Anda di halaman 1dari 7

Peningkatan Bioavailabilitas melalui Profil Solubilitas dan Laju Disolusi Asam

Nalidiksat menggunakan Water Soluble Polymer dengan Sistem Solid Dispersi


UNTUK MEMENUHI TUGAS :
Teknologi Farmasi Sediaan Solid

Diusulkan oleh:
Erlin Aditia Purmitasari

125070507111015

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

PENDAHULUAN

Kelarutan obat dalam air yang rendah (BCS kelas II) dalam industri farmasi harus
ditingkatkan kelarutannya pada saluran cerna dengan dibutuhkan biovailabilitas yang bagus.
Pengubahan terkait BCS kelas II tidak hanya efek farmakologi zat aktif saja namun juga
dibutuhkan kelarutan dan laju disolusi di saluran cerna. Proses solubilisasi obat yang
mempunyai karakteristik kelarutan dalam air rendah dapat dilakukan dengan penambahan
cosolvent, pembentukan garam, kompleksasi, memperkecil ukuran partikel, solid dispersi dan
penggunaan surfaktan (misellisasi).
Asam nalidiksat merupakan antibiotik golongan kuinolon yang mempunyai aktifitas
tinggi sebagai bakteriostatik dan bakterisid organisme gram negatif. Namun salah satu yang
menjadi permasalahan asam nalidiksat adalah mempunyai kelarutan dalam air yang sangat
rendah. Obat dengan kelarutan dalam air yang rendah mempunyai tingkat absorbsi dan
bioavailabilitas yang rendah. Maka dari itu untuk meningkatkan kelarutannya dalam air dan
laju disolusi merupakan faktor penting dalam pembentukan obat. Menurut Sekiguchi, et al
tujuan utama teknik solid dispersi adalah meningkatkan sifat fisika dari obat yang memiliki
kelarutan rendah dalam air untuk meningkatkan laju disolusinya. Dispersi obat dengan karier
inert dalam fase solid dikenal sebagai solid dispersi yang dapat diproduksi untuk fast release
dan sustained release. Bioavailabilitas oral dari asam nalidiksat telah diketahui bahwa
memiliki kelarutan yang rendah dan laju disolusi yang lambat. Karier yang larut dalam air
seperti polivinylpirrolidone (PVP), -cyclodextrin (BCD), telah dilaporkan mempunyai
potensi yang sangat bagus untuk meningkatkan kelarutan dalam air, laju disolusi,
biovailabilitas dan mengurangi toksisitas pada ginjal dengan cara mengurangi ukuran partikel
obat, kompensasi atau meningkatkan pembentukan kristal amorf. Berdasarkan studi literatur
potensi karier untuk meningkatkan laju disolusi asam nalidiksat adalah BCD > PVP > SSG.
Laju disolusi asam nalidiksat dengan sistem solid dispersi lebih cepat dengan rasio obat dan
penggunaan polimer 1:5.

ASAM NALIDIKSAT BCS KELAS II

Gambar 1. Klasifikasi Sistem


Chaubal, 2006)

Asam

Biopharmaceutical (Katdare dan

Nalidiksat

termasuk ke dalam

BCS kelas II, dengan

karakteristik oral

bioavailabilitasnya
terbatas

karena

kelarutan

Dibandingkan

yang

dengan

rendah dan laju disolusi lama.


serbuk

asam nalidiksat, sistem solid dispersi

menggunakan -cyclodextrin atau PVP atau Sodium starch glycolate mempunyai laju disolusi
yang cepat (Katdare dan Chaubal, 2006).
Formulasi asam nalidiksat untuk meningkatkan solubilitas dan laju disolusi adalah
menggunakan sistem dispersi dengan water soluble polymer karena polimer tersebut
memiliki rantai hidrofilik yang akan mengelilingi senyawa obat yang bersifat hidrofobik
(Vaghela et al, 2014). Metode sistem dispersi yang digunakan adalah penguapan pelarut
dengan spray drying dimana senyawa obat dan karier dilarutkan atau disuspensikan
menggunakan pelarut tertentu lalu pelarut tersebut dihilangkan melalui pemanasan. Saat
pelarut menguap maka sistem solid dispersi akan terbentuk dengan cepat untuk mencegah
adanya pemisahan antara obat dengan karier (Saini dan Yashwant, 2014)

METODE
1. Sistem Dispersi
a. Formulasi

Sistem dispersi yang digunakan adalah teknik penguapan pelarut. Disiapkan untuk
reparasi sistem dispersi yaitu asam nalidiksat dan PVP dengan rasio 1:10,
selanjutnya asam nalidiksat dan PVP dilarutkan dalam 25 ml kloroform.
Kemudian pelarut diuapkan dengan menggunakan vacuum dryer pada suhu 60oC
hingga diperoleh massa yang tetap. Lalu setelah didapatkan massa yang kering
diayak dengan ayakan nomor 120. Setelah itu sampel di simpan dalam suhu ruang
(25-30oC) di dalam desikator.
b. Scanning Electron Microscopy
Untuk melihat ukuran dan morfologi dari partikel sistem dispersi dapat dianalisa
menggunakan SEM

Gambar 2. Contoh hasil karakterisasi Asam Nalidiksat : PVP (1:10) (Mallick,


et al, 2004)
c. Tes Disolusi
Uji disolusi menggunakan aparatus disolusi USP menggunakan tipe paddle
dengan kecepatan rotasi 50 rpm dan suhu sebesar 37 oC. Semua partikel sampel
harus lolos ayakan nomor 120 untuk mencegah partikel kecil asam nalidiksat
melayang di medium disolusi. Jumlah ekuivalen solid dispersi asam nalidiksat
sebanyak 5 mg yang dimasukkan ke dalam medium.
2. Tabletasi
a. Formulasi uncoated asam nalidiksat (Buhler, 1998)

b. Proses pembuatan
(granulasi basah)

Asam Nalidiksat
Kollidon
ditimbang
30 ditimbang dan
dilarutkan ke dalam
aquadest
Dicampur

Campuran diayak hingga 0,88


mm untuk mendapatkan
keseragaman granul

Granul dikeringkan

Kollidon CL ditimbang dan


dicampur ke dalam
Magnesium stearat

Dicampur selama
10 menit
Campuran diayak hingga 0,88
mm untuk mendapatkan
keseragaman granul

Dikempa dengan
tekanan 10 kN

c. Karakteristik Tablet

d. Alasan memakai formulasi tablet tidak bersalut

DAFTAR PUSTAKA

Buhler., V, 1998. Generic Drug Formulation 2nd edition. BASF: Berlin


Katdare dan Chaubal, 2006. Excipient Development for Pharmaceutical, Biotechnology, and
Drug Delivery System. Taylor & Francis Group LCC: London
Mallick S, Sahu A, Pal K. 2004. Dissolution behavior of nalidixic acid solid dispersions using
water-soluble dispersion carriers. Acta Poloniac Pharma-Drug Res; 61(1):2130

Saini, S., dan Yashwant, 2014. Solid Dispersion: A Review. International Jurnal of Drug
Delivery Technologies (IJDDT). Vol 4(2). 34-41
Sekiguchi K., Obi N.: Chem. Pharm. Bull. 9, 886 (1961)
Vaghela, et al. 2014. Preparation and Comparison of Dissolution Profiles of Aceclofenac by
Solid Dispersion Approach. IJSRD.Vol. 1:019