Anda di halaman 1dari 31

Aliran Pendidikan di Indonesia, dipelopori oleh Ki Hajar Dewantro

Ajaran yang diberikan adalah :


Asas merdeka
Asas kebudayaan Indonesia
Asas kerakyatan

Asas mandiri

Asas berhamba atau pengabdian

Ciri-ciri orang berjiwa meredeka


1. Pertama, orang yang merdeka dalam mengarungi hidup ini tidak akan disiksa oleh banyaknya
keinginan
2. Kedua, bebas dari perbudakan hawa nafsu.
3. Ketiga, ciri orang yang hidupnya merdeka ialah ia tidak mudah diperbudak oleh asmara.
4. Keempat, jujur.
5. Kelima, tawadhu tidak akan pernah menghinakan, bahkan sebaliknya akan mengangkat
derajat seseorang.
6. Yang keenam ikhlas.
7. Ketujuh, semakin banyak bergantung kepada sesuatu maka kita akan takut kehilangan
sesuatu.

SATU BANGSA, SATU BAHASA: PENDIDIKAN ITU UNTUK MERDEKA


Posted by Risa in What Risa thinks back then....and maybe still does
Seruan persatuan yang berkumandang hampir 8 dekade lalu terdengar menyisakan harapan.
Menghadapi penjajahan yang keji Sumpah Pemuda menyatukan tekad untuk maasa depan yang
lebih baik. Kini, 79 tahun berlalu, masa depan yang didambakan, tak kunjung terwujud juga.
Seruan satu bangsa, satu bahasa menyiratkan betapa sebelumnya bangsa kita terpecah-belah,
terbelokkan dari tujuan utama untuk merdeka. Keteguhan tujuan, keadaan terdidik, atau yang
oleh Newman disebut sebagai philosophycal mind, adalah jawaban dari kondisi porak poranda
dan serba rentan kala itu. Kedaan terdidik adalah kondisi jiwa, pikiran, rasa dan karsa yang
merdeka, yang mendorong setiap jiwa utuk memperjuangkan kesejahteraannya tanpa ancaman
atau tekanan.
Namun, keadaan terdidik sampai saat ini tak kunjung terwujud. Pendidikan yang seharusnya
memerdekakan justru membelenggu jiwa terpelajar dari memperjuangkan hak-haknya untuk
sepenuhnya merdeka. Sebut saja Yohannes Surya, betapa berpeluh dan tercabik harapannya
ketika memperjuangkan harkat dan martabat anak-anak daerah. Penghambat terbesar bukan
sulitnya soal Olimpiade Fisika atau kedisiplinan anak-anak didiknya. Batu sandungan terbesar
adalah ungkapan sinis, keraguan, dan tak adanya dukungan dari bangsanya sendiri, bahwa
Indonesia dapat menang di Olimpiade Fisika tingkat dunia. Satu bahasa, bangsa kita dengan
mudahnya lupa, dan kembali kepada keraguan dan takut, keadaan orang tak terdidik.
Salahkan pendidikan kita, atau lebih tepatnya salahkan pendidikan tinggi kita. Pendidikan tinggi
yang seharusnya menjadi obor penerang, tiang penyangga, biduk yang teguh, pemandu langkah
pendidikan bangsa telah kehilangan visinya. Pendidikan tinggi kita telah menjadi pabrikan yang
menghasilkan orang-orang yang tercetak serba sama. Produk-produk jadi yang dengan terpaksa
kita sebut sarjana telah mampu memuaskan keterpakaian di dunia industri, tempat kerja dan
berbagai profesi terpilih. Tetapi pertanyaan yang sama tetap tak terjawab: setelah kesamaan tekad
itu, kemerdekaan apa yang telah diraih. Seberapa besar para sarjana kita telah mencerahi
lingkungannya, memberikan dorongan dan inspirasi, jalan keluar bagi kesejahteraan social
bangsanya?
Sepertinya penjajahan dan pecah belah ekonomi telah membuat bangsa ini kembali terjajah. Di
universitas swasta hampir tidak ada lagi yang memasukkan Kuliah Kerja Nyata atau kerja social
di kurikulumnya. Jawabannya sederhana: tidak efisien. Program pemerintah yang memberi jalan
UKM menerima asistensi dari pendidikan tinggi-pun tak mendapat sambutan yang antusias dari
para mahasiswa, lagi-lagi karena alasan yang serupa: mahasiswa tidak mendapat keuntungan
ekonomi yang nyata. Pertanyaannya: bahasa apa yang telah dipakai pendidik di universitas
sehingga bangsa ini terbentuk serupa: materialistis.
Tony Coadi dalam bukunya yang controversial Why University Matters menyalahkan
kesalahkaprahan yang muncul sejak awal terbentuknya universitas. Walaupun ideal, ide

philosopycal mind tidak pernah sepenuhnya terwujud, bahkan sejak masa-masa awal berdirinya
universitas-universitas besar seperti Oxford atau Cambridge. Buku yang telah dilarang terbit oleh
institusinya sendiri Universitas Melbourne ditakuti semakin meruncingkan kontroversi mengenai
keberadaan mesin cetak manusia berijasah ini.
Permasalahannya sekarang adalah bahasa. Bahasa apa yang perlu disepakati para pendidik tinggi
agar kita terbebas dari penjajahan identitas sebagai manusia yang utuh. Apakah bahasa uang dan
keuntungan lebih penting daripada bahasa intelektual dan himaniora? Apakah setelah selesai
terjajah secara badani kini bangsa kita tak lagi bersatu padu menetang penjajahan jiwa yang lebih
berbahaya.
Sekolah HIMMATA, Plumpang, Jakarta Utara, telah membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah
alasan bagi perwujudan phylosophical mind. Tanpa keraguan Siswandi, pendiri sekolah miskin
ini, mampu membuktikan bahwa anak-anak yang tadinya berlarian di jalanan untuk mengamen
dan mengemis telah menjadi pemikir-pemikir yang kreatif dan kritis. Mereka kini tidak lagi
turun ke jalanan tetapi memakai rasa, rasa dan karsanya untuk membangun masa depan yang
lebih baik. Merekalah pahlawan-pahlawan kecil yang telah menang atas penjajahan uang receh
dengan percaya bahwa jika tekad ada semesta mendukung keberadaannya.
Sebebas Siswandikah jiwa-jiwa para pendidik tinggi? Mampukah bahasa kebebasan yang sama
memerdekakan pengelola pendidikan tinggi dari ketakutan tak dapat lebih banyak mencetak
lulusan tiap tahunnya dan memberi pekerja baru bagi pihak industri? Mampukah bahasa
keyakinan mampu mendorong penyelenggara pendidikan tinggi tidak mencemaskan fasilitas dan
dana yang tersedia namun berfokus pada nilai-nilai kemanusiaan yang mentransformasi?
Akhirnya, seruan satu bangsa, satu bahasa, adalah tekad untuk menciptakan manusia Indonesia
yang merdeka, merdeka dalam berkarya, merdeka dalam berpikir, merdeka dalam mengasah budi
dan panggilan jiwa untuk memanjukan diri sendiri dan bangsanya.
Risa R. Simanjuntak, S.S., M.AppLing.(Melb.)., M.A. (Leeds)
Pengamat dan Pelaku Pendidikan Tinggi

Pendidikan Menanamkan Jiwa Merdeka

Penulis: Welas Waluyo, BA. H.

Posted by admin on April 16th, 2010

Ki Hajar Dewantoro, Pendidikan : Menanamkan Jiwa Merdeka


I. PENGANTAR
Sosok atau figur putra nusantara yang lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta yang hidup di
lingkungan bangsawan, ialah: R.M. Suwardi Suryoningrat yang kemudian pada usia 40 tahun
namanya diganti menjadi Ki Hajar Dewantara, tidak saja dikenal dan dikenang sebagai Bapak
Pendidikan Nasional, akan tetapi sejatinya adalah seorang pejuang yang tidak kenal kompromi
dengan pemerintah kolonial, seorang jurnalistik yang profesional dan seorang politikus ulung.
Sebagai seorang bangsawan yang tidak mau menonjolkan kebangsawanannya dan menyadari
terhadap penderitaan bangsanya, timbullah semangat juang di benak hati Suwardi dengan terjun
ke bidang politik sekaligus mengembangkan bakat tulis menulis di bidang jurnalistik yang
menjadi bagian tidak terpisahkan sebagai sarana perjuangan di bidang politik.
Pada tahun 1912 bersama Cipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker (Setia Budi Lahir di
Pekalongan) mendirikan Indische Partai yang merupakan organisasi politik yang pertama kali
bediri di Indonesia yang bertujuan untuk mencapai Indonesoa merdeka, yang kemudian terkenal
dengan sebutan Tiga Serangkai atau Janget Kinatelon, dengan semboyan Rawe-rawe rantas,
malang-malang putung yang artinya: dengan keteguhan iman maka semua penghalang yang
merintang akan musnah.
Pada tahun 1913 menjadi anggota Sarekat Islam (SI) yang kemudian menjadi Ketua Cabang SI
di Bandung mulai mengembangkan bakat jurnalistiknya dengan berbagai atikel ataupun
karangannya di surat kabar Midden Java dan de Express yang dipimpin oleh Douwes Dekker,
dengan gaya bahasa yang halus tetapi tajam pengulasannya. Penentangan dan perlawanan kepada
pemerintah Hindia Belanda pada saat merencanakan peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda
dari penjajahan Perancis dengan memungut iuran kepada warga pribumi, membuat sebuah
tulisan yang dimuat oleh majalah de Express, dengan judul Seandainya saya seorang Belanda
dan Satu buat semua tetapi juga semua buat satu (Een Voor Allen, Allen voor Een) ditambah
dengan tulisan dr. Cipto Mangunkusumo dengan judul:Kekuatan atau ketakutan,
menggegerkan pemerintah kolonial dengan berakibat ditangkapnya tokoh tiga serangkai

tesebut. Atas putusan pngadilan tanggal 18 Agustus 1913. Suwardi dibuang di Bangka, Duwes
Dekker dibuang di Banda Ranaike dan Dr. Cipto dibuang di Timur Kupang yang akhirnya diubah
menjadi hukuman pengasingan, meninggalkan tanah air dan ketiganya menuju ke Nederlands.
Selama dalam pengasingan, jiwa perjuangan tidak pernah padam dan bekerjasama dengan
Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Belanda yaitu Indische Vereeneging yang berubah
menjadi Indonesiche Vereeneging dengan membuat majalah dengan nama Hindia Putra yang
kemudian berubah menjadi Indonesia Merdeka.
Setelah berakhirnya perang dunia I, berakhir pulalah Suwardi S. menjalani pengasingan di
Negeri Belanda, dan pulang kembali ke tanah air pada anggal 5 September 1919 dan langsung
bergabung dengan Nasional Indische Partai (NIP) dan menjadi ketuanya. Pada waktu itu banyak
pemimpin yang keluar masuk penjara atau gedung pengadilan karena delik pers maupun delik
pidato, dan Suwardi S, adalah orang yang pertama kali wartawan Indonesia yang terkena delik
pers. Pada bulan Nopember 1920, ia masuk penjara di Mlaten Semarang kemudian dipindahkan
ke penjara pusat di Pekalongan sampai dibebaskan oleh pemerintah di Batavia.
Suwardi S, berpendapat bahwa kemerdekaan nusa dan bangsa untuk mengejar kesejahteraan dan
kebahagiaan rakyat tidak hanya dicapai melalui jalan politik, tetapi akan lebih efektif melalui
juga bidang pendidikan, sebagai tempat persemaian segala benih kebudayaan yang hidup dalam
masyarakat kebangsaan. Ia yang sebelumnya sudah aktif mengajar di berbagai sekolah dan
menggabung pada Paguyuban Selasa-Kliwon yang berkedudukan di Yogyakarta. Paguyuban
ini membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan uasaha-usaha menaikkan derajat dan
martabat bangsa Indonesia. Selama di negeri Belanda, Suwardi S. telah mengenal nama
Rabendranath Tagore dari India dan Montessori dari Italia yang dianggapnya sebagai
pembongkar dunia pendidikan lama serta pembangunan aliran baru, dan baginya kedua tokoh
tersebut merupakan petunjuk jalan untuk mendirikan sekolah sendiri.
Demikianlah sejak tanggal 3 Juli 1922 Suwardi S. mendirikan Perguruan Taman Siswa yang
pertama-tama di Yogyakarta yang akhirnya namanya terkenal dengan Ki Hajar Dweantara adalah
Bapak Taman Siswa, Bapak Pendidikan Nasional setelah pahlawan yang sepanjang hayatnya
terus berjuang untuk kepentingan nusa dan bangsa.
Konsep-konsep pendidikan yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara sangat menarik di
kalangan cendekiawan dalam dan luar negeri, untuk mempelajari, mengerti, dan mendalami citacita dan hasil usaha yang dilakukan sepeti; Belanda, Inggris, Australia, Jepang, Amerika Serikat,
India dan lain-lain. Namun dalam perjalanannya banyak mengalami tantangan dan pernah
mengalami stagnasi antara tahun 1930-1932, sehubungan pemerintah Hindia Belanda
mengeluarkan undang-undang sekolah liar.
Pada saat penjajahan Jepang pada tahun 1942 pindah ke Jakarta untuk memimpin PUTERA
bersama tokoh empat serangkai dan pada tahun 1943 perguruan taman siswa pernah ditutup oleh
Jepang karena dianggap sangat membahayakan. Setelah proklamasi kemerdekaan, Ki Hajar
Dewantara duduk dalam kabinet pertama sebagai Menteri Pengajaran.

Pengabdiannya terhadap nusadan bangsa berakhir setelah wafat pada tanggal 26 April 1959 di
Jogjakarta. Sebagai seorang politikus yang handal dan radikal revolusioner, seperti yang
disampaikan oleh Van Der Plas yang menyatakan; bahwa Ki Hajar Dewantara seorang
pemimpin Indonesia sebagai lawan yang sangat berbahaya namun juga diakui sebagai guru
politiknya.
Demikian halnya oleh Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno, pada saat Ki Hajar Dewantara
mendapat gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Gajah Mada pada 19 Desember 1956
dalam sambutannya mengatakan:Saja personlijk saudara-saudara, merasa berbahagia, tepat pada
waktu itu masih muda, maguru kepada Ki Hajar Dewantara, saja termasuk pemuda yang
berbahagia dapat maguru pada orang-orang Indonesia yang besar seperti Ki Hajar Dewantara.
Sebagai seorang jurnalistik yang ulet, tekun, dan profesional, oleh Persatuan Wartawan Indonesia
(PWI), dua hari setelah wafatnya tanggal 28 April 1959 diangkat secara anumerta sebagai Ketua
Kehormatan PWI atas jasanya di kalangan jurnalistik.
II. DASAR-DASAR PENDIDIKAN
Berdirinya Perguruan Taman Siswa ditandai dengan pemakaian Candrasengkala yang
berbunyi:Lawan Sastra Ngesti Mulya, menunjukkan tahun saka 1851 atau 1922 Masehi, yang
artinya;dengan berilmu mencita-citakan kemuliaan atau ilmu yang luhur dan mulia,
menyelamatkan dunia serta melenyapkan kebiadaban.
Adapun semboyan untuk pengajaran nasional adalah kembali kepada yang bersifat nasional.
Oleh sebab itu sebagai konsekwensi yang pertama dan utama adalah pengajaran harus bersumber
kepada kepribadian dan budaya nasional. Sedangkan tugas-tugas yang diemban dan dilaksanakan
perguruan tersebut ialah:
1. Untuk mendidik rakyat agar berjiwa kebangsaan dan berjiwa merdeka, untuk menjadi
kader-kader yang sanggup dan mampu mengangkat derajat nusa dan bangsanya sejajar
dengan bangsa-bangsa lain yang merdeka.
2. Tugas kedua untuk membantu perluasan pendidikan dan pengajaran yang dibutuhkan
rakyat banyak.
Menurut Ki Hajar Dewantara dalam penyelenggaraan pendidikan terdapat tiga pusat pentingnya
pendidikan, yang kemudian disebut dengan sistem tripusat, yaitu:
1. Alam atau lingkungan keluarga yang bertugasmendidik budi pekerti dan laku sosial.
2. Alam perguruan, yaitu: mengusahakan kecerdasan pikiran dan ilmu pengetahuan.
3. Alam pemuda yang membantu pendidikan baik yang menuju kecerdasan jiwa maupun
budi pekrti.
Bagi seorang guru harus memahami dan mengerti peran yang disandangnya dalam menjalankan
kewajibannya mengajar dan mendidik.

Mengajar: guru harus memliki kemampuan untuk memberikan ilmu pengetahuan secara luas,
menuntun gerak pikiran serta melatih kecakapan atau kepandaian anak didik agar mereka kelak
menjadianak yang pandai berpengetahuan dan cerdas.
Mendidik: guru harus memiliki kemampuan untuk dapat menuntun tumbuhnya budi pekerti
dalam hidup anak didik kita, supaya kelak menjadi manusia berpribadi yang beradab dan susila.
Dasar pendidikan Taman Siswa adalah berdasarkan kemanusiaan dan kebangsaan, namun adab
kemanusiaan lebih diutamakan dari adab kebangsaan dan syarat kebangsaan yang berlawanan
dengan sayarat kemanusiaan harus dibatalkan. Pendidikan kebangsaan dilakukan melalui etika,
sejarah kebudayaan, bahasa, kesenian, tari, musik, serta kepemudaan.
III. PEMBENTUKAN BUDI LUHUR
Bahwa manusia yang menjadi harapan masa depan bangsa itu adalah cermin keberhasilan
pendidikan yang dapat membentuk atau membangun manusia berpribadi yang beradab dan
bersusila. Oleh sebab itu adab atau keluhuran budi manusia itu menunjukkan sifat batinnya
manusia itu sendiri harus ditumbuhkembangkan dengan menanamkan kesadaran atau keinsyafan
tentang ketuhanan, kesucian, kemerdekaan, keadilan, cinta kasih, kesetiaan, kedamaian,
kesosialan, ketertiban dan lain sebagainya. Sedangkan kesusilaan atau kehalusan itu
menunjukkan sifat hidup lahirnya manusia yang serba halus dan indah (etis, aestetis) yang
menunjukkan dua sifat manusia yang luhur atau indah itu, yang halus selalu nampak dalam hidup
manusia, karena manusia mahluk terpilih dan berbudi yang lain dengan sifat-sifat mahluk hewan.
Sifat keluhuran dan kehalusan budi sudah harus ditanamkan kepada anak sejak kecil, misalnya
dengan memberikan penghormatan pada tokoh-tokoh pahlawan sekaligus menanamkan perasaan
nasionalisme, pelajaran agama, pewayangan, ceritera, biografi para pahlawan dan sebagainya.
Bahwa pelajaran moral dan kesusilaan akan berharga apabila dapat dipraktekkan dalam hidup
sehari hari. Asas-asas kesusialaan yang tidak dipraktekkan dalam hidup sehari-hari tidak berguna
sama sekali. Barangsiapa yang tidak menjalankan hidup menurut hukum-hukum kesusilaan, ia
tidak dapat dianggap manusia dalam arti yang sebenarnya.
IV. METODE AMONG: TUTWURI HANDAYANI
Didalam proes belajar mengajar, setiap pamong atau guru harus memegang teguh dan
melaksanakan 3 (tiga) semboyan yaitu: Suci tata ngesti tunggal, tutwuri handayani dan
mengabdi kepada sang anak, dengan menggunakan bahasa pengantar ialah bahasa melayu
karena mudah dipahami dibandingkan dengan bahasa jawa, namun juga tetap diperhatikan
bahasa ibu.
Hubungan antara pamong dengan anak didik berdasarkan kekeluargaan atau yang disebut dengan
metode among, sehingga terdapat hubungan yang erat diantara guru dan muridnya. Di sekolahsekolah gubernemen, guru seperti pegawai yang berdiri di depan kelas, ia tidak pernah menaruh
perhatian kepada murid-muridnya, selain mengajar yang dipusatkan pada pembentukan intelek
dan ia tidak mengerti kesulitan anak didiknya. Sebaliknya di Taman Siswa, siswa-siswa merasa
bahwa perguruannya merupakan rumah kedua di tempat itu, dan ia menemukan bapak atau

ibu yang dapat dimintai nasehatnya atau pertimbangannya apabila menghadapi kesulitan,
mereka tidak takut menyampaikan masalahnya kepada Bapak/Ibu pamong, karena terdapat
ikatan batin dalam keluarga dan setiap saat dapat menemui bapak atau ibu pamongnya.
Dalam melaksanakan tugasnya mengajar dan mendidik, pamong harus memberikan tuntunan dan
mendorong pada anak didik agar dapat tumbuh dan berkembang berdasarkan kekuatan sendiri.
Cara mengajar dan mendidik dengan mengguanakan alat perintah, paksaan dan pemberian
hukuman sangat dihindari.
Semboyan yang digunakan untuk melaksanakan metode among adalah Tutwuri Handayani,
artinya mendorong pada anak didik untuk membiasakan diri mencari dan belajar sendiri, pamong
atau guru mengikuti dari belakang dan memberi pengarah, bertugas mengamati dengan segala
perhatian dan pertolongan diberikan apabila dipandang perlu. Anak didik dibiasakan disiplin
sendiri bukan paksaan dari luar atau perintah dari orang lain. Dengan metode among, berarti
membimbing anak dengan penuh kecintaan dan mendahulukan kepentingan sang anak sehinga
anak akan dapat berkembang menurut kodratdan bakatnya. Oleh sebab itu murid-murid
perguruan Taman Siswa menyebut gurunya bapak dan ibu, lain halnya di luar Taman Siswa
menyebut gurunya dengan; tuan, nyonya, nona, masbehi, den behi, ndoro dan sebagainya.
Pada saat mengalami ksulitan yang sangat menghimpit akibat dikeluarkannya undang-undang
sekolah liar oleh pemerntah Hindia Belanda, diserukan kepada seluruh unsur pimpinan
perguruan Taman Siswa untuk memegang teguh dan melaksanakan semboyan yang sangat
terkenal sampai saat ini yaitu: ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri
handayani.
V. MENANAMKAN JIWA MERDEKA.
Usaha untuk menuju sebagai bangsa yang merdeka yang terlepas dari penindasan dan
penghisapan penjajah sudah dirintis melalui Indische Partai. Didorong adanya cita-cita untuk
hidup merdeka sebagai bangsa maupun sebagai manusia yang dapat hidup mandiri itulah yang
kemudian menjadi arah pendidikan Taman Siswa. Karena itulah pada masa itu Perguruan Taman
Siswa menjadi lembaga dan sekaligus satu gerakan pendidikan dan kebudayaan yang kokoh
bagaikan benteng ideologi bagi gerakan kebangsaan dan gerakan kemerdekaan serta menjadi
tempat berkomunikasi dan berkonsultasi bagi pejuang-pejuang politik, para cendekiawan dan
seniman yang berjuang melawan kolonialisme Belanda.
Oleh sebab itu yang menjadi arah perguruan Taman Siswa adalah berusaha mendidik anak-anak
menjadi manusia yang mampu dan pandai menegakkan hidup dan penghidupan dalam keadaan
bagaimanapun dan kapanpun pada anak didik, sehingga tidak menggangtungkan diri pada
pertolongan orang lain, melainkan pada kemampuan diri sendiri. Hal ini juga didasari atas
kenyataan bahwa pendidikan kolonial hanyalah membentuk manusia intelek yang dipersiapkan
untuk menjadi pegawai pada pemerintah kolonial, sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa
lagi kalau tidak ada lowongan pekerjaan di kantor-kantor pemerintah.
Penanaman jiwa merdekaatau bebas, dimaksudkan setiap orang harus tetap menjunjung tinggi
kesusilaan dan bahwa kebebasan itu bersifat sekunder yakni akibat dari kemerdekaan.
Sedangkan arti perkataan merdeka adalah sanggup dan mampu untuk berdiri sendiri, untuk

mewujudkan hidup diri sendiri, hidup tertib dan damai dengan kekuasaan atas diri sendiri, dan
ini merupakan sifat primer Merdeka tidak hanya berarti bebas, tetapi harus pula diartikan
sebagai kesanggupan dan kemampuan yaitu: kekuatan dan kekuasaan untuk memerintah diri
sendiri. Dalam kita bertindak berdasarkan jiwa kemerdekaan harus ingat akan kesusilaan, karena
kesusilaan itu merupakan pagar dan bentengkeselamatan bagi dii kita sendiri.
VI. PENUTUP
Demikianlah sekelumit gambaran persembahan jiwa dan raga yang telah ditumpahkan untuk
nusa dan bangsa oleh Ki Hajar Dewantara, untuk mengenang kembali atas jasa-jasa
perjuangannya, sekaligus untuk bahan intropeksi bagi kita semua seberapa jauh nilai-nilai luhur
dalam dunia pendidikan khususnya telah dapat dilaksanakan sesuai dengan relevansinya
pendidikan yang berlangsung selama ini. Terutama yang berkaitan dengan metode pembelajaran
dalam rangka mewujudkan pendidikan yang berkualitas sekarang ini.
Sebagai bangsayang besar tidak saja dapat menghormati atas jasa-jasa para pahlawan, akan tetapi
yang lebih penting dan yang menjadi tantangan berat bagi generasi pewaris adalah bagaimana
kita dapat mewujudkan cita-cita para pahlawan dengan didasari oleh nilai-nilai kepahlawanan
selama perjuangan hingga akhirnya memperoleh kemerdekaan.
MERDEKA!
Sumber bacaan
1. Ki Hajar Dewantara, oleh Darsiti Soeratman, penerbit: Depdikbud, Jakarta, 1986
2. Mereka Yang Selalu Hidup, Ki Hajar Dewantara dan Nyi Hajar Dewantara, oleh:
Bambang Soekawati Dewantara, penerbit: Roda Pengetahuan, Jakarta, 1981.
3. Soewardi Soerjaningrat Dalam Pengasingan, oleh: Dra. Irna H.N. Hadi
Soewito, penerbit: PN. Balai Pustaka, Jakarta, 1985
4. Nyi Hajar Dewantara; Dalam Kisah dan Data, oleh: Bambang Soekawati
Dewantara, penerbit: PT. Gunung Agung, Jakarta, 1979.

KERANGKA ACUAN SEMILOKA


HOMESCHOOLING: MODEL PENDIDIKAN ANAK MERDEKA
A.

PENDAHULUAN

Pemenuhan hak atas pendidikan merupakan proses yang sedang berjalan, demikian juga dengan
upaya penyatuan berbagai komitmen global untuk mencapai Pendidikan untuk Semua (PUS).
Kerangka Kerja Aksi Dakar mempertegas kenyataan bahwa pendidikan merupakan hak asasi
manusia yang mendasar dan telah menekankan pentingnya aksi pemerintah untuk mewujudkan
pendidikan berbasis hak asasi manusia yang diimplementasikan untuk semua pada lingkup
negara. Agar pendidikan dapat disediakan (available); Pemerintah perlu menjamin pendidikan
tanpa biaya dan wajib belajar bagi semua anak. Pemerintah juga dituntut untuk menghargai
kebebasan para orang tua untuk memilihkan anak-anaknya dalam memperoleh pendidikan; Agar
pendidikan dapat dijangkau (accessible); penghapusan diskriminasi sebagai mandat dari undangundang hak asasi manusia internasional perlu menjadi prioritas kebiajakan pendidikan; Agar
pendidikan dapat diterima (acceptable); hak-hak manusia seyogianya diterapkan dalam proses
pembelajaran; Agar pendidikan dapat disesuaikan (adaptable); pendidikan perlu mengakomodasi
dan menyesuaikan minat utama setiap individu anak.
Sayangnya selama pemerintahan orde baru, dan sampai saat ini masih terasa belum ada
perubahan yang signifikan, sistem pendidikan kita masih jauh dari harapan untuk dapat
memenuhi hak atas pendidikan sebagai Hak Asasi Manusia. Masih banyak kelompok masyarakat
yang sulit mendapatkan hak atas pendidikan sebagai perlindungan HAM terutama anak-anak
korban bencana, di daerah konflik, terpencil dan perbatasan negara. Guna mendesak para politisi
untuk memberikan lebih banyak bantuan dana serta kekuasaan politiknya untuk mewujudkan
EFA sebagai pengakuan mereka terhadap Pendidikan sebagai Hak Asasi Manusia, saat ini GCE
tengah mengorganisir aksi global The Big Chain Re-Action untuk tahun 2007.
Tujuan yang ingin dicapai dalam GAW 2007 adalah untuk menghadapkan para politisi dan
pemimpin dengan kenyataan bahwa tahun 2007 adalah titik tengah pencapaian sasaran EFA dan
dengan kecepatan kemajuan yang ada sekarang, sasaran-sasaran tersebut tak dapat dipenuhi.
Pada kampanye EFA 2007, KerLiP bersama mitra strategis mendorong pemerintah dan
pemerintah daerah untuk merealisasikan bantuan operasional bagi komunitas sekolahrumah dan
tersedianya pendidikan layanan khusus gratis bagi korban bencana di Indonesia.
B.

DAMPAK YANG DIHARAPKAN:

1.
Meningkatnya keyakinan masyarakat untuk menjadikan sekolahrumah sebagai model
pemenuhan hak anak atas pendidikan berkualitas dan bebas biaya bagi keluarga Indonesia.
2.
Meningkatnya komitmen pemerintah dan pemerintah daerah dalam menyediakan anggaran
yang memadai untuk pemenuhan hak atas pendidikan dasar dan bebas biaya terutama bagi
keluarga miskin dan korban bencana.

C.

TUJUAN KEGIATAN :

1.
Mendorong pemerintah untuk menyediakan anggaran yang memadai dalam pemenuhan
hak atas pendidikan berbasis keluarga dan masyarakat melalui perbaikan kesejahteraan pendidik
dan bantuan operasional bagi komunitas sekolahrumah dan pendidikan layanan khusus bagi
korban bencana.
2.
Tersosialisasikannya Komunitas sekolahrumah sebagai model pendidikan kesetaraan yang
mengarustamakan perlindungan hak anak atas pendidikan berkualitas dan bebas biaya.

D.

SASARAN

Semiloka akan dihadiri oleh 200 anak-anak dan keluarga marjinal, homeschooler, pejabat terkait,
LSM/Ormas, Organisasi Kampus dan Mahasiswa.
E.

DESKRIPSI KEGIATAN

Nama kegiatan

: Semiloka Homeschooling: Model Pendidikan Anak Merdeka.

Hari,tanggal

: Minggu, 20 Mei 2007

Waktu

: 09.00-16.00

Tempat

: Ruang Serbaguna Balaikota Bandung.


Jl. Wastukencana No. 2 Bandung

Narasumber

Utomo Dananjaya (IER universitas Paramadina )

Dr.Edi Siswadi ( Sekda Kota Bandung),

Sophia Latjuba (Orangtua dan Artis)

Nurul Fitri Azizah (Homeschooler Rumah KerLiP)

Raka (homeschooler Rumah KerLiP)

Amar

Alur Acara

Waktu Kegiatan
09.00-09.05
Pembukaan
9.05 9.15
Sambutan Panitia.
09.15 09.25
Presentasi Raka : (homeschooler Rumah KerLiP)
09.25-09.35
Kilas Pandang Kegiatan belajar Amar
09.35-10.00
Presentasi Amar
10.00-10.15
Diskusi Anak
10.15 10.30
Tea Break
10.30 10.50
Selayang pandang Rumah KerLiP
11.00-11.15
Pembukaan Semiloka
Sambutan Walikota Bandung
Sambutan Dirjen PLS sekaligus membuka Semiloka
11.15-12.30
Pemaparan
1.

Utomo Dananjaya (IER universitas Paramadina )

Pendidikan Berpusat Pada Anak.


2.

Dr.Edi Siswadi ( Sekda Kota Bandung),

Dukungan pemerintah Kota Bandung dalam Penguatan Homeschooling sebagai model


Pemenuhan Hak Atas Pendidikan menuju bandung Cerdas 2008
3.

Sophia Latjuba (Orangtua dan Artis)

Retropeksi Pengalaman memilih homeshooling dari USA untuk Eva.


4. Nurul Fitri Azizah (Homeschooler Rumah KerLiP
Benarkah aku terisolir dengan Homescooling?
12.30-13.00
Isoma
13.00 14.30
Mikro Teaching
Analisa Mikro Teaching (Litbang KerLiP)
14.30 15.00
Tanya Jawab
15.00 15.30
Quesioner + Rekomendasi + Informasi
15.30- 15.40
Penutup dan Doa
15.40 16.00
Photo Bersama

Salam,

Pendidikan Nasional yang Memandirikan


Oleh : Ki Sugeng Subagya

Tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai hari pendidikan nasional dengan maksud memberikan
penghargaan atas jasa dan pengabdian Ki Hadjar Dewantara (2 Mei 1889-26 April 1959) yang
telah meletakkan dasar-dasar sistem pendidikan nasional di Indonesia. Pendidikan merdeka yang
memandirikan adalah konsep dasar pendidikan nasional yang dirancang Ki Hadjar Dewantara.
Pendidikan
Merdeka
Menentang kolonialisme dan feodalisme dengan perjuangan politik hanya akan mampu
mengantarkan bangsa ini ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Menanamkan jiwa merdeka
melalui pendidikan nasional, disamping akan mampu mengantar ke depan pintu gerbang
merdeka,
sekaligus
memberi
modal
mengisi
kemerdekaan
Pendidikan mempunyai tugas menanamkan jiwa merdeka. Pada gilirannya, jiwa merdeka yang
tertanam adalah basis pembangunan bangsa. Hanya pendidikan yang memerdekakan yang
mampu
menanamkan
jiwa
merdeka.
Arah pembangunan jiwa merdeka telah jelas. Sebagaimana pesan Bung Karno, bangsa Indonesia
harus (1) berdaulat secara politik, (2) berdikari secara ekonomi, dan (3) berkepribadian secara
kebudayaan. Satu dasawarsa sebelumnya, Ki Hadjar Dewantara memberikan panduan bangsa
merdeka melalui tembang Wasita Rini. Penggalan pupuh ketiga tembang itu berbunyi
mardika iku jarwanya, nora mung lepas ing pangreh, nging uga kuwat kuwasa, amandhiri
priyangga. Maknanya kurang lebih, merdeka itu artinya tidak hanya lepas dari perintah orang
lain. Tetapi harus kuat dan mampu mengatur diri sendiri atau mandiri.
Dalam hal ini, tiadalah mungkin merdeka hakiki direngkuh jika tidak mandiri. Untuk dapat
mandiri maka harus makarya. Sebab dengan makarya orang akan mampu memperoleh

penghasilan untuk mencukupi kebutuhan dirinya sendiri, keluarga dan mengambil peran dalam
kehidupan
bermasyarakat,
berbangsa
dan
bernegara.
Intelektualisme
Pengajaran
Diakui atau tidak, kini pendidikan nasional kita masih didominasi oleh pengajaran. Ketika
pendidikan terkungkung oleh pengajaran, maka intelektualisme tidak dapat lagi dihindari.
Setidaknya, indikasi intelektualisme nampak dalam kelulusan dan kenaikan kelas yang diukur
dari capaian angka-angka kognitif semata dan mengabaikan sikap, perilaku, budi pekerti apalagi
kecakapan motorik peserta didik. Pengajaran yang seharusnya hanya menjadi bagian dari
pendidikan
malah
mengambil
peran
lebih
dominan.
Jika kemudian tamatan sekolah tidak mampu berkarya di masyarakat, merupakan konsekuensi
logis dari berkuasanya pengajaran terhadap pendidikan. Seharusnya pendidikan nasional
bertugas membimbing insan yang memiliki kepandaian dan kecakapan yang berguna bukan
hanya
untuk
dirinya
sendiri
tetapi
juga
untuk
kepentingan
masyarakat.
Melihat gerak langkah pembangunan pendidikan kita dewasa ini, harus diakui bahwa sudah
banyak kemajuan yang dicapai. Berbagai prestasi regional dan internasional banyak didapat oleh
anak-anak bangsa Indonesia. Tetapi, jika dikaitkan dengan tujuan akhir pendidikan merdeka
menuju kemandirian, kita masih harus terus bekerja keras untuk mewujudkannya. .
Tidak sedikit lulusan sekolah yang terpaksa menganggur. Keluar masuk kantor menenteng map
berisi lamaran kerja. Mereka tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Jangankan lapangan
pekerjaan untuk orang lain, untuk dirinya sendiri saja tidak ada kemampuan. Dalam kenyataan,
mereka menggantungkan diri kepada pemerintah. Tidak mampu bernisiatif dan bekerja tanpa
diperintah
orang
lain.
Kegagalan mendidik insan mandiri nampak jelas dari tidak dimilikinya rasa percaya diri. Bukan
hanya setelah lulus para siswa tidak percaya diri. Sejak di bangku sekolah mereka sangat
tergantung orang lain. Fenomena menyontek sampai dengan kecurangan-kecurangan lain dalam
peneyelanggaraan ujian adalah bukti tidak percaya diri. Hal ini diperparah oleh sikap beberapa
oknum pendidik yang tidak responsif menanggulangi kecurangan, tetapi tidak sedikit diantara
mereka
malah
terlibat
dalam
praktik
kecurangan
itu.
Lihatlah, betapa sibuknya orangtua murid mengintervensi sekolah anak-anaknya. Antrean
panjang di loket Pendaftaran Siswa Baru bukan dijejali oleh para calon murid, tetapi didominasi
orangtua murid. Belum lagi keinginan-keinginan setengah memaksakan kehendak orangtua
untuk pendidikan anak-anaknya. Dari memilih sekolah, memasukkan sekolah sebelum usianya,
memaksa anak harus naik kelas meski kemampuannya belum cukup, dan sebagainya.
Di samping itu, kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan akhir-akhir ini kental nuansa
otoritas. Seolah-olah pemerintahlah yang paling tahu dan mampu menyelenggarakan sistem
pendidikan nasional. Salah satu akibatnya semua hal tentang pendidikan serba diatur tanpa
memberikan peluang otonomi. Penyelenggaraan pendidikan mengarah pada konformitas.
Konformitas itulah yang berbahaya, sebab dapat mematikan identitas diri. .

Akhirnya, dalam peringatan hari pendidikan nasional ini, kiranya perlu diingat pesan Ki Hadjar
Dewantara pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidup lahir,
sedangkan merdekanya batin didapat dari pendidikan. Dirgahayu Pendidikan Nasional.
Penulis

adalah

Pamong

Tamansiswa

Artikel ini dimuat Kantor Berita


Indonesia
http://kbi.gemari.or.id/beritadetail.php?id=5655

tinggal

di

GEMARI

bulan

Yogyakarta
Mei

2010

Pendidikan yang (Me)merdeka(kan)


16 Aug 2010

Media Indonesia
Pendidikan

Pendidikan yang (Me)merdeka(kan)


Oleh Agus Wibowo
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
PADA momentum peringatan ke-65 proklamasi kemerdekaan ini, para stakeholder seka-ligus
seluruh bangsa kita perlu melakukan refleksi kritis. Refleksi itu menyangkut apa saja yang sudah
dilakukan untuk bangsa, sembari memikirkan solusi terbaik. Tidak kalah pentingnya, perlu
dilakukan penyegaran sekaligus pembaruan model peringatan kemerdekaan; dari sekadar
seremonial tanpa makna menjadi spirit yang membangun semangat nasionalisme dan
kebangsaan. Pembaruan dan penyegaran juga amat urgen dilakukan dalam membenahi sistem
pendidikan bangsa. Mengapa? Karena di samping pendidikan merupakan aspek paling penting
bagi pembentukan sumber daya manusia, praktik pendidikan bangsa ini disinyalir mulai
melenceng dari cita-cita kemerdekaan.
Dahulu, para tokoh bangsa seperti, RA Kartini, R Dewi Sartika, KH Ahmad Dahlan, Ki Hadjar
Dewantara, Teuku Moh Syafei, dan sebagainya, mempergunakan pendidikan sebagai wahana
untuk menanamkan jiwa merdeka dan semangat nasionalisme kepada anak didiknya. Ki Hadjar
Dewantara misalnya, mendirikan Taman Siswa pada 3 Juli 1922, dengan tujuan ingin
menumbuhkan kesadaran esensial bangsa ini. Kesadaran bahwa bangsa ini memiliki harkat,
martabat yang sejajar dengan bangsa merdeka lain, dan harapan untuk lepas dari ketiak
penjajahan. Bagi Ki Hadjar, pendidikan merupakan wahana yang efektif dan mujarab bagi
penyadaran kritis itu. Singkatnya, para bapak bangsa ini mempergunakan pendidikan sebagai
wahana membangun manusia seutuhnya; yang memiliki karakter luhur, berjiwa patriot,
nasionalisme; dan" serogainya.
Sejarah kemudian mencatat betapa model pendidikan berjiwa merdeka itu membidani lahirnya
organisasi-organisasi dan pergerakan kemerdekaan seperti Budi Oetomo (1908), Perhimpunan
Indonesia (1926), dan puncaknya dengan dicetuskan Sumpah Pemuda (1928). Pada masa perang
kemerdekaandan revolusi untuk mempertahankannya, generasi muda yang terpelajar itu bukan
sekadar mampu untuk merancang organisasi atau menjadi aktivis, tetapi mereka juga memiliki
keberanian dan strategi untuk membangun kekuatan bersenjata yang dikenal dengan sebutan
Tentara Pelajar (TP).
Dikebiri

Namun sayang, era pascakemerde-kaan hingga saat ini, model pendidikan paripurna yang
menumbuhkan jiwa kebangsaan dan perasaan merdeka itu, dicerabut dan dikebiri oleh para
stakeholders bangsa ini. Bukannya menjadi sarana memerdekakan peserta didik, tetapi sistem
pendidikan saat ini secara jujur telah membelenggu, memenjarakan, bahkan menindas.
Pendidikan yang mestinya mampu menjadi ruang ekspresi, imajinasi dan wahana pembangun
kreativitas, justru menjadi ruang sempit; lantaran mengejar capaian portofolio, standar
kompetensi yang kental unsur kognitif.
Para stakeholder pendidikan memang seo-1 a h - o 1 a h menjadi pahlawan, atau seolah-olah
memihak wong cilik ketika berebut tender/proyek. Namun, ketika diminta tanggung jawab
aplikasi soft-were pendidikan yang gagal, mereka saling menyalahkan. Seperti pada kasus
kurikulum, ujian nasional, sertifikasi guru, sekolah bertaraf internasional (SBI / RSBI) dan
sebagainya. Para pahlawan pembuat softiuere itu selalu menjelek-jelekkan pendahulu, sementara
formula yang dibuatnya justru lebih amburadul.
Pada level tinggi pembuat kebijakan pendidikan, budaya buruk bongkar-pasang sistem dan
kebijakan terus terulang setiap menteri baru. Model pergantian yang amat instan ini, jelas tidak
relevan bagi korpus pendidikan. Jika aspek lain seperti pembangunan infrastruktur fisik mungkin
ada baiknya, tetapi pendidikan adalah sesuatu yang berbeda. Akibatnya, pemerintah meminjam
istilah Doni Koesoema (2008), justru menciptakan miopi pendidikan, atau sebuah keadaan di
mana perubahan dalam pendidikan (educational dtange) dilakukan hanya demi kepentingan
sesaat, memenuhi keinginan jangka pendek, mengejar hasil yang bisa langsung dilihat, tetapi
mengorbankan kinerja dunia pendidikan dalam jangka panjang.
Seyogianya, terjalin kesinambungan program antara pucuk pimpinan lama dan yang baru. Benar
pimpin-a nbaru dituntut kreativitas serta ide-ide baru, tetapi kebijakan lama yang sifatnya masih
bagus dan relevan mestinya juga tetap dipertahankan. Proses kesinambungan program dan kebijakan jelas berdampak positif bagi manajemen pendidikan kita, tetapi jika yang terjadi
sebaliknya justru semakin memperburuk arah pelaksanaan manajemen itu. Dilihat dari aspek
filosofis, pendidikanyang mestinya dimaknai secara luas, ternyata hanya dipahami sebagai proses
formal, sekadar proses alih pengetahuan. Akibatnya pendidikan tidak mampu lagi menjadi sarana
liberasi, yakni sebagai sebuah proses kerja kreatif dan responsif untuk memerdekakan dan
memberdayakan para pelajar. Pendidikan kita bahkan menampakkan- wajah yang berbeda; beringas dan menyeramkan. Seperti temuan Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA), yang
menyebutkan bahwa kekerasan pada anak di sekolah terus meningkat setiap tahun minimal 10%.
Pada aspek pembiayaan, pendidikan kita semakin tak terjangkau rakyat miskin. Benar undangundang badan hukum pendidikan (BHP) telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK).
Tetapi, pihak perguruan tinggi (PT) tetap membuat undang-undang pengganti BHP yang sejenis.
Akibat sistem yang dikebiri, serta model kebijakan yang berubah-ubah itu, pendidikan bangsa
laksana kapal tanpa nak-h o d a yang berputar-putar tanpa progres tetapi malah karam. Maka
sangat tepat komentar Amien Rais (2008), mengenai output atau lulusan pendidikan kita.
Mereka, kata Amien Rais, kebanyakan bermental buruk; inlander, penjilat dan gemar korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN).
Spirit kemerdekaan

Sebelum pendidikan bangsa ini benar-benar menjadi kapai karam, sebelum budaya buruk
mewaris kepada generasi muda, dan sebelum masa depan bangsa menjadi suram, landasan
filosofi pendidikan harus diperbaiki. Bangsa ini harus mengambil semangat dan spirit para
pendahulu dan bapak bangsa guna merancang model pendidikan berjiwa merdeka.
Menurut Romo Mangun (200369), sistem pendidikan berjiwa merdeka itu dahulu sangat
mengutamakan kedisiplinan, kejujuran, dan kreativitas di samping penguasaan terhadap bahasa
asing. Konon, dahulu untuk memupuk kreativitas itu, anak didik setiap minggu disuruh membuat
karangan ilmiah ringkas. Tema yang diangkat sangat sederhana, dan sesuai konteks saat itu.
Kegiatan membuat karangan itu memaksa siswa belajar observasi, atau istilah sekarang
mengumpulkan data, menyusunnya secara sistematis, danmenganalisis data tersebut dengan
pendapat pribadi. Kejujuran dan kebenaran sangat diutamakan. Maka, siswa yang kedapatan
melakukan duplikasi, hukumannya dikeluarkan dari sekolah. Selain itu, siswa dituntut berprinsip
lebih baik saat ini tidak bisa menjawab, dari pada menyontek atau membeo. Singkatnya,
keruntutan logika dan moralitas menjadi dasar mendidik siswa saat itu. Tidak heran jika dahulu,
siswa di tingkat dasar sudah kreatif membuat berbagai tulisan dan karya ilmiah. Bandingkan
dengan siswa kita sekarang! Jangankan siswa SD, mahasiswa S-l, bahkan doktor (S-3) kita
miskin dengan karya ilmiah.
Memang tidak tepat memang, membandingkan masa lalu dengan masa sekarang, karena setiap
zaman atau setiap generasi memiliki kelebihan dan kesulitan masing-masing. Hanya saja, jika
sistem pendidikan lama itu ternyata lebih relevan dengan konteks kekinian, bukankah tidak salah
jika kita mencontohnya? Maka, spirit pen-didikan berjiwa merdeka itu setidaknya bisa
diwujudkan paling tidak dalam dua hal. Pertama, dalam sistem pendidikan yang diwujudkan
dengan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, kemerdekaan dan egalitarianisme, dalam
menyusun visi dan tujuan pendidikan, desain konsep pembelajaran, metode pengajaran,
kurikulum, biaya sekolah, peningkatan karier dan gaji guru. Kedua, dalam praktik pendidikan
dengan mengimplementasikan spirit kemerdekaan dalam seluruh proses pembelajaran; interaksi
antara siswa dengan guru, sesama guru, dan antarsiswa. Misalnya melalui pengajaran yang
kontekstual, dialog dan presentasi, pelajaran yang interaktif dan partisipatoris, penilaian yang
transparan, dan sebagainya.
Pendidikan berjiwa merdeka juga kental dengan penanaman sikap kritis pada anak didiknya.
Akhirnya, dari model pendidikan merdeka ini diharapkan terlahir manusia-manusia kritis yang
mampu melihat aneka tantangan dari zamannya, berani membicarakan berbagai masalah
lingkungan, dan ikut menangani lingkungannya. Mereka akan terasah kuriositas intelektual,
kematangan emosional, dan kejernihan spiritual anak didik.
PARTISIPASI OPINI
Kirimkan ke email opini@mediaindonesia.com atau opinimi@yahoo.com atau fax(021)5812105
(Maksimal 7.100 karakter tanpa spasi. Sertakan nama, alamat lengkap, nomor telepon dan (oto
kopi KTP).

Entitas terkaitAkibat | Akibatnya | Amien | Bandingkan | Bangsa | Benar |


BHP | Bukannya | Dikebiri | Jangankan | Kegiatan | Kejujuran | Kesadaran |
Kirimkan | Maksimal | Misalnya | Model | Pembaruan | Pendidikan | Proses |
RA | Refleksi | SBI | Sejarah | Sertakan | Spirit | Tema | Amien Rais | Bagi Ki
| Budi Oetomo | Doni Koesoema | KH Ahmad | Ki Hadjar | Mahkamah
Konstitusi | PARTISIPASI OPINI | Perhimpunan Indonesia | R Dewi | Sumpah
Pemuda | Taman Siswa | Tentara Pelajar | Teuku Moh | Ki Hadjar Dewantara
| Menurut Romo Mangun | Oleh Agus Wibowo | Komisi Nasional
Perlindungan Anak | Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri
Yogyakarta | Ringkasan Artikel Ini
Dahulu, para tokoh bangsa seperti, RA Kartini, R Dewi Sartika, KH Ahmad
Dahlan, Ki Hadjar Dewantara, Teuku Moh Syafei, dan sebagainya,
mempergunakan pendidikan sebagai wahana untuk menanamkan jiwa
merdeka dan semangat nasionalisme kepada anak didiknya. Sejarah
kemudian mencatat betapa model pendidikan berjiwa merdeka itu
membidani lahirnya organisasi-organisasi dan pergerakan kemerdekaan
seperti Budi Oetomo (1908), Perhimpunan Indonesia (1926), dan
puncaknya dengan dicetuskan Sumpah Pemuda (1928). Pada masa perang
kemerdekaandan revolusi untuk mempertahankannya, generasi muda
yang terpelajar itu bukan sekadar mampu untuk merancang organisasi
atau menjadi aktivis, tetapi mereka juga memiliki keberanian dan strategi
untuk membangun kekuatan bersenjata yang dikenal dengan sebutan
Tentara Pelajar (TP). Dikebiri Namun sayang, era pascakemerde-kaan
hingga saat ini, model pendidikan paripurna yang menumbuhkan jiwa
kebangsaan dan perasaan merdeka itu, dicerabut dan dikebiri oleh para
stakeholders bangsa ini. Akibatnya pendidikan tidak mampu lagi menjadi
sarana liberasi, yakni sebagai sebuah proses kerja kreatif dan responsif
untuk memerdekakan dan memberdayakan para pelajar. Spirit
kemerdekaan Sebelum pendidikan bangsa ini benar-benar menjadi kapai
karam, sebelum budaya buruk mewaris kepada generasi muda, dan
sebelum masa depan bangsa menjadi suram, landasan filosofi pendidikan
harus diperbaiki. Bangsa ini harus mengambil semangat dan spirit para
pendahulu dan bapak bangsa guna merancang model pendidikan berjiwa
merdeka. Pertama, dalam sistem pendidikan yang diwujudkan dengan
menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, kemerdekaan dan egalitarianisme,
dalam menyusun visi dan tujuan pendidikan, desain konsep pembelajaran,
metode pengajaran, kurikulum, biaya sekolah, peningkatan karier dan gaji
guru. Misalnya melalui pengajaran yang kontekstual, dialog dan
presentasi, pelajaran yang interaktif dan partisipatoris, penilaian yang
transparan, dan sebagainya.

Jumlah kata di Artikel : 1206

Inilah Ciri-Ciri Manusia Merdeka


Posted on 18 Agustus 2010 by AKHMAD SUDRAJAT

Dalam satu kesempatan blog walking saya menemukan sebuah tulisan dalam bentuk e-paper,
berjudul Tujuh Ciri Orang Merdeka, yang ditulis oleh dai kondang Aa Gym. Saripati dari
ketujuh ciri tersebut adalah:

Pertama, orang yang merdeka dalam mengarungi hidup ini tidak akan disiksa oleh banyaknya
keinginan. Memiliki keinginan sebenamya sangat manusiawi, bahkan manusia bisa maju dan
berprestasi karena ada keinginan. Tetapi, jika hidup diperbudak keinginan sampai terampas
kebahagiaan, ibadah, waktu, pikiran, tenaga, bahkan biaya hanya untuk meladeni keinginan kita
dan keinginan tersebut nyata-nyata tidak membawa manfaat bagi kemuliaan dunia dan akhirat,
berarti kita sudah dijajah oleh keinginan.
Kedua, bebas dari perbudakan hawa nafsu. Hawa nafsu adalah bagian dari karunia Allah yang
melengkapi kehidupan kita menjadi bahagia bahkan mulia. Namun, nafsu itu sendiri harus kita
kendalikan. Kita lihat orang-orang yang diperbudak nafsu syahwat, hari-harinya hanya
memikirkan kemaksiatan sehingga menghancurkan nilai-nilai yang ada pada dirinya dan
menghancurkan orang lain, semata-mata karena diperbudak syahwat. Begitu pula orang yang
diperbudak nafsu amarah, pikirannya penuh kekejian, dendam membara. Tutur katanya penuh
angkara murka, tindakannya menjadi tidak terkendali dan hina, dan sudah pasti dia tidak akan
pernah disukai oleh orang lain, sehingga hari-harinya penuh ketegangan.
Ketiga, ciri orang yang hidupnya merdeka ialah ia tidak mudah diperbudak oleh asmara. Salah
satu yang memperindah dan menghiasi hidup kita adalah cinta. Tapi kita lihat ada orang yang
terjerumus ke lembah nista dalam perbuatan-perbuatan yang hina justru karena cinta, tentu yang
dimaksud adalah cinta buta yang membuatnya buta terhadap kebenaran.

Keempat, jujur. Setiap kali berbohong maka bohong itu akan menjadi penjara bagi kita. Kita
akan selalu was-was, takut kebohongan (kedustaan) kita diketahui yang mengharuskan kita
berbuat bohong lanjutannya. Oleh karena itu, tidak akan menjadi merdeka orang-orang yang
tidak menjaga dirinya dari kedustaan dan ketidakjujuran.
Kelima, tawadhu tidak akan pernah menghinakan, bahkan sebaliknya akan mengangkat derajat
seseorang. Mimpi kalau kita ingin bahagia jika kita menjadi orang yang sombong dan takabur.
Kebahagiaan dan kemerdekaan adalah milik orang-orang tawadhu.
Keenam ikhlas. Ikhlas adalah kunci kemerdekaan hati. Orang-orang riya yang suka pamer, yang
hidupnya tamak akan pujian, akan menjadi korban mode dan korban zaman. Tetapi orang yang
ikhlas tidak akan ambil pusing dengan penilaian manusia. Yang dia pikirkan adalah selalu
memikirkan yang terbaik dan puas dengan penilaian Allah SWT.
Ketujuh, semakin banyak bergantung kepada sesuatu maka kita akan takut kehilangan sesuatu.
Seperti orang yang bersandar di kursi akan takut kursinya diambil. Tetapi bergantung kepada
Allah, itulah yang akan memuaskan karena Allah menggenggam segala yang kita butuhkan.
Jika ingin mengetahui selengkapnya isi makalah tersebut, silahkan klik DISINI
Sumber : http://www.purwakarta.org/

Ilmu Pendidikan
October 1, 2007 at 3:05 am (Uncategorized)
BAB II
HAKIKAT PENDIDIKAN
Materi yang akan dibahas:
1. Konsepsi pendidikan
2. Pengertian pendidikan
3. Ilmu pendidikan bersifat descriptif-normatif
4. Ilmu pendidikan bersifat teoritis dan praktis-pragmatis
5. Pendidikan bersifat sebagai sistem
6. Unsur-unsur atau faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan
Ilmu dapat diperoleh dari teori maupun praktek
Tujuan teori pendidikan
1. menentukan arah dan tujuan pendidikan
2. Untuk memperkecil adanya kesalahan
3. Untuk mengetahui atau sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan itu sendiri

1. Konsepsi Pendidikan
Menurut Langeveld
Pendidikan adalah suatu bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa terhadap anak yang belum
dewasa.
Pelaku pendidikan ada 2
1. Pendidik
2. Peserta didik

Konsep Pendidikan diperlukan karena


1. Pendidikan berlangsung seumur hidup (long live education).
2. Karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga,masyarakat dan
pemerintah
3. Pendidikan itu wajib hukumnya.
4. Pendidikan hanya berlaku untuk manusia.
II.Pengertian Pendidikan
Menurut
A.Hoogveld
Mendidik adalah proses membantu anak supaya dia mampu melaksanakan tugas hidupnya.
Manusia perlu dididik karena:
1. Manusia dilahirkan dalam keadaan tidak tau apa-apa.
2. Manusia lahir tidak langsung dewasa.
3. Hakikat manusia itu adalah makhluk sosial.
4. Hakikat mendidik itu bisa dididik dan mendidik.
B.Langeveld
Mendidik adalah proses mempengaruhi anak dalam upaya membimbing supaya menjadi manusia
dewasa.
C.Ki Hajar Dewantoro
Mendidik adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat anak untuk menjadi manusia yang
utuh dan sebagai anggota masyarakat untuk mencapai kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
III.Ilmu bersifat Deskriptif-Normatif
IV.Ilmu Pengetahuan bersifat teoritis-praktis-pragmatis
Sifatnya bisa diajarkan secara turun temurun (teoritis) dan merupakan komponen yang
utuh,terorganisasi dan dapat diterapkan dalam kehidupan manusia.
V. Pendidikan bersifat sebagai sistem

Ilmu disusun secara sistematis yang menitikberatkan pada suatu proses


VI. Unsur-unsur atau faktor yang mempengaruhi pendidikan.
a. Peserta didik
b. Pendidik (kodrati = orang tua ; formatif = guru)
c.Tujuan pendidikan
d.Metode pendidikan
e. Lingkungan
Perbedaan antara pendidikan,pembelajaran dan pelatihan adalah
1. Pendidikan : proses pembimbingan terhadap orang lain yang dititik beratkan pada hati
nurani
2. Pembelajaran :proses pembimbingan terhadap orang lain yang dititik beratkan pada ilmu
pengetahuan.
3. Pelatihan :pembiasaan fisik

BAB III
LANDASAN DAN ASAS PENDIDIKAN

Landasan adalah dasar atau titik tolak dalam usaha meraih tujuan tertentu
Asas adalah semangat yang menjiwai usaha dalam meraih tujuan tertentu.
Landasan dalam pendidikan
1 Landasan filosofis pendidikan
Untuk mengangkat harkat dan martabat manusia
2.Landasan sosiologis pendidikan
Pendidikan hanya bisa dilaksanakan dalam masyarakat aktif
3.Landasan kultural pendidikan

Pendidikan dilaksanakan untuk melestarikan dan mengembangkan budaya serta mendidik


manusia supaya bernilai budaya.
4.Landasan psikologis pendidikan
Pendidikan harus bisa dilaksanakan dan diterima peserta didik.
5. Landasan ilmiah dan teknologis pendidikan
pendidikan dilaksanakan untuk mengembangkan bakat,pengetahuan,ketrampilan,daya kreasi
serta teknologi
6. Landasan pendidikan nasional
1. Idealisme : Pancasila
2. Konstitusional : UUD 1945
3. Operasional : GBHN dan UU Sistem Pendidikan Nasional
Asas-Asas Pendidikan Nasional
1. Asas semesta
Pendidikan dilaksanakan secara menyeluruh terpadu dan terbuka untuk semua rakyat indonesia
1. Asas pendidikan seumur hidup
2. Asas tanggung jawab bersama
3. Asas pendidikan berlangsung dalam lingkungan rumah tangga,sekolah dan masyarakat
4. Asas ketahanan nasional
5. Asas bhinneka tunggal ika
6. Asas keselarasan dan keseimbangan
7. Asas manfaat,adil dan merata
8. Asas ing ngarso sung thulodho,ing madyo mangun karso,tut wuri handayani
9. Asas efisien dan efektif
10. Asas hukum

Sekolah beperan :

Sebagai tempat mewariskan sesuatu (pengetahuan,ketrampilan dan sikap)


Sebagai tempat agen pembaharuan

Dengan pendidikan akan mengalami perubahan

teknologi
demografi

tingkat urbanisasi

Aliran-aliran dalam Pendidikan


1.Aliran klasik (John Lock) 1632-1709
terdiri dari 2 unsur yaitu : internal = bawaan lahir ; eksternal = empiris
(manusia saat dilahirkan kondisinya kosong)
2. Aliran nativisme (Arthur Shcoupenhouer) 1788-1860
Perkembangan seseorang merupakan produk dari faktor pembawaan yang berupa bakat
3.Aliran naturalisme (JJ Rossou) 1712-1778
Setiap anak yang lahir pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan baik,adapun rusak tidaknya anak
tersebut tergantung dari campur tangan manusia lain.
4.Aliran konvergensi (William Stern) 1871-1938
Bahwa bakat,pembawaan,lingkungan dan pengalamanlah yang menentukan pembentukan
pribadi seseorang.
Aliran Pendidikan di Indonesia
Dipelopori oleh Ki Hajar Dewantro
Ajaran yang diberikan adalah :

Asas merdeka
Asas kebudayaan Indonesia

Asas kerakyatan

Asas mandiri

Asas berhamba atau pengabdian

Leave a Comment

IDEALISME PENDIDIKAN, MENUJU MANUSIA MERDEKA


Oleh: Mukayanah
Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa agaknya telah menjadi ikon utama pendidikan Nasional
Indonesia. Sejarah mencatat, bahwa awal pendidikan di Indonesia melalui Tamansiswa sejak 87
tahun yang lalu. Namun pada perkembangannya, pendidikan yang diterapkan sekarang ternyata
banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara. Idealisme pendidikan yang
seharusnya sangat berbeda dengan idealisme pendidikan yang senyatanya.
Ki Hadjar memandang, bahwa seharusnya pendidikan merupakan media kebudayaan yang
tersistem dan harus memerdekakan manusia selaku subjek didik sesuai kodratnya. Menurut Ki
Hadjar, pendidikan adalah suatu tuntunan di dalam tumbuhnya peserta didik. Peran guru (atau
pamong) hanyalah sebagai fasilitator, dan bukan peran dominan mutlak. Artinya, guru tidak
memiliki hak memaksa peserta didik untuk menjadi seperti yang mereka inginkan.
Dalam pandangan Ki Hadjar, peserta didik adalah pribadi unik yang masing-masing memiliki
bakat dan minatnya. Jadi, tidak seharusnya guru memaksakan para peserta didik mengikuti
budaya yang diwariskan, mengikuti ajaran yang sudah jadi. Hal ini sangat bertentangan dengan
teori Empirisme yang banyak diyakini beberapa waktu terakhir. Teori ini beranggapan, peserta
didik adalah sebuah kertas kosong yang putih bersih. Oleh karena itu, adalah kewajiban guru
menulisinya sesuai kehendak sang guru.
Indra Tranggono, pemerhati kebudayaan dan penulis sastra, melalui makalahnya yang
disampaikan dalam bedah buku Hari Ulang Tahun Tamansiswa, 3 Juli 2009 lalu, menyebutkan
bahwa sesungguhnya Ki Hadjar menginginkan pendidikan yang transformatif, bukan pendidikan
yang cenderung menekankan pada sosialisasi. Pendidikan yang transformatif berpotensi dan
bertujuan melakukan perubahan jiwa anak dari kondisi tidak merdeka menjadi merdeka, dari
kondisi tidak mandiri menjadi mandiri, dari kondisi tidak percaya diri menjadi percaya diri, dari
kondisi tidak kreatif menjadi kreatif, dari kondisi kurang beradab menjadi beradab.
Sedangkan pendidikan yang menekankan sosialisasi cenderung mendoktrin peserta didik
menjadi sekadar makhluk penghafal ilmu pengetahuan atau robot yang patuh. Di dalamnya tidak
berlangsung internalisasi pengetahuan dan pengalaman menjadi nilai. Salah satu kegagalan
pendidikan kita adalah lebih menekankan sosialisasi daripada transformasi.
Hal senada juga disampaikan oleh Jenderal (purn) Tyasno Sudarto, Ketua Umum Majelis Luhur
Tamansiswa. Menurutnya, perkembangan arus globalisasi menjadikan manusia Indonesia tidak
bisa lepas dari lingkungan masyarakat dunia, sehingga apa yang diterapkan dalam sistem
sekarang merupakan paham asing yang serba materialistis. Pendidikan dipandang sebagai aset
berharga yang bisa diperjual-belikan. Tyasno menambahkan, Pendidikan yang lahir sekarang
tidak lagi didasarkan Pancasila, tetapi berdasarkan Konsesus Washington.yang kapitalis,
liberalis, dan neokolonialis.
Memang, pendidikan yang ada saat ini merupakan dampak dari turunan kesepakatan Indonesia
dalam Perjanjian World Trade Organization (WTO), yakni General Agreement On Trade and
Service (GATS). Dalam kesepakatan tersebut, pendidikan merupakan salah satu sektor tersier
yang akan diliberalisasikan. Pada prinsipnya, perjanjian terbagi dua kategori. Pertama, perjanjian
umum mengenai tarif dan perdagangan (GATT), dan kedua, perjanjian umum mengenai
perdagangan di sektor jasa (GATS). Oleh karena Indonesia termasuk salah satu negara yang

menandatangani perjanjian tersebut, maka secara otomatis Indonesia wajib tunduk dalam sistem
yang mengharuskan negara ini terlibat dalam globalisasi (baca: liberalisasi) pendidikan.
Sedikit mengingat kembali isi pembukaan UUD 1945, bahwa di situ jelas tertulis penjajahan di
atas dunia harus dihapuskan. Penjajahan zaman tradisional adalah bentuk penjajahan fisik,
tampak. Akan tetapi, sekarang ini yang kita alami bukanlah penjajahan seperti itu. Penjajahan
yang sedang kita alami sekarang ini ialah, sebagaimana ungkapan Tyasno Sudarto, penjajahan
gaya baru. Penjajah masuk ke negeri ini melalui bidang moral, hukum, politik, ekonomi, budaya,
dan sekarang: pendidikan.
Ironis, memang. Pendidikan yang seharusnya fitrah bagi manusia, justru dijadikan alat untuk
pemaksaan kehendak, penanaman jiwa budak istilahnya. Padahal, dengan pendidikan
seharusnya masyarakat menjadi manusia yang berjiwa merdeka secara utuh. Baik merdeka
secara lahir, secara batin, maupun secara pemikiran. Manusia merdeka yang bebas menyuarakan
pendapat. Manusia merdeka yang bebas menjadi dirinya sendiri.
Manusia Indonesia produk pendidikan adalah manusia cerdas yang merdeka dalam upaya
menjadi dirinya sendiri. Nonton, niteni, nirokke, nambahi, itulah proses dan pengalaman
pendidikan yang memang harus dirasakan oleh peserta didik. Tidak cukup hanya menerima nilai.
Pendidikan lebih dari itu, menemukan dan mengkonsepkan nilai yang kemudian ditaati dan
dipatuhi. Suatu kata-kata yang prinsipil bagi penyelenggaraan pendidikan ala Ki Hadjar. Atau
slogan yang sudah sangat dekat di telinga kita, ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun
karsa, tut wuri handayani. Dimana guru berkewajiban membersamai peserta didik, baik di
depannya untuk menjadi teladan, di tengah untuk memahami dan menyertai, serta di belakang
untuk mendorong dan memotivasi.
Pendidikan Ideal, Menuju Manusia Merdeka
Pendidikan di Indonesia saat ini belum ideal. Sebuah pendidikan seharusnya sesuai dengan
kepribadian bangsa, tidak memaksakan kehendak, memerdekakan peserta didik dalam menyerap
ilmu pengetahuan, pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akal/ilmu/bidang akademik
saja, namun juga psikomotor dan afektif. Selain itu, proses pendidikan juga tidak boleh terlepas
dari kebudayaan dan seni. Pada kedua hal ini terkandung makna etika dan estetika yang termasuk
salah satu faktor penunjang pendidikan.
Pada kenyataannya, pendidikan sama sekali belum menyentuh semua hal di atas. Pendidikan
yang ada saat ini tidak berpihak pada kebebasan dan kemerdekaan. Pendidikan yang ada
sekarang merupakan pendidikan robot yang hanya berorientasi mendengarkan, menghafal
data, dan menirukan. Tidak ada internalisasi pengalaman pembelajaran di situ. Kalaupun dewasa
ini kerap digembar-gemborkan isu teori pendidikan rekonstruksi sosial maupun pendidikan
teknologi yang berbasis kemerdekaan pengalaman pendidikan, namun penerapannya sangatlah
jauh berbeda. Salah satunya adalah masih adanya Ujian Akhir Nasional (UAN) secara seragam.
Ki Hadjar menuturkan, yang berhak melakukan evaluasi adalah pamong sekolah sendiri. Tidak
akan pernah bisa jika evaluasi dilakukan serentak, itupun dengan menyemaratakan soal yang
harus dikerjakan.
Maka alangkah tidak bebasnya sekolah pinggiran yang justru memiliki potensi alam yang besar.
Peserta didik dipaksa untuk memiliki kemampuan dan kompetensi yang seragam satu sama
lain. Itupun hanya di bidang yang diujikan. Bagaimana yang tidak? Akhlak, kejujuran, nilai-nilai
tanggungjawab, apakah itu tidak penting dibandingkan IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris?
Berdasarkan uraian di atas, cukuplah bukti bagi kita untuk mengatakan pendidikan di Indonesia

saat ini masih jauh dari idealisme pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara yang pro-kemerdekaan
jiwa. Wallahu alam.

Anda mungkin juga menyukai