Anda di halaman 1dari 68

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

ILMU UKUR WILAYAH

OLEH
SETIO ADIONO
05101002005

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDERALAYA
2011

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM


ILMU UKUR WILAYAH
OLEH
SETIO ADIONO
05101002005

Sebagai salah satu syarat untuk lulus dalam praktikum


ilmu ukur wilayah
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN
JRUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDERALAYA
2011

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM


ILMU UKUR WILAYAH
OLEH :
SETIO ADIONO
05101002005
Telah diterima sebagai syarat untuk lulus dalam praktikum ilmu ukur wilayah
Asisten 1

Indralaya, 23 desember 2011

Rahman arif
Asisten II
Mardian saputra
Asisten III

Asiten IV

Idham widdhiarta

M.Zainudin

RIWAYAT HIDUP

Setio adiono,
lahir di martapura pada tanggal 27 oktober 1992. Anak ke empat dari lima bersaudara
dari pasangan bapak sukamto (alm) dan ibu wiyati (almh).
Adapun riwayat pendidikan lulus dari SDN 136 OKU, pada tahun 2004. Kemudian
melanjutkan di di sekolah menengah pertama SMPN 1 Martapura kabupaten OKU
Timur dan di nyatakan lulus pada tahun 2007. Selanjutnya melanjutkan di SMAN 2
martapura OKU Timur, dan lulus pada tahun 2010. Dan mengambil jurusan
teknologi pertanian, program studi teknik pertanian di universitas sriwijaya melalui
jalur BIDIK MISI yang merupakan pilihan kedua.

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan atas kehadirat Allah SWT . karna berkat rahmat, dan
hidayahnya penulis dapat menyelesaikan laporan tetap ilmu ukur wilayah ini dengan
baik.
Ucapan trimakasih penulis tujukan kepada seluruh dosen pembimbing khususnya
bapak ir. Rahmad Hari Purnomo yang memberikan pengarahan dan bimbingan
selama praktikum. Para asisten pembimbing khususnya M.Zainudin, Rahman Arif,
Mardian Saputra, dan Idham Widdhiarta. Serta trimakasih pula kepada rekan-rekan
yang telah membantu dalam penulisan laporan tetap ilmu ukur wilayah sehingga
laporan selesai tepat pada waktunya.
Adapun laporan ini menguraikan tentang pengenalan alat theodolite, pengukuran titik
detil, menghitung jarak dengan theodolite, menghitung persen error pada
pengukuran, menggamnbar titik pengukuran menggunakan sudut, dan menggambar
sketsa lokasi pengukuran serta prmbustsn garis kontur. Tersedianya laporan ini di
pandang memiliki peranan yang cukup penting karena dapat membantu dalam
praktikum ilmu ukur wilayah selanjutnya.
Adalah harapan penulis kiranya apa yang di sajikan dalam laporan tetap ilmu ukur
wilayah ini ada manfaatnya terutama bagi mahasiswa teknologi pertanian terutama
teknik pertanian . namun tak ada gading yang tak retak begitupun laporan tetap ini
masih jauh dari sempurna oleh karenanya, kritik dan saran dari segenap pembaca
amat penulis harapkan guna kesempurnaan laporan yang akan datang.
Inderalaya, 23 desember 2011

Penulis

MOTTO:
Jangan takut mencoba, karna 1000 kegagalan dapat terbayarkan dengan 1
keberhasilan

PESAN:
%1.1

Belajar dengan rajin, karena dengan belajar kita dapat menambah

wawasan kita, terutama tentang alat theodolite, cara penggunaan theolite dan
pengukuran dengan thedolite.
%1.2

Jangan membenci dosen maupun asisten, karena ilmu yang di berikan

tidak dapat di serap oleh kita, akibat ketidak senangan kita pada dosen dan
asiasten.

KESAN:
%1.1

Menyenangkan belajar mata kuliah ilmu ukur wilayah terutama pada

praktikum meskipun melelahkan , karena kita dapat menggunakan alat


theodolite da di samping itu pula kita dapat lebih mengenal kakak tingkat.
namun kurang efektif karena terlalu banyaknya praktikan, jadi ada praktikan
yang jarang memegang alat.

%1.I PENDAHULUAN
%1.A

Latar Belakang

Ilmu ukur tanah adalah bagian dari ilmu geodesiyang mempelajari cara-cara
pengukuran di permukaan bumi dan di bawah tanah untuk menentukan posisi relative

atau absolute titik-titik pada permukaan tanah, di atasnya atau di bawahnya, dalam
memenuhi kebutuhan seperti pemetaan dan penetuan posisi relatifsuatu daerah
Pada dasarnya tujuan pengukuran adalah untuk menentukan letak atau
kedudukan suatu objek di atas permukaan bumi dalam suatu system koordinat
(umumnya dipergunakan apa yang disebut system koordinat geodetis). Dan dalam
pelaksanaan pengukuran itu sendiri yang dicari dan dicatat adalah angka-angka, jarak
dan sudut. Jadi koordinat yang akan diperoleh adalah dengan melakukan
pengukuran-pengukuran sudutterhadap system koordinat geodetic tersebut
(Sosrosodarsono, 1997).
Jadi pengukuran di atas permukaan bumi dan proses perhitungannya pun
akan lebih sukar dibandingkan dengan pengukuran yang dilakukan pada bidang
datar. Pengukuran yang dilaksanakan dengan mempertimbangkan bentuk lengkungan
bumi disebut dengan geodesi, sedangkan pengukuran yang dilakasanakan tampa
mempertimbangkan bentuk lengkungan bumi Pengukuran titik-titik kontrol (control
survey) adalah pekerjaan pengukuran pemasangan patok-patok yang kelak akan
digunakan sebagai titik-titik dasar dalam berbagai macam pekerjaan pengukuran.
Pengukuran yang dilakukan untuk memperoleh hubungan posisi di antara titik-titik
dasar yang disebut juga dengan titik-titik kontrol yang hasilnya akan dipergunakan
untuk pengukuran detil yang akhirnya berupa peta-peta, peta udara dan lain-lain
Dalam praktikum ini kita memakai Plane Surveying (Ilmu Ukur Tanah).
Ilmu Ukur tanah dianggap sebagai disiplin ilmu, teknik dan seni yang
meliputi semua metoda untuk pengumpulan dan pemrosesan informasi tentang
permukaan bumi dan lingkungan fisik bumi yang menganggap bumi sebagai bidang
datar, sehingga dapat ditentukan posisi titik-titik di permukaan bumi. Dari titik yang
telah didapatkan tersebut dapat disajikan dalam bentuk peta.
B. Tujuan
Untuk mengetahui pengukuran jarak, sudut , dan tinggi pada suatu wilayah dengan
menggunakan alat theodolite.

%1.II TINJAUAN PUSTAKA


Ilmu ukur Wilayah adalah ilmu tentang pengukuran terhadap permukaan
bumi. Pengukuran-pengukuran dibagi dalam pengukuran yang mendatar untuk
mendapatkan hubungan mendatar titik yang diukur permukaan bumi dan
pengukuran-pengukuran tegak, guna mendapat hubungan tegak antar titik-titk yang
diukur .
Untuk memperoleh data-data lapangan baik jarak maupun sudut, dalam
praktikum ini kami menggunakan alat-alat perantara sebagai berikut :
%1.A Theodolit
Theodolit merupakan alat yang didesain khusus untuk mengukur sudut, akan
tetapi pada praktek di lapangan theodolit dapat digunakan pula untuk mengukur
jarak.
Bagian-bagian alat ukur theodolite

Keterangan gambar theodolite T0 :


%1.1

Plat dasar

%1.2

Sekerup penyetel ABC

%1.3

Tribrack

%1.4

Klem penggerak halus (alhidade) Horisontal

%1.5

Klem sumbu horisontal (II)

%1.6

Klem penyeimbang nivo tabung

%1.7

Nivo kotak

%1.8

Lensa Okuler teropong

%1.9

ronsel penjelas bayangan

%1.10

visir pembantu pembidikan

%1.11

Nivo tabung

%1.12

Sekerup koreksi nivo

%1.13

Reflektor sinar

%1.14

Klem sumbu I vertikal

%1.15

Penggerak halus vertikal

%1.16

Plat Pelindung

%1.17

Lensa Obyektif teropong

%1.18

Mikroskop pembacaan

%1.19

Sekerup penyetel benang stadia

Cara Pemakaian dan Pembacaan Theodolite T0


Pembidikan Dengan Teropong
Membidik target (rambu) dilakukan untuk mendapatkan data ukuran sudut
dan jarak, setelah sebelumnya alat berdiri dan dilakukan pengaturan alat. Adapun
langkah-langkah membidik dengan teropong sebagai berikut :

Arahkan teropong ke target (rambu), gunakan visir untuk memudahkan


pendekatan awal ke target sasaran. Gunakan ronsel penjelas bayangan untuk
memperjelas target agar benar-benar terlihat jelas.

Setelah teropong mengarah ke target, kunci klem horisontal dan klem sumbu
II (horisontal).

Untuk membidik rambu tepat ditengah-tengah rambu, gerakan teropong


dengan klem penggerak halus horisontal.

Untuk mendapatkan posisi bacaan rambu yang tepat, gerakan teropong ke


arah atas atau bawah dengan menggunakan klem penggerak halus vertikal.

Baca rambu dan catat

Apabila benang silang (stadia) kurang terlihat dengan jelas, putar lensa okuler
teropong ke arah putaran kiri ataupun kanan sehingga benang silang tampak
jelas.

Pembacaan Rambu
Berbagai jenis dan ukuran rambu yang diproduksi oleh masing-masing
produsen alat ukur. Hal yang perlu diperhatikan dari rambu adalah :

Skala rambu dalam cm atau mm atau interval jarak pada garis-garis dalam
rambu tersebut setiap berapa cm atau berapa mm.

Skala dari rambu, terutama pada daerah sambungan rambu harus benar.

Rambu berdiri tepat di atas target, posisi tegak lurus dengan arah bacaan
menghadap ke arah theodolit yang sedang membidik.

Salah satu contoh pembacaan skala pada rambu ukur :

Keterangan dari gambar :

bb = 100 cm

ba = 108 cm

bt = 104 cm

sebagai pengecekan : bt = (ba-bb)/2

Pembacaan Skala Vertikal dan Skala Horisontal

Untuk sistem pembacaan koinsidensi (sistem bacaan ganda) memiliki kondisi


sebagai berikut :

Pembacaan lingkaran horisontal memiliki 2 mikroskop pembacaan dan 1


mikroskop untuk lingkaran vertikal.

Pada pembacaan mikroskopnya dua bacaan piringan terlihat menjadi satu


pembacaan dengan arah berbalikan.

Pada mikroskop baca akan nampak garis-garis skala S dan S yang berbalikan
yang umumnya tidak berimpit. Dengan menggunakan mikrometer garis-garis
skala S dan S diimpitkan. Besarnya pergeseran dibaca pada mikrometer.
Harga bacaan skala merupakan penjumlahan bacaan pada skala S dengan
bacaan pada mikrometer.

Contoh pembacaan skala secara koinsidensi pada piringan horisontal dapat


ditunjukkan sebagai berikut :

Penjelasan :

Skala utama yang dibaca adalah angka yang nampak tegak (S)

Cari angka pada skala S dan S yang berdekatan dan berselisih 180. Angka
dimaksud adalah 240 dan 60(terbalik).

Angka 240 dengan 60 berjarak 2 kala, dimana 1 skala utama harganya 20,
maka pergeserannya adalah 2 x 20 = 40.

dibaca pada mikrometer, Selebihnya yaitu 56.


Kesalahan dalam pengukuran menggunakan alat ukur theodolite

Pengukuran adalah pengamatan dari besaran (jarak, sudut, tinggi, dll).


Pengamatan tidak luput dari kesalahan-kesalahan. Ada tiga jenis kesalahan kesalahan
yaitu :
Kesalahan Kasar (blunders)
Kesalahan ini terjadi karena : kurang hati-hati (sembrono), kurang
pengalaman dan kurang perhatian. Sebagai catatan bahwa dalam pengukuran
kesalahan ini tidak boleh terjadi, bila terjadi harus diulang !. Contoh-contoh
kesalahan blunder

Salah baca : 3 dibaca 8, 6 dibaca 9, 7 dibaca 9

Salah catat : misalkan 1 rentangan pengukuran tidak tercatat, atau salah


menempatkan data ukuran (sudut horisontal terbalik dengan helling)

Salah dengar

Kesalahan Sistematis
Kesalahan sistematis umumnya terjadi metode atau cara pengukuran yang
salah dan karena alat ukur yang dipakai itu sendiri. Contoh penyebab yang terkait
dengan alat ukur :

Syarat pengaturan alat tidak lengkap

Unting-unting tidak digunakan, dll

Penyinaran pada alat bacaan tidak merata

Skala Rambu, kesalahan titik nol rambu

Kesalahan Acak
Akan terlihat apabila dilakukan pengamatan yang berulang-ulang. Beberapa
contoh yang mengakibatkan kesalahan acak :

Getaran tanah atau tanah tidak stabil.

Atmosfer bumi

Psikis pengamat (contoh : faktor kelelahan)

kesalahan ini dapat dibetulkan dengan hitung perataan apabila terdapat data
yang cukup

%1.B Pengukuran Sudut Dan Jarak


Pada pengukuran terdapat dua jenis unsur pengukuran, yaitu jarak dan sudut.
Selanjutnya unsur jarak dapat dibagi dua pula, yaitu unsur jarak mendatar (d) dan
beda tinggi (h). Sedangkan unsur sudut dibagi menjadi sudut sudut horizontal,
vertical dan sudut jurusan. Sudut ini berperan penting dalam kerangka dasar
pemetaan yang datanya diperoleh dari lapangan dengan alat yang dirancang
sedemikian rupa konstruksinya sesuai dengan ketelitian. Alat ini dikenal sebagai alat
ukur ruang (Theodolit).
Sedangkan untuk mengukur beda tinggi antara dua titik atau lebih
dipermukaan bumi digunakan alat ukur penyipat datar (waterpass). Untuk
pengukuran jarak dari suatu titik ke titik lain dapat digunakan pita ukur, waterpass
dengan bantuan rambu ukur, atau dengan metoda Tachymetri.
Mengenal Beberapa Metode Pengukuran Jarak
Pengukuran merupakan awal dari pekerjaan pemetaan. Penentuan bentuk
kerangka dasar pemetaan yang sesuai dengan kondisi di lapangan menentukan pula
cara penyelesaian pengukuran itu sendiri.
Pemakaian bentuk poligon lebih banyak digunakan dibandingkan dengan
yang lainnya karena ada beberapa keuntungan diantaranya :

Bentuknya dengan mudah dapat disesuaikan dengan daerah yang akan


dipetakan.

Pengukuran sederhana

Peralatan mudah didapat

Perhitungan mudah

PENGUKURAN JARAK SISTEM STADIA (TACHIMETRI)

Sistem stadia yaitu apabila pada teropong terdapat benang stadianya, yaitu
benang atas (ba), benang tengah (bt) dan benang bawah (bb). Pada pengukuran
dilapangan teropong digunakan dalam keadaan miring dengan kemiringan a terhadap
bidang mendatar yang melalui sumbu II teropong. Adapun Rumus untuk menghitung
jarak dimana kondisi teropong miring yaitu :
D = B cos h + A .Y Cos2 h
(B cos h) merupakan konstanta penambah pada teropong miring, besarnya
kecil sekali, sehingga diabaikan. Bahkan pada alat-alat yang ada konstanta penambah
sudah diset menjadi nol. Sehingga :
D = A .Y Cos2
Dimana:

D = jarak datar

A = konstanta pengali ( dibuat nilai 100 oleh pabrik)

Y = selisih benang atas (ba) dan benang bawah (bb)

h = sudut helling/ kemiringan teropong

Hal yang perlu diingat :


Pada bacaan yang kita baca pada piringan vertikal yang terbaca adalah sudut
zenith, sehingga sudut helling didapat dengan mengurangkan bacaan sudut zenith
tersebut sebagai berikut, lihat ilustrasi :

Tapi apabila kita menggunakan langsung sudut zenith terhadap hitungan


maka rumusnya menjadi :
D = A .Y Sin2 z

PENGUKURAN JARAK SISTEM TANGENSIAL


Sistem ini dipakai karena teropong yang tidak mempunyai benang stadia,
sehingga rambu hanya dibaca benang tengahnya saja. Untuk itu dilakukan
pembacaan ke rambu minimal dua kali dengan sudut miring yang berbeda. Sistem
tangensial pun dapat dilakukan pada theodolit yang teropongnya memiliki benang
stadia.

Keterangan gambar :

DAB : jarak datar AB

T : tinggi alat

E : perpotongan bidang datar melalui sumbu II dengan garis gaya berat


melalui B

Bt1 , Bt2 : pembacaan rambu (benang tengah)

a1,a2 : sudut miring teropong

S : Bt1 - Bt2 (selisih pembacaan antara 2 benang tengah)

Dari gambar didapat hubungan sebagai berikut :


Bt1- E = DAB . tg a1
Bt2- E = DAB . tg a2
S = DAB (tg a1- tg a2)
Sehingga jarak dapat dihitung dengan rumus :

Pengukuran Sudut
Pengukuran sudut dapat dilakukan dengan alat penyipat ruang (Theodolit),

dan pengukuran yang akan dilaksanakan dalam praktikum ini adalah meliputi :
A.

Pengukuran sudut Horizontal

B.

Pengukuran sudut Vertikal

C.

Pengukuran Sudut Jurusan (dengan menggunakan kompas pada theodolit)


Pengukuran sudut Horizontal
Sudut Horizontal adalah sudut antara 2 arah dari satu titik, setelah

diproyeksikan dengan bidang horizontal. Sudut vertikal adalah sudut antara sebuah
arah dengan bidang horizontal (elevasi dan depresi) atau antara sebuah arah dengan
bidang vertikal (sudut zenith).
Pengukuran Sudut Vertikal
Sudut vertikal adalah sudut antara sebuah arah dengan bidang horizontal
(elevasi dan depresi) atau antara sebuah arah dengan bidang vertikal (sudut zenith).
Pada saat pengukuran sudut horizontal dititik A dan titik B, dapat dilakukan sekaligus
pembacaan sudut vertikal dan dapat dilihat hasilnya pada layar pembacaan dalam
satuan seksagesimal. Lain halnya dengan pembacaa sudut Vertikal pada pesawat
theodolit sederhana, kita harus menyetel terlebih dahulu nivo konsuidensi
membentuk huruf U. Tapi pada pesawat EDT yang kita gunakan tidak ada penyetelan
nivo konsuidensi.

Pengukuran Jarak

Secara Konvensional
Cara ini menggunakan pita ukur atau rantai ukur, ada beberapa cara yang
harus diperhatikan dalam menggunakan cara ini, yaitu :

Jika jarak yang diukur adalah jarak mendatar, pita atau rantai ukur harus dalam
keadaan tegang dan datar.

Jika jarak melebihi panjang pita, maka pengukuran dilakukan secara bertahap.

Pengukuran dilakukan pulang pergi untuk satu slag pengukuran.

Gunakan pita ukur yang baik.


Kesalahan Dalam Pengukuran
Dalam pengukuran ada bermacam- macam kesalahan dan yang sering terjadi

dilapangan ada tiga macam kesalahan dalam pengukuran yaitu :


Kesalahan yang disebabkan oleh alat
Kesalahan karena alat ukut theodolit yang sangat peka terhadap goncangan
dan
tekanan maka alat ukur ditempatkan pada kotak yang sedemiklan rupa. Karena sering
berpindah- pindah maka theodoit juga, akan terguncang- guncang bahkan
terbanting dan akan mengalami perubahan misalnya nivo tidak bisa ditengah waktu
distel, centring akan berubah jika dilihat disisi lain, pembacaan biasa dan luar biasa
pada pembacaan sudut horizontal dan vertikal akan mengamlami selisih yang
besar, maka alat tersebut harus dikalibrasi. Kesalahan juga bisa karena rambu ukur
misalnya pada waktu memegang rambu letakkya tidak vertikal, bagian bawah
rambu sudah rusak, rambu terbenam dilumpur sambungan rambu yang tidak tepat,
rambu sudah rusak sehingga tulisannya tidak jelas yang menyulitkan surveyor
untuk-membacanya.
C. PENGUKURAN POLIGON
Poligon berasal dari kata poly yang berarti banyak dan gono yang berarti
sudut. Jadi poligon merupakan suatu rangkaian sudut banyak atau deretan titik yang
menghubungkan dua titik tetap. Berdasarkan kepada titik tetap (koordinat yang
diketahui) dan bentuk geometriknya, secara umum poligon dibedakan atas 3 macam,
yakni :
Poligon Sempurna

Merupakan poligon yang deretan titik-titik nya terikat pada titik-titik tetap
pada awal dan akhir poligon tersebut serta diketahui azimuth awal dan azimuth
akhirnya. Hasil ukuran dapat dikontrol dan diketahui kesalahannya, melalui proses
hitungan perataan.
Poligon lepas atau poligon tidak sempurna
Poligon yang deretan titik-titiknya hanya terikat pada satu titik tetap. Dalam
hal ini, hasil ukuran dan kesalahan nya tidak dapat dikontrol.
Poligon Tertutup
Poligon yang deretan titik-titiknya terikat pada satu titik tetap yang berfungsi
sebagai titik awal sekaligus titik akhir, hasil pengukuran dapat dikontrol dan
diketahui kesalahannya.
Tahapan Persiapan
Yang harus dipersiapkan sebelum melakukan pengukuran poligon adalah :
1. Tabel pengukuran untuk pengambilan data Poligon dan Beda tinggi.
2. Persiapan patok untuk penentuan titik-titik poligon.
3. Persiapan alat-alat ukur seperti theodolit, waterpass, beserta statip, baak ukur,
kompas, meteran, payung (untuk pesawat theodolit dan waterpass), dan GPS.
Pengukuran
Pengukuran dilakukan pada tiap-tiap titik atau patok untuk pesawat theodolit.
Dan untuk waterpass, pesawat diletakkan antara 2 titik poligon. Pengukuran untuk
pesawat theodolit meliputi pengukuran sudut horizontal (H), sudut vertikal (V) (biasa
dan luar biasa), pengukuran jarak baik dengan memakai baak ukur (optis/tidak
langsung), maupun pengukuran secara langsung dengan menggunakan meteran.
Untuk pengukuran jarak datar tak langsung (optis) posisi pesawat theodolit harus
pada sudut vertikal 90o.
Selain itu pengukuran tambahan dapat dilakukan, yaitu dengan menggunakan
titik lain (titik ikat/detail). Misalnya bangunan, jalan, pohon, dan lain-lain.
Pengukurannya juga meliputi tabel pengukuran poligon.sedangkan untuk pengukuran
azimuth awal dilakukan dengan menggunakan kompas. Pengukuran untuk beda

tinggi dilakukan pembacaan benang atas (ba), benang tengah (bt) dan benang bawah
(bb).
Pemetaan Poligon
Setelah didapatkan koordinat masing-masing titik poligon, maka hasil
koordinat tersebut dipetakan dalam sebuah grafik, begitu pula dengan beda tinggi
tiap-tiap titik tersebut. Grafik yang kita dapatkan tersebut dapat dijadikan satu,
sehingga dalam grafik itu dapat dilihat koordinat titik, jarak antar titik, dan
ketinggian tiap titik, serta beda tinggi antar titik nya.

%2.D

Kontur

Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan ketinggian


sama. Nama lain garis kontur adalah garis tranches, garis tinggi dan garis lengkung
horisontal. Garis kontur + 25 m, artinya garis kontur ini menghubungkan titik-titik
yang mempunyai ketinggian sama + 25 m terhadap referensi tinggi tertentu.
Garis kontur dapat dibentuk dengan membuat proyeksi tegak garis-garis
perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi ke bidang mendatar peta.
Karena peta umumnya dibuat dengan skala tertentu, maka bentuk garis kontur ini
juga akan mengalami pengecilan sesuai skala peta.
Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai
ketinggian yang sama dari suatu datum/bidang acuan tertentu. Konsep dari garis
kontur dapat dengan mudah dipahami dengan membayangkan suatu kolam air. Jika
air dalam keadaan tenang, maka tepi permukaan air menunjukkan garis yang
mempunyai ketinggian yang sama dan garis tersebut akan menutup pada tepi kolam
membentuk garis kontur.
Jika permukaan air turun, sebagai contoh permukaan air turun 5 meter, maka tepi
dari permukaan air akan membentuk garis kontur yang kedua.

Garis-garis kontur merupakan garis-garis yang kontinu dan tidak dapat


bertemu atau memotong garis kontur lainnya dan tidak pula dapat bercabang menjadi
garis kontur yang lain, kecuali pada hal kritis seperti jurang atau tebing.
Interval Kontur dan Indeks Kontur
Interval kontur adalah jarak tegak antara dua garis kontur yang berdekatan.
Jadi juga merupakan jarak antara dua bidang mendatar yang berdekatan. Pada suatu
peta topografi interval kontur dibuat sama, berbanding terbalik dengan skala peta.
Semakin besar skala peta, jadi semakin banyak informasi yang tersajikan, interval
kontur semakin kecil. Indeks kontur adalah garis kontur yang penyajiannya
ditonjolkan setiap kelipatan interval kontur tertentu; mis. Setiap 10 m atau yang
lainnya. Rumus untuk menentukan interval kontur pada suatu peta topografi adalah
i= (25 / jumlah cm dalam 1 km) meter, atau
i = n log n tan a , dengan n = (0.01 S + 1)1/2 meter.
Contoh:
Peta dibuat pada skala 1 : 5 000, sehingga 20 cm = 1 km,
maka i = 25 / 20 = 1.5 meter.
Peta dibuat skala S = 1 : 5 000 dan a = 45 ,
maka i = 6.0 meter.
Sifat Garis Kontur
a. Garis-garis kontur saling melingkari satu sama lain dan tidak akan saling
berpotongan.
b. Pada daerah yang curam garis kontur lebih rapat dan pada daerah yang landai lebih
jarang.

c. Pada daerah yang sangat curam, garis-garis kontur membentuk satu garis.
d. Garis kontur pada curah yang sempit membentuk huruf V yang menghadap ke
bagian yang lebih rendah.Garis kontur pada punggung bukit yang tajam membentuk
huruf V yang menghadap ke bagian yang lebih tinggi.
e. Garis kontur pada suatu punggung bukit yang membentuk sudut 90 dengan
kemiringan maksimumnya, akan membentuk huruf U menghadap ke bagian yang
lebih tinggi.
f. Garis kontur pada bukit atau cekungan membentuk garis-garis kontur yang
menutup-melingkar.
g. Garis kontur harus menutup pada dirinya sendiri.
h. Dua garis kontur yang mempunyai ketinggian sama tidak dapat dihubungkan dan
dilanjutkan menjadi satu garis kontur.
Kemiringan Tanah dan Kontur Gradient
Kemiringan tanah a adalah sudut miring antara dua titik = tan-1(D hAB/sAB).
Sedangkan kontur gradient b adalah sudut antara permukaan tanah dan bidang
mendatar. Titik-titik yang menggambarkan kontur gradient harus dipilih dalam
pengukuran titik detil sehingga dapat dibuat interpolasi linier dalam penggambaran
garis kontur di daerah pengukuran.
Kegunaan Garis Kontur
Selain menunjukkan bentuk ketinggian permukaan tanah, garis kontur juga
dapat digunakan untuk:
%1.a

Menentukan potongan memanjang ( profile, longitudinal sections )

antara dua tempat.


%1.b

Menghitung luas daerah genangan dan volume suatu bendungan.

%1.c

Menentukan route / trace dengan kelandaian tertentu.

%1.d

Menentukan kemungkinan dua titik di langan sama tinggi dan saling

terlihat
Penentuan dan Pengukuran Titik Detil Untuk Pembuatan Garis Kontur

Semakin rapat titik detil yang diamati, maka semakin teliti informasi yang
tersajikan dalam peta. Dalam batas ketelitian teknis tertentu, kerapatan titik detil
ditentukan oleh skala peta dan ketelitian (interval) kontur yang diinginkan.
Pengukuran titik-titik detil untuk penarikan garis kontur suatu peta dapat dilakukan
secara langsung dan tidak langsung.
Pengukuran tidak langsung
Titik-titik detil yang tidak harus sama tinggi, dipilih mengikuti pola tertentu,
yaitu: pola kotak-kotak (spot level), pola profil (grid) dan pola radial. Titik-titik detil
ini, posisi horizontal dan tingginya bisa diukur dengan cara tachymetri - pada semua
medan, sipat datar memanjang ataupun sipat datar profil - pada daerah yang relatif
datar.
Pengukuran langsung
Titik-titik detil ditelusuri sehingga dapat ditentukan posisinya dalam peta dan
diukur pada ketinggian tertentu - ketinggian garis kontur. Cara pengukurannya bisa
menggunakan cara tachymetri atau cara sipat datar memanjang dan diikuti dengan
pengukuran polygon. Cara pengukuran langsung lebih rumit dan sulit
pelaksanaannya dibanding dengan cara tidak langsung, namun ada jenis kebutuhan
tertentu yang harus menggunakan cara pengukuran kontur cara langsung, misalnya
pengukuran dan pemasangan tanda batas daerah genangan.

%1.IIIMETODOLOGI
%1.A

Waktu dan Tempat


Praktikum Ilmu Ukur Wilayah ini dilakukan setiap hari Sabtu pukul

07.30 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Bertempat di mulai dari Lahan Jurusan
Teknologi Pertanian, kearah fakultas MIPA kemudian kearah belakang di lahan
percobaan agronomi ( jurusan BDP), lalu kearah belakang jurusan teknologi
pertanian kearah lapangan bola volley belakang dekanat , di lanjutkan di jalan
fakultas pertanian dan berakhir kembali di jurusan teknologi pertanian. pada
semester ganjil 2010-2011 Universitas Sriwijaya. pada 15 oktober 2011 sampai
10 Desember 2011.
%1.B

Metode

Pasang Tripot dengan benar

Letakkan benda silinder diatas tripot guna memastikan posisi tripot sejajar

Pasang theodolit, kunci tripot

Atur waterpass

Arahkan teropong menuju papan baca

Tentukan titik pembacaan

cata hasil

%1.C

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum Ilmu Ukur Wilayah adalah :


1). Tripot,
2). Theodolit,
3). Papan baca,
4). Benda Silinder,

5). Payung,
6).Patok,
7). Meteran,
8). Bor tanah,
10). Parang

%1.IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A.HASIL
1. tabel data pengukuran
Titik Ukur
Poligon
PA1-Depan
P1
Ts1
Ts2
Ts3
PA2-Blkng
P1
Ts1
Ts2
Ts3
PA2-Depan
P2
Ts4
Ts5
Ts6
PA3-Blkng
P2
Ts4
Ts5
Ts6
PA3-Depan
P3
Ts7
Ts8
Ts9
PA4-Blkng
P3
Ts7
Ts8
Ts9
PA4-Depan
P4
Ts10
Ts11

Tinggi
Alat

Bacaan
Sudut
V
H

Jarak ( m )

Benang

Manual

Alat

Atas

Tengah

Bawah

90o
130 cm 90o
90o
90o

182o
182o
182o
182o

20
14
19
17

20
14
18.5
17

15.75
14.4
14.2
14.1

14.8
13.7
13.25
13.25

13.75
13
12.35
12.4

90o
140 cm 90o
90o
90o

181o
183o
176o
181o

9.5
19.2
7.5
9

9.5
20
8
3.5

15.95
15.4
14.35
14.35

15.5
14.4
13.95
13.45

15
13.4
13.55
14

90o
140 cm 90o
90o
90o

181o
181o
181o
181o

10.9
9
10
14

11
9
10
14

13.5
12.3
14.1
13.4

12.95
11.85
13.6
12.7

12.4
11.4
13.1
12

90o
90o
138 cm
90o
90o

180o
180o
180o
180o

8.1
15.2
6.8
15.6

8
10
10
14.2

14.35
13
15
14.4

13.95
12.7
14.6
13.6

13.55
12
14
12.98

90o
90o
138 cm
90o
90o

182o
180o
182o
182o

12.3
15
12
12

13
14.5
12
12

12.3
14.75
11.4
10.6

11.7
14
10.8
10

11.00
13.3
10.2
9.4

90o
90o
90o
90o

272o
272o
272o
272o

9.5
20.25
9
10.5

10
20
9
10

16
18.9
15
14.3

15.5
17.9
14.6
13.9

15
16.9
14.1
13.3

90o
90o
90o

183o
182o
183o

10.5
11
11

11
12
10

4.6
4
3.3

4.2
3.4
2.8

3.5
2.8
2.3

95 cm
95 cm

Ts12
PA5-Blkng
P4
Ts10
Ts11
Ts12
PA5-Depan
P5
Ts13
Ts14
Ts15
Titik Ukur
Poligon
PA6-Blkng
P5
Ts13
Ts14
Ts315
PA6-Depan
P6
Ts16
Ts17
Ts18
PA7-Blkng
P6
Ts16
Ts17
Ts18
PA7-Depan
P7
Ts19
Ts20
Ts21
Ts31
PA8-Blkng
P7
Ts19
Ts20
Ts21
Ts31
PA8-Depan
P8
Ts22
Ts23
Ts24

99 cm

90o

183o

12

10

5.7

5.2

4.7

90o
90o
90o
90o

2.5o
0o
1o
2.5o

10.35
12.4
9
9.85

10
9
10
13

17.5
16.8
16.2
18.8

17
16.3
15.7
18.1

16.5
15.9
15.2
17.5

10
11
12
14

10
11
11
14

4.4
4.3
5.9
3.5

4
3.9
5.4
2.8

3.4
3.2
4.8
2.1

90o 3.5o
90o
1o
o
124.5 cm 90
0.5o
90o 0.25o
Bacaan
Tinggi
Sudut
Alat
V
H
99 cm

Jarak ( m )

Benang

Manual

Alat

Atas

Tengah

Bawah

90o
130 cm 90o
90o
90o

91o
93o
91o
92o

18.4
25
14
14

18.5
21
13.5
14

18.7
18.6
17.25
14.65

18
17.55
16.55
13.95

16.85
16.5
15.9
13.25

90o
113 cm 90o
90o
90o

91o
91o
91o
92o

15.5
12
17
18

16
12
17
18

11
11.2
10.05
7.9

10.2
11
9.2
7

9.4
10
8.35
6.1

90o
121.2 cm 90o
90o
90o

92o
92o
92o
92o

19.9
13
17

20
20
13
18

17.6
17.6
15.5
13.6

16.6
16.6
14.8
12.7

15.6
15.6
14.2
11.8

90o
90o
121.2 cm 90o
90o
90o

92o
92o
92o
92o
92o

15.5
18
15
16
8.1

16
18
15
8
16

12.7
9.6
12.3
13.5
10.3

11.9
8.7
11.6
13.1
9.5

11.1
7.8
10.8
12.7
8.7

90o
90o
131 cm 90o
90o
90o
131 cm
90o
90o
90o
90o

92o
92o
92o
92o
92o

14.25
16.2
14
17
15.5

14.5
16
14
17

15.05
12.05
14.9
13.05
16.8

14.35
11.25
14.2
12.2
14.7

13.6
10.45
13.5
11.35
16.95

16
12.4
15
16

14.6
13.14
13.9
11.9

13.8
12.7
13.1
11.1

13
11.9
12.4
10.3

92o
92o
92o
92o

15.5
15
16

Ts32
Titik Ukur
Poligon
PA9-Blkng
P8
Ts22
Ts23
Ts24
Ts24
PA9-Depan
P9
Ts25
Ts26
Ts27
Ts33
PA10-Blkng
P9
Ts25
Ts26
Ts27
Ts33
PA10-Depan
P10
Ts28
Ts29
Ts30
Ts34Blkng
Ts35
PA11-Blkng
P10
Ts28
Ts29
Ts30
Ts35
PA11-Depan
P11
Ts36
Ts37
Ts38
Ts39
PA12-Blkng
P11
Ts36
Ts37

90o

92o

14.15

13.95

13.75

Tinggi Bacaan Sudut


Jarak ( m )
Alat
V
H
Manual Alat

Benang
Atas

Tengah

Bawah

90o
90o
136 cm
90o
90o
90o

258o
272o
41o
16.5o
36o

14.2
19.8
15
17
27.8

14
20
15
17
27.8

14.8
12.9
14.1
12.3
15.58

14.1
12.9
13.4
11.5
14.3

13.4
11.9
12.6
10.6
12.8

90o
90o
136 cm
90o
90o
90o

209o
187.5o
223.5o
247o
287.5o

16.7
16
17
18
5.25

15
15
16
19
5

15.4
14.9
14.5
13.3
13.3

14.6
14.2
13.7
12.3
13.1

13.9
13.4
12.9
11.4
12.8

90o
90o
135.5 cm o
90
90o
90o

25.5o
37o
11o
346.5o
3.5o

16.3
21
15
17.05

16
21
15
18
28

13.9
13.6
12.8
11.6
12.8

13.2
12.5
12.1
10.7
11.4

12.3
11.5
11.3
9.8
10

90o
90o
135.5 cm 90o
90o
90o
90o

173o
228o
191o
147o
347o
196.5o

15
12
15
14
8.8
37.7

16
12
14
14
9
38

15.2
11.4
14.8
15.2
13.5
21.28

14.3
10.7
14.2
14.5
13.1
19.38

13.6
10.2
13.7
13.8
12.6
17.48

90o
90o
143 cm
90o
90o
90o

8.5o
346o
359o
16.5o
305.5o

26.10
32.20
25.80
32
5.80

27
33
24
25
6

10.9
7.6
10.6
11.3
15.1

9.6
5.8
9.4
9.7
14.8

8.2
4.3
8.2
8.1
14.5

90o
90o
143 cm
90o
90o
90o
143 cm
90o
90o
90o

136o
181o
196o
212o
147.5o

5
18
21
18
17

5
18
20
17
15.8

16.5
17.8
20.18
13.9
15.08

16.2
16.9
19.18
13.1
14.3

16
16
18.18
12.2
13.5

346.5o
338o
300o

23.70
9
8.50

23
9
7

12.9
12.9
15.08

11.8
12.4
14.68

10.6
12
14.38

Ts38
Ts39
Titik Ukur
Poligon
PA12-Depan
P12
Ts40
Ts41
Ts42
Ts43
PA13-Blkng
P12
Ts40
Ts41
Ts42
Ts43
PA13-Depan
P13
Ts44
Ts45
Ts46
Ts47
PA14-Blkng
P13
Ts44
Ts45
Ts46
Ts47
PA14-Depan
P14
Ts48
Ts49
Ts50
Ts51
PA15-Blkng
P14
Ts48
Ts49
Ts50
Ts51
PA15-Depan
P15
Ts52
Ts53
Ts54
Ts55

90o
90o

300o
14o

14.80
15.90

15
16

9.2
10.5

8.5
9.7

7.7
8.9

Tinggi Bacaan Sudut


Jarak ( m )
Alat
V
H
Manual Alat

Benang
Atas

Tengah

Bawah

90o
90o
143 cm
90o
90o
90o

130o
15o
171o
180o
136o

7.40
15
23.9
20
20

8
15
24
20
20

16.5
17
19.18
16.48
14.4

16.1
16.2
17.98
15.48
13.4

15.7
15.5
16.78
14.48
12.4

90o
90o
140 cm
90o
90o
90o

27o
20o
357o
355.5o
46o

29
20
12.6
18.3
20

20
20
12
18
20

12.5
12.2
13.6
11.4
9.5

11
11.2
13
10.5
8.5

10.5
10.2
12.4
9.6
7.5

90o
90o
140 cm
90o
90o
90o

126.5o
199o
211o
228o
166.5o

4.10
15
20.8
16
17

5
15
20
16
17

14.6
16.7
19.58
18.3
11

14.3
16
18.58
17.5
10.1

14.1
15.2
17.58
16.7
9.3

90o
90o
141 cm
90o
90o
90o

60.5o
50.5o
359o
14o
94o

23.10
9
5.8
12.6
13.5

23
9
6
12
13

12.2
13
15.48
14.8
7.4

11
12.6
15.18
14.2
6.8

9.9
12.1
14.9
13.6
6.1

90o
90o
141 cm
90o
90o
90o

174o
274o
244o
231o
205o

4.53
11.6
19.8
16
18.7

5
11
20
16
19

15.7
18.2
20.88
18.2
15.08

15.4
17.6
19.88
17.4
14.08

15.2
17.1
18.88
16.6
13.08

90o
90o
140.2 cm o
90
90o
90o

22o
345o
327o
12o
63o

21.7
17.4
6.6
7.7
10.6

21
18
5.8
8
10

11.5
13.7
15.2
12.7
9.5

10
12.8
14.9
12.3
9

9.4
11.9
14.6
11.9
8.5

90o
90o
140.2 cm o
90
90o
90o

150o
229o
205o
195o
175o

5.1
16
28.10
27.5
26.7

4
16
30
26
27

17
19.4
27.18
24.78
23.28

16.8
18.6
25.78
23.38
21.88

16.6
17.8
24.18
22.18
20.58

Titik Ukur
Poligon

Tinggi Bacaan Sudut


Jarak ( m )
Alat
V
H
Manual Alat

PA16-Blkng
P15
90o
Ts52
90o
133.3 cm o
Ts53
90
Ts54
90o
Ts55
90o
PA16-Depan
P16
90o
Ts56
90o
133.3 cm o
Ts57
90
Ts58
90o
Ts59
90o
PA17-Blkng
P16
90o
Ts59
90o
139 cm
Ts58
90o
Ts56
90o
Ts57
90o
PA17-Depan
P10
90o
139 cm
Ts28
90o
Ts29
90o
PA18-Blkng
P18
90o
142 cm
Ts60
90o
P17
90o
PA18-Depan
P9
142 cm 90o
Ts61
90o
PA19-Blkng
Ts61
90o
P19
143 cm 90o
P320
90o
Ts62
90o
Tinggi
Alat

PA20-Blkng
P20
Ts62
PA20-Depan
P21

132 cm 90o
90o
132 cm
90o

Atas

Tengah

Bawah

232o
196o
170o
223o
275o

28.4
21.2
7.1
4.2
9.5

19
20
7
4
10

6.1
7.5
14.2
11.6
10.2

4.7
6.5
13.5
11.4
9.7

3.2
5.5
12.5
11.2
9.2

349o
102o
71o
49o
24o

3.7
12.6
17.4
14.2
13.8

4
13
17
15
14

15.0
16.8
24.5
19.3
20.5

14.8
16.1
23.6
18.6
19.8

14.6
15.5
22.8
17.8
19.1

347o
195o
335o
310o
302o

23.45
13.13
11
21.2
12.15

20
14
10
20
10

7.6
12.7
10.8
8.8
16.2

6.6
12
10.3
7.8
15.6

5.6
11.3
9.8
6.8
15.2

191o
66o
76.5o

8.1
16
20

8
16
20

16.6
14.3
14.7

16.2
13.5
13.6

15.8
12.1
12.7

244o
263o
90o

13.7
34.5

10
12
34

13.3
13.4
17.1

12.7
12.8
15.4

12.2
12.2
13.7

67o
101o

6.8
7.2

7
7

16
15.5

15.6
15.2

15.3
14.8

113o
88o
205o
271o

9.8
9.85
8.2
8

10
10
8.5
8

4.1
13.5
15.6
14.9

13.6
13
15.2
14.5

13.1
12.5
14.75
14.1

Bacaan
Sudut
V
H

Titik Ukur
Poligon

Benang

Jarak ( m )

Benang

Manual

Alat

Atas

Tengah

Bawah

270o
272o

10
10

10
6.8

14.15
15.68

13.65
15.28

13.15
15

297o

20

19.3

15.38

14.45

13.45

Ts63
PA21-Blkng
P21
Ts63
PA21-Depan
P22
Ts64
PA22-Blkng
P22
Ts64
PA22-Depan
P23
Ts65
PA23-Blkng
P23
Ts65
PA23-Depan
P24
Ts66
PA24-Blkng
P24
Ts66
PA24-Depan
P25
Ts67
PA25-Blkng
P25
Ts67
PA26-Depan
PA26-Depan
P26
Ts68
PA27-Blkng
P26
Ts68
PA27-Depan
P27
Ts69
Titik Ukur
Poligon

90o

276o

15.2

14.75

14.3

136 cm 90o
90o

54o
82o

6.75
17.3

6
17

15
15.8

14.7
14.9

14.4
14.1

136 cm

90o
90o

245o
267o

15
10

15
10

14.5
15

13.8
14.5

13
14

130 cm

90o
90o

64o
39o

10
14.8

9.5
14

12.75
13.7

12.25
13

11.8
12.3

130 cm 90o
90o

247o
223o

10.33
16.10

10.5
16

14
14

13.5
13.2

12.95
12.4

132 cm 90o
90o

157o
177o

17.92
11.95

18
12

14.45
14

13.55
13.4

12.65
12.8

132 cm 90o
90o

339o
355o

19.25
12.30

18.3
12.5

15.33
14.9

14.5
14.25

13.5
13.65

132 cm

90o
90o

352o
333o

10.54
17.17

10.5
17

14.7
14.7

14.2
13.85

13.65
13

132 cm

90o
90o

184o
140o

8
9.03

8
9

15
12.8

14.6
12.35

14.2
11.9

90o
129 cm 90o
90o

143o
192o
227o

6.28
8.45
18.70

7
14
18

13.7
11.4
6.2

13.35
10.9
5.3

13
10
4.4

134 cm

90o
90o

133o
165o

10.70
5.3

10.5
4.5

10.75
12

10.2
11.8

9.7
11.55

134 cm

90o
90o

17.3o
171o

18.2
12.6

17
12

19
16.9

18.2
16.3

17.3
15.7

90o 348o
90o 331o
Bacaan
Sudut
V
H

15.52
11.05

15
11

8.5
10.1

7.75
9.55

7
9

134 cm
Tinggi
Alat

PA28-Blkng
P27
133.5 cm 90o
Ts69
90o
PA28-Depan 133.5 cm
P28
90o

Jarak ( m )

Benang

Manual

Alat

Atas

Tengah

Bawah

144o
161o

13.40
17.57

13
18

16.8
18.8

16.2
17.9

15.5
17

334o

16.8

16

11.7

10.9

10.1

Ts70
PA29-Blkng
P28
Ts70
PA29-Depan
P29
Ts71
PA30-Blkng
P29
Ts71
PA30-Depan
P30
Ts72
PA23-Blkng
P30
Ts72
PA31-Depan
P31
Ts73
PA32-Blkng
P31
Ts73
PA32-Depan
P32
Ts74
PA33-Blkng
P32
Ts74
PA33-Depan
P33
Ts75
PA34-Blkng
P33
Ts75
PA34-Depan
P34
Ts76

90o

352o

8.5

12

11.6

11.2

132.5 cm 90o
90o

303o
292o

9.27
17.80

9
17.8

14.7
15.8

14.2
14.9

13.8
14

90o
90o

124o
98o

14.4
6.4

14
6

12.8
13.7

12.1
13.4

11.4
13.1

90o
90o

195o
218o

7.87
15.88

7.5
16

13
14.75

12.6
13.95

12.25
13.15

133.4 cm 90o
90o

25o
45o

11.6
12.3

10.3
12

15.13
14.9

14.65
14.3

14.1
13.7

90o
90o

124o
106o

14.40
14.08

15
14

12.5
12.2

11.75
11.5

11
10.8

90o
90o

305o
295o

22
13.60

22.1
12

17.28
15.7

16.18
14.9

15.03
14.15

90o
90o

176o
199o

20.70
27.04

20
27

11.1
10.3

10.1
9

9.1
7.6

90o
90o

353o
4o

24.7
29.37

25
29

12.3
10.5

11
9

9.8
7.6

90o
90o

338o
326o

24.2
19.52

24
19.5

20.38
18.08

19.13
17.08

17.98
16.13

90o
90o

157o
146o

25.52
20.3

25
20

9.2
10.2

7.9
9.2

6.7
8.2

90o
90o

272o
283o

22.20
27.41

22
28

18.53
20.18

17.43
18.78

16.33
17.38

90o
90o

91o
104o

22.66
21.81

22
22

13.8
14

12.7
12.9

11.6
11.8

132.5 cm
133.4 cm

Titik Ukur
Poligon

Tinggi Bacaan Sudut


Jarak ( m )
Alat
V
H
Manual Alat

Atas

Tengah

Bawah

PA35-Blkng
P34
Ts76

150 cm 90o
90o

14.6
14.8

14
14.3

13.4
13.8

99o
74o

12.20
10.8

12
10

Benang

PA35-Depan
P35
150 cm 90o
Ts77
90o
PA36-Blkng
P35
145 cm 90o
Ts77
90o
PA36-Depan
P36
90o
145 cm
Ts78
90o
PA37-Blkng
P36
90o
149 cm
Ts78
90o
PA37-Depan
P37
149 cm 90o
Ts79
90o
PA38-Blkng
P37
145 cm 90o
Ts79
90o
PA38-Depan
P38
145 cm 90o
Ts80
90o
PA39-Blkng
P38
90o
135.5 cm o
Ts80
90
PA39-Depan
P39
90o
135.5 cm o
Ts81
90
PA40-Blkng
P39
90o
149 cm
Ts81
90o
PA40-Depan
P40
90o
149 cm
Ts82
90o
PA41-Blkng
P40
90o
141 cm
Ts82
90o
PA41-Depan
P41
90o
141 cm
Ts83
90o
Titik Ukur
Poligon

268o
258o

22.92
24.2

20
23

18.98
18.28

17.98
17.28

16.98
15.98

214o
243o

11.34
10.20

11
9

14
13.6

13.3
13.1

12.9
12.7

37o
50o

11.34
12.26

17
12

22.88
20.38

22.08
19.78

21.18
19.18

343o
326o

15.3
17.45

16
15

11.1
9

10.5
8.3

10.1
7.5

178o
154o

11.46
9.8

10
9

18.28
17.48

17.88
17.08

17.28
16.78

34o
19.5o

18.97
17.15

19
17

8.2
8.9

7.3
8.2

6.3
7.2

193o
200o

28.56
33.15

29
33

25
27.9

23.5
26

22.1
24.6

300o
246o

7.4
5.30

4
4

8.4
11.3

8.2
11.1

8
10.9

100.5o
86o

15.38
16.9

18
17

28.08
26.88

27.18
25.98

26.28
25.18

95o
137o

6.7
5.10

3.8
4

15.38
14.3

15.18
14.1

15
13.9

283o
309o

8.5
11.5

6.8
11

15.48
16.38

15.08
16.18

14.8
15.28

324o
311o

21.60
18.60

22
18

12.5
14.3

11.4
13.4

10.3
12.5

149o
135o

19.76
22.70

18.8
23

16.38
15

15.38
13.9

14.5
12.7

Tinggi Bacaan Sudut


Jarak ( m )
Alat
V
H
Manual Alat

PA42-Blkng
P41
136.5 cm 90o
Ts83
90o
PA42-Depan 136.5 cm
P42
90o

Benang
Atas

Tengah

Bawah

184.5o
206o

14.15
12.15

15
12

18.18
16.28

17.38
15.78

16.68
15.08

359o

10.36

10

12.4

11.8

11.4

Ts84
PA43-Blkng
P42
Ts84
PA43-Depan
P43
Ts85
PA44-Blkng
P43
Ts85
PA44-Depan
P44
Ts86
PA23-Blkng
P44
Ts86
PA45-Depan
P45
Ts87
PA46-Blkng
P45
Ts87
PA46-Depan
P46
Ts88
PA47-Blkng
P46
Ts88
PA47-Depan
P47
Ts89
PA48-Blkng
P47
Ts89
Titik Ukur
Poligon

36o

16.73

16

10.7

9.9

9.1

142.5 cm 90o
90o

26.5o
341o

14.45
11.1

29
9.8

17.98
15.38

16.68
14.9

15.98
14.4

90o
90o

178o
168o

15.26
11.80

15
11

8
10.3

7.3
9.8

6.5
9.2

90o
90o

97o
113o

14.12
15.7

14
20

21.98
25.48

21.28
24.48

20.58
23.48

136.5 cm 90o
90o

287o
277.5o

16.60
14

17
15

11.2
11.9

10.3
11.1

9.5
10.4

145.5 cm 90o
90o

297o
284o

12.57
10.5

12
11

17.38
16.88

16.68
16.28

16.18
15.78

145.5 cm 90o
90o

121o
111o

16.15
10.78

23
16

13.7
11.6

12.1
10.8

11.4
10

90o
90o

320o
337o

9.33
6.7

9
7

16.78
15.78

16.38
15.48

15.88
15.08

90o
90o

147o
159o

13.4
12.85

13
12

7.1
7.9

6.5
7.3

5.8
6.7

90o
90o

347.5o
337o

13.7
14.4

14
14

13.2
14.2

12.5
13.5

11.8
12.8

90o
90o

166o
151.5o

12.4
15.75

11
16

15.88
13.1

15.28
12.3

14.8
11.5

90o
90o

164.5o
185o

13.1
10.7

14
9.8

12.28
15.18

17.98
14.8

16.98
14.2

90o

142.5 cm
136.5 cm

144.5 cm
144.5 cm
144.5 cm
144.5 cm
146 cm

Tinggi Bacaan Sudut


Jarak ( m )
Alat
V
H
Manual Alat

PA48-Depan
Ts90
136 cm
P48
Ts91
PA49-Blkng
Ts90
133.5 cm
P48
Ts91

Benang
Atas

Tengah

Bawah

90o
90o
90o

54o
33o
85o

20
15.5
8

20
17
8

13.7
13.5
13

12.7
12.6
12.6

11.7
11.8
12.2

90o
90o
90o

92o
44o
319o

7.6
10.5
7.5

8
10.5
7.5

14
14
14

13.6
13.45
13.6

13.2
12.95
13.25

PA49-Depan
P49
Ts92
Ts93
PA50-Blkng
P49
Ts92
Ts93
PA50-Depan
P50
Ts94
PA51-Blkng
P50
Ts94
PA51-Depan
P51
Ts95
PA52-Blkng
P51
Ts95
PA52-Depan
Ts96
P52
Ts97
PA53-Blkng
Ts96
P52
Ts97
PA53-Depan
P53
Ts98
PA54-Blkng
P53
Ts98
Titik Ukur
Poligon

251.5o
225o
196o

17
30
35

17
30
35

13.9
14.6
14.75

13.1
13.1
13

12.2
11.6
11.25

90o
133.5 cm 90o
90o

278o
226o
169o

19.6
18.8
16.10

20
19
16

14.6
14.5
14.3

13.6
13.55
13.5

12.6
12.6
12.7

90o
90o

82o
101o

22
23

22.5
23

10.85
11.2

9.7
10

8.6
8.9

131 cm 90o
90o

100o
75o

18
15.1

17
15

21.2
21.1

20.4
20.4

19.5
19.6

131 cm 90o
90o

293o
252.5o

18
15

17.5
15

4.35
6.1

3.5
5.4

2.6
4.6

133 cm 90o
90o

238o
279o

17.7
15.1

18
15

19.3
21

18.4
20.3

17.5
19.5

90o
133 cm 90o
90o

168o
43.5o
14o

8
26
28

8
25
28

13.4
12.6
18.75

13
11.25
17.35

12.6
10.1
15.95

90o
137 cm 90o
90o

166o
131o
209o

40.6
12.9
8.1

40
13
7

12.8
9.9
15.6

10.8
9.3
15.2

8.8
8.6
14.9

90o
90o

348o
359o

40
43

37.8
43

15.8
15.9

13.9
13.8

12
11.6

90o 189.5o
10.5
11
o
o
90
144
8.4
8
Bacaan
Sudut
Jarak
(
m
)
Tinggi
Alat
V
H
Manual Alat

14.4
14.15

13.85
13.75
Benang

13.3
13.35

Atas

Tengah

Bawah

133.5 cm

133.5 cm

137 cm

90o
90o
90o

136.5 cm

PA54-Depan
P54
136.5 cm
Ts99
PA55-Blkng
P54
135 cm
Ts99
PA55-Depan
P55
135 cm
Ts100

90o
90o

3o
350o

35
30

34
30

15
15.6

13.3
14.1

11.6
12.6

90o
90o

341.5o
5o

15.85
20.3

14.8
20

15.28
16.5

14.6
15.5

13.8
14.5

90o
90o

171o
192o

25
19

25
19

12.4
13.5

11.1
12.55

9.9
11.6

PA56-Blkng
P55
Ts100
PA56-Depan
P56
Ts101
Ts102
PA57-Blkng
P56
Ts101
Ts102
PA57-Depan
P57
Ts103
PA58-Blkng
P57
Ts103
PA58-Depan
P58
Ts104
PA59-Blkng
P58
Ts104
PA59-Depan
P59
Ts105
PA60-Blkng
P59
Ts105
PA60-Depan
P60
Ts106
PA61-Blkng
P60
Ts106
Titik Ukur
Poligon

90o
90o

110o
94.5o

25.4
31.9

25
32

17.5
19.2

16.2
17.6

15
16

131.5 cm 90o
90o
90o

313o
297o
274.5o

25
30
21

24.5
29.5
20.5

10.4
10.6
12.8

9.15
9.1
11.8

7.95
7.65
10.5

90o
90o
90o

236o
212o
263.5o

21
16.4
6.7

20.5
16
6.5

13.05
12.7
14.85

12
11.9
14.55

11
11.1
14.2

134.7 cm 90o
90o

54.5o
38o

28
26

28
26

20.4
18.6

19
17.3

17.6
16

134 cm 90o
90o

351o
10o

22.7
24.5

24
25

14.5
12.6

13.4
11.4

12.1
10.1

90o
90o

173o
186o

28
25

29
22.8

17.8
16

16.4
14.9

14.9
13.7

90o
90o

301o
286o

23.3
25

23.5
25

13.7
12.15

12.5
10.9

11.35
6.65

90o
90o

134o
146o

25
27

5
27

12.65
12.4

12.4
11

12.15
9.7

137.5 cm

90o
90o

11.5o
333o

10.4
10.7

10.5
10.5

15.35
12.9

14.85
12.4

14.3
11.85

137.5 cm

90o
90o

169o
159o

35.20
33

34
33

13.8
14.9

12.1
13.3

10.4
11.6

133.5 cm

90o
90o

348o
8o

15
17.7

16
22

10.8
12

10
11.2

9.2
10.2

131.5 cm

134.7 cm

134 cm
131 cm
131 cm

Jarak ( m )
Tinggi Bacaan Sudut
Alat
V
H
Manual Alat

PA61-Depan
P61
133.5 cm 90o
Ts107
90o
PA62-Blkng
P61
132.5 cm 90o
Ts107
90o
PA62-Depan 132.5 cm

Benang
Atas

Tengah

Bawah

152o
172o

13
18

13.3
17

15.48
16.78

14.8
15.98

14.15
15.08

32o
4o

17.6
7.5

12
7

12.4
13.3

11.8
12.95

11.2
12.6

P62
Ts108
PA63-Blkng
P62
Ts108
PA63-Depan
P63
Ts109
PA64-Blkng
P63
Ts109
PA57-Depan
P64
Ts110
PA65-Blkng
P64
Ts110
PA65-Depan
P65
Ts111
PA66-Blkng
P65
Ts111
PA66-Depan
P66
Ts112
PA67-Blkng
P66
Ts112
PA67-Depan
Ts113
P67
Ts114

Titik Ukur
Poligon
PA1-Depan
Ts2
Ts2
Ts3
PA2-Blkng
Ts3
Ts2

90o
90o

212o
191o

12.5
18

10.8
18

15.3
16.7

14.8
15.8

14.2
14.9

134 cm

90o
90o

244.5o
278o

13.1
7.6

13
7.5

12.9
13.6

12.2
13.25

11.6
12.85

134 cm

90o
90o

62o
90o

11.9
15

12
16

14.9
13.3

14.3
12.5

13.7
11.7

132.5 cm 90o
90o

58.5o
36o

18.6
15.9

18
16

13.95
11.9

13.05
11.1

12.15
10.3

132.5 cm 90o
90o

237o
216o

18.9
19

18
20

15.4
15.9

14.5
14.9

13.6
13.9

134.5 cm 90o
90o

37o
71o

11.8
12

12
12

13.85
14.2

13.25
13.6

12.65
13

134.5 cm 90o
90o

219o
241o

12.8
19

13
17.8

14.95
15.6

14.3
14.7

13.65
13.8

133 cm 90o
90o

206o
103o

17
10.4

16
10

14.1
14

13.3
13.5

12.5
13

133 cm 90o
90o

26.5o
1o

13.9
18

14
18

14.7
14.15

14
13.25

13.3
12.35

90o
90o

303o
347o

19.8
8.7

12
11

13.2
12.3

12.6
11.75

12
11.2

90o
124.5 cm 90o
90o

147o
129o
229o

13
25
12

13
25
14

14.2
13.65
14.3

13.5
12.4
13.6

12.9
11.15
12.9

124.5 cm

Tinggi Bacaan Sudut


Jarak ( m )
Alat
V
H
Manual Alat
144 cm

Benang
Atas

Tengah

Bawah

90o
90o
90o

348o
235o
38o

12.4
6.6
15.1

12.5
5.3
15

13.6
15.13
13.9

12.95
14.9
13.15

12.35
14.6
12.4

90o
90o

266o
240.5o

9.2
8.1

9
7.5

12.1
12

11.6
11.65

11.2
11.25

137 cm

90o

219o

23.38

23

14.16

13.5

12.3

90o
90o
90o

346o
33o
57o

13.9
15.63
12.38

14
16
12

14.6
15.4
13.2

13.9
14.5
12.6

13.2
13.8
12

90o
139 cm 90o
90o

127o
99o
77o

19.66
10.17
15

20
10
14

11.3
12
10

11.3
12
10

10.3
11.5
9.3

90o
139 cm 90o
90o

285o
245o
211o

8.35
8.62
11.34

9
7
7.8

14.9
14.6
15.58

14.5
14.3
15.08

14
13.9
14.8

90o
90o
90o

320o
286o
255o

11.20
8.37
10.48

11
8.5
10

10.4
9.3
9.8

9.9
8.95
9.3

9.3
8.45
8.8

90o
90o
90o

40.5o
96o
143o

10.80
7.5
9.05

11
8
9

16.88
16.18
13.5

16.33
15.78
13.5

15.78
15.38
12.6

90o
90o
90o

352o
312o
279o

13.85
9
12.10

14
8.5
12

14.7
13.9
11.15

14
13.6
10.55

13.3
13.05
9.95

133 cm 90o
90o
90o

86.5o
143o
170o

13.97
7.08
10.5

14
7.5
10.5

18.38
14.55
12

17.73
14.2
11.5

16.98
13.8
10.95

132 cm 90o
90o
90o

172o
115o
86o

13
10.5
10.9

12.5
10
11

23.68
19.58
17

23.08
19
16.5

22.43
18.58
15.9

Ts1
PA2-Depan
Ts4
Ts5
Ts6
PA3-Blkng
Ts4
Ts5
Ts6
PA3-Depan
Ts9
Ts8
Ts7
PA4-Blkng
Ts7
Ts8
Ts9
PA4-Depan
Ts10
Ts11
Ts12
PA5-Blkng
Ts10
Ts11
Ts12
PA5-Depan
Ts13
Ts14
Ts15
PA6-Blkng
Ts13
Ts14
Ts15
Titik Ukur
Poligon
PA6-Depan
Ts16
Ts17
Ts318
PA7-Blkng
Ts16
Ts17
Ts18
PA7-Depan
Ts19

137 cm

136 cm

136 cm

133 cm

Tinggi Bacaan Sudut


Jarak ( m )
Alat
V
H
Manual Alat

Benang
Atas

Tengah

Bawah

90o
90o
90o

255o
294o
327o

16
11.17
11.4

15.5
11
12.5

24.28
22.28
22.38

23.48
21.78
21.78

22.73
21.28
21.13

90o
90o
90o

148o
105o
70.5o

14.8
9.45
11.25

14
9.5
11.5

26.8
24.85
24.83

26
24.4
24.28

25.4
23.9
23.68

132 cm 90o

230.5o

13.5

13

20.5

19.85

19.2

132 cm

132 cm

Ts20
Ts21
PA8-Blkng
Ts19
Ts20
Ts21
PA8-Depan
Ts22
Ts23
Ts24
PA9-Blkng
Ts22
Ts23
Ts24
PA9-Depan
Ts25
Ts26
Ts27
PA10-Blkng
Ts25
Ts26
Ts27
PA10-Depan
Ts28
Ts29
Ts30
PA11-Blkng
Ts28
Ts29
Ts30
PA11-Depan
Ts31
Ts32
Titik Ukur
Poligon
PA12-Blkng
Ts31
Ts32
PA12-Depan
Ts33
Ts34
PA13-Blkng
Ts33
Ts34
PA13-Depan

90o
90o

284o
31o

8.4
9.4

9.5
8

17.9
18.6

17.65
18.2

16.95
17.8

90o
132 cm 90o
90o

325.5o
240o
229o

8.3
8
11.7

7.5
8
12

14.95
11.95
13.2

14.65
11.55
12.6

14.2
11.15
12

90o
90o
90o

35o
95o
119.5o

15.10
12.5
13.15

14.8
11.5
13

16.1
13.4
13.3

15.3
12.85
12.75

14.6
12.25
12.1

90o
90o
90o

340o
277o
261o

15
10.7
15

14.8
11
15

15.7
13
13.15

15
12.5
12.4

14.2
11.9
11.65

105.5o
137o
174o

16.8
14.3
16.4

16.8
14.3
16.4

16.5
14
17

13.2
12.2
10.9

12.35
11.5
10

16o
339o
305o

14.3
12.3
17.4

14.5
12
18

14.75
13.8
12.8

14
13.2
11.9

13.3
12.6
11

122.5o
159o
200o

15
13.5
14.4

15
13.5
14.4

11.2
13.65
12.7

10.5
13
12

9.7
12.3
11.3

90o
90o
90o

253o
238o
178o

18.6
10
9.5

19
10
9

11.4
13.7
12.4

10.45
13.1
11.9

9.5
12.7
11.5

90o
90o

333.5o
53o

18.2
9.3

17.3
9

15.38
13.1

14.6
12.75

13.65
12.2

132 cm

132 cm

90o
132 cm 90o
90o
130 cm

90o
90o
90o

90o
130 cm 90o
90o
145 cm

145 cm

Tinggi Bacaan Sudut


Jarak ( m )
Alat
V
H
Manual Alat

Atas

Tengah

Bawah

136 cm 90o
90o

337.5o
256o

14.9
13.8

13.5
15

13.95
12.45

13.2
11.75

12.6
10.95

136 cm 90o
90o
137 cm

44o
115.5o

17.7
14.8

17
16

17.5
15.63

16.6
14.8

15.7
14.05

15.80
8.4

16
8.5

Benang

13.3
11.05

12.5
10.65

11.7
10.2

Ts35
Ts36
PA14-Blkng
Ts35
Ts36
PA14-Depan
Ts37
Ts38
PA15-Blkng
Ts37
Ts38
PA15-Depan
Ts39
Ts40
PA16-Blkng
Ts39
Ts40
PA16-Depan
Ts41
Ts42
PA17-Blkng
Ts41
Ts42
PA17-Depan
Ts43
Ts44
PA18-Blkng
Ts43
Ts44
PA18-Depan
Ts36
Ts46
Ts45

13.3
11.76

13.5
10.8

18.1
15.73

17.4
15.13

16.75
14.65

13.35
9.55

12
9

14
11.6

13.4
11.2

12.8
10.7

13.9
9.6

14
8

17.4
17.5

16.8
17.1

16
16.7

13.35
9.8

13
10

11.25
11.3

10.6
10.8

9.95
10.3

3.2
8.43

3
8

14.15
7.9

14
7.5

13.85
7.1

4.5
11

4.5
9.8

8.45
15.28

8.2
14.85

8.0
14.3

8.15
9

8
9

11.6
12.9

11.2
12.9

10.8
12

7
5.9

7
6

14.6
15.78

14.3
15.48

13.9
15.18

9.5
14.3

10
14.5

9.9
13.45

9.4
12.75

8.9
12

7.3
4.5

7.5
4.5

12.8
16

12.4
15.8

12.05
15.55

8.35
10.5
13.7

8.5
10.5
14

12.2
12.25
13.1

11.65
11.7
12.4

11.35
11.2
11.7

140 cm

144 cm

146.5 cm

137 cm

137 cm

Titik ukur
Tinggi Bacaan sudut
Jarak
polygon
Alat
V
H
Manual Alat
PA19-belakang
TS36
19.4
19.5
TS46
11.7
12
TS45
11.3
11.5
PA19-depan
143 cm
TS49
13.9
13.5
TS48
16.5
16.5
TS47
19.22
18.3

Atas

Benang
Tengah Bawah

17.05
16.5
17.2

16.1
15.9
16.6

15.1
15.3
16.05

12
13.9
15.08

11.35
13.1
14.2

10.65
12.25
13.25

PA20-belakang
TS49
TS48
TS47
PA20-depan
TS50
TS51
TS52
PA21-belakang
TS50
TS51
TS52
PA21-depan
TS53
TS54
TS55
PA22-belakang
TS53
TS54
TS55
PA22-depan
TS56
TS57
TS58
PA23-belakang
TS56
TS57
TS58
PA23-depan
TS59
TS60
TS61
Titik ukur
polygon
PA24-belakang
TS61
TS60
TS59
PA24-depan
TS64
TS63
TS62

146 cm

142 cm

146 cm

22.3
15.9
18.44

22
16
18

16.2
17.95
19.18

15.1
17.15
18.33

14
16.35
17.38

14.7
18.4
16.2

14.5
18.5
16.5

12.15
12.05
12.75

11.4
11.1
11.95

10.7
10.2
11.1

22
16.4
22.1

22
16
22

13.7
12.9
14.05

12.6
12.1
12.95

11.5
11.3
11.85

21.5
22.3
20.7

21.5
22
20.5

18.63
20.23
17.35

17.53
19.13
16.3

16.48
18.03
15.3

15.2
12
18.9

15
12
18.5

16.88
18.48
16.05

16.18
17.88
15.1

15.38
17.28
14.2

14.8
12.75
14

15
13
14

9
10.6
13

8.25
10
12.3

7.2
9.3
11.6

11.65
11
12.4

11.5
11
12.5

15.35
17.13
19.6

14.8
16.58
18.95

14.2
16.03
18.35

9.7
6.7
5.8

10
7
5.3

18.95
17.4
17.33

18.45
17.05
17.08

17.95
16.7
16.78

Tinggi Bacaan sudut


Jarak
Alat
V
H
Manual Alat

82 cm

Atas

Benang
Tengah Bawah

10.6
8.8
6.7

10
7
6

18.78
18.88
19.78

18.38
18.48
19.48

17.78
18.18
19.18

20.4
13.5
15.9

20
13.5
16

15.9
13.55
11.8

14.9
12.9
11

13.9
12.2
10.2

PA25-belakang
TS62
TS63
TS64
PA25-depan
TS65
TS66
TS67
PA26-belakang
TS67
TS66
TS65
PA26-depan
TS69
TS68
PA27-belakang
TS68
TS68
PA27-depan
TS70
TS2
TS1
%1.2

145 cm

140 cm

144 cm

PA1

PA2

20
16.5
13

13.9
15.6
17.45

12.95
14.8
16.8

11.9
13.95
16.15

24.35
17.5
22.8

24.5
17
22.5

13.4
13.8
16.6

12.2
12.9
15.45

10.95
12.1
14.35

17.20
20.9
20.6

17
21
20

17.8
15.45
14.55

16.95
14.4
13.55

16.1
13.35
12.55

12.15
15.5

12
15.5

17.35
14.1

16.75
13.3

16.15
12.55

11.7
18.75

12
19

14.2
17.5

13.6
16.55

13
15.6

6.5
13.4
24.20

4.8
12.8
24

15.08
15.58
17.78

14.9
14.95
16.58

14.6
14.3
15.38

Deviasi (% error)
PERHITUNGAN DEVIASI ERROR

%1.A TITIK DETAIL

20.8
16.8
12.8

PA3

PA4

PA5

PA6

PA7

PA8

PA9

PA10

PA11

PA12

PA13

PA14

PA15

PA16

PA17

PA18

PA19

PA20

PA21

PA22

PA23

PA24

PA25

PA26

PA27

PA28

PA29

PA30

PA31

PA32

PA33

PA34

PA35

PA36

PA37

PA38

PA39

PA40

PA41

PA42

PA43

PA44

PA45

PA46

PA47

PA48

PA49

PA50

PA51

PA52

PA53

PA54

PA55

PA56

PA57

PA58

PA59

PA60

PA61

PA62

PA63

PA64

PA65

PA66

PA67

%1.B GARIS KONTUR

PA1

PA2

PA3

PA4

PA5

PA6

PA7

PA8

PA9

PA10

PA11

PA12

PA13

PA14

PA15

PA16

PA17

PA18

PA19

PA20

PA21

PA22

PA23

PA24

PA25

PA26

PA27

B.PEMBAHASAN
%2.a Theodolit
Theodolit merupakan alat yang didesain khusus untuk mengukur sudut, akan
tetapi pada praktek di lapangan theodolit dapat digunakan pula untuk mengukur
jarak. Adapun cara pemakaian dan pembacaan theodolite :
Pembidikan Dengan Teropong
Membidik target (rambu) dilakukan untuk mendapatkan data ukuran sudut dan
jarak, setelah sebelumnya alat berdiri dan dilakukan pengaturan alat.
Pembacaan Rambu

Berbagai jenis dan ukuran rambu yang diproduksi oleh masing-masing produsen
alat ukur. Hal yang perlu diperhatikan dari rambu adalah :

Skala rambu dalam dm atau interval jarak pada garis-garis dalam rambu
tersebut setiap berapa dm.

Skala dari rambu, terutama pada daerah sambungan rambu harus benar.

Rambu berdiri tepat di atas target, posisi tegak lurus dengan arah bacaan
menghadap ke arah theodolit yang sedang membidik.
Kesalahan dalam pengukuran menggunakan alat ukur theodolite
Pengukuran adalah pengamatan dari besaran (jarak, sudut, tinggi, dll).

Pengamatan tidak luput dari kesalahan-kesalahan. Ada tiga jenis kesalahan


kesalahan yaitu :
Kesalahan Kasar (blunders)
Kesalahan ini terjadi karena : kurang hati-hati (sembrono), kurang
pengalaman dan kurang perhatian. Sebagai catatan bahwa dalam pengukuran
kesalahan ini tidak boleh terjadi, bila terjadi harus diulang !. Contoh-contoh
kesalahan blunder

Salah baca : 3 dibaca 8, 6 dibaca 9, 7 dibaca 9

Salah catat : misalkan 1 rentangan pengukuran tidak tercatat, atau salah


menempatkan data ukuran (sudut horisontal terbalik dengan helling)

Salah dengar

Kesalahan Sistematis
Kesalahan sistematis umumnya terjadi metode atau cara pengukuran yang
salah dan karena alat ukur yang dipakai itu sendiri. Contoh penyebab yang terkait
dengan alat ukur :

Syarat pengaturan alat tidak lengkap

Unting-unting tidak digunakan, dll

Penyinaran pada alat bacaan tidak merata

Skala Rambu, kesalahan titik nol rambu

Kesalahan Acak

Akan terlihat apabila dilakukan pengamatan yang berulang-ulang. Beberapa


contoh yang mengakibatkan kesalahan acak :

Getaran tanah atau tanah tidak stabil.

Atmosfer bumi

Psikis pengamat (contoh : faktor kelelahan)

kesalahan ini dapat dibetulkan dengan hitung perataan apabila terdapat data
yang cukup
%2.b Pengukuran sudut dan jarak
Adapun hasil yang diperoleh dari pengukuran jarak dan sudut dari jurusan
teknologi pertanian dan HPT kearah fakultas MIPA kemudian kearah
belakang di lahan percobaan agronomi ( jurusan BDP), lalu kearah belakang
jurusan teknologi pertanian kearah lapangan bola volley belakang dekanat
pertanian , di lanjutkan di jalan fakultas pertanian dan berakhir kembali di
jurusan teknologi pertanian.di peroleh data sebanyak 67 titik alat dan 114 titik
sembarang.
Banyaknya kesalahan yang terjadi selama pengukuran dan pembacaan sudut
serta pengaruh factor dalam penentuan titik baca membuat sebagai data
mengalami error. Dan hal ini mempengaruhi kesulitan dalam penggambaran
pada kertas millimeter block karena data- data yang kurang sesuai.
%2.c

Pengukuran garis kontur

Pengukuran garis kontur yang di lakukan di lahan penelitian kebun jeruk dan
karet diperoleh 27tittik alat dan 69 titik sembrang dimana terjadi kesalahan
error terhadap penentuan garis yang meemiliki tinggi yang sama karna data
yang diperoleh tidak sesuai sehingga mengalami kesulitan dalam penentuan
garis kontur.

%1.V KESIMPULAN DAN SARAN


kesimpulan
Dari praktikum Ilmu Ukur Wilayah yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan
antara lain :
1. Pengukuran yang digunakan adalah pengukuran poligon, dimana titik awal dan
titik akhirnya terletak pada titik yang sama.
2. Dari data praktikum poligon dapat diambil beberapa hal, yaitu : sudut, jarak dan
waktu dari suatu daerah.
3. Dari pembacaan sudut dan batasan yang didapatkan dapat diketahui koordinat titik
titik poligon yang akan diplotkan ke kertas gambar.
4. Garis kontur menghubungkan titik-titik dengan ketinggian sama
5. Pada pengukuran terdapat dua jenis unsur pengukuran, yaitu jarak dan sudutdan
tinggi.
6. Syarat pemakaian alat ukur theodolite adalah kondisi-kondisi yang harus dipenuhi
sebelum alat tersebut digunakan untuk pengukuran, agar data yang dihasilkan
terbebas dari kesalahan sistematis.

Saran
1. Mengupayakan ketelitian dalam pembacaan alat, pengutaraan dan kalibrasi.
2. Mengusahakan pemilihan waktu pelaksanaan, keadaan cuaca yang cerah.
3. Pemilihan lokasi patok dengan tanah yang mendukung.
DAFTAR PUSTAKA
Putranto, Dinar D.A. 2009. Petunjuk Praktikum Ilmu Ukur Tanah. Fakultas Teknik
Universitas Sriwijaya. Inderalaya.
Gayo, M.Yusuf,dkk.1983. Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan. P.T.
Pradnya Paramita. Jakarta.
Wongsotjitro, Soetomo. 1967. Ilmu Ukur Tanah. Penerbit Swada. Jakarta.
Anonim. 1992. Operators Manual Elektronic Digital Theodolit. Shokkisha CO. Ltd.
Shibuya, Tokyo.
Darfis, Irwan. 1995. Penuntun Praktikum Ilmu Ukur Tanah. Faperta Universitas
Andalas. Padang.
Gabungan Asisten Survey. 2006. Petunjuk Pelaksanaan Praktikum Ilmu Ukur Tanah
I. Fakultas Teknik Universitas Andalas. Padang.
Anonim. 2006. Garmin eTrex Vista Cx hiking companion owners Manual.
Garmin.Ltd. Taiwan.
Anonim.2010. Artikel. http://geodesy.gd.itb.ac.id. 19 Desember 2011.
Anonim. 2010. Artikel. http://www.geocities.com/yaslinus/masukgps.html.
Desember 2011.

19

Daftar Isi
Halaman
judul
.

Lembar tanda selesai


praktikum
..
Lembar
pengesahan
.
Riwayat
hidup
...
Kata
pengantar
.
Daftar
isi

Motto , pesan dan


kesan
..
Pendahuluan
..
%2.a

Latar

belakang

%2.b

Tujuan

..

Tijauan
pustaka
.
Metodologi
.
%1.a Pelaksanaan
praktikum
.
%1.b Metode
.
%1.c Alat dan
bahan

Hasil dan
pembahasan

%1.a Hasil

.
%1.b Pembahasan

Kesimpulan dan
saran
.
%1.a Kesimpulan

%1.b Saran
..
Daftar
pustaka
..

Lampiran