KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH TERAPI AKUPUNKTUR PADA TITIK CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 DAN SP 6 TERHADAP PERUBAHAN INDEKS MASSA TUBUH PASIEN

OBESITAS DI POLI AKUPUNKTUR PUSKESMAS KEPANJEN

OLEH : RISNA WIDOWATI NIM 05096040

PROGRAM STUDI AKUPUNKTUR POLITEKNIK KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN MALANG 2009

i

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH TERAPI AKUPUNKTUR PADA TITIK CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 DAN SP 6 TERHADAP PERUBAHAN INDEKS MASSA TUBUH TUBUH PASIEN OBESITAS DI POLI AKUPUNKTUR PUSKESMAS KEPANJEN

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Akupunktur Pada Prodi Akupunktur Politeknik Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

OLEH : RISNA WIDOWATI NIM 05096040 PROGRAM STUDI AKUPUNKTUR POLITEKNIK KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN MALANG 2009

ii

LEMBAR PENYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama NIM Alamat : Risna Widowati : 05096040 : Jl. A.B.S. Prawirodirjo no. 25 RT 01 RW 04 Penarukan Kepanjen - Malang Menyatakan dan bersumpah bahwa Karya Tulis Ilmiah ini adalah hasil karya sendiri dan belum pernah dikumpulkan oleh orang lain untuk memperoleh gelar dari berbagai jenjang pendidikan di perguruan tinggi manapun. Jika dikemudian hari ternyata saya terbukti melakukan pelanggaran atas pernyataan dan sumpah tersebut diatas, maka saya bersedia menerima sanksi akademik dari almamater.

Tempat/Tanggal lahir : Malang, 5 Juli 1987

Malang, 20 Oktober 2009 Yang Menyatakan

Risna Widowati 05096040

iii

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, taufik dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “ Pengaruh Terapi Akupunktur pada Titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6 terhadap Perubahan Indeks Massa Tubuh Pasien Obesitas di Poli Akupunktur Puskesmas Kepanjen” sesuai waktu yang ditentukan. Karya Tulis Ilmiah ini penulis susun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli Madya Akupunktur di Program Studi Akupunktur Poltekkes Rumkit Tk. II dr. Soepraoen Malang. Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis mendapatkan banyak pengarahan, bimbingan, dorongan, dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada : 1. Kolonel Ckm. drg. Pangestu selaku Kakesdam V/Brawijaya 2. Kolonel Ckm. dr. Bambang Budi W, Sp. THT, selaku Ka Rumkit Tk II dr. Soepraoen Malang. 3. Kolonel (Purn) dr. Chaidir Karnanda, Sp. PD, selaku Direktur Poltekkes RS. dr. Soepraoen Malang. 4. dr. Oentoeng Agustijaya, selaku Ka Prodi Akupunktur. 5. Ibu Aris Widayatiningsih, AMK, S.Pd, selaku pembimbing I dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan dan saran. 6. dr. Mayang Wulandari selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan dukungan kepada penulis. 7. Pak Amal Prihatono, S.Ked dan mas Ikhwan Abdullah, Amd. Akp yang telah banyak meluangkan waktu untuk membantu penulis dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini. 8. dr. Hadi Puspita selaku Kepala Puskesmas Kepanjen yang telah memberikan ijin dalam melakukan penelitian.

vi

9. Ayah dan ibu tercinta, terima kasih yang tulus dan tak terhingga ananda haturkan atas segala motivasi dan do’a tulus yang tiada henti. 10. Kakakku tersayang yang selalu memberikanku dorongan, do’a dan semangat yang tiada hentinya. 11. Sayangkoe yang jauh disana atas cinta dan kasih sayang yang selama ini menjadi semangat dalam hidupku. Motivasi, dorongan, semangat, nasehat, dan do’a yang selalu kamu berikan membuat aku bangun dan bangkit walaupun sekarang kita sudah tidak lagi bersama. 12. My Blue Smash N 3470 EE yang tak pernah mengeluh dan selalu siap mengantarku kemanapun aku pergi. 13. Sahabatku Ayuk dan Rizqa yang selalu membantuku, dan yang mampu menghiburku saat aku sedang sedih. 14. Pak Tholib dan Pak Yakin yang telah banyak membantu saat penelitian di Puskesmas Kepanjen. 15. Semua responden penelitian yang sudah kooperatif dalam penelitian. 16. Sahabatku Arif Afrianto yang telah banyak membantu dan memotivasiku dalam pengerjaan Karya Tulis Ilmiah ini. 17. Rekan-rekan mahasiswa Prodi Akupunktur angkatan 2005 senasib dan seperjuangan yang telah memberi semangat dan dukungan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis berusaha untuk dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan sebaik-baiknya. Namun demikian penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan. Oleh karena itu demi kesempurnaan, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari semua pihak untuk menyempurnakannya.

Malang, 14 Oktober 2009

Penulis

vii

ABSTRAK Widowati, Risna. 2009. Pengaruh Terapi Akupunktur pada Titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6 Terhadap Perubahan Indeks Massa Tubuh Pasien Obesitas di Poli Akupunktur Puskesmas Kepanjen. Karya Tulis Ilmiah. Program Studi Akupunktur Poltekkes RS dr. Soepraoen Malang. Pembimbing I Aris Widayatiningsih, AMK, S.Pd, Pembimbing II dr. Mayang Wulandari Obesitas merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian dan harus segera diatasi karena dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Penggunaan terapi akupunktur dalam menangani obesitas telah banyak dilakukan di berbagai negara termasuk Indonesia. Di poli akupunktur puskesmas Kepanjen, formulasi titik yang digunakan dalam terapi obesitas adalah titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh titik-titik tersebut terhadap perubahan IMT pasien obesitas di poli akupunktur puskesmas Kepanjen. Desain penelitian ini menggunakan penelitian pre-experimental dengan pretest dan posttest design. Populasinya adalah semua pasien obesitas yang melakukan terapi akupunktur di poli akupunktur puskesmas Kepanjen selama kurun waktu 1 bulan. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah sampel 10 orang. Variabel penelitiannya adalah terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6 dan IMT. Data penelitian ini diambil dengan menggunakan lembar observasi yang terdiri dari data umum pasien dan lembar IMT pretest dan posttest. Setelah data dikumpulkan, data di tabulasi dan dianalisis dengan menggunakan paired t test dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 9 responden (90%) mengalami penurunan nilai IMT setelah diterapi akupunktur dan hanya 1 orang responden (10%) yang tidak mengalami penurunan pada nilai IMTnya. Hasil uji analisis menunjukkan bahwa t hitung (8,22) lebih besar dari pada t tabel (2,26) sehingga Ho ditolak yang berarti ada pengaruh terapi akupunktur terhadap IMT pasien obesitas. Melihat hasil penelitian ini maka terapi akupunktur dapat dijadikan sebagai alternatif pengobatan dalam menangani obesitas yang tentu saja harus diimbangi dengan pola hidup yang sehat. Kata kunci : terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6, nilai IMT

viii

DAFTAR ISI

Halaman Halaman Judul .................................................................................................... Halaman Persembahan....................................................................................... Halaman Pernyataan .......................................................................................... Halaman Persetujuan ......................................................................................... Lembar Pengesahan............................................................................................ Kata Pengantar ................................................................................................... Abstrak................................................................................................................. Daftar Isi .............................................................................................................. Daftar Gambar .................................................................................................... Daftar Tabel......................................................................................................... Daftar Lampiran ................................................................................................. BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................... 1.1 1.2 1.3 1.4 2.1 Latar Belakang........................................................................................... Rumusan Masalah ..................................................................................... Tujuan Penelitian....................................................................................... Manfaat Penelitian..................................................................................... Obesitas ....................................................................................................... 2.1.1 2.1.2 2.2.1 2.2.2 Definisi............................................................................................. Etiologi............................................................................................. Jaringan Lemak Putih....................................................................... Jaringan Lemak Cokelat................................................................... i ii iii iv v vi viii ix xii xiii xiv 1 1 4 4 5 6 6 6 7 7 7 8 9 11

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................

2.2 Jaringan Lemak..........................................................................................

2.3 Kecepatan Metabolisme............................................................................. 2.4 Pathogenesis Obesitas ................................................................................

ix

2.5 Tipe-tipe Obesitas ...................................................................................... 2.5.1 2.5.2 Berdasarkan Bentuk Tubuh ............................................................. Berdasarkan Keadaan Sel Lemak.....................................................

12 12 12 13 15 15 15 15 16 17 17 18 19 28 29 30 30 30 31 31 32 33 33 34 35 36 36 36 37

2.6 Tatalaksana Obesitas................................................................................ 2.7 Akupunktur ................................................................................................ 2.7.1 2.7.2 2.7.3 2.8.1 2.8.2 2.8.3 Pengertian Akupunktur.................................................................... Pengertian Titik Akupunktur ........................................................... Pengertian Meridian......................................................................... Etiologi dan Pathogenesis Obesitas ................................................ Penggolongan Sindrom Obesitas .................................................... Tatalaksana / Titik-titik akupunktur yang digunakan .....................

2.8 Akupunktur untuk Obesitas .....................................................................

2.9 Mekanisme Akupunktur dalam Menangani Obesitas Menurut Kedokteran Barat .................................................................................... 2.10 Kerangka Konseptual ............................................................................... 2.11 Hipotesis ..................................................................................................... BAB 3 METODE PENELITIAN....................................................................... 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 Desain Penelitian ....................................................................................... Kerangka Kerja......................................................................................... Populasi, Sampel dan Teknik Sampling.................................................. Identifikasi Varibel ................................................................................... Definisi Operasional.................................................................................. Pengumpulan Data ................................................................................... 3.6.1 3.6.2 3.7 4.1 Proses Pengumpulan Data................................................................ Analisis Data ....................................................................................

Keterbatasan.............................................................................................. Hasil Penelitian.......................................................................................... 4.1.1 4.1.2 Gambaran Lokasi Penelitian ............................................................ Data Umum ......................................................................................

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .....................................

x

4.1.3 4.1.4 4.1.5 4.2 4.2.1 4.2.2 4.2.3

Data Khusus ..................................................................................... Analisis Data dengan Paired t test.................................................... Grafik Perubahan IMT sebelum dan sesudah terapi akupunktur ..... Indeks Massa Tubuh Responden sebelum Terapi Akupunktur........ Indeks Massa Tubuh Responden sesudah Terapi Akupunktur ........ Indeks Massa Tubuh Responden sebelum dan sesudah Terapi Akupunktur ......................................................................................

40 41 42 42 42 43 46 48 49 51

Pembahasan ...............................................................................................

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN .................................................................... Daftar Pustaka..................................................................................................... Lampiran-Lampiran...........................................................................................

xi

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.10 Gambar 3.2 Gambar 4.1.5 Kerangka konseptual.................................................................. Kerangka kerja ........................................................................... Grafik perubahan IMT ............................................................... 31 33 45

xii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 2.1.1 Klasifikasi Berat badan berdasarkan IMT ......................................... Tabel 3.5 Definisi Operasional .......................................................................... Tabel 4.1 Data Umum berdasarkan usia ............................................................ Tabel 4.2 Data Umum berdasarkan jenis pekerjaan........................................... Tabel 4.3 Data Umum berdasarkan tingkat pendidikan ..................................... Tabel 4.4 Data Umum berdasarkan hobi/aktivitas ............................................. Tabel 4.5 Data Umum berdasarkan status perkawinan ...................................... Tabel 4.6 Data Umum berdasarkan jumlah kunjungan terapi............................ Tabel 4.7 Data Umum berdasarkan anamnesis setelah 6 kali terapi .................. Tabel 4.8 Data khusus ........................................................................................ 6 35 40 40 41 41 42 42 43 43

xiii

DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1 Data Umum Pasien dan Lembar Observasi .................................... Lampiran 2 Lokasi Titik Akupunktur................................................................. Lampiran 3 Jadwal tatalaksana terapi Akupunktur ............................................ Lampiran 4 Jadwal Penelitian............................................................................. Lampiran 5 Surat permohonan menjadi responden ............................................ Lampiran 6 Surat persetujuan menjadi responden.............................................. 51 52 56 58 59 60

xiv

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Obesitas merupakan masalah global yang melanda masyarakat dunia baik di negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia (Hardian, 2008). Obesitas adalah berat badan yang berlebihan sebagai akibat terjadinya penimbunan lemak yang berlebihan dalam jaringan lemak tubuh (Tanzil, 2007). Saat ini, 1,6 miliar orang dewasa di seluruh dunia mengalami berat badan berlebih (overweight), dan sekurang-kurangnya 400 juta diantaranya mengalami obesitas. Pada tahun 2015, diperkirakan 2,3 miliar orang dewasa akan mengalami overweight dan 700 juta di antaranya obesitas. Di Indonesia, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi nasional obesitas umum pada penduduk berusia ≥ 15 tahun adalah 10,3% (laki-laki 13,9%, perempuan 23,8%). Sedangkan prevalensi berat badan berlebih anak-anak usia 6-14 tahun pada laki-laki 9,5% dan pada perempuan 6,4%. Angka ini hampir sama dengan estimasi WHO sebesar 10% pada anak usia 5-17 tahun (Depkes, 2009). Obesitas merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian dan harus segera diatasi karena dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Berdasarkan laporan kesehatan Dunia WHO tahun 2002, obesitas dapat menimbulkan terjadinya tekanan darah tinggi, peningkatan kadar kolesterol, kadar trigliserida dan resistensi insulin. Resiko terjadinya Penyakit Jantung Koroner, stroke iskemik, dan Diabetes Melitus 1

2

tipe 2 meningkat seiring dengan peningkatan IMT. Peningkatan IMT juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara, usus besar, prostat, endometrium, ginjal dan kandung empedu (House of Commons Health Committee, 2004). Ukuran tubuh yang tidak ideal akibat obesitas juga dapat menyebabkan rasa rendah diri karena tidak dapat tampil menarik dalam berbagai model pakaian. Berbagai upaya untuk melangsingkan tubuh telah banyak dilakukan diantaranya dengan pengaturan makanan, mengubah gaya hidup, pemberian obat dan pembedahan untuk mengurangi lemak atau mengangkat sebagian usus (Hardian, 2008). Sebagian besar obat pelangsing dapat menimbulkan dampak yang negatif, seperti : gangguan emosi, hiperaktivitas, sulit tidur, perut kembung atau perih, keletihan terus-menerus, depresi, ketagihan, mual, muntah, dan tubuh gemetar. Ada juga yang mengganggu kesuburan dan sirkulasi menstruasi (Faellasufa, 2007). Penggunaan akupunktur sebagai salah satu alternatif untuk membantu program pengurangan berat badan telah terbukti efektif dan relatif tanpa efek samping. Metode ini telah tersusun dan terumuskan sejak sekitar 3.000 tahun sebelum masehi. Disamping itu berbagai hasil penelitian telah dikemukakan para ahli akupunktur dunia, bahwa akupunktur mempunyai efek yang baik dalam penurunan berat badan (Noviani, 2003). Sebuah studi di Russia menemukan bahwa penanganan obesitas dengan terapi akupunktur yang rutin dapat menghasilkan penurunan indeks massa tubuh dan massa jaringan lemak, menurunkan nafsu makan, meningkatkan rasa kenyang hanya dengan

3

sedikit makan, meningkatkan sirkulasi darah dan nutrisi ke otot, tulang dan jaringan sehingga proses pembakaran lemak meningkat (Healthy News Service, 2006). Sedangkan di Indonesia, penelitian Hari menemukan bahwa rangsangan

elektroakupunktur frekuensi rendah (2-15Hz) pada titik ST 36 dan SP 6 selama 30 menit menghasilkan peningkatan methionin enkephalin yang signifikan di hipothalamus yang dapat mengakibatkan berkurangnya nafsu makan (Marinusa, 1999). Di poli Akupunktur Puskesmas Kepanjen, yang mulai dibuka pada Mei 2008. Banyak dikunjungi oleh penderita kelebihan berat badan dan obesitas. Mulai pembukaan hingga bulan April 2009, rata-rata pasien yang datang adalah pasien wanita. Jumlah pasien wanita kelebihan berat badan dan obesitas di poli akupunktur Puskesmas Kepanjen mencapai 130 orang. Salah satu alasan utama pasien memilih terapi akupunktur untuk mengurangi berat badannya adalah karena terapi akupunktur dianggap relatif aman dibandingkan dengan mengkonsumsi obat pelangsing. Formulasi titik yang umumnya digunakan dalam terapi obesitas di poli akupunktur Puskesmas Kepanjen adalah titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6. Di luar negeri, penelitian mengenai pengaruh terapi akupunkur tehadap perubahan IMT pasien obesitas pernah dilakukan, tetapi formulasi titik yang digunakan berbeda dan pada perlakuannya sering dikombinasikan dengan diet. Sedangkan penelitian di Indonesia mengenai pengaruh terapi akupunktur terhadap IMT masih belum pernah dilakukan. Berdasarkan pada Meridian jurnal akupunktur Indonesia yang diterbitkan oleh PAKSI DPD Jawa Timur, penelitian pengaruh terapi

4

akupunktur untuk pasien obesitas hanya mengacu pada perubahan berat badan. Formulasi titik-titik akupunktur yang digunakan pun berbeda. Sehingga dengan latar belakang di atas, maka peneliti ingin mengetahui pengaruh terapi akupunktur, khususnya pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6 terhadap perubahan indeks massa tubuh pada pasien obesitas di poli akupunktur puskesmas Kepanjen. 1.1 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : 1. Berapakah indeks massa tubuh pasien obesitas sebelum dilakukan terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6 ? 2. Berapakah indeks massa tubuh pasien obesitas setelah dilakukan terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6 ? 3. Apakah terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6 berpengaruh terhadap perubahan indeks massa tubuh pada pasien obesitas di poli akupunktur puskesmas Kepanjen ? 1.2 Tujuan Penelitian 1.2.1 Tujuan Umum Mengetahui pengaruh terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6 terhadap perubahan indeks massa tubuh pada pasien obesitas di poli akupunktur puskesmas Kepanjen.

5

1.3.2 Tujuan Khusus 1. Mengukur indeks massa tubuh pasien obesitas sebelum dilakukan terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6. 2. Mengukur indeks massa tubuh pasien obesitas sesudah dilakukan terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6. 3. Membandingkan pengaruh terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6 terhadap perubahan indeks massa tubuh sebelum dan sesudah dilakukan terapi akupunktur pada pasien obesitas. 1.3 Manfaat Penelitian 1.3.1 Bagi institusi Diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan bagi institusi dalam mengembangkan ilmu akupunktur, khususnya dalam terapi obesitas. 1.3.2 Bagi peneliti yang akan datang Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan khususnya bagi ilmu akupunktur dalam menerapi pasien obesitas. 1.3.3 Bagi responden Dapat memberikan stimulus kepada responden untuk lebih dapat mengetahui pengaruh terapi akupunktur pada kasus obesitas.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Obesitas 2.1.1 Definisi Obesitas adalah kondisi kelebihan lemak, baik di seluruh tubuh atau terlokalisasi pada bagian-bagian tertentu (Harrison, 2005). Obesitas merupakan suatu kelainan kompleks pengaturan nafsu makan dan metabolisme energi (Sudoyo, 2006). Standar definisi dari obesitas dilihat berdasarkan indeks massa tubuh (IMT). IMT merupakan indikator yang paling sering digunakan dan praktis untuk mengukur tingkat populasi berat badan berlebih dan obesitas pada orang dewasa. IMT diukur dengan satuan berat badan dalam kilogram (kg) dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat (m2) (Harrison, 2005).
Tabel 1 Klasifikasi Berat Badan (BB) berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk orang Asia dewasa Klasifikasi BB kurang BB normal BB lebih (overweight) Pre-obes (berisiko) Obes I IMT < 18,5 18,5 - 22,9 ≥ 23 23 - 24,9 25 – 29,9 Meningkat Moderat Risiko Morbiditas Rendah (risiko meningkat pada masalah klinis lain) Sedang

Obes II ≥ 30 Berat Sumber : WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia Pasific Perspective : Redifining Obesity and Its Treatment, 2000 (Sudoyo, 2006)

6

7

2.1.2 Etiologi Menurut para peneliti, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kegemukan diantaranya (Ramayulis, 2008) : 1. Faktor genetik. 2. Kerusakan pada Hipotalamus Ventromedial. 3. Pola makan berlebih. 4. Kurang bergerak atau jarang berolahraga. 5. Ketidakstabilan emosi. 6. Lingkungan. 2.2 Jaringan Lemak Jaringan lemak adalah jenis jaringan ikat khusus yang terdiri atas sel lemak (adiposit). Ada dua tipe umum sel lemak di tubuh yaitu lemak putih dan lemak cokelat. Sel lemak putih merupakan bentuk konvensional lemak. Jaringan lemak merupakan salah satu organ terbesar dalam tubuh. Pada pria dewasa normal, jaringan lemak merupakan 15-20% dari berat badan sedangkan pada wanita normal, 20-25% dari berat badan (Junqueira et al, 1998). Jaringan lemak merupakan jaringan penimbun yang sangat efisien. Jaringan lemak selalu diganti dengan yang baru dan sensitif terhadap rangsang dan hormon. Lapis lemak subkutan turut berperan dalam membentuk permukaan tubuh, sedangkan penimbunan lemak dalam bentuk bantalan berfungsi sebagai peredam goncangan, terutama pada telapak tangan dan kaki. Karena lemak merupakan konduktor panas yang jelek, maka lemak berfungsi sebagai isolator suhu bagi tubuh. Pada mamalia, jaringan lemak terdiri dari dua jenis yang dicirikan oleh struktur selnya, letaknya, warnanya dan patologinya (Junqueira et al, 1998). 2.2.1 Jaringan Lemak Putih Jaringan lemak putih terdiri atas sel yang mengandung satu droplet lemak besar (unilokular) dalam sitoplasmanya. Sel unilokular akan mendorong inti sel ke arah

8

membran plasma sehingga sel akan menyerupai sebuah cincin. Jaringan lemak ini ditemukan tersebar di seluruh tubuh kecuali pada kelopak mata, penis, skrotum, dan aurikula telinga luar kecuali lobulus. Penyebaran dan tebalnya lemak ditentukan oleh usia dan jenis kelamin (Junqueira et al, 1998). Jaringan lemak putih memiliki tiga fungsi yaitu sebagai isolasi panas, bantalan mekanik dan yang paling penting sebagai sumber energi ( Sudoyo, 2006). Kelebihan berat badan pada orang dewasa dapat terjadi akibat penimbunan lemak yang berlebihan pada sel-sel jaringan lemak putih yang membesar melebihi biasanya (obesitas hipertrofik). Penambahan jumlah sel lemak menimbulkan obesitas hiperplastik (Junqueira et al, 1998). 2.2.2 Jaringan Lemak Cokelat Jaringan lemak cokelat terdiri atas sel-sel lemak cokelat yang tersusun atas droplet-droplet lipid kecil (multilokular) yang tersimpan diantara pabrik energi yang sangat kecil yang disebut dengan mitokondria (Gummesson, 2009). Warna cokelat disebabkan oleh banyaknya kapiler darah dalam jaringan ini dan banyaknya mitokondria (mengandung sitokrom berwarna) dalam sel. Jaringan lemak cokelat berfungsi untuk mempertahankan panas tubuh (thermogenesis) dan untuk membakar energi (Sudoyo, 2006). Jaringan lemak cokelat menyerupai kelenjar endokrin karena sel-selnya terdiri atas massa berhimpit padat dengan banyak pembuluh darah kapiler. Sel-sel dari jaringan ini menerima inervasi simpatik secara langsung (Junqueira et al, 1998). Pada manusia, sel-sel lemak cokelat terutama ditemukan di area leher bayi baru lahir, untuk membantu menghangatkan tubuhnya. Sel-sel lemak cokelat sebagian

9

besar menghilang ketika seseorang beranjak dewasa, tetapi precursornya tetap ada di dalam tubuh yang tersimpan sementara di depot sel lemak putih (Wikipedia, 2009). 2.3 Kecepatan Metabolisme Kecepatan metabolisme dinyatakan sebagai jumlah kalori panas. Proses ini meliputi kontraksi otot rangka, pemompaan jantung, penguraian normal komponenkomponen sel. Oleh karena itu, produksi panas bisa diukur dengan mengukur aktivitas metabolisme. Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan metabolisme (Scanlon, 2007) antara lain: 1. Latihan Kontraksi otot rangka meningkatkan kecepatan metabolisme. 2. Usia Kecepatan metabolisme paling tinggi adalah pada anak, dan menurun seiring pertambahan usia. Kebutuhan energi untuk pertumbuhan dan kehilangan panas yang lebih banyak pada tubuh yang kecil menimbulkan peningkatan kecepatan metabolisme pada anak-anak. Setelah pertumbuhan terhenti, kecepatan metabolisme turun sekitar 2% tiap dekade. Bila seseorang menjadi kurang aktif, penurunan total bisa sampai 5% tiap dekade. 3. Konfigurasi tubuh orang dewasa Individu yang tinggi kurus biasanya mempunyai kecepatan metabolisme yang tinggi daripada individu pendek kekar dengan berat badan sama. Hal ini karena orang yang tinggi kurus mempunyai permukaan tubuh yang lebih luas (proporsional berat badan) yang menyebabkan kehilangan panas secara terus-menerus. Oleh karena itu,

10

kecepatan metabolisme sedikit lebih tinggi untuk menggantikan kehilangan panas yang lebih banyak. 4. Hormon seks Testosteron meningkatkan aktivitas metabolisme dibandingkan estrogen dan ini menyebabkan laki-laki mempunyai kecepatan metabolisme lebih tinggi daripada wanita. Selain itu laki-laki cenderung mempunyai lebih banyak otot, suatu jaringan aktif, sedangkan wanita cenderung mempunyai lebih banyak lemak, suatu jaringan yang relatif tidak aktif. 5. Rangsang simpatis Pada kondisi stress, metabolisme di banyak sel tubuh meningkat, juga dipengaruhi oleh hormon epinefrin dan norepinefrin. Sebagai hasilnya, kecepatan metabolisme meningkat. 6. Penurunan asupan makanan Bila asupan makanan menurun dalam waktu yang lama, kecepatan metabolisme juga menurun. Hal ini terjadi karena tubuh “memperlambat” metabolisme untuk menghemat sumber energi yang masih tersedia. 7. Iklim Orang yang hidup pada iklim dingin memiliki kecepatan metabolisme 10-20% lebih tinggi daripada orang yang hidup di daerah tropis. Hal ini diyakini karena perbedaan hormon tiroksin, suatu hormon yang paling bertanggung jawab untuk pengaturan kecepatan metabolisme. Dalam iklim dingin, kebutuhan untuk produksi panas yang lebih banyak menyebabkan peningkatan sekresi tiroksin sehingga kecepatan metabolisme tinggi.

11

2.4 Pathogenesis Obesitas Obesitas merupakan akibat dari ketidakseimbangan asupan energi dan pengeluaran energi. Berlebihnya asupan makanan disimpan sebagai lemak yang kemudian digunakan untuk metabolisme dan energi. Berlebihnya massa jaringan lemak juga dapat dilihat sebagai kekacauan pathologis dalam umpan balik antara asupan dan pengeluaran energi (Daniels et al, 2005). Kestabilan berat badan tergantung pada regulasi otonom keseimbangan energi. Jika pengaturan tersebut tidak dapat berinteraksi secara optimal dengan kondisi lingkungan, walaupun hanya sedikit perbedaan dalam intake energi atau pengeluaran energi dapat menyebabkan perubahan berat badan (Gummesson, 2009). Pemahaman tentang pengaturan asupan energi membutuhkan pembedaan sinyal waktu pendek yang mengontrol rasa lapar, asupan makanan, dan rasa kenyang sedangkan sinyal waktu panjang yang mengatur pertahanan penyimpanan energi, jaringan tak berlemak, atau keduanya. Pada pengaturan waktu pendek, sinyal gastrointestinal memberikan input penting ke otak. Untuk bagian terbesar, hormonhormon dilepaskan dari lambung dan usus yang dapat mempengaruhi penghambatan pencernaan makanan (Daniels et al, 2005). Jaringan lemak juga memiliki aktivitas endokrin, paracrine dan autocrine. Adiposit (sel lemak) mensekresi berbagai hormon-hormon peptida yang mengontrol keseimbangan energi seluruh tubuh, inflamasi, sensitivitas insulin, pengaturan tekanan darah, angiogenesis dan perkembangan sel (Gummesson, 2009). Leptin dan adiponectin merupakan dua hormon terpenting. Kurangnya produksi hormon leptin mengakibatkan obesitas, terapi leptin-defisien pada individu

12

menyebabkan berkurangnya asupan makanan dan berat badan. Pada sebagian besar orang obese, leptin memiliki sedikit efek pada asupan makanan dan berat badan. Adiponectin merupakan hormon terbanyak yang terdapat pada sel-sel lemak, yang dapat meningkatkan sensitivitas insulin (Daniels et al, 2005). 2.5 Tipe-Tipe Obesitas 2.5.1 Berdasarkan Bentuk Tubuh a. Tipe Android Lemak tertimbun terutama pada bagian atas pusar: perut, dada, punggung muka. Disebut juga bentuk apel. Rasio lingkar perut/linggkar panggul > 0,9. Biasanya lebih banyak pada pria dan lebih berhubungan dengan berbagai macam komplikasi penyakit seperti diabetes, jantung koroner, darah tinggi dan lain-lain (Winata, 2009). b. Tipe Genoid Timbunan lemak terutama pada bawah pusar: pinggul, paha, bokong. Disebut juga bentuk pear. Rasio lingkar perut/lingkar panggul > 0,8 dan lebih banyak pada wanita serta lebih jarang berhubungan dengan berbagai penyakit komplikasi (Winata, 2009). 2.5.2 Berdasarkan Keadaan Sel Lemak a. Tipe Hyperplastik Terjadi oleh karena jumlah sel lemak yang lebih banyak dibandingkan keadaan normal, tetapi ukuran sel-selnya tidak bertambah besar (Hardian, 2008).

13

b. Tipe Hypertropik Terjadi oleh karena ukuran sel lemak menjadi lebih besar dibandingkan dengan keadaan normal. Upaya untuk menurunkan berat badan lebih mudah dibandingkan tipe hyperplastik (Hardian, 2008). 2.6 Tatalaksana Obesitas Obesitas merupakan kondisi kronik yang sulit untuk ditangani. Walaupun jaringan lemak telah diambil dengan cara operasi pembedahan (liposuction atau omentectomy), satu-satunya jalan utuk mengurangi timbunan lemak adalah melalui keseimbangan energi negatif (output kalori lebih besar daripada input kalori). Secara teoritis, hal ini dapat dicapai dengan mengurangi asupan makanan, uptake energi, meningkatkan pengeluaran energi, atau kombinasi dari kesemuanya. Berikut adalah beberapa tatalaksana obesitas : 1. Manajemen diet dan aktivitas fisik. Beberapa diet yang dianjurkan meliputi diet rendah karbohidrat, diet rendah lemak, diet tinggi protein, dan diet rendah indeks glikemik. Diet khusus yaitu diet rendah kalori, dimana terdapat pada makanan yang kaya akan serat dan rendah lemak, dimana makanan yang kaya akan serat akan menyebabkan gastric emptlying tinggi (tahan lama dalam lambung), mengikat lemak atau kolesterol, transit time (waktu tinggal di usus) rendah dan mengakibatkan rasa kenyang yang lama. Berdasarkan meta analisis,

penggabungan antara intervensi diet yang tepat dengan aktivitas fisik dapat meningkatkan keberhasilan penurunan berat badan yang dapat dipertahankan dalam waktu yang lama (Gummesson, 2009).

14

2. Farmakoterapi, ada dua resep obat yang sudah diizinkan oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk pengobatan jangka panjang (Sudoyo, 2006) yaitu :  Sibutramine. Obat ini mengubah persarafan di otak dengan mengambil kembali inhibitor serotonin dan norepinephrin yang dapat mengurangi berat badan dengan meningkatkan rasa kenyang dan pengeluaran energi. Efek samping obat ini adalah meningkatkan tekanan darah, sakit kepala, mulut kering, konstipasi dan insomnia.  Orlistat (xenical). Cara kerja obat ini adalah menghambat aktivitas enzim lipase gastrointestinal sehingga menurunkan penyerapan lemak dari makanan hingga mencapai 30%. Lemak yang tidak terserap akan dibuang bersama tinja. Efek samping yang timbul adalah peningkatan gerakan usus. 3. Pembedahan. Pembedahan dilakukan untuk mengambil jaringan lemak yang berlebih. Tindakan ini merupakan tindakan bedah kosmetik, tindakan lainnya adalah dengan mengangkat sebagian usus agar penyerapan makanan berkurang. Operasi pembedahan umumnya dipertimbangkan bagi penderita dewasa yang memilki IMT sekitar 35 kg/m2 – 40 kg/m2 dengan kondisi komorbid serius seperti sleep apnea, diabetes mellitus, atau penyakit sendi (Gummesson, 2009). 4. Akupunktur, berperan dalam menurunkan berat badan diantaranya melalui mekanisme neurohumoral yang dapat menghambat nafsu makan, mengurangi fungsi lambung dan usus yang berlebih dalam pencernaan dan penyerapaan makanan. Dari penelitian Liu Zhi Cheng dilaporkan bahwa akupunktur dapat meningkatkan metabolisme pada obesitas, meningkatkan konsumsi energi dan

15

meningkatkan penguraian lemak sehingga dapat mengurangi lemak tubuh (Hardian, 2008). 2.7 Akupunktur 2.7.1 Pengertian Akupunktur Akupunktur berasal dari bahasa Latin, terdiri dari kata acus yang mengandung arti jarum, dan pungere yang mengandung arti tusuk (Wardani, 2008). Akupunktur adalah suatu cara pengobatan yang memanfaatkan rangsangan pada titik-titik akupunktur pada tubuh penderita, telinga, kepala, sekitar telapak kaki dan tangan untuk mempengaruhi/memperbaiki kesalahan aliran bioenergi tubuh yang disebut dengan Qi (Satrio, 2009). 2.7.2 Pengertian Titik Akupunktur Menurut Prof. Pierre Moal, titik akupunktur merupakan titik yang terdapat kumpulan sel-sel yang mempunyai komponen molekul logam yang bersifat magnetik (Hoediono, 2006). Titik akupunktur pada permukaan tubuh adalah suatu area kecil dan spesifik sebagai bagian dari sistem meridian, juga sebagai stasiun keluar masuknya energi Qi ke dalam sistem organ tubuh. Ratusan titik akupunktur pada permukaan tubuh dari belasan meridian mempunyai sifat-sifat spesifik terhadap energi organ yang sampai saat ini sulit diterapkan dengan penelitian modern secara tuntas (Saputra, 2002). 2.7.3 Pengertian Meridian Meridian berasal dari kata Jing – Luo, terdiri atas kata Jing Mai (saluran) dan Luo Mai (kolateral), Jing Mai merupakan bagian dari meridian yang berjalan membujur menghubungkan atas dan bawah, serta luar dan dalam. Sedangkan Luo

16

Mai yang berarti jala, berjalan mengelilingi dan menyebar keseluruh tubuh membentuk suatu jaringan. Jing Luo adalah sebuah sistem saluran yang membujur dan melintang, yang berfungsi menyalurkan Qi dan Xue, menghubungkan atas dan bawah, kanan dan kiri, muka dan belakang, luar dan dalam, organ Zang Fu dengan seluruh jaringan tubuh dari kulit, tendon, otot hingga tulang (Saputra, 2005). 2.8 Akupunktur untuk Obesitas Dalam pengobatan China, obesitas disebabkan oleh defisiensi Qi dan ekses panas phlegm lembab. Ketika asupan kalori melebihi kebutuhan tubuh, kelebihan kalori akan terakumulasi dan berubah menjadi lemak yang kemudian disimpan di dalam tubuh (Wu et al, 2009). 2.8.1 Etiologi dan Pathogenesis Obesitas Menurut Wu et al (2009), etiologi dan pathogenesis obesitas digolongkan sebagai berikut : 1. Karena usia tua dan genetik Obesitas umumnya terkait dengan defisiensi Qi ginjal. Kondisi usia atau obesitas kongenital menyebabkan defisiensi Qi ginjal. Qi ginjal merupakan akar dari sistem tubuh. Saat Qi ginjal lemah maka Qi tidak dapat membantu banyak dalam proses transportasi dan transformasi tubuh, akibatnya terjadi peningkatan phlegma lembab yang terlihat seperti gejala odema dan peningkatan berat badan. 2. Karena kurangnya aktivitas fisik Aktivitas fisik berperan penting dalam masalah berat badan. Kurangnya aktivitas fisik dalam periode yang lama mengakibatkan defisiensi Qi Limpa. Defisiensi Qi Limpa akan menyebabkan gagalnya distribusi Qi makanan ke otot dan

17

menyebabkan tertumpuknya phlegma lembab dan peningkatan berat badan. 3. Karena terlalu banyak makan Terlalu banyak makan bisa menyebabkan fungsi limpa dan lambung dalam transportasi dan transformasi makanan dan air terganggu. Sehingga

mengakibatkan terbentuknya phlegm lembab dan peningkatan berat badan. 4. Karena emosi stress Dalam pengobatan China, tiap-tiap organ Zang Fu memiliki emosinya masingmasing. Terlalu kuatir merusak Paru-paru, terlalu sedih merusak liver, terlalu sering merenung dan banyak makan merusak limpa, terlalu gembira merusak jantung, sedangkan terlalu takut merusak ginjal. Ketika penderita depresi, cemas atau emosi stress yang lain akan merusak shen Zang Fu dan mengganggu sistem hubungan keseimbangan antara kelima organ. Karena gangguan emosi bisa menyebabkan terlalu banyak makan maka kemudian akan menggangu transportasi dan transformasi tubuh dan nutrisi makanan. Selanjutnya terjadilah obesitas. 2.8.2 Penggolongan Sindrom Obesitas Menurut Wu et al (2009), penggolongan sindrom obesitas digolongkan sebagai berikut : 1. Defisiensi Qi. Gejala–gejalanya meliputi kelelahan umum, dada berdebar-debar, napas pendek, keringat spontan, mengantuk, malas bicara. Wajah pucat, selaput lidah putih, lidah besar dengan cetakan gigi di tepinya, nadi dalam dan benang.

18

2. Phlegma Lembab. Gejala-gejalanya meliputi abdomen besar, kepala dan ekstremitas terasa berat, rasa penuh di dada, selaput lidah berminyak. 3. Api Lambung. Gejala-gejalanya meliputi abdomen besar, polyphagia, mulut kering dan rasa pahit di mulut, rasa penuh dan panas di epigastrium yang berkurang dengan makan, lidah merah dengan selaput lidah kuning berminyak, dan nadi tegang. 2.8.3 Tatalaksana / Titik - titik akupunktur yang digunakan : Menurut Ganglin Yin (1999) dan Wu et al (2009), titik-titik akupunktur pada Meridian Limpa dan Lambung umumnya sering dipilih dalam terapi obesitas. Titiktitik tersebut antara lain sebagai berikut : 1. Defisiensi Qi. Prinsip Terapi : Menguatkan Qi, terutama Qi Limpa dan Qi Lambung Weishu (BL 21), Pishu (BL 20), Zusanli (ST 36), Quchi (LI 11), dan Liangmen (ST 21) 2. Phlegma Lembab. Prinsip Terapi : Mengurangi kelembaban dan mengatur aliran Qi Sanyinjiao (SP 6), Yinlingquan (SP 9), Neiguan (PC 6), Taiyuan (LU 9), dan Fenglong (ST 40) 3. Api Lambung. Prinsip Terapi : Membersihkan api Lambung dan mendukung fungís pencernaan Quchi (LI 11), Hegu (LI 4), Neiting (ST 44), Sanyinjiao (SP 6), dan Fenglong (ST 40)

19

Tiap-tiap pengobatan akupunktur berlangsung selama 30-40 menit, disarankan 6-10 kali terapi dalam satu paket. Berikut adalah aksi titik-titik yang diteliti menurut Ganglin Yin (1999) : 1. CV 12 : a. Menguatkan Limpa dan mengharmoniskan Lambung b. Menurunkan Qi Lambung dan Qi Usus Besar 2. CV 6 3. ST 25 : a. Menguatkan Qi dan Yang : a. Mengatur fungsi usus b. Membersihkan panas dan menghilangkan kelembaban c. Mengatur Qi d. Mengurangi retensi makanan 4. ST 36 : a. Bermanfaat bagi Lambung dan Limpa b. Menguatkan Qi dan Xue serta menguatkan daya tahan tubuh c. Mengatur Qi nutrisi dan Wei Qi (Qi pertahanan) d. Mengatur Lambung dan Usus, mentransformasi phlegm dan menghilangkan kelembaban 5. GB 26 6. SP 6 : a. Menguatkan Limpa dan menghilangkan kelembaban : a. Menguatkan Limpa dan menghilangkan kelembaban

2.9 Mekanisme Akupunktur Dalam Menangani Obesitas Menurut Kedokteran Barat Salah satu pathogenesis obesitas adalah gangguan mekanisme dalam mengatur asupan makanan yang menghasilkan suatu peningkatan nafsu makan dan berlebihnya asupan makanan. Akupunktur dapat menerapi gangguan tersebut dengan beberapa cara yaitu (Cermin Dunia Kedokteran No 123, 1999) :

20

1. Menurunkan nafsu makan melalui jalur serotonergic di otak. 2. Mengurangi nafsu makan melalui nervus vagus di conchae telinga (auricular acupuncture) 3. Mengurangi asupan nutrisi dengan menurunkan hyperfungsi pencernaan lambung dan absorpsi usus. 4. Meningkatkan pengeluaran energi dengan meningkatkan Basal Metabolic Rate (BMR) 5. Berperan dalan Hiperinsulinisme 1. Menurunkan nafsu makan melalui jalur serotonergic di otak Anand dan Brobeck berpostulat bahwa asupan makanan dikontrol oleh pengaturan mekanisme di nucleus ventromedial dan nucleus lateral hypothalamus. Hal ini dikenal dengan istilah dual center hypothesis. Berdasarkan pada hipotesis ini, nukleus ventromedial bertindak sebagai pusat rasa kenyang dan nukleus lateral hipofisis berperan sebagai inhibitor pusat pemberi makan. Akupunktur mengaktivasi jalur ascenden dan jalur descenden serotonergic melalui sistem anterolateral. Saat pemberian rangsangan akupunktur, impuls neural diterima oleh cornu dorsalis medulla spinalis melalui saraf afferent tipe II dan tipe III (diameter kecil myelin afferent). Impuls-impuls ini kemudian disampaikan ke berbagai serabut sistem anterolateral. Beberapa proyeksi disalurkan menuju ke otak tengah untuk mempengaruhi jalur ascenden dan jalur descenden serotonergic. Raphe magnus yang ada di batang otak berisi banyak sekali sel-sel serotonin di otak. Sel-sel ini memiliki akson-akson di sistem ascenden yang proyeksinya menuju ke otak tengah dan otak depan disamping menuju ke sistem descenden dorsolateral

21

yang berperan penting dalam analgesi akupunktur. Impuls-impuls sistem anterolateral juga menstimulasi neuron-neuron yang merangsang hipotalamus untuk melepaskan serotonin. Peningkatan muatan di otak tengah mempertinggi aktivitas jalur nigrostriatal dopaminergic sehingga turunlah nafsu makan. Serotonin yang dilepaskan dari neuron hipotalamus mengaktifkan methionin enkephalin yang dilepaskan di regio tegmental ventral. Methionin enkephalin menghambat keluarnya GABA ( Gamma amino butiric acid ) dari substansia nigra. Penghambatan GABA meningkatkan suplai dopamine di tegmentum ventral. Dopamine yang meningkat di nucleus accumbens dan hippocampus akan mengakibatkan timbulnya rasa kenyang dan kehilangan motivasi untuk melihat makanan. Amygdala dan hippocampus berperan penting dalam sistem cascade. Sistem ini tidak hanya bekerja untuk mengontrol keinginan untuk makan tapi juga mengontrol keinginan lain seperti keinginan untuk minum dan berhubungan seks. Hari menemukan bahwa aplikasi rangsangan elektro akupunktur frekuensi rendah (2-15 Hz) pada titik Zu San Li (ST 36) dan titik San Yin Jiao (SP 6) pada kaki belakang kelinci selama 30 menit menghasilkan peningkatan methionin enkephalin yang signifikan di hipotalamus. Peningkatan ini disebabkan oleh efek langsung methionin enkephalin atau bisa juga melalui jalur serotonin. Tetapi faktanya rangsangan elektro akupunktur frekuensi rendah juga mampu mengaktifkan sistem cascade yang mengakibatkan pengurangan nafsu makan.

22

2. Mengurangi nafsu makan melalui nervus Vagus di conchae telinga (auricular acupuncture) Telinga luar atau auricular disuplai banyak sekali nerve ending, yang berasal dari N. V (trigeminus), N. VII (facialis), N. IX (glossopharyngeus) dan N. X (nervus vagus). Conchae telinga khususnya disuplai oleh cabang-cabang auricular nervus vagus. Cabang-cabang ini muncul dari ganglion superior (jugular) dan masuk ke tulang temporal melalui foramen dinding lateral fossa jugularis melintasi mastoid canaliculi dan muncul dari tulang tengkorak melalui fissura tympanomastoid. Impuls somatosensoric dari permukaan kanal telinga dan conchae dibawa oleh cabangcabang nervus vagus. Jika rangsangan dalam bentuk mekanik, elektrik, atau laser diaplikasikan pada conchae, maka impuls neuronal akan dikirim ke sistem saraf pusat melalui jalur vagus. Impuls-impuls ini dapat bercampur dengan impuls-impuls yang terpaut dengan sinyal nafsu makan yang berasal dari sistem gastrointestinal karena jalur neuronalnya bersamaan perjalanannya menuju ke otak. Rasa lapar atau rasa penuh disampaikan melalui jalur viscerosensorik vagus. Impuls-impuls akan diterima oleh nucleus solitarius dan diproyeksikan ke substansi reticular batang otak. Kemudian melaui nucleus thalamic ventral posterior, impuls-impuls diproyeksikan ke korteks cerebral. Sinyal rasa lapar bisa dicegah dalam derajat tertentu oleh impuls sensori dari cabang auricular nervus vagus dan rasa lapar akan berkurang sehingga keinginan untuk makan menjadi turun.

23

3. Mengurangi asupan nutrisi dengan menurunkan hyperfungsi pencernaan lambung dan absorbsi usus. Pergerakan lambung, usus dan laju absorbsi usus dapat menentukan volume nutrisi yang diserap tubuh. Hiperfungsi pencernaan lambung dan absorbsi usus akan menyebabkan asupan kalori yang berlebihan, yang jika tidak digunakan akan berubah menjadi jaringan lemak. Selain itu, pengosongan lambung yang cepat juga dapat menyebabkan seseorang merasa lapar lebih cepat dan sering. Pergerakan lambung, usus dan fungsi sekresi diatur oleh sistem saraf vegetative, berdasarkan pada fungsi yang berlawanan tapi saling melengkapi yang

diklasifikasikan menjadi dua struktur yaitu sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Sistem saraf parasimpatik sistem gastrointestinal dipersarafi oleh nervus vagus. Nervus vagus untuk lambung terdiri dari dua cabang yaitu visceromotorik dan secretomotorik, dimana untuk sphincter pylorus memiliki fungsi inhibisi. Untuk kelenjar mukosa pada otot polos dari intestinum, jejunum, caecum, colon ascenden, dan colon transversum dipersarafi oleh cabang visceromotorik dan secretomotorik nervus vagus. Yang memiliki fungsi inhibitor adalah pada sphincter ileocaecal. Serabut preganglion bermyelin saraf simpatik yang menginervasi sistem pencernaan, keluar dari medulla spinalis pada segmen thoracal ke-5 dan ke-9 mengikuti ramus anterior dan melalui ganglia paravertebara untuk bergabung dengan saraf Splanchnicus Major. Lalu bersinapsis di ganglion celiac. Serabut postganglion tak bermyelin kemudian mempersarafi lambung dan usus.

24

Pengaktifan saraf simpatik memiliki efek berlawanan dengan saraf parasimpatik pada sistem pencernaan. Secara bersamaan, saraf simpatik dan saraf parasimpatik memelihara tonic level keduanya yang disebut dengan autonomic tone. Karena tone inilah, aktivitas usus dan kelenjar dapat ditingkatkan bersamaan dengan peningkatan input saraf parasimpatik atau oleh penurunan input saraf simpatik atau sebaliknya. Hal ini sangat mirip dengan fenomena Yin Yang dalam TCM. Sebagian besar penderita obesitas memiliki input parasimpatik lebih tinggi dan input simpatik yang lebih rendah daripada orang normal. Pada penderita obesitas fungsi pencernaannya overactive yang dapat dilihat dari beberapa parameter yaitu sekresi saliva, amylase, dan asetilkolin esterase, kandungan pepsinogen dan amilase darah yang tinggi daripada orang normal. Eksresi d-xylose yang mencerminkan fungsi absorbsi usus juga tinggi daripada orang yang tidak obesitas. Sedangkan kandungan norepinephrine lebih rendah daripada orang normal. Norepinephrine adalah neurotransmiter yang bekerja pada sinap saraf simpatik. Sinapsis postganglionic parasimpatik menggunakan asetilkolin sebagai neurotransmitter. Prostaglandin kadar E2 juga rendah daripada normal. Substansi ini dapat merilekskan otot-otot lambung, melebarkan antrum lambung, melambatkan kerja saraf simpatik. Aktivitas saraf simpatik dan saraf parasimpatik harus setimbang. Setelah menerima terapi akupunktur (dengan titik-titik yang sesuai dengan diagnosis berdasarkan penggolongan sindrom), Liu et al, pada beberapa studi klinis menemukan bahwa parameter diatas seperti amilase saliva, amilase darah, pepsinogen, asetilkolin esterase dan ekskresi xylose dalam urin menurun sedangkan

25

norepinephrine, prostaglandin oral E2 dan nilai Y (Indeks Kesetimbangan saraf vegetative) meningkat. Kenyataan ini menyatakan bahwa akupunktur dapat menyeimbangkan ketidakseimbangan autonomic tone. Cara kerja akupunktur dalam mengatur autonomic tone adalah sebagai berikut : Ketika jarum ditusukkan, maka akan menyebabkan kerusakan jeringan sehingga menimbulkan reaksi yang memproduksi bradikinin. Bradikinin merangsang serabut A-delta dan serabut C tak bermyelin pada kulit. Pengaruh utamanya adalah menimbulkan depolarisasi yang menghasilkan impuls yang dikonduksi melalui sistem Lissauer dan funicullus medulla spinalis. Cornu dorsalis medulla spinalis berpotensi memacu suatu refleks antidromical yang disalurkan melalui serabut simpatis C menuju ke viscera. Refleks viscero somatik ini mempengaruhi keseluruhan fungsi dari serabut simpatis C menuju viscera. Refleks viscero somatik ini mempengaruhi seluruh sistem saraf otonom. Stimulasi akupunktur tubuh dan akupunktur telinga, melalui stimulasi somatik pada cornu dorsalis, dapat membangkitkan respon saraf simpatis dan saraf parasimpatis. Impuls yang sama menyilang sisi kontralateral menuju ke peryaqueductal gray. Ada serabut-serabut yang menghubungkan periaqueductal gray ke intralaminar nuclei hipotalamus. Hipotalamus adalah regulator utama sistem saraf otonom. Pada periventricular nuclei ada neuron-neuron yang memproyeksikan akson-akson ke parasimpatik nuclei motor di batang otak dan motor simpatik medulla spinalis. 4. Meningkatkan pengeluaran energi dengan meningkatkan Basal Metabolic Rate (BMR) Energi dikeluarkan melalui tiga jalan utama yaitu melaui metabolisme basal, aksi

26

dinamik spesifik makanan, dan aktivitas fisik. Energi dapat diperoleh dari makanan yang dicerna, atau dari energi simpanan, utamanya jaringan lemak. Faktor-faktor yang mempengaruhi BMR meliputi umur, jenis kelamin, temperatur, obat-obatan, hormon dan status nutrisi. Pria memiliki BMR yang lebih tinggi daripada wanita. BMR menurun seiring bertambanya usia dan peningkatan persentase lemak tubuh. Perubahan temperatur tubuh juga mempengaruhi BMR. Kenaikan temperatur tubuh satu derajat saja dari internal ataupun eksternal dapat meningkatkan BMR sebanyak 12%. Hormon tiroid, hormon pertumbuhan, glukagon dan epinephrin juga dapat meningkatkan BMR yang biasa disebut calorigenic. Menurut Liu et al, akupunktur dapat meningkatkan hormon tiroksin pada penderita obesitas. Sehingga akupunktur dapat juga menaikkan BMR dengan meningkatkan fungsi hipothalamus pituitary tiroid axis, dimana stimulasi sekresi tiroksin dapat menaikkan ATP ase. Akupunktur dapat menghasilkan BMR yang lebih tinggi dan lipolisis dengan meningkatkan simpathetic tone. Aktivitas ATP ase berkurang oleh karena hiperkolesterolimia. Akupunktur dapat juga meningkatkan aktivitas ATP ase dengan mengubah komposisi lipid pada membran sel yang dipengaruhi oleh kolesterolimia yang tinggi. 5. Berperan dalam Hyperinsulinisme Hiperkolesterolimia umumnya berhubungan dengan obesitas. Hal ini terlihat bahwa akupunktur dapat mengurangi hiperkolesterolimia. Liu et al menemukan bahwa pada penderita obesitas yang berhasil diterapi dengan akupunktur menunjukkan nilai total kolesterol, total trigliserida, LDL, dan VLDLnya rendah

27

sedangkan nilai HDLnya tinggi. Kadar insulin yang tinggi berarti meningkatkan glikoneogenesis dan lipogenesis yang dapat menambah lebih banyak lemak pada penderita obesitas. Hiperinsulinisme merupakan suatu kondisi dimana kadar insulin tubuh secara permanen tinggi tetapi ada resistensi terhadap efek insulin. Kondisi ini mendukung lipogenesis dan lebih banyak sel lemak (adiposit) meningkatkan resistensi insulin. Hiperinsulinisme juga merangsang hati untuk memproduksi lebih banyak LDL dan VLDL yang dapat menyebabkan hiperkolesterolimia dan hipertrigliseridemia. Akupunktur dapat mengurangi hiperkolesterolimia dengan bertindak dalam Hiperinsulinisme. Kadar insulin setelah dilakukan terapi akupunktur juga menurun. Akupunktur dapat mempengaruhi Hiperinsulinisme melalui alfa adrenergic dan beta adrenergic yang ditemukan pada sel-sel beta pankreas. Rangsangan pada reseptor alfa adrenergic oleh noradrenaf yang merupakan neurotransmitter sinaps postganglionic sympathetic yang juga dihasilkan oleh medulla adrenal dalam jumlah yang sedikit, dapat menghambat sekresi insulin.

28

2.10 Kerangka Konseptual

Faktor genetik Kerusakan pada Hipotalamus Ventromedial Kurang bergerak/jarang OR Ketidakstabilan emosi Lingkungan

Peningkatan Indeks Massa Tubuh

Obesitas

Latihan Fisik

Diet Khusus

Akupunktur

Pembedahan

Farmakoterapi

Menurunkan nafsu makan

Keterangan : : berhubungan : berpengaruh : diteliti : Menghambat

: tidak diteliti

29

Faktor genetik, kerusakan pada Hipotalamus Ventromedial, kurang bergerak/jarang berolahraga, ketidakstabilan emosi dan lingkungan dapat menyebabkan peningkatan Indeks Massa Tubuh yang akhirnya dapat mengakibatkan timbulnya obesitas. Dengan diet khusus, latihan fisik, pembedahan, farmakoterapi, dan akupunktur dapat menghambat atau mempengaruhi nilai Indeks Massa Tubuh pada penderita obesitas. 2.11 Hipotesis Ada perubahan Indeks Massa Tubuh pada penderita obesitas setelah dilakukan terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6.

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan pre-experimental design dengan pretest-postest design. 3.2 Kerangka Kerja Populasi : semua pasien obesitas yang melakukan terapi akupunktur di poli akupunktur Puskesmas Kepanjen selama kurun waktu 1 bulan

Sampel : semua pasien obesitas yang melakukan terapi akupunktur di poli akupunktur Puskesmas Kepanjen selama kurun waktu 1 bulan yang memenuhi kriteria populasi sebanyak 10 pasien

Sampling : Total Sampling

Desain Penelitian : Pre-experimental design dengan pretest dan posttest design Variabel Independent : Terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26, dan SP 6 Variabel Dependent : Indeks Massa Tubuh

Pengumpulan data dengan menggunakan Standar Operasional Pelaksanaan Terapi Akupunktur dan lembar observasi IMT pretest dan posttest Pengolahan data dan analisis data dengan paired t test

Penyajian hasil penelitian dalam bentuk tabel dan grafik Penarikan Kesimpulan 30

31 3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Sampling 3.3.1 Populasi Populasi penelitian adalah semua pasien obesitas yang melakukan terapi akupunktur dengan tujuan mengurangi berat badan atau pelangsingan di Poli Akupunktur Puskesmas Kepanjen selama kurun waktu satu bulan penelitian dengan kriteria populasi sebagai berikut : 1. Wanita yang bersedia menjadi responden 2. Memiliki nilai IMT > 24,9 kg/m2 3. Melakukan terapi akupunktur selama 6 kali terapi 3.3.2 Sampel Sampel yang dipilih untuk penelitian ini adalah semua pasien obesitas yang melakukan terapi akupunktur dengan tujuan mengurangi berat badan atau pelangsingan di poli Akupunktur Puskesmas Kepanjen yang memenuhi kriteria populasi selama kurun waktu satu bulan yang berjumlah 10 pasien. 3.3.3 Teknik Sampling Sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling yaitu pengambilan sampel dengan cara semua anggota populasi dijadikan sampel dalam periode waktu tertentu. 3.4 Identifikasi Variabel 1. Variabel Independent : Terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6. 2. Variabel dependent : Indeks Massa Tubuh

32 3.5 Definisi Operasional
No. 1. Variabel Variabel Independent : Terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6. Variabel dependent : Indeks Massa tubuh Definisi Operasional Penusukan jarum akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6. berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan (m2) Indikator Terapi akupunktur dilakukan 2 kali per minggu 3 kali per minggu Indeks Massa tubuh pada orang dewasa Asia Pasifik Alat Ukur Skala Data Skor -

2.

Timbangan Berat Badan dan Meteran

interval

BB kurang : < 18,5 Normal : 18,5 – 22,9 Overweight : > 23 Obese : > 24,9 -

3.

Sub variabel : 1. Titik CV 12 2. Titik CV 6

3. Titik ST 25 4. Titik ST 36

5. Titik GB 26

6. Titik SP 6

Titik akupunktur yang terletak 4 cun diatas umbilicus Titik akupunktur yang terletak 1,5 cun dibawah umbilicus Titik akupunktur yang terletak 2 cun lateral umbilicus Titik akupunktur yang terletak 3 cun dibawah os. Patella dan satu jari anterolateral os. tibia Titik akupunktur yang terletak intersection secara vertical dibawah rusuk ke-11 dan secara horisontal melalui umbilicus, 1,8 cun ventro caudal LR 13 ( di batas inferior rusuk ke -11) Titik akupunktur yang terletak 3 cun dibawah malleolus internus

-

-

nominal nominal

-

-

nominal nominal

-

-

-

nominal

-

-

-

nominal

-

33 3.6 Pengumpulan Data dan Analisis Data 3.6.1 Pengumpulan Data 1. Proses Pengumpulan Data a) Pasien pertama kali datang untuk melakukan terapi pelangsingan dengan akupunktur. b) Pasien yang bersedia menjadi responden, diminta untuk menandatangani informed consent terlebih dahulu. c) Sebelum pasien diterapi, pasien diukur terlebih dahulu berat badannya dengan menggunakan alat timbangan badan dan tinggi badannya menggunakan meteran, kemudian dihitung Indeks Massa Tubuhnya . d) Setelah pasien melakukan terapi akupunktur selama 6 kali, berat badan pasien diukur kembali dan dihitung IMTnya. 2. Instrumen Pengumpulan Data a) Standar Operasional Pelaksanaan Terapi Akupunktur  Pasien berbaring dengan santai tanpa rasa tegang, tidak terlalu lelah, tidak terlalu kenyang dan tidak terlalu lapar.  Terapis akupunktur melakukan disinfeksi pada tangannya dengan bola kapas steril yang sudah dibasahi alkohol 70%.  Sebelum dilakukan penusukan, area titik yang akan ditusuk dilakukan disinfeksi terlebih dahulu dengan bola kapas steril yang sudah dibasahi alkohol 70%.  Setelah itu dilakukan penusukan secara berturut-turut pada titik CV 12, ST 25, GB 26, CV 6, ST 36, dan SP 6 menggunakan jarum filiform steril.

34  Kemudian jarum yang sudah tertancap dialiri listrik dengan metode pelemahan (frekuensi 80 Hz) menggunakan elektrostimulator akupunktur KWD–808-I Multi Purpose Health Device dengan gelombang kontinyu selama 30 menit.  Pemasangan anoda dan katoda sesuai dengan kaidah kanan kiri, urutan meridian dan nomer titik akupunktur.  Setelah jarum dirangsang selama 30 menit, jarum dicabut. Setiap pencabutan jarum, bekas tusukan dilakukan disinfeksi kembali menggunakan bola kapas steril yang telah dibasahi alkohol 70%. b) Lembar Observasi yang terdiri dari :   Data umum pasien IMT pretest dan posttest

3. Waktu dan Tempat Penelitian   Waktu penelitian : Minggu ke-3 Bulan Juni 2009 sampai Minggu ke-2 Bulan Juli 2009 Tempat penelitian : Poli akupunktur Puskesmas Kepanjen Analisis data

3.6.2

Analisis data pada penelitian ini menggunakan paired t test untuk mengetahui perbedaan hasil pengukuran indeks massa tubuh pasien obesitas sebelum dan sesudah diterapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6. Rumus yang digunakan adalah : t Md  SEd Md

d

2

n nn  1

 d  

2

Keterangan : Md = rata-rata dari selisih IMT posttest dan IMT pretest d n = selisih IMT posttest terhadap IMT pretest = jumlah sampel penelitian

35 3.7 Keterbatasan 1. Dalam waktu 6 kali terapi atau setengah seri terapi, kedatangan pasien ada yang 2 kali per minggu atau 3 kali per minggu sehingga dapat mempengaruhi hasil penghitungan IMT. 2. Dalam penelitian tidak dilakukan pengkajian apakah pasien menjalani diet ketat, mengkonsumsi obat/jamu pelangsing ataupun olahraga khusus yang dapat mempengaruhi hasil penghitungan IMT.

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian Pada bab ini menyajikan hasil dari penelitian mengenai pengaruh terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6 terhadap perubahan IMT pasien obesitas di poli akupunktur Puskesmas Kepanjen yang dilakukan pada bulan Juni minggu ke-3 sampai bulan Juli minggu ke-2 tahun 2009. Hasil penelitian ini akan disajikan dalam bentuk data umum dan data khusus. Data umum akan menyajikan karakteristik responden yang meliputi karakteristik responden berdasarkan usia, pekerjaan, pendidikan, aktivitas, status perkawinan, kunjungan terapi per minggu, dan anamnesis khusus setelah 6 kali terapi. Data khusus akan menyajikan hasil pengukuran berat badan dan penghitungan IMT responden sebelum dan sesudah terapi akupunktur. 4.1.1 Gambaran Lokasi Penelitian Puskesmas Kepanjen terletak di Jalan Raya Jatirejoyoso no. 4 Kepanjen, Kabupaten Malang. Puskesmas Kepanjen memiliki beberapa ruangan pelayanan, diantaranya yaitu : Balai Pengobatan (BP), ruang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Pojok Gizi, apotek, UGD dan sebuah poli akupunktur. Poli akupunktur Kepanjen berukuran 4 x 6 meter, terdiri dari dua buah tempat tidur. Di ruangan ini terdapat sebuah almari, satu buah timbangan badan, sebuah alat pengukur tinggi badan, dua buah kursi panjang tempat tunggu pasien, dan dua buah elektro stimulator.

36

37

Rata-rata pasien yang datang ke poli akupunktur Puskesmas Kepanjen adalah 3 pasien tiap harinya. Rata-rata keluhan utama pasien adalah kelebihan berat badan dan nyeri pada persendian. 4.1.2 Data Umum 1. Karakteristik responden berdasarkan usia Tabel 4.1 Karakteristik responden berdasarkan usia di poli akupunktur Puskesmas Kepanjen No 1. 2. Usia 20 - 40 tahun 41 - 65 tahun Total Jumlah 8 2 10 Prosentase (%) 80 20 100

Sumber : Data Umum Pasien Tahun 2009

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar (80%) responden berusia 20 – 40 tahun dan yang paling sedikit yaitu (20%) responden berusia 41 – 65 tahun. 2. Karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaan Tabel 4.2 Karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaan di poli Akupunktur Puskesmas Kepanjen No 1. 2. 3. 4. PNS Ibu Rumah Tangga Swasta Mahasiswa Total
Sumber : Data Umum Pasien Tahun 2009

Jenis Pekerjaan

Jumlah 2 4 3 1 10

Prosentase (%) 20 40 30 10 100

Berdasarkan jenis pekerjaan responden, didapatkan data yang menunjukkan bahwa sebagian besar (40%) responden adalah sebagai Ibu Rumah Tangga dan sebagian kecil (10%) responden adalah mahasiswa.

38

3. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan Tabel 4.3 Karakteristik Responden berdasarkan tingkat pendidikan di Poli Akupunktur Puskesmas Kepanjen No 1. 2. 3. 4. Pendidikan Lulusan PT Lulusan SMU Lulusan SMP Lulusan SD Total Jumlah 5 4 1 10 Prosentase (%) 50 40 10 100

Sumber : Data Umum Pasien Tahun 2009

Berdasarkan tingkat pendidikan responden, dapat diketahui bahwa sebagian besar (50%) responden berpendidikan lulusan Perguruan Tinggi, dan seorang responden (10%) berpendidikan lulusan SMP 4. Karakteristik responden berdasarkan pada aktivitas Tabel 4.4 Karakteristik responden berdasarkan pada aktivitas di Poli Akupunktur puskesmas Kepanjen No 1. 2. Aktivitas Banyak aktivitas Kurang aktivitas Total
Sumber : Data Umum Pasien Tahun 2009

Jumlah 2 8 10

Prosentase (%) 20 80 100

Berdasarkan data tabel diatas, sebagian besar (70%) hobi/aktivitas responden adalah di rumah saja / mengurus anak dan hanya seorang responden (10%) yang kuliah.

39

5. Karakteristik responden berdasarkan pada status perkawinan Tabel 4.5 Karakteristik Responden berdasarkan pada status perkawinan di Poli Akupunktur Puskesmas Kepanjen No 1. 2. Status Perkawinan Menikah Belum menikah Total Jumlah 8 2 10 Prosentase (%) 80 20 100

Sumber : Data Umum Pasien Tahun 2009

Berdasarkan data tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar (80%) responden sudah menikah, sedangkan sisanya yaitu (20%) belum menikah. 6. Karakteristik responden berdasarkan jumlah kunjungan terapi Tabel 4.6 Karakteristik responden berdasarkan jumlah kunjungan terapi di Poli Akupunktur Puskesmas Kepanjen No Kunjungan Terapi 1. 2 kali / minggu 2. 3 kali / minggu Total
Sumber : Data Umum Pasien Tahun 2009

Jumlah 1 9 10

Prosentase (%) 10 90 100

Berdasarkan jumlah kunjungan terapi per minggu, sebanyak (90%) responden terapi 3 kali / minggu, sedangkan seorang responden yaitu sebanyak 10% responden yang terapi 2 kali per minggu. 7. Hasil anamnesis responden setelah 6 kali terapi Tabel 4.7 Hasil anamnesis responden setelah 6 kali terapi No Anamnesis 1. Nafsu makan menurun dan BAB lancar Tidak ada perubahan pada nafsu makan dan 2. BAB tidak lancar Total
Sumber : Data Umum Pasien Tahun 2009

Jumlah 9 1 10

Prosentase (%) 90 10 100

40

Berdasarkan tabel diatas, sebanyak 9 responden (90%) mengalami penurunan nafsu makan dan BAB lancar setelah diterapi akupunktur. Sedangkan hanya 1 orang responden saja (10%) yang tidak mengalami perubahan sama sekali terhadap nafsu makan dan BABnya. 4.1.3 Data Khusus Tabel 4.8 Hasil pengukuran berat badan dan hasil penghitungan IMT sebelum dan sesudah terapi akupunktur Tinggi Badan (m) 1.58 1.59 1.5 1.6 1.57 1.54 1.58 1.56 1.65 1.56 Berat Badan (kg) Pretest 63 66 76 78.5 61.5 74 68 94 68 61 Posttest 60 66 73.5 76 59.5 72 65.5 91.5 66 59 IMT (kg/m2) Pretest 25.2 26.1 33.8 30.7 25.0 31.2 27.2 38.6 25.0 25.1 Posttest 24.0 26.1 32.7 29.7 24.1 30.4 26.2 37.6 24.2 24.2 ∑

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Nama Snt Dw Str Iph Yn Hn Kpt Sk Ifv Enk

d 1.2 0 1.1 1.0 0.9 0.8 1.0 1.0 0.8 0.8 8.6

d2 1.44 0 1.21 1.0 0.81 0.64 1.0 1.0 0.64 0.64 8.38

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa hampir seluruh responden mengalami perubahan berat badan. Dan IMT responden sebelum dan setelah dilakukan terapi akupunktur mengalami perubahan. Hanya ada satu responden yang tidak mengalami perubahan pada berat badan maupun IMTnya.

41

Dari tabel diatas dapat dihitung rata-rata IMT sebelum dan sesudah di akupunktur yaitu :
Md 

d
n

8,6  0,86 10

Jadi rata-rata penurunan IMT sebelum dan sesudah terapi akupunktur adalah sebesar 0,86. 4.1.4 Analisis Data dengan Paired t test

t

Md SEd
Md

t

 d  d  n
2

2

nn  1

t

0,86 8,83  8,6 10 1010  1
2

0,86  8,83  7,396 90

0,86  8,22 0,0109

dk  n  1 dk  10  1 dk  9   0,05 t tabel = 2,26

t hitung > t tabel 8,22 > 2,26 Ho ditolak

42

Berdasarkan hasil uji statistik untuk IMT dengan Paired t test didapatkan t hitung (8,22) lebih besar dari pada t tabel (2,26) sehingga Ho ditolak yang berarti ada pengaruh terapi akupunktur terhadap IMT pasien obesitas. 4.1.5 Grafik Perubahan IMT sebelum dan sesudah terapi akupunktur

Data perubahan IMT sebelum dan sesudah diterapi Akupunktur
40.0 35.0 30.0 25.0 20.0 15.0 10.0 5.0 0.0 Snt Dw Str Iph Yn Hn Kpt Sk Ifv Enk Nama responden

IMT

pretest posttest

4.2 Pembahasan 4.2.1 Indeks Massa Tubuh Responden sebelum Terapi Akupunktur Dari hasil penelitian, nilai IMT semua responden yang berjumlah 10 orang sebelum terapi akupunktur menunjukkan nilai yang tinggi, yaitu > 24,9 kg/m2 yang berarti tergolong obesitas. IMT merupakan indikator yang paling sering digunakan dan praktis untuk mengukur tingkat populasi yang mengalami berat badan berlebih dan obesitas pada orang dewasa. IMT diukur dengan satuan berat badan dalam kilogram (kg) dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat (m2) (Harrison, 2005).

43

Berdasarkan Klasifikasi Berat badan terhadap IMT untuk orang Asia dewasa, IMT untuk orang obesitas memiliki resiko morbiditas moderat hingga berat (Sugondo, 2006). Menurut para peneliti, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan obesitas diantaranya (Ramayulis, 2008 : 14) : 1. Faktor genetik. 2. Kerusakan pada Hipotalamus Ventromedial. 3. Pola makan berlebih. 4. Kurang bergerak atau jarang berolahraga. 5. Ketidakstabilan emosi. 6. Lingkungan. Dari hasil penelitian, nilai IMT responden sebelum terapi menunjukkan nilai yang tinggi dan berisiko morbiditas tinggi. Pada nilai IMT responden yang tinggi ini mungkin terjadi karena aktivitas responden sebanyak 80% tergolong kurang, jarang melakukan aktivitas fisik maupun olahraga. Dilihat dari segi usia, sebanyak 80% responden berusia diantara 20-40 tahun dan sebanyak 20% berusia 41-65 tahun dimana pada usia tersebut proses pertumbuhan sudah terhenti sehingga kecepatan metabolisme menurun. Bila ditunjang dengan kurangnya aktivitas fisik, penurunan kecepatan metabolisme semakin bertambah. Sehingga dapat menyebabkan kelebihan asupan makanan yang disimpan sebagai lemak. Akibatnya semua responden memiliki IMT tinggi yang sudah masuk dalam kategori obesitas. 4.2.2 Indeks Massa Tubuh responden setelah terapi Akupunktur Dari hasil penelitian, IMT responden sebanyak (90%) mengalami penurunan. Hanya satu orang responden saja (10%) yang IMTnya tetap, tidak mengalami penurunan sama sekali. Variasi penurunan IMT terdiri dari : lebih dari atau sama dengan 1, kurang dari 1, dan tidak ada penurunan sama sekali. Sebanyak 5 responden mengalami penurunan lebih dari atau sama dengan 1, sebanyak 4 responden mengalami penurunan IMT kurang dari 1 dan hanya 1 orang responden saja yang

44

tidak mengalami penurunan nilai IMT sama sekali. Rata-rata nilai penurunan IMT adalah sebesar 0,86 kg/m2. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi nilai IMT pasien obesitas diantaranya adalah : 1. Diet khusus terutama diet rendah kalori yang dapat menyebabkan gastric emptlying tinggi (tahan lama dalam lambung), mengikat lemak atau kolesterol, transit time (waktu tinggal di usus) rendah dan mengakibatkan rasa kenyang yang lama (Gummesson, 2009). 2. Aktivitas fisik yang dapat meningkatkan kecepatan metabolisme tubuh. 3. Obat-obatan terutama Sibutramine dan Orlistat yang sudah diizinkan oleh FDA. Sibutramine dapat meningkatkan rasa kenyang dan pengeluaran energi. Sedangkan Orlistat dapat menurunkan penyerapan lemak sehingga lemak tidak terserap dan terbuang bersama tinja (Sugondo, 2006). 4. Pembedahan dilakukan untuk pasien dewasa yang memiliki IMT sekitar 35 kg/m2 – 40 kg/m2 (Gummesson, 2009). 5. Akupunktur yang berperan melalui mekanisme neurohumoral yang dapat menghambat nafsu makan, mengurangi fungsi lambung dan usus yang berlebih dalam pencernaan dan penyerapaan makanan. Dapat meningkatkan metabolisme, meningkatkan konsumsi energi dan meningkatkan penguraian lemak sehingga dapat mengurangi lemak tubuh (Hardian, 2008). Mekanisme terjadinya perubahan IMT sesudah diterapi akupunktur pada pasien obesitas adalah melaui beberapa cara sebagai berikut (Cermin Dunia Kedokteran No 123, 1999) :

45

1. Menurunkan nafsu makan melaui jalur serotonergik otak Rangsangan pada hipotalamus untuk melepaskan serotonin yang dapat mengaktifkan methionin enkephalin. Pengaktivan methionin enkephalin

menghambat pengeluaran GABA (Gamma Amino Butiric Acid). Penghambatan GABA dapat meningkatkan suplai dopamine yang mengakibatkan rasa kenyang dan kehilanagan motivasi untuk melihat makanan. 2. Mengurangi asupan nutrisi dengan menurunkan hiperfungsi pencernaan lambung dan usus. Penurunan hiperfungsi pencernaan lambung dan usus mengakibatkan seseorang mudah kenyang dan asupan nutrisi menjadi berkurang. Sehingga simpanan lemak bisa diubah menjadi energi. 3. Meningkatkan pengeluaran energi dengan meningkatkan Basal Metabolic Rate (BMR) Akupunktur dapat meningkatkan hormon tiroksin pada pasien obesitas. Sehingga akupunktur juga bisa meningkatkan BMR yang dapat meningkatkan pengeluaran energi. Dari hasil penelitian, penurunan IMT responden ini bisa disebabkan oleh pengaruh terapi akupunktur dengan kedatangan terapi yang rutin yaitu 3 kali terapi akupunktur/minggu. Pengaruh terapi akupunktur dapat menurunkan nafsu makan, mengurangi fungsi lambung dan usus yang berlebih dalam pencernaan makanan dan penyerapan makanan sehingga dapat mengurangi lemak tubuh. Pada penelitian ini tidak dilakukan pengkajian tentang diet khusus, konsumsi obat-obatan ataupun jamu pelangsing dan olahraga khusus yang dilakukan responden. Penurunan IMT ini bisa

46

saja terjadi selain karena diterapi akupunktur, sehingga faktor-faktor tersebut juga turut berpengaruh. Usia responden ternyata tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan IMT. Hal ini terbukti dari hasil posttest menunjukkan bahwa penurunan IMT dari usia 20 - 65 tahun tidak ada perbedaan penurunan secara signifikan. Penurunan ratarata IMT responden hampir sama yaitu 0,86 kg/m2. Berdasarkan pada anamnesis setelah 6 kali terapi, didapatkan bahwa sebanyak 9 responden (90%) mengalami penurunan nafsu makan dan BABnya lancar. Penurunan nafsu makan bisa menyebabkan pembakaran/metabolisme lemak yang tersimpan di dalam jaringan lemak menjadi energi. Secara otomatis, penurunan berat badan juga mengakibatkan penurunan nilai IMT responden. Satu orang responden tidak mengalami penurunan sama sekali. Hal ini karena pada anamnesis setelah 6 kali terapi, responden tidak mengalami penurunan nafsu makan dan BAB responden tidak lancar. 4.2.3 Indeks Massa Tubuh responden sebelum dan sesudah terapi akupunktur Berdasarkan hasil uji analisis data menggunakan paired t test, didapatkan bahwa t hitung (8,22) > t tabel (2,26) sehingga Ho ditolak yang berarti ada pengaruh terapi akupunktur pada titik CV 12, CV 6, ST 25, ST 36, GB 26, dan SP 6 terhadap perubahan IMT responden yang menderita obesitas. Dari hasil penelitian, sebelum diterapi akupunktur sebanyak 10 orang responden memiliki nilai IMT yang tinggi yaitu > 24,9 kg/m2. Setelah diterapi akupunktur sebanyak 6 kali, sebanyak 9 responden (90%) mengalami penurunan pada IMTnya. Sedangkan 1 orang responden (10%) saja yang tidak mengalami penurunan sama

47

sekali pada nilai IMT. Banyak faktor yang mempengaruhi penurunan ini. Perubahan nilai IMT ini bisa terjadi oleh karena sebanyak 90% responden mengalami penurunan nafsu makan dan BAB menjadi lebih lancar setelah 6 kali terapi. Pada penelitian ini tidak dilakukan pengkajian terhadap diet, konsumsi obatobatan atau jamu pelangsing dan olahraga khusus. Karena sulit sekali diterapkan jika pasien atau sampel penelitian tidak dikarantina. Artinya selama proses penelitian, peneliti tidak dapat mengawasi pasien selama 24 jam karena sampel penelitian saya bukanlah hewan coba yang dapat dikontrol semua variabel perancunya. Sehingga perubahan bisa saja terjadi oleh karena pasien yang mengkombinasi terapi akupunktur ini dengan diet khusus, konsumsi obat-obatan atau jamu pelangsing maupun olahraga khusus. Perubahan ini ternyata tidak dipengaruhi oleh faktor usia. Karena berdasarkan teori, usia mempengaruhi kecepatan metabolisme seseorang, tetapi pada hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang berusia di atas 40 tahun juga mengalami penurunan IMT yang cukup signifikan. Pada responden yang tidak mengalami perubahan IMT sama sekali, hal ini terjadi oleh karena tidak adanya perubahan pada nafsu makan dan BAB responden juga tidak lancar.

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan 1. IMT responden sebelum dilakukan terapi akupunktur pada titik CV 12, CV6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6 adalah tinggi yaitu > 24,9 kg/m2 2. Setelah dilakukan terapi akupunktur pada titik CV 12, CV6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6, IMT responden mengalami penurunan. 3. Berdasarkan pada hasil uji analisis dengan paired t test, didapatkan t hitung (8,22) lebih besar dari pada t tabel (2,26) sehingga Ho ditolak yang berarti terapi akupunktur pada titik CV 12, CV6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6 berpengaruh terhadap perubahan IMT responden yang obesitas. 5.2 Saran 1. Penelitian ini hendaknya menjadi pendorong untuk dilakukan penelitianpenelitian lebih lanjut, khususnya terapi akupunktur untuk pasien obesitas. 2. Diharapkan pada penelitian yang lebih lanjut, dapat digunakan dua subyek penelitian yaitu pria dan wanita dengan jumlah yang lebih banyak dan rentang waktu yang lebih lama yaitu 1 seri @ 12 kali terapi agar lebih bisa dibedakan pengaruh terapi menurut jenis kelamin dan perbedaan hasil sebelum dan sesudah terapi lebih signifikan.

48

49

3. Terapi akupunktur dapat dijadikan alternatif pengobatan atau sebagai informasi kesehatan dalam tatalaksana terapi obesitas yang harus diimbangi dengan pola hidup yang sehat. 4. Titik-titik CV 12, CV6, ST 25, ST 36, GB 26 dan SP 6 dapat dijadikan formulasi titik inti dalam terapi obesitas di Puskesmas Kepanjen karena telah terbukti dapat menurunkan nilai IMT pasien obesitas.

50

DAFTAR PUSTAKA

Daniels et al. (2005). Overweight in Children and Adolescents Pathophysiologi, Consequences, Prevention, and Treatment. Dallas : http://circ.ahajournals.org/cgi/reprint/111/15/1999 Depkes. (2009). Obesitas dan Kurang Aktivitas Fisik Menyumbang 30% Kanker. Jakarta: http://www.isfinational.or.id/info/22/899-obesitas-dankurang-aktivitas-fisik.pdf Faellasufa, Ode. (2007). Diet Sehat Ala Dokter dan Selebritis. Depok : Araska. Hardian, Dadi. (2008). Solusi Mengatasi Overweight dan Obesitas. Jakarta : http://www.dr-rocky.com/layout-artikel-kesehatan/31-solusimengatasi-overweight-dan-obesitas. Healthy News Service. (2006). Treating Obesity With Acupuncture. Chiangmai : http://www.healthy.net/scr/news.asp?Id=8456. Hoediono, Tjatchrisanto. (2006). Meridian Indonesian Journal of Acupuncture. Titik Akupunktur. edisi Desember. Surabaya : DPD PAKSI Jawa Timur. House of Commons Health Committee. (2004). Obesity. London : The Stationery Office Limited. Junqueira, L. Carlos., Alih bahasa Jan Tambayong. (1998). Histologi Dasar. Jakarta : EGC. Marinusa, Manius dan Rudi Kastono. (1999). Cermin Dunia Kedokteran. Mechanism of Acupuncture in Treating Obesity. edisi No. 123. Jakarta : Grup PT Kalbe Farma. Noviani. (2003). Obesitas dan Penyakit. Jakarta www.medikaholistic.com/2003/2004/11/28/medika.html. :

Ramayulis, Rita dan Lilis Christine Lesmana. (2008). 17 Alternatif Untuk Langsing. Jakarta : Penebar Plus. Saputra, Koosnadi dan Agustin Idayanti. (2005). Akupunktur Indonesia. Surabaya : Airlangga University Press. Satrio Pengertian Akupunktur. Oriental Clinic. (2009). http://satriocenter.com/pengertian-akupunktur. Jakarta :

51

Scanlon, Valerie C., Alih bahasa Awal Prasetyo. (2007). Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi. Jakarta : EGC. Subana, M dan Sudrajat. (2005). Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. Bandung : Pustaka Setia. Sudoyo, Aru et al. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tanzil, A. (2007). Metabolisme Energi. http://repository.ui.ac.id/dokumen/lihat/4017.pdf Jakarta :

Wardani, Lusie. (2008). Tentang Akupunktur, Pengertian Akupunktur. Surabaya : http://www.surabaya-ehealth.org/dkksurabaya/berita/pengobatantradisional-akupuntur. Werdhani, Retno Asti. (2009). Konsep Uji Z dan Uji T, Pemakaian pada Sampel Bebas dan Sampel Berpasangan. Jakarta : Departemen Fakultas Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI. Winata, Hendy. (2009). Obesitas, Demi Tuhan Hindarilah. Jakarta http://g1mobilephone.net/mobilephones/obesitas-demi-tuhanhindarilah :

Wu, Wen Lung dan Jo Mei Chiang. (2009). Acupuncture For Overweight. Houston: http://www.houstonacupunctureherb.com/weight_loss_acupuncture_h ouston_tx.htm. Yin, Ganglin and Zhenghua Liu. (1999). Advanced Modern Chinese Acupuncture Therapy. Beijing : New World Press.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful