Anda di halaman 1dari 7
(7 Kod Gi, Vol. 2, No. 4, Oktober 2011; 271-27 ISSN 2086-0218 HUBUNGAN ANTARA PERUBAHAN POSIS! GIGI MOLAR PENJANGKAR KE ARAH MESIAL DENGAN PERUBAHAN DIMENSI VERTIKAL SEPERTIGA MUKA BAGIAN BAWAH (Kajian Sefalometri pada Maloklusi Kelas II Divisi 1 dengan Teknik Begg) Marlin Himawati*, Wayan Ardhana", dan Prinandini IWS** + Program Studi Ortodonsia, Program Pendidikan Doktor Gigi Spesialis-1, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Bagian Ortodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ABSTRAK Pergerakan gigi molar lebih ke mesial untuk mentup rvang pencabutan biasanya akan berdampak ekstusi {dar gigi molar. Ekstrusi akan mempengaruhi rotasi mandibula dan dimensi vertikal. Peneliian ini bertyjuan untuk ‘mengetahui hubungan antara perubanan posisigigh molar penjangkar ke arah mesial dengan perubahan dimensi Vertical sepertiga muka bagian bawah pada perawatan maloklusi Kelas Il divi 1 setelah diakukan perawatan orto- 0,05), terdapat hubungan yang bermakna dan positf antara perubahan posit gigi molar ‘Bawah secara lnier dan perubanan dimensi vertikal sopertiga muka bagian bawah (p<0,06 dan r= 0,545), dengan Persamaan regresi Y = 1,188 + 0,342 X. Kesimpulan dari peneltian ini adalah semakin besar perubahan posis! gig ‘molar penjangkar bawah ke arah mesial maka semakin besar perubahan cimensi vertkal sepertiga muka bagian bawan. ‘Kata kun : poss! gigi molar, dimensi vertkal sepertiga muka baglan bawah, toknix Begg. ABSTRACT ‘Molar migration mesialy for closing extrection space will cause extrusion of the molar. Extrusion wil infux ‘ence rotation of the mandibie and also vertical dimension. The purpose of this research was to know the relation- ‘hip between changes of anchorage molar position mesially and ane third ofthe lower facial vertical dimension in ‘Patients wit class I division 1 malocclusion afer treated with fixed orthodontic appliance by Begg technique. The study was an analytical research with «cross sectional approach. This research was evaluated a lateral Ccophalcmetric radiographs of 29 subjects before and after treatment, with criteria : class If duision 1 malocclusion, class 1! skeletal aged 18-20 years, and were trealed using Begg technique fixed applience with extraction of four fist premolar. Cephalogram measurements consist of maxilary and mandibular molar position nearly and angu- larly, as well as one third ofthe lower facial vertical dimension linearly and angulany. The data were analyzed by ‘using Pearson product moment correlation test and regression test The resut ofthis research showed that changes of maxillary molar postion nearly and angularly, as well ‘as mandibular molar position angularly were not correlated significantly with ane third of lower facial vertical dimen. ‘sion (p>0,05). The significan! and positive corelation was accurred between changes of mandibular molar position linearty and one third of lower fecal vertical dimension (p<0,05 and r+0,545). Regression equation was Y= 1,188 + 0,342X. Conclusion of this research was the bigger changes of the mandibular anchorage molar mesial, the bigger changes of one third of ower facial veticalcimension, Key words : Molar position, one third of lower facial verical dimension, Bogg technique an ‘Main H, Dkk: Hubungan Antara Perubshan Posisi Gig PENDAHULUAN Crtodontis selatu tertbat dalam peneltian yang terus-menerus mengenai diagnosis, ren- cana dan hasit perawatan yang tepat bagi se- tiap pasien ortodontik. Malcklusi yang berbeda membutuhkan waktu dan rencana perawatan yang berbeda pula.’ Menurut Orta, salah satu Perbedaan di antara maloklus! dengan susunan ‘igioigh yang sama adalah perbedaan pola skeletal dalam arah verlikal. Pada sebagian besar maloktusi, pola skeletal dalam arah ver- tal mempunyai peranan yang penting dalam ‘menentukan diagnosis dan rencana perawatan seseorang Hubungan antara oklusi gigi dan morfolo- 4 kraniofasial sudan lama menjadi topik yang ‘menarik di antara para ortosontis. Banyak pe- nelitian mengenai karakterstk kraniofasial ber- dasarkan tipe oklusi Angle, Khususnya malok- Jus! kelas Il divisi 1." Maloklusi Kelas Il tidak bisa dijadikan bahan diagnostk tunggal,tetap me- rupakan kombinasi antara beberapa komponen skeletal dan dentoalveoar* Masalah dimensi vertikal dan anteropos- terior sangat berhubungan erat. Kelainan pada bidang anteroposterior biasanya dikuti oleh bie dang vertikal® Pada maloklusi kelas I! divish 1 memiikirasio dimensi sepertiga muka bagian bawah antara anterior dan posterior lebih besar daripada normal, karena terjadi Kekurangan di- ‘mensi vertkal pada bagian posterior dan sudut antara bidang palatal dan bidang mandibula yang besar* Menurut Siclauskas’, penurunan hhubungan skeletal secara vertikal pada rahang ‘merupakan cir paling khas deri maloklusi Kelas Ndivisi 1 Kiinis harus memilki upaya dalam meng- control bidang palatal, bidang oklusal dan bidang mandibular, yang menyangkut dimensi vertkal Kontrol dimensi vertikal merupakan kunci ke- bethasilan perawatan Kelas Il, sehingga per- timbangan dimensi vertikal periu.diiakukan pada saat menentukan diagnosis dan rencana Perawatan.'Dimensi vertikal sepertiga muka bagian bawah adalah dimensi vertikal cklusal dari gig-gigh dalam keadaan Kontak atas dan bawan antara cusps, fossa dan marginal rid- ges. Sepertiga muka bagian bawah merupakan Komponen yang terpenting dalam menentukan estetixa muka dan rencana perawatan Dimensi vertkal muka dapat dipengaruhi Oleh proses tumbun kembang. Pada mandibula 272 ISSN 2086-0218 yang sedang berkembang, terjadi proses per- tumbuhan ke arah bawah dan depan. Tinggi rmuka akan meningkat akibat hasil dari pertum- buhan muka. Selain proses tumbuh kembang, terdapat faktorfaktor lain yang mempengaruhi dimensi vertikal muka, sepert jenis, mekanika dan lama perawatan ortodontik Parameter yang digunakan untuk mengu- kur dimensi vertical yaitu tinggi muka keseluru- han, tinggi muka atas, tinggi muka bawah dan ‘sudut yang cibentuk antara bidang maksila dan mandibula. Tinggi muka Keseluruhan merupa- kan pengukuran linier yang dibentuk oleh pen- jumiahan tinggi muka atas dan tinggi muka ba- wah. Tinggi muka atas diukur dar titk N (Nasal) dan titk ANS (Anterior Nasal Spine), sedang- kan tinggi muka bawah diukur dari tik ANS terhadap tik Me (Menton). Pada pengukuran angular, bidang maksila dibentuk dari titk ANS, dan PNS (Posterior Nasal Spine), sedangkan bidang mandibula dibentuk da titk Me dan Go (Gonion)." Tinggi muka bawah yang diukur dari tik ANS dan titk Me merupakan dimensi verti- kal sepertiga muka bagian bawah secara linier. ‘Sudut yang ibentuk antara bidang maksila dan mandibula merupakan dimensi vertikal seper- tiga muka bagian bawah secara angular."* Keputusan untuk dilakukan pencabu- tan gigi dalam perawatan ortodontik tergan- tung pada diskrepansi dental dan skeletal da- fam hubungan sagital dan vertkal."® Menurut Begg, dalam mengatasi disharmoni antara besar gigi dengan besar rahang perlu dilakukan. pencabutan gigi premolar, supaya tersedia ru- ‘ang untuk meratakan gigi yang berjejal. Besar uang terbanyak untuk mengatasi gigi berjejal diperoleh bila dilakukan pencabutan gigi pre- ‘molar karena biasanya gigi yang berjejal terjadi di bagian anterior lengkung gigi. Pencabutan igi lebih ke posterior dilakukan bila sebagian besar sisa ruang pencabutan akan digunakan oleh gigi molar penjangkar yang bergerak ke mesial dibanding gigi premolar atau kaninus yang bergerak ke distal. Pencabutan gigi pre- molar pertama merupakan pilinan paling fleksi- bel untuk digunakan menutup ruang dari ante- rior dan posterior dalam mengatasi gigi berjejal dan protrusi anterior. "= Efek dari pencabutan gigi premotar perta- rma atau kedua terhadap dimensi vertikal muka yaitu terjadi pergerakan molar lebih ke mesial Untuk menutup ruang pencabutan, akan ber- dampak ekstrust dari gigi molar bawah. Ekstrusi {2 Ked Gi, Vol.2, No. 4, Oktober 2011: 271-277 ‘akan mengakibatkan rotasi mandibuia searah jarum jam dan dimensi vertikal muka menjadi fetap atau bahkan meningkat"* Kecenderung- an rotasi mandibula searah jarum jam dinambat oleh adanya kemungkinan gerakan gigi molar ke mesial yang berpotensi terjadinya rotasi ‘mandibula beriawanan arah jarum jam." Perawatan maloklusi kelas Il divisi 1 dengan teknik Begg menggunakan etastix in- termaksilar Kelas I akan menghasikan gaya horizontal untuk retraksi gigi-gigi anterior atas Elastik intermaksilar kelas Il juga dapat me- nyebabkan rotasi mandibula berlawanan arah Jatum jam, sekaligus membawa gigi-gigi pos- terior Bawah ke ruang bekas pencabutan ke arah hubungan Kelas I terhadap rahang atas. Pada tahap kedua, gig-gigi posterior pada re- trang atas dan bawah bergerak ke mesial, Ru- ‘ang pencabutan akan tertutun dengan adanya penggunaan elastk intramaksilar.**” Penelian ini bertyjuan untuk mengetahui hubungan antara perubahan posisi gigh molar ppenjangkar ke arah mesial dengan perubahan 0,08. Salah satu pasang variabel_memiliki hubungan yang bermakna dengan nilai =0,001 (p<0,05) yaitu perubahan posisi gigi molar bawah secara linier dan perubahan dimensi vertikal sepertiga muka bagian bawah secara linier. Hubungan antara perubahan posisi cigi ‘molar bawah secara linier dan perubahan di- ‘mensi verti sepertiga muka bagian bawah se- cara lnier dengan koefisien korelasi (1) = 0,545; yang berart: (1). arah korelasi positif, maksud- nya Semiakin besar perubahan posisi gigi molar bawah ke arah mesial maka semakin mening- kat perubahan dimens| vertkal sepertiga muka bbagian bawah; (2). besamya korelasi termasuk kategori agak rendah (0,400-0,600)."* Vatiabel yang memiliki p<0,05 dalam pengujian korelasi bivariat dapat diiakukan pengujian statistik lebih lanjut dengan analisis regres! Tabol 5. Hasil analisis regresi hubungan an- tara perubahan posisi molar bawah secara linier dan perubahan dimensi vertikal sepertiga muka bagian bawah secara finie Tite Tae) — Toa Fra Fa Baal 2 wa tae sea ie _ ot oo) i Rel Paagi a= 3 So Verte erpergauh:peranan amens vernal separa mae ‘agan ewan eecara ie) Berdasarkan tabel § dapat dibuat rangku- ‘man perhitungan konstanta dan koefisien beta antara variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y) dengan persamaan regresi sebagai berikut, 1,188 + 0,342 X sdimana X merupakan perubahan posisi gigi mo- lar bawah secara linier dan Y adalah perubahan