Anda di halaman 1dari 8

TINJAUAN PARIWISATA G.

PADANG
Prof Dr. RP Koesoemadinata
Hari Sabtu tgl 2 Mei 2012 saya berkesempatan untuk melakukan fieldtrip
bersama dengan pagyuban Bandung Heritage. Kami berangkat beserta isteri dan adi
ipar kami yang bertindak sebagai penjaga kami, mengingat kami berdua itu sudah di
atas kepala tujuh, dan antisipasi akan adanya naik ke puncak adanya situs purbakala
G. Padang. Field trip ini dipandu oleh Sdr. Budi Brahmantio, mungkin satu-satunya
geologist selain saya. Peserta lainnya adalah antara lain dari arsitektur dan planologi.
Kesampai Situs (Accessibility)
Ternyata G. Padang sudah menjadi objek tujuan wisata resmi dari Kementrian
Pariwisata, sehingga perjalanan cukup mudah. Dari Bandung ke arah Sukabumi
setelah melewati Warungkondang Cianjur, sebelum Gekbrong, ada simpang jalan ke
kiri yang diberi tanda Situs G. Padang (walaupun tidak terlalu besar). Pada setiap
simpang jalan tanda ini terus diketemukan, sehingga tidak sulit untuk sampai ke situs
ini. Setelah melewati stasiun KA dengan terowongan Lampegan-nya, jalan menjadi
sempit, sehingga sulit untuk berpapasan, yang tidak lain adalah jalan perkebunan,
tetapi sudah diaspal kecuali beberapa ratus meter terakhir saja. Sepanjang jalan sudah
cukup banyak pengunjung yang kebanyakannya naik motor. Tujuan wisata ini sudah
mulai ditata secara baik, pada ujung jalan aspal, kampong Cimanggu sudah disiapkan
tempat parkir, cukup untuk beberapa puluh mobil. Sebelumnya kami melakukan
tinjauan jarak jauh dari situs G. Padang ini dan kelihatan betapa terjalnya jalan
bertangga-tangga yang menuju situs tersebut, sehingga dapa menyurutkan nyali
untuk mendakinya. Setelah berjalan sekitar 300 m dari Cimanggu kami sampai ke
tempat dimulainya pendakian. Disitu sudah didirikan bangunan-bangunan kecil
termasuk ruang untuk penjelasan, mushola dan WC umum dan tentu loket untuk
pembayaran ticket masuk ( Rp.2000).
Dari gerbang G. Padang ini terdapat dua jalan bertangga untuk naik ke situs,
satu jalan lama yang cukup curam dan tersusun dari kolom-kolom batuan dan menuju
langsung ke puncak bukit di mana situs berada, dan satu jalan baru dengan anak
tangga yang rendah yang baru dibangun dari beton, tetapi melebar dan cukup landai,

tetapi tentu lebih jauh. Karena ego saya merasa ditantang, saya memilih jalan yang
curam, ingin mengetes sampai di mana kekuatan mental saya. Saya tidak menyesal
mengambil jalan ini, tetapi merasa kelelahan sampai harus beristirahat sampai
mungkin 4 kali. Ternyata kecapaian ini bukan jantung yang berdebar-debar (rasarasanya detak jantung ini normal saja) juga napas rasanya masih tidak tersendatsendat (tidak hah-heh=hoh), bahkan mampu mengambil napas panjang, tetapi yang
terasa adalah pusing dan mulai melihat kunang-kunang.
Saya sudah mulai ada pikiran wah jangan-jangan saya bernasib sama dengan
Wamen ESDM di G. Rinjani, namun saya segera hapus bayangan ini dari pikiran
saya, dan yang menyertai sayapun (antara lain Budi) saya tidak beri tahu bagaimana
parahnya saya waktu itu. Alhamdulillah walhasil kami sampai ke teras pertama dari
situs megalitik G. Padang. Eh ternyata isteri saya tadinya tidak mau ikut naik sudah
menunggu setengah jam di sana, dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda
kecapaian sedikitpun mengikuti jalan yang lebih jauh itu. Selain itu juga sudah
banyak wisatawan lokal disini. Memerlukan waktu lebih dari setengah jam saya
istirahat di pelataran pertama dari situs megalithic ini, baru sesudah makan siang
(nasi kotak lumpia Semarang, waktu sudah lewat jam 12 siang) dan minum
secukupnya saya merasa cukup pulih kembali untuk melanjutkan ke puncak,
walaupun masih lemas rasanya. Kebetulan di atas ini ada tukang cingcau, yang
menjual minuman cingcau asli dari daun camcauh dengan gula aren. (ternyata
daerah ini adalah terkenal sebagai daerah yang memproduksi gula aren). Setelah
minum cincau inilah saya merasa segar dan fisik saya pulih kembali, bahkan sampai
ke Bandung pun tidak merasa lelah sama sekali, bahkan besok harinya dapat
menghadiri beberapa undangan. Saya baru menyadari sekarang bahwa apa yang
terjadi itu karena saya menginap penyakit gula (diabetes) dan makan obat.
Kelihatannya waktu saya naik ini enersi saya terkuras habis, dan pancreas saya tidak
mampu memberikan cukup supply gula ke darah saya. Saya kira lain kali saya harus
bawa permen. Karena ternyata cincau dengan gula aren itu telah memulihkan tenaga
saya (self-diagnose, seharusnya saya konsultasi ke dokter apa yang sebenarnya
terjadi).
Kesimpulan mengenai kesampaian: Situs megalithic G. Padang cukup mudah
untuk dicapai. Ini bisa dibuktikan bahwa isteri saya saja yang sudah berkepala tujuh,
boleh dikatakan tidak pernah naik gunung, olah raganya tennis, sehingga lutut-nya

agak bermasalah, kalau jalan-jalan paling2 di mall berjam-jam, tetapi memang


terlatih di rumah karena harus turun-naik tanngga, mampu mencapai puncak dari G.
Padang ini tanpa banyak mengeluarkan keringat.
Geologi Regional:
Secara geologi regional G. Padang terdapat pada pojok barat daya pada peta
geologi sistimatik Pulau Jawa Lembar Cianjur bersekala 1:100.000 yang dipetakan
oleh Sudjatmiko yang terbit tahun 1971 yang berbatasan langsung dengan Lembar
Sindangbarang-Bandarbaru yang disusun oleh Koesmono dkk dan diterbitkan pada
tahun 1991. G. Padang masih berada di lembar peta Cianjur dan oleh Sudjatmiko
dipetakan sebagai satuan atuan gunungapi dan batuan sediment, yang terdiri dari
breksi tufaan, lava, batupasir, konglomerat yang bersisi-pan dengan lava andesite
(Kode: Pb dan Pl) yang berumur Pliosen Akhir. Formasi yang sama pada lembar
Sandangbarang dipetakan oleh Koesmono dkk sebagai Anggota Lava Cikondang dari
Formasi Beser (Tmbec) yang terdiri dari lava andesite piroksen berwarna kelabu
sampai gelap dan berumur Miosen Akhir. Suatu hal yang menarik adalah bahwa
anggota lava ini termineralisai, di mana banyak terdapat urat-urat kwarsa yang steril,
dengan jaspis maupun dengan mineral logam khususnya Cu dan Au, antara lain 500
m tenggara dari puncak G. Melati. Orang-orang setempat yang menyertai kami ke
puncak G. Padangpun banyak bercerita mengenai adanya explorasi dan
pertambangan di daerah ini.
Dua gejala geologi yang menonjol disini adalah adanya 2 puncak Bukit yang
dipetakan sebagai intrusi andesite, yaitu Pasir Pogor, 2 km di utara dari G. Padang (di
lembar peta Cianjur) dan G. Melati, 1,5 km di Selatan ke arah tenggara di lembar
peta Sindangbarang. Umur dari ke-2 intrusi ini tidak diketahui. Sepanjang perjalanan,
paling tidak dari bus tidak kelihatan adanya singkapan, kecuali lapukan batuan.
apakh breksi atau tuff. Penjelasan pada peta Lembar Cianjur maupun Lembar
Sindangbarang tidak ada deskripsi sedikitpun mengenai adanya columnar jointing
pada lava maupun intrusi andesite ini.
Secara topografi berdasarkan peta digital sekala 1: 25.000 G. Padang ini
merupakan suatu punggungan yang berasal dari G. Melati. Namun pengamatan local,
G. Padang ini sebelah selatannya terputus oleh jurang yang cukup dalam dari
perbukitan dari gunung yang ada di sebelah Selatan, sehingga merupakan bukit

tersendiri (tinggi 950 m di atas muka laut), dengan lereng yang relatif landai ke arah
Utara (dengan jalan bertangga-tangga), sedangkan lereng sebelah barat dan timurnya
relative lebih terjal, tetapi lebih landai dari pada lereng sebelah selatannya. Di di
antara G. Padang dan Ps Pogor ini masih juga ada puncak dari bukit yang terisolasi,
yang dipetakan sebagai Pb juga oleh Pak Sudjatmiko
Pada peta terlampir adalah posisi geologi G. Padang, pesegi merah. Abaikan
bintang2 merah dan kuning yang terikut sertakan dari peta topografi Bakosurtanal
sekala 25.000.

Peta Geologi Gunung Padang. Lokasi Situs Gunung pada kotak persegi yg berwarna
merah.
Pengamatan:
Di gerbang tujuan wisata ini sudah banyak terdapat kolom batuan yang
mungkin adalah di bawa dari atas. Salah satu gejala yang berarti disini adanya
mataair yang dinamakan Jaman, di mana di zaman dulu waktu G. Padang ini adalah
suatu tempat keramat, orang harus membersihkan diri dengan air disini. Anak-anak
tangga ke arah situs ini seluruhnya terdiri dari kolom batuan dengan ukuran diameter
kurang dari 30 cm, dan Panjang 1 sampai 1,5 m. Beberapa kolom kelihatan berdiri
tegak, mungkin ditancapkan oleh manusia. Di teras yang ke-1 kolom-2 batuan ini
kelihatan berserakan bergelimpangan, walaupun banyak pula kolom2 yang berdiri
atau miring. Memang terdapat pemusatan dari gelimpangan kolom batuan ini,
khususnya seperti dipagari oleh kolom yang berdiri, yang pada umumnya kurang dari

1 m tingginya. Memerlukan imaginasi yang kuat atau pengetahuan arkeologi untuk


melihat keberadaan suatu pola atau aturan dalam kolom-kolom batuan yang
berserakan ini, sebagaimana ditunjukkan oleh para guide lokal. Penampang kolom ini
tidak selalu segi lima, tetapi banyak yang segi empat, bahkan banyak juga yang segi
tiga. Selain itu juga diameter dari kolom kebanyakan tidak rata, bahkan ada yang
menggelembung di tengah-tengahnya. Juga cukup banya kolom batuan yang
bengkok-bengkok. Juga banyak pula yang bagian atasnya tersopak seperti bamboo
runcing. Insting geologi saya menyatakan bahwa ini adalah columnar joints, tidak
banyak keteraturan sebagai mana kita harapkan dari buatan manusia. Tetapi ada
sesuatu yang menarik, pada setiap kolom batuan ini selalu ada coak, seolah-olah
ditatah manusia, lubang yang oval. Selain itu juga diketemukan lubang-lubang
dangkal sebesar telunjuk yang memanjang. Bahkan saya ada juga ada yang
menyerupai telapak kaki manusia yang cukup dalam. Seorang pengunjung rajin
memotreti gejala ini dan dia berteori bahwa cowakan2 ini ada semacam huruf atau
tanda huruf.
Mengingat bahwa jenis batuan dan bentuknya (kolom-kolom) ini sangat
seragam kesan saya adalah bahwa kolom-kolom batuan ini adalah asalnya in situ,
tetapi telah banyak digeser-geser manusia (displaced secara alami maupun oleh
manusia), sehingga agak beraturan, terutama dengan menancapkannya dalam posisi
vertikal. Namun setelah mencapai teras yang terakhir di puncak terdapat 3 batu yang
adalah out of place, yaitu pada tempat pemujaan utama atau juga disebut menhir
(sebetulnya banyak kolom2 batuan ini juga yang dinyatakan sebagai menhir). Dua
lempeng batuan yang berdampingan ini adalah pipih (dolmen?), sedangkan pada sisi
utaranya adalah batuan yang relatif besar, sekitar 60 cm lebih yang lonjong. Ke-3
batu ini bukan merupakan kolom batuan seperti yang lainnya. Seorang guid lokal
mendemonstrasikan bagaimana seseorang yang bersemedi ini duduk pada lempengan
batuan itu dan bersandar pada batu yang agak besar ini dan menghadap ke utara, ke
G. Gede. Batua senderan ini sekarang berada dalam keadaan rebah. Ini saya kira
merupakan batu2 yang bukan bagian dari columnar joints, tetapi mungkin diangkut
dari tempat lain. Pada teras teratas ini banyak pula kolom2 batuan yang tersusun
antara lain berdiri dan dianggpa batu menhir dalam istilah arkeologi. Saya tanya pada
Budi apakah di sungai di bawah ini ada singkapan batuan. Menurut Budi di sungai itu

hanya diketemukan kolom-kolom batuan yang sama seperti di atas, dalam keadaan
berserakan, jadi sudah tidak in situ. Juga di sekitar daerah ini belum pernah
diketemukan singkapan dengan columar joints.
Kami tentu kembali lewat jalan yang mudah dan rasa-rasanya hanya
memerlukan kurang dari setengah jam saja. Sesaat sampai ke gerbang situs ini saya
sempat ketermu dengan Bp Andi Arief dari staff kepresidenan. Beliau menyapa dan
menyatakan senang bertemu dengan saya karena selama ini beliau hanya kenal nama
saya saja (dari membaca tulisan saya?). Kami tidak sempat berbicara soal piramid,
karena beliau sedang sibuk mempersiapkan suatu acara pada malam hari di puncak
G. Padang dengan tokoh setempat. Juga mungkin mempersiapkan kujungan Ibu Ani
ke sini.
Di tempat pelataran gerbang situs G. Padang ini saya sempat mewawancarai
guide resmi disini yang ternyata telah jadi PNS dari Balai Purbakala. Setelah agak di
interogasi dia mengakui bahwa sebelum G. Padang ini resmi menjadi tujuan wisata,
bahwa situs ini dulunya adalah dianggap tempat keramat, dan banyak orang
mengunjunginya untuk menginginkan sesuatu, dan ayahnya sendiri adalah kuncennya dan sebetulnya diwariskan ke kakaknya. Orang yang ingin berkunjung itu
biasanya harus membersihkan diri (bebersih) di mata air yang dinamai Jaman itu
(sekarang sudah dalam bentuk sumur berbentuk pesegi yang sangat dangkal). Banyak
orang yang telah mengunjungi situs keramat ini kemudian menjadi mampu untuk
naik haji ke Mekah. Syncretisme antara animisme dengan Islam kelihatannya juga
terjadi disini. Hal ini diiyakan juga oleh Pak Sapta, yang telah berumur 82 tahun
yang sering mundar-mandir ke situs megalitik ini (wah ada juga yang lebih tua dari
saya yang sering naik ke puncak, terpukul juga egoku). Dia katakan pada zaman
normalpun jauh sebelum perang dunia ke-2 situs ini sudah banyak dikunjungi
peziarah.
Saya tahu bahwa situs megalith itu sudah diketahui oleh Oudheidkundige
Dienst jauh sebelum Perang Dunia ke-2. Saya duga bahwa sejak dulu disini telah ada
perkebunan teh dan karet, dan mungkin sekali situs keramat diketahui oleh
Administratur Perkebunan (onderneming) dan dilaporkan ke Oudheidkundige
Dienst(Jawatan Purbakala Hindia Belanda) dan kemudian diteliti.
Apakah disini pernah ada suatu peradaban dengan sistim pemerintahan yang
berhubungan dengan Pajajaran? Saya condong untuk meragukannya. Sebelum Islam
masuk di Jawa Barat orang Sunda di pedalaman pada umumnya adalah beragama

animisme walaun condong monotheistis. Dalam hal ini mungkin G. Gede yang
dipuja. Keberadaan suatu kebudayaan megalith tidak memerlukan adanya peradaban.
Bahkan keberadaan suatu agamapun dengan kuilnya dapat terjadi pada waktu
orangnya masih nomad, paling tidak sudah bercocok tanam, sebagai mana telah
terbukti dengan penermuan situs arkeologi di Turki baru-baru ini (Majalah National
Geographic). Banyak situs-situs keramat di Jawa bahkan di Nusantara ini
berlangsung dari zaman batu sampai masa kini, dan terjadilah syncretisme dengan
Islam. Mungkin sekali orang Sunda di daerah ini secara kebetulan menemukan
batuan dengan columnar joints berserakan di puncak G. Padang , hal mana tentu
menakjubkan dan dianggapnya tentu ada sesuatu yang ajaib disini. Dengan sedikit
menggeserkan bahkan nancapkan kolom batuan ini terjadilah suatu tempat pemujaan.
Apakah di bawahnya ada piramide yang terkubur?

Sketsa Pon Purajatnika (mantan ketua Ikatan Ahli Arsitektur Jabar)


Dengan segala hormat kepada para pendukung piramid, bentuk morfologinya
saja tidak mendukung itu, karena sangat asymetris. Ini adalah kesan-kesan saya saja,
pengetahuaan arkeologiku yang sangat minim. Kalau pun orang penasaran untuk
membuktikannya, mengapa harus membor atau exkavasi di puncaknya sehingga
dapat mengganggu kelestarian situ?. Mungkin kalaupun ada pintu ke dalam tempat
yang paling mungkin itu adalah pada dasar lereng selatan yang terjal. Bahkan kalau
punya dana yang besar bisa membuat terowongan atau pemboran kesamping
sehingga tidak mengganggu kerusakan pada situsnya sendiri. Saya sendiri gatel untuk
menelusuri sungai2 yang ada di sekelilingnya itu untuk mencari outcrop dan
memetakannya secara detail. Dari peta topografi terlihat ada 2 sungei yang mengapit
G. Padang ini, yaitu yang melewati Cimanggu di timur, dan yang melewati
Cipagulaan di bara. Namun apa boleh buat, umur sudah tidak dapat dipungkiri lagi.
Sumber:

http://rovicky.wordpress.com/2012/06/08/piramida-piramida-dunia-4-pendapat-profkoesoemadinata-tentang-gunung-padang/