Anda di halaman 1dari 10

R.

M Panji Sosrokartono
24 Oktober, 2007
Kaum bangsawan di Belanda menjulukinya Pangeran dari Tanah Jawa. Raden Mas
Panji Sosrokartono, kakak R.A. Kartini, selama 29 tahun, sejak 1897,
mengembara ke Eropa. Ia bergaul dengan kalangan intelektual dan bangsawan
di sana. Mahasiswa Universitas Leiden itu kemudian menjadi wartawan perang
Indonesia pertama pada Perang Dunia I.
Di Indonesia, Sosrokartono mendirikan sekolah dan perpustakaan. Ia juga
membuka rumah pengobatan Darussalam di Bandung. Tempo menelusuri jejak
sang intelektual dan spiritualis ini dari orang-orang yang pernah
bersinggungan dengan Sosrokartono, juga dari berbagai bukunya, termasuk
surat- surat Kartini dan adik-adiknya, dan dari naskah pidatonya yang
masih tersimpan di Leiden.
Selama 29 tahun ia hidup melanglang Eropa. Di Bandung ia mendirikan
perpustakaan, rumah pengobatan, dan dicap komunis.
FOTO hitam putih seukuran kartu pos itu masih ia simpan rapi. Saat itu
Kartini Pudjiarto masih delapan tahun. Ia bersama ibunya RA Siti Hadiwati
dan kakeknya PAA Sosro Boesono berfoto bersama RM Panji Sosrokartono di
rumah pengobatan Darussalam di Jalan Pungkur 7, Bandung, milik
Sosrokartono.
Sosrokartono (1877-1952) adalah adik kandung Boesono. Keduanya adalah
kakak RA Kartini, pahlawan emansipasi wanita yang setiap tanggal 21 April
selalu dirayakan di seluruh pelosok Indonesia. Mereka adalah anak Bupati
Jepara Raden Mas Adipati Ario Samingoen Sosroningrat untuk periode
1880-1905 dari perkawinannya dengan Ngasirah. Pasangan ini memiliki
delapan anak.
Foto yang menjadi koleksi tak ternilai Kartini Pudjiarto itu dipotret pada
1950, dua tahun menjelang Sosrokartono wafat. Eyang Sosro, begitu Kartini
memanggil, duduk di sebuah kursi. Eyang Sosro lebih sering duduk di
kursi, karena separuh tubuhnya sudah lumpuh, ucapnya kepada Tempo pekan
lalu.
Ia masih ingat, setiap kali berkunjung ke rumah panggung yang dindingnya
terbuat dari bambu itu, ia selalu dicium dan diusap kepalanya. Eyang Sosro
sering berpuasa. Jika tak berpuasa, ia jarang makan. Eyang sering hanya
minum air kelapa, tutur Kartini.
Meski separuh lumpuh, Kartonobegitu RA Kartini dan adik-adiknya
memanggilmasih menerima ratusan tamu yang datang dengan berbagai
kepentingan, mulai dari sekadar meminta nasihat, belajar bahasa asing,
hingga mengobati berbagai macam penyakit.

Pada setiap pengobatan, Kartono biasanya memberikan air putih dan secarik
kertas bertulisan huruf Alif (singkatan dari Allah) kepada pasien. Kartini
Pudjiarto masih menyimpan lukisan sederhana berbingkai kayu yang berisi
goresan Alif di kertas putih pemberian Eyang Sosro. Katanya buat
jaga-jaga, ujar Kartini.
Ada pula secarik kertas putih yang berisi nasihat Eyang Sosro bertulisan
Sugih tanpa banda / Digdaya tanpa aji / Nglurug tanpa bala / Menang tanpa
ngasorake (Kaya tanpa harta/ Sakti tanpa azimat/ Menyerbu tanpa pasukan/
Menang tanpa merendahkan yang dikalahkan) yang ditempel dengan selotip di
dinding. Ia juga menyimpan tongkat Kartono, yang merupakan jatah warisan
keluarga yang dibagi-bagi setelah sang eyang meninggal.
Air putih, huruf Alif, nasihat-nasihat hidup yang ia tulis dalam bahasa
Jawa, dan laku berpuasa berhari-hari, adalah bagian dari wajah mistik
Sosrokartono, orang Indonesia pertama yang terjun ke medan peperangan di
Perang Dunia I di Eropa sebagai wartawan. Selama 29 tahun, Sosrokartono
lebih dikenal sebagai seorang intelektual yang disegani di Eropa. Ia kerap
dipanggil dengan sebutan De Javanese Prins (Pangeran dari Tanah Jawa) atau
De Mooie Sos (Sos yang Tampan).
Ia mengembara ke beberapa negara. Mula-mula ia belajar di Delft, Belanda,
lalu pindah ke Universitas Leiden, bergaul dengan kalangan bangsawan
Eropa, kemudian menjadi wartawan perang. Ia juga pernah menjadi staf
Kedutaan Besar Prancis di Den Haag, bahkan sempat menjadi penerjemah untuk
Liga Bangsa-Bangsa. Kartono pada akhirnya memutuskan
pulang ke Indonesia mendirikan perpustakaan dan sekolah. Seperempat abad
sisa umurnya kemudian ditambatkan sebagai seorang spiritualis.
Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja (Hasta Mitra,
Jakarta, 1997) menggambarkan kelebihan Kartono sebagai spritualis itu.
Pram mengutip kesaksian seorang dokter Belanda di CBZ (kini RS Dr Cipto
Mangunkusumo, Jakarta) pada 1930-an. Ia menyaksikan Kartono menyembuhkan
wanita melahirkan yang menurut para dokter tak tertolong lagi, tapi sembuh
setelah minum air putih yang diberikan Kartono.
Suryatini Ganie, cucu RA Sulastri Tjokrohadi Sosro, kakak seayah
Sosrokartono, menggambarkan kelebihan Kartono yang juga kakeknya itu
sebagai orang yang mudah sekali menebak pikiran orang. Menurut pengarang
buku Resep-resep Kartini ini, Eyang Sosro cenderung menyendiri, jauh di
Bandung, dibanding berkumpul dengan keluarga yang tersebar di Jawa Tengah.
Rumah pengobatan Pondok Darussalam milik Sosrokartono merupakan rumah
panggung yang terbuat dari kayu dengan dinding bambu. Rumah itu dibangun
memanjang membentuk huruf L sepanjang Jalan Pungkur. Bangunan itu tepat
berada di depan terminal angkutan kota Kebun Kelapa sekarang.
Kini bangunan itu sudah tidak ada lagi. Penghuninya sudah berganti, begitu
juga nomor rumahnya, yang sudah memakai nomor baru yang dipakai sejak
1960-an. Pemilik ruko yang menempati Jalan Pungkur 3, 5, 7, 9 ketika

ditanya tidak tahu bahwa di jalan itu pernah ada pondok pengobatan milik
Sosrokartono. Mendengar cerita Kayanto, pondok
pengobatan milik Kartono diperkirakan menempati deretan bangunan yang kini
sudah berubah menjadi toko listrik, swalayan di Gedung Mansion, serta
sebuah apotek yang terletak di sudut Jalan Pungkur dan Jalan Dewi Sartika.
Kayanto Soepardi, 63 tahun, putra seorang asisten Sosrokartono, masih
ingat: Darussalam tak pernah sepi. Tamunya mulai dari orang Belanda,
pribumi, hingga Cina peranakan. Ia pernah melihat Bung Karno datang
menemui Kartono. Saat itu Kartono menggoreskan huruf Alif di atas kertas
putih seukuran prangko dan menyelipkannya ke dalam peci Bung Karno,
entah untuk apa. Bung Karno pula, menurut penuturan ayahandanya, kerap
datang untuk belajar bahasa kepada Sosrokartono.
Kartono, menurut Kayanto, tidak pernah lepas dari sebuah tongkat, beskap
berwarna putih lengan panjang, sebuah topi (mirip mahkota) warna hitam,
dan mengalungkan tasbih yang menggantung hingga dadanya. Janggutnya
sebagian sudah memutih, sorot matanya tajam, dan lebih banyak diam.
Darussalam, selain menjadi rumah pengobatan, juga sebuah perpustakaan.
Kartono dalam suratnya kepada Abendanon pada 19 Juli 1926 (Surat- surat
Adik R.A. Kartini terbitan PT Djambatan 2005) menceritakan selain
mendirikan perpustakaan Panti Sastra di Tegal bersama adiknya, RA
Kardinah, ia juga mendirikan perpustakaan di Bandung. Perpustakaan ini
tidak disebut dengan nama yang lazim melainkan merupakan lambang dari
suatu pengertian baru, suatu cita-cita baru. Namanya Darussalam, yang
berarti rumah kedamaian, tulis Kartono.
Buku-buku perpustakaan itu disumbang oleh dua orang insinyur perusahaan
kereta api Staats Spoorwegen, tiga orang partikelir bangsa Belanda, dua
orang wanita Belanda, tiga orang Jawa, dan seorang Tionghoa. Semboyannya
tanpo rupo tanpo sworo, yang berarti tidak berwarna, tiada perbedaan,
tiada perselisihan, ucap Kartono.
Budya Pradipta, Ketua Paguyuban Sosrokartanan Jakarta dan dosen tetap
bahasa, sastra, dan budaya Jawa Fakultas Sastra Universitas Indonesia,
mengatakan Darussalam adalah bekas gedung Taman Siswa Bandung. Kartono
diminta menempati gedung itu oleh RM Soerjodipoetro, adik Ki Hajar
Dewantara. Eyang Sosro di sana karena diminta menjadi pimpinan Nationale
Middelbare School (Sekolah Menengah Nasional) milik Taman Siswa, ujar
Budya.
Di perpustakaan inilah tokoh pergerakan Indonesia sering berkumpul,
termasuk Ir Soekarno. Bung Karno juga diminta mengajar di sekolah itu
bersama Dr Samsi dan Soenarjo SH. Gedung ini juga dipakai oleh Partai
Nasional Indonesia dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie
pimpinan Abdoel Rachim, mertua Bung Hatta.
Kepeloporan Kartono sebagai tokoh pendidikan inilah yang hendak dikenang
Sukadiah Pringgohardjoso, mantan Duta Besar RI untuk Denmark (1981-1984).

Sukadiah kini aktif sebagai pembina Yayasan Pendidikan Anak Sehat


Sosrokartono di Cengkareng Barat, Jakarta. Yayasan ini didirikan oleh
Sosrohadikusumo, anak dari Soematri Sosrohadikusumoadik Kartono. Kami
lebih mementingkan hal-hal konkret: mendidik anak sesuai dengan
keinginan beliau dan mengentaskan kemiskinan, ujar Sukadiah.
Kartono tak pernah beku. Di Belanda, selain kuliah, ia menjadi koresponden
liputan Perang Dunia I untuk koran The New York Herald, cikal bakal The
New York Herald Tribune. Agar bisa lebih masuk ke kancah perang, ia
menerima pangkat mayor dari tentara Sekutu, tapi menolak dipersenjatai.
Salah satu keberhasilan Kartono sebagai wartawan adalah
ketika berhasil memuat hasil perjanjian rahasia antara tentara Jerman yang
menyerah dan tentara Prancis yang menang perang (Baca: Wartawan Mooie dari
Hindia Belanda).
Sebagai koresponden perang, tulis Mohammad Hatta dalam Memoir, Kartono
bergaji US$ 1.250 sebulan. Dengan gaji sebanyak itu, ia dapat hidup
sebagai seorang miliuner di Wina. Menurut cerita ia bergaul dalam
lingkungan bangsawan, tulis Hatta.
Kartono, intelektual yang menguasai 17 bahasa asing itu, mudah diterima
kalangan elite di Belanda, Belgia, Austria, dan bahkan Prancis. Ia
berbicara dalam bahasa Inggris, Belanda, India, Cina, Jepang, Arab,
Sanskerta, Rusia, Yunani, Latin. Bahkan, Ia juga pandai berbahasa
Basken (Basque), suatu suku bangsa Spanyol, kata Hatta.
Dengan pengetahuan dan kecakapan berbahasa itu, Kartono memberanikan diri
menemui Gubernur Jenderal W. Rooseboom pada 14 Agustus 1899, sebelum
berangkat ke Batavia untuk memangku jabatannya yang baru. Solichin Salam
dalam Drs. RMP Sosrokartono, Sebuah Biografi (terbitan Yayasan Pendidikan
Sosrokartono, 1979) menyebutkan, dalam pertemuan
tersebut Kartono meminta kepada Rooseboom untuk benar-benar memperhatikan
pendidikan dan pengajaran kaum pribumi di Hindia Belanda.
Profesor Dr J.H.C. Kern, dosen pembimbingnya di Universitas Leiden,
kemudian mengundang Kartono untuk menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa
dan Sastra Belanda ke-25 di Gent, Belgia, pada September 1899. Dalam
kongres yang membicarakan masalah bahasa dan sastra Belanda di pelbagai
negara itu, Sosrokartono mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia
Belanda yang tak dipenuhi pemerintah jajahan.
Dalam pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di
Indonesia), Kartono antara lain mengungkapkan: Dengan tegas saya
menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita
(Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan
menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci.
Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!
Keluhuran tradisi itulah yang menurut Kartono mesti dipertahankan
orang-orang pribumi di mana saja berada. Dengan cakrawala pengetahuan yang

terbukaKartono meminta pemerintah jajahan agar bahasa Belanda dan bahasa


internasional lain diajarkan di Hindia Belandakaum pribumi bisa
mempertahankan kemuliaan tradisi dan harga diri mereka.
Setelah 29 tahun melanglang Eropa sejak 1897, pangeran tampan dari tanah
Jawa itu pun pulang. Ia ingin mendirikan sekolah sebagaimana dicitacitakan mendiang adiknya, Kartini. Ia juga ingin mendirikan perpustakaan.
Untuk
menghimpun modal, pada mulanya ia melamar menjadi koresponden The New York
Herald untuk Hindia Belanda, tapi koran itu sudah berganti pemilik dan
merger dengan koran lain.
Namun, dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, Kartono menyatakan
kekecewaannya. Sesampai di Jawa, ia telah dicap sebagai komunis oleh
pemerintah jajahan. Itu merupakan bentuk fitnah yang sangat keji yang
saya rasakan, namun tidak berdaya terhadapnya, tulis Kartono.
Tapi kepada Anda, Nyonya yang mulia, saya bersumpah atas kubur ayah saya
dan Kartini, bahwa saya sama sekali tak pernah menganut paham komunis,
dulu tidak, sekarang pun tidak. Tidak ada yang lebih saya inginkan
daripada bekerja untuk pendidikan mental sesama bangsa saya, dalam artian
yang telah dimaksudkan oleh Kartini, ucap Kartono.
Kartono kemudian menggalang dukungan dari kelompok pergerakan di
Indonesia. Ia menemui Ki Hajar Dewantara. Bapak pendidikan itu lalu
mempersilakan Kartono membangun perpustakaan di gedung Taman Siswa
Bandung. Ia pun diangkat menjadi kepala Sekolah Menengah Nasional di kota
ini.
Pada saat yang bersamaan, ia menyaksikan orang-orang kelaparan dan
diserang berbagai macam penyakit. Kartono pun kemudian menjalankan laku
puasa bertahun-tahun untuk merasakan apa yang juga diderita
saudara-saudaranya. Ia juga menjadikan Darussalam sebagai rumah
pengobatan.
Cerita air putih, Alif, dan wejangan-wejangan hidup dalam bahasa Jawa,
kemudian mengalir dari sini dan menjelmakan Kartono sebagai seorang
penyembuh. Walaupun tak memiliki murid, di kemudian hari Kartono memiliki
pengikut. Paguyuban Sosrokartanan, komunitas pencinta
Sosrokartono, kini telah ada di empat kota: Jakarta, Yogyakarta, Semarang,
dan Surabaya. Di Yogyakarta, paguyuban ini juga membuka rumah pengobatan.
Separuh badan Kartono lumpuh sejak 1942. Kartono mangkat pada 1952, tanpa
meninggalkan istri dan anak. Ia dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kaliputu,
Kudus, Jawa Tengah. Di sebelah kiri makam Kartono terdapat makam ibunya
Nyai Ngasirah dan bapaknya RMA Sosroningrat.
Di dinding pagar besi di makam Kartono, terpasang tulisan huruf Alif dalam
bingkai kaca seukuran 10R. Di bawahnya terdapat foto Kartono mengenakan
setelan jas ala orang Barat.

Di nisan sebelah kiri, tercantum kata- kata :


Sugih tanpa banda,( kaya tanpa harta )
digdaya tanpa aji.( tangguh tanpa azimat )

Di nisan sebelah kanan tercantum kalimat:


Trimah mawi pasrah (rela menyerah terhadap
keadaan yang telah terjadi),
suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat
jahat, tidak perlu takut),
langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap
tenang, tidak kenal duka maupun suka),
anteng manteng sugeng jeneng (diam
sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).

27 November, 2008 pukul 1:01 pm | #4


Balas | Kutipan
Pribadi yang unique; bangsawan Jawa, intelektual modern, profesional, paranormal,
dan spiritualis.
Bandingnya mungkin ada tapi scoopnya yang sebenarnya adalah international tidak
akan mungkin mudah dicapai siapapun meskipun itu dicitacitakan. Bersinggungan
sangat dekat dengan bangsawan (elite) eropa waktu itu jelas tidak semua orang bisa

melakukan kalo sekarang mestinya ada seorang Indonesia yang bisa keluarmasuk
seenaknya dikalangan celebriti TOP Holywood but finally gebyar dunia yang begitu
hebat ditinggalkan memilih memasuki dunia pengabdian sujud bekti marang sesami
dalam balutan spriritual religius yang kental.
Salam hormat buat Eyang Sosro pesan beliau pada kita saat ini mestinya kita bisa
lebih berkiprah kontektual menjalankan fungis kekhalifahan kita untuk ngrekso alam
semesta dan tetap lah mempunyai jati diri yen Jowo yo Jowo yen sundo yo sundo
nanging elingi pring podo pring eling podo eling.
Wassalam
24 September, 2009 pukul 12:16 am | #9
Balas | Kutipan
Salah satu tokoh besar bangsa ini yang sayangnya banyak anak bangsa yang tak
mengenal beliau. Padahal pengajaran beliau sangat dalam dan perjuangan beliau
untuk bangsa cukup besar.
2 Desember, 2009 pukul 1:16 pm | #10
Balas | Kutipan
muride guruning pribadi, guru muride pribadi
ajaraning sengsaraning sesami
ganjarane hayu lan haruming sesami
by sosrokartono
saya sungguh mengagumi beliau dari dulu, kita semua merasa sangat kehilangan
1.
sugeng prayitno
9 Desember, 2009 pukul 10:04 pm | #11
Balas | Kutipan
yang dilakukan eyang sosro memang bisa menjadi suri tauladan bagi kita semua, saya
pribadi sangat mengagumi kepribadian beliu, tapi sayangnya generasi saat ini jarang
yang mengenal beliu.
2. 20 April, 2010 pukul 1:13 pm | #12
Balas | Kutipan
Kalau India memiliki Mahatma Gandhi, China memiliki Sun Yat Sen atau mungkin
Konfusius, Jepang memiliki The Last Samurai, sebenarnya Indonesia memiliki RM

Sosrokartono. Sayang sangat terbatas (sedikt) buku yang menuliskan ajaran atau
petuah beliau, sesuatu yang secara spiritual sangat tinggi. Konon rama Sosrokartono
juga menulis semacam jangka Jayabaya (prediksi Indonesia ke depan), barangkali
kalau ada yang memiliki dapat menampilkannya. Atau mungkin ada peneliti yang
sudah menggali kembali histori perjuangan dan perjalanan beliau. Trims
23 Mei, 2010 pukul 6:25 pm | #14
Balas | Kutipan
sayang sebagian besar bangsa ini kurang begitu mengetahui pribadi2 seperti ini,
semangat perjuangan para founding fathers yang tanpa pamrih, hilang bagaikan debu
di lantai keramik yang tertiup angin, sehingga tak meninggalkan bekas
sedikitpunpenipuan sejarah yang dilakukan Soeharto meninggalkam luka
menganga yg begitu dalamskrng semua orang menjadi matrealistis, bagaikan
bangsa yg tidak punya budaya dan panutan, semua melihat ke barat
23 Agustus, 2010 pukul 4:18 pm | #16
Balas | Kutipan
ass beliau merupakan karunia Ilahi. pribadi sederhana yg tlah berhasil merangakai
sang Alif. contoh pribadi wong jowo yg paham tirakat, tirakat tanpa batas.
Sungguh menawan riwayat hidupnya. Terimakaih Eyang
14 Mei, 2011 pukul 4:38 am | #17
Balas | Kutipan
MAHA GURU..
PUTRA BANGSA YANG DUNIA PERNAH MENGENAL(SEBELUM DAN SETELAH
MERDEKA)..
TETAPI..
TIDAK BANYAK ORANG INDONESIA YANG MENGENAL BELIAU..
HARIMAU MATI MENINGGALKAN BELANG
JASAMU..
NAMAMU..
NASEHATMU..
AKAN SELALU DIKENANG..
DENGAN SEGALA HORMAT DAN KERENDAHAN HATI..
KAMI BERHARAP AKAN ADA GENERASI PENERUS YANG MENYERUPAI WALAU
TIDAK AKAN PERNAH ADA YANG MENYAMAI..

3 Agustus, 2011 pukul 4:42 pm | #18


Balas | Kutipan
tokoh dibelakang layar yang tiada tertandingi
16 Agustus, 2011 pukul 8:57 pm | #20

Balas | Kutipan
Seorang waliyulloh
3.
M. Junaedi Juanda
27 Februari, 2012 pukul 12:15 pm | #23
Balas | Kutipan
tak disangka ternyata ada seorang yang begitu bijak di kala itu, meskipun beliau tidak
setenar Ibu Kartini, tetapi wejangannya merupakan warisan yang terbaik bagi anak
cucu bangsa
21 April, 2012 pukul 1:22 am | #24
Balas | Kutipan
Seorang pemain dibelakang layar,seorang pahlawan bangsa sejati tanpa tanda jasa..
Sesorang jenius,intelektual,berilmu,rendah hati dan penyayang.. yg sngatt sulit dicari
pada masa sekarang
Smoga Allah membalas semua kebaikan beliau dan menempatkan beliau ditempat yg
sangat layak disisi-NyaAminn..yaa..rabballalamin
6 Januari, 2013 pukul 1:37 pm | #28
Balas | Kutipan
mungkin Alloh takdirkan diriku mengikuti jejak beliau di Abad ini beberapa org
sembuh dari kelumpuhan yang di vonis dokter tidak mungkin sembuh . Berbekal
keykinan dan kesaksianku atas segala hal ikhwal takdir danketentuan-NYA yang pasti
aku suruh semua org yang datang meminta tolong padaku untuk menyebut namaNYA . hitungan menit di RS itu org lumpuh tiba2 diberi kekutan berdiri ..dan itu
menjadi jalan taubat bagi org2 disekitarku ..Eyaanggsatu tahun silam kutemukan
kumpulan tulisanmu di sebuah toko buku loak aku merinding dan bergumam
dalam bathin .. mungkin inilah jalanku yg di takdirkan atasku sebagaimana beberapa
tahun silam pembimbing spiritualku pernah mengatakan perihal anugerah ini atasku
Eyang .aku ikhlas jika ini takdir atas hidupku meski kini aku masih bertekun
dgn dunia kerja .. labbaiikAllohumma labbaiik
25 Juni, 2013 pukul 1:18 pm | #31
Balas | Kutipan
walaupun banyak masyarakat yang tidak mengetahui kiprah RMP Sosrokartono, tapi
jasa dan perjuangan beliau sangat mulia untuk bangsa ini.
saya sebagai orang Kaliputu merasa bangga dan saya secara pribadi baru menyadari

bahwa ditempat saya menjadi tempat dikebumikannya tokoh yang paling jenius di
Indonesia,,, :)
luar biasa tulisannya,,,,terimakasih
4 Desember, 2013 pukul 9:10 pm | #34
Balas | Kutipan
Subhanllah,seorang intelektual yang religius,yang senantiasa memikirkan akhirat
dengan cara melaksanakan amalan yang bermanfaat untuk umat ( bangsa ), sepi ing
pamrih,Trimah mawi pasrah (rela menyerah terhadap
keadaan yang telah terjadi), suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat
jahat, tidak perlu takut), langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap
tenang, tidak kenal duka maupun suka), anteng manteng sugeng jeneng (diam
sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).semoga Allah SWT berkenen
menempatkan beliau di Roudlatul min riyyadin Jinnan, amiin ya Robbal alamin.