Anda di halaman 1dari 13

READING ASSIGNMENT

DIVISI ENDOKRINOLOGI
DEPARTEMEN PENYAKIT
DALAM FK.USU-RSUP HAM

EFEK LATIHAN JASMANI DALAM MEMPERBAIKI SENSITIFITAS


INSULIN
Brama Ihsan Sazli

PENDAHULUAN
RESISTENSI INSULIN
Resistensi Insulin adalah kondisi di mana jumlah normal insulin tidak memadai untuk
menghasilkan respons insulin normal dari sel lemak, sel otot dan sel hati. Resistensi insulin pada
sel-sel lemak mengurangi efek insulin dan mengakibatkan peningkatan hidrolisis cadangan
trigliserida, jika tidak ada langkah-langkah yang baik untuk meningkatkan sensitifitas terhadap
insulin atau dengan memberikan insulin tambahan. Peningkatan mobilisasi cadangan lipid akan
meningkatkan asam lemak bebas dalam plasma darah. Resistansi insulin pada sel-sel otot
mengurangi ambilan glukosa (serta menurunkan penyimpanan glukosa sebagai glikogen),
sedangkan resistensi insulin pada sel-sel hati menyebabkan gangguan sintesis glikogen dan
kegagalan untuk menekan produksi glukosa. Konsentrasi asam lemak yang tinggi dalam darah
(berhubungan dengan resistensi insulin dan diabetes melitus Tipe 2), berkurangnya asupan
glukosa otot, dan peningkatan produksi glukosa hati semua berkontribusi terhadap peningkatan
konsentrasi glukosa darah. Tidak seperti diabetes melitus tipe 1, resistensi insulin umumnya
bersifat "pasca-reseptor", yang berarti masalah terletak pada respon sel terhadap insulin alih-alih
produksi insulin. Kadar plasma yang tinggi dari insulin dan glukosa akibat resistensi insulin
diyakini sebagai asal usul sindrom metabolik dan diabetes tipe 2, termasuk komplikasinya 1
Resistensi insulin sering ditemukan pada orang dengan adipositas visera (yaitu,
kandungan jaringan lemak yang tinggi di bawah dinding otot perut - yang berbeda dengan
adipositas subkutan atau lemak antara kulit dan dinding otot , khususnya di tempat lain pada
tubuh, seperti pinggul atau paha), hipertensi, hiperglikemia dan dislipidemia yang disertai
trigliserida tinggi, partikel small dense low-density lipoprotein (sdLDL) partikel, dan penurunan
kadar kolesterol HDL. Sehubungan dengan adipositas viseral , banyak bukti menunjukkan dua
hubungan erat dengan resistensi insulin. Pertama, tidak seperti jaringan adiposa subkutan, sel-sel
adiposa viseral menghasilkan sejumlah besar sitokin pro-inflamasi seperti tumor necrosis
factor-alpha (TNF-a), dan interleukin-1 dan -6, dll. Pada banyak model eksperimental, sitokin
pro-inflamasi ini sangat mengganggu aksi normal insulin dalam lemak dan sel-sel otot, dan
mungkin menjadi faktor utama dalam menyebabkan resistensi insulin seluruh tubuh yang diamati
1

pada pasien dengan adipositas viseral. Banyak perhatian ke produksi sitokin pro-inflamasi
berfokus pada jalur IKK-beta/NF-kappa-B, jaringan protein yang meningkatkan transkripsi gen
sitokin. Kedua, adipositas viseral terkait dengan akumulasi lemak dalam hati, suatu kondisi yang
dikenal sebagai penyakit hati berlemak nonalkohol (NAFLD). Hasil yang berlebihan NAFLD
adalah pelepasan asam lemak bebas ke dalam aliran darah (karena meningkatnya lipolisis), dan
peningkatan produksi glukosa hepatik, yang keduanya mempunyai efek memperburuk resistensi
perifer insulin dan meningkatkan kecenderungan diabetes mellitus tipe 2 .2
DIET DAN AKTIFITAS DALAM MEMPERBAIKI SENSITIFITAS INSULIN
1) Diet
Diet harus disesuaikan dengan kebiasaan setiap individu termasuk status gizi,
umur, jenis kelamin, dan aktivitas. Untuk penentuan status gizi dipakai rumus Broca.
Jumlah kalori dihitung dari jumlah kalori basal yang besarnya 25-30 kkal/KgBB ideal
ditambahkan atau dikurangi dengan beberapa faktor yang memengaruhinya, seperti
jenis kelamin, umur, aktivitas, dan BB. Untuk jenis kelamin perempuan digunakan
kalori basal 25 kkal/KgBB sedangkan laki-laki 30 kkal/KgBB. Untuk umur diatas 40
tahun kebutuhan kalori dikurangi 5% dan umur 45-60 tahun dikurangi 10 %.
Kebutuhan kalori ditambah sebanyak 20% pada aktivitas ringan, 30% pada aktivitas
sedang dan 50% pada aktivitas berat. Karena yang termasuk subjek penelitian ini
adalah penderita obesitas, kebutuhan kalori dikurangi sekitar 20-30% sesuai tingkat
obesitas.
Rumus Broca: BB ideal = (TB-100) 10 %.
Cara mementukan kebutuhan kalori harian dengan cara menentukan:
a) Kalori basal
Laki-laki : BB idaman ( kg) x 30 kalori/kg = .kalori.
Atau Perempuan: BB idaman (kg) x 25 kalori/kg
b) Koreksi/ penyesuaian :
1) Umur > 40 tahun
: - 5%x kalori basal = ........kalori
2) Aktivitas Ringan : + 10%x kalori basal = ....kalori
Sedang
: + 20 %
Berat
: + 30%
c) BB:

Gemuk
: - 20% x kalori basal =............kalori
Lebih
: - 10%.
Kurang
: + 20%.
--------------------Total kebutuhan
=...............kalori

Dari kebutuhan total harian, persentase karbohidrat adalah 60-65% dibagi empat, persentase fat
adalah 15-20% dibagi sembilan, dan protein 10-15% dibagi empat. Dari hitungan ini didapat
2

kebutuhan makanan harian dalam gram. Dari jumlah kalori makanan harian dibagi menjadi 3
porsi besar yaitu untuk makan pagi 20%, siang 30%, dan sore hari 25%. Makanan
ringan/selingan sebesar 10-15% terdiri dari 2-3 porsi3
2. Aktifitas / Latihan Jasmani
Kegiatan Jasmani sehar-hari dan latihan jasmani secara teratur merupakan salah satu pilar dalam
pengelolaan DM tipe 2. Kegiatan sehari (tabel 1) harus tetap dilakukan. Latihan jasmani selain
untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitifitas
insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah

Kurangi aktivitas
Hindari aktivitas sedenteri

Misalnya menonton televisi, menggunakan


internet, main game, dll

Persering aktivitas
Mengikuti olahraga rekreasi dan
beraktivitas fisik tinggi waktu liburan.

Misalnya jalan cepat, golf, olah otot,


bersepeda dan sepak bola.

Aktivitas harian
Kebiasaan bergaya hidup sehat.

Misalnya: berjalan kaki ke pasar,


menggunakan tangga, menemui rekan kerja
secara langsung dan tidak menggunakan
telepon, dan jalan dari tempat parkir.

Tabel 1 Aktifitas Fisik sehari-hari.


Prinsip latihan jasmani sama seperti dengan prinsip latihan secara umum, yaitu memenuhi
beberapa hal yaitu:
Frekuensi: jumlah olahraga perminggu sebaiknya dilakukan dengan teratur 3-5 x
perminggu
Intensitas : ringan dan sedang ( 60-70% Maximum Hearth Rate)
Durasi : 30-60 menit
Jenis : Latihan jasmani endurans (aerobik) untuk meningkatkan kemampuan
kardiorespirasi seperti jalan, jogging, berenang dan bersepeda.
Latihan jasmani yang dipilih sebaiknya yang disenangi serta memungkinkan untuk dilakukan
hendaknya melibatkan otot-otot besar. Untuk menentukan intensitas latihan, dapat digunakan
Maximum Hearth Rate (MHR) yaitu 220-umur. Setelah MHR didapatkan dapat ditentukan
Target Herath Rate ( THR) yaitu 60-70% dari MHR.
Untuk melakukan Latihan Jasmani perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pemanasan (warm up) Kegiatan ini dilakukan sebelum memasuki latihan yang
sebenarnya,dengan tujuan untuk mempersiapkan berbagai sistem tubuh seperti menaikkan suhu
tubuh meningkatkan denyut nadi hingga mendekati intensitas latihan. Pemanasan juga perlu
untuk menghindari cedera akibat latihan. Pemanasan cukup dilakukan selama 5-10 menit.
3

Latihan inti (conditioning). Pada tahap ini diusahakan denyut nadi mencapai THR, agar
mendapatkan manfaat latihan.
Pendinginan (cooling down). Setelah selesai melakukan latihan jasmani sebaiknya dilakukan
pendinginan. Tahap ini dilakukan untuk mencegah penimbunan asam laktat yang dapat
menimbulkan rasa nyeri pada otot setelah melakukan latihan jasmani. Pendinginan dilakukan
selama kuran-lebih 5-10 menit, hingga denyut jantung mendekati denyut nadi saat istirahat.
Peregangan (stretching). Tahap ini dilakukan dengan tujuan untuk melemaskan dan
melenturkan otot-otot yang masih teregang dan menjadikan lebih elastis. Tahapan ini lebih
bermanfaat terutama bagi mereka yang berusia lanjut.4
LATIHAN JASMANI MENINGKATKAN UPTAKE GLUKOSA DAN SENSITIVITAS
INSULIN PADA OTOT
Latihan jasmani sudah lama disebutkan mempunyai efek yang menguntungkan pada
orang dengan diabetes. Dalam hal mengatur homeostatisglukosa, latihan jasmani dapat
meningkatkan penggunaan glukosa seluruh tubuh dan meningkatkan sensitifitas uptake glukosa
otot terhadap insulin. Efek ini dapat bertahan hingga beberapa jam setelah latihan selesai.
Sebagai tambahan terhadap efek metabolic pada latihan jasmani, pernelitian terakhir
menunjukkan bahwa latihan jasmani secara regular dapat menurunkan risiko menjadi
non.insulin-dependent diabetes (NIDDM). Pada otot yang sedang latihan/kontrakasi,
peningkatan kebutuhan metabolik sejalan dengan uptake dan pemakaian glukosa.Banyak
penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa setelah latihan, terjadi penurunan gula darah pada
vena yang berasal dari otot, selain itu otot juga menjadi lebih sensitive terhadap insulin.
Selanjutnya akan dibahas mengenai perubahan seluler dalam uptake glukosa dan sensitivitas
insulin yang terjadi pada latihan jasmani sesi tunggal. Kemudian membahas mekanisme
perubahan molekuler sebagai adaptasi dari latihan jasmani regular.5
Mekanisme Peningkatan Uptake Glukosa dan Sensitifitas Insulin Ketika Saat Latihan
Banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan transport glukosa selama dan setelah
berolahraga. Selama olahraga , Salah satu respon pengaturan yang paling penting adalah
peningkatan aliran darah ke otot skleteal yang berkontraksi (16). Peningkatan aliran darah
tersebut menyediakan substrat yang cukup untuk kerja otot, dan dengan demikian, ketersediaan
glukosa biasanya bukan merupakan faktor pembatas dalam pemanfaatan glukosa ketika latihan
dilakukan dalam kondisi fisiologis normal. Sebaliknya, transpor glukosa dianggap tingkat
pembatas dalam penggunaan glukosa selama latihan. Selama beberapa tahun terakhir kemajuan
besar telah dicapai dalam memahami dasar molekuler untuk efek dari latihan untuk
meningkatkan transpor glukosa dalam otot rangka.5
Sistem Transpor Glukosa
Transpor glukosa di otot rangka terjadi terutama dengan cara difusi difasilitasi,
memanfaatkan glucose transporter carrier proteins. Pada jaringan mamalia, glukosa transporter
4

adalah sejenis protein struktural yang terkait dengan penyajian dalam sebuah jaringan
spesifik (22). GLUT4 adalah bentuk isoform utama dalam, tikus, dan otot rangka manusia,
sedangkan
GLUT1
dan
GLUT5
isoform disajikan pada kelimpahan jauh lebih
rendah GLUT5 adalah transporter dengan afinitas tinggi fruktosa dengan kapasitas jauh lebih
rendah untuk mengangkut glukosa. Latihan dan insulin adalah mediator utama dari
kegiatan transportasi glukosa di otot, yang terjadi melalui peningkatan kecepatan maksimal
transportasi (Vmax) tanpa perubahan berarti dalam konsentrasi substrat di mana transportasi
glukosa setengah maksimal (K1 / 2) ).5

Gambar 17 Mekanisme Peningkatan Uptake Glukosa dan Sensitifitas Insulin Ketika Saat Latihan
Translokasi Glukosa Transporter
Ada bukti substansial bahwa mekanisme utama dimana olahraga meningkatkan
penyerapan glukosa dalam otot rangka adalah melalui translokasi protein transporter glukosa
dari kompartemen intraselular ke permukaan sel. Selain itu, stimulasi saraf siatik
mengakibatkan kontraksi otot rangka hindlimb juga meningkatkan jumlah transporter glukosa
membran plasma pada tikus secara in situ. Translokasi transporter glukosa karena olahraga
terjadi karena adanya peningkatan jumlah isoform GLUT4 membran plasma, namun tidak
mengubah kelimpahan GLUT1 plasma membran atau GLUT5 (EA Richter& HS Hundal,).
Sebuah penelitian terbaru telah menunjukkan bahwa persentase yang signifikan dari para
GLUT4 yang translokasi ke fraksi membran plasma pada latihan berhubungan dengan
tubulus transversal nonjunctional. 5

Studi terbaru menggunakan analisis immunocytochemical pada otot rangka dengan


mikroskop elektron, menunjukkan bahwa kontraksi otot meningkatkan protein GLUT4 membran
plasma, Serupa dengan latihan, insulin juga menyebabkan translokasi GLUT4 pada otot rangka.
Oleh karena aliran darah meningkat selama latihan dapat dibayangkan bahwa peningkatan
GLUT4 ke membrane plasma ketika latihan disebabkan oleh peningkatan antaran insulin ke otot
yg bekerja.5
Peningkatan transport glukosa otot melalui rangsangan kontraksi otot dan insulin lebih
besar dibandingkan efek hanya dari kontraksi ataupun insulin saja. Efek adisi dari kontraksi otot
ditambah dengan insulin ini menunjukkan kalau masing stimulus dapatbekerja secara bebas
terpisah. Jika jumlah GLUT4 pada membrane plasma terbatas pada saat tranpor glukosa,
kombinasi dari insulin dan kontraksi otot akan mempunyai efek adisi terhadap pengambilan
GLUT4 ke membrane plasma. Dalam suatu studi disebutkan pada latihan treadmillatau kontraksi
otot in situ dikombinasikan dengan terapi insulin, didapatkan adanya efek adisi dari uptake
glukosa.6
Mekanisme Intracellular Signaling
Mekanisme signaling intraseluler diyakini berperan penting dalam tranlokasi GLUT 4
dari interaseluler ke membrane plasma, namun mekanisme bagaiman pola ini terjadi masih
belum dapat ditentukan. Pertanyaan yg timbul berupa apakah mekanisme ini berbeda atau sama
antara yang diperantai oleh insulin ataupun oleh latihan.5,6
Kalsium dan Protein Kinase C
Kontraksi otot dimulai dengan adanya depolarisasi dari membrane plasma, merangsang
lepasnya kalsium dari sarcoplasmic terculum. Peninggian konsentrasi kalsium tersebut
mengakibatkan interaksi antara filament aktin dan miosinyang kemudian menghasilkan
pemadatan dari serat otot. Ketika hal ini terjadi, peningktan konsentrasi kalsium pada sitoplasma
telah lama diyakini sebsgai mediator ataupun inisiator pada transport glukosa diperantarai
kontraksi.7,6
Protein Kinase C (PKC) adalah salah satu contoh interselular signaling yang teraktifasi
oleh kontraksi otot. PKC isoform dibagi kpada 3 grup besar, yakni: conventional PKC (cPKC),
novel PKC (nPKC), dan atipikal PKC (aPKC). Subgrup dari dai cPKC ini esnsitif terhadap
porbol ester yang dapat menstimulasi transport glukosa pada otot rangka.
5-AMP-activated protein kinase (AMPK)
AMPK adalah regulator poten pada metabolism dan ekspresi gen otot rangka. Kontraksi
otot adalah metode utama yang dilakukan oleh tubuh sehingga dapat terjadi aktifasi daripada
AMPK .AMPK juga dipercaya sebagai molekul signaling penting dalam metabolism otot rangka
selama latihan dan juga dalam adaptasi otot rangka terhadap latihan.8 Ketika kontraksi otot
terjadi, ATP terhidrolisasi membentuk ADP, ADP kemudian membantu ketersediaan ATP sel
kembali dengan membagi gugusan posfat ke ADP yang lain , membentuk ATP dan AMP.
6

Semakin banyak AMP yang diproduksi selama kontraksi otot , ratio AMP:ATP meningkat yang
kemudian merangsang aktifasi dari AMPK.9

Gambar 2 Aktifitas AMPK pada Latihan


Telah banyak sudi menunjukkan bahwa latihan dapat meningkatkan sensitifitas insulin
pada pasien diabetes tipe 2. Bahkan setelah signaling AMPK menuju level istirahat. Salah satu
penjelasan pada peningkatan sensitivitas insulin setelah latihan berhubungan dengan penemuan
bahwa AMPKyang telah diaktifkan memposforilasi aPKC yang kemudian merangsang fospatase
yang bekerja pada insulin receptor substrate 1( IRS-1)10. Mekanisme lain yang memungkinkan
adalah AMPK dapat meningktatkan sensitivitas insulin dengan menekan inhibitory serine
phosphorylation pada IRS1. Pada otot rangka, akivasi kronik AMPK oleh AICARv1
menunjukkan peningkatan GLUT 4 dan hexokinase II transkripsi. Bergeron dkk juga
menunjukkan aktivasi AMPK yang dapat menginhibisi produksi glukosa hepatik, dengan cara
menginhibisi faktor transkrpsi dan activator posforilasi dari coaktivator transkripsional.11

Gambar 3 11 aktivasi AMPK dapat menginhibisi produksi glukosa hepatik

Phosphatidylinositol 3-Kinase
Banyak studi menunjkkan bahwa aktifasi dari Phosphatidylinositol 3-Kinase (PI 3Kinase)sangat diperlukan dalam merangsang translokasi dari GLUT 4. Pada otot rangka,
rangsangan insulin menyebabkan posporilasi yang cepat pada reseptor insulin dan insulin
reseptor substrat (IRS-1) pada residu tyrosin dan aktifasi PI 3-Kinase. PI 3-kinase merupakan
molekul esensial pada translokasi GLUT 4 dan uptake glukosa melalui perantara insulin pada
otot rangka. Sebaliknya hal ini tidak muncul pada keadaan yang diperantarai oleh latihan di otot
rangka. Hal ini menunjukkan walaupun latihan dan insulin meningkatakan ambilan GLUT 4 ke
membrane plasma, namun terdapat perbedaan signaling untuk translokasi GLUT 4 tersebut pada
otot rangka6
Mekanisme insulin-signaling intermediates.
Insulin dan kontraksi otot keduanya meningkatkan transport glukosa otot, namun menjadi
pertanyaan adalah protein mana yang berperan pada proses insulin-stimulated dan juga aktif pada
contraction-stimulated. Dijumpai bahwa PI3-K inhibitor wortmannin juga menginhibisi
contraction-induced uptake glukosa otot. Studi lain menunjukkan aktifitas/ posforilasi protein
kinase B (PKB, dikenal juga sebagai Akt) otot rangka lebih tinggi ketika latihan/kontraksi.
Ditemukan bahwa Ser/Thr posforilasi PKB/Akt nsubstrat 160 kDa (AS160) ikut serta dalam
GLUT 4 tranlokasi dan mungkin transport glukosa dengan insulin pada adiposit ditingkatkan
melalui kontraksi pada otot rangka rodentia.9
Atypikal PKC (aPKC) isoform diaktifkan melalui posforilasi dan ikatan dengan lemak,
dan studi secara konsisten menunjukkan aktifitas aPKC lebih tinggi pada atot yang berkontraksi
ketika latihan. , walaupun mekanisme nya masih belum jelas , diduga bahwa aPKC seperti PKB
berhubungan juga dengan transport glukosa diperantarai insulin.7
Mekanisme Autokrin/parakrin
Beberapa penelitian menunjukkan bahawa pada sel otot rangka dan jantung bila terjadi
regangan mekanik dapat mengaktifkan intracellular signaling pathway dengan melepaskan
growtg factor, yang kemudian merangsang reseptor pada permukaan sel dan sebagian menjadi
second messanger system. Pada otot rangka dewasa , ada bukti yang menunjukkan bahwa
kontraksi dari otot akan merangsang respon autokrim dan atau parakrin. Mekanisme seperti ini
dapat berfungsi dalam mengaktifkan mekanisme cell-signaling seperti PKC dan kemudian
meningkatkan transport glukosa.6
Salah satu contoh dari mekanisme ini adalah Nitric Oxide (NO). Bebrapa penelitian
menunjukkan bahwa NO ikut serta dalam mengatur transport glukosa yang diperantarai oleh
kontraksi.6 Produksi NO meningkat drastis pada otot rangka yang berkontraksi oleh karena
stimulasi oleh Nitric Oxide Synthase (NOS). Peningkatan NO berakibat pada peningkatan aliran
darah ke otot. Sebagai tambahan ada bukti yang menunjukkan NO berperan sebagai signaling
molekul. NO merangsang transport glukosa otot pada mekanisme yang diperantarai cGMP. 12
Inhibisi dari NOS) mengarah kepada penurunan uptake glukosa pada otot tanpa mempengaruhi
8

aliran darah ke tempat otot yang bekerja pada manusia.6,7 Molekul lain yang yang berperan
dalam mekanisme ini adalah kallikrein yang mengkatalisasi produksi dari bradikinin dan sebagai
stimulator potensial dari NOS.6
Proses Glikogenolisis mungkin juga ikut berperan dalam pengaturan exercise-induced
translokasi GLUT-4 pada otot rangka, walaupun masih belum ada bukti langsung , sudah lama
dihipotesiskan bahwa molekul transporter dihubungkan dengan partikel glikogen pada otot dan
hidrolisis glikogen akibat kontraksi melepaskan GLUT4, yang kemudian mengarahkan
translokasi dari transporter ini ke dinding sel.6
Aktifitas Kontraksi terhadap Peningkatan Sensitifitas Insulin Jangka Pendek
Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa transport glukosa insulin-independent akibat
dari aktifitas kontraksi otot pada saat latihan dapat meningkatkansensitifitas insulin pada periode
post-latihan pada subjek yang normal dan insulin resisten. Kejadian ini dapat bertahan dalam
beberapa jam, pada kondisi tertentu, transport glukosa otot yang melalui rangsangan insulin tetap
tinggi hingga 48 jam. Salah satu faktor yang mengatur lamanya efek post-latihan adalah
pengisian kembali penyimpanan glikogen otot. Diduga kuat penyebab utama peningkatan tranpor
glukosa melalui inslin adalah pengisian kembali cadangan glikogen seluler. Selama periode ini,
aktifitas gikogen sintase meningkat dan oksidasi glukosa ditekan dibandingkan dengan saat tidak
latihan. Mengonsumsi karbohidrat yang cukup untuk meregenerasi cadangan glikogen otot
berhubungan dengan pengembalian sensitifitas insulin pada level basal, dimana mempertahankan
deplesi glikogen memperpanjang efektifitas insulin. Sebagai tambahan ptake glukosa pada
periode ini sejalan dengan penggunaan glikogen pada saat latihan. Namun, Beberapa percobaan
eksperimental lain menunjukkan bahwa cadangan glukosa bukan satu-satunya faktor
yangmempengaruhi lamanya sensitifitas insulin post-latihan.12

Mekanisme Paska Latihan Terhadap Peningkatan Sensitifitas Insulin


Mekanisme seluler yang mempengaruhi penngkatan sensitifitas insulin post-latihan masih
belum .(Gambar 4).Ketika latihan, rangsangan insulin terhadap posforilasi dan aktifasi reseptor
insulin tidak berbeda dengan saat tidak latihan. Paradoxically, ada penelitian yang menyebutkan
rangsangan insulin pada posforilasi IRS-1 dan aktifitas PI3kinase diturunkan ketika kerja insulin
ditingkatkan ketika latihan. Peningkatan kerja insulin ditemukan setara pada subjek yang
resistensi insulin dan yang normal, selanjutnya melibatkan mekanisme diluar insulin signaling
pathway. Sebagaimana disebutkan sebelumnya cadangan gikogen otot mempenya peranan dalam
meningkatkan sensitifitas insulin post-latihan, namun bagaiman mekanisme nya masih belum
dapat dijelaskan. Diduga kuat adalah adanya peranan AMPK dalam hal ini. Inkubasi dari otot
yang diisolasi dengan aktifator AMPK AICAR menghasilkan peningkatan insulin-stimulated
transor glukosa hingga 3,5 jam kemudian seperti halnya aktifitas kontraksi. Bagaimanapun,
hubungan langsung antara peningkatan sensitifitas insulin dan aktifitas AMPK ataupun mediator
lain masih belum jelas.12

Gambar 413 Mekanisme Paska Latihan Terhadap Peningkatan Sensitifitas Insulin


Mekanisme Olahraga latihan Reguler Meningkatkan Sensitifitas Insulin
Masih belum jelas bagaimana latihan secara reguler meningkatkan efektifitas insulin
pada otot. (Gambar 5). Jumlah GLUT 4 otot dan juga aktifitas glikogen sintase meningkat pada
atlet dibandingakn dengan kontrol. Kadar GLUT4 otot disebutkan meningkat dengan latihan
pada berbagai penelitian. Namun, walaupun GLUT4 penting dalam mempengaruhi transport
glukosa otot, peningkatan GLUT4 bukanlah satu-satunya mekanisme yang bertanggung jawab
peningkatan kerja insulin pada otot.1212

Gambar 5 12 Mekanisme Olahraga latihan Reguler Meningkatkan Sensitifitas Insulin


10

Peningkatan ekspresi GLUT4 pada otot oleh latihan mungkin disebabkan oleh fakta
bahwa banyak gen gen yang tergabung dalam metabolisme glukosa (hexokinase, GLUT-4)
muncul dan ter-upregulasi dengan enzim mitokondria sebagai respon untuk meningkatkan
aktifitas kontraksi. Pada sebuah studi menunjkkan bahwa latihan instens selama 7 hari dapat
meningkatkan insulin-stimulated IR signaling pada otot subjek muda dan sehat. Namun tidak
semua studi menunjukkan hasil yang sama , pada subjek lansia dan insulin resisten tidak
menunjukkan peningkatan yang bermakna.pada latihan yang kurang intens salama 6 bulan.
Respon adaptasi otot untuk meningkatkan signaling adalah melalui insulin second messanger
pathway. Autoposforilasi reseptor insulin dan aktifitas tyrosine kinase meningkat pada otot yang
terlatih sehingga meningkatkan aktifasi dari PI3 kinase dan Akt, Dari penelitian dijumpai bahwa
hubungan antara peningkatan pada autoposforilasi dan kenaikan jumlah enzyme mitokondria
menunjukkan bahwa peningkatan fungsi IR setelah latihan berhubungan dengan peningkatan
kapasitas oksidatif pada otot. Ini juga menunjukkan bahwa beberapa gen yang ikut berperan
dalam mengatur fungsi reseptor insulin juga berhubungan dalam pengaturan GLUT4 dan
regulator metabolik lain. 12
KESIMPULAN
Latihan jasmani teratur merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2, selain untuk
menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitifitas insulin,
sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Efek ini terutama terjadi akibat peningkatan
uptake glukosa dan sensitifitas insulin pada otot. Mekanisme molekuker utama yang terjadi
akibat latihan dirangkum pada gambar 10 ini.

Gambar 6 10 Efek Metabolik dari Latihan Jasmani

11

DAFTAR PUSTAKA
1. Insulin Resistance and Prediabetes. 2008. U.S. DEPARTMENT OF HEALTH AND
HUMAN SERVICES National Institutes of Health. NIH Publication No. 094893.
2. Mlinar B, Marc J, Janez A, Pfeifer M. 2007. Molecular mechanisms of insulin resistance
and associated diseases. Clinica Chimica Acta 375 p:20-35
3. Konsensus Pengelolaan danPencegahan DM tipe 2 di Indonesia. Perkeni 2011
4. Yunir E. Soebardi S. 2010. Terapi Non Farmakologis Pada Diabetes Melitus. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Pusat Penerbitan Departemen Penyakit Dalam FK UI.
5. Goodyear L.J, Khan B.B. 1998. EXERCISE, GLUCOSE TRANSPORT,AND INSULIN
SENSITIVITY. Annu. Rev. Med. 49:235.61
6. Tatsuya H, Wojtaszweski J.F.P, Goodyear L.J. 1997. Exercise Regulation of glucose
transport in skleletal muscle. Invited Review. TheAmerican Society.
7. Rose AJ, Richter EA. 2005. Skeletal Muscle Glucose Uptake During Exercise: How is it
Regulated?. PHYSIOLOGY 20: 260270,
8. Jrgensen S.B, Erik A. Richter E.A, Wojtaszewski J.F.P. 2006. Role of AMPK in
skeletal muscle metabolic regulation and adaptation in relation to exercise. J Physiol
574.1 pp 1731
9. Hurst D, Taylor EB, Cline TD, Greenwood LJ, Compton CL, Lamb JD, Winder WW.
2005. "AMP-activated protein kinase kinase activity and phosphorylation of AMPactivated protein kinase in contracting muscle of sedentary and endurance-trained
rats". Am. J. Physiol. Endocrinol. Metab 289 (4): E7105
10. Rojas J, Arraiz N, Aguirre M,et al. 2011.AMPK as Target for Intervention in Childhood
and Adolescent Obesity. Journal of Obesity., doi:10.1155/2011/252817.
11. Steinberg G.R,Kemp B.E. 2009. AMPK in Health and Disease. Physiol Rev 89: 1025
1078,
12. Youngren J.F, EXERCISE AND THE REGULATION OF BLOOD GLUCOSE.
Diabetesmanager.diunduhdari:http://diabetesmanager.pbworks.com/w/page/17680187/Ex
ercise%20and%20the%20Regulation%20of%20Blood%20Glucose
13. Torres-Leal F. L., Capitani M. D., Tirapegui J. 2009.The effect of physical exercise and
caloric restriction on the components of metabolic syndrome Brazilian Journal of
Pharmaceutical Sciences vol. 45, n 3.

12

Insulin Resistance and Prediabetes. U.S. DEPARTMENT OF HEALTH AND HUMAN SERVICES
National Institutes of Health. NIH Publication No. 094893 October 2008
2

Mlinar B, Marc J, Janez A, Pfeifer M. Molekuler mekanisme resistensi insulin dan penyakit
yang terkait. Clinica Chimica Acta 375 (2007) 20-35
3
Perkeni 2011
4

Papdi UI

Goodyear L.J, Khan B.B. EXERCISE, GLUCOSE TRANSPORT,AND INSULIN SENSITIVITY.


Annu. Rev. Med. 1998. 49:235.61
6

Tatsuya H, Wojtaszweski J.F.P, Goodyear L.J. Exercise Regulation of glucose transport in


skleletal muscle. Invited Review. TheAmerican Society. 1997
7
Rose AJ, Richter EA. Skeletal Muscle Glucose Uptake During Exercise: How is it Regulated?.
PHYSIOLOGY 20: 260270, 2005;
8
Jrgensen S.B, Erik A. Richter E.A, Wojtaszewski J.F.P.. Role of AMPK in skeletal muscle
metabolic regulation and adaptation in relation to exercise. J Physiol 574.1 (2006) pp 1731
9
Hurst D, Taylor EB, Cline TD, Greenwood LJ, Compton CL, Lamb JD, Winder WW (October
2005). "AMP-activated protein kinase kinase activity and phosphorylation of AMP-activated
protein kinase in contracting muscle of sedentary and endurance-trained rats". Am. J. Physiol.
Endocrinol. Metab 289 (4): E7105
10
Rojas J, Arraiz N, Aguirre M,et al. AMPK as Target for Intervention in Childhood and
Adolescent Obesity. Journal of Obesity Volume 2011, doi:10.1155/2011/252817
11
Steinberg G.R,Kemp B.E. AMPK in Health and Disease. Physiol Rev 89: 10251078, 2009;
12
Youngren J.F, EXERCISE AND THE REGULATION OF BLOOD GLUCOSE. Diabetes
manager. Diunduh dari
http://diabetesmanager.pbworks.com/w/page/17680187/Exercise%20and%20the%20Regulati
on%20of%20Blood%20Glucose
13
F. L. Torres-Leal, M. D. Capitani, J. Tirapegui The effect of physical exercise and caloric
restriction on the components of metabolic syndrome Brazilian Journal of Pharmaceutical
Sciences vol. 45, n. 3, jul./sep., 2009

13