Anda di halaman 1dari 5

Preoperative subconjunctival injection of mitomycin C versus

intraoperative topical application as an adjunctive treatment for surgical


removal of primary pterygium
Pterigium adalah masalah kesehatan mata yang umum di Mesir karena iklim panas dan
paparan sinar ultraviolet. Eksisi sederhana pterigium memiliki tingkat kekambuhan sekitar
30-50%. Radiasi, antimetabolit, conjunctival grafts dan limbal grafts, digunakan untuk
mengurangi kekambuhan setelah eksisi. Terapi tambahan mitomycin C (MMC) secara umum
digunakan dalam mencegah kekambuhan pterigium. Mekanisme aksi MMC dalam
pencegahan kekambuhan pterigium adalah menghambat proliferasi fibroblast episcleral.
Penggunaan jangka panjang tetes mata MMC topikal setelah pembedahan dapat
menyebabkan komplikasi serius seperti glaukoma sekunder, edema kornea, nekrosis scleral,
dan onset katarak matur secara tiba-tiba. Injeksi subkonjungtiva MMC dapat digunakan
sebagai terapi tambahan sebelum eksisi pterigium untuk aktivasi fibroblast dan
meminimalisasi toksisitas epitel. Donnenfeld et al. melaporkan tingkat keberhasilan 94%
dengan injeksi subkonjungtiva MMC, dengan bare sclera technique.
Dalam penelitian ini, peneliti membandingkan efektivitas injeksi subkonjungtival
preoperatif mitomycin C (MMC) dengan penggunaan intraoperatif untuk mencegah
kekambuhan pterigium setelah operasi pengangkatan. Tujuannya adalah untuk mengurangi
waktu paparan jaringan subkonjungtiva dengan MMC 24 jam sebelum eksisi dalam upaya
untuk menghindari komplikasi MMC.
Bahan dan Metode
Dari Maret 2007 - Desember 2008, 70 mata dari 70 subyek dengan pterigia primer
secara acak menjalani eksisi pterigium. Dibagi dalam dua kelompok : Kelompok A (35 mata)
menerima subconjunctival MMC 24 jam sebelum eksisi pterigium dengan teknik bare sclera;
Kelompok B (35 mata) menjalani eksisi pterigium dengan teknik bare sclera dan penggunaan
MMC intraoperatif. Informed consent diperoleh dari semua subjek penelitian ini. Protokol
penelitian telah disetujui oleh komite etik di Fakultas Kedokteran.
Kriteria inklusi : individu yg memiliki selaput pterigium primer. Kriteria ekslusi :
individu dengan pterigium yang berhubungan dengan dry eye, uveitis, glaukoma, dan
blepharitis kronis resisten karena risiko tinggi toksisitas MMC.
Teknik bedah untuk Grup A
Subyek menerima subconjunctival mitomycin C (0,1 ml 0,15 mg / ml) 24 jam sebelum
operasi dengan teknik berikut. Dua tetes benoxinate hidroklorida 0,5% anestesi topikal
diberikan pada mata yang dioperasi. Pada pterigium diberi benoxinate hidroklorida 0,5%

dengan menggunakan kapas selama 3 menit. Injeksi subconjunctival dilakukan langsung ke


dalam pterigium di limbus, konjungtiva dialiri dengan saline untuk membersihkan MMC dan
pasien menerima satu tetes ciprofloksasin 0,3%, dengan pemakaian dilanjutkan empat kali
sehari.
Dua puluh empat jam setelah injeksi MMC, pasien menjalani eksisi bare sclera
pterigium. Lidi kapas yang dibasahi hidroklorida benoxinate 0,5% diaplikasikan langsung ke
pterigium selama 3 menit untuk mendapatkan anestesi topikal. Selanjutnya, 0,5 ml Lidocaine
2% disuntik secara subkonjungtiva. Pterigium digenggam di limbus dengan forsep sirurgis
0.3 mm, kemudian pterigium dieksisi.
Teknik bedah untuk Grup B
Mata menjalani eksisi pterigium dengan teknik bare sclera seperti yang dijelaskan di
atas. Setelah kauterisasi badan skleral, microsponge direndam dalam MMC 0,15 mg /ml
diaplikasikan pada sklera selama 3 menit. Sakus konjungtiva diirigasi dengan saline untuk
membersihkan kelebihan MMC.
Perawatan pasca operasi pada kedua kelompok sama: salep mata topikal (tobramycin
dan kombinasi deksametason) diberikan, mata ditutup sampai hari 1 pasca operasi. Pasca
operasi, pasien diobati dengan kombinasi tobramycin dan deksametason tetes empat kali
sehari selama 1 minggu, diikuti dengan jadwal lonjong selama 3 minggu berikut. Salep mata
(tobramycin dan kombinasi deksametason) diterapkan selama 2 minggu pada waktu tidur.
Pasien di follow up pada 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun setelah
eksisi pterigium. Pada semua kunjungan pasien diperiksa untuk eritema konjungtiva, defek
epitel, dan kekambuhan pterigium. Kekambuhan ditandai dengan pertumbuhan fibrovascular
jaringan konjungtiva melewati setidaknya 1 mm melewati limbus corneoscleral.
Hasil
Studi kohort dari 70 mata dibagi menjadi dua kelompok masing-masing 35 mata
dengan selaput pterigia primer. Usia rata-rata Grup A 33,0 7,14 tahun (26-50 tahun), Grup
B 34,0 8,17 tahun (27-51 tahun).

Tabel 1: data demografis preoperatif untuk kedua kelompok

Tabel 2: Tingkat keberhasilan dan tingkat kekambuhan pada kedua kelompok

Gambar 1: Mata kiri dari subjek penelitian tanpa tanda-tanda kekambuhan 10 bulan setelah
pengangkatan pterigium dengan teknik bare sclera dan injeksi lokal preoperatif mitomycin C
(Grup A)
Rata-rata TIO pra operasi Grup A 13,47 1,53 mmHg dan Grup B 13,05 1,18 mmHg
(P> 0,05). Rata-rata TIO 1 tahun pasca operasi Grup A 12,73 1,08 mmHg dan Grup B 13,01
1,01 mmHg (P> 0,05).

Tabel 3: komplikasi pasca operasi di mata yang menerima pra operasi atau intraoperatif
mitomycin C untuk operasi pterigium

Iritasi konjungtiva sembuh dalam 2 minggu pertama pasca operasi, subconjunctival


hemorrhage sembuh setelah 3 minggu pasca operasi, fotofobia sembuh dalam 2 minggu
pasca operasi. Keratopathy epitel punctuata sembuh setelah 2 minggu pasca operasi.
Penipisan sklera diobati dengan tetes air mata buatan dan salep topikal, kondisi membaik
setelah 3 bulan pengobatan. Ulserasi kornea/perforasi, perforasi scleral, glaukoma sekunder,
dan onset katarak matur secara tiba-tiba tidak terjadi selama penelitian ini.

Gambar 2: Penipisan sklera ringan di mata kiri pasien pada Grup B 2 bulan setelah operasi
pterigium
Diskusi
Mekanisme aksi MMC dalam pencegahan kekambuhan pterigium adalah menghambat
proliferasi fibroblast episclera. MMC memiliki efek panjang menekan human fibroblasts. Hal
ini untuk mencegah perkembangan fibrosis dan penyembuhan luka agresif yang bertanggung
jawab untuk kekambuhan pterigia.
MMC adalah agen antifibrotik sangat ampuh karena itu hanya membutuhkan waktu
pemaparan singkat. Chen et al, melaporkan bahwa konsentrasi 0,10 mg / ml MMC
menghambat replikasi fibroblas, sedangkan konsentrasi 0,3 mg / ml menyebabkan kematian
sel fibroblas.
Dalam literatur sebelumnya tingkat kekambuhan setelah operasi pengangkatan
pterigium dengan teknik bare sclera saja berkisar 35-70%. Semakin rendah konsentrasi
dalam penelitian kami memiliki efikasi yang sebanding bersama dengan keuntungan
tambahan untuk mengurangi toksisitas jaringan okular.
Komplikasi yang paling ringan postoperasi seperti subconjunctival hemorrhage,
fotofobia dan iritasi konjungtiva, berkaitan dengan manipulasi bedah. Komplikasi
penggunaan MMC hanya satu mata (2,9%) dari Grup A dan satu mata (2,9%) di Grup B
penipisan sklera ringan 2 bulan pasca operasi yang berhasil diobati dengan air mata buatan
topikal (tetes dan salep) dan penarikan kortikosteroid dan tetes antibiotik kombinasi. Follow
up mata ini dilakukan sampai pemulihan selesai pada akhir bulan kelima pasca operasi.
Peneliti menemukan bahwa pasien menggunakan kortikosteroid lebih sering daripada yang
disarankan, meneteskan kortikosteroid setiap kali mata mereka iritasi,frekuensi penggunaan

steroid pasca operasi ini memperlambat penyembuhan luka dan menginduksi penipisan
sklera.
Penggunaan MMC dengan pembedahan untuk pterigia primer pada kedua teknik, baik
injeksi subconjunctival pra operasi (Grup A) atau aplikasi intraoperatif MMC (Grup B),
sama-sama efektif. Peneliti lebih memilih teknik penggunaan jaringan eksogen (transplantasi
membran amnion dan perikardium buatan manusia) karena menurunkan intervensi bedah,
waktu penyembuhan lebih cepat, mengurangi ketidaknyamanan pasien, dan penurunan biaya.
Selain itu, teknik ini memakan waktu lebih sedikit dari graft konjungtiva dan tidak
mengganggu keberhasilan operasi glaukoma di masa yang akan datang.
Kesimpulannya, injeksi subkonjungtiva preoperatif MMC 0,15 mg / ml sama efektif
dengan aplikasi intraoperatif topikal MMC 0,15 mg / ml untuk pencegahan kekambuhan
pterigium setelah operasi pengangkatan dengan teknik bare sclera.