Anda di halaman 1dari 13

1.

Faktor-faktor pendorong munculnya kesadaran berbangsa nasionalisme


indonesia

Faktor dari dalam (internal)

Kenangan kejayaan masa lampau


Bangsa-bangsa Asia dan Afrika sudah pernah mengalami masa kejayaan sebelum masuk
dan berkembangnya imperialisme dan kolonialisme barat. Bangsa India, Indonesia, Mesir, dan
Persia pernah mengalami masa kejayaan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Kejayaan masa lampau mendorong semangat untuk melepaskan diri dari penjajahan. Bagi
Indonesia kenangan kejayaan masa lampau tampak dengan adanya kenangan akan kejayaan
pada masa kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Dimana pada masa Majapahit, mereka mampu
menguasai daerah seluruh Nusantara, sedangkan masa Sriwijaya mampu berkuasa di lautan
karena maritimnya yang kuat.

Bersatunya negara-negara Asia dan Afrika sejak zaman dahulu kala


Faktor yang mendorong rasa nasionalisme bangsa Asia bukanlah akibat penjajahan yang
dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa Asia, Afrika, melainkan rasa persatuan
itu sudah dimiliki sejak zaman dahulu kala terutama sesama ras, ataupun kerjasama
perdagangan yang telah saling melengkapi antara suku produsen benda yang berlainan
(sehingga terjadi pertukaran tanpa adanya keserakahan seperti yang dilakukan bangsa barat).
Mereka saling menghormati dan menjaga. Namun kedatangan bangsa barat yang menjajah
mengakibatkan mereka hidup miskin dan menderita sehingga mereka ingin menentang
imperialisme barat.

Munculnya golongan cendekiawan


Perkembangan pendidikan menyebabkan munculnya golongan cendekiawan baik hasil
dari pendidikan barat maupun pendidikan Indonesia sendiri. Mereka menjadi penggerak dan
pemimpin munculnya organisasi pergerakan nasional Indonesia yang selanjutnya berjuang
untuk melawan penjajahan

Paham nasionalis yang berkembang dalam bidang politik, sosial ekonomi,


dan kebudayaan
1.

Dalam bidang politik, tampak dengan upaya gerakan nasionalis menyuarakan aspirasi
masyarakat pribumi yang telah hidup dalam penindasan dan penyelewengan hak asasi
manusia. Mereka ingin menghancurkan kekuasaan asing/kolonial dari Indonesia.

2.

Dalam bidang ekonomi, tampak dengan adanya usaha penghapusan eksploitasi


ekonomi asing. Tujuannya untuk membentuk masyarakat yang bebas dari kesengsaraan
dan kemelaratan untuk meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia.

3.

Dalam bidang budaya, tampak dengan upaya untuk melindungi, memperbaiki dan
mengembalikan budaya bangsa Indonesia yang hampir punah karena masuknya budaya
asing di Indonesia. Para nasionalis berusaha untuk memperhatikan dan menjaga serta
menumbuhkan kebudayaan asli bangsa Indonesia.

Faktor dari luar (eksternal)

A.

Kemenangan Jepang atas Rusia (1905)


Pada tahun 1904-1905 Jepang melawan Rusia dan tentara Jepang berhasil mengalahkan
Rusia. Hal ini dikarenakan, modernisasi yang dilakukan Jepang yang telah membawa
kemajuan pesat dalam berbagai bidang bahkan dalam bidang militer. Awalnya dengan
kekuatan yang dimiliki tersebut Jepang mampu melawan Korea tetapi kemudian dia
melanjutkan ke Manchuria dan beberapa daerah di Rusia. Keberhasilan Jepang melawan
Rusia inilah yang mendorong lahirnya semangat bangsa-bangsa Asia Afrika mulai bangkit
melawan bangsa asing di negerinya.

B.

Perkembangan Nasionalisme di Berbagai Negara

Pergerakan Kebangsaan India

India untuk menghadapi Inggris membentuk organisasi kebangsaan dengan nama All
India National Congres. Tokohnya, Mahatma Gandhi, Pandit Jawaharlal Nehru, B.G. Tilak,
dsb. Mahatma Gandhi memiliki dasar perjuangan:
1. Ahimsa (dilarang membunuh) yaitu gerakan anti peperangan.
2. Hartal, merupakan gerakan dalam bentuk asli tanpa berbuat apapun walaupun mereka
masuk kantor atau pabrik.
3. Satyagraha, merupakan gerakan rakyat India untuk tidak bekerja sama dengan
pemerintah kolonial Inggris.
4. Swadesi, merupakan gerakan rakyat India untuk memakai barang-barang buatan
negeri sendiri.
Selain itu adanya pendidikan Santiniketan oleh Rabindranath Tagore.

Gerakan Kebangsaan Filipina

Digerakkan oleh Jose Rizal dengan tujuan untuk mengusir penjajah bangsa Spanyol di
wilayah Filipina. Novel yang dikarangnya berupa Noli Me Tangere (Jangan Sentuh Aku). Jose
ditangkap tanggal 30 September 1896 dijatuhi hukuman mati. Akhirnya dilanjutkan Emilio
Aquinaldo yang berhasil memproklamasikan kemerdekaan Filipina tanggal 12 Juni 1898 tetapi
Amerika Serikatberhasil menguasai Filipina dari kemerdekaan baru diberikan Amerika Serikat
pada 4 Juli 1946.

Gerakan Nasionalis Rakyat Cina

Gerakan ini dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen, yang mengadakan pembaharuan dalam segala
sektor kehidupan bangsa Cina. Dia menentang kekuasaan Dinasti Mandsyu. Dasar
gerakan San Min Chu I: 1. Republik Cina adalah suatu negara nasional Cina 2. Pemerintah
Cina disusun atas dasar demokrasi (kedaulatan berada di tanggan rakyat) 3. Pemerintah Cina
mengutamakan kesejahteraan sosial bagi rakyatnya. Apa yang dilakukan oleh Dr. Sun Yat Sen
sangat besar pengaruhnya terhadap pergerakan rakyat Indonesia. Terlebih lagi setelah
terbentuknya Republik Nasionalis Cina (1911)

Pergerakan Turki Muda (1908)

Dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha menuntut pembaharuan dan modernisasi di segala
sektor kehidupan masyarakatnya. Ia ingin agar dapat menumbangkan Khilafah (Negeri
Islam)dengan faham racun (nasionalisme dan sekulerisme). Mustafa Kemal merupakan agen
Inggris (Negeri Penjajah). Gerakan Turki Muda ini banyak mempengaruhi munculnya
pergerakan nasional di Indonesia.

Pergerakan Nasionalisme Mesir

Dipimpin oleh Arabi Pasha (1881-1882) dengan tujuan menentang kekuasaan bangsa
Eropa terutama Inggris atas negeri Mesir. Adanya pandangan modern dari Mesir yang
dikemukakan olehMuhammad Abduh mempengaruhi berdirinya organisasi-organisasi
keagamaan di Indonesia seperti Muhammaddiyah. Intinya dengan gerakan kebangsaan dari
berbagai negara tersebut mendorong negara-negara lain termasuk Indonesia untuk
melakukan hal yang sama yaitu melawan penjajahan dan kolonialisme di negaranya.

Munculnya Paham-paham baru

Munculnya paham-paham baru di luar negeri seperti nasionalisme, liberalisme, sosialisme,


demokrasi dan pan islamisme juga menjadi dasar berkembangnya paham-paham yang serupa
di Indonesia. Perkembangan paham-paham itu terlihat pada penggunaan ideologi-ideologi
(paham) pada organisasi pergerakan nasional yang ada di Indonesia.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------2.Organisasi-organisasi Kebangsaan Nasional Indonesia

Masa pembentukan ( 1908 1920 )


1. Budi Utomo

Budi Utomo berdiri atas prakarsa dari Dokter Wahidin Sudirohusodo yang berpendapat
bahwa untuk mewujudkan masyarakat yang maju pendidikan harus diperluas. Gagasan Dokter
Wahidin Sudirohusodo ini pun mendapat dukungan dari masyarakat luas. Pada akhir tahun
1907 Dr. Wahidin Sudirohusodo berpidato menyampaikan gagasan ini di depan mahasiswa
Stovia (Sekolah Dokter Pribumi) di Jakarta. Pidato Dr. Wahidin Sudirohusodo mendapat
tanggapan positif dari mahasiswa Stovia. Kemudian Sutomo seorang mahasiswa Stovia
segera mengadakan pertemuan dengan teman-temannya guna membicarakan usaha
memperbaiki nasib bangsa. Pada hari Minggu tanggal 20 Mei 1908, Sutomo beserta
kawan-kawannya berkumpul di Jakarta dan sepakat mendirikan Budi Utomo yang
berarti usaha mulia. Tujuan Budi Utomo adalah mencapai kemajuan dan
meningkatkan derajat bangsa melalui pendidikan dan kebudayaan.
Kongres Budi Utomo yang pertama berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 3 Oktober 5
Oktober 1908. Dalam kongres yang pertama berhasil diputuskan beberapa hal berikut.

Membatasi jangkauan geraknya kepada penduduk Jawa dan Madura.

Tidak melibatkan diri dalam politik.

Bidang kegiatan adalah bidang pendidikan dan budaya.

Menyusun pengurus besar organisasi yang diketuai oleh R.T. Tirtokusumo.

Merumuskan tujuan utama Budi Utomo yaitu kemajuan yang selaras untuk negara dan
bangsa.
Budi Utomo merupakan pelopor organisasi moderen. Organissi ini menjadi model bagi
gerakan berikutnya. Walaupun ruang lingkup kegiatan Budi Utomo terbatas pada golongan
terpelajar dan wilayahnya meliputi Jawa, Madura dan Bali, akan tetapi Budi Utomo menjadi
tonggak awal kebangkitan nasional. Karena itu, oleh Bangsa Indonesia, kelahiran Budi
Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Keputusan tersebut tertuang dalam
Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 31, tanggal 16 Desember 1959.

2. Sarekat Islam (SI)


Pada mulanya Sarekat Islam adalah sebuah perkumpulan para pedagang yang bernama
Sarekat Dagang Islam (SDI). Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H.
Samanhudi sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. Garis yang diambil oleh SDI
adalah kooperasi, dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panjipanji Islam.
Keanggotaan SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang, maka tidak memiliki
anggota yang cukup banyak. Oleh karena itu agar memiliki anggota yang banyak dan luas
ruang lingkupnya, maka pada tanggal 18 September 1912, SDI diubah menjadi SI (Sarekat
Islam). Organisasi Sarekat Islam (SI) didirikan oleh beberapa tokoh SDI seperti H.O.S
Cokroaminoto, Abdul Muis, dan H. Agus Salim. Sarekat Islam berkembang pesat karena
bermotivasi agama Islam.
Latar belakang ekonomi berdirinya Sarekat Islam adalah:
perlawanan terhadap para pedagang perantara (penyalur) oleh orang Cina,

isyarat pada umat Islam bahwa telah tiba waktunya untuk menunjukkan kekuatannya, dan
membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera.
Tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan anggaran dasarnya adalah:
mengembangkan jiwa berdagang,

memberi bantuan kepada anggotanya yang mengalami kesukaran,


memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat naiknya derajat bumi putera,
menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam,
tidak bergerak dalam bidang politik, dan
menggalang persatuan umat Islam hingga saling tolong menolong.

3. Indische Partij (IP)


IP didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung oleh tokoh Tiga Serangkai,
yaitu E.F.E Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat.
Indische Partij merupakan satu-satunya organisasi pergerakan yang secara terang-terangan

bergerak di bidang politik dan ingin mencapai Indonesia merdeka. Tujuan Indische Partij
adalah untuk membangunkan patriotisme semua indiers terhadap tanah air. IP
menggunakan media majalah Het Tijdschrifc dan surat kabar De Expres pimpinan E.F.E
Douwes Dekker sebagai sarana untuk membangkitkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air
Indonesia.
Tujuan dari partai ini benar-benar revolusioner karena mau mendobrak kenyataan politik
rasial yang dilakukan pemerintah kolonial. Tindakan ini terlihat nyata pada tahun 1913. Saat itu
pemerintah Belanda akan mengadakan peringatan 100 tahun bebasnya Belanda dari tangan
Napoleon Bonaparte (Prancis). Perayaan ini direncanakan diperingati juga oleh pemerintah
Hindia Belanda. Adalah suatu yang kurang pas di mana suatu negara penjajah melakukan
upacara peringatan pembebasan dari penjajah pada suatu bangsa yang dia sebagai
penjajahnya.Hal yang ironis ini mendatangkan cemoohan termasuk dari para pemimpin
Indische Partij. R.M. Suwardi Suryaningrat menulis artikel bernada sarkastis yang berjudul Als
ik een Nederlander was, Andaikan aku seorang Belanda. Akibat dari tulisan itu R.M. Suwardi
Suryaningrat ditangkap oleh Belanda.

Bersifat Radikal
Organisasi-organisasi pergerakan nasional di masa radikal mempunyai ciri-ciri:
1. Sikap organisasi terhadap pemerintah kolonial adalah keras (radikal), yakni berani dan
terang-terangan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia
2. Menerapkan taktik nonkooperasi, artinya dalam memperjuangkan cita-citanya tidak
pernah mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda

Beberapa organisasi politik yang muncul pada masa radikal yaitu :


Perhimpunan Indonesia (PI),
Partai Komunis Indonesia (PKI) dan
Partai Nasional Indonesia (PNI).

1. Perhimpunan Indonesia (PI)


Perhimpunan Indonesia didirikan para pelajar Indonesia di negeri Belanda pada
tahun 1908. Semula organisasi ini bernama Indische Vereeniging dengan tokohnya Sutan
Kasayangan dan R.M. Noto Suroto. Pada tahun 1922 Indische Vereeniging diubah
menjadi Indonesische Vereeniging. Pada tahun 1924 nama organisasi ini diubah lagi
menjadi Perhimpunan Indonesia.
PI merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama kali memperkenalkan
nama Indonesia untuk menggantikan nama India, sehingga identitas kebangsaan
Indonesia menjadi jelas. Tokoh PI, antara lain: Moh. Hatta, Ahmad Subarjo, Nazir Pamuncak,
Abdul Majidjoyodiningrat, Ali Sastroamijoyo, lwa Kusuma Sumantri, Sitalana, Sastromulyono
dan Darmawan Mangunkusumo. Tujuan PI adalah menuntut Indonesia merdeka.

Untuk mendapatkan perhatian dunia, PI ikut dalam kegiatan organisasi intemasional


seperti:
Kongres Liga Demokrasi Internasional pada bulan Agustus 1926 di Paris, Prancis
Kongres LIga Antikolonial pada bulan Februari 1927 di Brussel, Belgia
Karena tindakan PI dianggap membahayakan, maka para pemimpin PI ditangkap Belanda,
tetapi kemudian dibebaskan karena tidak terbukti bersalah Paham PI mempengaruhi
organsiasi pergerakan nasional di tanah air. Terutama melalui tulisan-tulisan dalam
majalahnya bernama Indonesia merdeka (Hindia Putra).

2. Partai Komunis Indonesia (PKI)


PKI didirikan pada tahun 1920 oleh Semaun, sebagai penjelmaan ISDV (Indische
Social Dmeocratische Vereeniging) pimpinan Sneevliet. Semula bemama Perserikatan
Komunis Indonesia, tetapi setelah PI menggunakan nama Indonesia akhirnya organisasi ini
berubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia.
Tujuan PKI adalah mendirikan negara komunis di Indonesia. Untuk mencapai tujuan
tersebut, PKI melakukan propaganda yang menarik rakyat serta anti pemerintah penjajah.
Mulai tahun 1922, PKI menggerakkan pemogokan. Penggerak pemogokan, antara lain:
Semaun, Darsono, dan Tan Malaka, oleh pemerintah kolonial diusir dari Indonesia. Pada tahun
1926 PKI mengadakan pemberontakan di Pulau Jawa, dan pada tahun 1927 di Pulau
Sumatera, tetapi pemberontakan tersebut dapat ditumpas. Akibatnva, para pemimpin PKI
dibuang ke Tanah Merah (Digul), seperti Aliarkham dan Sarjono. Adapun Muso dan Alimin bisa
lari ke luar negeri.

3. Partai Nasional Indonesia (PNI)


Partai ini berdiri pada tanggal 4 Juni 1927 di Bandung. PNI didirikan oleh kalangan
pelajar yang tergabung dalam Algemeene Studie Club. Para tokoh pendiri PNI, antara lain:
Ir. Sukarno, lskak Cokroadisurya, Dr. Cipto Mangunkusumo, Dr. Samsi, Sartono,
Budiharto Martoatmojo, Sunario, Anwari, Ali Sastroamijoyo, Maskun, Gatot
Mangkuprojo, dan Supriadinata. PNI segera menjadi partai besar yang berwawasan
kebangsaan Indonesia. Tujuan PNI adalah kemerdekaan Indonesia dengan dasar
Marhenisme.
Atas inisiatif PNI, pada tahun 1927 terbentuk Permufakatan Perhimpunan Politik
Kebangsaan Indonesia (PPPKI), yaitu suatu perhimpunan dari berbagai organisasi bangsa
Indonesia yang anggotanya meliputi PNI, PSI, EU, Kaum Betawi, Pasundan dan lain-lain.
Kegiatan dan tujuan PNI membahayakan kelangsungan pemerintah kolonial Belanda. Oleh
karena itu, pada tanggal 29 Desember 1929, tokoh-tokoh PNI ditangkap Belanda dan
dimasukkan penjara Sukamiskin, Bandung. Di dalam penjara itulah, Ir. Soekarno menyusun
pembelaan yang kemudian dibukukan dengan judul "Indonesia Menggugat".
Mr. Sartono yang menggantikan kedudukan Jr. Soekarno membubarkan PNI dan
membentuk Partindo (Partai Indonesia). Muh. Hatta yang tidak menyetujui pembentukan
Partindo membentuk Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru). Setelah keluar dari penjara,

Ir. Soekarno bergabung dengan Partindo. Akibat kegiatannya dalam Partindo, Ir. Soekamo
ditangkap dan dibuang ke Ende, Flores (1933), kemudian dipindah ke Bengkulu (1937).
Sedangkan Moh. Hatta dan Sutan Syahrir dibuang ke Digul Atas, kemudian dipindah ke
Bandanaria, terakhir dipindah ke Cianjur. Sejak itu, Gubernur Jenderal De Jonge melakukan
tindakan keras terhadap kegiatan organisasi pergerakan nasional di Indonesia

Bersifat Moderat

Yang dimaksud dengan masa moderat yaitu masa di mana partai-partai politik mengubah
strategi perjuangannya secara lunak dan mau bekerja sama dengan pemerintah Belanda.
Sebab-sebab terjadinya perubahan taktik perjuangan adalah:

Tindakan pemerintah Belanda yang semakin keras dan menekan partai-partai politik
Krisis ekonomi dunia (melaise) sangat mempengaruhi keadaan ekonomi pemerintah
Belanda maupun pergerakan nasional

Organisasi-organisasi yang muncul dalam pergerakan nasional pada masa moderat,yaitu :


Partai Indonesia ( Partindo)
Persatuan Bangsa Indonesia (PBI),
Partai Indonesia Raya (Parindra),
Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), dan
Gabungan Politik Indonesia (GAPI).

Partai Indonesia (Partindo)


Ketika Ir. Soekarno yang menjadi tokoh dalam PNI ditangkap pada tahun 1929, maka PNI
pecah menjadi dua yaitu Partindo dan PNI Baru. Partindo didirikan oleh Sartono pada tahun
1929. Sejak awal berdirinya Partindo memiliki banyak anggota dan terjun dalam aksi-aksi
politik menuju Indonesia Merdeka. Dasar Partindo sama dengan PNI yaitu nasional.
Tujuannya adalah mencapai Indonesia merdeka. Asasnya pun juga sama yaitu self help
dan nonkooperasi. Partindo semakin kuat setelah Ir. Soekarno bergabung ke dalamnya pada
tahun 1932, setelah dibebaskan dari penjara. Namun, karena kegiatan-kegiatannya yang
sangat radikal menyebabkan pemerintah melakukan pengawasan yang cukup ketat. Karena
tidak bisa berkembang, maka tahun 1936 Partindo bubar.

Persatuan Bangsa Indonesia (PBI)


PBI bediri pada tahun 1930 dan merupakan gabungan dari Indonesische Studie Club
Surabaya dengan Sarekat Madura. Kemudian organisasi yang lain, seperti: Sarekat
Sumatera, Sarekat Celebes, dan Kaum Betawi juga ikut menggabungkan diri dengan PBI.
Tokoh pendirinya yaitu Ir. Sukarno dan Mr. Subroto. PBI bertujuan menyempurnakan
derajat bangsa dan tanah air Indonesia yang pada hakikatnya juga untuk mencapai
Indonesia merdeka.

Partai Indonesia Raya (Parindra)


Parindra merupakan fusi dari PBI dan Budi Utomo. Parindra berdiri pada tahun 1935 di
Solo dan pusat partai berada di Surabaya. Tujuan Parindra adalah terbentuknya Indonesia

Raya yang akan dicapai dengan memperkukuh semangat persatuan kebangsaan agar
dapat memperoleh pemerintahan yang demokratis. Tokoh Parindra antara lain: dr.
Sutomo, Moh. Husni Thamrin, dan Wuryaningrat. Sebelum Parindra berdiri, M. Husni
Thamrin pada tanggal 27 Januari 1930 membentuk Fraksi Nasional, yang bertujuan menjamin
adanya kemerdekaan nasional dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dengan cara
mengusahakan perubahan-perubahan ketatanegaraan.
Pada tanggal 15 Juli 1936, Parindra mengajukan "Petisi Sutarjo", kepada pemerintah
Belanda melalui Volksraad. Isi petisi: agar Indonesia diberi pemerintahan sendiri (otonomi)
secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 10 tahun. Ternyata petisi ini ditolak oleh
pemerintah Belanda, dengan alasan belum tiba waktunya.
Tokoh-tokoh Parindra yang duduk dalam Volksraad adalah Moh. Husni Thamrin, R. Sukarjo
Wiryopranoto, R. Panji Suroso, Wuryaningrat, dan Mr. Susanto Tirtoprojo. Kegiatan Parindra
antara lain:

Mendirikan perkumpulan pemuda Surya Wirawan


Meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan cara mendirikan Rukun Tani Indonesia,
Rukun Pelayaran Indonesia dan Bank Nasional di Surabaya
Menganjurkan Swadesi, yaitu gerakan untuk memakai barang produksi sendiri

Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)


Gerindo didirikan di Jakarta pada tanggal 24 Mei 1937. Tokoh-tokoh Gerindo, antara
lain: dr. A.K. Gani, Mr. Moh. Yamin, Mr. Amir Syarifuddin, Mr. Sartono, Mr. Wilopo, S.
Mangun Sarkoro, dan Nyono Prawoto. Gerindo merupakan kelanjutan dari Parindra.

Tujuan Gerindo adalah:


Mencapai Indonesia merdeka
Memperkokoh ekonomi Indonesia
Mengangkat kesejahteraan kaum buruh
Memberi bantuan bagi kaum pengangguran

Gabungan Politik Indonesia (GAPI)


GAPI berdiri pada bulan Mei 1939. Organisasi ini merupakan gabungan dari Parindra,
Gerindo, PSII, PII, Partai Katholik, Persatuan Minahasa, dan Pasundan. Tokoh-tokohnya,
antara lain: Moh. Husni Thamrin, Mr. Amir Syarifuddin, Abikusumo, dan Kasimo.

Alasan dibentuknya GAPI adalah:


Petisi Sutarjo untuk menuntut agar Indonesia diberi pemerintah sendiri ditolak oleh
pemerintah Belanda
Pemerintah Belanda kurang memperhatikan kepentingan bangsa Indonesia
Situasi dunia makin gawat akibat munculnya paham fasisme
Tuntutan GAPI kepada pemerintah Belanda:

Indonesia berparlemen yang sesungguhnya


Pemakaian bahasa Indonesia dalam sidang Volkstraad
Perubahan kata "Inlander" menjadi orang Indonesia
Penghapusan diskriminasi

Untuk menanggapi tuntutan GAPI, pemerintah Belanda membentuk Komisi Visman.Tugas


komisi Visman adalah untuk menyelidiki kehendak rakyat Indonesia. Tuntutan GAPI agar
Indonesia berparlemen tidak berhasil.

3. Kongres Pemuda 2 , 28~Oktober~1928


Persiapan Kongres
Upaya mempersatukan organisasi-organisasi pemuda pergerakan dalam satu wadah telah
dimulai sejak Kongres Pemuda Pertama 1926. Sebagai kelanjutannya, tanggal 20 Februari
1927 diadakan pertemuan, namun pertemuan ini belum mencapai hasil yang final.
Sebagai penggagas Kongres Pemuda Kedua adalah Perhimpunan Pelajar-pelajar
Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Hindia
Belanda.
Pada tanggal 3 Mei 1928 diadakan pertemuan lagi untuk persiapan kongres kedua, dan
dilanjutkan pada 12 Agustus 1928.
Pada pertemuan terakhir ini telah hadir perwakilan semua organisasi pemuda dan
diputuskan untuk mengadakan kongres pada bulan Oktober 1928, dengan susunan panitia
yang membagi jabatan pimpinan kepada satu organisasi pemuda (tidak ada organisasi yang
rangkap jabatan) sebagai berikut:

Ketua
Wakil Ketua
Sekretaris
Bendahara
Pembantu I
Pembantu II
Pembantu III
Pembantu IV
Pembantu V

:
:
:

:
:
:
:

Sugondo Djojopuspito (PPPI)


R.M. Joko Marsaid (Jong Java)
Muhammad Yamin (Jong Soematranen Bond)
:
Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond)
:
Johan Mohammad Cai (Jong Islamieten Bond)
R. Katjasoengkana (Pemoeda Indonesia)
R.C.I. Sendoek (Jong Celebes)
Johannes Leimena (Jong Ambon)
Mohammad Rochjani Su'ud (Pemoeda Kaoem Betawi)

Pelaksanaan
Kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.Rapat
pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, diadakan di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB),
Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo
Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari
para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Muhammad Yamin tentang arti dan hubungan

persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan
Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, kongres diadakan di Gedung Oost-Java Bioscoop,
membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi
Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan,
harus pula mendapat keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak
juga harus dididik secara demokratis.
Pada rapat penutupan di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106,
Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan.
Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional.
Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri: hal-hal yang
dibutuhkan dalam perjuangan. Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu Indonesia Raya
karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran
Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta
kongres. Kongres akhirnya ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh
para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Peserta
Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang
ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong
Sumatranen Bond,Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll.
Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey
Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie namun sampai saat ini tidak diketahui
latar belakang organisasi yang mengutus mereka.
Sementara Kwee Thiam Hiong hadir sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond.
Turut hadir juga 2 perwakilan dari Papua yakni Aitai Karubaba dan Poreu Ohee. Diprakarsai
oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang
dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------4. Organisasi Wanita Indonesia (masa Pergerakan Nasional)


Putri Mardika (1912)

Pergerakan wanita dipelopori oleh R.A.Kartini dari Jepara dengan mendirikan Sekolah
Kartini. Perkumpulan wanita yang didirikan sebelum tahun 1920 antara lain Putri Mardika yang
didirikan atas bantuan Budi Utomo.
Putri Mardika adalah organisasi keputrian tertua dan merupakan bagian dari Budi Utomo.
Tujuannya adalah untuk memberikan bantuan, bimbingan dan penerangan kepada wanita-

wanita pribumi dalam menuntut pelajaran dan dalam menyatakan pendapat di muka umum.
Kegiatannya antara lain sebagai berikut: memberikan beasiswa dan menerbitkan majalah
bulanan. Tokoh-tokohnya: P.A Sabarudin, R.A Sutinah Joyopranoto, R.R Rukmini, dan Sadikun
Tondokukumo.

Kartini Fonds (Dana Kartini)


Organisasi ini didirikan oleh Tuan dan Nyonya C. Th. Van Deventer, tokoh politik etis. Salah
satu usahanya adalah mendirikan sekolah-sekolah, misalnya: Sekolah Kartini di Jakarta,
Bogor, Semarang (1913), setelah itu di Madiun (1914), Malang dan Cirebon (1916),
Pekalongan (1917), Subabaya dan Rembang.

Kautamaan Istri
Organisasi ini berdiri sejak tahun 1904 di Bandung, yang didirikan oleh R. Dewi Sartika.
Pada tahun 1910 didirikan Sekolah Keutamaan Istri, dengan tujuan mengajar anak gadis agar
mampu membaca, menulis, berhitung, punya keterampilan kerumahtanggaan agar kelak
dapat menjadi ibu rumah tangga yang baik. Kegiatan ini kemudian mulai diikuti oleh kaum
wanita di kota-kota lainnya, yaitu Tasikmalaya, Garut, Purwakarta, dan Padang Panjang.

Kerajinan Amal Setia (KAS)


KAS didirikan di Kota Gadang Sumatra Barat oleh Rohana Kudus tahun 1914. Tujuannya
adalah untuk meningkatkan pendidikan wanita, dengan mengajarkan cara-cara mengatur
rumah tangga, membuat barang-barang kerajinan tangan beserta cara pemasarannya. Pada
tahun itu juga, KAS berhasil mendirikan sekolah wanita pertama di Sumatera sebelum
terbentuknya Diniyah Putri di Padangpanjang.

Aisyiah (1917)
Di Yogyakarta pada tahun 1912 didirikan perkumpulan wanita yang benafaskan Islam
dengan nama Sopa Tresna, yang kemudian pada tahun 1917 menjadi bagian wanita dari
Muhammadiyah dengan nama Aisyah .Aisyiah didirikan pada 22 April 1917 dan merupakan
bagian dari Muhammadiyah. Pendirinya adalah H. Siti Walidah Ahmad Dahlan. Kegiatan
utamanya adalah memajukan pendidikan dan keagamaan bagi kaum wanita, memelihara anak
yatim, dan menanamkan rasa kebangsaan lewat kegiatan organisasi agar kaum wanita dapat
mengambil peranan aktif dalam pergerakan nasional.Di Yogyakarta selain Aisyah juga ada

perkumpulan wanita yang bernama Wanito Utomo, yang mulai memasukkan perempuan ke
dalam kegiatan dasar pekerjaan ke arah emansipasi.

Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya (PIKAT)


PIKAT didirikan pada bulan Juli 1917 oleh Maria Walanda Maramis di Menado, Sulawesi
Utara. Tujuannya: memajukan pendidikan kaum wanita dengan cara mendirikan sekolahsekolah rumah tangga (1918) sebagai calon pendidik anak-anak perempuan yang telah tamat
Sekolah Rakyat. Di dalamnya diajari cara-cara mengatur rumah tangga yang baik,
keterampilan, dan menanamkan rasa kebangsaan.

Organisasi Kewanitaan Lain


Organisasi Kewanitaan lain yang berdiri cukup banyak, antara lain: Pawiyatan Wanita di
Magelang (1915), Wanita Susila di Pemalang (1918), Wanita Rukun Santoso di Malang, Budi
Wanita di Solo, Putri Budi Sejati di Surabaya (1919), Wanita Mulya di Yogyakarta (1920),
Wanita Katolik di Yogyakarta (1921), PMDS Putri (1923), Wanita Taman Siswa (1922), dan
Putri Indonesia (1927)

Kongres Perempuan Indonesia


Pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, diselenggarakan Kongres Perempuan
Indonesia pertama. Kongres tersebut diprakarsai oleh berbagai organisasi wanita seperti:
Wanita Utomo, Putri Indonesia, Wanita Katolik, Wanita Mulya, Aisyiah, SI, JIB, dan Taman
Siswa bagian wanita. Tujuan kongres adalah mempersatukan cita-cita dan usaha untuk
memajukan wanita Indonesia, dan juga mengadakan gabungan antara berbagai perkumpulan
wanita yang ada.
Dalam kongres itu diambil keputusan untuk mendirikan gabungan perkumpulam wanita
yang disebut Perikatan Perempuan Indonesia (PPI) dengan tujuan:

memberi penerangan dan perantaraan kepada kaum perempuan, akan


mendirikan studie fond untuk anak-anak perempuan yang tidak mampu;

mengadakan kursus-kursus kesehatan;

menentang perkawinan anak-anak;

memajukan kepanduan untuk organisasi-organisasi wanita tersebut di atas, pada


umumnya tidak mencampuri urusan politik dan berjuang dengan haluan kooperatif.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------5.Akibat dari pergerakan Nasionalisme di Indonesia


a. munculnya paham ideologis baru seperti
- Ideologis liberalisme
- ideologis Nasionalisme

- Ideologis pan islamisme

b. Lagu Indonesia Raya di jadikan lagu negara


c. Terbuatnya Sumpah Pemuda 28 oktober 1928
d. Lahirnya Organisasi-oraganisai perempuan yang di akui
e. Merdekanya Indonesia