Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian
Penelitian ini menggunakan sebanyak 17 sampel yang terdiri dari kelompok
kontrol (0%) dan kelompok yang diberikan perlakuan ekstrak kulit waluh atau
labu kuning dalam berbagai konsentrasi (0%, 25%, 50%, 75% ) yang masingmasing sebanyak 4 kali pengulangan dengan metode difusi cakram. Penelitian
yang dilakukan di UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Lampung jalan
Dr. Sam Ratulangi No. 103 Penengahan Bandar Lampung.

Gambar dengan konsentrasi 0 %


Keterangan : Dari gambar diatas tidak adanya zona hambat.

1. Analisa diskriptif zona hambat ekstraks kulit waluh atau labu kuning
terhadap pertumbuhan C. albicans.
Tabel analisa diskriptif zona hambat ekstraks kulit waluh atau labu kuning
terhadap pertumbuhan C. albicans.

Konsentrasi

Mean

Minimum

Maksimum

0%

6.0000

6.00

6.00

25%

6.0000

6.00

6.00

50%

8.4800

7.87

9.29

75%

12.6625

11.73

13.27

100%

18.3950

17.12

19.17

Total

20

10.3075

6.00

19.17

Dari hasil analisa deskriptif diatas didapatkan Perlakuan yang memberikan


pengaruh nyata yang paling tinggi terhadap diameter zona hambat minimum
pertumbuhan C.albicans adalah ekstrak kulit waluh atau labu kuning dengan
konsentrasi 100%, sedangkan yang paling rendah adalah ekstrak kulit waluh
atau labu kuning dengan konsentrasi 0% dan 25%.
2. Uji normalitas data
Table uji normalitas data zona hambat ekstraks kulit waluh atau labu kuning
terhadap pertumbuhan C. albicans.
konsentrasi

Shapiro-Wilk
Sig.

diamate

50 %

.777

75 %

.641

100 %

.949

Uji normalitas signifikan jika p > 0.05.


Dari tabel uji mormalitas data diatas didapatkan data berdistribusi normal.
Hal tersebut dapat dilihat dari nilai p > 0.05 sehingga dapat dilanjutkan dengan
uji beda yaitu uji ANOVA.

3. Uji ANOVA
Tabel uji ANOVA zona hambat ekstraks kulit waluh atau labu kuning
terhadap pertumbuhan C. albicans.
Sum of Squares
Between

Mean Square

445.610

111.403

4.724

.315

Sig.
.000

Groups
Within
Groups
Total

450.334

Uji ANOVA bermakna jika p < 0.05.


Dari tabel diatas uji ANOVA didapatkan nilap p 0.000 < 0.05 yang berarti
terdapat perbedaan yang bermakna. Untuk melihat kelompok mana yang
memiliki perbedaan yang paling bermakna dilakukan Uji POST HOC.
4. UJi POST HOC
Tabel uji POST HOC zona hambat ekstraks kulit waluh atau labu kuning
terhadap pertumbuhan C. albicans.
Konsentras

0%

25 %

50 %

75 %

100 %

0%

1.000

0.000

0.000

0.000

25 %

1.000

0.000

0.000

0.000

50 %

0.000

0.000

0.000

0.000

75 %

0.000

0.000

0.000

0.000

100 %

0.000

0.000

0.000

0.000

Uji POST HOC bermakna jika p < 0.05.

Dari tabel uji POST HOC diatas didapatkan hamper semua kelompok
memiliki perbedaan yang bermakna. Hal tersebut terbukti dengan uji POST
HOC didapatkan nilai p 0.000 < 0.05 pada hamper semua kelompok kecuali
pada kelompok p1 (25 %) dengan kelompok kontrol (0 %) yaitu dengan nilai p
1.000 > 0.05.
B. PEMBAHASAN
Dari hasil analisa deskriptif diatas didapatkan Perlakuan yang memberikan
pengaruh nyata yang paling tinggi terhadap diameter zona hambat minimum
pertumbuhan C.albicans adalah ekstrak kulit waluh atau labu kuning dengan
konsentrasi 100% yaitu dengan nilai rerata zona hambat 18.3950, pada konsentrasi 75
% didapatkan hasil rerata zona hambat 12.6625, konsentrasi 50 % didapatkan nilai
rerata zona hambat 8.4800, konsentrasi 25 % didapatkan nilai rerata 6.000, sedangkan
dengan konsentrasi 0 % atau control didapatkan nilai rerata 6.000.
Dari penelitian yang telah dilakukan, diameter zona hambat yang terbentuk
menunjukkan hasil yang bervariasi. Akan tetapi,

dari hasil ini membuktikan

bahwa efektifitas penggunaan ekstrak kulit waluh atau labu kuning berpengaruh
dalam menghambat pertumbuhan bakteri C. albicans secara in-vitro.
Jamur (fungi) merupakan sekelompok besar makhluk hidup eukariotik
heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi
ke dalam sel-selnya. Tubuh fungi terdiri dari satu sel (uniselluler) dan bersel

banyak (multiselluler). Selnya berbentuk benang (hifa), tidak mempunyai klorofil,


hidup pada tempat yang lembab dan tidak menyukai cahaya (Gandjar, 2006).
Fungi dapat dibedakan menjadi 5 golongan yaitu oomycotina, zygomicotina,
ascomycotina, basidiomycotina, dan deuteromycotina. Fungi dapat bersifat
saprofit dan patogen. Fungi saprofit adalah jenis fungi yang mendapatkan
makanan dari makhluk hidup yang telah mati. Sedangkan fungi patogen
mendapatkan makanan dari organisme hidup (Rippon, 1998 dalam Tjampakasari,
2006). Salah satu contoh dari fungi patogen yang merugikan manusia adalah
C.albicans.
Candida albicans merupakan salah satu spesies fungi patogen dari golongan
deuteromycotina. Karakteristik dari spesies fungi ini adalah berbentuk ovoid
dengan diameter 3-5 m dan dapat memproduksi pseudohifa. Mikrofungi ini dapat
tumbuh pada variasi pH yang luas, tetapi pertumbuhannya lebih baik pada pH
antara 4,5 6,5. Jamur ini dapat tumbuh dalam pembenihan pada suhu antara
28C37C ( Magdalena, 2009). C. albicans membutuhkan senyawa organik
sebagai sumber karbon dan sumber energi untuk pertumbuhan dan proses
metabolismenya. Mikrofungi ini merupakan organisme anaerob fakultatif yang
mampu melakukan metabolisme sel, baik dalam suasana aerob maupun anaerob
(Schlegal, 2007).
C.albicans tumbuh sebagai mikroflora normal tubuh manusia pada saluran
pencernaan, pernafasan, dan saluran genital wanita. Namun, mikrofungi ini dapat

bersifat patogen jika jumlahnya berlebihan. Infeksi yang disebabkan Candida


disebut kandidiasis (Jawetz dkk., 2004).
Uji ekstrak kulit waluh atau labu kuning dengan konsentrasi 100% terhadap
pertumbuhan C. albicans menunjukkan adanya zona hambat yang paling besar di
sekitar kertas cakram artinya zat antifungi yang terkandung dalam larutan uji
ekstrak kulit waluh atau labu kuning pada konsentrasi 100% memiliki efek yang
paling tinggi dalam menghambat pertumbuhan jamur ini sehingga dapat dengan
mudah merusak membran serta dinding sel jamur tersebut.
Konsentrasi ekstrak kulit waluh atau labu kuning memberikan pengaruh
signifikan terhadap kontrol adalah konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100%. Hal ini
disebabkan karena ekstrak kulit waluh atau labu kuning pada beberapa konsentrasi
tersebut mengandung senyawa yang bersifat fungistatik.
Perlakuan yang memberikan pengaruh nyata yang paling tinggi terhadap
diameter zona hambat minimum (KHM) adalah ektraks kulit waluh atau labu
kuning dengan konsentrasi 50% yaitu sebesar 8,48 mm.
Konsentrasi ekstrak kulit waluh atau labu kuning yang menunjukkan pengaruh
nyata paling besar terhadap daya hambat pertumbuhan C. albicans dan
menyebabkan rerata diameter zona hambat paling baik selama 3 hari pengamatan
adalah pada konsentrasi 100% yaitu sebesar 18,39 mm. Hal ini dikarenakan waluh
atau labu kuning mengandung senyawa tannin yang dapat menghambat kerja

enzim-enzim seperti manan sintase, khitin sintase, glukan sintase, ATPase, dan
protein, yang berfungsi untuk memacu pembentuk ergosterol. Ergosterol
merupakan komponen utama membran plasma fungi. Dengan terganggunya fungsi
enzim ini maka fungi tidak dapat mensintesis ergosterol secara normal. Hal
tersebut menyebabkan struktur membran plasma tidak terbentuk dengan baik dan
fungsinya terganggu, sehingga reproduksi mikrofungi ini terhambat (Soemati dan
Elya, 2002). Menurut Huang et al dalam Rahma (2010), yang juga ikut
bertanggung jawab dalam menghambat pertumbuhan C.albicans selain fenol
adalah komponen tannin. Tannin memiliki mekanisme antifungi yang mampu
menghambat sintesis khitin. Khitin merupakan salah satu komponen polisakarida
dinding sel dan berperan sangat penting dalam pertunasan sel mikrofungi tersebut.
Konsentrasi ekstrak kulit waluh atau labu kuning yang menunjukkan pengaruh
nyata paling kecil terhadap daya hambat pertumbuhan C. albicans dan
menyebabkan rerata diameter zona hambat paling rendah terdapat pada
konsentrasi 50% yaitu sebesar 8,48 mm.
Ada beberapa faktor yang mampu mempengaruhi kemampuan suatu
antimikroba dalam mengahasilkan ukuran diameter zona hambat. Beberapa faktor
yang mempengaruhinya antara lain konsentrasi mikroba, ketebalan agar, suhu saat
inkubasi, waktu inkubasi, nilai pH dari medium dan beberapa faktor lainnya
(Greenwood et al, 2003). Secara keseluruhan faktor-faktor tersebut dapat dikontrol

saat prosedur pengujian. Namun ada pula beberapa faktor yang tidak dapat
dikontrol atau diubah seperti keragaman bibit, tempat tumbuh, iklim, kondisi
waktu panen, serta proses pasca panen yang meliputi tahap pengeringan dan
penyimpanan (Ahmad dan Kusumawati, 2001).
Kelemahan pada penelitian ini adalah waktu yang digunakan untuk inkubasi
biakan C.albicans pendek, sehingga ukuran koloni yang terbentuk pada biakan
tersebut kecil. Namun dengan ukuran koloni yang terbatas pada penelitian ini
sudah menunjukkan adanya efek hambatan dari ektraks waluh atau labu kuning
terhadap pertumbuhan C.albicans.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ektraks kulit waluh atau
labu kuning memiliki daya antijamur terhadap pertumbuhan yang dapat dilihat
berdasarkan ukuran diameter zona hambat yang terbentuk dan klasifikasi respon
hambatan pertumbuhan bakteri. Dengan demikian, penggunaan ektraks kulit waluh
atau labu kuning mempunyai dasar kuat yang digunakan sebagai bahan obat
karena kandungan didalamnya sangat efektif dalam menghambat pertumbuhan
C.albicans secara in-vitro.