Anda di halaman 1dari 28

Laporan Praktikum AGH 241 Teknik Budidaya Tanaman

BEBERAPA ASPEK TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN

Oleh
Kelompok 12

Rahmad Bahari A24070036


Galvan Yudistira A24070040
Prima Triwahyu Nugroho A24070097
Dini Gustiningsih A24070120
Elfa Najata A24070197

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Illahi Rabbi, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya laporan akhir praktikum Teknik Budidaya Tanaman. Laporan ini
dibuat untuk memenuhi tugas akhir praktikum Teknik Budidaya Tanaman.
Laporan ini dibuat berdasarkan data lapangan hasil praktikum setiap minggu
selama satu semester, yakni semester empat.
Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak baik para dosen
maupun asisten praktikum yang telah membantu dalam pembuatan laporan akhir
ini, sehingga dapat selesai tapat pada waktunya. Harapan kami agar laporan akhir
ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami dan umunya bagi para pembaca.
Tidak ada yang sempurna, kalimat tersebut juga berlaku bagi kami dalam
pembuatan laporan ini. Saran dan kritik sangat kami harapkan sebagai bahan
pembelajaran bagi kami sebagai bahan evaluasi di masa datang. Akhir kata kami
mengucapkan terima kasih dan semoga loparan percobaan ini dapat bermanfaat
sesuai spesifikasinya yakni mengenai Teknik Budidaya Tanaman.

Bogor, Juni 2009

Tim Penyusun
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia tak dapt hidup tanpa makan. Air juga merupakan suatu kebutuhan
yang mutlak dibutuhkan oleh manusia. Di dunia ini orang tak akan mencari
kemewahan terlebih dahulu sebelum kebutuhan makan terpenuhi. Semenjak
Malthus mengeluarkan teorinya, maka dunia mulai dihantui oleh perasaan
pesimistis. Bayangan yang selalu muncul adalah bagaimana mengimbangkan
ledakan penduduk denganpengadaan bahan pangan. Setelah hampir seabad,
muncullah tulisan Max F. Millikan tentang bagaimana mencapai sasaran
peningkatan produksi pertanian (Moenandir, 1988).
Indonesia sebagai negara agraris, merupakan negara yang menghasilkan
beberapa komoditi andalan yang dibutuhkan oleh pasar dunia diantaranya adalah
kakao, kopi, dan karet (Sikumbang et al., 2004). Menurut Direktorat Jenderal
perkebunan (2006) luas areal dan produksi kakao pada tahun 2005 mengalami
peningkatan dari tahun sebelumnya masing-masing menjadi 1 167 046 ha dan 748
827 ton, selain itu produktivitas kakao juga meningkat dari tahun sebelumnya
sebesar 898 kg/ha menjadi 921 kg/ha.
Peningkatan produksi kakao tersebut selain dilakukan dengan penambahan
luas areal juga dilakukan dengan pemelilharaan tanaman. Menurut Wachjar
(1988) pemeliharaan tanaman kakao merupakan salah satu kegiatan yang erat
kaitannya dengan upaya peningkatan produksi kakao.
Kopi merupakan komoditas perkebunan Indonesia lainnya yang mampu
menembus pasar ekspor dunia. Menurut Irawan et al. (2003) Indonesia
menduduki peringkat keempat produsen kopi terbesar di dunia setelah Brazil,
Kolombia dan Vietnam.
Selain kokoa dan kopi, komoditas perkebunan lainnya yang mampu
memberikan sumber devisa ekspor cukup besar bagi Indonesia adalah karet. Sama
halnya dengan kakao dan kopi, volume dan nilai ekspor karet juga mengalami
peningkatan dari tahun-yahun sebelumnya. Menurut Direktorat Jenderal
Perkebunan (2006) volume ekspor karet mencapai 2 024 593 ton dengan nilai 2
582 875 000 US$. Luas areal, produksi, dan produktivitas karet juga mengalami
peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.
Deskripsi komoditi kakao, kopi, dan keret tersebut hanya sebagian dari
melimpahnya komoditas perkebunan yang ada di Indonesia. Banyaknya
sumberdaya perkebunan yang dimiliki Indonesia sangat potensial untuk dijadikan
sumber ekonomi dan devisa negara. Agar dapat memberikan produktivitas yang
optimal dan sesuai dengan tujuan ekonomi yang dikehendaki, komoditas
perkebunan yang ada di Indonesia membutuhkan teknik budidaya yang tepat
sehingga menghasilkan komoditas yang bukan hanya diminati oleh pasar
domestic tetpai juga pasar internasional.
Pengetahuan tentang teknik budidaya tanaman sangat dibutuhkan dalam
rangka memenuhi tujuan yang dikehendaki oleh para pengusaha perkebunan.
Pengetahuan mengenai teknik budidaya tanaman tidak hanya digunakan selama
perawatan tanaman di lapang tetapi juga meliputi perawatan tanaman sebelum
ditanam di lapang. Teknik budidaya tanaman lebih mengarah pada budidaya
tanaman perkebunan dengan mengutamakan aspek-aspek yang berkaitan dengan
kondisi lahan beserta teknik pemeliharaan dan perawatan tanaman perkebunan
yang dibudidayakan.
Pemeliharaan dan perawatan dalam teknik budidaya tanaman meliputi
pembukaan lahan, penanaman tanaman penutup tanah, pembuatan teras sebagai
usaha konservasi tanah dan air, pengukuran jarak dan beda tinggi untuk
menganalisis potensi yang terdapat pada suatu lahan dan meminimalisir resiko
yang ditimbulkan dari perbedaan tinggi yang ada pada lahan yang digunakan,
pengolahan tanah, teknik persiapan dan penyediaan bahan tanam, pengajiran
sebgai langkah awal untuk persiapan pembuatan lubang tanam, teknik pengairan
dan pemupukan, teknik pemangkasan, peremajaan tanaman, pengaturan pelindung
dan mulching, serta teknik pengendalian gulma, hama dan penyakit.

1..2 Tujuan
Pembuatan laporan ini bertujuan untuk :
1. Memberikan informasi mengenai persentase daya tumbuh LCC
(Legume Cover Crops) sebagai tanaman penutup tanah
2. Memberikan informasi tentang hasil pembuatan teras sebagai
konservasi pembukaan lahan terhadap tanah dan air
3. Membandingkan hasil yang diperoleh antara pembukaan lahan
secara manual dengan pembukaan lahan secara mekanis menggunakan
slasher
4. Membandingkan hasil yang diperoleh antara pengolahan tanah
secara manual dan mekanis menggunakan diskplow
5. Memberikan informasi mengenai hasil pembibitan kakao (Pre dan
Main Nursery)
6. Memberikan informasi mengenai kebutuhan pengajiran saat akan
membuat lubang tanam
7. Menyajikan hasil data pembuatan lubang tanam secara mekanis
dengan menggunakan holedigger
8. Menyajikan data penanaman padi sawah
9. Menampilkan data pemangkasan kakao
10. Memberi informasi mengenai
pemeliharaan tanaman tahunan yang telah dilakukan
11. Menyajikan data pengendalian gulma padi sawah
II. BAHAN DAN METODE

2.1 Tempat dan Waktu


Praktikum Teknik Budidaya Tanaman ini dilaksanakan satu minggu sekali
setiap hari Rabu pukul 07.00-10.00 WIB di Kebun Percobaan Cikabayan Atas dan
Kebun Percobaan Sawah Baru, Darmaga, Bogor. Praktikum mulai dilaksanakan
pada bulan 23 Februari 2009 sampai dengan 8 Juni 2009.

2.2 Bahan dan Alat

2.2.1 Bahan
Bahan yang digunakan adalah benih Calopogonum mucunoides (Cm),
Centrocema pubescens (Cp), dan Pueraria javanica (Pj), pupuk SP-36, bibit padi,
buah kakao (Theobroma cacao), Upper Amazone Hybrid (UAH), abu gosok, top
soil, pupuk kandang, polybag hitam ukuran 40 cm x 30 cm, pupuk TSP, pupuk
Urea, KCl, pupuk NPK, herbisida, insektisida, fungisida, air, bahan bakar minyak.

2.2.2 Alat
Alat-alat yang digunakan adalah Simple Water Level (SWL), theodolit,
abney level, klinometer, kompas, target rod, diskplow, slasher, holedigger, stop
watch, tambang plastik, kantong plastik, timbangan, garpu, parang, cangkul,
kored, tali rafia, tugal, meteran, ember, ajir bambu contoh, label percobaan, golok,
gergaji pangkas, gunting pangkas, alat ukur lubang tanam, caplak, landak, dan
knapsack sprayer.

2.2.3 Cara Pelaksanaan


Kegiatan yang dilakukan dalam praktikum ini berbeda pada tiap
minggunya. Berikut kan diuraikan secara singkat dari tiap pokok materi
praktikum sebagai berikut :
1. Pembukaan Lahan Secara Mekanis (menggunakan Slasher dan Diskplow)
Persiapan alat-pembukaan lahan secara mekanis-ukur waktu yang
digunakan-bandingkan dengan pembukaan lahan secara manual.

2. Pembukaan Lahan Secara Manual


Persiapan alat (cangkul, garpu, arit, pita meter)-menyiangi gulma secara
manual-meratakan tanah agar mengikuti arah kontur untuk mencegah
erosi-mengukur luas petakan lahan yang digunakan-mencatat waktu yang
digunakan untuk membuka lahan secara manual-bandingkan dengan
pembukaan lahan secara mekanis

3. Penanaman Legum Cover Crops (LCC)


Mempersiapkan benih sesuai dengan pembagian kelompok-
mempersiapkan pupuk SP-18 - membuat alur taman (sesuai perlakuan tiap
kelompok) - menanam LCC - menghitung daya berkecmabh 1 MST –
menghitung kerapatan penutupan tanah dengan metode grade dan metode
kuadran

4. Pembibitan kakao ( Pre dan Main nursery)


Tiga buah kakao dipecah dan dikeluarkan isinya – menghilangkan pulp
(lendir) dengan abu gosok sampai biji tidak licin – cuci benih hingga
bersih dari abu gosok dan tidak licin – benih disemai pada bedengan yang
telah disiapkan – DB dihitung pada 1 MST – menyiapkan media tanam
pada polybag - bibit kakao dipindahkan k polybag yang sudah disiapkan –
dihitung tinggi tanaman kakao dan jumlah daun.

5. Pengajiran
Mempersiapkan ajir – mempersiapkan tali yang telah diberi simpul ukuran
3m, 4m, dan 5m, melakuakan pengajiran berbantuk segiempat dengan
panjang sisi 6 cm – catat waktu yang diperlukan – membuat pengajiran
berbentuk segitika sama sisi dengan panjang sisi 6 m – catat waktu yang
digunakan

6. Pembuatan Lubang Tanam Secara Mekanis


Mempersiapkan alat – mengamati kerja alat hole digger – mencatat waktu
yang dibutuhkan untuk membuat satu lubang tanam – mengukur diameter
dan kedalaman lubang yang dihasilkan

7. Penanaman Padi Sawah


Mempersiapkan bibit padi berumur minggu pada lahan sawah yang telah
disiapkan – menanam padi sawah dengan sebelumnya membuat patokan
menggunakan ajir kecil berukuran 20 cm x 20 cm – mencatat waktu yang
digunakan untuk menanam

8. Pengendalian gulma padi sawah


Mencabuti gulma pada lahan padi sawah berumur beberapa minggu –
membuang hama berupa keong kecil – mancatat waktu yang digunakan

9. Pemangkasan Kakao
Memepersiapkan alat yang kan digunkaan (gunting pangkas dan gergaji) –
memangkas tunas air, cabang yang ternaungi, cabang vertical, cabang
yang sakit dan cabang adventif – mencatat waktu yang ddigunakan

10. Pengandlian gulma pada tanamn kopi


Mempersiapkan herbisida glufosinat – pengenceran herbeida dengan air –
pangaplikasian dengan melingkar jari-jari 1,5 m – mencatat waktu yang
dibutuhkan untuk menyemprot 3 pohon kopi – menghitung persen
kematian gulma seminggu kemudian
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pembukaan lahan secara manual dan mekanis


(slasher)
Pembukaan lahan merupakan langkah awal dari persiapan lahan sebelum
penanaman. Pembukaan lahan dapat dilakukan secara manual dan mekanis.
Pembukaan lahan secara mekanis yaitu dengan menggunakan alat-alat pertanian
yang lebih efisien dari segi waktu, tenaga, dan biaya dibandingkan dengan
pembukaan ahan secara manual.
Tabel 1 menyajikan perbandingan data pembukaan lahan secara manual
dan mekanis.

Tabel 1. Pembukaan Lahan Secara Manual dan Mekanis Menggunakan Slasher


Luas Pembukaan Lahan
Kelompok
Manual (M²) HK/Ha Mekanis (M²) JKT/Ha
I 7 682.27 126 625
II 6 396.82 126 625
III 4.68 334.233 126 625
IV 3.5 489.16 126 625
V 5.32 268.2 126 625
VI 7.4 532.12 126 625
VII 6.765 351.95 126 625
VIII 9.4 304.32 126 625
IX 7.92 601.46 126 625
X 7.36 243 126 625
XI 13.05 228.15 126 625
XII 15.68 569.42 126 625
XIII 17.16 434.8 126 625

Pengendalian mekanis merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma dengan


cra amerusak bagian-bagian sehingga gulma tersebut mati atau pertumbuhannya
terhambat. Dalam praktek, dilakukan secra tradisional denan tangan, alat sderhana,
sampai penggunaan alat berat yang lebih modern. Cara ini umumnya cukup baik
dilakukan pada berbagai jenis gulma setahun, tapi pada kondisi tertentu juga efektif
bagi gulma-gulma tahunan. Pengendalian mekanis merupakan cara yang relatif tua
dan masih banyak dilakukan meskipun secara ekonomis dapat lebih mahal
dibandingkan cara yang lain (Yakup 2002).
Slasaher merupakan alat pemotong gulma yang bekerja secara cepat. Slasher
bekerja dengan menggunakan pisau yang berputar cepat seperti kincir sehingga
dapat memotong gulma dangan lebih cepat dan bersih. Pembukaan lahan secara
mekanis menggunkan slasher terbukti lebih cepat dan efektif dibanding pembukaan
lahan secara manual. Hal ini dapat dilihat dari tabel diatas yakni pembukaan lahan
menggunakan slasher lebih efisien dan membutuhkan waktu yang seingkat yakni
sekitar 4 menit 55 detik dengan luasan 126 m2.

3.2 Pengolahan tanah secara manual dan


mekanis (diskplow)

Pengolahan tanah merupakan tahap awal dari membudidayakan suatu


tanaman. Dalam pengolahan tanah dilakukan pula pembalikan tanah yang
bertujuan untuk menghilangkan gulma yang ada di permukaan tanah, sehingga
tanah bagian atas bersih dari gulma. Dalam percobaan kali ini kami menggunakan
diskplow dalam pengolahan tanah.
Data perbandingan pengolahan tanah secara manual dan mekanis
menggunakan diskplow tersaji pada tabel 2.

Tabel 2. Pengolahan Tanah Secara Manual dan Mekanis Pembukaan lahan


Menggunakan Diskplow

Luas Pembukaan Lahan


Kelompok
Manual (M²) HK/Ha Mekanis (M²) JKT/Ha
I 7 682.27 95.7 104.5
II 6 396.82 95.7 104.5
III 4.68 334.233 95.7 104.5
IV 3.5 489.16 95.7 104.5
V 5.32 268.2 95.7 104.5
VI 7.4 532.12 95.7 104.5
VII 6.765 351.95 95.7 104.5
VIII 9.4 304.32 95.7 104.5
IX 7.92 601.46 95.7 104.5
X 7.36 243 95.7 104.5
XI 13.05 228.15 95.7 104.5
XII 15.68 569.42 95.7 104.5
XIII 17.16 434.8 95.7 104.5

Pengolahan tanah banyak mempengaruhi factor penting bagi pertumbuhan


gulma yakni dapat membenamkan gulma dan menyebabkan kerusakan fisik,
karena dapat memosehingga gulma mati disebabkan potongan-potonagn akar akan
mongering sebelum pulih kembali, menggangu kondisi hara tersebut. Pengolahan
tanah pada prnsipnya melepaskan ikatan antara gulma dengan media tempat
tumbuhnya.
Diskplow merupakan alat yang berfungsi untuk membalik tanah yang
berbentuk seperti piringan yangdijalankan dengan mesin. lahan Alat ini
mempunyai kelemahan dimana di setiap sudut-sudut lahan tidak bisa terjangkau
oleh mesin, tidak bisa digunakan pada lahan dengan kemiringan lebih dari 15 %,
tiddak bisa digunakan npada lahan yang bnayk tunggul atau pda lahna-lahan yang
terlaliu lembab sehingga menyebabkan tanah menjadi licin. Hal ini dapat dilihat
dari table bahwa penggunaan diskplow lebih efektif daripada membalik tanah
dengan menggunakan peralatan manual seperti cangkul dan garpu. Membalik
tanah dengan menggunakan diskplow ini dengan luasan 95,7 m2 membutuhkan
waktu 7 menit 35 detik. Sedangkan dengan manual pada luasan yang sama akan
Kelompok Luas Teras (M²) HK/Ha
I 7 682.27
II 6 396.82
III 4.68 334.233
IV 3.5 489.16
V 5.32 268.2
VI 7.4 532.12
VII 6.765 351.95
VIII 9.4 304.32
IX 7.92 601.46
X 7.36 243
XI 13.05 228.15
XII 15.68 569.42
XIII 17.16 434.8
membutuhkan waktu yang jauh labih lama.

3.3 Pembuatan teras


Lahan miring merupakan lahan yang peka terhadap degradasi. Tanah yang
hilang kerena erosi merupakan lapisan atas yang umumnya lebih subur daripada
lapisan bawahnya, sehingga erosi akan menurunkan kesuburan tanah baik secara
kiia, fisik dan biologi. Upaya pengawetan tanah dapat dilakukan dengan cara
kultur teknis dan cara mekanik Teras dibuat dengan membentuk bidang
permukaan tanah yneg miring menjaid datar atau miring ke arah dalam, terdiri
atas taras individu dan teras tapal kuda dan teras kontinyu/ teras bangku. Teras
bangku terdiri atas bebrapa bagian uutama yaitu bidang olah, talud, guludan dan
saluran pembuangan air. Teras bangku dapat dilakukan pada lahan mempunyai
kemiringan lereng antara 5 – 30 %.
Tabel 3 menyajikan data pembuatan teras dari tiga belas kelompok
berbeda.

Tabel 3. Pembuatan teras pada tiga belas kelompok

Teras bangku berfungsi untuk memperpendek panjang lereng,


memperlambat laju aliran air permukaan, meningkatkan laju infiltrasi air ke dalam
tanah, serta mempermudah pengolahan tanah. Teras bangku dapat dibuat untuk
tanah yang jeluknya dapal
Teras gulud berupa guludan yang dilengkapi saluran pembuangan air dan
dibuat memotong lereng. Teras gulud sesuai untuk lahan yang jeluk tanahnya
dangkal dan kemiringannya kurang dari 15%.
Teras individu adalah perataan tanah di sekitar pokok tanaman. Biasanya
garis tengahnya 1-1,5. Teras mempunyai fungsi:
1. memperlambat aliran permukaan
2. menampung dan menyalurkan aliran permukaan yang merusak
3. menekan erosi sampai batas yang dapat diabaikan
4. mempermudah pengolahan kebun dan pemeliharaan tanaman dan
pemungutan hasil
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pembuatan teras secara manual
membutuhkan waktu yang lebih lama di banding mekanis. Waktu yang dibutuhkan
sekitar 2,25 jam sedangkan menggunakan mekanis tidak membutuhkan waktu
sebanyak itu, sehingga cara mekanis dinilai lebih efektif dan efisien
namunmembutuhkan biaya yang lebih mahal.

3.4 Penanaman Legume Cover Crops (LCC)


Tanaman penutup tanah Sering juga disebut tanaman pelengkap (smother
crops) atau tanaman pesaing (Competitive crops). Sebagai tanaman penutup tanah
biasa digunakan tanaman kacang-kacangan (Leguminosae) karena selain dapat
tumbuh secara cepat sehingga cepat menutup tanah serta mencegah
perkecambahan dan pertumbuhan gulma, maka akan dapat pula digunakan
sebagai pupuk hijau. Sifat penting yang diperlukan bagi tanaman penutup tanah
adalah harus dapat tumbuh dan berkembang cepat sehingga mampu menekan
gulma. Jenis-jenis yang biasa digunakan adalah Calopogonium muconoides,
Calopogonium caerelum, Centrosema pubescens, dan Pueraria javanica. Jenis-
jenis ini dapat berkembang secara cepat dalam waktu 1-3 tahun setelah tanam,
tetapi setelah itu cepat menjadi jarang kalau naungan pohon utama telah
terbentuk. Disamping itu mampu meningkatkan kesuburan tanah terutama
kandungan N, hal ini banyak dijumpai di daerah-daerah perkebunan dengan jenis
tanah podsolik yang miskin unsure hara. Selain pertumbuhan cpat sifat lainnya
yang dikendaki adalah tidak menyaingi tanamna pokok. Apabila pertumbuhannya
terlalu rapat maka harus dilakukan pengendalian dengan cara pembabatan atau
dibongkar untuk diganti dengan penutup tanah dengan yang lainnya. Tanaman
penutup tanah di perkebunan merupakan pengendalian yang baik untuk
pertumbuhan gulma perennial seperti Imperata cylindria dan Shorgum balepense.
Penggunaan tanaman penutup tanah untuk mencegah pertumbuhan gulma
berbahaya (noxious) terutama golongan rumput merupakan cara kultur teknis
yang dipandang paling berhasil di perkebunan Flemigia macrophylla yang
dicampur dengan rerumputan yang pendek dan lunak. (Yakup, 2002)
Praktikum kali ini digunakan dua metode dalam menghitung persen
penutupan tanah, yakni digunakan metode grade dan metode kuadran.

Tabel 4. Data Penanaman Legume Cover Crops (LCC) dengan Berbagai Perlakuan
Persen Penutupan Tanah
Persen
Luas Mtd.
Klmpk Perlakuan HK/Ha Pertumbuhan Mtd. Grade
(M²) Kuadran
(%) (%)
(%)
I J1T0 7 682.27 70 72.67 58.6
II J1T1 6 396.82 22 78.63 52.52
III J2T0 4.68 334.233 80 87 85
IV 3.5 489.16 95.67 78 73
V J3T0 5.32 268.2 89 89 92.33
VI J3T1 7.4 532.12 86.4 84.5 88.6
VII T0J1+J2 6.765 351.95 75 94.67 86.69
VIII J1T4 9.4 304.32 55.24 99.23 99.47
IX J5T0 7.92 601.46 45 75 85
X T1j1+j3 7.36 243 60 70,6 72,5
XI J6T0 13.05 228.15 85.09 89.01 82.57
XII T1J2+J3 15.68 569.42 64.7 52.6 64
J1+J2+J3
XIII 17.16 434.8 85 89 86
T0
Pueraria javanica (PJ) biasa digunakan oleh perkebunan karet dan kelapa
sawit sebagai tumbuhan pioneer yang dapat meningkatkan kesuburan tanah, PJ
adalah sejenis kacangan yang cepat menjalar sebab memiliki keunggulan dalam
mengikat unsur N (nitrogen) yang sangat dibutuhkan oleh tanaman utama (karet
atau kelapa sawit) yang belum dewasa, juga kacangan ini menurunkan suhu tanah
pada saat kemarau. Pueraria javanica atau PJ adalah tanaman Seleksi LCC : perlu
dilakukan sebelum dilakukan penanaman, seleksi dilakukan melalui pengujian
daya kecambah. Tujuan seleksi LCC: mengetahui kemurnian dan persentase
pertumbuhan dari LCC sehingga akan didapatkan pertumbuhan di lahan yang
baik.
Kegunaan LCC :
- Menahan pukulan hujan
- Menahan laju air limpasan
- Menambah N
- Menambah BO (memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi tanah)
- Melindungi permukaan tanah dari erosi
- Mengurangi pencucian unsur hara
- Mempercepat pelapukan barang sisa LC/replanting
- Menekan pertumbuhan gulma
Supaya pertumbuhan dan perkembangan LCC berlangsung dengan baik,
sebelum benih di tanam perlu diinokulasi menggunakan Rhizobium. Penampakan
fisik dari berbagai jenis LCC berbeda-beda. Perlakuan dialur dan ditugal untuk
membedakan perlakuan mana yang lebih efektif. Pada perhitungan persen
penutupan tanah dilakuakn dengan metode grade dan metode kuadran. Dalam
penghitungan persen penutupan tanah, terjadi beberapa kendala diantaranya,
alatnya terbatas dan LCC banyak sekali ditumbuhi gulma sehingga
pengukurannya tidak terlalu valid. Menurut kelompok kami, metode yang paling
valid untuk menghitung persen penutupan tanah oleh LCC ini adalah dengan
menggunkan metode kuadran.
3.5 Pembibitan Kakao (Pre dan Main Nursery)
Penyediaan bahan tanam yang baik dan bermutu sangat penting dilkukan
untuk suatu budidaya tanaman agar memperoleh pertumbuhan yang baik dan
produksi yang maksimal. Praktek pembibitan kakao dimulai dari pre nursery dan
main nursery.
Tabel 5 memberikan data tentang daya berkecambah kakao pada saat
pembibitan.

Tabel 5. Data Pembibitan Kakao


Rata- Pertumbuhan Bibit
Jumlah rata Daya Persen Akhir
Jumlah
Benih Jumlah Berkec Bibit
Kelompok Bibit Jumlah
yang Biji ambah Hidup Tinggi
Polybag Daun
Disemai per (%) (%) (cm)
(Helai)
Buah
I 132 44 82.33 20 65 16.21 5
II 72 36 65.3 20 90 17 4
III 79 39 40 20 100 19.78 6
IV 109 37 93 20 95 16.77 5
V 69 23 49.275 20 90 18.55 7
VI 121 40 79.33 20 95 20.64 7
VII 54 27 88.67 20 95 19.7 6
VIII 80 26 100 20 100 20.46 5
IX 116 39 87 20 100 16.4 7
X 60 20 98 20 90 17.47 7
XI 77 39 93.9 20 80 15.33 7
XII 127 43 96.1 20 100 22.58 9
XIII 117 39 80 20 100 21.17 8

Berdasarkan tabel dapat dilihat daya berkecambah tertinggi mencapai 100


%, namun DB terendah 65 %. Sedangkan tinggi tanmana maksimum yakni 22,58
cm dan terendah hanya sekitar 16,21 cm. Dalam praktek pembibitan ini terdapat
beberapa kendala yaitu: harus melakukukan pembersihan lahan dari banyak gulma
untuk mengambil media tanam.
Penanaman dilakukan pada lubang tanam yang telah disiapkan dan
dilaksanakan dengan hati-hati, dijaga agar akar tidak mengalami gangguan yang
berat, dengan tahapan dan cara sebagai berikut :
• Bagian atas polybag dilipat sekitar 5 cm
• Isi polybag dengan tanah sampai penuh kemudian dipadatkan
• Sisinya diratakan agar polybag dapat berdiri dengan tegak
• Beri lubang tanam pada polybag yang sudah terisi tanah
• Tanam bibit kakao dengan hati-hati agar akar tidak terlipat.
3.6 Pengajiran
Pengajiran dilakukan untuk mengatur letak tanaman dengan jarak dan tata
tanam tertentu sehingga kerapatan tanaman mencapai optimum, tanaman dapat
memanfaatkan ruang tumbuh seefisien mungkin dan tanaman lurus dipandang
dari berbagai arah. Pengajiran dilakukan sebelum penanaman, dan dimaksudkan
agar tanaman teh ditanam sesuai dengan jarak tanaman yang telah ditetapkan.
Cara pengajiran pada lahan yang datar dan landai adalah dengan membuat ajir
induk pada kedua sisi lahan, kemudian pengajiran dilakukan dengan sistem
barisan lurus atau zig-zag, sesuai dengan jarak tanam yang telah ditentukan
(Santosa, 2001).

Tabel 6. Data Pengajiran dan Ketepatan Waktu


Kelompok Jmlah AjirKetepatan UkuranWaktu Jmlh HK/Ha
Terpasang ( +cm) Pelaksanaan
(Menit)
I 30 0.67 80.5 298.95
II 30 14.5 90 357.14
III 30 10 73 286.69
IV 35 TEPAT 75 267.69
V 30 2.33 60 27.7
VI 35 - 82 301.23
VII 42 - 94 341.66
VIII 36 - 120 142.8
IX 21 - 120 230.77
X 36 - 81 617.9
XI 36 17.67 120 227.35
XII 36 10 70 158.77
XIII 40 6 60 150.89

Pada data table 6 di atas, diantara semua kelompok yang berjumlah 13 didapat
data bahwa Jumlah Ajir Terpasang diantara semua kelompok rata-ratanya adalah
33,6 dengan nilai terbesar diperoleh kelompok 7 yaitu 42 dan nilai terendah
diperoleh kelompok 9 yaitu 21. Pada ketepatan ukuran diantara semua kelompok
didapat rata-rata 8,73 nilai tertinggi diperoleh kelompok 1 yaitu 0,67 dan nilai
terendah diperoelh kelompok 11 yaitu 17,67. Waktu pelaksanaan rata-ratanya
adalah 86,5 dengan waktu tercepat didapat oleh kelompok 5 yaitu 60 dan waktu
terlama didapat oleh kelompok 11 yaitu 120 menit.
Letak tanaman yang teratur memudahkan dalam pemeliharaan, pemungutan
hasil dan pengawasan. Pengajiran dapat dilaksanakan setelah pembukaan lahan
atau setelah pengolahan tanah yang biasanya diikuti dengan pembuatan lubang
tanam.
Pada lahan bergelombang biasanya digunakan sistem tanaman kontur dengan
jarak tanam dalam barisan sama, sedangkan antar barisan berdasarkan letak tinggi
(kemiringan lereng). Pada lahan datar sampai landai (kemiringan 8-10 %) dapat
digunakan tata tanam empat persegi panjang dengan modifikasi dan segitiga sama
sisi.
Cara pengajiran pada lahan miring dengan sistem kontur adalah sebagai berikut
:
1. Garis pengajiran dimulai dari atas lereng turun ke bawah.
2. Tentukan titik tertinggi dan tancapkan ajir. Dari titik itu dibuat deretan
ajir induk dengan jarak tanaman antar barisan 120 cm, dari atas ke
bawah.
3. Pada sisi lain, di sebalah ajir induk tadi dengan jarak kira-kira 20 m
dibuat deretan ajir induk kedua, dengan titik tertinggi sama dengan
salah satu titik ajir dari deretan ajir induk pertama. Deretan ajir induk
kedua juga ditancapkan dari atas turun ke bawah, dengan jarak 120 cm.
4. Sesudah deretan ajir induk kedua ditentukan, maka diantara kedua
induk ajir tadi dibuat deretan ajir induk ketiga atau keempat atau lebih
disesuaikan dengan keadaaan tipologi tanah tepat pada garis kontur.
5. Ajir induk ditentukan dengan menggunakan alat water pass yang
terbuat dari selang plastik dengan garis tengah 0,5 cm.
6. Selanjutnya dengan berpedoman pada ke tiga atau lebih deretan ajir
induk tadi dapat dilakukan pengajiran dengan sistem kontur dengan
jarak tanam 60 cm. Jarak tanaman antar barisan (120 cm). Pada lahan
miring bukan jarak proyeksi tapi jarak sebenarnya (Santosa, 2001).

3.7 Pembuatan Lubang Tanam Secara Mekanis


Pembuatan lubang tanam dapat dipandang sebagai salah satu bentuk
pengolahan tanah dalam skala kecil dan dianggap sebagai suatu upaya minimum
tillage. Lubang tanam paling lambat dibuat 2 minggu sebalum tanam. Lapisan
tanah yang digali kemudian dimasukan kembali ke dalam lubang tanam pada saat
penanaman, merupakan media tumbuh yang paling baik bagi pertumbuhan
perakaran bibit yang keadaannya masih lemah. Oleh karena itu tanah yang
dimasukan kembali ke dalam lubang tanah harus gembur, halus, bebas dari
batu/kerikil serta bebas dari akar vegetasi.

Tabel 7. Pembuatan Lubang Tanam Secara Mekanis Menggunakan Holedigger


Lubang Diameter (cm) Kedalaman (cm) Waktu Pelaksanaan (Menit) JKT/Ha
1 70 65 24 325,33
2 70 50 30 312,81
3 70 50 25 260,88

Pada data praktikum ini, dengan judul Pembuatan Lubang Tanam Secara
Mekanis Menggunakan Holedigger didapat data sebagai berikut. Dengan diameter
yang sama kedalaman rata-ratanya adalah 55 dengan nilai terendah adalah 50
sedangkan nilai tertinggi didapat 65. Sedangkan waktu pelaksanaan rata-ratanya
adalah 25,33 dengan nilai terendah adalah 24 sedangkan nilai tertinggi adalah 30.
Untuk JKT/Ha nilai rata-ratanya adalah 299,67 untuk nilai terendah didapat
260,88 sedangkan nilai tertinggi didapat dengan nilai 325,33.
Dalam penimbunan harus memperhatikan umur, bentuk serta jenis
tanaman. Bibit yang berbentuk stump lubang ditimbun sampai penuh, sedangkan
bibit dalam polybag lubang ditimbun sebagian dan kedalam lubang yang belum
ditimbun tingginya dari permukaan tanah harus sama dengan tinggi polybag.
Ukuran lubang tanam berkisar antara 40 cm3 – 100 cm3 bergantung pada
sifat tanah dan jenis bibit. Sebagai contoh, bibit karet, kelapa, kelapa sawit, kopi,
kakao, cengkih memerlukan lubang tanam yang lebih besar daripada bibit the dan
lada. Tanah yang gembur (ringan) ukuran lubang lebih kecil daripada tanah yang
banyak mengendung liat (berat).

3.8 Penanaman Padi Sawah


Pada areal beririgasi, lahan dapat ditanami padi 3 x setahun, tetapi pada
sawah tadah hujan harus dilakukan pergiliran tanaman dengan palawija. Pergiliran
tanaman ini juga dilakukan pada lahan beririgasi, biasanya setelah satu tahun
menanam padi.
Untuk meningkatkan produktifitas lahan, seringkali dilakukan tumpang
sari dengan tanaman semusim lainnya, misalnya padi gogo dengan jagung atau
padi gogo di antara ubi kayu dan kacang tanah. Pada pertanaman padi sawah,
tanaman tumpang sari ditanam di pematang sawah, biasanya berupa kacang-
kacangan.

Tabel 8. Penanaman Padi Sawah


Keperluan
Kelompok Luas Lahan (M²) Waktu (Jam) PK (M²/HK)
HK/Ha
I 60 0.6 140 71.42
II 60 0.33 254.54 39.28
III 60 0.75 112.14 89.17
IV 60 0.627 74.44 134.34
V 60 0.67 104.47 95.71
VI 60 0.67 62.69 159.50
VII 60 0.67 125.26 479.0
VIII 30 0.5 42 139.99
IX 60 1.7 49.41 201.67
X 60 0.67 169.77 143.3
XI 60 0.75 56.02 178.5
XII 60 0.75 112 89.28
XIII 64 0.67 115 80.25

Dari data dapat dilihat bahwa dengan Luas Lahan rata-rata 58m2 didapat
waktu rata-rata pengerjaan adalah 0,72 jam dengan waktu tercepat diperoleh
kelompok 2 yaitu 0,33 jam dan waktu paling lama diperoleh kelompok 9 yaitu 1,7
jam. Dari tabell juga dapat dilihat bahwa prestasi kerja rata-rata adalah 109,05
m2/HK dan keperluan HK/Ha rata-ratanya adalah 146,26.
Bibit ditanaman dalam larikan dengan jarak tanam 20 x 20 cm, 25 x 25
cm, 22 x 22 cm atau 30 x 30 cm tergantung pada varietas padi, kesuburan tanah
dan musim. Padi dengan umlah anakan yang banyak memerlukan jarak tanaman
yang lebih lebar. Pada tanah subur jarak tanaman lebih lebar. Jarak tanaman di
daerah pegunungan lebih rapat karena bibit tumbuh lebih lambat. 2-3 batang bibit
ditanaman pada kedlaman 3-4 cm (Anonim, 2000).
Dalam bercocok tanam padi sawah, untuk memperoleh produksi yang
tinggi terdapat sepuluh pekerjaan yang perlu dilakukan, yaitu : membuat
persemaian yang baik, mengolah tanah yang sempurna, menggunakan varietas
berproduksi tinggi, menanam dengan jarak tanamn yang beraturan, pemeliharaan
(pemupukan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, pengairan yang
cukup) pemanenan, dan pengolahan hasil panen.
Jarak tanaman tanaman padi bergantung varietas, jumlah dan kecepatan
anakan, jumlah bibit yang ditanamn. Varietas unggul baru umumnya ditanaman
dengan jarak tanaman 20 cm x 20 cm, sedangkan dengan metode system rice
intensification (SRI) jarak tanaman lebih lebar (30 cm x 30 cm, 40 cm x 40 cm,
dan 50 cm x 50 cm) dengan jumlah bibit yang ditanam 1-2 batang dengan umur
bibit muda 5-7 hari setelah semai.
Teknis penanaman padi sawah adalah sebagai berikut :
1. Lahan sawah yang akan dimanfaatkan untuk usaha tani padi tanpa olah
tanah dikeringakan dengan membuka saluran air keluar dan menutup
saluran air kedalam lahan sawah.
2. Membuat persemaian dengan ukuran 4 x 4 dan selanjutnya benih
disemaikan.
3. Seminggu setelah penyemaian benih, lahan sawah disemprotkan herbisida.
4. Lima hari setelah penyemprotan, masukan air ke sawah dan jaga
ketinggian air sekitar 2-5 cm dan biarkan air itu selama 5 – 10 hari.
5. Lakukan persiapan tanah dengan membabat atau merebahkan selanjutnya
membenamkan sisa singgang dan gulma ke dalam lumpur.
6. Umur 21 hari bibit padi ditanaman denganjarak tanaman 15 x 20 cm
diikkuti dengan pemupukan Urea 250 kg/Ha, TSP 100 kg/Ha dan KCL
100 kg/HA. (Anonim, 1995)

3.9 Pemangkasan kakao

Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas


perkebunan yang mempunyai arti penting bagi perekonomian Indonesia terutama
dalam hal penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan petani, dan sumber
devisa bagi negara. Oleh karenanya tidak mengherankan bahwa pada akhir 1970-
an perkembangan kakao di Indonesia sangat pesat. Keadaan iklim dan kondisi
tanah yang tersedia dan sesuai untuk pertumbuhan kakao mamungkinkan
pengembangan perkebunan kakao di Indonesia (Zaenudin dan Baon, 2004).
Cara memperbaiki teknik budidaya salah satunya adalah dengan
pemangkasan. Menurut Abdoellah dan Soedarsono (1996), pemangkasan kakao
bertujuan untuk mencapai efisiensi pemanfaatan sinar matahari sebanyak-
banyaknya, sehingga tanaman mampu mencapai produktivitas yang tinggi,
mendekati potensi yang dimiliki. Sedangkan Prawoto (1998) mengemukakan
nahwa, pemangkasan kakao merupakan salah satu upaya yang bertujuan untuk
mengoptimumkan laju fotosintesis. Dalam keadaan optimum, hasil bersih
fotosintesis maksimum dan distribusinya ke organ yang membutuhkannya
berlangsung lancer.
Dari pelaksanaan pemangkasan tanaman kakao yang telah dilakukan
diperoleh data yang tersaji pada tabel 8.

Tabel 9. Waktu Pelaksanaan dan Jumlah Tanaman yang Dipangkas serta Jumlah
HK/Ha Berdasarkan Data 13 Kelompok.
Waktu
Jumlah Tanaman yang
Kelompok Pelaksanaan Jumlah HK/Ha
Dipangkas
(Menit)
I 6 15 296.98
II 7 20 306.12
III 8 30 437.63
IV 12 30 356.67
V 10 75 529.08
VI 13 40 340.25
VII 13 40 359.52
VIII 15 40 174.13
IX 12 93 81.19
X 17 52 39.5
XI 13 45 412.30
XII 10 40 476.19
XIII 6 37 437.67

Berdasarkan data tersebut jumlah tanaman kakao yang dipangkas pada tiap
kelompok berbeda-beda. Hal ini berdampak pada waktu pelaksanaan yang
berbeda, tergantung dari jumlah tanaman kakao yang dipangkas pada tiap
kelompok. Perbedaan jumlah tanaman kakao yang dipangkas dikarenakan
terbatasnya jumlah tanaman pada lahan yang diberikan pada tiap kelompok.
Kriteria pemangkasan dilakukan pada cabang yang sekiranya menghalangi
penyinaran matahari bagi cabang lainnya, cabang yang menghadap searah dengan
arah gravitasi bumi, cabang air, serta cabang yang bertabrakan dengan cabang
lainnya. Rata-rata jumlah cabang yang dipotong dari tiga hitungan yang te belas
kelompok yang melakukan percobaan ini adalah 10.923, sedangkan waktu rata-
rata yang dibutuhkan oleh tiap kelompok untuk melakukan pemangkasan tanaman
kakao adalah 42.846 menit. Hari kerja (HK) per hektar pemangkasan kakao
berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan adalah 326.71.
Data pemangkasan kakao kelompok kami menunjukkan bahwa, jumlah
tanaman kakao yang dipangkas sebanyak sepuluh tanaman dalam waktu empat
puluh menit. HK (Hari kerja) merupakan jumlah pohon yang dipangkas dibagi
dengan prestasi kerja. Sedangkan prestasi kerja adalah hasil bagi dari banyaknya
pohon yang dipangkas dengan HOK (Hari Orang Kerja). HOK adalah hasil kali
waktu dengan tenaga kerja dibagi tujuh (tujuh nerupakan waktu rata-rata orang
kerja). Berdasarkan perhitungan HK/Ha, nilai HK/Ha kelompok kami
menunjukkan nilai sebesar 476,19.
Dalam pelaksanaan pemangkasan kakao yang telah dilaksanakan, kami
penggunakan alat pangkas berupa gergaji dan gunting ranting. Terdapat beberapa
hambatan dalam melakukan pemangkasan tanaman diantaranya adalah, peralatan
yang digunakan terbatas dan kurangnya pengetahuan mahasiswa mengenai
kriteria ranting atau cabang yang harus dipangkas ketika melakukan
pemangkasan.

3.10 Pengendalian Gulma pada Tanaman Kopi

Umumnya tanaman perkebunan merupakan tanaman tahunan yang rentan


terhadap Organisme Penggaggu Tanaman (OPT). Salah satu OPT yang sering
mengganggu pemeliharaan tanaman tahunan adalah gulma. Gulma adalah
tumbuhan yang tumbuhnya salah tempat. Sebagai tumbuhan, gulma selalu berada
di sekitar tanaman yang dibudidayakan dan berasosiasi dengannya secara khas.
Karena luasnya penyebaran, gulma mempunyai berbagai nama sesuai dengan asal
daerah dan negaranya seperti Weed (Inggris), Unkraut (Jerman), Onkruit
(Belanda) dan Tzao (Cina), serta banyak nama lainnya (Moenandir,1988).
Pengendalian gulma perlu dilakukan karena gulma merupakan pesaing
bagi tanaman utama dalam memanfaatkan unsur hara, air, cahaya matahari, dan
ruang tumbuh. Masalah gulma pada tanaman tahunan berbeda dengan tanaman
semusim, karena pada umumnya masalah gulma pada tanaman tahunan lebih luas,
berkaitan dengan waktu yang terbatas tenaga kerja dan biaya, sehingga
dibutuhkan cara yang efektif untuk mngendalikan gulma, salah satunya adalah
dengan menggunakan herbisida. Menurut Sukman dan Yakup (2002),
pengendalian gulma memggunakan senyawa kimia akhir-akhir ini sangat diminati
terutama untuk lahan pertanian yang cukup luas. Aldrich (1984) menyatakan
bahwa herbisida memberikan kontribusi yang cukup besardalam rancangan
budidaya pertanian dengan menimumkan kehilangan hasil akibat gulma, dalam
suatu sistem pertanian.
Menurut Sukman dan Yakup (2002) herbisida merupakan alat yang
canggih dalam pemberantasan gulma, serta memberikan keuntungan yang lebih
dalam pemakaiannya. Adapun keuntungan yang diberikan oleh herbisida adalah :
1. Dapat mengendalikan gulma sebelum menggganggu.
2. Dapat mengendalikan gulma dilarikan tanaman.
3. Dapat mencegah kerusakan perakaran tanaman.
4. Lebih efektif membunuh gulma tahunan dan semak belukar.
5. Dalam dosis rendah dapat sebagai hormone tumbuh.
Berdasarkan kegiatan pemeliharaan tanaman yang telah dilakukan,
kelompok kami menggunakan herbisida jenis glifosat dengan metode sprinkle
(melingkar). Sebanyak tiga belas kelompok menggunakan lima jenis herbisida
dengan perlakuan yang berbeda-beda, sedangkan satu kelompok lainnya
melakukan pengendalian gulma dengan metode manual.
Pada praktikum kali ini, kami melakukan pengendalian gulma pada
tanaman kopi (Coffea arabica). Menurut Moenandir (1988), dari lahan
perkebunan kopi di Desa Ampelgading, Malang dengan ketinggian tempat 50-600
meter di atas permukaan laut, dengan struktur tanah lempung-liat-berpasir, curah
hujan ± 1.500 mm per tahun dapat dicatat terdapat gulma penting yang menghuni
di sekitar tanaman pokok sebagai berikut : Setaria plicata (wuluhan), Paspalum
conjugatum (pahitan), Ageratum conyzoides (wedusan), Cynodon dactylon
(grinting), Imperata cylindrica (alang-alang), Eleusine indica (lulangan), Cyperus
rotundus dan C. Kilinga (teki), Bidens biternata (ketul), Erechtites valerianifolia
(jintrong) dan Panicum repens (lempuyangan). Adanya gulma dapat menurunkan
produksi biji 35%.
Jenis herbisida yang digunakan oleh kelompok kami pada percobaan
pemeliharaan tanaman tahunan adalah glufosinat. Ciri glufosinat menurut
Djojosumarto (2006) diantaranya adalah, Glufosinat diproduksi dalam bentuk
glufosinat-amonium. Anggota sub kelompok organofosfat yang disebut
phosphinic-acid, glufosinat merupakan herbisida kontak (hanya sedikit sekali
yang ditranslokasikan dari pangkal ke ujung daun), non-selektif, dan bekerja
dengan menghambat sintesis asam amino glutamin serta menghambat fotosintesis.
LD50 oral (tikus) sebesar 1 620 (j)-2 000 mg/kg (b); LD50 dermal tikus > 4 000
mg/kg; LC50 inhalasi (4 jam, tikus) 1.26 mg/l udara; NOEL (2 tahun, tikus) 2
mg/kg bb/hari; dan ADI 0,02 mg/kg.
Tabel 9 Menyajikan data persentase kematian gulma pada tanaman kopi
dengan jenis herbisida dan metode semprot yang berbeda.

Tabel 10. Data Persentase Kematian Gulma pada Tanaman Kopi dengan Jenis
Herbisida dan Metode yang Berbeda Berdasarkan Data 13 Kelompok.
Persen Kematian
Kelompok Jenis Herbisida Dosis/Konsentrasi (gr/L)
(%)
I Glikofosat 3L/Ha 80
II Glikofosat 3L/Ha 95
III Paraquat 2L/Ha 80
IV Paraquat 2L/Ha 99.9
V 2.4 DLiquid 2L/Ha 50
VI 2.4 DLiquid 2L/Ha 75
VII 2.4 DLiquid 1.5L/Ha 80
VIII 2.4 DLiquid 1.5L/Ha 75
IX Metilsufuron 1L/Ha 90
X Metilsufuron 1L/Ha 72.5
XI Glufosinat 1.5L/Ha 78
XII Glufosinat 1.5L/Ha 95
XIII Manual - 95

Berdasarkan data tersebut, terdapat kesamaan pada beberapa jenis


herbisida yang digunakan pada beberapa kelompok, yang memebedakan hanya
pada masing-masing kelompok menggunakan metode penyemprotan yang
berbeda-beda pula. Dosis konsentrasi pada masing-masing jenis herbisida
berebeda-beda. Glikofosat merupakan jenis herbisida dengan dosis konsentrasi
terbesar, sedangkan metilsufuron adalah jenis herbisida dengan dosis konsentrasi
terkecil. Persen kematian gulma yang diperoleh pada tiap-tiap kelompok juga
berbeda tergantung dari jenis herbisida yang digunakan dan jenis gulma yang
terdapat pada tanaman pokok. Persen kematian terbesar diperoleh dengan
menggunakan herbisida jenis paraquat yaitu sebesar 99.9%, sedangkan metode
yang digunakan adalah metode melingkar dengan dosis konsentrasi 2 L/Ha.
Sedangkan persen kematian terkecil adalah herbisida jenis. 2.4 DLiquid yaitu
sebesar 50% dengan dosi konsentrasi 2 L/Ha. Pada praktikum pemeliharaan
tanaman tahunan kali ini, kelompok kami menggunakan herbisida jenis glufosinat
dengan dosis konsentrasi sebesar 1.5 L/Ha dan metode yang digunakan adalah
metode melingkar, persen kematian sebesar 95%. Menurut kelompok kami persen
kematian yang berbeda-beda pada tiap kelompok dapat disebabkan oleh berbagai
factor diantaranya adalah daya kekuatan herbisida yang bergantung pada jenis
herbisida yang digunakan dan jenis gulma yang mengganggu pada tanaman
pokok.
Dalam pelaksanaannya terdapat beberapa hal yang menghambat praktikum
pemeliharaan tanaman tahunan, hambatan-hambatan tersebut antara lain
terbatasnya alat yang digunakan seperti sarung tangan, gelas ukur, knapsack hand
sprayer dan masker sehingga setiap kelompok menghabiskan waktu untuk
menunggu kelompok sebelumnya.

3.11 Tanaman Belum Menghasilkan


Percobaan kali ini dilakukan di kebun percobaan yang berada di sawah
baru. Dalam bercocok tanam padi sawah, untuk memperoleh hasil produksi yang
tinggi terdapat sepuluh kegiatan yang harus dilakukan, yaitu : membuat
persemaian yang baik, mengolah tanah yang sempurna, menggunakan varietas
berproduksi tinggi, menanam dengan jarak tanam yang beraturan, pemeliharaan
(pemupukan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, pengairan yang
cukup) pemanenan, dan pengolahan hasil panen.
Jarak tanam padi bergantung dari varietas, jumlah dan kecepatan anakan,
jumlah bibit yang ditanam. Varietas unggul baru umumnya ditanam dengan jarak
tanam 20cm x 20 cm, sedangkan dengan metode system rice intensification (SRI)
jarak tanam lebih lebar dengan jumlah bibit yang ditanam 1-2 batang dengan
umur bibit muda 5-7 hari setelah penyemaian.
Dalam mencapai produksi yang tinggi, salah satu metode yang digunakan
adalah mengendalikan gulma yang ada di sekitar tanaman. Karena gulma sangat
berpengaruh terhadap hasil produksi yang akan dipanen. Gulma adalah tanaman
yang tumbuh bukan pada tempatnya, artinya tanaman itu tidak dikehendaki
keberadaannya oleh penanam. Gulma yang selalu berada di sekitar tanaman
budidaya dapat menghambat pertumbuhan serta menurunkan hasil produksi.

Tabel 11. Pemeliharaan pada Padi


Kelompok Luas Lahan Waktu PK (M²/HK) Keperluan
(M²) (Jam) HK/Ha
I 60 0.6 140 71.42
II 60 0.33 254.54 39.28
III 60 0.75 112.14 89.17
IV 60 0.627 74.44 134.34
V 60 0.67 104.47 95.71
VI 60 0.67 62.69 159.50
VII 60 0.67 125.26 479.0
VIII 30 0.5 42 139.99
IX 60 1.7 49.41 201.67
X 60 0.67 169.77 143.3
XI 60 0.75 56.02 178.5
XII 60 0.75 112 89.28
XIII 64 0.67 115 80.25

Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan oleh kelompok kami


dibandingkan dengan kelompok lain waktu yang relatif lama dan jumlah hari
kerja yang dibutuhkan juga besar. Hal ini terjadi karena setiap kelompok
mempunyai luas lahan yang berbeda-beda. Sedangkan kelompok yang waktu
pelaksanaannya sama akan tetapi hari kerja berbeda disebabkan karena rimbun
tidaknya gulma yang tumbuh pada lahan tersebut.
Sehingga dapat disimpulkan prestasi kerja kelompok kami cukup tinggi dan
hari kerja yang dibutuhkan juga cukup rendah. Hal ini disebabkan karena
beberapa hal yang telah kami sebutkan di atas.
Penutup

4.1. Kesimpulan
Praktikum teknik budidaya tanaman ini meliputi teknik-teknik penyiapan
lahan hingga siap tanam untuk pertanaman baru. Dalam pelaksanaannya
membutuhkan suatu keterampilan untuk mendapatkan tanaman dengan
produktivitas yang tinggi seperti pemangkasan, pengendalian gulma, penanaman
LCC dan sebagainya. Selain itu diberikan juga pengetahuan tentang ciri-ciri
tanaman yang akan dibudidayakan dengan kesesuaian lahan yang akan ditanam
sehingga mahasiswa menjadi terampil dalam hal teknik budidaya tanaman.
Pembukaan lahan secara mekanis terbukti lebih efektif dan efisien.
Namun, dalam pelaksanaannya biaya yang dibutuhkan relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan pembukaan lahan secara manual. Hal ini dapat disesuaikan
dengan kebutuhan dan kapasitas penggunanya.
Legume Cover Crop sebagai tanaman penutup tanah lebih tepat
pengaplikasiaannya dialur daripada di tugal. Menurut kelompok kami, hal ini
dapat terjadi karena dengan metode alur tidak dibutuhkan jarak tanam. Dalam
kegiatan pembibitan kakao, daya kecambah kelompok tidak seluruhnya mencapai
100%, hal ini dapat terjadi karena kualitas benih yang digunakan kurang bagus,
perawatan yang kurang intensif ataupun karena kondisi internal benih yang
dorman.

4.2 Saran
Terdapat berbagai hambatan dalam pelaksanaan praktikum ini, diantaranya
fasilitas yang kurang memadai, jumlah alat praktikum yang tidak sebanding
dengan jumlah mahasiswa, serta waktu pelaksanaan praktikum yang terkadang
tidak sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Namun secara keseluruhan,
praktikum ini dapat berjalan sesuai tujuannya. Semoga di tahun-tahun berikuynya
praktikum ini dapat berjalan lebih baik.
Daftar Pustaka
Anonim. 1995. Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN). BIP Irian Jaya. Balai
Informasi Pertanian Irian Jaya. No. 143/95.
Anonim. 2000. Padi. Kantor Ristek dan Teknologi.
Aldrich, R. J. 1984. Weed-Crop Ecology. Principles In Weed Management.
Bretoon Publisher. California. 456P.
Djojosumarto, Panut. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisus,
Yogyakarta.
Djojosumanto, Panut. 2008. Pestisida & Aplikasinya. PT Agromedia Pustaka,
Jakarta.
Ekha, Isvasta. Dilema Pestisida. Tragedi Revolusi Hijau. Kanisus, Yogyakarta.
Irawan, G, Danang, J. dan SH. 2003. Kopi Tetap Jadi Andalan Ekspor.
www.google.com/sinarharapan. (26 September 2006)
Koswara, Engkos. Pengaruh Penambahan Pupuk Nitrogen Terhadap
Efektifitas Dan Effisiensi Herbisida Glifosat Untuk Mengendalikan Gulma Alang-
Alang (Imperata cylinrica (L.) Beauv).Skripsi. Program Sarjana. Program Studi
Agronomi Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor
Moenandir, Jody, Dr. Ir. Dipl. Agr. Sc. Pengantar Ilmu dan Pengendalian
Gulma. PT Raja Grafindo Pesada, Jakarta.
Prawoto, A.A. 1998. Kuantifikasi Kriteria Pemangkasan Tanaman Kakao
Melalui Pendekatan Indeks Luas Daun. Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.
14(2): 173-181
Rismiwati, Rina, Tri. 2005. Pengelolaan Pemanenan Kakao (Theobroma
cacao L.) di Kebun Batulawang PT Perkebunan Nusantara VIII Ciamis, Jawa
Barat.Skripsi. Program Sarjana. Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian.
Institut Pertanian Bogor
Roshid, Ibnu. 2006. Kajian Aplikasi Campuran Herbisida Glifosfat Dengan
Metilsulfuron Metil Dalam Pengandalian Beberapa Gulma Pertanian. Skripsi.
Program Sarjana. Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Institut Pertanian
Bogor
Ruhiat. 2006. Pengelolaan Panen dan Pasca Panen Tanaman Kakao
(Theobroma cacao L.) di Kebun PT Topasari, Kabupaten Labak, Banten. Skripsi.
Program Sarjana. Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian. Institut Pertanian
Bogor
Siskumbang, Z., A. Pasaribu dan Mayang S. M. 2004. Prospek Pembangunan
Industri dan Ekspor Hasil Olahan Kakao Indonesia. Simposium Kakao 2004,
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Jember. Hal 1.
Santosa, Undang. 2001. Memilih Loaksi Budidaya Tanaman. Departemen
pendidikan nasioanal, Proyek Pengembangan Sistem dan Standar Pengelolaan
SMK. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Jakarta.
Sukman, Yernelis, Hj., Yakup.Gulma & Teknik Pengendaliannya. PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
http://ditjenbun.deptan.go.id/web/images/stories/fruit/komoditi%20kakao
(21 Maret 2007)
http://ditjenbun.deptan.go.id/web/images/stories/fruit/komoditi%20karet
(21 Maret 2007)
http://ditjenbun.deptan.go.id/web/images/stories/fruit/komoditi%20kopi
(21 Maret 2007)