Anda di halaman 1dari 67

HUBUNGAN SECTIO CAESAREA DENGAN KEJADIAN

ASFIKSIA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD)


PRINGSEWU PERIODE JANUARI-JUNI
TAHUN 2012

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Oleh :
ROSNA TIASMALA DEWI
NIM :1201S034P

AKADEMI KEBIDANAN HAMPAR BAIDURI


KALIANDA LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2013

HUBUNGAN SECTIO CAESAREA DENGAN KEJADIAN


ASFIKSIA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD)
PRINGSEWU PERIODE JANUARI-JUNI
TAHUN 2012

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menempuh ujian akhir D III
AKADEMI KEBIDANAN HAMPAR BAIDURI

Diajukan Oleh :
ROSNA TIASMALA DEWI
NIM :1201S034P

AKADEMI KEBIDANAN HAMPAR BAIDURI


KALIANDA LAMPUNG SELATAN
TAHUN 2013

LEMBAR PERSETUJUAN

Karya tulis ini telah disetujui untuk mempertahankan di hadapan tim penguji Karya
Tulis Ilmiah Jurusan Kebidanan Hampar Biduri.
Judul : HUBUNGAN SECTIO CAESAREA DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA DI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) PRINGSEWU PERIODE
JANUARI-JUNI TAHUN 2012
Nama Mahasiswa

: Rosna Tiasmala Dewi

NIM

:1201S034P

Menyetujui

Pembimbing I KaryaTulis Ilmiah

Sumarni, S.ST., M.Kes


NIDN. 0419097506

Pembimbing II Karya Tulis Ilmiah

Indah Fitriagustina, S.ST


NIDN. 0222087902

Direktur Akademi Kebidanan


Hampar Baiduri

Novi Eniastina Jasa. S.ST


NIDN. 0213118101

LEMBAR PENGESAHAN
Judul

: HUBUNGAN KARAKTERISTIK PENGETAHUAN


KEHAMILAN TRIMESTER 1 DI BPS YUNMAWARTI
SUMBEREJO KECAMATAN SUMBEREJO KABUPATEN
TANGGAMUS BULAN MEI JUNI 2012
Oleh : Rosna Tiasmala Dewi
NIM :1201S034P

Telah dipertahankan di depan tim penguji ujian sidang KTI dan dinyatakan
LULUS
Akademi Kebidanan Hampar Baiduri
Tanggal 01 Agustus 2013
TIM PENGUJI
Moderator

: Sumarni, S.ST., M.Kes

(.)

Penguji I

: Siti Maesaroh, S.ST

(.)

Penguji II

: Indah Fitri Agustina, S.ST

(.)

Mengesahkan
Direktur Akademi Kebidanan Hampar Baiduri

Novi Eniastina Jasa, SST


NID. 0213118101

ABSTRAK

Oleh
Rosna Tiasmala Dewi
Sectio caesarea adalah lahirnya janin, plasenta dan selaput ketuban melalui irisan
yang dibuat di dinding perut dan rahim. Di Negara berkembang, section caesarea
merupakan pilihan terakhir untuk menyelamatkan ibu dan janin. Angka kematian ibu
karena section caesarea yang terjadi sebesar 15,6% dari 1.000 ibu dan kejadian
asfiksianya sebesar 8,7% dari kelahiran hidup. Sedangkan dari hasil pre survey yang
dilakukan pada bulan maret 2012 didapatkan angka kejadian asfiksia pada bulan
Januari Desember 2011 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pringsewu
sebanyak 39 kasus dari 624 persaliana.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan section caesarea dengan
kejadian asfiksia di RSUD Pringsewu periode januari juni tahun 2012 agar dapat
dilakukan upaya-upaya meminimalkan angka kejadian asfiksia.
Metode dalam penelitian ini mengggunakan desain penelitian case control. Subjek
penelitian adalah Ibu bersalin yang dirawat di RSUD Pringsewu periode Januari
Juni 2012. Data yang dikumpulkan adalah banyaknya ibu bersalin dengan kejadian
asfiksia di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu.
Penelitian didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara section caesarea
dengan kejadian asfiksia di RSUD Pringsewu periode Januari - Juni tahun 2012 yang
dintunjukkan dengan nilai nilai X2hitung = 6,618 X2tabel = 3,841. Risiko asfiksia
meningkat dengan bertambahnya persalinan yang menggunakan metode section
caesarea,hal ini berkaitan dengan perubahan fisiologi akibat proses kelahiran. Section
caesarea memicu pengeluaran hormon stress pada ibu yang menjadi kunci
pematangan paru paru bayi yang terisi air atau jika bayi lahir dengan section
caesarea
tanpa tanda persalinan maka tidak akan mendapat manfaat bagi
pengeluaran cairan paru dan penekanan rongga toraks sehingga mengalami peru
paru basah yang kebih persisten.
Kesimpulan penelitian ini adalah setiap bayi yang lahir dengan section caesarea
memiliki resiko mengalami kejadian asfiksia lebih tinggi dari pada persalinan normal
hal ini disebabkan oleh perubahan fisiologi akibat proses persalinan.
Kata Kunci:Secti Caesarea, Asfiksia , RSUD Pringsewu
Pustaka, 21 (2003 2007)

RIWAYAT HIDUP
Nama

: ROSNA TIASMALA DEWI

Tempat tanggal lahir

: Bandar Lampung, 10 Agustus 1991

Agama

: Islam

Nama Ayah

: Suroso

Nama Ibu

: SitiAsmariyah

Anak ke

: 1 (satu)

Alamat

: Datarajan Blok IV UlubeluTanggamus

RIWAYAT PENDIDIKAN :
1.
2.
3.
4.

1998-2003
: Sekolah Dasar Negeri 1 Datarajan Ulubelu Tanggamus
2003-2006
: SMP Negeri 1 Sumberejo, Lulus Tahun 2006
2006-2009
: SMA Negeri 1 Sumberejo, Lulus Tahun 2009
2010 s/d sekarang : Akademi Kebidanan Hampar Baiduri Kalianda

PERSEMBAHAN
Karya tulis ini penulis persembahkan untuk:

Kedua orang tuaku tercinta, adikku, orang yang aku sayangi yang selalu
menanti dan siap menerima keberhasilan studiku, rekan rekan
mahasiswa seperjuangan yang telah banyak membantu dalam
penyelesaian study ku dan untuk Almamater Akademi
Kebidanan Hampar Baiduri
Lampung Selatan
Tercinta

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT atas segala limpahan Rahmat, Hidayah dan
Karunia-Nya, sehingga penyusunan KTI yang berjudulHubungan sectio caesarea
dengan kejadian asfiksia di rumah sakit umum daerah (rsud) pringsewu periode
januari-juni tahun 2013, dapat saya selesaikan. KaryaTulis Ilmiah ini disusun untuk

memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli Madya Kebidanan di Akademi


Kebidanan Hampar Baiduri Kalianda Lampung Selatan.
Penyelesaian KTI ini juga berkat dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Pada
kesempatan ini perkenankan penulis menghaturkan terima kasih kepada yang
terhormat:
1. Ibu Novi Eniastina Jasa,S.ST, selaku Direktur Akademi Kebidanan Hampar
Baiduri Kalianda Lampung Selatan.
2. Ibu Sumarni, S.ST, M.Kes, selaku Pembimbing I Karya Tulis Ilmiah yang telah
memberikan bimbingan dan masukan sehingga menyelesaikan Karya Tulis
Ilmiah ini.
3. Ibu Siti Maesaroh, S.ST. Selaku Penguji I yang telah memberikan bimbingan dan
masukan sehingga terselesaikan KaryaTulis Ilmiah ini
4. Ibu Indah Fitri Agustina, S.ST, selaku Penguji II yang telah memberikan
bimbingan dan masukan sehingga terselesaikan KaryaTulis Ilmiah ini.
5. Staf dosen dan tata usaha Akademi Kebidanan Hampar Baiduri Kalianda
Lampung Selatan.
6. Bapak, Ibu, dan saudara tercinta yang telah memberikan dukungan, doa dan
semangatnya.
7. Teman-teman di Akbid Hampar Baiduri Kalianda Lampung Selatan.
8. Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan KaryaTulis Ilmiah ini.
Semoga ALLAH SWT berkenan membalas kebaikan serta bantuan yang telah
diberikan dan semoga KTI ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu
pengetahuan, khususnya dibidang kesehatan.
Penulis menyadari dalam penulisan ini masih banyak kekurangan untuk itu,
penulis sangat mengharapkan masukan serta saran-saran yang membangun guna
perbaikan selanjutnya. Semoga ALLAH SWT senantiasa melindungi kita semua.
Amin.
Kalianda, Agustus 2013

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Sampul Depan................................................................................... i
Halaman Sampul Dalam................................................................................... ii
Lembar Persetujuan.......................................................................................... ii
Lembar Pengesahan.......................................................................................... iii

Abstrak.............................................................................................................. v
Persembahan..................................................................................................... vii
Riwayat Hidup Penulis..................................................................................... viii
Kata Pengantar.................................................................................................. ix
Daftar Isi........................................................................................................... xi
Daftar Gambar.................................................................................................. xi
Daftar Tabel...................................................................................................... xii
Daftar Lampiran................................................................................................ xiii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..............................................................................
1.2 Identifikasi Masalah.....................................................................
1.3 Masalah dan permasalahan...........................................................
1.4 Tujuan Penelitian..........................................................................
1.5 Manfaat Penelitian........................................................................
1.6 Ruang Lingkup Penelitian / Jenis Penelitian................................

1
5
5
5
6
7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konsep Dasar Asfiksia pada Bayi Baru Lahir.............................. 9
2.2 Konsep dasar Sectio Caesarea.................................................... 20
2.3 Penelitian Terdahulu.................................................................... 28
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Kerangka Konseptual................................................................... 30
3.2 Variabel dan Definisi Operasional................................................ 30
3.3 Hipotesis...................................................................................... 31
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1 Desain penelitian..........................................................................
4.2 Populasi Penelitian.......................................................................
4.3 Sampel Penelitian dan Teknik Sampling.....................................
4.4 Lokasi dan waktu penelitian........................................................
4.5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data...................................
4.6 Teknik dan pengolahan data........................................................
4.7 Teknik dan Analisis Data.............................................................

32
32
33
33
33
34
35

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1 Hasil Penelitian............................................................................. 37
5.2 Hasil Analisis Statistik........................................................ 43
5.3 Pembahasan.................................................................................. 45
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan................................................................................... 53
6.2 Saran................................................................................ 54
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

Gambar2.2 Kerangka Konseptual.................................................................. 32

DAFTAR TABEL
Tabel3.1
Tabel 4.1
Tabel 4.2
Tabel 4.1

Variabel Definisi Operasional........................................................


Distribusi Frekuensi Kejadian asfiksia dengan Sectio Caesarea
di RSUD Pringsewu PeriodeJanuari Juni Tahun 2012.
Distribusi Frekuensi Ibu Bersalin dengan Sectio Caesarea
di RSUD Pringsewu Periode Januari Juni Tahun 2012..............
Hubungan Sectio caesarea dengan Kejadian Asfiksia
di RSUD Pringsewu PeriodeJanuari Juni Tahun 2012...............

32
43
43
44

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian


Lampiran 2. Surat Jawaban Izin Penelitian
Lampiran 3.Hasil Olah Data Penelitian
Lampiran 4. Lembar Kegiatan Bimbingan KTI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di


Indonesiamerupakan angka tertinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN
lainnya.Berbagai faktor yang terkait dengan resiko terjadinya komplikasi yang
berhubungandengan kehamilan dan cara pencegahannya telah diketahui, namun
demikian jumlahkematian ibu dan bayi masih tetap tinggi (Depkes RI, 2005).
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2006 (2008, dalam Depkes RI),
AKIIndonesia adalah 307/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2002, sedangkan AKB
diIndonesia sebesar 35/1000 kelahiran hidup.
Penyebab kematian bayi yaitu BBLR 38,94%, asfiksia lahir 27,97%. Hal
inimenunjukkan bahwa 66,91% kematian perinatal dipengaruhi oleh kondisi ibu
saatmelahirkan. Dalam beberapa tahun terakhir AKB telah banyak mengalami
penurunan yang cukup besar meskipun pada tahun 2001 meningkat kembali sebagai
dampak dari berbagai krisis yang melanda Indonesia pada tahun 1995
AKBdiperkirakan sebesar 55 per 1.000 kelahiran hidup, kemudian turun menjadi 52
pada tahun 1997 dan turun lagi menjadi 44 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun
1999, kemudian naik menjadi 47 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2000.
AKBmenurut hasil SURKESNAS (Survey Kesehatan Nasional)berturut-turut pada
1 hidup dan pada tahun 2002 sebesar 45 per
tahun 2001 sebesar 50 per 1.000 kelahiran
1.000 kelahiran hidup,sedangkan AKBmenurut hasil SDKI 2002 2003 terjadi
penurunan yang cukup besar, yaitu menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup (Profil
Kesehatan Indonesia, 2005).
Pertolongan operasi persalinan merupakan tindakan dengan tujuan untuk
menyelamatkan ibu maupun bayi.Bahaya persalinan operasi masih tetap mengancam

sehingga perawatan setelah operasi memerlukan perhatian untuk menurunkan angka


kesakitan dan kematian (I.G.B. Manuaba, 2002).
Di negara berkembang, sectio caesarea merupakan pilihan terakhiruntuk
menyelamatkan ibu dan janin pada saat kehamilan dan atau persalinan kritis. Angka
kematian ibu karena sectio caesarea yang terjadi sebesar 15,6% dari1.000 ibu dan
kejadian asfiksia sedang dan berat pada sectio caesarea sebesar8,7% dari 1.000
kelahiran hidup sedangkan kematian neonatal dini sebesar26,8% per 1.000 kelahiran
hidup.(Sibuea, 2007).
Insiden asfiksia neonatorum di negara berkembang lebih tinggidaripada di
negara maju.Di negara berkembang, lebih kurang 4 juta bayi barulahir menderita
asfiksia sedang atau berat, dari jumlah tersebut 20%diantaranya meninggal. Di
Indonesia angka kejadian asfiksia kurang lebih 40per 1000 kelahiran hidup, secara
keseluruhan 110.000 neonatus meninggalsetiap tahun karena asfiksia (Dewi dkk,
2007)
Anestesi pada sectio caesarea dapat mempengaruhi aliran darahdengan
mengubah tekanan perfusi atau resistensi vaskuler baik secaralangsung maupun tidak
langsung. Anestesi spinal dan anestesi generalmempunyai pengaruh yang berbeda
pada ibu maupun janinnya.Salah satupengaruh anestesi terhadap janin adalah
terjadinya asfiksia neonatorum.Berdasarkan penelitian sebelumnya menyimpulkan
bahwa anestesiberpengaruh terhadap kejadian asfiksia neonatorum dimana angka
kejadianasfiksia menit pertama pada anestesi spinal lebih rendah dibandingkan
anestesiumum yaitu 15,7% dibanding 52,9%. Sedangkan angka kejadian asfiksia

padamenit kelima pada anestesi spinal lebih rendah dibandingkan dengan


anestesigeneral yaitu 2,9% dibanding 8,6% (Eliza, 2003)
Kejadian asfiksia pada bayi baru lahir dapat disebabkan oleh berbagai faktor
diantaranya adalah dari faktor persalinan dengan tindakan yaitu persalinan dengan
sectio caesarea. Hansen dan koleganya mempublikasikan British Medical Journal
Online 11 desember 2007, yang meneliti lebih dari 34.000 kelahiran di Denmark.
Mereka menemukan hampir empat kali peningkatan risiko kesulitan bernafas pada
bayi-bayi yang dilahirkan secara sectio caesarea. (Helen Varney, 2007)
Menurut Helen Varney 2007, neonatus yang dilahirkan dengan sectio
caesarea, terutama jika tidak ada tanda persalinan, tidak mendapatkan manfaat dari
pengeluaran cairan paru dan penekanan pada toraks sehingga mengalami gangguan
pernafasan yang lebih persistan. Kompresi toraks janin pada persalinan kala II
mendorong cairan untuk keluar dari saluran pernafasan.
Dan menurut Anne Hansen dari Aarhus University Hospital, Denmark, dimana
berkaitan dengan perubahan fisiologis akibat proses kelahiran. Proses kelahiran
dengan sectio caesarea memicu pengeluaran hormon stress pada ibu yang menjadi
kunci pematangan paru-paru bayi yang terisi air.
Sander 1978 menemukan bahwa tekanan yang agak besar seiring dengan
ditimbulkan oleh kompresi dada pada kelahiran pervaginam dan di perkirakan bahwa
cairan paru-paru yang didorong setara dengan seperempat kapasitas residual
fungsional. Jadi, pada bayi yang lahir dengan sectio caesarea mengandung cairan
lebih banyak dan udara lebih sedikit di dalam parunya selama enam jam pertama
setelah lahir. Kompresi toraks yang menyertai kelahiran pervagainam dan ekspansi

yang mengikuti kelahiran, mungkin merupakan suatu faktor penyokong pada inisiasi
respirasi (Cunningham, 2005).
Dari studi pendahuluan di RSUD Pringsewu pada tahun 2011 terdapat 624
bayi yang dilahirkan dengan persalinan sectio caesarea. Dari persalinan sectio
caesarea terdapat 39 bayi yang mengalami asfiksia. Sedangkan periode bulan Januari
sampai Maret 2012 terdapat 184 kelahiran, dimana kelahiran sectio caesarea
sebanyak 130 kelahiran dan 52 kelahiran normal sedangkan sisanya kelahiran dengan
tindakan vacum. Dari 130 kelahiran dengan cara sectio caesarea terdapat delapan
bayi yang mengalami gangguan pernafasan sedangkan pada 52 kelahiran normal
terdapat dua bayi yang mengalami gangguan sistem pernafasan.
Bila dilihat dari angka kejadian diatas, asfiksia pada bayi baru lahir masih
cukup tinggi, dimana kejadian asfiksia tersebut dapat disebabkan oleh berbagai
faktor, salah satunya adalah faktor persalinan dengan tindakan yaitu dengan sectio
caesarea. Oleh sebab itu peneliti tertarik untuk mengetahui apakah ada hubungan
antara persalinan sectio caesarea dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir.
1.2

Identifikasi Masalah Rumusan Masalah


Persalinan sectio caesarea terdapat 39 bayi yang mengalami asfiksia.

Sedangkan periode bulan Januari sampai Maret 2012 terdapat 184 kelahiran, dimana
kelahiran sectio caesarea sebanyak 130 kelahiran dan 52 kelahiran normal sedangkan
sisanya kelahiran dengan tindakan vacum. Dari 130 kelahiran dengan cara sectio
caesarea terdapat delapan bayi yang mengalami gangguan pernafasan sedangkan
pada 52 kelahiran normal terdapat dua bayi yang mengalami gangguan sistem
pernafasan.

1.3

Masalah dan permasalahan


Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti tentang

Apakah ada hubungan sectio caesarea dengan kejadian asfiksia di Rumah Sakit
Umum Daerah (RSUD) Pringsewu pada tahun 2012 ?
1.4
Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara kelahiran sectio caesarea dengan kejadian
asfiksia pada bayi baru lahir di RSUD Pringsewu tahun 2012.
1.4.2 Tujuan Khusus
a. Diketahui kejadian persalinan sectio caesarea di RSUD Pringsewu.
b. Diketahui kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di RSUD Pringsewu.
c. Diketahuihubungan antara persalinan sectio caesarea dengan kejadian
asfiksia pada bayi baru lahir di RSUD Pringsewu.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini di harapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat
dan berkepentingan.
1.5.1

Manfaat Teoritis
Untuk menambah wawasan pembaca tentang hubungan sectiocaesareadengan

kejadian asfiksia di RSUD Pringsewu.


1.5.2. Manfaat Praktis
1.5.2.1 Bagi Peneliti
Untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan dan mutu pelayanan dalam
penanganan bayi risiko tinggi, terutama penanganan asfiksia yang disebabkan karena
persalinan dengan sectio caesarea yang merupakan penerapan ilmu dari materi kuliah

yang sudah didapatkan serta merupakan pengalaman pertama dalam pembuatan


Karya Tulis Ilmiah.
1.5.2.2 Bagi RSUD Pringsewu
Untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan dan mutu pelayanan dalam
penanganan bayi risiko tinggi, terutama penanganan asfiksia yang disebabkan karena
persalinan sectio caesarea.
1.5.2.3 Bagi STIKes Aisyah Pringsewu
Menambah kajian dalam bidang ilmu kesehatan anak khususnya neonatologi
serta memacu untuk penemuan teknik penanganan dan perawatan pada bayi yang
lahir yang lebih efektif dan efisien.
1.5.2.4 Bagi Peneliti yang Akan Datang
Dapat dijadikan referensi/acuan untuk

meneliti tentang faktor-faktor yang

mempengaruhi kejadian asfiksia.


1.6 Ruang Lingkup Penelitian/Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi ruang lingkup wilayah yaitu RSUD
Pringsewu Kabupaten Pringsewu.Penelitian ini dilaksanakan mulai pada tanggal 1
Maret sampai dengan 1 Juni tahun 2012.Adapun jenis penelitian ini menggunakan
survey analisis dengan pendekatan case control. Subjek dalam penelitian ini yaitu Ibu
bersalin di RSUD Pringsewu, sedangkan yang menjadi objek penelitian ini Hubungan
sectio caesarea dengan kejadian asfiksia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Asfiksia pada Bayi Baru Lahir


2.1.1 Pengertian Asfiksia
Asfiksia adalah keadaan yang ditandai dengan hipoksemiam (penurunan
paO2), hiperkarbia ( peningkatan paCO2 ), dan asidosis / penurunan PH (Stright,
Barbara 2004).
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan yang merupakan kelanjutan dari
kegawatan janin (fetal distress) intrauteri yang disebabkan oleh banyak hal (Manuaba,
2007).
Towel (2002) mengemukakan bahwa kegagalan pernafasan/ asfiksia pada
bayi disebabkan karena beberapa faktor, salah satunya adalah faktor persalinan yang
meliputi partus lama, partus dengan tindakan (SC, VE dan FE).Sedangkan menurut
Helen Varney (2007), kegagalan pernafasan pada bayi baru lahir adalah disebabkan

karena persalinan dengan tindakan, partus lama, trauma kelahiran, infeksi serta
penggunaan obat-obatan selama persalinan.

2.1.2

Etiologi Asfiksia Neonatorum (Manuaba, 2007)


Ada beberapa faktor etiologi asfiksia neonatorum yaitu :
9
a)
Maternal
Faktor maternal disebabkan oleh hipotensi, syok dengan sebab apapun,
anemia maternal, penekanan respirasi atau penyakit paru, malnutrisi, asidosis,
dan dehidrasi, supine hipotensi yang dapat mengakibatkan aliran darah
menuju plasenta akan berkurang sehingga O2 dan nutrisi makin tidak
seimbang untuk memenuhi kebutuhan metabolisme, transportasi O2 makin
turun sehingga konsumsi O2janin tidak terpenuhi, metabolisme janin sebagian
menuju metabolisme anaerob sehingga terjadi timbunan asam laktat dan
piruvat, serta menimbulkan asidosis metabolic, semuanya memberikan
kontribusi pada penurunan konsentrasi O2 dan nutrisi dalam darah yang
menuju plasenta sehingga konsumsi O2 dan nutrisi janin makin menurun.
(a)
Uterus
Faktor uterus disebabkan oleh aktivitas kontraksi memanjang /
hiperaktivitas dan gangguan vascular. Dari kedua faktor ini dapat
menyebabkan aliran darah menuju plasenta makin menurun sehingga O 2 dan
nutrisi menuju janin makin berkurang, timbunan glukosanya yang
menimbulkan energi pertumbuhan melalui O2, dengan hasil akhir CO2 atau
habis karena dikeluarkan melalui paru atau plasenta janin, tidak cukup untuk

memenuhi kebutuhan, metabolisme beralih menuju metabolisme anaerob yang


menimbulkan asidosis.
(b)
Plasenta
Faktor plasenta disebabkan oleh degenerasi vaskularnya,

solusio

plasenta, dan pertumbuhan hipoplasia primer. Yang akan mengakibatkan


fungsi plasenta akan berkurang sehingga tidak mampu memenuhi O2 dan
nutrisi metabolisme janin, metabolisme beralih menuju metabolisme anaerob
dan akhirnya asidosis dengan pH darah turun.
(c)
Tali pusat
Faktor tali pusat disebabkan oleh kompresi tali pusat, simpul mati
(lilitan tali pusat), dan hilangnya Jelly Wharton. Hal ini dapat mengakibatkan
aliran darah menuju janin berkurang, tidak mampu memenuhi O2 dan nutrisi,
danmetabolisme berubah menjadi metabolisme anaerob
(d)
Janin
Faktor janin di sebabkan oleh infeksi, anemia janin, dan perdarahan.
Dari faktor tersebut tersebut dapat mengakibatkan Kebutuhan metabolisme
makin tinggi, sehingga ada kemungkinan tidak dapat dipenuhi oleh aliran
darah dari plasenta, aliran nutrisi dan O2 tidak cukup menyebabkan
metabolisme janin menuju metabolisme anaerob, sehingga terjadi timbunan
asam laktat dan piruvat, kemampuan untuk transportasi O 2 dan membuang
CO2 tidak cukup sehingga metabolisme janin berubah, menjadi menuju
anaerob yang menyebabkan asidosis, dapat terjadi pada bentuk : plesenta
previa, solusio plasenta, pecahnya sinus marginalis, pecahnya vasa previa dan
dapat menyebabkan aliran darah menuju janin akan mengalami gangguan
sehingga nutrisi dan O2 makin berkurang sehingga metabolism janin akan
beralih menuju metabolisme anaerob yang menimbulkan asidosis

2.1.3

Patofisiologi Asfiksia Neonatorum ( Varney, Helen 2007 )


Terjadinya hipoksia dimulai dengan frekuensi jantung dan tekanan darah pada

awalnya meningkat dan bayi melakukan upaya megap-megap (gasping). Bayi


kemudian masuk periode apnea primer. Bayi yang menerima stimulasi adekuat
selama apnea primer akan mulai melakukan usaha nafas lagi. Bayi-bayi yang
mengalami proses asfiksia lebih jauh berada dalam tahap apnea sekunder. Apnea
sekunder cepat menyebabkan kematian jika bayi tidak benar-benar didukung oleh
pernafasan buatan dan bila diperlukan, kompresi jantung.Selama apnea sekunder,
frekuensi jantung dan tekanan darah, warna bayi berubah dari biru ke putih karena
bayi baru lahir menutup sirkulasi perifer sebagai upaya memaksimalkan aliran darah
ke organ-organ, seperti jantung, ginjal dan adrenal.Selama apnea, penurunan oksigen
yang

tersedia

menyebabkan

pembuluh

darah

di

paru-paru

mengalami

kontriksi.Vasokontriksi ini menyebabkan paru-paru resistean terhadap ekspansi


sehingga mempersulit kerja resusitasi.
Dalam periode singkat, kurang oksigen menyebabkan metabolisme pada bayi
baru lahir berubah menjadi metabolisme anaerob, terutama karena kurangnya glukosa
yang di butuhkan untuk sumber energi pada saat kedaruratan. Neonatus yang lahir
melalui sectio caesarea, terutama jika tidak ada tanda persalinan, tidak mendapatkan
manfaat dari pengurangan cairan paru dan penekanan pada toraks sehingga
mengalami paru-paru basah yang lebih persisten. Situasi ini dapat mengakibatkan
takipnea sementara pada bayi baru lahir (transient tachypnea of the newborn TTN).
Menurut Wiknjosastro (2004), asfiksia terjadi karena gangguan pertukaran gas
dan pengangkutan O2 dari ibu ke janin, sehingga terdapat gangguan dalam persediaan
O2 dan dalam menghilangkan CO2 dan dapat berakibat O2 tidak cukup dalam darah

disebut hipoksia dan CO2 tertimbun dalam darah disebut hiperapnea. Akibatnya dapat
menyebabkan asidosis tipe respiratorik atau campuran dengan asidosis metabolik
karena mengalami metabolisme yang anaerob serta juga dapat terjadi hipoglikemia.
2.1.4

Diagnosis
Diagnosis hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya

tanda-tanda gawat janin. Tiga hal yang perlu mendapat perhatian ( Depkes, 2001 )
1. Denyut jantung janin
Frekuensi normal adalah antara 120-160 denyut semenit, selama his
frekuensi ini bisa turun, tetapi diluar his kembali lagi kepada keadaan semula.
Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak besar artinya, akan
tetapi apabila frekuensi turun sampai di bawah 100 x/mnt di luar his dan
lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya.
2.

Mekanisme dalam air ketuban


Mekoneum pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada

presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenasi dan harus


menimbulkan kewaspadaan. Asalnya mekoneum dalam air ketuban pada
presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila
hal itu dapat dilakukan dengan mudah.
3.

Pemeriksaan pH darah janin


Dengan menggunakan amnioskopi yang dimasukkan lewat serviks dibuat

sayatan kecil pada kulit kepala janin dan diambil contoh darah janin.Darah ini
diperiksa pH nya. Adanya asidosis menyebabkan turunnya Ph. Apabila PH itu

sampai turun dibawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya oleh
beberapa penulis.
4.

5.

2.1.5

Anamnesis :
a) Gangguan atau kesulitan waktu lahir
b) Lahir tidak bernafas / menangis
c) Air ketuban bercampur mekoneum
Pemeriksaan Fisik :
a) Bayi tidak bernafas atau nafas megap-megap
b) Denyut jantung < 100 x/menit
c) Kulit sinosis, pucat
d) Tonus otot menurun
e) Untuk diagnosis asfiksia tidak perlu menunggu nilai apgar score.

Tanda dan Gejala


1) Apnu Primer : pernafasan cepat, denyut nadi menurun dan tonus
neuromuscular menurun
2) Apnu sekunder: apabila asfiksia berlanjut, bayi menunjukkan pernafasan
megap-megap yang dalam, denyut jantung terus menurun, bayi terlihat
lemah ( pasif ), pernafasan makin lama makin lemah.

2.1.6

Derajat Berat Ringannya Asfiksia


Aspek yang sangat penting dari resusitasi bayi baru lahir adalah menilai bayi,

menentukan tindakan yang akan dilakukan dan akhirnya melaksanakan tindakan


resusitasi. Upaya resusitasi yang efesien dan efektif berlangsung melalui rangkaian
tindakan yaitu menilai pengambilan keputusan dan tindakan lanjutan.
Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata ditentukan oleh tiga tanda
penting, yaitu :
1. Penafasan:
Tidak bernapas Menangis lemah; terdengar seperti merengek atau
mendengkur; Lambat, ireguler Baik, menangis kuat.
2. Denyut jantung
Denyut jantung tidak ada < 100x/min > 100x/min
3. Warna kulit

Warna kulit biru - abu-abu atau pucat di seluruh tubuh Badan merah, kaki
dan tangan biru Seluruh tubuh dan anggota gerak merah.
Nilai apgar tidak dipakai untuk menentukan kapan memulai resusitasi atau
membuat keputusan mengenai jalannya resusitasi. Apabila penilaian pernafasan
menunjukkan bahwa bayi tidak bernafas atau pernafasan tidak kuat, harus segera
ditentukan dasar pengambilan kesimpulan untuk tindakan vertilasi dengan tekanan
positif (VTP) (Zaira, 2010)
Tabel 2.1 Derajat Berat Ringannya Asfiksia
Tanda
Frekuensi
jantung

Nilai
0
Tidak ada

Nilai
1
Lambat dibawah 100

Nilai
2
Di atas 100

Lambat tidak teratur


Usaha nafas

Tidak ada
Beberapa fleksi
ekstremitas

Tonus otot

Flaksid

Menangis
dengan baik
Gerakan aktif

Menyeringai
Reflek mudah
terjadi

Tidak ada

Warna kulit

Biru pucat

1)
2)
3)
4)

Menangis kuat
Tubuh merah muda,
ekstremitas biru
Merah muda
seluruhnya

Ringan bila nilai APGAR 7 10


Asfiksia sedang bila nilai APGAR score 4 6
Asfiksia berat bila nilai APGAR score 0 3
WHO menganjurkan skor SIGTUNA yang hanya menggunakan 3 variabel yaitu
pernafasan, denyut jantung dan warna kulit. (Depkes RI, 2002).

2.1.7

Penatalaksanaan Awal Asfiksia

1) Cegah pelepasan panas yang berlebihan, keringkan (hangatkan) dengan


menyelimuti sewluruh tubuhnya terutama bagian kepala dengan handuk
yang kering.
2) Bebaskan jalan nafas : atur posisi-isap lender
Bersihkan jalan nafas bayi dengan hati-hati dan pastikan bahwa jalan nafas
bayi bebas dari hal-hal yang dapat menghalangi masuknya udara kedalam
paru-paru. Hal ini dapat dilakukan dengan:
a) Extensi kepala dan leher sedikit lebih rendah dari tubuh bayi
b) Hisap lendir/cairan pada mulut dan hidung bayi sehingga jalan nafas bayi
bersih dari cairan ketuban, mekoneum/lendir dan darah menggunakan
penghisap lendir dee lee.
3) Rangsangan taktil
Bisa mengeringkan tubuh bayi dan penghisap lendir/cairan dari mulut dan
hidung yang pada dasarnya merupakan tindakan rangsangan belum cukup
untuk menimbulkan pernafasan yang adekuat pada bayi baru lahir dengan
penyulit, maka diperlukan rangsangan taktil tambahan.Selama melakukan
rangsangan taktil, hendaknya jalan nafas sudah dipastikan bersih. Walaupun
prosedur ini cukup sederhana tetapi perlu dilakukan dengan cara yang betul.
Ada 2 cara yang memadai dan cukup aman untuk memberikan rangsangan
taktil yaitu :
a) Menepuk atau menyentil telapak kaki dan menggosok punggung bayi.
Cara ini sering kali menimbulkan pernafasan pada bayi yang mengalami
depresi pernafasan yang ringan
b) Cara lain yang cukup aman adalah melakukan penggosokan pada
punggung bayi secara cepat, mengusap atau mengelus tubuh, tungkai dan

kepala bayi juga merupakan rangsangan taktil, tetapi rangsangan yang


ditimbulkan lebih ringan dari menepuk, menyentil atau menggosok.
Prosedur ini tidak dilakukan pada bayi-bayi dengan apnu, hanya
dilakukan pada bayi-bayi yang telah berusaha bernafas. Elusan pada
tubuh bayi, dapat membantu untuk meningkatkan frekuensi dan dalamnya
pernafasan.
2.1.8

Prognosis
Prognosis tergantung pada kekurangan O2 dan luasnya perdarahan dalam otak

bayi. Bayi yang dalam keadaan asfiksia dan pulih kembali harus dipikirkan
kemungkinannya menderita cacat mental seperti epilepsy dan bodoh pada masa
mendatang ( Mochtar, Rustam 2001)
2.1.9

Komplikasi
1) Sembab otak
2) Perdarahan otak
3) Anuria atau oliguria
4) Hiperbilirubinemia
5) Obstruksi usus yang fungsional
6) Kejang sampai koma
7) Komplikasi akibat resusitasinya sendiri ( pneumothorak )
(Lab/UPF Ilmu Kesehatan Anak, 2001)

2.1.10 Resusitasi
1) Langkah-Langka Resusitasi
a) Letakkan bayi di lingkungan yang hangat kemudian keringkan tubuh
bayi dan selimuti tubuh bayi untuk mengurangi evaporasi.
b) Sisihkan kain yang basah kemudian tidurkan bayi terlentang pada
c)

alas yang datar.


Ganjal bahu dengan kain setinggi 1 cm (snifing positor).

d) Hisap lendir dengan penghisap lendir de lee dari mulut, apabila mulut
e)

sudah bersih kemudian lanjutkan ke hidung.


Lakukan rangsangan taktil dengan cara menyentil telapak kaki bayi

f)

dan mengusap-usap punggung bayi.


Nilai pernafasan jika nafas spontan lakukan penilaian denyut jantung
selama 6 detik, hasil kalikan 10. Denyut jantung > 100 x / menit, nilai
warna kulit jika merah / sinosis penfer lakukan observasi, apabila
biru beri oksigen. Denyut jantung < 100 x / menit, lakukan ventilasi
tekanan positif.
Jika pernapasan sulit (megap-megap) lakukan ventilasi tekanan

positif.
Ventilasi tekanan positif / PPV dengan memberikan O2 100 %
melalui ambubag atau masker, masker harus menutupi hidung
dan mulut tetapi tidak menutupi mata, jika tidak ada ambubag
beri bantuan dari mulur ke mulut, kecepatan PPV 40 60 x /

menit.
Setelah 30 detik lakukan penilaian denyut jantung selama 6

detik, hasil kalikan 10.


100 hentikan bantuan nafas, observasi nafas spontan.
60 100 ada peningkatan denyut jantung teruskan pemberian

PPV.
60 100 dan tidak ada peningkatan denyut jantung, lakukan

PPV, disertai kompresi jantung.


< 10 x / menit, lakukan PPV disertai kompresi jantung.
Kompresi jantung
Perbandingan kompresi jantung dengan ventilasi adalah 3 : 1, ada 2

cara kompresi jantung :

(1) Kedua ibu jari menekan stemun sedalam 1 cm dan tangan lain
mengelilingi tubuh bayi.
(2) Jari tengah dan telunjuk menekan sternum dan tangan lain menahan
belakang tubuh bayi.
(3) Lakukan penilaian denyut jantung setiap 30 detik setelah kompresi
dada.
(4) Denyut jantung 80x./menit kompresi jantung dihentikan, lakukan PPV
sampai denyut jantung > 100 x / menit dan bayi dapat nafas spontan.
(5) Jika denyut jantung 0 atau < 10 x / menit, lakukan pemberian obat
epineprin 1 : 10.000 dosis 0,2 0,3 mL / kg BB secara IV.
(6) Lakukan penilaian denyut jantung janin, jika > 100 x / menit hentikan
obat.
(7) jika denyut jantung < 80 x / menit ulangi pemberian epineprin sesuai
dosis diatas tiap 3 5 menit.
(8) Lakukan penilaian denyut jantung, jika denyut jantung tetap / tidak
respon terhadap di atas dan tanpa ada hiporolemi beri bikarbonat
dengan dosis 2 MEQ/kg BB secara IV selama 2 menit. (Wiknjosastro,
2007)

2.2 Konsep Dasar Sectio Caesarea


2.2.1 Pengertian Sectio Caesarea
Sectio caesarea adalah persalinan untuk melahirkan janin dengan berat 500
gram atau lebih, melalui pembedahan di perut dengan menyayat dinding rahim
(Kasdu, Dini, 2003).
Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan, di mana janin dilahirkan
melalui suatu insisi pada dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta
berat janin di atas 500 gram (Ilmu Bedah Kebidanan, 2004).

Sectio caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat insisi
pada dinding abdomen dan uterus (Harry Oxorn & William R Forte, 3003).
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk mengeluarkan anak dari rongga
rahim dengan mengiris dinding perut dan dinding rahim (Obstetri Oparetif, 2003).
Sectio caesarea adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di
atas 500 gram, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh / intact
(Saifuddin AB, 2001).

2.2.2 Pembagian Sectio caesarea


1) Sectio caesarea klasik atau corporal : incise memanjang pada segmen atas
Uterus.
2) Sectio caesareatransperitonealis profunda :incise pada segmen bawah
rahim. Teknik ini paling sering dilakukan.
3) Sectio caesareaextra peritonealis : rongga peritoneum tidak dibuka. Dulu
dilakukan pada pasien dengan infeksi intra uterin yang berat. Sekarang
jarang dilakukan.
4) Sectio caesareahysterectomy : setelah sectio caesarea dikerjakan
hysterektomi dengan indikasi : atonia uteri, placenta accrete, myoma
uteri, infeksi intra uterin yang berat.
2.2.3 Indikasi Sectio caesarea
1) Indikasi Absolut
Adalah setiap keadaan yang membuat kelahiran lewat jalan lahir tidak
mungkin terlaksana, yaitu : (Harry Oxorn, 2003)
a) Kesempitan panggul yang sangat berat
b) Neoplasma yang menyumbat jalan lahir
2) Indikasi relative

Adalah kelahiran lewat vagina bisa terlaksana tetapi keadaan adalah


sedemikian rupa sehingga kelahiran lewat section caesarea akan lebih aman
bagi ibu, anak ataupun keduanya (Harry Oxorn, 2003).

2.2.4 Penyebab Operasi Caesar


1) Faktor Janin
a) Bayi terlalu besar
b) Kelainan letak
c) Letak Sungsang
Risiko bayi lahir sungsang pada persalinan alami diperkirakan 4 kali
lebih besar dibandingkan lahir dengan letak kepala yang normal.Oleh
karena itu, biasanya langkah terakhir untuk mengantisipasi hal terburuk
karena persalinan yang tertahan akibat janin sungsang adalah operasi.
Namun, tindakan operasi untuk melahirkan janin sungsang baru dilakukan
dengan beberapa pertimbangan, yaitu posisi janin yang berisiko terjadinya
macet ditengah proses persalinan.
d) Letak Lintang
Penanganan untuk kelainan letak lintang ini juga sifatnya sangat
individual.Apabila dokter memutuskan untuk melakukan tindakan
operasi, sebelumnya sudah memperhitungkan sejumlah faktor demi
keselamatan ibu dan bayinya. Mengapa janin letak lintang ?.kelainan
letak lintang dapat disebabkan oleh banyak faktor baik janinnya sendiri
maupun keadaan ibu. Di antaranya, adanya tumor di jalan lahir, panggul
sempit, kelainan dinding rahim, kelainan bentuk rahim, plasenta previa,
cairan ketuban yang banyk, kehamilan kembar, dan ukuran janin.Keadaan
ini menyebabkan keluarnya bayi terhenti dan macet dengan presentasi
tubuh janin di dalam jalan lahir.Apabila dibiarkan terlalu lama, keadaan

ini dapat mengakibatkan janin kekurangan oksigen dan menyebabkan


kerusakan pada otak janin.Oleh karena itu, harus segera dilakukan operasi
untuk mengeluarkannya.
e) Ancaman gawat janin (fetal distress)
Keadaan gawat janin pada tahap persalinan, memungkinkan dokter
memutuskan untuk segera melakukan operasi.
f)

Janin Abnormal
Janin sakit atau abnormal, misalnya gangguan Rh, kerusakan genetik,

dan hidrosephalus, dapat menyebabkan dokter memutuskan dilakukan


operasi.
2) Faktor Plasenta
Ada beberapa kelainan plesenta yang menyebabkan keadaan gawat
darurat pada ibu atau janin sehingga harus dilakukan persalinan dengan
operasi.
a) Plasenta previa
b) Plasenta lepas
c) Plasenta accrete
d) Vasa previa
3) Faktor kelainan tali pusat
a) Prolaps tali pusat ( tali pusat menumbung )
b) Terlilit tali pusat
4) Faktor Ibu
a) Usia
b) Tulang Panggul
c) Persalinan sebelumnya dengan operasi caesar
5) Faktor hambatan jalan lahir
6) Kelainan kontraksi rahim
7) Ketuban pecah dini
8) Rasa takut kesakitan
2.2.5 Kontra Indikasi Sectio caesarea
Sectio caesarea tidak boleh dikerjakan kalau ada keadaan berikut ini : Kalau
janin sudah mati atau berada dalam keadaan jelek sehingga kemungkinan hidup kecil.
Dalam keadaan ini tidak ada alasan untuk melakukan operasi berbahaya yang tidak

diperlukan (Harry Oxorn, 2003 ). Kalau jalan lahir ibu mengalami infeksi yang luas
dan fasilitas untuk caesarea extraperitoneal tidak tersedia. Kalau dokter bedahnya
tidak berpengalaman, kalau keadaannya tidak menguntungkan bagi pembedahan, atau
kalau tidak tersedia tenaga asisten yang memadai.
2.2.6 Komplikasi Sectio Caesarea
1) Pada Ibu
Telah dikemukakan bahwa dengan kemajuan tehnik pembedahan, dengan
adanya antibiotika, dan dengan persediaan darah yang cukup, sectio caesarea
sekarang jauh lebih aman daripada dahulu. Angka kematian di Rumah Sakit
dengan fasilitas yang baik dan tenaga-tenaga yang kompeten kurang dari 2 per
1000/kelahiran hidup.
2) Pada Bayi
Seperti halnya dengan ibunya, nasib anak yang dilahirkan dengan sectio
caesarea banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk
melakukan sectio caesarea. Menurut statistik di negara-negara dengan
pengawasan antenatl dan intranatal yang baik, kematian perinatal pasca sectio
caesarea berkisar antara 4 dan 7 %.
3) Komplikasi-komplikasi lain yang bisa timbul
a) Perdarahan
b) Infeksi Puerpural
c) Luka kandung kencing, embolisme paru-paru Alergi
(Kasdu, 2003 )
2.2.7 Angka Morbiditas Sesudah Sectio caesarea
1) Morbiditas Maternal
Morbiditas maternal labih sering terjadi setelah sectio caesarea daripada
setelah kelahiran normal ; insidensinya antara 15 dan 20 %. Hampir separuh
dari pasien-pasien yang menjalani sectio caesarea mengalami komplikasi

operatif atau post operatif yang sebagian di antaranya bersifat serius dan bisa
membawa kematian. Morbiditas yang standar bagi sectio caesarea adalah
sekitar 20.

2) Mortalitas Janin
Meskipun mortalitas janin pada sectio caesarea telah menurun, namun
angkanya masih 2 kali lipat angka mortalitas pada kelahiran per vaginam yaitu
sekitar 5,5 %. Menurut Dr. Andon Hestiantoro SpOG (K) dari Departemen
Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM menjelaskan bahwa risiko yang dialami
bayi baru lahir terkait persalinan caesar adalah mencapai 3,5 kali lebih besar
dibandingkan dengan persalinan normal.
2.2.8 Nasehat Untuk Ibu Yang Telah Di Lakukan Sectio caesarea
1) Sedapat-dapatnya jangan hamil selama 1 tahun setelah di SC
2) Kehamilan dan persalinan yang berikutnya harus diawasi dan
berlangsung pada Rumah Sakit yang besar.
2.2.9 Faktor Penyebab Terjadinya Asfiksia
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabka gangguan
sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi
berkurang.Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat
berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir. Beberapa faktor tertentu diketahui dapat
menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah faktor
ibu, tali pusat clam bayi berikut ini:
b)

Faktor ibu
1) Preeklampsia dan eklampsia
2) Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)

3) Partus lama atau partus macet


4) Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
5) Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan).
c)

d)

Faktor Tali Pusat


1) Lilitan tali pusat
2) Tali pusat pendek
3) Simpul tali pusat
4) Prolapsus tali pusat
Faktor Bayi
1) Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
2) Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu,
ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
3) Kelainan bawaan (kongenital)
4) Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
Penolong persalinan harus mengetahui faktor-faktor resiko yang berpotensi

untuk menimbulkan asfiksia.Apabila ditemukan adanya faktor risiko tersebut maka


hal itu harus dibicarakan dengan ibu dan keluarganya tentang kemungkinan perlunya
tindakan resusitasi.Akan tetapi, adakalanya faktor risiko menjadi sulit dikenali atau
(sepengetahuan penolong) tidak dijumpai tetapi asfiksia tetap terjadi.Oleh karena itu,
penolong harus selalu siap melakukan resusitasi bayi pada setiap pertolongan
persalinan. (www.ummukautsar.wordpress.com, diakses 09 April 2012)

2.3

Penelitian Terdahulu
Neneng Yelis Br. Sitepu, 2011. Meneliti tentang hubungan antara jenis

persalinan dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Dr. M Soewandhie


Surabaya. Berdasarkan data studi pendahuluan di RSUD Dr. M. Soewandhie
didapatkan bahwa 63,57% dari kasus asfiksia tahun 2010 bayi lahir dengan persalinan

tindakan. Desain Penelitian menggunakan kasus kontrol. Populasi kontrol penelitian


ini ialah seluruh persalinan di RSUD dr. M. Soewandhie Surabaya pada bulan Januari
sampai Juni 2011 yang keadaan bayi baru lahir tidak asfiksia neonatorum. Prosedur
pengumpulan data pada penelitian ini adalah pengambilan data sekunder dengan
melihat riwayat jenis persalinan dan faktor-faktor resiko terjadinya asfiksia
neonatorum melalui rekam medik di RSUD dr. M. Soewandhie Surabaya periode
Januari sampai dengan Juni 2011. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 73,0 % dari
jenis persalinan tindakan bayi mengalami asfiksia neonatorum, sedangkan 66,9% dari
jenis persalinan normal bayi tidak mengalami asfiksia neonatorum. Hasil analisis uji
chi-square didapatkan nilai p value = 0,000 (p < 0,05) yang artinya ada hubungan
bermakna antara jenis persalinan dengan kejadian asfiksia neonatorum; dengan
besarnya resiko OR: 5,471 artinya jenis persalinan tindakan mempunyai resiko 5,471
kali lebih besar terhadap kejadian asfiksia neonatorum dibandingkan dengan
persalinan normal. Kejadian asfiksia neonatorum pada bayi yang dilahirkan dengan
persalinan tindakan adalah sebagai berikut 100% pada persalinan ekstraksi vakum
dan persalinan sungsang, 60,78% pada persalinan sectio caesarea dan 56% pada
induksi persalinan. Sebanyak 36,77% dari responden kasus memiliki faktor resiko
lain yang dimungkinkan menjadi penyebab asfiksia neonatorum seperti adanya lilitan
tali pusat, kehamilan dengan Preeklampsia, Kala II yang lama, kehamilan prematur,
kelainan kongenital pada bayi, oligohirdamion serta ketuban bercampur meconeum.

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL, DEFINISI OPERASIONAL
DAN HIPOTESA

3.1.

Kerangka Konseptual
Kerangka konsep adalah abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal

khusus. Konsep hanya dapat diamati atau diukur melalui konstruktur atau yang lebih
dikenal dengan nama variable (Notoatmojo, 2005).
Bagan 2.2 Kerangka Konseptual Penelitian
Variabel Dependen

Variabel Independen

3.2.

Sectio Caesarea
Variabel dan definisi operasional

Kejadian Asfiksia

variabel independen dan variable dependen


2) Variabel Dependan
Variabel

dependent(variabel

terikat)adalah

merupakan

variabel

yang

dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiono, 2004).
Variabel dependent pada penelitian ini adalah kejadian asfiksia.

3) Variabel Independen
Variabel independen (variabel bebas) adalah merupakan variabel yang
mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbul variabel terikat
(Sugiono, 2004). Variabel independent yang diteliti pada penelitian ini adalah sectio
caesarea.
3.3

Definisi operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel


No

Variabel

1. Persalinan
sectio
caesarea

2. Kejadian
Asfiksia

3.4

Definisi Operasional

Alat Ukur

Persalinan untuk
Rekam Medik
melahirkan janin dengan
melalui pembedahan di
perut dengan menyayat
dinding rahim yang
didapatkan dari catatan
medic (Kasdu, 2003)
Keadaan bayi yang tidak Rekam Medik
dapat bernafas secara
spontan dan teratur segera
setelah lahir yang
didapatkan dari status
penyakit (Manuaba, 2007)
a. Ringan : nilai APGAR
7-10
b. Asfiksia sedang, nilai
APGAR 4-6
c. Asfiksia berat, nilai
APGAR 0-3
(Depkes RI, 2002)

Cara
Hasil Ukur
Ukur
Checklist 1= Sectio
caesarea

Skala
Ukur
Nominal

0=Tidak Sectio
caesarea
1=Asfiksia
Checklist 0=Tidak asfiksia

Nominal

Hipotesis
H0
: Tidak ada hubungan sectio caesarea dengan kejadian asfiksia di
Ha

RSUD Pringsewu tahun 2012


: Ada hubungan sectio caesarea dengan kejadian asfiksia di
RSUD Pringsewu tahun 2012.

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1

Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional dengan

pendekatan case control.Korelasi adalah penelitian yang bertujuan untuk menemukan


ada tidaknya hubungan (Arikunto, 2002). Alasan peneliti menggunakan metode ini

adalah untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara sectio caesarea dengan
kejadian asfiksia di RSUD Pringsewu tahun 2012.
4.2

Populasi dan Sampel


Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan diteliti (Notoatmodjo,

2002). Populasi kasus dalam penelitian ini adalah seluruh bayi yang lahir dengan
asfiksia di RSUD Pringsewu dari bulan Maret sampai dengan April 2012 yang
diperkirakan berjumlah 40 bayi.Sedangkan populasi kontrol dalam penelitian ini yaitu
seluruh persalinan di RSUD Pringsewu dari bulan Maret sampai dengan April yang
keadaan bayinya tidak asfiksia.

4.3

Sampel penelitian dan teknik sampling


Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah

dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat, A. Azis Alimul 2007). Jumlah
sampel dalam penelitian ini adalah 74persalinan, yang diambil dari 37 persalinan bayi
dengan asfiksia sebagi sampel kasus dan 37 persalinan bayi yang tidak asfiksia
sebagai sampel kontrol.
Adapun sampel yang memenuhi kriteria dalam penelitian ini adalah:
a.
b.
4.4

Ibu bersalin dengan kejadian sectio caesarea dan yang tidak sectio caesarea
Ibu bersalin dengan bayi asfiksia dan yang tidak asfiksia.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Waktu penelitian

: Mei 2012

No
Uraian kegiatan
1 Pengajuan judul
2 Pre survey

Waktu
Maret 2012
Maret 2012

3
4
5
6
7
4.5

Konsultasi proposal dengan pembimbing


Seminar Proposal
Pengumpulan data
Pengolahan
Sidang KTI

Maret April 2012


April 2012
Mei 2012
Mei 2012
September 2012

Teknik dan Instrument Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan

observasi retrospektif yaitu berupa catatan tentang jumlah seluruh persalinan secsio
caesareadan bayi yang lahir asfiksia atau tidak asfiksia di RSUD Pringsewu periode
Januari Juni tahun 2012.
Instrument penelitian yang digunakan adalah dokumentasi.data yang diambil
adalah seluruh jumlah persalinan secsio caesareadan bayi yang dilahirkan asfiksia
atau tidak di RSUD Pringsewu periode Januari Juni tahun 2012.
4.6

Teknik Pengolahan Data


Data diolah melalui tahapan - tahapan sebagai berikut:

a.

Editing
Yaitu pemeriksaan data dengan rencana semula seperti yang diiginkan.

b.

Coding
Yaitu untuk memberi tanda pada data yang telah diolah untuk mempermudah

mengadakan tabulasi :
1

Ibu bersalin dengan sectio caesarea

Ibu bersalin tidak dengan sectio caesarea

Bayi baru lahir dengan asfiksia

Bayi baru lahir tidak dengan asfiksia

c.

Processing
Yaitu data yang sudah di beri kode kemudian di masukan ke dalam komputer.

d.

Cleaning
Yaitu merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah dimasukkan

apakah ada kesalahan atau tidak.


e.

Tabulating
Pada tahap ini rekapitulasi yang sama dikelompokkan dengan teliti dan teratur,

lalu dihitung dan dijumlahkan kemudian dituliskan dalam bentuk table table.
4.7

Teknik dan Analisis Data


Data yang diperoleh kemudian dianalisa dengan melakukan penyeleksian data

sesuai dengan kriteria yang ada. Langkah-langkah analisa data yang dilakukan
peneliti adalah :
4.7.1 Analisis Univariat
Di maksud untuk mengetahui distribusi frekuensi dan proporsi variabelvariabel yang di amati, baik variabel dependent maupun variabel independent. Data
dianalisis dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Notoatmodjo, 2005).
R

C
x100%
D

Keterangan :
R : Persentase angka kehadiran variabel penelitian
C : Jumlah variabel yang diteliti
D : Jumlah seluruh sampel
4.7.2

Analisis Bivariat
Yaitu menilai adanya hubungan antara sectio caesareaterhadap kejadian

asfiksia dengan memasukkan data dalam tabel silang. Uji statistik yang digunakan

untuk membuktikan hipotesis adalah chi-squere dengan : 0.05. Rumusan chi square
(Notoatmodjo, 2005):
X2

(O E ) 2
E

dK ( k 1)(b 1)

Keterangan :
X2

: Chi Square

: Nilai nilai yang diamati

: Nilai nilai frekuensi harapan

dK

: Derajat Kebebasan (k-1)

: Kolom

: Baris
Jika X2hitung X2tabel berarti Ho ditolak, ada hubungan yang signifikan secara

statistik antara kedua variabel.Tetapi jika X2hitung < X2tabel berarti Ho diterima, tidak
ada hubungan yang signifikan secara statistik antara kedua variabel.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1

Gambaran Umum lokasi penelitian


Pada awalnya RSUD Pringsewu adalah sebuah Poliklinik dengan rawat

tinggal yang mempunyai 10 tempat tidur, dan dikelola oleh Misi Khatolik RSUD
Pringsewu telah mengalami perjalanan panjang dan melampauienam periode zaman
pemerintahan yaitu: Zaman Belanda, Zaman Jepang, Kemerdekaan, Orde Lama, Orde
Baru, dan Reformasi, menghantarken embrio RSUD Pringsewu menjadi seperti
sekarang ini. Pada Agresi II tahun 1949 RSUD Pringsewu dibumi hanguskan dan
pada tahun 1952 dibangun kembali dengan 30 TT.RSUD Pringsewu mulai
berkembang dengan pesat setelah adanya penempatan dokter sepesialis yaitu 4
(empat) bidang sepesialis dasar (Kebidanan, Bedah Umum, Kesehatan Anak, dan
Penyakit Dalam) padatahun 1990.
Pada tahun 1995 berdasarkan SK Mentri Kesehatan Republik Indonesia
nomor 106/Menkes/Sk/1/1995 dan diundangkan dalam lembaran Daerah nomor 43
tahun 1999 seri D tanggal 19 Mei 1999 Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu
ditingkatkan kelasnya menjadi kelas C. Manajemen Rumah Sakit terus berusaha
untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan dan kepuasan pelayanan melalui
pengembangan organisasi, peniingkatan sumberdaya manusia, pengembangan sarana
dan prasarana pelayanan serta dengan peningkatan pola keuangan yang sehat yang
dapat menjadikan RSUD Pringsewu sebagai institusi yang sehat yang dapat
37
menjadikan RSUD Pringsewu sebagai institusi pemerintahan yang professional dan
akuntabel.
Adapun riwayat singkat RSUD Pringsewu adalah sebagai berikut

Tahun 1936 1942

Poliklinik yang dikelola oleh Misi, Tenaga Medis

adalah Dokter asing (Belanda), obat obatan mendapat


bantuan dari pemerintah pada saat itu.
Tahun 1942 1947

Dipimpin oleh Dr. Bandrel Munir. Masa Penjajahan

Jepang adalah masa sulit, obat obatan dapat dikatakan


tidak ada.Pasien yang memerlukan tindakan bedah
hanya diberi minum arak atau diajak ngobrol waktu
dilakukan

tindakan.Penyakit

terbanyak

adalah

Frambosia, malaria, koreng (ulkus tropikum).


Tahun 1947 1953

DR. Abdoel Moeloek (alm) hanya supervise saja.

Tahun 1949

= Bangunan RS dibumi hanguskan oleh tentara


Indonesia (Agresi Balenda ke II)

Tahun 1952

= Dibangun kembali dengan kapasitas 30 TT. Dengan


meningkatnya jumlah tempat tidur.

Tahun 1990

Pelayanan RSUD Pringsewu semakin meningkat.

Mulai

ditempatkan

Dokter

Spesialis

Kebidanan,

demikian seterusnya diikuti bidang spesialis lainnya


yaitu : Anak, Penyakit Dalam, dan Bedah.
Tahun 1995 s.d. sekarang= Radiologi, Mata, THT, Kulit, dan Kelamin. RSUD
Pringsewu ditingkatkan kelasnya menjadi kelas C,
dengan demikian kegiatan pelayanan lebih berkembang
lagi.
5.1.2

Visi Rumah Sakit

Dalam upaya mengembangkan organisasi dan meningkatkan kualitas


pelayanannya kepada masyarakat Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu memiliki
visi organisasi sebagai berikut:
Terwujudnya pelayanan prima di RSUD Pringsewu
5.1.3

Misi Rumah Skit


Sebagai pendukung dari visi yang ingin diraih, maka Rumah Sakit Umum

Daerah Pringsewu juga memiliki misi, filosofi dan budaya kerja sebagai berikut:
a. Misi RSUD Pringsewu adalah
1. Meningkatkan profesionalisme

Sumbar

Daya

Manusia RSUD

Pringsewu
2. Mengembangkan system administrasi manajemen RS dan system
informasi manajemen RS.
3. Mengembangkan dan memanfaatkan teknologi kesehatan.
4. Mengembangkan system pembiayaan pelayanan kesehatan. Rumah
Sakit (Billing Sistem)
5. Mengembangkan sarana dan prasarana Rumah Sakit.
6. Meningkatkan kerjasama dengan institusi pendidikan / kesehatan.
7. Mempersiapkan kemandirian Rumah Sakit dalam sumberdaya.
8. Mendukung Pringsewu Sehat 2010.

b. Filosofi
Anda Sehat Dan Puas Kami Bahagia
5.1.4

Tujuan Rumah Sakit


Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewuberupaya melakukan pembangunan

dan pengembangan dengan tujuan sebagai berikut:


a. Terselenggaranya pelayanan rumah sakit yang mudah, ramah dan menyenangkan
pelanggan.
b. Tersedianya sumbardaya manusia rumah sakit yang kompeten dan siap
memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.
c. Tersedianya sarana dan prasarana rumah sakit yang tepat jumlah dan tepat guna
bagi penyelenggara pelayanan efektif dan efisien.
d. Terbentuknya tatanan rumah sakit yang bersih, aman dan nyaman.
e. Meningkatkan kesejahteraan karyawan RSUD Pringsewu.
5.1.5

Jenis Pelayanan dan Fasilitas Penunjang

a.

Jenis pelayanan
1. Rawat inap
2. Rawat jalan

b.

Fasilitas penunjang

1. Instalasi Gawat Darurat


2. Instalasi Bedah Sentral / Tindak Operasi
3. Ruang Persalinan/ Kuretage/ Ruang Ponek
4. Pelayanan Penunjang Radiologi
5. Pelayanan Anasthesi
6. Pelayanan Laboratorium Klinik
7. Farmasi
8. Pelayanan Gizi
9. Pelayanan Rehabilitasi Medik
10. Sarana Penunjang Lain
c.

Sarana Penunjang Lain


1. Instalasi Rekamedic
2. Instalasi Kesehatan Lingkungan
3. Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit
4. Instalasi Pemulasaraan jenazah
5. Unit Transfusi darah

d.

Sarana Pendukung Lain

1. Aula
2. Mushola
3. Kantin
4. Usaha Bersama Dharma Wanita

5.2

Hasil Analisi Statistik

1.

Analisis Univariat
a. Distribusi Frekuensi Ibu Bersalin dengan Sectio Caesarea Periode
Januari-Juni Tahun 2012
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Ibu Bersalin dengan Sectio Caesarea
di RSUD Pringsewu Periode Januari-Juni Tahun 2012
Sectio Caesarea

Jumlah

Persentase (%)

Ya
Tidak
Jumlah

37
37
74

50,0
50,0
100,0

Berdasarkan tabel 4.1 di atas dapat dilihat bahwa dari 74 sampel yang
diteliti di RSUD Pringsewu periode Januari-Juni tahun 2012, terdapat 37
(50,0%) ibu bersalin dengan section caesarea dan 37 (50,0%) ibu bersalin tidak
dengan sectio caesarea.

b. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Asfiksia


Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Kejadian Asfiksia dengan Sectio Caesarea
di RSUD Pringsewu Periode Januari-Juni Tahun 2012
Kejadian Asfiksia

Jumlah

Persentase (%)

Ya
Tidak
Jumlah

37
37
74

6,7
93,3
100,0

Jumlah ibu bersalin di RSUD Pringsewu periode Januari Juni tahun


2012 yang terdiri dari 74 persalinan, 37 orang diantaranya mengalami kejadian
asfiksia. Dari data tersebut terlihat, bahwa jumlah persalinan yang mengalami
kejadian asfiksia di RSUD Pringsewu periode Januari-Juni tahun 2012 masih
tergolong tinggi yaitu 6,7%.
2.

Analisis Bivariat
a. Hubungan Sectio Caesarea dengan Kejadian Asfiksia di RSUD
Pringsewu Periode Januari-Juni Tahun 2012
Tabel 4.3
Hubungan Sectio Caesarea dengan Kejadian Asfiksia
di RSUD Pringsewu Periode Januari-Juni Tahun 2012
Sectio
Caesarea
Ya
Tidak
Jumlah

N
11
26
37

Asfiksia
Ya
Tidak
%
N
%
33,3 22 66,7
63,4 15 36,6
50,0 37 50,0

Jumlah
N
33
41
74

%
100
100
100

P value
0,019

OR Ci
95%
3,467
(1,3239,083)

Berdasarkan Tabel 4.3 di atas dari 33ibu bersalin yang sectio caesarea 11
(33,3%) diantaranya mengalami asfiksia dan 22 (66,7%) tidak mengalami

asfiksia. Sedangkan dari 41ibu bersalin yang tidak sectio caesarea sebanyak 26
(63,4%) diantaranya mengalami asfiksia dan 15 (36,6%) tidak mengalami
asfiksia.Hasil analisis dengan menggunakan uji chi squarediperoleh p value =
0,019> 0,05dengan demikian hipotesis nol ditolak. Hal ini berarti ada hubungan
yang bermakna antara sectio caesarea dengan kejadian asfiksia di RSUD
Pringsewu periode Januari-Juni tahun 2012. Hasil analisis juga menemukan OR
= 3,467 yang berarti ibu bersalin dengan sectio caesareaberpeluang 3,467 kali
mengalami asfiksia dibandingkan ibu bersalin yang tidak sectio caesarea.

5.3

Pembahasan

1.

Gambaran Sectio Caesarea di RSUD Pringsewu Periode Januari-Juni


Tahun 2012
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu

jumlah ibu bersalin di RSUD Pringsewu periode Januari-Juni tahun 2012, terdapat 33
(44,6%) ibu bersalin dengan sectio caesarea dan 41 (55,4%) ibu bersalin tidak
dengan sectio caesarea. Dari data tersebut terlihat RSUD Pringsewu memiliki
proporsi pasien ibu bersalin dengan sectio caesarea yang relatif tinggi, hal ini
mungkin karena RSUD Pringsewu menjadi tempat rujukan bagi pasien ibu bersalin
yang memiliki masalah dengan kehamilan dan persalinannya.
Menurut Kasdu Dini (2003), persalinan dengan seksio sesarea dilakukan
dengan tujuan untuk melahirkan bayi melalui tindakan pembedahan dengan membuka
dinding perut dan dinding rahim.

Melakukan bedah caesar untuk persalinan merupakan fenomena yang saat ini
meluas di kota-kota besar di Indonesia.Beragam alasan melatar belakangi semakin
banyaknya ibu yang memilih persalinan dengan bedah caesar. Menurut Dr. Andon
Hestiantoro, SpOG (K) dari Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM
menjelaskan bahwa seharusnya persalinan caesar dilakukan atas dasar indikasi medis.
Namun saat ini terjadi kecenderungan lain untuk indikasi persalinan dengan bedah
caesar. Indikasi tersebut seringkali tidak sesuai dengan indikasi medis.
Berdasarkan hasil penelitian dan teori diatas menurut peneliti masih proporsi
pasien ibu bersalin dengan sectio caesareadi rumah sakit umum Pringsewu tahun
2012, disebabkan karena akibat persalinan yang tidak bisa dilakukan secara normal
baik disebabkan karena faktor janin misalnya janin terlalu besar, faktor ibu misalnya
sempitnya tulang pangul sehingga menghambat jalan keluar bayi.
Kemungkinan kedua faktor penyebab ibu bersalin dengan sectio caesarea di
rumah sakit umum Pringsewu tahun 2012 disebabkan karena atas dasar indikasi
sosial, yaitu memilih waktu dan tanggal kelahiran,faktor pemahaman ibu hamil yang
salah tentang melahirkan caesar lebih aman dibandingkan dengan persalinan normal
serta pada akhir- akhir ini banyak terdapat banyak kasus sectio caesarea disebabkan
karena adanya dana jampersal.
Operasi Caesar sudah memasyarakat dikalangan kedokteran kebidanan, apalagi
ditunjang oleh perkembangan ilmu anestesi (pembiusan).Bahkan, pada perkembangan
saat ini, operasi caesar dianggap jauh lebih aman daripada sebelumnya.Hal ini
berhubungan dengan kemajuan dibidang teknologi kesehatan, farmasi, maupun di
bidang-bidang penunjang lainnya. Bagi masyarakat perkotaan golongan ekonomi

menengah keatas, operasi caesar merupakan hal yang tidak menakutkan lagi.
Meskipun

penyebab

harus

dilakukannya

tindakan

operasi

adalah

untuk

menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya, tetapi sebagian kecil masyarakat memilih
cara ini karena kekhawatiran akan mengalami rasa sakit jika melahirkan secara alami.
Padahal, menjalani persalinan dengan bedah caesar tidak lebih baik daripada
persalinan alami dan juga dalam kehamilan sehat, persalinan alami jauh lebih aman
bagi ibu maupun bayinya.
Anestesi pada sectio caesarea dapat mempengaruhi aliran darahdengan
mengubah tekanan perfusi atau resistensi vaskuler baik secara langsung maupun tidak
langsung. Salah satupengaruh anestesi terhadap janin adalah terjadinya asfiksia
neonatorum ((Eliza, 2003).
Menurut Helen Varney 2007, neonatus yang dilahirkan dengan sectio caesarea,
terutama jika tidak ada tanda persalinan, tidak mendapatkan manfaat dari pengeluaran
cairan paru dan penekanan pada toraks sehingga mengalami gangguan pernafasan
yang lebih persistan.
Masih adanya adanya efek samping dari Anastesi pada sectio caesareadapat
menyebabkan asfiksiadan juga pentingnya persalinan dilakukan dengan cara normal
karena dapat membantu kelancaran pernapasan bayi untuk mencegah terjadinya
penemonia diharapkan bagi petugas kesehatan untuk lebih menigkatkan pengetahuan
masyarakat mengenai manfaat dan kerugian jika melakukan sectio caesarea dengan
cara konseling melalui KIE (Komunikasi, informasi dan Edukasi) kepada ibu-ibu
hamilguna menghindari komplikasi yang mungkin terjadi pada tindakan sectio
caesarea baik terhadap ibu maupun bayi yang dilahirkan.

2.

Gambaran kejadianAsfiksia di RSUD Pringsewu Periode Januari-Juni


Tahun 2012
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu

jumlah ibu bersalin di RSUD Pringsewu periode Januari-Juni tahun 2012, terdiri dari
554 persalinan normal dan 37 orang diantaranya mengalami kejadian asfiksia.
Terlihat dari data tersebut, bahwa jumlah persalinan yang mengalami kejadian
asfiksia di RSUD Pringsewu periode Januari Juni tahun 2012 masih tergolong
tinggi yaitu 6,7%.
Menurut Wiknjosastro (2004), asfiksia terjadi karena gangguan pertukaran gas
dan pengangkutan O2 dari ibu ke janin, sehingga terdapat gangguan dalam persediaan
O2 dan dalam menghilangkan CO2 dan dapat berakibat O2 tidak cukup dalam darah
disebut hipoksia dan CO2 tertimbun dalam darah disebut hiperapnea. Akibatnya dapat
menyebabkan asidosis tipe respiratorik atau campuran dengan asidosis metabolik
karena mengalami metabolisme yang anaerob serta juga dapat terjadi hipoglikemia.
Berdasarkan teori diatas menurut peneliti terdapatnya kejadian asfiksia
sebanyak 37 bayi di RSUD Pringsewu periode Januari-Juni tahun 2012 kemungkinan
disebabkan karena komplikasi pada masa kehamilan sepertianemia maternal,
penekanan respirasi atau penyakit paru, malnutrisi, asidosis, dan dehidrasi, supine
hipotensi, degenerasi vaskularnya,

solusio plasenta, dan pertumbuhan hipoplasia

primer,simpul mati (lilitan tali pusat), anemia janin, dan perdarahanyang dapat
mengakibatkan aliran darah menuju plasenta akan berkurang sehingga O 2 dan nutrisi
makin tidak seimbang untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.

Towel (2002) mengemukakan bahwa kegagalan pernafasan/ asfiksia pada bayi


disebabkan karena beberapa faktor, salah satunya adalah faktor persalinan yang
meliputi partus lama, partus dengan tindakan (SC, VE dan FE).Sedangkan menurut
Helen Varney (2007), kegagalan pernafasan pada bayi baru lahir adalah disebabkan
karena persalinan dengan tindakan, partus lama, trauma kelahiran, infeksi serta
penggunaan obat-obatan selama persalinan.
Berdasarkan teori dan hasil penelitian terdahulu di atas menurut peneliti adanya
kejadian pnemonia di rumah sakit umum RSUD Pringsewu periode Januari-Juni
tahun 2012, disebabkan masih tingginya persalinan yang dilakukan dengan tindakan
sectio caesarea, berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.1 di atas didapat
padaperiode Januari-Juni tahun 2012, terdapat 33 (44,6%) ibu bersalin dengan sectio
caesarea.
Tindakan Anestesi pada sectio caesarea dapat mempengaruhi aliran
darahdengan mengubah tekanan perfusi atau resistensi vaskuler baik secara langsung
maupun tidak langsung. Salah satupengaruh anestesi terhadap janin adalah terjadinya
asfiksia neonatorum ((Eliza, 2003).
Menurut Helen Varney 2007, neonatus yang dilahirkan dengan sectio caesarea,
terutama jika tidak ada tanda persalinan, tidak mendapatkan manfaat dari pengeluaran
cairan paru dan penekanan pada toraks sehingga mengalami gangguan pernafasan
yang lebih persistan.
3.

HubunganSectio Caesarea dengan kejadian Asfiksia di RSUD Pringsewu


Periode Januari-Juni Tahun 2012

Hasil penelitian dengan menggunakan uji chi square menghasilkan nilai X2hitung
= 5,469 dengan X2tabel = 3,814, sehingga X2hitung X2tabel yang berarti ada hubungan
yang bermakna antara sectio caesarea dengan kejadian asfiksia di RSUD Pringsewu
periode Januari-Juni tahun 2012. Hasil analisis juga menemukan OR = 3,467 yang
berarti ibu bersalin dengan sectio caesareaberpeluang 3,467 kali mengalami asfiksia
dibandingkan ibu bersalin yang tidak sectio caesarea.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Neneng, 2011.Meneliti
tentang hubungan antara jenis persalinan dengan kejadian asfiksia neonatorum di
RSUD Dr. M Soewandhie Surabaya.Berdasarkan data studi pendahuluan di RSUD
Dr. M. Soewandhie didapatkan bahwa 63,57% dari kasus asfiksia tahun 2010 bayi
lahir dengan persalinan tindakan.
Menurut Helen Varney (2007), bayi yang lahir melalui sectio caesarea,
terutama jika tidak ada tanda persalinan, tidak mendapatkan manfaat dari
pengurangan cairan paru dan penekanan pada toraks sehingga mengalami paru-paru
basah yang lebih persisten. Situasi ini dapat mengakibatkan takipnea sementara pada
bayi baru lahir. Di samping itu bayi lahir dengan sectio caesarea yang mengalami
asfiksia juga berkaitan dengan tindakan anestesi yang mempunyai pengaruh depresi
pusat pernafasan bayi.
Namun pada penelitian ini juga ditemukan bayi lahir dengan persalinan spontan
yang mengalami asfiksia sebesar 36,6%. Hal ini berkaitan dengan perubahan
fisiologis bayi baru lahir yaitu proses perubahan dari ketergantungan total ke
kemandirian fisiologis ( Helen Varney, 2007 ).Di samping itu penyebab asfiksia pada
bayi baru lahir dengan spontan adalah dikarenakan adanya faktor anastesi epidural

yang bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri ibu ada saat persalinan. Sedangkan pada
kasus bayi lahir dengan persalinan sectio caesarea yang mengalami asfiksia
disebabkan karena proses kelahiran sectio caesarea itu sendiri dimana tidak ada
penekanan pada toraks sehingga paru bayi banyak terisi cairan daripada oksigen,
tetapi kebanyakan bayi yang asfiksia tersebut cepat mengalami perbaikan
dikarenakan tindakan yang baik dan tepat serta pengawasan yang lebih lanjut dimana
bayi mendapatkan perawatan yang intensif di ruang NICU.
Menurut Dr. Andon Hestiantoro SpOG ( K ) dari FKUI/RSCM, peningkatan
risiko akibat persalinan dengan bedah caesar tidak hanya terjadi pada ibu, namun juga
terjadi peningkatan risiko bagi bayi yang baru lahir terkait dengan cara persalinan
caesar. Risiko gangguan pernafasan yang dialami bayi baru lahir terkait persalinan
caesar adalah 3,467 kali lebih besar dibandingkan persalinan normal.Di Rumah Sakit
Umum Daerah Pringsewu meskipun angka kejadian asfiksia pada bayi baru lahir
dengan seksio sesarea masih tergolong tinggi, hal ini dapat menjadi masalah serius
pada bayi jika tidak ditanggulangi dengan benar.Diaharapkanbagi pihak rumah sakit,
adanya tim resusitasi yang tanggap dan tepat dalam menangani kegawatdaruratan
pada bayi baru lahir guna mencegah terjadinya komplikasi pada bayi asfiksia.
Masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat khususnya pasien adalah dengan
adanya bayi yang mengalami asfiksia akan memperpanjang masa perawatan di
Rumah Sakit. Hal ini tidak mempengaruhi keyakinan pada pasien untuk memilih
persalinan dengan bedah caesar karena mengingat adanya Jamkesmas dari
Pemerintah Daerah Pringsewu, sehingga biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien
masih terjangkau, yaitu hanya sekedar untuk pembelian obat.

Begitu besarnya bahaya yang dapat mengancam keselamatan jiwa ibu dan janin
akibat persalinan sectio caesarea peran petugas kesehatan sangat signifikan untuk
meningkatkan perilaku ibu agar teratur memeriksakan kondisi kesehatan ibu dan janin
dalam masa kehamilan, penyuluhan yang dilakukan secara berulang-ulang kepada ibu
hamil tentang manfaat ANC dapat berperan dalam membentuk kesadaran yang
diwujudkan dalam tindakan ibu untuk teratur memeriksakan kehamilan sebagai upaya
deteksi awal faktor yang dapat menyebabkan asfiksia karena pengetahuan merupakan
domain penting untuk membentuk perilaku seseorang.
Menurut peneliti hubungan antara sectio caesarea dengan kejadian asfiksia di
RSUD Pringsewu periode Januari-Juni tahun 2012 meman sangat erat kaitannya. Bila
dilihat dari hasil penelitian, angka kejadian asfiksia pada bayi baru lahir masih cukup
tinggi, dimana kejadian asfiksia tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah
satunya adalah faktor persalinan dengan tindakan yaitu dengan sectio caesarea.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian yang berjudul

Hubungan Sectio Caesarea dengan Kejadian Asfiksia di Rumah Sakit Umum


Daerah (RSUD) Pringsewu Periode Januari-JuniTahun 2012, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:
a. Jumlah kasus ibu bersalin dengan asfiksia di RSUD Pringsewu periode JanuariJuni tahun 2012 yaitu 6,7%.
b. Jumlah ibu bersalin di RSUD Pringsewu periode Januari-Juni tahun 2012dengan
sectio caesarea sebesar 33 (44,6%) orang dan sisanya 41 (55,4%) tidak dengan
sectio caesarea.
c. Ada hubungan yang bermakna antara sectio caesarea pada ibu bersalin dengan
kejadian asfiksia di RSUD Pringsewu periode Januari-Juni tahun 2012.

6.2

Saran
Berdasarkan hasil dan analisis data dalam penelitian ini maka saran yang dapat

diberikan adalah:
1.

Bagi peneliti
Diharap bisa menerapkan teori- teori yang ada tentang penanganan asfiksia, dan

mengikuti pelatihan-pelatihan agar dapat menekan angka kematian bayi.


2.

Bagi rumah sakit daerah pringsewu


a)

Diharapkan kepada tenaga kesehatan agar dapatmelakukan sosialisasi


tentang manfaat melakukan ANC secara rutin dan teratur pada kehamilan
berikutnya serta sosialisasi kepada ibu untuk menjaga kondisi kehamilan
berikutnya agar tetap dalam keadaan sehat dan normal guna mencegah
terjadinya asfiksia.

b) Dapat maningkatkanpelayanan penanganan bagi bayi baru lahir yang


beresiko mengalami asfiksia.
c) Meningkatkan upaya system rujukan medis dengan menjalin kerjasama
dan komunikasi melalui puskesmas dan klinik bersalin sehingga cepat
memberikan pelayanan yang bermutu.
d) Serta meningkatkan pencatatan dan pelaporan tantang karakteristik ibu
yang bersalin di Rumah Sakit sebagian yang ada di status klien.
3.

Bagi Intitusi pendidikan

Menambah wawasan atau pengetahuan peserta didik tentang asfiksia, sehingga


mahasiswa

dapat

memberikan

dan

mengaktualisasikan

tentang

pentingnya

penanganan asfiksia pada saat melakukan tindakan praktik nyata pada masyarakat.
4.

Bagi masyarakat (ibu hamil)


-

Diharap bagi ibu-ibu hamil agar lebih rajin dan lebih aktif melakukan
kunjungan Antenatal Care sehingga faktor-faktor resiko penyebab asfiksia
yang berasal dari factor ibu dapat dicegah secara dini.

Memberi keyakinan kepada ibu bahwa persalinan dengan tindakan Sektio


Caesare memilki risiko komplikasi medis lebih tinggi di bandingkan
dengan persalinan normal.

LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2002. Manajemen Penelitian. Jakarta . Rineka Cipta.
Cunningham, F. G. 2005. Obstetri Williams. Jakarta: EGC.
Depkes, RI. 2005. Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Jakarta.
_______. 2005. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta.
_______. 2008. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta.
Dewi Y, dkk. 2007 Operasi Caesar, Pengantar dari A sampai Z. Jakarta: EDSA
Mahkota
Hidayat, A. Aziz Alimul, 2007. Metode Penelitian Kebidanan dan Tehnik Analisis
Data. Jakarta, Salemba Medika
Kasdu, Dini. 2003. Operasi Caesar Masalah dan Solusinya. Jakarta, Puspa Swara
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2002. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana. Jakarta. Salemba Medika

_______, 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta, EGC


Mochtar, Rustam, 2001. Sinopsis Obstetri. Jakarta, EGC
Neneng Yelis Br. Sitepu. 2011. Hubungan antara Jenis Persalinan dengan Kejadian
Asfiksia Neonatorum di RSUD Dr. M Soewandhie Surabaya. Skripsi. Program
Studi S1 Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya 2011.
Notoatmodjo. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Oxorn, Harry, 2003. Patologi dan Fisiologi Persalinan. Jakarta, Yayasan Essentia
Medika.
Saifuddin, BA, dkk. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta. YBPSP.
Sibuea D.H., 2007. Manajemen Seksio Sesarea Emergensi; Masalah Dan Tantangan.
Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Kebidanan
dan Penyakit Kandungan FK USU
Sugiono. 2004. Statistika untuk Penelitian. Cetakan Keenam. Penerbit Alfabeta.
Bandung.
Straight, Barbara R, 2004. Keperawatan Ibu dan Bayi Baru Lahir. Jakarta, EGC
Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume 2. Jakarta, EGC,
2007
Wiknjosastro, H. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta. YBPSP
www.ummukautsar.wordpress.com, diakses 09 April 2012

KELEMAHAN DALAM PENELITIAN

1.
2.
3.
4.

Ini merupakan pengalaman pertama dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah


Kurangnya pengetahuan dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah
Keterbatasan waktu yang digunakan untuk penelitian dan
Keterbatasan biaya yang digunakan dalam penelitian

LEMBAR KONSULTASI
NAMA
NIM
JUDUL

: ROSNA TIASMALA DEWI


: 0903024
: HUBUNGAN SECTIO CAESAREA DENGAN KEJADIAN
ASFIKSIA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD)
PRINGSEWU TAHUN 2012
PEMBIMBING I : SITI MAESAROH, S.ST.
PEMBIMBING II : EKA TRIWULANDARI, S.ST.
No
Tanggal
Saran
Paraf

Gadingrejo,
Pembimbing I

Pembimbing II

(...)

()

Beri Nilai