Anda di halaman 1dari 16

Trauma toraks merupakan trauma yang mengenai dinding toraks dan atau organ

intra toraks, baik karena trauma tumpul maupun oleh karena trauma tajam.
Memahami kinematis dari trauma akan meningkatkan kemampuan deteksi dan
identifikasi awal atas trauma sehingga penanganannya dapat dilakukan dengan
segera.
Secara anatomis rongga toraks di bagian bawah berbatasan dengan rongga
abdomen yang dibatasi oleh diafragma, dan batas atas dengan bawah leher dapat
diraba incisura jugularis. Otot-otot yang melapisi dinding dada yaitu: m.latissimus
dorsi, m.trapezius, m.rhomboideus mayor dan minor, m.serratus anterior, dan
m.intercostalis. Tulang dinding dada terdiri dari sternum, vertebra torakalis, iga
dan skapula. Organ yang terletak di dalam rongga toraks : paru-paru dan jalan
nafas, esofagus, jantung, pembuluh darah besar, saraf dan sistem limfatik.
1. Definisi
2. Etiologi
Trauma pada toraks dapat dibagi 2 yaitu oleh karena trauma tumpul dan trauma
tajam. Penyebab trauma toraks tersering adalah oleh karena kecelakaan
kendaraan bermotor (63-78%). Dalam trauma akibat kecelakaan, ada lima jenis
tabrakan (impact) yang berbeda, yaitu depan, samping, belakang, berputar dan
terguling. Oleh karena itu harus dipertimbangkan untuk mendapatkan riwayat
yang lengkap karena setiap orang memiliki pola trauma yang berbeda.
Penyebab trauma toraks oleh karena trauma tajam dibedakan menjadi 3,
berdasarkan tingkat energinya yaitu: trauma tusuk atau tembak dengan energi
rendah, berenergi sedang dengan kecepatan kurang dari 1500 kaki per detik
(seperti pistol) dan trauma toraks oleh karena proyektil berenergi tinggi (senjata
militer) dengan kecepatan melebihi 3000 kaki per detik. Penyebab trauma
toraks yang lain oleh karena adanya tekanan yang berlebihan pada paru-paru
bisa menimbulkan pecah atau pneumotoraks.
.
3. Manifestasi Klinis
Diagnosis berbagai macam trauma toraks:
A. Cedera dinding dada
1) Patah tulang rusuk tunggal dan jamak
Merupakan jenis yang paling sering.
Tanda utama adalah tertinggalnya gerakan nafas pada daerah yang
patah, disertai nyeri waktu nafas dan atau sesak.
2) Fraktur iga dan sternum:
Manifestasi klinis cedera dinding dada ini tergantung dari akibatnya
terhadap fungsi respirasi dan kardiovaskuler; fraktur tulang iga

sederhana yang dialami oleh penderita truma toraks dengan


penurunan faal paru mungkin akan mengakibatkan gangguan fungsi
respirasi dan kardiovaskuler yang cukup berat. Fraktur iga dan
sternum sering merupakan akibat dari trauma tumpul toraks, dapat
dijumpai mulai dari fraktur jenis sederhana (greenstick, simple,
isolated) hingga fraktur iga jamak (multiple).
Borrie J membuat pembagian fraktur iga menjadi :
Simple (isolated), merupakan fraktur iga tanpa kerusakan

yang berarti dari jaringan lainnya.


Compound, truma menembus kulit dan merobek pleura parietalis

di bawahnya yang disertai fraktur iga.


Complicated, fragmen dari fraktur iga menyebabkan cedera organ

visera.
Pahtologic, neoplasma atau kista tulang iga sebagai penyebab
dari fraktur iga.

Kemungkinan terjadinya cedera paru lebih besar pada penderita


anak-anak dan dewasa muda karena iga masih lentur hingga
dibutuhkan trauma yang lebih kuat untuk menyebabkan terjadinya
pada fraktur iga. Bila terdapat graktur iga 1 dan 2 pada hemitoraks kiri
dan pada foto toraks PA didapati pelebaran mediastinum, dianjutkan
secepatnya melakukan aortografi oleh karena mungkin telah terjadi
ruptura aorta. Letak fraktur iga tergantung dari arah benturan dan
lengkungan iga, Hinton dan Steiner mengamati fraktur iga sebagai
berikut:
Iga 5 dan 9 menerima akibat benturan yang paling berat.
Trauma tidak langsung, terjadi akibat mendekatnya kcdua ujung
tulang iga sehingga kelengkungan iga bertambah dan letak fraktur
biasanya bagian tengah.
Trauma langsung, menyebabkan fraktur satu atau lebih tulang iga
pada tempat benturan dan sering fragmen fraktur merobek pleura
serta jaringan paru.
Faktur tunggal biasanya end-to-end, fraktur jamak mungkin
overlapoing. Fraktur sternum lebih sering terjadi pada persendian
manubriosternal, dapat berbentuk fraktur yang sederhana dengan
prognosis baik hingga bentuk fraktur yang overlapping yang sering
bersamaan dengan fraktur iga dan cedera toraks lainnya serta
keadaan penderita yang cukup serius. Tanda klinis dapat berupa

pernafasan cepat dan dangkal, krepitasi dan rasa sakit pada


daerah fraktur serta emfisema subkutis.
Penatalaksanaan
Fraktur iga dan sternum sederhana hanya memerlukan pengobatan
simptomatis dengan pemberian analgetika dan mukolitika, namun
pada fraktur sternum yang overlapping dibutuhkan fiksasi. Dilakukan
suntikan blok saraf interkostal pada fraktur iga untuk mengurangi rasa
sakit agar batuk dan bernafas dalam tidak terhalangi. Pada fase akut
tidak

dilakukan

pembebatan

dengan

plester

karena

dapat

mengganggu mekanisme pernafasan.


3) Flail Chest
Akibat adanya patah tulang rusuk jamak yang segmental pada
satu dinding dada.
Ditandai dengan gerakan nafas yang paradoksal. Waktu inspirasi
nampak bagian tersebut masuk ke dalam dan akan keluar waktu
ekspirasi. Hal ini menyebabkan rongga mediastinum goncangan
gerak (flailing) yang dapat menyebabkan insertion vena cava
inferior terdesak dan terjepit.
Gejala klinis yang nampak adalah keadaan sesak yang progressif
dengan timbulnya tanda-tanda syok.
Terjadi oleh adanya tiga atau lebih fraktur iga multipel, dapat tanpa
atau dengan fraktur sternum, sehingga menyebabkan :
a. segmen yang mengambang akan bergerak ke dalam selama fase
inspirasi dan bergerak ke luar selama fase ekspirasi, sehingga udara
inspirasi terbanyak memasuki paru kontralateral dan banyak udara ini
akan masuk pada paru ipsilateral selama fase ekspirasi; keadaan ini
disebut dengan respirasi pendelluft.
b. Pergerakan ke dalam dari segmen yang mengambang akan
menerkan

paru-paru

di

bawahnya

sehingga

mengganggu

pengembangan paru ipsilateral.


c. Mediastinum terdorong ke arah kontralateral selama fase inspirasi
oleh adanya peningkatan tekanan negatif hemitoraks kontralateral
selama fase ini, sehingga pengembangan paru kontralateral juga
akan terganggu.
d. Pergerakan mediastinum di atas akan mengganggu venous return
jantung. Dinding dada mengambang (flail chest) ini sering disertai
dengan
hematoma

hemotoraks,
paru

yang

pneutoraks,
akan

hemoperikardium

memberat

keadaan

maupun
penderita.

Penatalaksanaan
Segera

dilakukan

mengambang,

bila

traksi

pada

keadaan

bagian

penderita

dinding
stabil

dada

dapat

yang

dilakukan

stabilisasi dinding dada secara operatif.


B. Cedera Paru
1) Pneumothorax
Disebabkan oleh robekan pleura dan atau terbukanya dinding dada.
Dapat berupa pneumotorak yang tertutup dan terbuka atau menegang
(tension

pneumotorak).

Kurang

lebih

75

trauma

tusuk

pneumotorak disertai hemotorak. Pneumotorak menyebabkan paru


kollaps, baik sebagian maupun keseluruhan yang menyebabkan
tergesernya isi rongga dada ke sisi lain. Gejalanya sesak nafas
progressif sampai sianosis dengan gejala syok.
a. Pneumothorax Tertutup
Terjadi karena fragmen fraktur iga merobek paru, namun dapat
pula terjadi tanpa adanya fraktur iga, dimana truma terjadi pada
fase inspirasi dengan glotis tertutup dan daya tahan alveoli
terlampaui. Pneumotoraks tertutup dengan adanya mekanisme
pentil akan menyebabkan udara terperangkap pada rongga pleura
sehingga tekanan rongga pleura akan lebih besar dari udara
atmosfer dan disebut sebagai pneumotoraks desakan (tension
pneumothorax).
Pneumotoraks desakan

dapat

menyebabkan

pendorongan

mediastinum ke arah kontralateral yang dapat mengakibatkan


terjepitnya vena cava sehingga dapat mengganggu venous return
jantung.
Penatalaksanaan
Pemasangan water seal drainage pada penderita penumotoraks
bergantung kepada :
Beratnya gangguan pernafasan
Disertai pneumotoraks desakan
Pneumotoraks bilateral
Disertai hemotoraks
Selama observasi pneumotoraks bertambah luas
Bila diperlukan pemakaian ventilator
Bila diperlukan anestesi umum
b. Pneumothorax Terbuka

Pneumotoraks terbuka dapat disebabkan oleh trauma tumpul


maupun trauma tajam, rongga pleura mempunyai tekanan yang
sama dengan udara atmosfir dan dari lubang luka pada dinding
dada akan terdengar suara hisapan udara selama fase inspirasi
yang

disebut

sebagai

sucking

chest

wound.

Pada keadaan ini juga akan terdapat respirasi yang pendelluf,


karena selama fase inspirasi paru ipsilateral akan kuncup dan
selama fase ekspirasi paru akan sedikit mengembang, hal ini
menandakan bahwa selama fase ekspirasi udara dari paru
kontralateral masuk ke paru ipsilateral.
Penatalaksanaan
-

Tindakan awal: menutup defek dengan kasa steril yg diplester

hanya pd 3 sisinya saja, diharapkan saat inpirasi kasa penutup


akan terhisap & menutup luka & saat ekspirasi kasa penutup luka
akan terbuka dan udara didalam rongga toraks akan terdorong
keluar
-

Tindakan definitif : memasang drain (WSD) toraks serta

menutup defek tersebut


2) Hemothorax
Pneumotoraks terbuka dapat disebabkan oleh trauma tumpul maupun
trauma tajam, rongga pleura mempunyai tekanan yang sama dengan
udara atmosfir dan dari lubang luka pada dinding dada akan
terdengar suara hisapan udara selama fase inspirasi yang disebut
sebagai

sucking

chest

wound.

Pada keadaan ini juga akan terdapat respirasi yang pendelluf, karena
selama fase inspirasi paru ipsilateral akan kuncup dan selama fase
ekspirasi paru akan sedikit mengembang, hal ini menandakan bahwa
selama fase ekspirasi udara dari paru kontralateral masuk ke paru
ipsilateral.
Penatalaksanaan
-

Tindakan awal: menutup defek dengan kasa steril yg diplester

hanya pd 3 sisinya saja, diharapkan saat inpirasi kasa penutup akan


terhisap & menutup luka & saat ekspirasi kasa penutup luka akan
terbuka dan udara didalam rongga toraks akan terdorong keluar

Tindakan definitif : memasang drain (WSD) toraks serta menutup

defek tersebut
3) Kontusio Paru/Traumatic Wet Lung
Burford dan Burbank yang memperkenalkan istilah ini di tahun 1944
yaitu terjadinya kelainan pada paru-paru akibat trauma dinding dada
dan paru-paru. Kelainan yang terjadi adalah bertambahnya cairan
intersisial dan intraalveolar paru; transudasi alveolar ini merupakan
akibat dari anoksia. Penulis lain menyebutkan sebagai Dan Nang
lung, white lung syndrome, kontusio paru.
Penatalaksanaan
Membersihkan jalan nafas dengan aspirasi maupun bronkoskopi,
mempertahankan mekanisme batuk, blok interkostal bila terdapat
fraktur iga agar batuk tidak terhalang. Membuat tekanan ventilasi
positif pada akhir ekspirasi dapat menolong dalam memperbaiki
kapasitas residu fungsional dan mengurangi pintas intrapulmoner.
Hindari pemberian cairan yang berlebihan.
C. Cedera Cardiovaskular
Gejala klinis akan cepat menunjukkan gejala syok hipovolemik primer dan
syok obstruktif primer. Bendungan vena di daerah leher merupakan tanda
penyokong adanya tamponade ini. Juga akan nampak nadi paradoksal
yaitu adanya penurunan nadi pada waktu inspirasi, yang menunjukkan
adanya massa (cair) pada rongga pericardium yang tertutup. Penyebab
tersering adalah trauma torak tajam di daerah parasternal II V yang
menyebabkan penetrasi ke jantung. Penyebab lain adalah terjepitnya
jantung oleh himpitan sternum pada trauma tumpul torak. Melakukan
pungsi perikardium yang mengalami tamponade dapat bertujuan
diagnostik sekaligus langkah pengobatan dengan membuat dekompresi
terhadap tamponadenya.
1) Trauma Jantung
Kontusio miokardium terdapat pada 20% penderita dengan trauma
toraks yang berat, trauma tajam yang mengenai jantung akan
menyebabkan tamponade jantung dengan gejala trias Beck yaitu
distensi vena leher, hipotensi dan menurunnya suara jantung
Penatalaksanaan.

Segera

dilakukan

perikardiosintesis

untuk

mengurangi tamponade dan diikuti torakotomi untuk mencari serta


menghentikan sumber perdarahan. Trauma tajam daerah prekordial,
parasternal kiri dan kanan harus dicurigai mengenai jantung dan

segera dilakukan eksplorasi torakotomi sebelum keadaan penderita


memburuk
2) Ruptur Aorta
Ruptur aorta sering menyebabkan kematian penderitanya, dan lokasi
ruptura tersering adalah di bagian proksimal arteri subklavia kiri dekat
ligamentum arteriosum. Hanya kira-kira 15% dari penderita trauma
toraks dengan ruptura aorta ini dapat mencapai rumah sakit untuk
mendapatkan pertolongan. Kecuali rasa nyeri sehubungan dengan
perlukaan pada sternum atau klavikula, mungkin tidak ada gejala
khas lainnya. Kadang-kadang pada false aneurism yang membesar
dengan cepat, rasa nyeri pada dada bertambah, pernapasan dangkal,
sulit

menelan

dan

terjadi

hemoptisis.

Kecurigaan adanya ruptur aorta dari foto toraks bila didapati


a) mediastinum yang melebar
b) fraktur iga 1 dan 2
c) trakea terdorong ke kanan
d) gambaran aorta kabur
e) penekanan bronkus utama kiri
f) gambaran pipa lambung (NGT) pada esofagus yang terdorong ke
kanan.
Penatalaksanaan
Diagnosis dapat ditegakkan dengan melakukan aortografi dan
ekokardiorgrafi, reparasi operatif dilakukan dengan torakotomi dan
dengan bantuan cardiopulmonary bypass.
D. Cedera Organ Toraks Lainnya
1) Ruptur Trakea dan Bronkus Utama
Ruptur trakea dan bronkus utama dapat disebabkan oleh trauma
tajam maupun truma tumpul. Pada trauma tumpul rupture terjadi pada
saat glotis tertutup dan terdapat peningkatan yang hebat dan
mendadak dari tekanan saluran trakeobronkial yang melewati batas
elastisitas saluran trakeobronkial ini. Kemungkinan kejadian ruptura
bronkus utama meningkat pada trauma tumpul toraks yang disertai
dengan fraktur iga 1 sampai 3, lokasi tersering adalah pada daerah
karina

dan

percabangan

bronkus".

Pneumotoraks,

pneumomediastinum, emfisema subkutan dan hemoptisis dapat


merupakan gejala dari ruptura ini.

Penatalaksanaan
Dilakukan pemasangan water seal drainage pada pneumotoraksnya,
bronkoskopi

untuk

membantu

diangosis

dan

mencari

lokasi

rupturanya. Kemudian dilakukan torakotomi untuk reparasi kerusakan


saluran trakeobronkial.
2) Kerusakan pada Esofagus
Relatif jarang terjadi, menimbulkan nyeri terutama waktu menelan dan
dalam beberapa jam timbul febris. Muntah darah/hematemesis, suara
serak, disfagia atau distress nafas. Tanda klinis yang nampak
umumnya berupa empisema sub kutis, syok dan keadaan umum
pasien yang tidak nampak sehat. Sering dijumpai tanda Hamman
yang berupa suara seperti mengunyah di daerah mediastinum atau
jantung bila dilakukan auskultasi. Diagnosis dapat dibantu dengan
melakukan

esofagogram

dengan

menelan

kontras.

Lebih sering terjadi pads trauma tajam dibanding trauma tumpul


toraks dan lokasi ruptura oleh karena trauma tumpul paling sering
pada 1/3 bagian bawah esofagus. Akibat ruptura esofagus akan
terjadi

kontaminasi

rongga

mediastinum

oleh

cairan

saluran

pencernaan bagian atas sehingga terjadi mediastinitis yang akan


memperburuk keadaan penderitanya. Pada foto toraks akan terlihat
adanya pneumomediastinum dan hidrotoraks, yang paling sering
adalah hidrotoraks kiri.
Penatalaksanaan
Pemeriksaan foto toraks dengan bubur barium atau dengan
mempergunakan esofagoskopi dapat mengetahui lokasi dari ruptura
esofagus ini, dan dilakukan torakotomi untuk reparasi operatif.
3) Kerusakan Ductus Torasikus
Menimbulkan gejala chylotoraks. Gejala klinis ditimbulkan oleh
akumulasi chyle dalam rongga dada yang menimbulkan sesak nafas
karena kollaps paru. Kejadian ini relatif jarang dan memerlukan
pengelolaan yang lama dan cermat.
4) Kerusakan pada Diafragma
Disebabkan umumnya oleh trauma pada daerah abdomen, atau luka
tembus tajam kearah torakoabdominal. Akan menimbulkan herniasi
organ perut. Kanan lebih jarang dibandingkan kiri. Gejala klinis sering
terlewatkan karena 30 % tidak memberikan tanda yang khas. Sesak
nafas sering nampak dan disertai tanda-tanda pneumotoraks atau
gejala hemotoraks.

Kejadian hernia diafragmatika traumatika kiri 9 kali lebih banyak


dibanding hernia diafragmatika kanan, hal ini terjadi karena adanya
hepar di sebelah kanan. De Maeseneer M dan kawan-kawan
melaporkan hernia diafragmatika traumatika pada diafragma kanan
dengan hemisasi dari lobus kanan hepar pada penderita dengan
trauma tumupul abdomen. Organ abdomen yang dapat mengalami
herniasi antara lain gaster, omentum, usus halus, kolon, limpa dan
hepar. Juga dapat terjadi hernia inkarserata maupun strangulata dari
saluran cerna yang mengalami herniasi ke rongga toraks ini. Hernia
diafragmatika akan menyebabkan gangguan kardiopulmoner karena
terjadi penekanan paru dan terdorongnya mediastinum ke arah
kontralateral. Dan pemeriksaan fisik didapati gerakan pernafasan
yang

tertinggal,

perkusi

pekak,

fremitus

menghilang,

suara

pernafasan menghilang dan mungkin terdengat bising usus pada


hemitoraks yang sakit. Pada foto toraks dengan pemakaian pipa
lambung Levin dan bubur barium akan terlihat pipa lambung dan
bubur barium ini pada hemitoraks yang sakit.
Penatalaksanaan
Dibutuhkan

tindakan

operasi

segera

untuk

reparasi

robekan

diafragma dengan insisi torakoabdominal


5) Emfisema Subkutis
Dapat disebabkan oleh adanya cedera saluran pernafasan atau
segmen fraktur iga yang merobek paru-paru dan dapat disertai
dengan

adanya

pneutoraks

maupun

pneumotoraks

desakan.

Terjadi kebocoran jalan nafas yang umumnya melalui pleura atau


bawah kulit bawah dada sehingga menimbulkan emfisema subkutis.
Disebabkan oleh sebagian besar akibat trauma torak tumpul di daerah
sternum. Secara klinis leher membesar emfisematous dengan adanya
krepitasi pada dinding dada. Sesak nafas sering menyertai dan dapat
timbul tension pneumotorak.
Penatalaksanaan
Emfisema subkutis yang tcrbatas di daerah toraks tidak memerlukan
tindakan karena dapat diabsorbsi dalam 2 hingga 4 minggu; bila
terdapat penumotoraks dilakukan pemasangan water seal drainage.
Emfisema subkutis yang luas harus dicurigai disebabkan cedera dari
saluran pernafasan yang mungkin memerlukan tindakan torakotomi
untuk memperbaikinya

4. Patofisiologi
Akibat trauma daripada toraks, ada tiga komponen biomekanika yang dapat
menerangkan terjadinya luka yaitu kompresi, peregangan dan stres.
Kompresi terjadi ketika jaringan kulit yang terbentuk tertekan, peregangan
terjadi ketika jaringan kulit terpisah dan stres merupakan tempat benturan
pada jaringan kulit yang bergerak berhubungan dengan jaringan kulit yang
tidak bergerak. Kerusakan anatomi yang terjadi akibat trauma dapat ringan
sampai berat tergantung besar kecilnya gaya penyebab terjadinya trauma.
Kerusakan anatomi yang ringan berupa jejas pada dinding toraks, fraktur
kosta simpel. Sedangkan kerusakan anatomi yang lebih berat berupa fraktur
kosta multiple dengan komplikasi, pneumotoraks, hematotoraks dan kontusio
paru. Trauma yang lebih berat menyebabkan perobekan pembuluh darah
besar dan trauma langsung pada jantung.
Akibat kerusakan anatomi dinding toraks dan organ didalamnya dapat
menganggu fungsi fisiologi dari sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler.
Gangguan sistem pernafasan dan kardiovaskuler dapat ringan sampai berat
tergantung kerusakan anatominya. Gangguan faal pernafasan dapat berupa
gangguan fungsi ventilasi, difusi gas, perfusi dan gangguan mekanik/alat
pernafasan. Salah satu penyebab kematian pada trauma toraks adalah
gangguan faal jantung dan pembuluh darah. b
5. Pemeriksaan Diagnostik
Secara umum diagnosis secara klinis ditegakkan dari jenis kerusakan yang
terjadi dan pembuatan x ray foto dada. Bila memungkinkan maka x-ray foto
sebaiknya dibuat dalam dua arah (PA dan Lateral). Jejas pada daerah dada
akan membantu adanya kemungkinan trauma torak. Bila ada trauma multiple
maka dianjurkan untuk selalu dibuat foto x- ray dada. Tanda dan gejala
penyerta seperti adanya syok (hipotensi, nadi cepat dan keringat dingin) dan
adanya trauma lain organ dada merupakan butir diagnostik yang penting.
Pemasangan NGT sebagai persiapan untuk pengosongan lambung untuk
mencegah aspirasi isi lambung ke paru, dapat dipakai sebagai langkah
diagnostik

pada

kerusakan

esofagus

dan

dan

diafragma.

Pada dasarnya diagnostik trauma torak harus ditegakkan secepat mungkin,


tanpa

memakai

cara

diagnostik

yang

lama

(CT-scan,

angiografi).

Pemeriksaan gas darah dapat membantu diagnostik bila fasilitasnya ada.


6. Penatalaksaan
Prinsip

Penatalaksanaan mengikuti prinsip penatalaksanaan pasien trauma secara

umum (primary survey secondary seurvey)


Standar pemeriksaan diagnostic (yang hanya bisa dilakukan apbila pasien

stabil): portable x-ray, portable blood examination, portable bronchiscope.


Pengambilan anamesa dan peemriksaan fisik dilakukan bersamaan atau

setelah melakukan prosedur penanganan trauma.


Penanganan paien trauma toraks sebaiknya dilakukan oleh tim yang telah
memiliki sertifikasi pelatihan ALTS (Advance Trauma Life Support)
A. Konservatif
- Pemberian analgesic
- Pemasangan plak atau plester
- Jika perlu antibotik. Antibiotik yang digunkana sesuai dengan tes
kepekaan dan kultur. Apabila belum jelas kuman penyebabnya,
sedangkan keadaan penyakit gawat, maka penderita dapat diberi
antibiotic spectrum luas, misalnya ampiclin dengan dosis 250 mg 4 x
sehari.
B. Operatif/Invasif
Pemasangan WSD (Water Sealed Drainage)
Fungsi WSD
- Diagnostik
- Terapeutik
- Follow up
Tujuan
- Evakuasi darah/udara
- Pengembanga paru maksimal
- Monitoring
Indikasi pemasangan
- Pneumotoraks
- Hematotoraks
- Empyema
- Efusi pleura lainnya
- Pasca operasi toraks
- Monitoring perdarahan, kebocoran parau atau bronkus,
dsb.
Tindakan
- Lokasi di antara garis aksilaris anterior dan posterior pada
-

sela iga V dan VI


Pemasangan dengann teknik digital tanpa penggunaan

trokard
Indikasi pencabutan WSD
- Tercapai kondisi: produksi < 50cc/hari selama 3 hari
berturut-turut, dan undulasi negatif atau minimal, dan
pengembangan paru maksimal.

Fungsi WSD tidak efektif lagi (misal adanya sumbatan clot

pada selang).
Tempat pemasangan WSD
a. Bagain apex
- Anterolateral interkosta ke 1-2
- Fungsi: mengeluarkan udara dari ringga pleura
b. Bagian basal
Jenis WSD

Torakostomi:
Torakostomi merupakan suatu tindakan membuat lubang pada dinding dada
di daerah interkostal V di anterior garis mid aksila pada sisi toraks yang
patologis, kemudian dipasang tube elastik dan difiksasi, untuk mengeluarkan
cairan, darah atau udara dari kavum pleura, baik secara aktif maupun pasif.
Tindakan ini dikerjakan untuk menangani kasus-kasus pasien dengan efusi
pleura, hematotoraks, pneumotoraks, silotoraks, post operasi torakostomi
dan empiema. Bailey (2006), mendapatkan 54% indikasi pemasangan toraks
tube pada pasien trauma oleh karena pneumotoraks, 20% oleh karena
hematotoraks, 18% oleh karena efusi pleura, 2% oleh karena fraktur kosta
multipel dan 6% oleh karena berbagai sebab.
Pada pemasangan chest tube dapat timbul komplikasi. Komplikasi yang tersering
berupa perdarahan dan hemotoraks yang bersumber dari robeknya arteri
interkostal, perforasi organ viseral (seperti: paru-paru, jantung, diafragma, atau
organ intra abdomen), perforasi struktur pembuluh darah besar seperti aorta atau
vena subklavia, neuralgia interkostal oleh karena trauma pada neurovaskuler,
subkutaneus empisema, reekspansi oedem pulmonary, infeksi luka insisi,
pneumonia dan empiema. Disamping itu dapat timbul sumbatan berulang pada
chest tube oleh karena bekuan darah, pus atau debris, atau posisi tube yang
tidak benar sehingga fungsi drainase tidak efektif. Bailey dkk (2006),
mendapatkan komplikasi mayor berupa empiema post torakostomi sebesar 2%.
Etoch dkk (1995) mendapatkan 16% komplikasi post torakostomi, dan 1,5%
berkembang menjadi empiema. Nichols dkk (1994) melakukan evaluasi tentang
perlunya pemberian antibiotika untuk mengurangi rata-rata komplikasi infeksi
post torakostomi.
Torakostomi dikerjakan di kamar operasi atau UGD dengan setting steril. Dengan
menggunakan Povidon Iodin 10 % sebagai desinfektan dan Lidocain 2 % untuk
lokal anestesi. Chest tube yang dipakai biasanya berukuran 24 - 32 Fr.
disesuaikan dengan besar badan pasien. Chest tube dipasang pada interkostal 5
atau 6, di depan garis mid-aksila pada sisi yang patologis. Kemudian difiksasi
dengan Silk no : 0 dan dihubungkan dengan mesin WSD. Posisi dan
pengembangan paru dievaluasi dengan kontrol rontgen toraks. Setelah
pemasangan chest tube perlu dilakukan chest fisioterapi dan perawatan luka
torakostomi. Chest fisioterapi bertujuan untuk mempercepat tercapainya

pengembangan dari paru-paru. Dan perawatan luka bertujuan untuk mencegah


infeksi pada luka torakostomi

7. Komplikasi
A. Yang Terkait dengan Tidak Stabilnya Dinding Dada
Nyeri berkepanjangan, meskipun luka sudah sembuh. Mungkin
karena callus atau jaringan parut yang menekan saraf interkostal.
Terapi konservatif dengan analgesik atau pelunak jaringan parut.
Osteomylitis, dilakukan squesterisasi dan fiksasi.
Retensi sputum, karena batuk tidak adequat dan dapat

menimbulkan pneumoni. Diperlukan pemberian mukolitik.


B. Yang Terkait dengan Perlukaan dan Memar Paru
- Infiltrat paru dan efusi pleura, yang memerlukan pemasangan WSD
untuk

waktu

yang

lama.

Empiema, yang terjadi lambat dan memerlukan WSD dan antibiotik.

Pneumoni, merupakan komplikasi yang berbahaya dan perlu diberi

pengobatan yang optimal. Bila distress pernafassan berkelanjutan maka


diperlukan
-

pemasangan

respirator.

Fistel bronkopleural, ditandai dengan gejala kolaps paru yang tidak

membaik. Memerlukan tindak bedah lanjut berupa torakotomi eksploratif


dan

penutupan

fistelnya.

- Chylotoraks lambat
C. Komplikasi Lain di Luar Paru dan Pleura
- Mediastinitis, merupakan komplikasi yang sering fatal. Bila terjadi
pernanahan
-

Fistel

maka
esofagus,

harus

dilakukan

dapat

ke

drainase

mediastinum

mediastinum.

dan

menyebabkan

mediastinitis atau ke pleura dan menimbulkana empiema atau efusi


pleua.
-

Diperlukan

Hernia

tindakan

diafragmatika

bedah

lambat,

untuk

memerlukan

menutup
koreksi

fistel.
bedah.

Kalainan jantung, terutama pada luka tembus dan trauma tajam pada

jantung. Memerlukan tindakan bedah dan pembedahan jantung terbuka


8. Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
Riwayat trauma : kecelakaa, kejadian, jenis trauma (tajam, tumpul,
jejas, tusukan, tembakan, dsb).
Keluhan: Adanya nyeri, makin bertambah, sesak nafas, frekwensi
nafas, apnea, gerakan dinding dada, perubaha pola nafas.

Inspeksi:
Gerakan dinding dada tidak simetris, tampka gerakan otot bantu

pernafasan
Adanya perdarahan, perubahan bentuk dada, edema/bengkak,

jejas dll
Adanya luka terbuka, tusukan, dll
Sianosis, pucat, tanda-tanda syok, dll.
Auskultasi:
Ronki basal, wheezing, edema paru, krakles, suara isapan
penuruan atau suatu napas tension pneumotoraks.
Palpasi:
Nyeri tekan, bunyi krepitasi, tambah nyeri saat gerak, deviasi
trakea (pergeseran mediastinal)
Perkusi:
Sonor, hiperesonan, pekak
Pemeriksaan Penunjang
Foto thorax: tampak adanya gambara mediastinal shif, warna

putih/bercak merata pada semua lapang paru, edema paru.


Bronkoskopi, endoskopi, arteriography
MRI, ct scan
Lab: darah lengkap, elektrolit

B. Diagnosa Keperawatan
Gangguan pola nafas b.d penurunan pengembangan paru
Gangguan bersihan jalan nafas b.d akumulasi secret/darah, udema
jalan nafas.
Gangguan pertukaran gas b.d penumpukan cairan di alveolus,
penurunan membrane efektif pertukaran gas
Gangguan perfusi jaringan b.d ketidakseimbangan supply and
demand oksigen, penurunan komponen darah
Penurunan curah jantung b.d gangguan kontraktilitas, penuruna
volume intravascular
Nyeri akut b.d adanya kerusakan jaringan
C. Intervensi

DAFTAR PUSTAKA
Bruce J.Simon. The Journal of Trauma_ Injury, Infection, and Critical CareJ
Trauma.

2005;59:12561267.

Available

from:

http://www.jtrauma.com/pt/re/jtrauma/pdfhandler.
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Moore, K., Agur, A. 2002. Essential Clinical Anatomy. EGC. Jakarta
Setiawan, I., Tengadi K.A, Santoso, A. 1997. Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Edisi 9. EGC. Jakarta.
Stanford Trauma Service Housestaff

Manual

Available

from

http://scalpel.stanford.edu/ICU/Stanford%20Trauma%20Service%20rev
%204-05.pdf
Syamsuhidayat. R., Jong, W de. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. EGC.
Jakarta. Hal. 403-413