Anda di halaman 1dari 11
GAMBARAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA PADA. LANSIA DI KELURAHAN CAWANG JAKARTA Sumijatun, Pudjiati, Nurhatimah ABSTRACT In Indonesia Family, elderly member (lansia) is a unique figure in a family in relation to the social and culture of the nation, And in national issues / ives, the lansia are respectived htanan resources because of their knowledge, experience, and wisdom which could be used to lead us to develop the overall life qualities of every citizen of the nation. In other side, lansia also brings several negatives issues related to their decreased physical state, which make them categorized as the member of high risk group of the family. Health cares and treatment are very important for them, therefore it would be very useful to know more about their life, their activities, and furthermore, their basic physical needs fulfilment. Problem Description » human basic needs of lansia to be fulfilled in many aspect their life related to their decreased physical state were not identified yet. Objectives: this research is was carried out to obtain data of physical needs of lansia in kelurahan Cawang by using Maslow theory. Methodology: the research was analytical descriptive study using both quantitative and qualitative methods, The design of this research itself was cross sectional, with quantitative data collected from observation and questioner examination and qualitative data collected intensive depth interview and focus group discussion. Results: Using Maslow theory, the result from this research shows that there was a close relation between physical needs of lansia along with its implication of the way of treatment. Conclusion: Health treatment and health monitoring for lansia are very iraportant to make their life are healthy and prosperity. Keyword: physical needs, elderly member, implication PENDABULUAN antara tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 Pembangunan kesehatan di Indonesia telah berhasil menurunkan Angka Kematian bayi dan ibu, pengurangan kasus fertilitas don meningkatnya perbaikan gizi masyarakat. Sebagai salah satu dampak positif adalah meningkataye Angka Harapan Hidup (AHH) penduduk, tahun 1995 mencapai 66,7 tahun ‘untuk wanita dan 62,9 tahun untuk pria, ‘Tahun 2005 diperkirakan AHH 68,2 tahun untuk wanita dan 64,3 tahun untuk pria, dengan demikian terjadi peningkatan jumlah populasi penduduk lanjut usia (lansia) yang diperkirakan mencapai 7,54 % atau sekitar 16.172.835 orang (Depkes RI, 2005). Sedangkan jumlah lansia diperkirakan akan sama dengan jumleh balita, yaitu sekitar 19 juta atau 8,5 % dari jumlah seluruh penduduk ( Depkes, 2000) Peningkatan jumlah lansia aken berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan baik secora fisik, psikologis, sosial dan juga ekonomi. Oleh kerena itu diperiukan pethatien serta penanganan yang tepat agar kelompok lansia tersebut juga dapat hidup seat prima di hari tua. Kesehatan prima merupakan suatu keadaan yang sejahtera, meliputi sikap dan perilaku yang mencerminkan kualitas hidup yang tinggi serta adanya tingkat potensial maksimal dari individu, Kesehatan prima Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Motivasi Perawat 35 juga diartikan sebagai keputusan pada suatu pilihan untuk dapat mencapai kesehatan optimal, dengan cara mengubah gaya hidup guna mencapai potensial tertinggi untuk Kesehatan dan kesejahteraan sehingga dapat tetap hidup sehat dan berbabagia (Sumijatun, 2006) Menurut Anspaugh,dkk (dalam Sumijatun dik, 2005) ada lima dimensi dalam sehat optimal yang mewujudkan adanya kesehatan dan kesejahteraan prima , yaitu dimensi fisik, sosial, emosional, intelektual dan spiritual . Selain itu memurut Abraham Maslow, individu dapat sehat optimal kalau kebutuhan dasarnya yang mencakup kebutuhan fisik, keamanan dan kenyamanan, cinta dan kasih sayang, harga iri serta aktualisasi diri terpenuhi, Kebutuhan fisik meliputi kecukupan oksigen, makanan, air, istirahat dan eliminasi. Kebutuhan keamanan dan kenyamanan meliputi perlindungan dan bebas dari bahaya. ‘Kebutuhan cinta meliputi kasih sayang, rasa memiliki serta adanya persahabatan. Harga iri diartikan sebagai kenyamanan diri serta adanya respek dari orang lain terhadap dirinya dan yang terakhir adalah aktualisasi iri yang mencakup kemampuan yang dapat dilakukannya serta pengakuan terhadap dirinya (Farrell, 1990), Permasalahan khusus yang terjadi pada lansia meliputi proses penuaan yang datang secara alami dengan konsekuensi timbulnya masalah fisik, mental dan sosial. Perubahan sosialisasi karena produktivitas yang mulai menurun, berkurangnya kesibukan sosial, dan interaksi dengan lingkungan, Produktivitas yang menurun dengan akibat terbatasnya kesempataan Kerja karena kemampuan dan ketrampilan menurun, namun kebutuban hidup terus meningkat, Kebutuhan pelayanan kesebatan terutama karena terjadinya proses degeneratif yang memerlukan biaya tinggi membuat permasalahan ekonomi semakin sulit, Perubahan nilai sosial masyarakat yang mengarah kepada tatanan masyarakat individualistik, menyebabkan para lansia kurang mendapat perhatian serta tersisih dari kehidupan masyarakat schingga menjadi terlantar (Depkes, 2005). Upaya untuk mewujudkan kesehatan prima pada lansia, perlu adanya kerjasama yang baik dari berbagai pihak seperti pemerintah, pibak swasta maupun individu, keluarga dan masyarakat itu sendiri. Hal ini telah dirintis melalui berbagai upaya antara lain adanya posyandu lansia dan desa siaga yang mempunyai tujuan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal pada setiap penduduk termasuk lansia, Perubaban aspek biologis dan fisiologis, pada lansia akan mempengeruhi kesehatannya, Oleh karena itu perlu digali lebih dalam masalah kesehatan apa saja yang ada pada lansia serta hal-hal lain yang dianggap sangat berkaitan, METODOLOGI Penelitian ini merupakan perpaduan antara kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif dilakukan dengan cara observasi pada 40 orang lansia (45,5 %) dari 88 orang lansia yang tidak schat. Hal ini dilakukan untuk ‘menjaring prioritas masalah kesehatan yang terjadi pada lansia dan harus segera diatasi oleh individu, keluarga, kader kesehatan dan Puskesmas terkait. Sampel diambil secara acak dengan mengacu pada pilihan Kader Kesehatan setempat. Dari jumlah 40 orang lansia tersebut, kemudian drop 1 orang dengan alasan dibawa anaknya yang menetap diluac kota, sehingga jumlah sampel menjadi 39 orang lansia (44,3 %). Observasi dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesi Poltekkes Jakarta TIT semester VI dengan mengacu pade lembar panduan yang isinya dikembangkan dari tahap — tahap proses keperawatan yang ‘meliputi pengkajian, diagnose, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Data penelitian 56 ‘Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Motivasi Perawat ‘meliputi data demografi, pengukuran tekanan darah, pernapasan, denyut nadi, tinggi badan dan berat badan seria pola hidup. Data Jeualitatifdidapat dari wawancara mendalam (indepth interview ) tethadap lansia itu sendiri dan keluarganya, sedangkan cara diskusi kelompok terarah ( FGD ) dilaksanakan tethadap 31 orang Kader Kesehatan setempat yang dilakukan pada tanggal 19 Mei 2006. Desain penelitian yong dipergunakan adalah cross sectional, pertanyaan meliputi kecukupan kebutuhan fisik manusia yang dikembangkan dari teori Maslow yang ‘meliputi pola dan menu makan, kebutuban cairan, pola tidur, olah raga dan pemanfzatan ‘waktu Iuang. Secara keseluruban penelitian dilakukan dari tanggal 11 April sampai dengan 19 Mei Tabel 1. Distribusi Lansia Berdasarkan Karakteristik di RW 02 Kel. Cawang Jakarta Timur tahun 2006 2006. Tempat penelitian di RW 02 Kelurahan ‘Cawang Jakarta Timur, Data dianalisa dengan cara menggolongkan permasalahan kesehatan berdasarkan pada pengukuran yang telah dilakukan (kuantitatif), sehingga didapatkan jenis gangguan kesehatan yang ada. Berdasarkan data kualitatif akan diperoleh persepsi lansia, keluarga serta kader keschatan yang ada tentang kecukupan pemenuhan kebutuhan fisik pada lansia, Gambaran tentang keadaan kesebatan dan kesejabteran lansia diperoleh dengan menggabungkan kedua data tersebut sebingga dapat dicarikan solusinya apabila diperlukan. ‘HASIL DAN PEMBAHASAN Data lansia meliputi jumlah, umur, status keschatan dan jenis penyakit didapatkan basil sebagai berikut: Karakteristik | Jumlah | Persentase (%) Tenis kelamia a, Pria 58 46 b,_Wanita 68 54 Kelompok Umur a. 56+ 65 Tahun 64 50,8 b, Diatas 65 tahun | 62 49.2 Status Kesehatan a, Sehat 38 30,2 b,_Tidek sehat 88 68 ‘Dati tabel tersebut diatas, terlihat bahwa mayoritas lansia berjenis kelamin wanita dan lebih dari separuh lansia (88 orang) dalam keadaan tidak sehat. Dari jumlah yang, tidak schat tersebut diambil sebagai sampel sebanyak 40 orang, yang akhimya menjadi 39 orang karena drop 1 orang. ‘Adapun karakteristik dari sampel dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut, Faktor-fakior Yang Berhubungan Dengan Motivasi Perawat 37 Tabel 2 Distribusi Freknensi Karakteristik 39 Responden yang Tidak Sebat Karakteristik Jumlah Prosen(% ) Tenis kelamin a Pria 16 41a b Wanita 58.9 Kelompok Umur a 36 65 thn 2B 58.9 b. Diatas 65 thn 16 4d Pendidikan a, Tidak Sekolah 7 18 b. SD 3 333 c. SLTP 8 20.5 d. SLTA ul 28.2 Status Perkawinan a. Kawin 30 7 b. Janda 9 B Tenis Pekerjaan a. Tidak Bekerja 19 48.7 b. Swasta /Dagang 6 Isa c. Pensiunan s 128 4, Buruh 9 Bur Tenis Penyakit yang ada a. Hipertensi 18 46 b. Rematik 13 33.3 ¢, Diabetes Melitus 2 5.1 d_Lain-lain 10 236 Dari tabel tersebut diatas terlihat bahwa mayoritas responden wanita , usia terbanyak pada rentang 56 - 65 tahun, mayoritas pendidikan SD. Lansia yang berstatus janda sebanyak 23%, sedangkan yang berstatus duda tidak ada. Hal ini serupa dengan temuan survei di Kelurahan Depok bahwa jumlah lansia yang berstatus janda sebanyak 44,5 % dari 513 orang lansia (Wiavanti, R,2006). Terman tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Depkes bahwa AHH pada wanita memang lebih tinggi dibandingkan dengan pria, selain itu pada umuronya wanita akan menikah dengan pria yang lebih tua dari usianya, Lansia yang tidak bekerja sebesar 48,7 % dan berprofesi buruh sebesar 23,1% , dengan demikian banyak hal yang ccukup memprihatinkan karena sebagian besar dari mereka akan menjadi beban ekonomi anak-anaknya, yang rata-rata masih belum berkecukupan. Keluhan tentang kesehatan yang disampaikan oleh Iansia dan keluarganye mayorites adalah sakit pinggang, nyeri sendi dan pegal-pegal serta hipertensi. 58 ‘Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Motivasi Perawat Temuan ini sesuai dengan survei di Kelurahaan Kemiri Muka Depok, bahwa penyakit yang banyak diderita adalah hipertensi yang dapat mencapai angka 54,3 % dari 98 orang lansia yang ada (Meilianingsin,2006 ) . Gambaran hasil observasi, wawancara mendalam dan diskusi terarah (FGD) dapat Obesitas 10 ( 25%) Kunis 9 (24%) Normal 20 ( 51%) badan menjadi gemuk + Sebetulnya berat badan itu bisa Gipertahankan dengan cara ola raga dan mengatur makanennya + Saya nggak tabu mengaya sulit sekali untuk —menggemukkan badan, dilihat pada tabel 3. Tabel3 8 (Delapan) Variabel Kebutuhan Fisik. pada Lansia di RW 02. Variabet Obsevasi Wawancara FGD 1 Status Kesehatan = Terus terang kami tidak | - Wargadisini banyak yang Tekanan Darah rmengetahui bahwa hiperensi | menderitahipertensi dan Hipertensi 18 (46%) | dan stoke bisa disebabkan oleh | stroke tetapikebanyakan Normal 21 (54%) perilaku hidup yang tidak sehat. | sudah berobat Pernepasen ~ Sebetulnya geiaia-aejala dari | - Sakit yang banyak diderita Normal 39(100%) | hipertensi dan stroke itu apa] oleh lansia di RW 02 adalah Nadi aja kencing manis, asma atau Normal 39 (100%) }- Ayah saya mengeluh sering | sesak —napas, rematik dan pusing, elah dan lemas pegalpegal. = Lansia’ disini banyak yang menderta sakit pinggang, nyeri sendi, pegalpepal dan sesak napas serta berdebar-debar dan Datuk 2 Borat Badan ~ Setelah melahirkan banyak anak, |- Di RW OD sudah terbentuk klub senam ibu-ibw supaya tidak gemuk tapi tidak banyak yang kt karena repot + Klub jantung sehat juga sudan ada yang dilaksanakan setiap hari Jumn’at’ di puskesmas tetapi tidak semua lansia mengikutinya = dengan alasan jauh dan malas. ‘Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Motivasi Perawat 39 Vartabe Obsev: Pola Makan Teratur 3x sehari (92.3 %) Tidak terarur (7.7%) Menu Makan Lihat Kewangan (82.1%) Santan dan rendang (7.7%) Jeroan dan ikn asin (3.1%) Kacang /emping (5.1%) Wawancara Pads umurmnya secare isk aya saya tidak mengatami Kesulitan makan, hanja malas saja, Kami sudah meneobe untuk mengganti dengan kue ata makanan lain yang. jelas asal lapar ya makan Masalah makan ya tergantung ang. Senang makan yang. bersantan seperti rendang dan jeroan arenz gurity Saya orang Betawi kalau ngeak ada ikan asin sama sambal ya engeak enak Suseh —menghindari — makan kacang dan emping. FGD Kami belum —_pemnah ‘mengamati pola makan lansia ‘Menurut keluarganya mereka makan —biasa-biasa —saj. Kapan mereka lapar ya terus akan, ada yang sampal enam eli tapi porsinya sedikit Pada umumnya mereka sult untuk tidak-makan_ santa, zgorengan dan juga ikan asin Sebewulnya “mereka cahw ‘nakanan sehat, tapt uangnya terkadang tidak cukup, habis semua mahal Khan? Jadi masala pengaturan ‘maken ye tergantung kkeuangan ~ mnasing-masing keluarga Kebutuhan eaifan perhari Dibawah 1400 ce ( 20.69%) 1600-2000 ce 169.2) Diatas 2000 ce 10.2%) + Tou saya bilang tidak bisa minum banyak rasanya menjadi kembung, + Biasatya minum sekitar 9 elas, Kalan Kurang dari 10 Pada umumnya mereka minum sekitar 8 gelas perhari termasuk teh, Kopi dan ‘mungkin susu tapi agak jarang ya kan mall Pola Tidur Kurang dari 6 jam (28,2%) Lebih dari 6 jam (71.8%) + Tu saya lurang tdar pada malam Ii fowena sering buang air kecil, + Sulit tur untok istrahat siang hhabis panas banget = Kalan siang gang didepan rumah ‘nj sangatrbut, banyak anak kecil, yang main dan teriak-teriak sehingga ibu saya tidak bisa istirahat Malam hati mereka sering ‘bangun untuk buang air kecil, Pada sian hari juga susah tidar huabis panas ndaranya . Selain itu juga berisik kalau nggak cnt ya lingkangnn tar rumah Kebersihan dirt Mandiri —_(89.7%6) Dibanta ( 10.3%) = Mandi dan ke WC. harus dibantu Karena oggek bisa lagi jelan ‘kekomar mandi sendiri ‘Mandi dibenta dengan di lap paki Inanduk basah Biosa masih bisa mandi sendiri dlikamar mane. Sebagian besar dari mereka mandi sendiri. Kalan yang stroke ya dibania oleh keluarganya Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Motivasi Peravwat Variabe ‘Obsevasi ‘Wawancara FGD 7 Olah Raga Tidak pemah (74.4%) | - Nggak pernah olah raga habis | - Sebagian besar dari lansia yang Selalu. (25.6%) udalteapai ada tidak mau olah raga = Biasanya olah raga ringan seperti - Paling ada {-2 orang yang jalan jalan pagi dan senam ringan| pai 8 Pemanfaatan waktu | - Bapak saya senang nonton TV. | - Mereka senang duduk lamia- Juang ‘untuk mmenghabiskan waktu saja. | Iama didepan TV tapi ada juga Menonton TV (74.4%) | - Kadang-kadang ibu sava pergi ke | yang senang kuinpul dengan Kumpul dng teiman | tetangga untuk ikut nonton TV| sesaina lansia. (2.8%) sambil ngobrol + Kayamya juga ada yang senung Silaturahini Keluarga | + Ngobrol dengan teman-ieman| —ngaji 0.3%) sekedar menghilaigkan kejentien Keagamaan (5.2%) Pada tabel tersebut diatas dapat dilihat adanya kesesuaian antara temuan dengan observasi, wawancara mendalam maupun FGD. Masalah kesehatan berupa sakit pinggang, nyeri sendi dan pegal ~ pegal merupakan keluban / jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh responden di RW 02 yaitu 21 orang ( 53,8 % ). Apabila dilihat dari menu maken, kemungkinan Iansia tersebut menderita Gout yakni kelainan metabolisme protein yang menyebabkan asam urat dalam darah meningkat dan menyebabkan rasa nyeri dan bengkak pada sendi. Disamping itu juga diduga terjadi pengeroposan tulang dan kadang-kedang kekakuan sendi yang menyerang pada sendi pinggul den lutut sehingga akan ‘menimbulkan rasa nyeri bila sendi tersebut digerakkan, Dari data statistik rumah sakit pusat rajukan di Jakerta diperoleh gambaran bahwa pasien Janjut usia pada umumnya menderita kompleksitas penyakit , yang dalam penanganannya memerlukan pendekatan tim terpadu / multidisiplin. Wepkes,2005 ) Temuan lain juga sesuai dengan perubahan fisik yang terjadi pada lansia antara lain adalah perubahan komposisi tubuh yakni peningkatan jumlah lemak yang disebabkan berkurangnya aktivites fisik dan penurunan hormon yang mempengaruhi metabolisme lemak, penurunan kekuatan fot dan penurunan eairan tubub, Pada sistem pencernaan juga mengalami penurunan karena gangguan gigi, sensitivitas indera penciuman dan perasa juga menurun, produksi asam lambung dan enzim ‘Pencemaan menurtn, penurunan absorbsi dan juga adanya perubahen fungsi hati, sebagai dampaknya adalah defisiensi / kekurangan gizi. (DepKes RI, 2005) Pada sistem kekebalan, terjadi penurunan kemampuan tubuh untuk memproduksi antibodi sehingge rentan terhadap berbagai penyakit, Efisiensi kerja jantung dalam memompa darah menjadi berkurang, hal ini terkait dengan menurunnya elastisitas pembuluh darah arteri sebagai akibat dari perubshan kolagen dan elastin dalam dinding arteri, Fungsi part menurun sebagai akibat dari berkurangnya elastisitas serabut otot yang berguna untuk mempertahankaan bronchiolus tetap terbuka (DepKes RI, 2005). Fungsi otak juga menurun schingga ‘Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Motivasi Perawat 61 daya ingat menjadi berkurang, sistem saraf semakin melemah diantaranya sistem pendengaran dan penglihatan, Fungsi ginjel menurun sehingga volume urine meningkat sementara kapasitas kandung kemih menurun don hal int mengakibatkan pengeluaran urine setiap harinye meningkst. Penurunan massa tulang yang memungkinkan timbulnya osteoporosis , massa tulang berkurang seiring dengan pertambahaan usia dan juga tergantung pada jenis kelamin , aktivitas fisik, asupan gizi dan status sosial ekonomi. (DepKes RI,2005) Ditinjau dari indikator berat badan dan tinggi badan, terdapat lansia dengan masalah ‘kegemukan sebanyak 10 orang (25 %) dan 9 orang (24 %) lainnya mempunyai berat badan yang kurang (kurus ) . Dari hasil wawancara diketahui bahwa pada umunanya mereka maken secara teratur, sedangkan pada 3 orang lainnya ( 7,7 % ) tidak teratur, kadang ~ kadang 2 Kali sebari dan sering juga sampei 4— 6 kali sehari tergantung pada selera, Meu makan pada umumnya mengacu pada situasi kevangan, 5 oreng Jansia ( 12,8 % ) mengatakan senang pada rendang, satan, jeroan dan iken asin sedangkan 2 orang ( 5,1 % ) senang makan kacang—kacangan dan emping. Upaya untuk mempertabarikan berat badan menjadi sangat penting, hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengkonsumsi dalam jumiah yang cukup dan tidak berlebihan. Makin meningkat usia seseorang, proses pembakaran kalori ( metabolisme ) tubuh akan melambet, sebingga kelebihan kalori akan disimpan dalam bentuk lemak. Oleh karena itu juga diperlukan pengurangan konsumsi lemak, makanan bersantan, goreng- gorengan dan makanan yang manis , selain ita juga diperlukan makanan berserat seperti sayuran dan buah, Menu seimbang perlu diterapkan pada pola makan dan kalau memungkinkan dapat secara teratur minum susu, Sebagian keluarga telah memaham} pentingnya pola ‘makon yang teratur, pantangan pada berbagai penyakit, makanan yang seharusnya diberikan serta cara penyajiannya agar selera makan lansia dapat terpelihara dengan baik, selain itu juga memshami pentingnya oleh raga secara teratur agar berat badan normal dapat dipertahankan (DepKes RI ,2005). Pemenuhan kebutuban cairan atau minum pada lansia di RW 02, mayoritas antara 8 — 10 gelas sehar, tetapi masih terdapat sekitar 20,6 % yang kurang dari 7 gelas. Hal ini perlu diperbaiki karena air sangat penting ‘untuk mengeluarkan sisa pembekaran energi tubuh, Kemunduran fungsi metabolisme dalam tubuh lansia seringkali menyebabkan konstipasi , sehingga terjadi penumpukan sisa makanan didalam tubuh. Keadaan ini berbahaya bagi ginjal yang harus bekerja ‘keras untuk menetralisir at-zat sisa torsebut, ‘Untuk meringankan kerja ginjal perlu dilakuken motivasi agar lensia tersebut banyak rainum sekurang-kurangnye 2 liter atau setara dengan sepuluh gelas ( 1 gelas = 200 cc ) perhari (DepKes RI, 2005), Pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidar pada lansia di RW 02. bervariasi , lansia yang tidumya kurang dari 6 jam sebanyak 11 orang ( 28,2 %), lebih dari 6 jam 28 orang (71,8 %). Pada umumnya keluarga ‘maupun kader Kesehatan mengatakan bahwa Jansia kurang tidur pada malam hari karena sering harus ke kamat mandi untuk buang air kecil, sedangkan siang hari tidak bisa tidur karena jingkungan rumah yang kurang Kondusif seperti udara yang panas serta banyak kegaduhan atau ribut oleh cucu ~ cucunya. Oleh karena itu perlu perhatian ‘untuk menyiapkan tempat tidur yang nyaman, ‘mengatur lingkungan yang cukup ventilasi, bbebas bau-batian yang kurang sedap. Melatih Jansia untuk melakukan latihan fisik ringan agar dapat melancarkan sirkulasi darah dan melenturkan otot-otot. 6 Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Motivasi Perawat Latihan fisik ini dapat pula dilakukan sesuai dengan hobi, seperti jalan santai dan berkebun. Selain ita juge dapat dibantn dengan pemberian minum / susu hangat sebelum tidur Pemenuhan kebutuhan kebersihan diri sebagian besar lansia ( 89,7 % ) masib dapat ‘melakcukan sendiri, hanya pada 4 orang lansia (10,3 % ) harus dibantu oleh keluarganya karena serangan stroke. Kebersihan diri yang dimaksud meliputi : mandi, bantuan kebersihan setelah buang air kecil / besar, menyikat gigi, kebersihan kepala, rambut dan kuku , kebersihan mata, telinga dan hidung. Dari hasil pezelitian ditemukan babwa sebagian besar lansia ( 74,4 % ) mengaku tidak pernah melakukan olah raga dengan berbagai alasan dan hanya sekitar 10 orang lansia saja (25,6 % ) yang melakukan ola raga ringan dan jalan kaki pagi secara teratur, Pada umumnya kader kesehatan maupun keluarga mengerti manfaat dari olah raga pada lansia yaitu untuk mempertabankan kesehatan, melancarkan peredaran darah, menghilangkan pegal -pegal dan mencegah hipertensi . Hal ini sesuai dengan pendapat Farrell Jane (1990), bahwa olah raga dapat ‘menjaga kelancaran sirkulasi dan pemapasan, ‘meningkatkan Kekuatan tulang, menurunkan lemak tubuh, mentrunkan tekanen darah, meningkatkan toleransi glukosa, menambah energi, mengurangi depresi, menurunkan ketegangan dan memperbaiki self image (Sumijatun dk, 2006). Olah Raga yang cocok untuk lansia adalah jalan pagi, senam jantung, senam khusus, senam permapasan, yang penting jangan terlalu berat atau berdampak terlalu capai, Hal ini terkait dengan penyesuaian diri terhadap perubahan fisik lansia yang harus dipertimbangkan, karena perubahan kondisi fisil yang terjadi pada lansia kearah yang memburuk, sehingga ‘kegiatan yang dilakukan harus sesuai dengan Kemunduran tersebut (Hurlock, 1999). Mendirikan kelompok lansia untuk satu tujuan yang sama nempaknya akan sangat membantu, sambil berolah raga dapat melakukan kontak sosial dengan teman sebaya, sehingga dapat saling bertukar informasi, saling belajar dan saling bercanda. Kontak sosial akan mendafangkan perasaan senang yang tidak dapat dipenuhi bila ia dalam keedaan sendirian, sebaliknya mati sosial merupakan suatu keadaan yang sangat