Anda di halaman 1dari 23

CSS

Otitis Media Akut

Oleh :
Andika Heriyandi
Revi Naldi
Vanny Syafitri

0810312097
0910313258
1010312118

Preseptor :
dr. Nirza Warto, Sp.THT-KL

Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok


Bedah Kepala Leher
RSUP DR. M. Djamil Padang
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut pada sebagian atau
seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel
mastoid. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan khususnya pada anakanak. Diperkirakan 70% anak mengalami satu atau lebih episode otitis media
menjelang usia 3 tahun. Penyakit ini terjadi terutama pada anak dari baru lahir
sampai umur sekitar 7 tahun, dan setelah itu insidennya mulai berkurang.1
Penyakit ini lebih sering pada anak-anak Indian, Amerika dan Eskimo
dibandingkan dengan anak kulit putih dan paling jarang pada anak kulit hitam.
Keadaan ini lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan perempuan. Delapan
serotipe S.pneumoniae bertanggung jawab atas lebih dari 75 persen episode otitis
media akut. Maka, pengembangan suatu vaksin pneumokokok dapat merupakan
suatu langkah penting dalam mengendalikan episode berulangnya suatu otitis
media akut.2
Menurut Donaldson, anak-anak berusia 6-11 bulan sangat rentan terhadap
OMA dan kerentanan ini menurun pada anak usia 18-20 bulan. Insiden sedikit
lebih tinggi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Sebagian kecil akan
rekuren pada tahun keempaat dan kelima awal. Setelah erupsi gigi pertama,
kekambuha penyakit ini akan menurun secara dramatis, walaupun beberapa orang
dengan otitis tetap akan rekuren hingga dewasa.3
Prevalensi OMA di setiap negara bervariasi, berkisar antara 2,3 - 20%.
Berbagai studi epidemiologi di Amerika Serikat (AS), dilaporkan prevalensi
terjadinya OMA sekitar 17-20% pada 2 tahun pertama kehidupan. Prevalensi otitis
media di negara-negara maju lainnya hampir sama dengan di AS. Studi
epidemiologi OMA di negara-negara berkembang sangat jarang. Di Thailand,
Prasansuk melaporkan bahwa prevalensi OMA pada anak-anak yang berumur
kurang dari 16 tahun pada tahun 1986 sampai 1991 sebesar 0,8%. Berdasarkan
survei kesehatan Indera Pendengaran tahun 1994-1996 pada 7 provinsi di
Indonesia didapatkan prevalensi penyakit telinga tengah populasi segala umur di
2

Indonesia sebesar 3.9 %. Di Indonesia belum ada data nasional baku yang
melaporkan angka kejadian OMA.4
Faktor-faktor risiko terjadinya OMA adalah bayi yang lahir prematur dan
berat badan lahir rendah, umur (sering pada anak-anak), anak yang dititipkan ke
penitipan anak, variasi musim dimana OMA lebih sering terjadi pada musim
gugur dan musim dingin, predisposisi genetik, kurangnya asupan air susu ibu,
imunodefisiensi, gangguan anatomi seperti celah palatum dan anomali
kraniofasial lain, alergi, lingkungan padat, sosial ekonomi rendah, dan posisi tidur
tengkurap.1
1.2 Batasan Masalah
Makalah ini hanya terbatas pada definisi, epidemiologi etiologi, patogenesis,
diagnosis, talaksana dan komplikasi Otitis Media Akut.

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan referat ini adalah untuk menambah pengetahuan dan
pemahaman tentang Otitis Media Supuratif Akut.

1.4 Metode Penulisan


Penulisan makalah ini berdasarkan tinjauan kepustakaan dengan merujuk ke
beberapa literatur yang ada.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Telinga Tengah


Telinga tengah terdiri atas: membran timpani, kavum timpani, processus
mastoideus, dan tuba eustachius.2,5,6

Gambar 2.1. Anatomi Telinga tengah


1.

Membran Timpani
Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan

memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membran timpani mempunyai
tiga lapisan yaitu :6
a)

Stratum kutaneum (lapisan epitel) berasal dari liang telinga.

b)

Stratum mukosum (lapisan mukosa) berasal dari kavum timpani.

c)

Stratum fibrosum (lamina propria) yang letaknya antara stratum


kutaneum dan mukosum.

Secara anatomis membran timpani dibagi dalam 2 bagian :6

a.

Pars tensa
Bagian terbesar dari membran timpani yang merupakan permukaan yang

tegang dan bergetar, sekelilingnya menebal dan melekat pada anulus fibrosus pada
sulkus timpanikus bagian tulang dari tulang temporal.
b.

Pars flaksida atau membran Shrapnell.


Letaknya di bagian atas muka dan lebih tipis dari pars tensa. Pars flaksida

dibatasi oleh 2 lipatan yaitu :

Plika maleolaris anterior (lipatan muka).


Plika maleolaris posterior (lipatan belakang).

Gambar 2.2. Membran Timpani

2.

Kavum Timpani
Kavum timpani terletak di dalam pars petrosa dari tulang temporal,

bentuknya bikonkaf, atau seperti kotak korek api. Kavum timpani terdiri dari :5,6
a.

Tulang-tulang pendengaran, terbagi atas: malleus (hammer/martil),

b.

inkus (anvil/landasan), stapes (stirrup/pelana)


Otot, terdiri atas: otot tensor timpani (muskulus tensor timpani) dan

otot stapedius (muskulus stapedius).


c.
Saraf korda timpani.
d.
Saraf pleksus timpanikus.
3.

Processus mastoideus

Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke


kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah dinding
lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak di bawah duramater pada
daerah ini. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum.
4.

Tuba eustachius.2,5,6
Tuba eustachius, disebut juga tuba auditori atau tuba faringotimpani,

berbentuk seperti huruf S. Tuba ini merupakan saluran yang menghubungkan


kavum timpani dengan nasofaring.
Tuba eustachius memiliki beberapa fungsi yaitu, sebagai ventilasi yaitu tuba
eustacius berguna agar menjaga tekanan dalam telinga tengah sama dengan
tekanan udara luar, drainase sekret sehingga sekret yang dihasilkan ditelinga
tengah dikeluarkan ke nasofaring dan fungsi proteksi yaitu melindungi telinga
tengah terhadap masuknya sekret dari nasofaring. 5

Gambar 2.3. Fungsi Tuba

Tuba eustachius terdiri atas tulang rawan pada dua per tiga kearah
nasofaring dan sepertiga atas terdiri dari tulang. Pada anak tuba lebih pendek,

lebih lebar dan kedudukanya lebih horizontal dari tuba orang dewasa. Panjang
tuba orang dewasa 37,5 mm dan pada anak dibawah 9 bulan adalah 17,5 mm. 5
Tuba biasanya dalam keadaan tertutup dan baru terbuka saat oksigen
diperlukan masuk ketelinga tengah atau saan mengunyah, menelan dan menguap.
Pembukaan tuba dibantu oleh otot tensor palatini apabila perbedaan tekanan 20-40
mmHg.5

Gambar 2.4. Anatomi saluran tuba eustachius ke telinga tengah


2.2. Definisi
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Secara mudah otitis
media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif (otitis
media efusi/ OME). Masing masing penggolongan memiliki bentuk akut maupun
kronis, yaitu otitis media supuratif akut (otitis media akut/ OMA) dan Otitis media
supuratif kronis (OMSK) begitu juga dengan otitis media non supuratif. Otitis
media akut dapat didefinisikan sebagai adanya peradangan pada telinga tengah
disertai dengan onset yang cepat dengan tanda dan gejala infeksi telinga.5

2.3. Epidemiologi
Otitis media dapat mengenai segala usia, namun otitis media lebih sering
pada bayi dan anak-anak dan sering kali disertai dengan infeksi pada saluran
pernapasan atas. Epidemiologi seluruh dunia terjadinya otitis media pada anak
berusia 1 thn sekitar 62%, sedangkan anak-anak berusia 3 thn sekitar 83%. Di
Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami minimal satu episode otitis
media sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga
kali atau lebih. di Indonesia (1994-1996) insidensi otitis media dilaporkan sekitar
3,8%. 7
2.4

Etiologi8

Peradangan pada telinga tengah biasanya disebabkan oleh adanya kelainan pada
nasofaring, yaitu :
a. waktu

pilek

mukosa

nasofaring

mengalami

peradangan

dan

mikroorganisme terdorong masuk melalui tuba eustachius waktu


membuang ingus keras-keras.
b. adenoid meradang sehingga menyumbat muara tuba, akan menyebabkan
terjadinya absorbsi udara dalam telinga dan di gantikan oleh mukous. Pada
suatu saat mukous ini akan berubah menjadi mukopus.
c. mukopus dari proses peradangan akan mengalir ke rongga belakang
hidung dan menyebabkan peradangan tuba.
Otitis media akut dapat disebabkan oleh bakteri dan virus. Bakteri yang paling
sering ditemukan adalah Streptococcus pneumaniae, diikuti oleh Haemophilus
influenza, Moraxella catarrhalis, Streptococcus grup A, dan Staphylococcus
aureus.

Beberapa

mikroorganisme

lain

yang

jarang

ditemukan

adalah

Mycoplasma pneumaniae, Chlamydia pneumaniae, dan Clamydia tracomatis.

Tabel 2.1. Karakteristik Mikrobiologi dari Otitis Media Akut


Spesies Bakteri

Persentase strain

Streptococcus pneumoniae

35-40

Haemophillus influenza

30-35

Moraxella catharralis

15-18

Streptococcus pyogenes

2-4

Steril

20

Virus terdeteksi pada sekret pernafasan pada 40-90% anak dengan OMA, dan
terdeteksi pada 20-48% cairan telinga tengah anak dengan OMA. Virus yang
sering sebagai penyebab OMA adalah respiratory syncytial virus. Selain itu bisa
disebabkan virus parainfluenza (tipe 1,2, dan 3), influenza A dan B, rinovirus,
adenovirus, enterovirus, dan koronavirus. Penyebab yang jarang yaitu
sitomegalovirus dan herpes simpleks. Infeksi bisa disebabkan oleh virus sendiri
atau kombinasi dengan bakteri lain.
2.5

Patogenesis1,2,5,8,9,12
Banyak penelitian pada hewan percobaan dan preparat tulang temporal

menemukan bahwa adanya disfungsi tuba Eustachius, yaitu suatu saluran yang
menghubungkan rongga di belakang hidung (nasofaring) dengan telinga tengah
(kavum timpani), merupakan penyebab utama terjadinya otitis media. Pada
keadaan normal, muara tuba Eustachius berada dalam keadaan tertutup dan akan
membuka

bila

kita

menelan.

Tuba

Eustachius

ini

berfungsi

untuk

menyeimbangkan tekanan udara telinga tengah dengan tekanan udara luar


(tekanan udara atmosfer). Fungsi tuba yang belum sempurna, tuba yang pendek,
penampang relatif besar pada anak dan posisi tuba yang datar menjelaskan
mengapa suatu infeksi saluran nafas atas pada anak akan lebih mudah menjalar ke
telinga tengah sehingga lebih sering menimbulkan otitis media daripada dewasa.

Gambar 2.5. Perbedaan anatomi tuba Eustachius pada anak dan dewasa
Otitis media akut terjadi karena terganggunya faktor pertahanan tubuh.
Sumbatan pada tuba Eustachius merupakan faktor utama penyebab terjadinya
penyakit ini. Dengan terganggunya fungsi tuba Eustachius, terganggu pula
pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah sehingga kuman masuk dan
terjadi peradangan. Gangguan fungsi tuba Eustachius ini menyebabkan terjadinya
tekanan negatif di telingah tengah, yang menyebabkan transudasi cairan hingga
supurasi. Pencetus terjadinya OMA adalah infeksi saluran pernafasan atas (ISPA).
Patogenesis dari otitis media akut sebagian besar diawali oleh infeksi virus
yang menyebabkan gangguan pada apparatus mukosiliaris dan disfungsi dari tuba
Eustachius pada anak. Insiden tertinggi dari otitis media akut terjadi pada usia 324 bulan yang juga merupakan usia dengan insiden tertinggi dari infeksi viral
pada anak.
Makin sering anak-anak terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya
OMA. Pada bayi dan anak terjadinya OMA dipermudah karena: 1) morfologi tuba
eustachius yang pendek, lebar, dan letaknya agak horizontal; 2) sistem kekebalan
tubuh masih dalam perkembangan; 3) adenoid pada anak relatif lebih besar

10

dibanding orang dewasa dan sering terinfeksi sehingga infeksi dapat menyebar ke
telinga tengah.
Beberapa faktor lain mungkin juga berhubungan dengan terjadinya penyakit
telinga tengah, seperti alergi, disfungsi siliar, penyakit hidung dan/atau sinus, dan
kelainan sistem imun.
Berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah, stadium OMA dapat dibagi atas 5
stadium:
1. Stadium radang tuba Eustacius (oklusi)
Stadium ini ditandai dengan adanya gambaran retraksi membran timpani
akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah, karena adanya
absorbsi udara. Kadang kadang membran timpani sendiri tampak normal atau
berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi.
Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh
virus atau alergi. Dari penderita sendiri biasanya mengeluh telinga terasa
tersumbat (oklusi tuba), kurang dengar, dan seperti mendengar suara sendiri
(otofoni). Penderita belum mengeluhkan ada rasa otalgia.
2. Stadium hiperemis (presupurasi)
Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di
membran timpani atau seluruh membran timpani. Mukosa cavum timpani
mulai tampak hiperemis atau oedem. Sekret yang telah terbentuk mungkin
masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat. Pada stadium ini
penderita merasakan otalgia karena kulit di membran timpani tampak
meregang.
3. Stadium supurasi
Oedem yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel
superfisial serta terbentuknya eksudat yang purulen di cavum timpani,
menyebabkan membran timpani menjadi menonjol (bulging) ke arah telinga
luar. Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat,
serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Pada anak - anak sering disertai
11

kejang dan anak menjadi rewel. Apabila tekanan eksudat yang purulen di
cavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemik akibat tekanan pada
kapiler kapiler, serta terjadi tromboflebitis pada vena vena kecil dan
nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membran timpani terlihat
sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan, di tempat ini akan
terjadi ruptur. Sehingga bila tidak dilakukan insisi membran timpani
(miringitomi) maka kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan
discharge keluar ke liang telinga luar.
4. Stadium Perforasi
Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotik atau
virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan
nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang
tadinya gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan anak dapat
tertidur nyenyang. Keadaan ini disebut dengan otits media akut stadium
supurasi.
5. Stadium resolusi
Pada stadium resolusi dapat terjadi dua kemungkinan, yaitu membran
timpani utuh (tidak terjadi perforasi) dan membran timpani perforasi. Pada
membran timpani yang utuh, bila terjadi kesembuhan maka keadaan membran
timpani perlahan lahan akan normal kembali. Sedangkan pada membran
timpani yang utuh tapi tidak terjadi kesembuhan, maka akan berlanjut menjadi
Glue Ear. Pada keadaan ini sebaiknya dilakukan insisi pada membran timpani
(miringitomi) untuk mencegah terjadinya perforasi spontan. Pada membran
timpani yang mengalami perforasi, bila terjadi kesembuhan dan menutup maka
akan menjadi sikatrik, bila terjadi kesembuhan dan tidak menutup maka akan
menjadi Dry ear (sekret berkurang dan akhirnya kering). Sedangkan bila tidak
terjadi kesembuhan maka akan berlanjut menjadi Otitis Media Supuratif
Kronik (OMSK), di mana sekret akan keluar terus menerus atau hilang
timbul.

12

2.6

Diagnosis5,8,10,12
Diagnosis OMA ditegakkan dengan ditemukannya gejala gejala dan tanda

klinik yang didapat dari anamnesis dan pemeriksaan fisik pada telinga tengah
terutama membran timpani, serta pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan
bakteriologik dan radiologik.
Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien. Pada
usia anak anak umumnya keluhan berupa rasa nyeri di telinga dan demam.
Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya. Pada remaja
atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran dan
telinga terasa nyeri. Pada bayi dan anak kecil gejala khas OMA ialah suhu tubuh
tinggi dapat sampai 39,5C (pada stadium supurasi), anak gelisah dan sukar tidur,
tiba-tiba anak menjerit pada waktu tidur dan memegang telinganya, diare, kejangkejang dan sering memegang telinga yang sakit. Bila terdapat ruptur membran
timpani makan sekret mengalir ke liang telinga, suhu badan turun dan anak
tertidur tenang.
Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut:
1.

Penyakitnya muncul mendadak (akut)

2.

Ditemukannya tanda efusi di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya


salah satu di antara tanda berikut: menggembungnya gendang telinga, terbatas
/ tidak adanya gerakan gendang telinga, adanya bayangan cairan di belakang
gendang telinga, cairan yang keluar dari telinga

3.

Adanya tanda / gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan


adanya salah satu di antara tanda berikut: kemerahan pada gendang telinga,
nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.
Diagnosis otitis media akut pada bayi dan anak-anak dapat menyulitkan.

Gejala yang timbul kadang ringan atau dapat bersamaan dengan gejala infeksi
saluran pernafasan atas. Membran timpani dapat tertutup oleh serumen dan sulit
untuk diinspeksi. Faktor-faktor lain yang dapat mempersulit diagnosis diantaranya
keadaan anak yang tidak kooperatif, peralatan diagnosis yang tidak lengkap
13

termasuk lampu kepala, instrumen untuk membersihkan serumen dari liang teling
luar yang tidak adekuat, kurangnya bantuan untuk menahan posisi anak, serta
kurangnya

pengalaman

dalam

membersihkan

serumen

dan

melakukan

pemeriksaan otoskopi.
Beberapa teknik pemeriksaan dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis
OMA, seperti otoskop, otoskop pneumatik, timpanometri, dan timpanosintesis.
Dengan otoskop dapat dilihat adanya gendang telinga yang menggembung,
perubahan warna gendang telinga menjadi kemerahan atau agak kuning dan
suram, serta cairan di liang telinga.

Gambar 2.6. Membran timpani normal


Membran timpani normal memiliki gambaran yang bening, putih, dan tampak
seperti mutiara. Gambaran spesifik juga dapat terlihat seperti bagian prosesus
pendek dan manubrium maleus serta pars flaksid di bagian superior. Hal ini dapat
membantu dalam menentukan posisi dari membran timpani. Gerakan membran
timpani ke arah dalam pada tekanan positif di telinga luar dan gerakan ke arah
luar pada tekanan negative dapat terjadi terutama pada kuadran superior posterior.
Saat membran timpani mengalami retraksi, prosesus pendek dari maleus menjadi

14

lebih jelas dan manubrium tampak memendek karena perubahan posisi di dalam
telinga tengah.
Jika konfirmasi diperlukan, umumnya dilakukan dengan otoskopi pneumatik.
Gerakan gendang telinga yang berkurang atau tidak ada sama sekali dapat dilihat
dengan pemeriksaan ini. Pemeriksaan ini meningkatkan sensitivitas diagnosis
OMA. Namun umumnya diagnosis OMA dapat ditegakkan dengan otoskop biasa.
Gambaran yang dapat terlihat pada otoskopi pneumatik dapat dikelompokkan
berdasarkan warna, posisi, serta mobilitas dari membran timpani.
a. Warna

: hemorrhagic, sangat merah, cukup merah, pucat atau

kelabu, sedikit merah, normal


b. Posisi
: bulging, retraksi, normal
c. Mobilitas

: cacat berat, cacat ringan, normal

Gambar 2.7. Perbandingan Gambaran Membran Timpani


Untuk

mengkonfirmasi

penemuan

otoskopi

pneumatik

dilakukan

timpanometri. Timpanometri dapat memeriksa secara objektif mobilitas membran


timpani dan rantai tulang pendengaran. Timpanometri merupakan konfirmasi
penting terdapatnya cairan di telinga tengah. Timpanometri juga dapat mengukur
tekanan telinga tengah dan dengan mudah menilai patensi tabung miringotomi
dengan mengukur peningkatan volume liang telinga luar. Timpanometri punya
sensitivitas dan spesifisitas 70-90% untuk deteksi cairan telinga tengah, tetapi
tergantung kerjasama pasien.
Timpanosintesis, diikuti aspirasi dan kultur cairan dari telinga tengah,
bermanfaat pada anak yang gagal diterapi dengan berbagai antibiotika, atau pada
imunodefisiensi. Timpanosintesis merupakan standar emas untuk menunjukkan
adanya cairan di telinga tengah dan untuk mengidentifikasi patogen yang spesifik.

15

Gambar 2.8. Spuit tuberculin (kiri); instrument Storz yang dipasangkan jarum
(kanan)
Menurut beratnya gejala, OMA dapat diklasifikasi menjadi OMA berat dan
tidak berat. OMA berat apabila terdapat otalgia sedang sampai berat, atau demam
dengan suhu lebih atau sama dengan 39oC oral atau 39,5oC rektal, atau keduanya.
Sedangkan OMA tidak berat apabila terdapat otalgia ringan dan demam dengan
suhu kurang dari 39oC oral atau 39,5oC rektal, atau tidak demam.
Diagnosis otitis media akut pada bayi dan anak-anak dapat menyulitkan.
Gejala yang timbul kadang ringan atau dapat bersamaan dengan gejala infeksi
saluran pernafasan atas. Membran timpani dapat tertutup oleh serumen dan sulit
untuk diinspeksi. Faktor-faktor lain yang dapat mempersulit diagnosis diantaranya
keadaan anak yang tidak kooperatif, peralatan diagnosis yang tidak lengkap
termasuk lampu kepala, instrumen untuk membersihkan serumen dari liang teling
luar yang tidak adekuat, kurangnya bantuan untuk menahan posisi anak, serta
kurangnya

pengalaman

dalam

membersihkan

serumen

dan

melakukan

pemeriksaan otoskopi.
Diagnosis banding paling sering dari otitis media akut adalah otitis media
eksterna. Otitis media eksterna dapat muncul sebagai lanjutan dari episode otitis
media akut atau sebagai konsekuensi dari disfungsi tuba Eustachius yang

16

berhubungan dengan infeksi saluran pernafasan atas. Namun otitis media eksterna
dapat juga merupakan predisposisi terhadap munculnya otitis media akut.
Untuk membedakan antara otitis media akut dan otitis media eksterna harus
dilakukan pemeriksaan tanda-tanda inflamasi akut pada membran timpani. Tanda
yang paling jeas dari otitis media akut adalah adanya bulging pada membran
timpani. Pada otitis media eksterna didapatkan cairan yang steril pada telinga.
Pemberian antibiotik tidak diperlukan pada otitis eksterna.

1.7.

Tatalaksana1,5,8
Tujuan penatalaksanaan OMA adalah mengurangi gejala dan rekurensi.

Pada fase inisial penetalaksaan ditujukan pada penyembuhan gejala yang


berhubungan dengan nyeri dan demam serta mencegah komplikasi supuratif
seperti mastoiditis atau meningitis. Diagnosis yang tidak tepat dapat menyebabkan
pasien diterapi dengan antibiotik yang sebenarnya kurang tepat atau tidak perlu.
Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya resistensi antibiotik, sehingga infeksi
menjadi lebih sulit diatasi.
Penatalaksanaan OMA di bagian THT-KL RSUP Dr. M. Djamil Padang
tergantung stadium penyakit yaitu :
1. Stadium oklusi : diberikan obat tetes hidung HCL efedrin 0,5% dan pemberian
antibiotik
2. Stadium presupurasi : analgetik, antibiotik (biasanya golongan ampicilin atau
penicillin) dan obat tetes hidung.
3. Stadium supurasi : diberikan antibiotik dan obat-obat simptomatik. Dapat juga
dilakukan miringotomi bila membran timpani menonjol dan masih utuh untuk
mencegah perforasi.
4. Stadium perforasi : diberikan H2O2 3% selama 3-5 hari dan diberikan antibiotik
yang adekuat.
Pada tahun 2004, American Academy of Pediatrics dan the American Academy
of Family Physicians mengeluarkan rekomendasi penatalaksaan OMA. Petunjuk
17

rekomendasi ini ditujukan pada anak usia 6 bulan sampai 12 bulan. Pada petunjuk
ini direkomendasikan bayi berumur kurang dari 6 bulan mendapat antibiotik dan
pada anak usia 6-23 bulan observasi merupakan pilihan pertama pada penyakit
yang tidak berat atau diagnosis tidak pasti, antibiotika diberikan bila diagnosis
pasti atau penyakit berat. Pada anak diatas 2 tahun mendapat antibiotika jika
penyakit berat. Jika diagnosis tidak pasti atau penyakit tidak berat dengan
diagnosis pasti observasi sebagai pilihan terapi.

Terapi Bedah
Walaupun observasi yang hati-hati dan pemberian obat merupakan
pendekatan

pertama

dalam

terapi

OMA,

terapi

pembedahan

perlu

dipertimbangkan pada anak dengan OMA rekuren, otitis media efusi (OME), atau
komplikasi supuratif seperti mastoiditis dengan osteitis. Beberapa terapi bedah
yang digunakan untuk penatalaksanaan OMA termasuk timpanosintesis,
miringotomi, dan adenoidektomi.
Timpanosintesis adalah pengambilan cairan dari telinga tengah dengan
menggunakan jarum untuk pemeriksaan mikrobiologi. Risiko dari prosedur ini
adalah perforasi kronik membran timpani, dislokasi tulang-tulang pendengaran,
dan tuli sensorineural traumatik, laserasi nervus fasialis atau korda timpani. Oleh
karena itu, timpanosintesis harus dibatasi pada: anak yang menderita toksik atau
demam tinggi, neonatus risiko tinggi dengan kemungkinan OMA, anak di unit
perawatan intensif, membran timpani yang menggembung (bulging) dengan
antisipasi ruptur spontan (indikasi relatif), kemungkinan OMA dengan komplikasi
supuratif akut, OMA refrakter yang tidak respon terhadap paket kedua antibiotik.
Timpanosintesis dapat mengidentifikasi patogen pada 70-80% kasus.
Walaupun timpanosintesis dapat memperbaiki kepastian diagnostik untuk OMA,
tapi tidak memberikan keuntungan terapi dibanding antibiotik sendiri.
Timpanosintesis merupakan prosedur yang invasif, dapat menimbulkan nyeri, dan
berpotensi menimbulkan bahaya sebagai penatalaksanaan rutin.

18

Miringotomi adalah tindakan insisi pada membran timpani untuk drainase


cairan dari telinga tengah. Pada miringotomi dilakukan pembedahan kecil di
kuadran posterior-inferior membran timpani. Untuk tindakan ini diperlukan lampu
kepala yang terang, corong telinga yang sesuai, dan pisau khusus (miringotom)
dengan ukuran kecil dan steril.
Miringotomi hanya dilakukan pada kasus-kasus terpilih dan dilakukan oleh
ahlinya. Indikasi untuk miringotomi adalah terdapatnya komplikasi supuratif,
otalgia berat, gagal dengan terapi antibiotik, pasien imunokompromis, neonatus,
dan pasien yang dirawat di unit perawatan intensif.

Vaksin untuk mencegah OMA


Vaksin dapat digunakan untuk mencegah anak menderita OMA. Secara
teori, vaksin terbaik adalah yang menawarkan imunitas terhadap semua patogen
berbeda yang menyebabkan OMA. Walaupun vaksin polisakarida mengandung
jumlah serotipe yang relatif besar, preparat poliksakarida tidak menginduksi
imunitas seluler yang bertahan lama pada anak dibawah 2 tahun. Oleh karena itu,
strategi vaksin terkini untuk mengontrol OMA adalah konjungat polisakarida
peneumokokal dengan protein nonpneumokokal imunogenik, pendekatan yang
dapat memicu respon imun yang kuat dan lama pada bayi.
Walaupun pemberian vaksin ini sangat bermanfaat dan sudah mulai dipakai
di negara-negara maju, namun di RSUP Dr. M. Djamil Padang, pemberian vaksin
ini belum rutin dilakukan.

1.8.

Komplikasi5,11
Komplikasi dari OMA dapat terjadi melalui beberapa mekanisme, yaitu

melalui erosi tulang, invasi langsung dan tromboflebitis. Komplikasi ini dibagi
menjadi komplikasi intratemporal dan intrakranial. Komplikasi intratemporal
yaitu mastoiditis akut, petrositis, labirintitis, perforasi pars tensa, atelektasis
telinga tengah, paresis fasialis, dan gangguan pendengaran. Komplikasi
19

intrakranial yang dapat terjadi antara lain yaitu meningitis, encefalitis,


hidrosefalus otikus, abses otak, abses epidural, empiema subdural, dan trombosis
sinus lateralis. Komplikasi tersebut umumnya sering ditemukan sewaktu belum
adanya antibiotik, tetapi pada era antibiotik semua jenis komplikasi itu biasanya
didapatkan sebagai komplikasi dari otitis media supuratif kronik (OMSK).
Penatalaksanaan OMA dengan komplikasi ini yaitu dengan menggunakan
antibiotik spektrum luas, dan pembedahan seperti mastoidektomi.

1.9.

Prognosis3
Kematian akibat Otitis Media Akut telah jarang ditemukan sejak zaman

pengobatan modern. Pemberian antibiotik yang efektif dan pemberian pengobatan


simptomatis segera, angka kesakitan dan kematian akibat otitis media akut dapat
ditanggulangi.

20

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Otitis Media Akut adalah suatu peradangan akut pada telinga tengah. Telinga
tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di nasofaring dan farng. Secara
fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke telinga tengah
oleh silia mukosa tuba eustacius, enzim dan antibodi. OMA terjadi karena faktor
pertahanan tubuh ini terganggu. Sumbatan pada tuba eustachius merupakan faktor
penyebab yang utama. Salah satu keadaan yang menyebabkan terjadinya
sumbatan tuba eustacius adalah infeksi saluran napas atas berulang.
OMA dapat dibagi menjadi 5 stadium yaitu stadium oklusi tuba estacius,
stadium hiperemis, stadium supurasi, stadium perforasi dan stadium resolusi.
Keadaan ini berdasarkan pada gambaran membran timpani yang diamati melalui
liang telinga luar.
Gejala klinik OMA bergantung pada stadium penyakit dan umur pasien.
Pada anak yang sudah dapat berbicara, keluahan utama adalah rasa nyeri di dalam
telinga dan didapatkan suhu tubuh yang tinggi. Sedangkan pada orang dewasa
selain rasa nyeri juga terdapat pula gangguan pendengaran berupa rasa penuh di
telinga dan rasa kurang mendengar. Pada bayi dan anak kecil, gejala khas nya
adalah suhu tubuh tinggi yang dapat mencapai 39,50 C (pada stadium supurasi),
anak gelisah, tiba-tiba menjerit karena sakitnya serta kadang anak memegang
telinga yang sakit. Jika terjadi ruptur membrana timpani, sekret akan mengalir ke
liang teling, suhu tubuh turun dan anak kembali menjadi tenang.
Penatalaksanaan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Pilihan
terapi OMA berupa observasi dengan menghilangkan nyeri (menggunakan
asetaminofen atau ibuprofen), dan / atau antibiotik. Di Amerika Serikat
kebanyakan anak dengan OMA secara rutin mendapat antibiotik.
Jika OMA tidak mendapat pengobatan yang adekuat, maka OMA dapat
berkomplikasi ke intratemporal atau intrakranial, namun komplikasi seperti ini

21

sudah jarang terjadi sejak ditemukannya antibiotik. Komplikasi yang sering terjadi
saat ini biasanya didapatkan dari komplikasi akibat OMSK. Prognosis dari
penyakit ini pun baik sejak ditemukan nya antibiotik sebagai pengobatan yang
efektif.

22

DAFTAR PUSTAKA
1.

Healy GB, Rosbe KW. Otitis media and middle ear effusions. In: Snow JB,
Ballenger JJ,eds. Ballengers otorhinolaryngology head and neck surgery.
16th edition. New York: BC Decker;2003. p.249-59.

2.

Adams GL, Boies LR, Higler PA. Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid.
Boies, Buku Ajar Penyakit THT Ed. 6. Jakarta: EGC;88-119.

3.

Donaldson JD. Acute Otitis Media. Updated Oct 28, 2011. Available from:
http://www.emedicine.medscape.com. Accessed December 22, 2014.

4.

Umar S. Prevalensi dan Faktor Risiko Otitis Media Akut pada Anak-anak di
Kotamadya Jakarta Timur [Tesis]. Jakarta: FKUI; 2013

5.

Djaafar ZA. Kelainan telinga tengah, dalam Soepardi Efiyanti A, dkk. Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala leher. Edisi 7.
Jakarta : FKUI. 2012. Hal. 57-78

6.

Nursiah S. Pola Kuman Aerob Penyebab OMSK dan Kepekaan Terhadap


Beberapa Antibiotika di Bagian THT FK USU/RSUP H. Adam Malik
Medan. Medan: FK USU. 2003.

7.

Epidemiology
of
acute
otitis
media.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2732519

8.

Munilson J, Edward Y, Yolazenia. Penatalaksanaan Otitis Media Akut.


Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-KL) Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas. Padang.

9.

Askaroellah, Aboet. 2007. Radang Telinga Tengah Menahun. Available


from: http://www.usu.ac.id/ (Accessed at January 3rd, 2015)

10.

Lieberthal AS, et al. 2013. CLINICAL PRACTICE GUIDELINE The


Diagnosis and Management of Acute Otitis Media. Available From:
http://pediatrics.aappublications.org/ (Accessed at January 3rd, 2015)

11.

Priyono H. Restuti RD, Iswara A. Handryastuti S. Komplikasi intratemporal


dan intrakranial pada otitis media akut anak. Laporan kasus. Jakarta:
Departemen THT-KL FKUI/RSCM.

12.

Wald ER. 2011. Acute Otitis Media and Acute Bacterial Sinusitis. Available
from: http://cid.oxfordjournals.org/ (Accessed at January 3rd, 2015)

Diunduh

dari

23