Anda di halaman 1dari 10

Manajemen Tanggap Darurat dan

Pemulihan Pasca Bencana

Kegagalan Konstruksi
Akibat Gempa bumi

BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara yang sering dilanda bencana gempa bumi. Hal
ini disebabkan oleh letak Indonesia yang berada di Zona Seismic Asia Tenggara yang
aktifitas seismiknya merupakan yang teraktif di dunia. Sumatera Barat adalah salah
satu provinsi di Indonesia yang pernah mengalami gempa bumi berat yang telah
menimbulkan banyak bangunan hancur atau roboh dan rusak berat pada konstruksi
bangunan, baik perumahan rakyat, fasilitas umum, bangunan milik pemerintah
maupun swasta.
Gempa yang terjadi pada tanggal 30 September 2009 itu merupakan gempa
tektonik yang bisa menumbulkan kerusakan pada bangunan. Gempa tektonik adalah
getaran akibat pergerakan pada plat bumi atau daerah patahan (sesar).
Macam macam kerusakan pada struktur bangunan yang diakibatkan oleh
gempa adalah :
1. Kerusakan Ringan Struktur
Suatu bangunan dikategorikan mengalami kerusakan struktur tingkat ringan
apabila terjadi hal-hal sebagai berikut :
a. retak kecil (lebar celah antara 0,075 hingga 0,6 cm) pada dinding.
b. plester berjatuhan.
c. mencakup luas yang besar.
d. kerusakan bagian-bagian nonstruktur seperti cerobong, lisplank, dsb.
e. kemampuan struktur untuk memikul beban tidak banyak berkurang.
f. Laik fungsi/huni
2. Kerusakan Struktur Tingkat Sedang
Suatu bangunan dikategorikan mengalami kerusakan struktur tingkat sedang
apabila terjadi hal-hal sebagai berikut :
a. retak besar (lebar celah lebih besar dari 0,6 cm) pada dinding;
b. retak menyebar luas di banyak tempat, seperti pada dinding pemikul
beban, kolom; cerobong miring; dan runtuh;
c. kemampuan struktur untuk memikul beban sudah berkurang sebagian;
d. laik fungsi/huni.
3. Kerusakan Struktur Tingkat Berat

Manajemen Tanggap Darurat dan


Pemulihan Pasca Bencana

Kegagalan Konstruksi
Akibat Gempa bumi

Suatu bangunan dikategorikan mengalami kerusakan struktur tingkat berat


apabila terjadi hal-hal sebagai berikut :
a. dinding pemikul beban terbelah dan runtuh;
b. bangunan terpisah akibat kegagalan unsur-unsur pengikat;
c. kira-kira 50% elemen utama mengalami kerusakan;
d. tidak laik fungsi/huni.
4. Kerusakan Total
Suatu bangunan dikategorikan sebagai rusak total / roboh apabila terjadi halhal sebagai berikut :
a. Bangunan roboh seluruhnya ( > 65%)
b. Sebagian besar komponen utama struktur rusak
c. Tidak laik fungsi/ huni

BAB II
PEMBAHASAN

Manajemen Tanggap Darurat dan


Pemulihan Pasca Bencana

Kegagalan Konstruksi
Akibat Gempa bumi

Gempa yang terjadi di Padang, Sumatra Barat pada 30 September 2009 lalu,
menyebabkan banyak bangunan hancur atau roboh dan rusak berat pada konstruksi
bangunan, baik perumahan rakyat, fasilitas umum, bangunan milik pemerintah
maupun swasta. Beberapa bangunan yang rusak akibat gempa bumi ini adalah :
1. Kantor Gubernur Sumatera Barat
Kantor gubernur Sumatera Barat ini terdiri dari 4 lantai. Bangunan ini terdiri
dari 3 blok bangunan memanjang yang saling bersambungan yang dipisahkan oleh
diletasi 2-3 cm dengan menggunakan seismic joint. Dilatasi merupakan pemisah
gedung tanpa satu dinding pemisah. Hal ini bertujuan untuk menghindari kerusakan
yang lebih besar akibat bencana alam.
Pada saat terjadi gempa, masing masing blok mengalami benturan pada sisi
sisi pertemuan blok yang terpisah. Adapun peraturan SNI 02-1726-2002, yaitu
dalam segala hal jarak pemisah tidak boleh kurang dari 0,025 kali ketinggian taraf
yang diukur dari taraf penjepitan lateral. Ini menunjukkan jarak pemisah gedung
yang diperlukan yaitu 2,5 % x (4x4m) = 0,4 m = 40 cm dari sisi kolom pertemuan
masing - masing blok. Ini membuktikan bahwa jarak dilatasi 2-3 cm yang ada tidak
sesuai dengan syarat yang seharusnya sebesar 40 cm, sehingga terjadi benturan antar
blok ketika terjadi gempa.
Bukti adanya benturan (pounding) antar bangunan terlihat pada gambar 1.
Akibat benturan ini, sisi-sisi pertemuan blok mengalami kerusakan yang ditandai
dengan lepasnya plester selimut beton plat lantai dan lantai keramik pecah yang
ditunjukkan pada gambar 2.

Manajemen Tanggap Darurat dan


Pemulihan Pasca Bencana

Kegagalan Konstruksi
Akibat Gempa bumi

Gambar 1. Sisi sisi dilatasi blok kantor gubernur

Gambar 2. Benturan (pounding) pada sisi sisi blok dilatasi

2. Hotel Ambacang Padang


Hotel Ambacang ini terjadi kerusakan di bagian joint (sambungan).
Kurangnya sengkang di daerah joint bisa menyebabkan keruntuhan, tulangan utama
sudah tidak terkekang dan terlempar keluar, seperti yang terlihat pada Gambar 3
dibawah ini.

Gambar 3. Salah satu sisi Hotel Ambacang

Manajemen Tanggap Darurat dan


Pemulihan Pasca Bencana

Kegagalan Konstruksi
Akibat Gempa bumi

Kesalahan lain yang terjadi adalah menggunakan tulangan polos pada elemen
penahan gempa, padahal dalam SNI sudah tertulis bahwa menggunakan tulangan ulir untuk
semua penulangan (kecuali sengkang). Tulangan polos tidak dibernarkan karena mekanisme
lekatannya hanya mengandalkan adhesi dan friksi, yang kuat lekatnya hanya 10% dari
lekatan tulangan ulir dengan diameter yang sama. Pada saat terjadi gempa, dimana gaya
gempa bekerja bolak balik, gaya lekatan tulangan polos akan menurun drastis, bahkan bisa
hilang kontak dengan beton.

Gambar 4. Keruntuhan Pada Kolom akibat sengkang kecil dan kurang; dan
tulangan polos
3. SMAN 10 Padang
Struktur utama gedung Sekolah Menengah Atas Negeri 10 (SMAN 10)
Padang yang terletak di Padang, terdiri atas 3 (tiga) lantai menggunakan tipe struktur
rangka yang terdiri atas elemen kolom, balok dan pelat lantai.
Geometrik bangunan gedung ini berbentuk persegi panjang dengan dimensi
gedung 31 m 8.55 m, dan pada bagian depan bangunan dilengkapi balok kantilever.
Bangunan ini mempunyai 33 kolom per lantainya dengan 22 buah kolom dimensi 30
cm 50 cm, 10 buah kolom 20 cm 50 cm dan 2 buah kolom tambahan berukuran
20 cm 20cm pada bagian tangga. Pada setiap kolom dihubungkan oleh balok induk
dengan dimensi 30 cm 55 cm, baik dalam arah x ataupun dalam arah y, terdiri dari 3

Manajemen Tanggap Darurat dan


Pemulihan Pasca Bencana

Kegagalan Konstruksi
Akibat Gempa bumi

lantai dimana tinggi masing-masing lantai 3 m. Dengan tinggi total adalah 12 meter
termasuk atap.
Pada saat terjadinya gempa, banyak terjadi kerusakan struktural pada gedung
tersebut. Untuk pondasi bangunan, menunjukkan adanya penurunan yang terjadi, hal
ini terlihat pada penurunan lantai di bagian sekitar kolom. Penurunan yang terjadi
dapat dilihat pada Gambar 5. Namun penurunan yang terjadi adalah penurunan
seragam, sehingga penurunan yang terjadi tidak membahayakan struktur bangunan.

Gambar 5. Penurunan Pondasi


Kerusakan yang terjadi pada balok merupakan kerusakan sedang, yaitu
hancurnya beton balok serta lepasnya ikatan kolom dan balok yang menunjukkan
buruknya pengerjaan pemasangan tulangan. Kerusakan tersebut dapat dilihat pada
Gambar 6.

Manajemen Tanggap Darurat dan


Pemulihan Pasca Bencana

Kegagalan Konstruksi
Akibat Gempa bumi

Gambar 6. Kerusakan Pada Balok


4. Gedung BPKP Sumatera Barat
Gedung Kantor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
Provinsi Sumatera Barat ini merupakan bangunan gedung berlantai 5 (lima) dengan
luas total bangunan 4000 m. Kerusakan gedung ini terlihat seperti lepasnya
sambungan balok dan kolom retak pada dinding bahkan ada beberapa bagian dinding
yang terlepas. Hal ini sangat membahayakan dari kegiatan karyawan BPKP.
Dari pengamatan visual di lapangan, secara umum kerusakan yang terjadi
dapat dikelompokkan dalam 2 kategori, yaitu :
a) Kerusakan elemen struktural terjadi pada kolom lantai 1 s/d lantai 5 yang
mengalami pecah pada ujung-ujung kolom serta terlepasnya selimut beton.
b) Kerusakan elemen non struktural seperti dinding, partisi, plafond dan elemen
non struktural penunjang fungsi gedung lainnya.
Dari hasil pengamatan lapangan, diperoleh :
a) Kerusakan struktur pada lantai 2 :
Adanya kerusakan pada kaki kolom berupa selimut beton kolom terlepas dan
beton struktur kaki kolom pecah. Pada balok dijoint yang sama juga terjadi
rusak ringan dengan lepasnya selimut beton balok.
b) Kerusakan struktur pada lantai 3 dan lantai 4 :
Kerusakan struktur gedung BPKP lebih terkonsentrasi pada kerusakan
kolom berupa kegagalan struktur pada ujung bagian kolom berupa

terlepasnya selimut beton dan ikatan sengkang.


Lepasnya sambungan balok ke kolom yang terjadi di lantai

Manajemen Tanggap Darurat dan


Pemulihan Pasca Bencana

Kegagalan Konstruksi
Akibat Gempa bumi

Salah satu yang menjadi penyebab runtuhnya bangunan ini adalah ketebalan
selimut beton lebih kecil dari ketebalan minimum yang disyaratkan pada Peraturan
Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung SNI 03-2847-2002.
Kerusakan non struktural pada gedung BPKP secara substansial lebih
diakibatkan karena tidak adanya ikatan yang terjadi pada dinding bata. Dinding ini
tidak terkait dengan struktur bangunan sehingga banyak yang jatuh keluar.

Gambar 7. Kerusakan Pada Gedung BPKP Sumatera Barat

BAB III
PENUTUP

Dari pembahasan tentang kegagalan konstruksi akibat gempa bumi yang


terjadi di Padang pada 30 September 2009 tersebut, dapat diambil beberapa
kesimpulan :
1. Gempa tersebut menyebabkan banyak bangunan hancur atau roboh dan
rusak berat pada konstruksi bangunan, baik perumahan rakyat, fasilitas
umum, bangunan milik pemerintah maupun swasta.

Manajemen Tanggap Darurat dan


Pemulihan Pasca Bencana

Kegagalan Konstruksi
Akibat Gempa bumi

2. Sebagian besar penyebab keruntuhan bangunan ini adalah kurangnya


perhitungan dan detailing yang tepat.
3. Pada gedung kantor gubernur Sumatera Barat, penyebab runtuhnya
bangunan ini adalah kesalahan dalam perhitungan jarak dilatasi yang
merupakan pemisah gedung.
4. Pada gedung hotel Ambacang Padang, penyebab utama runtuhnya
bangunan tersebut adalah kurangnya sengkang pada daerah joint dan
menggunakan tulangan polos pada elemen penahan gempa.
5. Pada gedung SMAN 10 Padang penyebab runtuhnya bangunan tersebut
adalah karena salahnya perhitungan struktur dan kurangnya mutu pada
proses pengerjaan bangunan tersebut.
6. Pada gedung BPKP Provinsi Sumatera Barat, penyebab runtuhnya
bangunan tersebut adalah karena ketebalan selimut beton lebih kecil dari
ketebalan minimum yang disyaratkan.

DAFTAR PUSTAKA

Iffah, W. 2011. Forensik Struktur Engineering Gedung Pemerintahan Yang Rusak di


Kota Padang Akibat Gempa 30 September 2009. Artikel Tesis. Universitas
Andalas
Fauzan. 2010. Analisa Kerusakan Struktur Bangunan Gedung A SMAN 10 Padang
Akibat Gempa 30 September 2009. Jurnal Rekayasa Sipil. Vol. 6 No. 2.
Gusril, F. 2012. Identifikasi Kegagalan Struktur dan Alternatif Perbaikan Serta
Perkuatan Gedung BPKP Provinsi Sumatera Barat. Tesis. Universitas Andalas.

Manajemen Tanggap Darurat dan


Pemulihan Pasca Bencana

Kegagalan Konstruksi
Akibat Gempa bumi