yang didapatkan dengan cara bor ini diproduksi, lantas apakah masih layak disebut
mata air pegunungan?

Lalu apa yang terjadi dengan generasi masa depan jika sumber mata air pegunungan yang
bening dan jernih itu hanya menjadi dongeng belaka?
BaNi MusTajaB
Lihat juga:
http://ga.water.usgs.gov/edu/earthgwaquifer.html
]]> http://cheriatna.wordpress.com/2008/02/15/indonesia-visa-is-easy/ Fri, 15 Feb 2008 09:03:00
+0000 cheriatna http://cheriatna.wordpress.com/2008/02/15/indonesia-visa-is-easy/
http://artesis.wordpress.com/2008/02/15/indonesia-visa-is-easy/ Fri, 15 Feb 2008 09:03:00 +0000
cheriatna http://artesis.wordpress.com/2008/02/15/indonesia-visa-is-easy/
http://artesis.wordpress.com/2008/02/09/indonesia-visa-guidance/ Sat, 09 Feb 2008 07:03:00
+0000 cheriatna http://artesis.wordpress.com/2008/02/09/indonesia-visa-guidance/
http://72.14.235.104/search?q=cache:wJkqz9m93kMJ:id.wordpress.com/tag/sumur-bor/feed/
+jurnal+hubungan+kondisi+fisik+sarana+air+bersih+sumur+gali+dengan+kejadian+diare&hl=id&
ct=clnk&cd=3&gl=id

March
14th 2008
Sumur Dangkal
Posted under Home
Sarana air bersih menggunakan sumber air tanah dangkal dengan membuat sumur bor.
Sumur pompa tangan adalah sarana penyedia air bersih berupa sumur sumur yang dibuat
dengan member tanah pada kedalaman tertentu sehingga diperoleh air sesuai dengan yang
diinginkan. Biasanya kedalaman dasar sumur mencapai 12-15 meter.
Untuk mengangkat air dari sumur dangkal dapat digunakan Pompa listrik jenis jet-pump
Pompa tangan adalah alat untuk menaikkan air dari dalam tanah
Syarat Sumur Pompa Dangkal
1. Sumur gali tidak boleh dibangun di lokasi bekas pembuangan sampah
2. Jarak minimum lokasi sumur gali dengan sumber pencemar (cublik, tangki septic,dll) adalah
10 m
3. Jarak minimum loksdi sumur gali dengan sumber pencemar (cublik, tangki septic,dll) adalah
10m
4. Kemiringan lantai antara 1-3%
5. Lantai dari pasangan bata (1 semen:3 pasir)
6. Kemiringan aluran pembuangan minimal 2%
7. Saluran pembuangan dari pasangan bata (1 semen: 3 pasir) dan kedalaman sumur
maksimal 15 meter
cara mengerjakan sumur pompa dangkal
1. tentukan titik pengeboran, jarak minimal dengan septic tank, cubluk, lubang galian untuk
sampah yaitu 10 meter.
2. pasang mata bor pad salah satu pipa dan pasang klem pemutar pada pipa

3. lubangi titik lokasi dengan linggis sedalam 30-50 cm


4. tancapkan pipa yang sudah dipasangi mata bor pada lubang yang sudah dibuat
5. putar pipa searah jarum jam
6. siram dengan air untuk memperlancar
7. angkat pipa , tancapkan sekuat-kuatnya.
8. putar dan siram dengan air.
9. lakukan langkah 7 dan 8 berulang-ulang sampai mencapai lapisan air tanah
10. bila kedalaman sumur mencapai lapisan air tanah teruskan pemboran sampai + 1 batang
pipa masuk dibawah lapisan air tanah.
Penyambungan saringan PVC dengan pipa hisap PVC
1. bersihkan dan amplas bagian luar ujung polos saringan sepanjang 3 cm
2. bersihkan dan amplas ujung luar pipa isap PVC; olesi dengan lem pipa secara merata pada
bagian yang telah dibersihkan, tanpa menunggu kering masukkan dop pada ujung bagian bawah
saringan
3. biarkan 5 menit agar sambungan kuat
4. gunakan kunci trimo untuk menahan rangkaian pipa hisap
5. masukkan dop pada ujung polos bagian bawah saringan.
6. biarkan 5 menit agar sambungan kuat
7. gunakan kunci trimo untuk menahan rangkaian pipa hisap
Penyambungan pipa hisap
1. bersihkan dan amplas ujung-ujung luar pipa PVC
2. bersihkan dan amplas bagian dalam ujung soket
3. oleskan lem secara merata pada bagian yang telah dibersihkan
4. masukkan ujung0ujung pipa pada soket -sisakan pipa sepanjang 70cm diatas pemukaan
tanah.
5. gunakan kunci trimo untuk menahan rangkaian pipa.
Penyambungan bahan pipa hisap dengan badan pompa
1. bersihkan dan amplas ujung soket serta bagian ujung hisap pipa PVC
2. oleskan lem PVC secara merata pada baian pipa yang dibersihkan.
3. masukkan pipa hisap dengan soket. bersihkan dan lapisi ujung berulir dengan solatip.
4. bersihkan dan lapisi ujung berulir bagian dalam dari tumpuan pompa
5. masukkan rangkaian pipa hisap PVC dengan tumpuan pompa
6. letakkan paking diatas tumpuan pompa
7. pastikan lubang baut badan pompa tepat pada lubang lubang baut tumpuam pompa
8. pasang mur dan baut pada lubang yang ada.
9. pastikan bahwa badan pompa dan tumpuan pompa terpasang dengan baik.
Pengisian kerikil pasir dengan adukan semen
1. pilih kerikil dengan diameter rata-rata 5mm
2. masukkan kerikil kedalam rongga antara pipa hisap dan tanah
3. hentikan pengisian kerikil apabila telah mencapai setinggi saringan pipa PVC
4. masukkan pasir diatas kerikil hingga mencapai 1 meter dibawah permukaan tanah
5. masukkan adukan kedap air hingga rata dengan tanah.
Pembuatan lantai sumur dan landasan sumur
1. buat cetakan pengecioran untuk lantai dari papan sepanjang (P:172cm,L:172cm. Dengan
lebar parit 14cm)
2. buat cetakan pengecoran tumpuan pompa berupa limas

3. pasang cetakan lantai


4. cor dengan campuran beton 1semen: 2 pasir: 3 kerikil.
5. atur kemiringan lantai
6. biarkan selama tujuh hari dan basahi setiap hari, sehingga pengerigan sempurna.
7. pasang cetakan limas terpancung
8. cor dengan campuran beton 1semen: 2 pasir: 3 kerikil
9. biarkan selama tujuh hari dan basahi setiap hari, sehingga pengerigan sempurna.
10. Lepaskan baut pengikat
11. angkat, pindahkan badan pompa dan bambu penopang
12. tutup lubang hisap
13. gali tanah sedalam 5cm, panjang 210cm, lebar 210 cm
14. masukkan pasir sedalam 3cm lalu ratakan siram dengan air tanah
http://72.14.235.104/search?q=cache:P1SDL2kcC8EJ:www.dimsum.its.ac.id/id/%3Fpage_id
%3D97+jurnal+sumur+gali&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id
Gray literature from JKPKBPPK / 2003-08-07 12:00:00
Risiko Pencemaran Bakteriologik Air Sumur Gali di Daerah Pedesaan Kabupaten Rembang
Bacterological Pollution Risk of Dug Wells Water in Rembang District
By: Sri Irianti, SKM, M.Phil
Center for Research and Development of Health Ecology, NIHRD
Created: 2001-07-01
Keywords: bacteriological; water pollution; EKO-BPPK
Subject: WATER POLLUTION
Air tanah masih merupakan sumber utama air bersih di daerah pedesaan Indonesia. Sarana
yang paling banyak menggunakan air tanah dangkal adalah sumur gali (SGL). Namun demikian,
kualitas bakteriologik air dari SGL masih relatif rendah karena berbagai faktor yang
mempengaruhinya yaitu antara lain jenis tanah, musim, jarak dan letak jamban terhadap sarana
air, konstruksi sarana, dan perilaku pemakai sarana. Beberapa faktor tersebut telah digunakan
sebagai instrumen penilaian dalam inspeksi sanitasi dalam kegiatan surveilans kualitas air bersih.
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Rembang pada bulan Agustus dan November 1999 untuk
menguji pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap kualitas bakterilogik air yang diukur dari
konsentrasi koli tinja. Cara penelitian adalah dengan pemeriksaan bakteriologik sampel air,
wawancara terhadap pemilik/pemakai air, inspeksi sanitasi, dan pemeriksaan ukuran partikel
contoh tanah dari SGL.
Jumlah sampel ditentukan secara acak bertingkat sebanyak 261 SGL yang berasal dari 2 desa.
Pengambilan sampel air dan inspeksi sanitasi terhadap 261 SGL dilakukan sebanyak 2 kali
sesuai musim, sedangkan pemeriksaan sampel tanah hanya dilakukan terhadap 30 SGL.
Penentuan bobot risiko berdasarkan analisis regresi logistik dan odds ratio dengan tingkat
kepercayaan 90%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada musim kemarau ada 3 variabel yang bermakna untuk
SGL yaitu dinding sumur, genangan air dalam jarak 2 meter di sekitar sumur, dan letak sumur
terhadap rumah. Pada musim hujan, variabel yang bermakna hanya ada 1 variabel yaitu lokasi
sumur terhadap rumah. Jenis tanah sekitar SGL berdasarkan hasil pemeriksaan ukuran partikel
tidak bermakna karena relatif homogen. Penelitian ini merekomendasikan penelitian lebih lanjut
dengan memperbanyak jumlah sampel tanah yang bervariasi ukuran partikelnya.
Translation:
Groundwater is still a main source of clean water in rural areas of Indonesia. Drinking-water

facilities which mostly use shallow groundwater are dug wells. However, the water quality of dug
wells is the worst among other shallow groundwater facilities. This is due to some factors
affecting the quality, such as the type of soil, the season, the distance of latrines to the on-site
sanitation, the construction of those facilities, and the behavior of water users. Those factors were
used in the sanitary inspection checklist of drinking-water quality surveillance.
The study was conducted in Rembang District in August and November 1999 and aimed to
determine how those factors may impact on water quality by measuring the concentration of
faecal coliforms. The method of the study includes bacteriological assessment of water samples,
interview with the owners of the water facilities, sanitary inspection, and examination of soil size
of samples taken from the dugwells.
The sample size of dugwells was determined by multi-stage random sampling method, amounting
to a total of 261 dugwells from two villages. The water sampling and the sanitary inspection were
conducted twice according to two seasons on all 261 dugwells, whilst the soil sample examination
were conducted only on 30 dugwells. The determination of bacteriological pollution risk were
based on logistic regression analysis with a level of confidence of 90%.
The study showed that in the dry season there were three significant variables for dugwells. They
were the seal of the wall below the ground less than three meters, the water stagnant within two
meters of the well, and the location of the well outside the house. In the rainy season, the only
significant variable was the location of the well outside the house. The type of soil surrounding the
dugwells according to the examination of soil size was not significant due to its homogenity. The
study recommends for further studies with emphasis on increasing the sample size and variety of
soil size.
Copyrights:
Copyright 2001 by Badan Litbang Kesehatan.
Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium,
provided this notice is preserved.
For more information, contact:
DL Name:
Badan Litbang Kesehatan
PublisherID:
JKPKBPPK
Organization: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial
Contact:
JIIPP Badan Litbang Kesehatan
Address:
Jl. Percetakan Negara, 29
City:
Jakarta Pusat
Region:
Jakarta
Country:
Indonesia
Phone: 021-4261088
Fax:
62-21-4243933
Admin Email: gdl-adm@litbang.depkes.go.id
CKO Email:
gdl-lib@litbang.depkes.go.id
http://72.14.235.104/search?q=cache:1KjNhGw6FdEJ:digilib.litbang.depkes.go.id/go.php%3Fid
%3Djkpkbppk-gdl-grey-2001-sri-486-sumur+jurnal+sumur+gali&hl=id&ct=clnk&cd=6&gl=id
KUMPULAN BERITA > Artikel > Sanitasi
kembali ke List Sanitasi
Sanitasi Baik, Keuntungan Terbidik
Status Link : NORMAL

Link PDF
Media Indonesia - 22 Maret 2008
DI Indonesia, pemenuhan kebutuhan akan air bersih terutama untuk minum dan sanitasi masih
menjadi salah satu persoalan yang tidak kunjung selesai.
Hasil perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pada 2006 dari 53 juta rumah
tangga Indonesia baru sekitar 23% atau 12,2 juta saja yang sumber air minumnya dari ledeng.
Persentase itu hanya meningkat 1% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Keadaannya pun tidak merata di kota dan desa. Di desa, rumah tangga yang sudah dialiri air
ledeng baru mencapai angka 10% saja, sedangkan di perkotaan sudah mencapai 39,7%. Data
yang sama menyebutkan hanya 57% yang memiliki fasilitas air minum sendiri. Lainnya, fasilitas
air minum dimiliki secara bersama dan umum. Atau bahkan tidak memilikinya sama sekali.
Khusus proporsi rumah tangga dengan menggunakan ledeng atau pipa sebagai sumber air
minumnya, jika dilihat perkembangannya, menurut data yang dirilis BPS, sejak 1995 cenderung
mengalami peningkatan. Walau peningkatan tersebut tidak menunjukkan angka yang cukup
signifikan.
Pada 1995, persentase rumah tangga yang menggunakan air ledeng baru mencapai 16%. Pada
2006, persentasenya meningkat menjadi 23%. Dengan demikian, selama lebih dari satu dekade
penggunaan air ledeng sebagai sumber air minum mengalami kenaikan hanya 7%. Bila dihitung
rata-rata per tahun, pertumbuhan tiap tahunnya hanya sebesar 0,6%.
Sebagai perbandingan dengan beberapa negara lain di Asia Tenggara, sampai dengan 2000,
persentase akses daerah perdesaan terhadap sumber air di Indonesia masih jauh lebih rendah
jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga. Malaysia merupakan negara di Asia
Tenggara dengan akses terhadap sumber air di perdesaan tertinggi yaitu mencapai 94%.
Sementara itu, untuk Indonesia, akses pada sumber air di perdesaan baru mencapai 69%.
Kondisi itu bahkan lebih rendah jika dibandingkan dengan Vietnam yang persentasenya telah
mencapai 72%.
Sumber air minum yang bersumber dari air pipa pada dasarnya dipenuhi oleh perusahaan
daerah air minum (PDAM). Sampai dengan 2000, data dari Departemen Pekerjaan Umum
menunjukkan dari 290 PDAM yang ada di seluruh Indonesia, jumlah pelanggannya mencapai
baru mencapai 4,8 juta.
Berdasarkan jumlah tersebut, pelanggan terbesarnya adalah rumah tangga yang mencapai 91%
atau hampir 4,4 juta. Kemudian kelompok usaha industri yang mencapai 5,9% atau 285.198
pelanggan, kelompok pelanggan sosial sebesar 1,5% atau 202.493, dan instansi pemerintah
sebesar 1,12% atau mencapai 55.342. Sisanya 0,84% digunakan untuk hidran umum atau
fasilitas MCK.
Kegagalan PDAM dalam memenuhi kebutuhan tersebut sebenarnya lebih disebabkan masih
buruknya kondisi jaringan pipa yang dimiliki. Jaringan pipa penyaluran yang dimaksudkan di sini
termasuk pula pengumpulan (intake), jaringan transmisi, instalasi pengolahan air, penampungan
(reservoir), jaringan distribusi, sampai dengan sambungan ke tiap-tiap rumah.
Hal tersebut mengakibatkan kualitas air yang sampai kepada pelanggan atau masyarakat
menjadi menurun. Selain itu, PDAM dihadapkan pada masalah manajemen yang buruk.
Termasuk masalah kebocoran air (unaccounted for water) yang hingga 2000 rata-rata untuk
seluruh perkotaan Indonesia saja mencapai 36% atau setara 119.329 liter per detik.
Akibatnya sebagian besar PDAM yang ada di Indonesia mengalami kerugian dan memiliki utang
hingga mencapai total Rp5,7 triliun. Namun terlepas dari berbagai persoalan teknis yang ada

pada PDAM, kondisi seperti itu sebenarnya membuktikan kemampuan pemerintah dalam
memenuhi kebutuhan air sebagai salah satu kebutuhan dan hak dasar tiap manusia masih
sangat kurang.
Sanitasi
Pada 22 Maret setiap tahunnya ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai Hari Air
Dunia. Penetapan itu bertujuan memusatkan perhatian masyarakat terhadap pentingnya isu
mengenai air.
Tema untuk Hari Air Dunia 2008 adalah sanitasi. Yang sejalan dengan ditetapkannya tahun ini
sebagai International Year of Sanitation. Melalui tema ini, kita diharapkan mengingat akan bahaya
pencemaran air sebagai sumber kehidupan manusia sekaligus pentingnya upaya bersama antara
pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas air.
Hingga separuh jalan menuju tenggat pencapaian Millennium Development Goals (MDG) pada
2015, kinerja pembangunan sektor sanitasi di Indonesia belum cukup memberikan hasil yang
signifikan. Perhitungan National Action Plan Air Limbah Departemen PU memerlukan investasi
rata-rata hingga 2015 sekitar US$242.204 juta per tahun, sedangkan investasi yang sudah
dilakukan masih jauh dari mencukupi.
Berdasarkan data BPS tentang aksestabilitas terhadap fasilitas sanitasi hingga 2006, tingkat
rumah tangga di Indonesia yang menggunakan jamban pribadi baru mencapai 60% atau sekitar
31,8 juta.
Dari angka tersebut, kualitas jamban yang baik yang klosetnya berbentuk leher angsa baru
mencapai 62% saja. Rumah tangga yang mempunyai tangki pembuangan tinja juga baru
mencapai 41%.
Terakhir yang juga perlu diperhatikan dalam masalah air dan sanitasi adalah seberapa jauh atau
jarak antara sumber air minum ke tempat penampungan akhir kotoran. Pada umumnya jarak
standar yang dianggap aman untuk dikonsumsi adalah 10 meter dari tempat pembuangan akhir
kotoran.
Data dari BPS hingga 2004 memperlihatkan persentase rumah tangga yang memiliki jarak
sumber air kurang atau sama dengan 10 meter adalah 28,9% atau 14,9 juta. Di sisi lain, rumah
tangga dengan sumber air minum dengan jarak lebih dari 10 meter mencapai 48,15% atau lebih
dari 24,8 juta rumah tangga.
Namun yang menarik dari data tersebut ialah bahwa ternyata persentase rumah tangga dengan
sumber air minum yang jaraknya kurang dari 10 meter terbesar justru berada di perkotaan yang
mencapai 40,6%. Sementara itu, di perdesaan hanya sebesar 22,7%.
Muncul penyakit
Masih buruknya kondisi umum dari sistem air minum dan sanitasi di Indonesia bagaimanapun
juga akan berdampak pada masalah tingkat kesehatan masyarakat. Rendahnya kualitas sumbersumber air minum dan sanitasi pada umumnya akan berakibat kepada munculnya penyakit
seperti diare, muntaber, dan berbagai macam penyakit kulit lainnya.
Sebagai gambaran sederhana dapat dilihat dari data dari BPS pada 2004 lalu, persentase
masyarakat yang terkena penyakit diare mencapai 5,24% atau 11,53 juta orang dari 220 juta
penduduk Indonesia. Data ini turun jika dibandingkan dengan 2003 yang mencapai 5,32% atau
sekitar 11,7 juta penderita.
Lebih buruknya kondisi sanitasi di daerah perkotaan mengakibatkan jumlah penderita penyakit

diare juga lebih banyak daripada di daerah perdesaan. Pada 2004, persentase penduduk
perkotaan yang menderita penyakit diare mencapai 5,51%. Sementara itu, di perdesaan hanya
5,03%.
Buruknya sanitasi tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga oleh negara-negara berkembang
lainnya. Lebih dari 40% penduduk dunia tidak menggunakan toilet untuk buang hajat. Mereka
masih melakukannya di tempat terbuka atau tempat lain yang tidak sehat. Data WHO dan
UNICEF menunjukkan di 2004 lebih dari 2 juta penduduk perdesaan di dunia tidak memiliki akses
fasilitas sanitasi paling mendasar.
Jangan heran bila sampai saat ini juga diare masih merupakan pembunuh bayi nomor dua
setelah pneumonia. Sebanyak 100 ribu anak-anak meninggal setiap tahunnya akibat kasus diare.
Menurut data UNESCO, kematian yang diakibatkan diare 2004, enam kali lebih besar jika
dibanding dengan rata-rata kematian tahunan akibat perang bersenjata pada 1990-an.
Buruknya sanitasi juga akan berakibat terhambatnya proses pembangunan. Negara akan
mengalami kerugian tidak sedikit. Menurut data yang dikeluarkan Bank Dunia sepanjang 20062007, Filipina, Kamboja, Vietnam, dan Indonesia mengalami kerugian sekitar US$9juta per tahun
akibat sanitasi yang buruk.
Sebaliknya bila keadaan sanitasi lebih baik, keuntungan berlipat akan diterima negara. Sebuah
penelitian menunjukkan pembangunan sanitasi di negara-negara Asia akan memberikan
keuntungan lima hingga 10 kali lipat dari biaya yang dikeluarkan. Keuntungan utama yang
diperoleh dari tersedianya sanitasi yang bagus adalah berkurangnya polusi, meningkatnya tingkat
kesehatan, keuntungan ekonomi, dan tentu saja kita akan merasa nyaman hidup di tempat yang
berkualitas. (Dudi Herlianto/Litbang Media Group)
http://72.14.235.104/search?q=cache:vV3zOuXDU2cJ:digilib.ampl.or.id/detail/detail.php
%3Frow%3D%26tp%3Dartikel%26ktg%3Dsanitasi%26kd_link%3D%26kode
%3D1919+jumlah+kasus+diare+di+dunia+tahun+2006-2007&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id
KUMPULAN BERITA > Kliping > Sanitasi
kembali ke List Sanitasi
Tiap 15 Menit Satu Balita Meninggal akibat Diare
Status Link : NORMAL
Link PDF
Suara Pembaruan - 27 Februari 2008
[DENPASAR] Sebanyak satu miliar penduduk dunia belum punya akses terhadap air bersih, dan
2,6 miliar penduduk dunia belum miliki sanitasi yang higienis. Buruknya penyediaan air bersih
dan sanitasi ini menyebabkan 2.300 per 100.000 penduduk di dunia meninggal karena penyakit
diare dan mayoritas adalah balita.
"Ironisnya, setiap 15 menit ada satu balita yang melayang nyawanya karena diare. Di Indonesia,
dalam setiap tahun terdapat balita yang menderita diare sebanyak satu sampai dua kali," ujar
Direktur Kesehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, Wan Alkadri, dalam Lokakarya "Sanitasi
Total dan Pemasaran Sanitasi (Stops)", di Denpasar, Bali, Selasa (26/2).
Bahkan, menurut Alkadri, tahun 2005 terdapat 111 kejadian luar biasa (KLB) diare di Indonesia.
Berdasarkan perhitungan di Indonesia dari 1.000 balita yang dirawat di rumah sakit, 430 balita
terkena diare. Sarana sanitasi yang tidak layak dan buruknya perilaku higienis turut berdampak
pada kematian bayi, angka kesakitan, dan malnutrisi pada anak yang menjadi ancaman besar

bagi potensi sumber daya manusia Indonesia.


Dia mengungkapkan, saat ini sedikitnya 100.000 anak meninggal setiap tahun akibat diare.
Sementara itu, kasus typoid di Indonesia merupakan yang terbesar di wilayah Asia Timur.
Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi karena tidak sebanding dengan pendapatan per kapita
penduduk Indonesia yang telah mencapai lebih dari US$ 700.
Buruknya Sanitasi

Alkadri memaparkan, Indonesia kehilangan potensi ekonomi sebesar 2,4 persen dari produk
domestik bruto (PDB) akibat buruknya sanitasi. Ini berarti setiap rumah tangga menderita
kehilangan potensi pendapatan sebesar Rp 120.000 per bulan. "Pemerintah tidak dapat
membiarkan masalah tersebut karena menghambat produktivitas nasional," ujarnya.
Dia menjelaskan, masyarakat miskin di wilayah pedesaan dan perkotaan memiliki akses yang
rendah terhadap pemanfaatan sanitasi, sementara penggunaan sumber air permukaan yang
tercemar masih terus berlanjut. Hal ini tidak boleh dibiarkan karena sangat membahayakan.
"Penurunan kualitas dan kuantitas sumber air telah mencapai titik kritis di pulau-pulau dengan
kepadatan penduduk tinggi, seperti di Jawa dan Bali," ucapnya.
Sementara itu, Tim Leader Program World Sanitasi Program (WSP) Bank Dunia, Djoko Wartono,
mengungkapkan, pihaknya tengah fokus membuat program sanitasi total di Jawa Timur (Jatim).
[E-5]
http://digilib.ampl.or.id/detail/detail.php?row=0&tp=kliping&ktg=sanitasi&kode=6593