Anda di halaman 1dari 12

Teknologi Bendungan dalam Islam

Ilmu pengetahuan telah menebar jaringnya


ke segala ranah kehidupan. Ini terjadi di
dunia Islam. Beragam karya bertebaran dari
pemikiran cendekiawan Muslim. Tak hanya
karya dalam tataran pemikiran, tetapi juga
berwujud bangunan-bangunan megah.
Bendungan menjadi salah satu dari beragam
buah karya cendekiawan Muslim. Mereka
merancang dan membangun bendungan tak
semata untuk mewujudkan sebuah fungsi.
Namun, ada sentuhan seni dan teknik tingkat
tinggi.
Walaupun, terkadang tak ada pengakuan
jujur atas buah karya mereka. Dalam
bukunya, History of Dams, Norman Smith,
seorang ilmuwan Barat, mengungkapkan
keprihatinannya itu. Ia menuliskannya saat
mengawali bab dalam bukunya tersebut.
Menurut Smith, yang dikutip situs
Muslimheritage, sejarawan teknik sipil hampir
sepenuhnya mengabaikan bangunan
bendungan yang ada pada periode Muslim.
Mereka tak membuat referensi mengenai
hasil karya Muslim.
Bahkan, dinyatakan pula, pada masa
Ummayah dan Abbasiyah, pembangunan
bendungan, irigasi, dan aktivitas teknik
lainnya mengalami kemunduran tajam dan
kepunahan. ''Pandangan seperti ini tak adil
dan tak benar,'' kata Smith.
Padahal, menurut Josef Schnitter, seorang
arsitek dan ahli teknik, Muslim telah
membangun banyak bendungan dengan
beragam struktur dan bentuk. Mayoritas
bendungan paling awal dibangun di wilayah
Arabia, yang menjadi awal pusat penyebaran
Islam.
Schnitter mencontohkan keberadaan
Qusaybah, sebuah bendungan yang ada di
dekat Madinah, memiliki tinggi 30 meter dan
panjang 205 meter. Berdasarkan
penemuannya, sepertiga dari bendungan
yang dibangun pada abad ke-7 dan ke-8 itu
masih utuh hingga sekarang.
Hal ini tentu saja menunjukkan kekuatan
bangunan bendungan dan kemampuan
arsitekturnya yang dimiliki para cendekiawan
Muslim. Di Irak, di sekitar Kota Baghdad,
terdapat sejumlah besar bendungan yang
dibangun pada masa Kalifah Abbasiyah.
Kebanyakan bendungan tersebut dibangun di
Sungai Tigris yang menggambarkan
kemampuan teknik sipil yang tinggi. Sebagai
contoh, sebuah bendungan di Baghdad
dibangun dari balok-balok batu yang
dipotong dengan hati-hati.
Lalu, balok-balok itu dipaku dengan paku
besi. Lubang-lubang tempat paku besi
ditancapkan, diisi dengan timah cair. Dari

konstruksi bendungan itu, sudah terlihat


kekuatan dan kekerasannya untuk menahan
aliran air.
Di Iran, terdapat bendungan dengan nama
Kebar yang dibangun pada abad ke-13.
Bendungan itu dibuat dari pecahan-pecahan
batu yang dicampur dengan adukan semen,
yang terbuat dari jeruk nipis dilumatkan
dengan abu tanaman gurun lokal.
Campuran ini membuat adukan kuat dan
keras. Adukan yang sangat ideal bagi
pembuatan bendungan itu yang
menjadikannya tahan lama. Selain itu,
dengan adukan yang kuat itu membuat tak
ada retakan pada bendungan.
Selain itu, di Dezful, Iran, juga terdapat
bendungan yang mampu mengalirkan 50
kubik air untuk menyuplai kebutuhan
masyarakat Muslim di kota itu. Bendungan ini
menjadi contoh bagi pembangunan
bendungan di kota-kota lain.
Keberadaan sejumlah bendungan, membuat
masyarakat Muslim pada masa itu tak
mengalami kesulitan dalam memenuhi
kebutuhan air bersih. Pun, mereka tak
menghadapi kendala mendapatkan air yang
dibutuhkan untuk mengairi kebun dan tanah
pertanian mereka.
Di wilayah yang sekarang ini disebut
Afghanistan, terdapat tiga bendungan lebih
tua dibandingkan Kebar yang ada di Iran.
Ketiga bendungan itu dibangun oleh Raja
Mahmoud dari Ghaznah (998-1030).
Bendungan dibangun di dekat ibu kota
kerajaan, Kabul.
Satu di antara ketiga bendungan itu dinamai
sesuai namanya, yakni Bendungan
Mahmoud. Bendungan tersebut memiliki
tinggi 32 meter dan panjang 220 meter, yang
terletak pada jarak 100 km dari Kabul.
Di pusat kekuasaan Islam di Spanyol,
bendungan juga banyak berdiri.
Konstruksinya tak kalah megah dan indah. Di
Sungai Guadalquivir, Kordoba, terdapat
sebuah bendungan tertua yang merupakan
peninggalan masa pemerintahan Islam.
Menurut seorang ahli geografi abad ke-12
bernama Al-Idrisi, bendungan itu terbuat dari
batu qibtiyyah sedangkan pilar-pilarnya
terbuat dari batu marmer. Bendungan
dibangun mengikuti aliran zig-zag air sungai
hingga seberang sungai.
Bentuk bendungan ini menunjukkan orangorang yang membangunnya, memiliki tujuan
meningkatkan kapasitas air yang melimpah.
Sisa-sisa bendungan tersebut masih dapat
dilihat hingga saat ini.

Diperkirakan, bendungan tersebut semula


memiliki tinggi sekitar tujuh atau delapan
meter di atas permukaan air tinggi, dengan
ketebalan delapan kaki. Bukti lain kejeniusan
para insinyur Muslim juga terlihat dari
kokohnya delapan bendungan di Sungai
Turia.
Hingga ratusan tahun, bendunganbendungan itu tak membutuhkan perbaikan
sama sekali. Jika dilihat, tampaknya
bendungan di Sungai Turia memiliki berat
yang berlebihan pada badan bendungan. Ini
bukannya tanpa sebab.
Jadi, mereka tak sembarangan membuat
bentuk bendungan yang semacam itu.
Bendungan dengan bentuk demikian,
diperlukan untuk menahan aliran air sungai
yang tak menentu gerakannya. Selain itu,
juga untuk menahan hantaman pohon
maupun batu.
Bendungan di Sungai Turia berusia lebih dari
10 abad. Meski telah dimakan zaman,
bendungan itu masih terus mampu
memenuhi kebutuhan irigasi di Valencia,
Spanyol, tanpa memerlukan tambahan
sistem.

Bendungan yang juga berfungsi sebagai


pengatur air, pertama kali dibangun insinyur
Muslim di Sungai Uzaym yang terletak di
Jabal Hamrin, Irak. Setelah itu, bendungan
semacam itu pun banyak dibangun di kota
dan negeri lain di dunia Islam.
Perusakan Pada suatu masa, ada tangantangan yang menghancurkan bendunganbendungan yang berhasil dibangun itu. Pada
1220, misalnya, tentara Jengis Khan dari
Mongol, menghancurkan seluruh bagian
timur peradaban di wilayah Islam, termasuk
bendungan.
Perusakan terhadap Bendungan Jurjaniyah,
yang ada di sebelah selatan Laut Aral,
menyebabkan Sungai Oxus mengalami
kekeringan pada abad-abad berikutnya.
Perusakan juga terjadi pada 163 tahun
kemudian, yaitu pada 1383.
Invasi pasukan Tartar juga menyebabkan
kehancuran banyak bendungan. Misalnya,
bendungan di Zaranj ibu kota Provinsi
Seistan. Nasib serupa juga menimpa
bendungan yang ada di Band-I-Rustam serta
wilayah Bust.
Berutang pada Al-Kindi dan Al-Biruni

Di Sungai Segura, umat Islam membangun


sebuah bendungan untuk mengairi lahan
yang luas di wilayah Murcia. Bendungan ini
dibangun dengan rancangan dan konstruksi
sempurna, dengan tinggi 25 kaki serta
ketebalan 150 kaki dan l25 kaki.
Layaknya bendungan lainnya, bendungan ini
terbuat dari pecahan-pecahan batu dan
adukan semen. Pada masa itu, teknik yang
digunakan oleh para tukang batu dan
insinyur Islam untuk membangun bendungan
juga sudah sangat tinggi.
Mereka sudah mampu mengukur baik
kedalaman maupun lebar sungai. Sehingga,
mereka bisa membuat desain bendungan
yang cocok dengan ukuran sungai-sungai
tersebut. Para insinyur Muslim telah memiliki
kemampuan tinggi.
Selain itu, mereka juga menggunakan
metode survei. Manfaatnya, mereka mampu
membangun sebuah bendungan di lokasi
yang tepat dan paling sesuai. Tak hanya itu,
mereka juga telah mampu menata sistem
kanal yang begitu kompleks.
Untuk mempermudah semua itu, mereka
menggunakan astrolabes dan perhitungan
trigonometri. Pada masa kekhalifahan, para
cendekiawan Muslim merancang bangunan
bendungan yang tak hanya berfungsi untuk
mengatur air, tetapi juga mengalihkan arus
air.

Al-Kindi dan Al-Biruni dinilai memiliki jasa


bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam
bidang teknik. Termasuk teknik
pembangunan bendungan dan bangunanbangunan megah lainnya. Al-Kindi, bernama
lengkap Abu Yusuf Yaqub ibn Ishaq al-Sabbah
Al-Kindi.
Al-Kindi merupakan ahli matematika dan
fisika. Ia lahir pada tahun 801 dan
mengembuskan napas terakhirnya pada 873.
Selain bisa berbahasa Arab, ia juga fasih
berbahasa Yunani. Dia telah menerjemahkan
banyak karya para filsuf Yunani, baik karya
Aristoteles maupun Plotinus.
Selain itu, Al-Kindi juga diketahui berasal dari
kalangan bangsawan di Irak. Ia berasal dari

suku Kindah, hidup di Basra dan meninggal di


Bagdad. Ia dikenal pula sebagai seorang
tokoh besar yang menuliskan banyak karya
dalam berbagai bidang.
Geometri, fisika, meteorologi, psikologi,
astronomi, astrologi, aritmatika, dan musik
dikuasai Al-Kindi. Ia mengumpulkan pula
berbagai karya filsafat secara ensiklopedis.
Seabad kemudian, diselesaikan oleh Ibnu
Sina. Sedikitnya, Al-Kindi menulis 250 buku.
Sebagian besar bukunya adalah ilmu
geometri, sebanyak 32 buku. Geometri dan
fisika yang dikuasai Al-Kindi, sangat penting
dan bermanfaat untuk mendirikan sebuah
bangunan, seperti bangunan, irigasi,
jembatan, maupun rumah.
Selain itu, Al-Kindi juga menulis tentang
filsafat sebanyak 22 buku, logika sembilan
buku, dan fisika sebanyak 12 buku.
Sementara itu, Abu Raihan Al-Biruni, yang
sering disebut Al-Biruni, merupakan seorang
ahli matematika dari Persia.
Selain itu, Al-Biruni juga mahir dalam bidang
astronomi, fisika, ensiklopedia, filsafat,
sejarah, serta farmasi. Sumbangan terbesar
dari pemikirannya adalah di bidang
matematika, filsafat, dan obat-obatan.
Al-Biruni dilahirkan di Khawarazmi,
Turkmenistan atau Khiva di kawasan Danau
Aral di Asia Tengah. Pada masa itu, wilayah
tersebut terletak di wilayah kekaisaran
Persia. Dia belajar matematika dan
pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur.
Al-Biruni juga merupakan teman filsuf dan
ahli obat-obatan Abu Ali Al-Hussain Ibn
Abdallah Ibn Sina atau Ibnu Sina. Selain itu,
ia juga pernah mengembara ke India dengan
Mahmud dari Ghazni untuk mempelajari
bahasa, falsafah, dan agama mereka serta
menulis buku mengenainya.
Al-Biruni juga menguasai beberapa bahasa di
antaranya bahasa Yunani, Suriah, Berber, dan
Sansekerta. Beberapa pemikirannya yang
penting bagi pembangunan baik bendungan
maupun irigasi adalah geometri, sudut
segitiga, dan teorema Archimedes.
Wassalam
Diposkan oleh Muhammad Ismail
http://zilzaal.blogspot.com/2012/02/teknologibendungan-dlm-islam.html
Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai
Avicenna di Dunia Barat adalah seorang
filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran
Persia (sekarang sudah menjadi bagian
Uzbekistan). Ia juga seorang penulis yang
produktif dimana sebagian besar karyanya
adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi
banyak orang, beliau adalah "Bapak

Pengobatan Modern" dan masih banyak lagi


sebutan baginya yang kebanyakan
bersangkutan dengan karya-karyanya di
bidang kedokteran. Karyanya yang sangat
terkenal adalah Qanun fi Thib yang
merupakan rujukan di bidang kedokteran
selama berabad-abad.
Ibnu Sina bernama lengkap Ab Al alHusayn bin Abdullh bin Sn (Persia
Abu Ali Sina atau dalam tulisan arab :
) . Ibnu Sina lahir pada 980 di
Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang
wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan
meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan,
Persia (Iran).
Dia adalah pengarang dari 450 buku pada
beberapa pokok bahasan besar. Banyak di
antaranya memusatkan pada filosofi dan
kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang
sebagai "bapak kedokteran modern." George
Sarton menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling
terkenal dari Islam dan salah satu yang
paling terkenal pada semua bidang, tempat,
dan waktu." pekerjaannya yang paling
terkenal adalah The Book of Healing dan The
Canon of Medicine, dikenal juga sebagai
sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At
Tibb).
Latar Belakang
Ibnu Sina merupakan seorang filsuf, ilmuwan,
dokter dan penulis aktif yang lahir di jaman
keemasan Peradaban Islam. Pada jaman
tersebut ilmuwan-ilmuwan muslim banyak
menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari
Yunani, Persia dan India. Teks Yunani dari
jaman Plato, sesudahnya hingga jaman
Aristoteles secara intensif banyak
diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju
oleh para ilmuwan Islam. Pengembangan ini
terutama dilakukan oleh perguruan yang
didirikan oleh Al-Kindi. Pengembangan ilmu
pengetahuan di masa ini meliputi
matematika, astronomi, Aljabar, Trigonometri,
dan ilmu pengobatan.[1]. Pada jaman Dinasti
Samayid dibagian timur Persian wilayah
Khurasan dan Dinasti Buyid dibagian barat
Iran dan Persian memberi suasana yang
mendukung bagi perkembangan keilmuan
dan budaya. Di jaman Dinasti Samaniyah,
Bukhara dan Baghdad menjadi pusat budaya
dan ilmu pengetahun dunia Islam.[2]
Ilmu ilmu lain seperti studi tentang AlQuran
dan Hadist berkembang dengan
perkembangan dengan suasana
perkembangan ilmiah. Ilmu lainya seperti
ilmu filsafat, Ilmu Fikih, Ilmu Kalam sangat
berkembang dengan pesat. Pada masa itu AlRazi dan Al-Farabi menyumbangkan ilmu
pengetahuan dalam bidang ilmu pengobatan
dan filsafat. Pada masa itu Ibnu Sina memiliki
akses untuk belajar di perpustakaan besar di
wilayah Balkh, Khwarezmia, Gorgan, Kota
Ray, Kota Isfahan dan Hamedan. Selain
fasilitas perpustakaan besar yang memiliki

banyak koleksi buku, pada masa itu hidup


pula beberapa ilmuwan muslim seperti Abu
Raihan Al-Biruni seorang astronom terkenal,
Aruzi Samarqandi, Abu Nashr Mansur seorang
matematikawan terkenal, Abu al-Khayr
Khammar seorang fisikawan dan ilmuwan
terkenal lainya.
[sunting] Karya Ibnu Sina
Qanun fi Thib (Canon of Medicine)
(Terjemahan bebas:Aturan
Pengobatan)
Asy Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi
tentang berbagai macam ilmu
pengetahuan)
An Najat
[sunting] Referensi
1. ^ "Major periods of Muslim
education and learning".
Encyclopdia Britannica
Online. (2007). Diakses pada
16 Desember 2007.
2. ^ Afary, Janet (2007). "Iran".
Encyclopdia Britannica
Online.
[sembunyikan]
lbs
Kedokteran di dunia Islam abad
pertengahan

Abad
ke-7

Keluarga
Bukhtishu

Abad
ke-9

Albubather
Keluarga
Bukhtishu Jabril
bin Bukhtishu
Jbir bin Hayyn
Hunayn bin
Ishaq dan
anaknya Yahya
bin Sarafyun AlKindi
Masawaiyh
Sabur bin Sahl
Ali bin Sahl
Rabban alTabari AlRuhawi Yuhanna
bin Bukhtishu

Abad
ke-10

Abad
ke-11

Abu Ubaid Juzjani


Alhazen Ali
bin Ridwan
Avicenna
Ephraim bin alZa'faran Ibnu alWafid Abdollah
bin Bukhtishu
Ibnu Butlan
Ibnu al-Kattani
Ibnu Jazla
Masawaih alMardini Yusuf alIlaqi Ibnu AlThahabi Ibnu
Abi Sadiq Al
bin s al-Kahhal

Abad
ke-12

Abu al-Bayan bin


al-Mudawwar
Ahmad bin
Farrokh Ismail
Gorgani Ibnu
Hubal Zayn alDin Gorgani
Maimonides
Serapion the
Younger Ibnu
Zuhr Ya'qub bin
Ishaq al-Israili
Abu Jafar bin
Harun dari Trujillo
Averroes Ibnu
Tufail Al-Ghafiqi
Ibnu Abi alHakam Abu'lBarakt alBaghdd
Samaual AlMaghrib Ibnu
al-Tilmdh

Abu Hafsa Yazid


Bukhtishu
Masarjawaih
Nafi ibn al-Harith
Ibnu Abi
Ramtha al-Tamimi
Rufaida AlAslamia

Abad
ke-8

Dokter

Qumri Abu Zayd


al-Balkhi Isaac
Israeli ben
Solomon Ali
bin Abbas alMajusi Abu
Sahl 'Isa bin
Yahya al-Masihi
Muvaffak
Muhammad bin
Zakariya al-Razi
Ibnu Juljul AlZahrawi Ibnu
al-Jazzar AlKakar Ibn Abi
al-Ashath Ibnu
al-Batriq
Ibrahim bin Baks

Qusta bin Luqa


Abu ul-Ala Shirazi
Abul Hasan alTabari Al-Natili

Abad
ke-13

Sa'ad al-Dawla
Al-Shahrazuri
Rashidun al-Suri

Amin al-Din
Rashid al-Din
Vatvat Anak
Avraham dari
Rambam Da'ud
Abu al-Fadl AlDakhwar Ibnu
Abi Usaibia
Joseph ben Judah
dari Ceuta Abd
al-Latif alBaghdadi (penulis
abad
pertengahan)
Ibnu al-Nafis
Zakariya alQazwini Najib
ad-Din-eSamarqandi
Qotb al-Din
Shirazi Ibnu alQuff

Abad
ke-14

Abad
ke-15

Abad
ke-16

Muhammad bin
Mahmud Amuli
Al-Nagawri
Aqsara'i Zayn-eAttar Mansur
bin Ilyas
Jaghmini
Masud bin
Muhammad Sijzi
Najm al-Din
Mahmud bin Ilyas
al-Shirazi
Nakhshabi
Sadid al-Din alKazaruni Yusuf
bin Ismail alKutubi Ibnu alKhatib Rashidal-Din Hamadani
Abu Sa'id al-Afif
Muhammad Ali
Astarabadi
Husayni Isfahani
Burhan-ud-din
Kermani
erafeddin
Sabuncuolu
Muhammad bin
Yusuf al-Harawi
Nurbakhshi
Shaykh
Muhammad bin
Thaleb
Hakim-e-Gilani
Abul Qasim bin
Mohammed alGhassani Taqi
al-Din
Muhammad bin

Ma'ruf
Konsep

Psikologi Oftalmologi

Karya

The Canon of Medicine


Anatomy Charts of the
Arabs The Book of
Healing Book of the Ten
Treatises of the Eye De
Gradibus Al-Tasrif
Zakhireye Khwarazmshahi
Adab al-Tabib ("Etika
Praktik Dokter")

Pusat

Bimaristan Nur al-Din


Bimaristan Al-'Adudi

Pengaruh

Kedokteran Yunani Kuno

Mempenga
ruhi

Medical Renaissance

Diperoleh dari
"http://id.wikipedia.org/w/index.php?
title=Ibnu_Sina&oldid=6023812"
Kategori:
Kelahiran 980
Kematian 1037
Ibnu Rusyd (Ibnu Rushdi, Ibnu Rusyid, 1126 Marrakesh, Maroko, 10 Desember 1198)
dalam bahasa Arab dan dalam bahasa
Latin Averroes, adalah seorang filsuf dari
Spanyol (Andalusia).
[sunting] Ikhtisar
Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di
Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah
(1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd
adalah hakim-hakim terkenal pada masanya.
Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak
yang mempunyai banyak minat dan talenta.
Dia mendalami banyak ilmu, seperti
kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat.
Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far
Harun dan Ibnu Baja.
Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang
berasal dari Andalusia dengan pengetahuan
ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar
diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi"
(hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu
Rusyd dikenal sebagai Averroes dan
komentator terbesar atas filsafat Aristoteles
yang memengaruhi filsafat Kristen di abad
pertengahan, termasuk pemikir semacam St.
Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi
Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan
masalah kedokteran dan masalah hukum.
[sunting] Pemikiran Ibnu Rusyd

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang


filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk
karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir
semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan
ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi)
sehingga kemungkinan besar karya-karya
aslinya sudah tidak ada.
Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat
Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang
Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat
Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap
keberagamaannya.
[sunting] Karya
Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)
Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran)
Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa AsySyariat (filsafat dalam Islam dan menolak
segala paham yang bertentangan dengan
filsafat)
Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi
(Persia: ) atau dikenali sebagai
Rhazes di dunia barat merupakan salah
seorang pakar sains Iran yang hidup antara
tahun 864 - 930. Ia lahir di Rayy, Teheran
pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun
313 H/925.
Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat,
kimia, matematika dan kesastraan. Dalam
bidang kedokteran, ia berguru kepada
Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya
ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin
sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia
juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di
Baghdad.
Ar-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan
serbabisa[2] dan dianggap sebagai salah
satu ilmuwan terbesar dalam Islam.

Daftar isi
[sembunyikan] 1 Biografi
2 Kontribusi 2.1 Bidang Kedokteran 2.1.1
Cacar dan campak
2.1.2 Alergi dan demam
2.1.3 Farmasi
2.1.4 Etika kedokteran
2.1.5 Buku-buku Ar-Razi pada bidang
kedokteran
3 Referensi
4 Pranala luar
[sunting] Biografi
Ar-Razi lahir pada tanggal 28 Agustus 865
Hijirah dan meninggal pada tanggal 9
Oktober 925 Hijriah. Nama Razi-nya berasal

dari nama kota Rayy. Kota tersebut terletak di


lembah selatan jajaran Dataran Tinggi Alborz
yang berada di dekat Teheran, Iran. Di kota
ini juga, Ibnu Sina menyelesaikan hampir
seluruh karyanya.
Saat masih kecil, ar-Razi tertarik untuk
menjadi penyanyi atau musisi tapi dia
kemudian lebih tertarik pada bidang alkemi.
Pada umurnya yang ke-30, ar-Razi
memutuskan untuk berhenti menekuni
bidang alkemi dikarenakan berbagai
eksperimen yang menyebabkan matanya
menjadi cacat. Kemudian dia mencari dokter
yang bisa menyembuhkan matanya, dan dari
sinilah ar-Razi mulai mempelajari ilmu
kedokteran.
Dia belajar ilmu kedokteran dari Ali ibnu
Sahal at-Tabari, seorang dokter dan filsuf
yang lahir di Merv. Dahulu, gurunya
merupakan seorang Yahudi yang kemudian
berpindah agama menjadi Islam setelah
mengambil sumpah untuk menjadi pegawai
kerajaan dibawah kekuasaan khalifah
Abbasiyah, al-Mu'tashim.
Razi kembali ke kampung halamannya dan
terkenal sebagai seorang dokter disana.
Kemudian dia menjadi kepala Rumah Sakit di
Rayy pada masa kekuasaan Mansur ibnu
Ishaq, penguasa Samania. Ar-Razi juga
menulis at-Tibb al-Mansur yang khusus
dipersembahkan untuk Mansur ibnu Ishaq.
Beberapa tahun kemudian, ar-Razi pindah ke
Baghdad pada masa kekuasaan al-Muktafi
dan menjadi kepala sebuah rumah sakit di
Baghdad.
Setelah kematian Khalifan al-Muktafi pada
tahun 907 Masehi, ar-Razi memutuskan untuk
kembali ke kota kelahirannya di Rayy, dimana
dia mengumpulkan murid-muridnya. Dalam
buku Ibnu Nadim yang berjudul Fihrist, arRazi diberikan gelar Syaikh karena dia
memiliki banyak murid. Selain itu, ar-Razi
dikenal sebagai dokter yang baik dan tidak
membebani biaya pada pasiennya saat
berobat kepadanya.
[sunting] Kontribusi
[sunting] Bidang Kedokteran
[sunting] Cacar dan campak
Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit
di Baghdad, ar-Razi merupakan orang
pertama yang membuat penjelasan seputar
penyakit cacar:
"Cacar terjadi ketika darah 'mendidih' dan
terinfeksi, dimana kemudian hal ini akan
mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian
darah muda (yang kelihatan seperti ekstrak
basah di kulit) berubah menjadi darah yang
makin banyak dan warnanya seperti anggur

yang matang. Pada tahap ini, cacar


diperlihatkan dalam bentuk gelembung pada
minuman anggur. Penyakit ini dapat terjadi
tidak hanya pada masa kanak-kanak, tapi
juga masa dewasa. Cara terbaik untuk
menghindari penyakit ini adalah mencegah
kontak dengan penyakit ini, karena
kemungkinan wabah cacar bisa menjadi
epidemi."
Diagnosa ini kemudian dipuji oleh
Ensiklopedia Britanika (1911) yang menulis:
"Pernyataan pertama yang paling akurat dan
tepercaya tentang adanya wabah ditemukan
pada karya dokter Persia pada abad ke-9
yaitu Rhazes, dimana dia menjelaskan
gejalanya secara jelas, patologi penyakit
yang dijelaskan dengan perumpamaan
fermentasi anggur dan cara mencegah
wabah tersebut."
Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah
(Cacar dan Campak) adalah buku pertama
yang membahas tentang cacar dan campak
sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini
kemudian diterjemahkan belasan kali ke
dalam Latin dan bahasa Eropa lainnya. Cara
penjelasan yang tidak dogmatis dan
kepatuhan pada prinsip Hippokrates dalam
pengamatan klinis memperlihatkan cara
berpikir ar-Razi dalam buku ini.
Berikut ini adalah penjelasan lanjutan ar-Razi:
"Kemunculan cacar ditandai oleh demam
yang berkelanjutan, rasa sakit pada
punggung, gatal pada hidung dan mimpi
yang buruk ketika tidur. Penyakit menjadi
semakin parah ketika semua gejala tersebut
bergabung dan gatal terasa di semua bagian
tubuh. Bintik-bintik di muka mulai
bermunculan dan terjadi perubahan warna
merah pada muka dan kantung mata. Salah
satu gejala lainnya adalah perasaan berat
pada seluruh tubuh dan sakit pada
tenggorokan."
[sunting] Alergi dan demam
Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang
menemukan penyakit "alergi asma", dan
ilmuwan pertama yang menulis tentang
alergi dan imunologi. Pada salah satu
tulisannya, dia menjelaskan timbulnya
penyakit rhintis setelah mencium bunga
mawar pada musim panas. Razi juga
merupakan ilmuwan pertama yang
menjelaskan demam sebagai mekanisme
tubuh untuk melindungi diri.
[sunting] Farmasi
Pada bidang farmasi, ar-Razi juga
berkontribusi membuat peralatan seperti
tabung, spatula dan mortar. Ar-razi juga
mengembangkan obat-obatan yang berasal
dari merkuri.

[sunting] Etika kedokteran


Ar-Razi juga mengemukakan pendapatnya
dalam bidang etika kedokteran. Salah
satunya adalah ketika dia mengritik dokter
jalanan palsu dan tukang obat yang
berkeliling di kota dan desa untuk menjual
ramuan. Pada saat yang sama dia juga
menyatakan bahwa dokter tidak mungkin
mengetahui jawaban atas segala penyakit
dan tidak mungkin bisa menyembuhkan
semua penyakit, yang secara manusiawi
sangatlah tidak mungkin. Tapi untuk
meningkatkan mutu seorang dokter, ar-Razi
menyarankan para dokter untuk tetap belajar
dan terus mencari informasi baru. Dia juga
membuat perbedaan antara penyakit yang
bisa disembuhkan dan yang tidak bisa
disembuhkan. Ar-Razi kemudian menyatakan
bahwa seorang dokter tidak bisa disalahkan
karena tidak bisa menyembuhkan penyakit
kanker dan kusta yang sangat berat. Sebagai
tambahan, ar-Razi menyatakan bahwa dia
merasa kasihan pada dokter yang bekerja di
kerajaan, karena biasanya anggota kerajaan
suka tidak mematuhi perintah sang dokter.
Ar-Razi juga mengatakan bahwa tujuan
menjadi dokter adalah untuk berbuat baik,
bahkan sekalipun kepada musuh dan juga
bermanfaat untuk masyarakat sekitar.[3]
[sunting] Buku-buku Ar-Razi pada bidang
kedokteran
Berikut ini adalah karya ar-Razi pada bidang
kedokteran yang dituliskan dalam buku:
Hidup yang Luhur (Arab: ).
Petunjuk kedokteran untuk masyarakat
umum (Arab:)
Keraguan pada Galen
Penyakit pada anak
1. Khat Diwani
Diwani adalah salah satu gaya khat
yang diciptakan oleh masyarakat Turki
Usmani. Peletak dasar-dasar kaedah
dan ukuran huruf-hurufnya adalah
Ibrahim Munif. Tulisan ini mulai populer
setelah penaklukan kota Konstantinopel
oleh Sultan Muhammad al-Fatih tahun
875 H. Penamaan Diwani karena
dinisbahkan kepada kantor-kantor
pemerintah dimana tulisan tersebut
digunakan dan dari dewan-dewan
pemerintahan itulah khat ini menyebar
ke seluruh kalangan masyarakat.
Karakter Diwani dikenal dengan
putarannya, sehingga tidak satupun
huruf yang tidak mempunya
lengkungan. Goresannya yang lentur
dan lembut memudahkan Diwani
beradaptasi dengan tulisan apapun. Hal
ini pula yang memudahkan para
kaligrafer menulis dengan Diwani.

Diwani memiliki tiga macam bentuk,


yaitu:

berkembang menjadi beberapa gaya,


antara lain:

a. Khat Diwani 'Adi

a. Khat Tumar

Diwani 'Adi merupakan gaya khat yang


tampil biasa ('adi) sesuai struktur
tulisan, sehingga mudah dibaca. Ciri
tampilannya tampak pada kali-kali
tulisan yang umumnya berbaris datar
dengan pucuk-pucuk huruf
bergelombang dinamis.

Khat yang diciptakan oleh Qutbah alMuharrir yang tumbuh dan berkembang
di masa Bani Umayyah ini biasa ditulis
dalam ukuran besar dengan aturanaturannya yang simpel. Khat ini sangat
cocok untuk dekorasi dinding atau
media-media berukuran besar. Para
khattat Turki menamakannya Jali Tsuluts
atau Tsuluts Besar. Tumar atau Tamur
jamaknya Tawamir bermakna sahifah
(lembaran atau manuskrip). Khat Tumar
artinya khat yang ditulis di lembaran
atau menuskrip.

b. Khat Diwani Mutarabit


Gaya ini merupakan Diwani yang hurufhuruf dan rangkaian katanya saling
menjalin atau bersilangan (mutarabit)
satu sama lain. Besar kemungkinan pola
semacam ini merupakan hasil pengaruh
khat Musalsal ciptaan Ibnu Bawab.
Dalam jenis khat Diwani Mutarabit ini,
kaligrafer modern Gazlan Bek dari Mesir
merupakan tokohnya. Gazlan berhasil
membuat karya-karya masterpiece yang
banyak dijadikan acuan, sehingga para
kritikus dan pengamat menisbahkan
gaya khat ini kepada Gazlan sehingga
disebut Khat Diwani Gazlani.
c. Khat Diwani Jali

b. Khat Muhaqqaq
Penciptanya adalah Ibnu Bawab (413 H).
Ibnu Bawab adalah kaligrafer masyhur
setelah Ibnu Muqlah. Khat ini hampir
mirip dengan khat Tsuluts karena
perbedaan keduanya sangat samar dan
hanya dapat diketahui oleh ahli khat
yang cermat. Pada perkembangannya,
khat ini semakin redup dan jarang sekali
digunakan, sehingga posisinya digeser
oleh Khat Tsuluts.

Diwani Jali diciptakan oleh Syahlan


Pasha dari Turki dan merupakan
pengembangan dari Diwani 'Adi. Jali
artinya Jelas. Kejelasan tersebut tampak
pada detail syakal dan hiasan yang
penuh di dalamnya. Tujuan
diciptakannya Diwani Jali ialah untuk
menuliskan peraturan-peraturan
kesultanan dan surat-surat ke luar
negeri.

c. Khat Raihani

2. Khat Tsuluts

d. Khat Tawqi'

Dinamakan khat tsuluts karena ditulis


dengan kalam yang ujung pelatuknya
dipotong dengan ukuran sepertiga
(tsuluts) goresan kalam. Ada pula yang
menamakannya khat Arab karena gaya
ini merupakan sumber pokok aneka
ragam kaligrafi Arab yang banyak
jumlahnya setelah khat Kufi. Untuk
menulis dengan khat tsuluts, pelatuk
kalam dipotong dengan kemiringan kirakira setengah lebar pelatuk. Ukuran ini
sesuai untuk khat tsuluts 'adi dan
tsuluts jali. Khat Tsuluts yang banyak
digunakan untuk dekorasi dinding dan
berbagai media karena kelenturannya,
dianggap paling sulit dibandingkan
gaya-gaya lain, baik dari segi kaedah
ataupun proses penyusunannya yang
menuntut harmoni dan seimbang. Dalam
rentang perjalanannya, khat Tsuluts

Tawqi' artinya tanda tangan, karena


para khalifah dan perdana menteri
senantiasa menggunakan Tawqi' untuk
menandatangani perbagai naskah
mereka. Diciptakan oleh Yusuf al-Syajari
(825 M). Lalu berkembang di tangan
Ahmad ibn Muhammad yang dikenal
dengan Ibnu Khazin (1124 M) sebagai
murid generasi kedua Ibnu Bawab. Yang
membedakan Tsuluts dengan Tawqi'
adalah ukuran Tawqi' yang selalu ditulis
sangat kecil. Bentuk yang menyerupai
Tawqi' adalah Tugra' atau Turrah yang
pada awalnya berfungsi sebagai cap dan
lambang sultan-sultan Usmani dengan
ukuran yang bervariasi.

Pencipta khat ini adalah Ibnu Bawab


juga, namun berhubungan erat dengan
Ali ibn al-Ubaydah al-Rayhan (834 M),
sehingga namanya diambil untuk nama
khat ini. Pendapat lain menjelaskan
Rayhani dengan kata Rayhan yang
berarti harum semerbak karena
keindahan dan popularitasnya.

e. Khat Riqa' atau Ruqa'


Riqa' jamaknya Ruq'ah artinya lembaran
daun kecil halus yang digunakan untuk

menulis khat tersebut. Gaya ini


diciptakan oleh al-Ahwal al-Muharrir
yang diolahnya dari Khafif Tsuluts.
Sebagian sejarawan menamakan gaya
ini dengan khat Tawqi', namun yang
lebih benar adalah bahwa Riqa' pun
diolah pula dari Tawqi'. Ukuran Riqa'
lebih kecil dari Tawqi' dan digunakan
khusus untuk menyalin teks-teks kecil
dan penyajian kisah.
f. Khat Tsulusain
Diciptakan oleh saudara Yusuf al-Syajari
bernama Ibrahim al-Syajari (200 H) di
zaman Bani Abbas. Ibrahim membuat
kaedah Tsulusain dari khat yang sudah
ada semenjak dahulu yaitu khat Jalil.
Tsulusain berarti dua pertiga, karena
ditulis dengan kalam yang ujung
pelatuknya dipotong seukuran dua
pertiga lebar goresan kalam, sedikit
lebih kecil dari khat Tumar yang ditulis
sangat besar.
g. Khat Musalsal
Diciptakan oleh al-Ahwal al-Muharrir
dari keluarga Barmak di zaman Bani
Abbas. Sebagian huruf-huruf khat ini
saling berhubungan, oleh karena itu
beberapa sejarawan modern
menamakannya khat Mutarabit yang
berarti saling ikat atau berikatan.
h. Khat Tsuluts 'Adi
Pencipta khat ini adalah Ibrahim alSyajari diawal abad ke-3 H di zaman
Bani Abbas. Dalam beberapa kamus
bahasa Arab disebutkan, "anna alsulusiyya min al-khuttut huwa al-galiz
al-huruf" (sepertiga dari khat adalah
huruf yang sulit).
i. Khat Tsuluts Jali
Jali artinya wadih (jelas). Kejelasan
dalam hal ini terletak pada lebar
anatomi hurufnya yang lebih dominan
daripada jaraknya, dibandingkan
dengan jarak yang lebih dominan
daripada lebar anatomi hurufnya dalam
Tsuluts 'Adi. Dengan demikian, dalam
Tsuluts Jali akan tampak dengan jelas
komposisi huruf yang bertumpuk
memadati ruang media yang ditulis.
Khat ini banyak digunakan untuk
menulis judul-judul dan media seni yang
permanen.
j. Khat Tsuluts Mahbuk
Mahbuk artinya terstruktur atau
tersusun rapi, yang diukur menurut
keindahan pembagian (husn al-tawzi')

dan aturan komposisi (ikham al-tartib).


Keindahan pembagian dicirikan dengan
tidak adanya kelompok huruf yang
bertumpujk di satu tempat sementara
tempat lain terlalu kosong sehingga
mendorong khatta memperbanyak dan
mengisinya dengan syakal dan hiasan
untuk mensari keseimbangan.
Sedangkan aturan komposisi adalah
ketepatan memposisikan kata, huruf
dan titik di tempat-tempat yang
strategis.
k. Khat Tsuluts Muta'assir bil Rasm
Beberapa khattat atau kaligrafer
berusaha menggubah aksara Arab
kepada bentuk visual yang bisa
berbicara biar lebih bervariasi sekaligus
untuk menyeimbangkan antara ketaatan
terhadap ajaran agama dengan
kesenangan menggambar, karena dalam
Islam visualisasi mahluk hidup secara
jelas berlawanan dengan semangat
dakwah agama tersebut untuk selalu
menjaga ketauhidan dan menjauhi
kesyirikan. Potensi huruf Arab yang
sangat lentur dan mudah dibentuk
mendorong para khattat menciptakan
gambar-gambar simbol yang
mengungkap kalimat-kalimat suci dan
tauhid, sehingga kaligrafi diolah
menjadi sarana menggambar yang
terbebas dari visualisasi mahluk hidup
secara terang-terangan. Khat yang
dipengaruhi gambar ini akhirnya
diterima dan populer di kalangan
seniman muslim. Banyak ragam dan
variasi aliran khat ini, yang secara
bebas mengambil pola figural atau
simbolik gambar manusia, binatang,
tumbuhan dan benda-benda lainnya.
l. Khat Tsuluts Handasi
Gaya ini merupakan Tsuluts yang
menyusun huruf dan kata secara
geometris (handasi) dan indah
berdasarkan rasa seni, sehingga
menjadi dasar kekompakan, keserasian
dan penyatuan sebuah karya.
m. Khat Tsuluts Mutanazhir
Mutanazhir artinya saling memantul.
Dinamakan pula khat Tsuluts Mir'at
(cermin), dimana yang berada
disamping kanan memantul ke samping
kirinya, sehingga seolah diantara dua
sisi tersebut ada cermin. Khat ini
dinamakan juga dengan gaya Ma'kus
(memantul), musanna (AC-DC atau dua
dimensi) d an 'Aynali (saling tatap).
Gaya ini tidak lepas dari pengaruh
kebudayaan muslim yang saling
berbalas kebaikan dalam kehidupan

sehari-hari seperti salam dan


menjawabnya.
http://kaligraficenter.jimdo.com/jenisjenis-khat-dalam-kaligrafi/
Seni rupa Islam
Dari Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Motif arabesque di bangunan Alhamra


Seni rupa Islam adalah seni rupa yang
berkembang pada masa lahir hingga akhir
masa keemasan Islam. Rentang ini bisa
didefinisikan meliputi Jazirah Arab, Afrika
Utara, Timur Tengah, dan Eropa sejak mulai
munculnya Islam pada 571 M hingga mulai
mundurnya kekuasaan Turki Ottoman.
Walaupun sebenarnya Islam dan keseniannya
tersebar jauh lebih luas daripada itu dan
tetap bertahan hingga sekarang.
Seni rupa Islam adalah suatu bahasan yang
khas dengan prinsip seni rupa yang memiliki
kekhususan jika dibandingkan dengan seni
rupa yang dikenal pada masa ini. Tetapi
perannya sendiri cukup besar di dalam
perkembangan seni rupa modern. Antara lain
dalam pemunculan unsur kontemporer
seperti abstraksi dan filsafat keindahan. Seni
rupa Islam juga memunculkan inspirasi
pengolahan kaligrafi menjadi motif hias.
Dekorasi di seni rupa Islam lebih banyak
untuk menutupi sifat asli medium arsitektur
daripada yang banyak ditemukan pada masa
ini, perabotan. Dekorasi ini dikenal dengan
istilah arabesque.
Peninggalan seni rupa Islam banyak
berbentuk masjid, istana, ilustrasi buku, dan
permadani.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Gambaran keseluruhan
2 Ciri dan periodisasi
o 2.1 Seni rupa asli Jazirah Arab
o 2.2 Seni rupa Umayyah
o 2.3 Seni rupa Abbasyiah
o 2.4 Seni rupa Turki

o 2.5 Seni rupa Kordoba


3 Kontroversi hukum seni rupa
4 Lihat pula
5 Referensi
6 Pranala luar
[sunting] Gambaran keseluruhan
Seni Islam bukanlah seni yang berfokus pada
agama saja tetapi juga merangkumi
kebudayaan Islam yang kaya dan berbagai
macam. Ia seringnya menggunakan unsur
sekular serta juga unsur yang tidak disukai
oleh ahli teologi Islam, walau jika tidak
diharamkan.[1]
Seni Islam berkembang daripada banyak
sumber, dengan gaya-gaya seni Roma, seni
Kristen awal, dan seni Romawi Timur diserap
ke dalam seni dan seni bina Islam yang awal,
khususnya seni Sassanid Persia pra-Islam.
Gaya Asia Tengah juga diserap menerusi
serangan mendadak oleh berbagai
pengembara. Seni Cina juga merupakan
salah satu pengaruh yang penting dalam
lukisan, tembikar, dan tekstil Islam."[2]
Lukisan Islam mengandungi unsur-unsur
berulang, misalnya penggunaan reka bentuk
geometri berbunga-bunga atau bersayursayuran dalam gaya ulangan yang dikenali
sebagai arabes. Arabes dalam lukisan Islam
sering dipergunakan untuk melambangkan
sifat Allah yang unggul, tidak terbahagi, dan
tidak terbatas.[3] Kesilapan pengulangan
dalam lukisan Islam mungkin disengajakan
sebagai penampilan rendah hati oleh
pelukisnya yang mempercayai bahawa hanya
Allah dapat menghasilkan kesempurnaan.
Walau bagaimanapun, teori ini telah
dipertikaikan.[4][5][6]
Kebanyakan penganut Islam Sunni dan
penganut Islam Syiah mempercayai bahawa
penggambaran makhluk umumya adalah
haram. Bagaimanapun, lukisan yang
berkenaan manusia boleh didapati pada
seluruh zaman seni Islam. Perlambangan
manusia bagi tujuan penyembahan berhala
diharamkan oleh hukum Islam yang dikenali
sebagai Syariat. Meskipun begitu, terdapat
banyak penggambaran Muhammad, Nabi
utama Islam, dalam seni Islam sejarah.[7][8]
[sunting] Ciri dan periodisasi

Masjid Al-Aqsa, simbol kekayaan seni rupa


Islam
Seni rupa Islam tidak berdiri sendiri seperti
Seni rupa Buddha ataupun Barat. Ia
merupakan gabungan dari kesenian daerahdaerah taklukan akibat adanya ekspansi oleh

kerajaan bercorak Islam di sekitar Timur


Tengah, Afrika Utara, Asia Kecil, dan Eropa
dan penakulukan oleh bangsa Mongol.
Daerah ini didefinisikan sebagai Persia, Mesir,
Moor, Spanyol, Bizantium, India, Mongolia,
dan Seljuk. Selain itu ditemukan pula
pengaruh akibat hubungan dagang, seperti
Tiongkok. Ini disebabkan miskinnya seni rupa
asli Arab pada saat itu walaupun dalam
bidang sastra dan musik sebenarnya
memperlihatkan hal yang menakjubkan.
Keberagaman pengaruh inilah yang membuat
seni rupa Islam sangat kaya.
Hal ini terutama bisa dilihat dari arsitektur
Islam yang memperlihatkan gabungan corak
dari berbagai daerah.
[sunting] Seni rupa asli Jazirah Arab
Seni rupa asli Jazirah Arab bisa terlihat dari
arsitektur di sekitar wilayah Makkah dan
Madinah. Kedua kota ini merupakan pusat
pemerintahan pada masa Nabi Muhammad.
Biasanya arsitektur asli Jazirah Arab berupa
bentuk bangunan segi empat sederhana
yang difungsikan sebagai tempat ibadah.
Bagian tengah merupakan lapangan terbuka
dengan dikelilingi pilar, dinding, dan kamarkamar. Lapangan berfungsi sebagai tempat
salat berjamaah dan di bagian depan kiblat
terdapat mimbar untuk khatib yang
memberikan ceramah keagamaan.
Contoh bangunan yang masih
memperlihatkan ciri arsitektur ini adalah
Masjid Nabawi.
[sunting] Seni rupa Umayyah

Masjid Umayyah, Syria


Seni rupa pada zaman Umayyah banyak
dipengaruhi oleh kesenian Bizantium,
sebagai akibat dipindahkannya pusat
pemerintahan Islam dari Makkah ke Syria.
Seni rupa ini banyak memperlihatkan ciri seni
rupa kristen awal, yaitu bentuk-bentuk
basilika dan menara. Seperti bisa dilihat di
Masjid Umayyah yang awalnya adalah Gereja
Johannes di Damaskus. Interior masjid ini
digarap seniman-seniman Yunani dari
Konstantinopel.
Pada masa ini ragam hias mosaik dan stucco
yang dipengaruhi oleh pengulangan
geometris sebagai tanda berkembang
pesatnya ilmu pengetahuan. Selain itu ciri
khas lapangan di tengah masjid mulai diganti
oleh ruangan besar yang ditutup kubah.
Pada masa ini pula dikenal kalifah yang
sangat memperhatikan kelestarian masjid-

masjid, yaitu Kalifah Abdul Malik dan Kalifah


Al-walid. Kalifah Abdul Malik membangun
Kubah Batu Karang (dikenal pula dengan
nama Masjid Quber esh Sakhra dan Masjid
Umar) sebagai pengingat tempat
dinaikkannya Nabi Muhammad ke langit pada
peristiwa Isra-Miraj. Selain itu dibangun pula
Masjid Al Aqsa.
Dinasti Umayyah juga meninggalkan banyak
istana yang memiliki ciri tersendiri, yaitu
bangunan di tengah-tengah gurun pasir yang
terasing, walaupun kini banyak yang telah
rusak. Contohnya adalah Istana Kusair Amra.
[sunting] Seni rupa Abbasyiah
Perkembangan seni rupa periode ini dimulai
sejak tahun 747 M sebagai akibat keruntuhan
Dinasti Umayyah akibat revolusi oleh
Keluarga Abbasiyah bersama kelompok
Syiah. Seni rupa ini terkonsentrasi di pusat
pemerintahan baru di daerah Baghdad dan
kemudian pindah ke Sammara, Persia
(sekarang wilayah Iran dan Irak). Walaupun
sebenarnya Baghdad adalah pusat
pemerintahan dan kebudayaan, namun
penyerangan oleh bangsa Mongol membuat
hampir seluruh peninggalan di daerah ini
musnah, sehingga bukti karya lebih banyak
didapat di daerah-daerah sekitarnya.
Seni rupa pada zaman ini maju akibat
lancarnya perdagangan dengan bangsa
Syria, Tiongkok, India, dan bahkan Nusantara.
Selain itu dimulai banyak penerjemahan
tulisan-tulisan kuno Yunani, sehingga seni
ilustrasi berkembang.
Peninggalan penting dari masa ini adalah
Masjid Mutawakkil, Masjid Abu Delif, dan
bekas istana kalifah. Masjid pada zaman ini
berciri mirip bangunan kuno mesopotamia,
yaitu menara yang semakin mengecil di
bagian ujungnya dan motif hias abjad Kufa,
yaitu motif hias dari kaligrafi berbentuk tajam
dan kaku. Selain itu ditemukan bentuk tiang
melengkung.
Pindahnya kekuasaan dari keluarga
Abbasyiah ke Fatimiyah dan dipindahkannya
ibukota ke Mesir membuat pengaruh seni
Afrika Utara menjadi kuat.
[sunting] Seni rupa Turki
Pengaruh Turki didapat dari penaklukan Iran
oleh bangsa Turki pada abad ke-11 M. Di
bawah kekuasaan ini Romawi Timur, Iran,
Mesopotamia, dan Asia Kecil bersatu di
bawah kerajaan bercorak Islam.
Pada masa ini seni rupa yang berkembang
adalah dekorasi dan tekstil. Antara lain
ditemukan teknik hias batu bata. Selain itu
ditemukan kaligrafi dengan abjad nashi dan
juga banyak pengaruh keramik-keramik
Tiongkok dari dinasti Sung.
[sunting] Seni rupa Kordoba
Dimulai pada tahun 750, Seni rupa Kordoba
meliputi daerah Spanyol dan Moor. Contoh
peninggalannya adalah Masjid Kordoba. Ia
merupakan gabungan kesenian Yunani klasik
dan kesenian lokal yang tidak terorganisasi

dengan baik menjadi satu kesatuan. Ciri


utamanya adalah pelengkung tapal kuda.
Ciri khas seni rupa dari Moor adalah
pemakaian motif yang diinspirasi oleh
pengulangan ilmu ukur.
[sunting] Kontroversi hukum seni rupa

Tatakan lilin dari Iran berbentuk hewan, kini


di Museum Louvre
Ada banyak sekali pendapat mengenai seni
rupa di dalam Islam. Pandangan kaum
konservatif yang populer pada awal
kemunculan Islam beranggapan bahwa
segala bentuk peniruan adalah usaha
menyaingi kesempurnaan Tuhan dan wujud
keinginan menciptakan Tuhan baru. Tetapi
banyak pula yang menyatakan bahwa
bagaimanapun hasil penciptaan manusia
tetap tidak akan bisa menyamai apa yang
telah diciptakan Tuhan ataupun Tuhan itu
sendiri, sehingga seni rupa tidak bisa
dianggap penjiplakan saja, tetapi diiringi pula
dengan stilasi yang memperlihatkan
keagungan Pencipta. Sementara pendapat
lain terbentuk atas pengaruh kebudayaan
Eropa, yang menganggap proses seni rupa
adalah hal normal, ia sama sekali tidak bisa
dianggap sebagai usaha menciptakan
makhluk baru ataupun Tuhan baru, sehingga
sama sekali tidak perlu dilarang.
Bagaimanapun sangat sulit menemukan
peninggalan seni patung dari seni rupa Islam,
karena sejarahnya yang berhubungan
langsung dengan tindakan berhala. Tetapi
tidak sulit menemukan bentuk-bentuk
makhluk hidup dalam bentuk perabotan. Juga
dengan mudah bisa ditemukan lukisanlukisan di dinding istana dan gambar ilustrasi
untuk buku-buku terjemahan ilmu
pengetahuan walaupun hanya sebagai tiruan
dari ilustrasi buku aslinya.
[sunting] Lihat pula
Kalifah
[sunting] Referensi
http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_rupa_Isl
am
Zayn al-Din 'Ali ibn Ahmad al-Amidi (Arabic:
; died 712 H/1312 AD)
was a blind Arab scholar most known for

inventing a system before Braille that allowed


him to study and recognize his books. His
method involved the use of fruit stones as a
reading means for the blind.[1]
Salah al-Din al-Safadi (d. 1362) in his book
Nakt al-Himyan fi Nukat al-'Umyan (Emptying
the pockets for anecdotes about blind people)
said in respect to the originality of al-Amidi:
"In addition to his knowledge, he used to
trade in books. He could pick out the desired
volume, touch the book and determine the
number of its pages; he would touch the
page and determine how many lines it had,
the type of script and its color, and he knew
the prices of the books".[1]
He lived in what is now Iraq in the fourteenth
century.