Anda di halaman 1dari 12

KASUS

Nama

: An. Aris Maulana

Usia

: 30 bulan.

Alamat

: Kebantenan

Agama

: Islam

Jenis Kelamin : Laki-laki

Keluhan Utama
Benjolan di leher sebelah kanan sejak 1 hari yang lalu.
Riwayat Penyakit sekarang
Pasien datang ke Puskesmas Cilincing untuk berobat ke BP umum dengan keluhan
terdapat benjolan pada leher sebelah kanan, tepatnya di bawah telinga. Benjolan dirasa
sejak 1 hari yang lalu. Benjolan terasa lunak dan nyeri ketika dipegang. Pasien juga
mengalami demam yang dirasakan 1 hari yang lalu. Saat ini pasien juga menderita
pilek yang dirasakan sejak 2 hari yang lalu.
Riwayat penyakit dahulu

Tidak ada riwayat penyakit ini sebelumnya.

Riwayat penyakit keluarga

Anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

Riwayat alergi
Alergi obat dan makanan disangkal.
Riwayat Imunisasi
Riwayat Imunisasi lengkap
Riwayat pengobatan
Belum pernah diobati.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum

Sakit sedang, penderita tampak lemah.

Kesadaran

Compos Mentis

Status Gizi

Baik

Vital sign: BB

12 Kg.

96/menit

RR

tidak dilakukan

Suhu :

tidak dilakukan

Status Generalis
Kepala
Rambut
Warna
: Hitam
Distribusi
: Merata
Wajah
Simetris
Edema
: tidak ditemukan
Vesikel
: tidak ditemukan
Mata
Diameter Pupil
: 3mm
Refleks pupil
: +/ + isokor
Konjungtiva
: Anemis -/ Sklera
a. Ikterus
: tidak ditemukan
b. Hiperemis
: tidak ditemukan
Palpebra
c. Superior
: Edema -/d. Inferior
: Edema -/Hidung
Deviasi septum
: tidak ditemukan
Sekret
: tidak ditemukan
Tanda Radang : tidak ditemukan
Massa
: tidak ditemukan
Mulut
Bibir
: Mukosa basah, tidak sianosis
Lidah
: Kotor ( - ), tepi hiperemis ( - ), tremor ( - )
Tonsil
: Tenang, TI TI
Mukosa faring
: Tidak hiperemis

Leher
Simetris
Pembesaran KGB
: (+)
Pembesaran tiroid
: tidak ditemukan
Thorax
Paru-paru
Inspeksi
a. Bentuk dan pergerakan
: Simetris
b. Tipe pernafasan
: Thoracoabdominal
c. Retraksi
: Tidak ditemukan.
d. Penggunaan otot bantu nafas
: Tidak ditemukan.
e. Massa
: tidak ditemukan
Palpasi
a. Nyeri tekan
: tidak ditemukan
b. Krepitasi
: tidak ditemukan
c. Vokal fremitus
: Kedua lapang paru sama
Perkusi
a. hipersonor (D/S)
Auskultasi
:
a. Wheezing : Tidak ditemukan mengi/wheezing.
b. Ronkhi
: tidak ditemukan
Jantung
Inspeksi
a. Ictus Cordis
: tidak terlihat
Palpasi
a. Ictus Cordis
: teraba ICS V midclavicula sinistra
Perkusi
Batas jantung
a. Kanan
: Linea sternalis ICS IV
b. Kiri
: Linea midclavicula ICS V
Auskultasi
a. Bunyi jantung I / II
: Tunggal
b. Murmur
: tidak ditemukan
c. Gallop
tidak ditemukan
Ekstrimitas: tidak ditemukan

Pemeriksaan penunjang
1. Jumlah lekosit normal atau terdapat leukopenia dengan limfositosis relatif.
2. Sebagai pemeriksaan tambahan dapat dilakukan complement-fixing antibody test,
neutralization test, isolasi virus, uji intradermal dan pengukuran kadar amylase
dalam serum.

Diagnosa

Parotitis ( Gondongan, Mumps )

Diagnosis Banding
1. Parotitis supuratif, dimana nanah sering dapat dikeluarkan dari duktus.
2. Parotitis berulang, suatu keadaan yang sebabnya belum diketahui, tetapi mungkin
bersifat alergi yang sering berulang dan mempunyai sialogram khas.
3. Kalkulus salivarius, menyumbat saluran parotis, atau lebih sering saluran
submandibuler dimana pembengkakan intermitten.
4. Limfadenitis preaurikuler atau servikal anterior karena sebab apapun.
5. Limfosarkoma atau tumor parotis lain yang jarang.

Prognosis
Parotitis
Pada umumnya bagus sekali, kematian sangat jarang.

Penatalaksanaan
1. Istirahat di tempat tidur selama masa panas dan pembengkakan kelenjar parotis.
2. Simtomatik diberikan kompres panas atau dingin dan juga diberikan analgetika.
3. Diet makanan cair dan lunak.
4. Kortikosteroid selama 2-4 hari dan 20 ml convalescent gammaglobulin
diperkirakan dapat mencegah terjadinya orkitis.
5. Self limiting disease.
6. Perjalanan penyakit tidak dapat dipengaruhi oleh anti mikroba

TINJAUAN PUSTAKA
PAROTITIS
Parotitis epidemika adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, menyeluruh, akut, yang
ditandai dengan pembesaran kelenjar ludah terutama kelenjar parotis dan disertai nyeri. Nama
parotitis epidemica kurang tepat sebab tidak selalu ada radang di parotis dan penyakit tersebut
tidak selalu mewabah. Merupakan suatu penyakit menular yang akut.
ETIOLOGI
Disebabkan oleh virus. Virus ini adalah anggota kelompok Paramyxovirus yang juga
mencakup parainfluenza, campak, dan virus penyakit Newcastle. Hanya diketahui ada satu
serotip. Biakan manusia atau sel ginjal kera terutama digunakan untuk isolasi virus. Virus
telah diisolasi dari ludah, cairan serebrospinal, darah, urin, otak dan jaringan terinfeksi lain.
Mumps merupakan virus RN rantai tunggal dan anggota dari family Paramyxoviridae, genus
Paramyxovirus. Virus mumps mempunyai 2 glikoprotein yaitu hamaglutinin-neuramidase dan
perpaduan protein. Virus mumps sensitif terhadap panas dan sinar ultraviolet.
INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI

Penyakit tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemic atau epidemik.
Penyebaran virus terjadi dengan kontak langsung, percikan ludah, bahan muntah, mungkin
dengan urin. Virus dapat diisolasi dari faring dua hari sebelum sampai enam hari setelah
terjadi pembesaran kelenjar parotis. Pada penderita parotitis epidemika tanpa pembesaran
kelenjar parotis, virus dapat pula diisolasi dari faring. Virus dapat ditemukan dalam urin dari
hari pertama sampai hari keempat belas setelah terjadi pembesaran kelenjar. Baik infeksi
klinis maupun subklinis menyebabkan imunitas seumur hidup. Bayi sampai umur 6 8 bulan
tidak dapat terjangkit parotits epidemika karena dilindungi oleh anti bodi yang dialirkan
secara transplasental dari ibunya. Insiden tertinggi pada umur antara 5 sampai 9 tahun,
kemudian diikuti antara umur 1 sampai 4 tahun, kemudian umur antara 10 sampai 14 tahun.

PATOGENESIS
Virus masuk tubuh mungkin via hidung/mulut; proliferasi terjadi di parotis/epitel traktus
respiratorius kemudian terjadi viremia dan selanjutnya virus berdiam di jaringan kelenjar/saraf
dan yang paling sering terkena ialah glandula parotis. Pada manusia selama fase akut, virus
mumps dapat diisoler dari saliva, darah, air seni dan liquor. Mumps ialah suatu infeksi umum.
Bila testis terkena infeksi maka terdapat perdarahan kecil dan nekrosis sel epitel tubuli
seminiferus. Pada pankreas kadang-kadang terdapat degenerasi dan nekrosis jaringan.
MANIFESTASI KLINIS
Masa tunas 14 sampai 24 hari. Dimulai dengan stadium prodromal, lamanya 1 sampai 2 hari
dengan gejala demam, anoreksia, sakit kepala, muntah dan nyeri otot. Suhu tubuh biasanya
naik sampai 38,5 0C sampai 39,50C kemudian timbul pembengkakan kelenjar parotis yang
mula-mula unilateral tetapi kemudian dapat menjadi bilateral. Pembengkakan tersebut terasa
nyeri baik spontan maupun perabaan, terlebih-lebih bila penderita makan atau minum sesuatu
yang masam, ini merupakan gejala khas untuk parotitis epidemika.
Infeksi Kelenjar Ludah

Perjalanan penyakit klasik dimulai dengan demam, sakit kepala, anoreksia dan
malaise. Dalam 24 jam anak mengeluh sakit telinga yang bertambah dengan gerakan
mengunyah, esok harinya tampak glandula parotis membesar yang cepat bertambah
besar, mencapai ukuran maksimal dalam 1 sampai 3 hari. Biasanya demam
menghilang 1 sampai 6 hari dan suhu menjadi normal sebelum hilangnya
pembengkakan kelenjar. Bagian bawah daun telinga terangkat ke atas dan keluar oleh
pembengkakan glandula parotis. Pembengkakan dapat disertai nyeri hebat; nyeri mulai
berkurang setelah tercapai pembengkakan maksimal berlangsung kira-kira selama 6
10 hari. Biasanya satu glandula parotis membesar kemudian diikuti yang lainnya
dalam beberapa hari. Adakalanya kanan dan kiri membesar bersamaan. Parotis
unilateral ditemukan kira-kira 25 %. Pembengkakan glandula submaksilaris dapat
dilihat dan diraba di depan angulus mandibulae. Mumps glandula submaksilaris tanpa
parotitis secara klinis tidak dapat dibedakan dengan adenitis cervical.
Epididymo-orchitis
Menduduki tempat kedua pada lelaki dewasa menurut frekuensi manifestasi klinis,
biasanya timbul sporadik parotitis dapat mendahului parotitis atau sebagai manifestasi
sendiri daripada mumps. Epididimitis selalu disertai orchitis. Ditemukan 20-30%,
unilateral pada lelaki yang menderita mumps sesudah pubertas, insiden orchitis
bilateral rendah, kira-kira 2 %.
Orchitis kebanyakan terjadi dalam 2 minggu pertama. Adakalanya di minggu ketiga.
Diagnosis mumps orchitis tanpa parotitis ditegakkan dengan titer complement fixing
antibodies yang meningkat selama masa rekonvalesensi.
Orchitis dimulai dengan tiba-tiba demam, menggigil, sakit kepala, nausea, muntah dan
nyeri abdomen bagian bawah. Keluhan-keluhan tersebut biasanya paralel dengan
beratanya orchitis. Lamanya demam jarang lebih dari 1 mingggu, demam turun secara
krisis atau lysis. Bersama timbulnya demam, testis membengkak cepat disertai nyeri
yang hebat. Tidak ada kekhawatiran akan impotensi atau sterilitas sebab:
1. Orchitis kebanyakan unilateral

2. Bila ada orchitis bilateral, sangat jarang terjadi atrofi total pada kedua testis.
Meningoencephalitis
Insiden kira-kira 10%, biasanya timbul 3-10 hari sesudah parotitis, dapat juga
mendahului parotitis. Ditandai oleh demam, sakit kepala, nausea, muntah, kaku kuduk,
gangguan kesadaran dan jarang ada kejang. Positive Brudzinskis and Kernigs Signs.
Liquor menunjukkan plecytosis dengan kebanyakan limfosit, protein meninggi,
glukosa dan klorida normal.
Biasanya demam menurun secara lysis dalam 3-10 hari. Perjalanan penyakit serupa
benign aseptic meningitis dan biasanya tanpa sequelae.

Pankreatitis
Kelainan berat teapi jarang skali, tia-tiba ada keluhan hebat di epigastrium disertai
demam, menggigil, lemah sekali,nausea dan muntah. Keluh kesah hilang perlahan
lahan dalam 37 hari, biasanya sembuh sempurna. Bila seorang perempuan menderita
mumps disertai nyeri abdomen bagian bawah berarti ada oophoritis, bila ovarium
kanan yang sakit maka keadaan tersebut mungkin tidak dapat dibedakan dengan acute
appendicitis.
Kelenjar lain yang dapat meradang pada mumps, walaupun jarang ialah tiroiditis,
mastitis, dacryoadenitis dan bartholinitis.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Jumlah lekosit normal atau terdapat leukopenia dengan limfositosis relatif. Sebagai
pemeriksaan tambahan dapat dilakukan complement-fixing antibody test, neutralization test,
isolasi virus, uji intradermal dan pengukuran kadar amylase dalam serum.
DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan bila jelas ada gejala infeksi parotitis epidemika pada pemeirksaan fisis.
Disamping leucopenia dengan limfosiotsis relative, didapatkan pula kenaikan kadar amylase
dengan serum yang mencapai puncaknya setelah satu minggu dan kemudian menjadi normal
kembali dalam dua minggu.
Keterangan klinis berupa :
1. ada kontak dengan penderita mumps 2-3 minggu sebelumnya.
2. gambaran klinis serupa parotitis.
3. tanda-tanda aseptoc meningitis.
4. Iksolasi virus mumps dan test serologic tidak diperlukan pada mumps yang klasik
tetapi pada keadaan-keadaan yang meragukan seperti bila tidak ada parotitis atau pada
recurrent parotitis.

Sekurang-kurang ada 3 uji serologic untuk mebuktikan spesifik mumps antibodies:


1. Complement fixation antibodies (CF)
2. Hemagglutination inhibitor antibodies (HI)
3. Virus neutralizing antibodies (NT)
CF paling praktis dan paling dipercaya. Countries antibodies dapat dibuktikan di darah pada
minggu ke-1 dan pada akhir minggu ke-2 sudah ada peninggian jelas. Titer meningkaty lebih
ari 4 kali atau lebih berarti mumps.
Keterangan Laboratorium tambahan
Kadar amylase dalam serum meninggi pada mumps paraparotitis dan pankteattis. Kadar
amylase rupanya berjalan paralel dengan pembengkakan parotis, puncaknya tercapai di
minggu ke-1, berangsur-angsur menjadi normal pada minggu ke-2 atau 3. kira-kira 70%
mumps disertai amylase yang meninggi.
DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding ini mencakup parotitis sebab lain, seperti pada infeksi virus termasuk
infeksi virus imunodefisiensi manusia (HIV), influenza, parainfluenza 1 dan 3,
sitomegalovirus, atau keadaan koksakivirus yang jarang dan infeksi koriomeningitis
limfositik. Infeksi-infeksi ini dapat dibedakan dengan uji laboratorium spesifik;
1. Parotitis supuratif, dimana nanah sering dapat dikeluarkan dari duktus
2. Parotitis berulang, suatu keadaan yang sebabnya belum diketahui, tetapi mungkin
bersifat alergi yang sering berulang dan mempunyai sialogram khas
3. Kalkulus salivarius, menyumbat saluran parotis, atau lebih sering saluran
submandibuler dimana pembengkakan intermitten,
4. Limfadenitis preaurikuler atau servikal anterior karena sebab apapun,
5. Limfosarkoma atau tumor parotis lain yang jarang
6. Orkitis akibat infeksi selain daripada parotitis epidemika, misalnya infeksi yang jarang
oleh koksakivirus atau virus koriomeningitis limfositik, atau parotitis yang disebabkan
oleh sitomegalovirus pada anak yang terganggu imunnya.
PENGOBATAN
Istirahat di tempat tidur selama masa panas dan pembengkakan kelenjar parotis. Simtomatik
diberikan kompres panas atau dingin dan juga diberikan analgetika. Diet makanan cair dan
lunak. Kortikosteroid selama 2-4 hari dan 20 ml convalescent gammaglobulin diperkirakan
dapat mencegah terjadinya orkitis. Self limiting disease. Perjalanan penyakit tidak dapat
dipengaruhi oleh anti mikroba.
PROGNOSIS
Pada umumnya bagus sekali, kematian sangat jarang. Meningoencephalitis biasanya tidak
ganas dan jarang bersequele walaupun insiden setelah atrofi testis setelah orchitis tinggi tetapi
kemandulan sangat jarang ditemukan. Hanya persentasi kecil yang mendapat tuli permanen.
PENCEGAHAN
Perlindungan pasif
Gammaglobulin biasanya tidak efektif. Khasiat mumps immunoglobulin juga tidak jelas.

Imunisasi aktif
1. Inactivated mumps virus vaccine tidak efektif.
2. Live attenuated mumps virus vaccine Jery Lin mulai digunakan 1968 di USA, tidak
disertai demam.
3. Suntikan subkutan, kira-kira 95% akan membuat mumps antibodies tetapi antibodinya
jauh lebih rendah daripada diperoleh sesudah menderita mumps. Vaksinasi
memberikan perlindungan yang bagus sekali paling sedikit 4 tahun.
Tidak dianjurkan kepada:
1. Anak dibawah 1 tahun yang alergi terhadap protein telur/neomycin.
2. Yang mendapat obat-obatan immunosupresif.
3. Ada kombinasi dengan vaksin morbili dan vaksin rubella.

LAPORAN KASUS
PAROTITIS

DISUSUN OLEH :
CHRASNAYA ROSA D.
ANGGOTA :
Navisah Novel
Jefrry Eka Saputra
Nanda maulidina
Ina ratna Pertiwi
Pembimbing

: Dr. Suhokusumo Pangestu

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN 2010