Anda di halaman 1dari 5

KONSEP PENGAWASAN DALAM KEBENCANAAN

Pertemuan 1 : Konsep Pengawasan Dalam Manajemen Bencana


Pada kegiatan manajemen, terdapat 3 (tiga) hal yang merupakan komponen
dari fase tanggap darurat, yaitu :
a) Perencanaan,
b) Pelaksanaan
c) Pengawasan.
Dan yang paling penting diantara ketiga tersebut adalah pengawasan. Hal ini
dikarenakan pengawasan adalah penetuan akhir dari bagus atau tidaknya pekerjaan
rehab-rekon.
Pada kegiatan perencanaan dan pelaksanaan, dilakukan dengan
mempertimbangkan kebutuhan kebutuhan yang ada pada masyarakat dan kebijakan
menurut undang undang dan pemerintah. Kebijakan pemerintah membawa hasil
perencanaan menjadi efektif.
Kegiatan pengawasan terdiri dari 2 (dua) tahap, yaitu :
1. Pemantauan. Pada tahap pemantauan, seorang pengawas melakukan laporan
rutin harian terhadap pekerjaan yang dilakukan. Tahap ini bertujuan untuk
meningkatkan pekerjaan rehab-rekon secara efisien dan efektif dan didasari
oleh target yang yang direncanakan pada kegiatan perencanaan. Informasi
yang didapat dari seorang pengawas pada tahap pemantauan adalah berupa :

Aktivitas yang sedang dilakukan, hasil yang didapat, dan pengaruh yang
didapat.
2. Evaluasi. Pada tahap evaluasi, merupakan tahap dimana informasi
informasi yang telah didapat pada tahap pemantauan dikumpulkan dan
kemudian dinilai kelayakannya. Tujuan dari tahap ini adalah untuk
meningkatkan kebijakan tentang bantuan untuk di hari yang akan datang dan
intervensi melalui umpan balik.
Kesamaan dalam kedua tahap ini adalah masing masing berfokus pada 3
(tiga) hal, yaitu :
Efisien
Efisien memberikan output yang tepat sesuai dengan input yang diberikan.
Dalam hal ini input tersebut merupakan, biaya, waktu, staff, dan peralatan.
Efektif
Efektif memberikan ukuran sejauh mana kegiatan rehab-rekon telah
berlangsung dan mencapai tujuan yang spesifik.
Pengaruhnya.
Pengaruh dalam hal ini memberikan gambaran apakah strategi strategi yang
digunakan untuk mengatasi permasalah berguna atau tidak.
Pertemuan 2 : Metode Pengawasan
Ada 10 (sepuluh) langkah hasil yang didasari dari sistem pemantauan dan
evaluasi tersebut, yaitu :
1. Melakukan penilaian kesiapan
2. Menyetujui hasil penilaian untuk dipantau dan dievaluasi
3. Menyeleksi kunci indikator untuk hasil pemantauan
4. Menentukan data dasar pada indikator
5. Merencanakan kemajuan, seperti menyeleksi hasil target
6. Memantau hasil
7. Melakukan evaluasi
8. Memberikan laporan
9. Menggunakan hasil tersebut
10. Menjalankan sistem pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan dalam
perusahaan

Untuk memperoleh hasil hasil pemantauan tersebut, pada masa


pelaksanaannya diawali dengan mengindentifikasi input, yaitu berupa : dana, pekerja,
dan material yang tersedia. Kemudian melakukan penilaian terhadap aktivitas, yaitu
berupa : tugas para pekerja dalam menjalankan pekerjaannya masing masing agar
memperoleh hasil yang baik hingga pekerjaan selesai. Ketika pekerjaan telah selesai,
dilakukan penilaian terhadap hasil. Tidak hanya hasil yang dapat dirasakan dalam
jangka pendek, tetapi juga hasil yang dapat dirasakan dalam waktu yang lama.
Pengawasan juga terdiri dari ruang lingkup kesiapsiagaan, peringatan dini,
dan mitigasi. Pada kesiapsiagaan, kegiatan pengawasan berupa memastikan uji coba
rencana penanggulangan darurat, penyiapan lokasi evakuasi, dll. Pada peringatan
dini, kegiatan pengawasan berupa memastikan analisis hasil pengamatan gejala
bencana, penyebarluasan informasi tentang peringatan bencana, hingga pengambilan
tindakan oleh masyarakat. Pada mitigasi, kegiatan pengawasan berupa memastikan
pengaturan pembangunan, pembangunan infrastruktur, tata bangunan; dan
penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan baik secara konvensional
maupun modern.
Ketika terjadi bencana, kegiatan pengawasan berada pada arahan BNPB.
Dalam hal ini yang sangat bertanggung jawab dalam kegiatan pengawasan adalah
inspektorat utama, yaitu tugasnya adalah melaksanakan pengawasan fungsional
terhadap tugas di lingkungan BNPB dan dan dipimpin oleh inspektur utama. Laporan
pertanggung jawaban berupa pelaporan keuangan.
Pertemuan 3 : Standar Pengawasan
Indikator input untuk standar pengawasan adalah berupa alokasi dana dan
sumber daya di setiap tingkat. Masalah keungan ini menjadi bagian yang terpenting
karena keuangan digunakan untuk memonitor kemajuan dalam segala hal, komitmen,
dan untuk pembayaran pembayaran untuk setiap operasi atau program lainnya.
Indicator output untuk standar pengawasan adalah berupa ukuran tentang aktivitas
yang dirilis secara langsung dalam program.

Indikator hasil untuk standar pengawasan adalah ukuran dampak langsung


dan tindakan intervensi segera yang memberikan informasi tentang perubahan.
Seperti mengukur tentang perilaku, kapasitas, dan kinerja penerima manfaat
langsung. Indikator dampak untuk standar pengawasan adalah mengacu pada
keuntungan dari program yang berefek langsung pada penerima manfaat.
Untuk memperoleh hasil dari pengawasan yang baik, standar standar
pengawasan terseut mengacu pada UURI No. 15 Tahun 2004 tentang pemeriksaan
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara. Standar standar pemeriksaan
ini adalah patokan untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan, meliputi : standar
umum, standar pelaksanaan, dan standar pelaporan yang wajib dipedomani.
Selanjutnya laporan hasil pemeriksaan tersebut disampaikan kepada DPR atau DPD.
Laporan pertanggung jawaban ini berisikan :
Realisasi fisik
Realisasi anggaran
Data pendukung lainnya
Bagi lembaga lembaga asing tidak dipersulit untuk memperlancar bantuan,
namun tetap dalam prosedur dari kepala BNPB melalui Peraturan Kepala BNPB No.
22 Tahun 2010. Peraturan tersebut meliputi 3 (tiga) hal, yaitu : dimulainya bantuan
internasional, pengelolaan bantuan internasional, dan berakhirnya bantuan
internasional. Laporan laporan mengenai pekerjaan bantuan yang dilakukan oleh
lembaga asing tersebut disusun dan disampaikan kepada BNPB dalam rapat
koordinasi untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan. Laporan yang harus
disampaikan ke BNPB adalah :
Laporan periodik,
laporan akhir,
laporan laporan lainnya yang sewaktu waktu dimininta BNPB untuk
keperluan pemerintah.

Pertemuan 4 : Lesson Learned ( Pengawasan Dalam Rehabilitasi dan


Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Aceh dan
Nias
Pada bencana gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 dan disusul
dengan gempa bumi di kepulauan Nias Sumatera Utara pada 28 Maret 2005,
mengalami kerusakan parah yang harus segera ditangani guna mengembalikan
kondisi psikologis penduduk, kehidupan sosial ekonomi dan pemerintahan. Untuk
mewujudkan itu semua, perlu dilakukan rehab-rekon yang mengacu pada peraturan
PU No. 2 Tahun 2005 tentang Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah, dan
peraturan peraturan lainnya.
Kegiatan rehab-rekon ini dimulai pada 29 April 2005 dan berakhir pada 16
April 2009. Tim dari kegiatan ini terdiri dari dewan pengarah, dewan pengawas, dan
badan pelaksana. Untuk dewan pengawas dalam hal ini adalah yang bertanggung
jawab untuk memastikan kegiatan rehab-rekon tersebut telah berjalan secara efisien
dan efektif serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kewenangan dewan pengawas
ini antara lain : Menunjuk dan menggunakan jasa profesional auditor independen
atau tenaga ahli lainnya dan Meminta penjelasan Badan Pelaksana dan pihak lain
yang terkait dengan pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi.
Konsep kerja dewan pengawas ini terdiri dari 2 (dua), yaitu : (1) Pengawasan
keuangan dan kinerja, yaitu memberdayakan deputi pengawasan dan satuan antikorupsi dan berinteraksi secara intens dengan pimpinan badan pelaksana, deputi
pengawasan dan SAK; (2) Pengawasan benefit dan dampak, yaitu mempelajari
dokumen dan tor, dan membahas temuan dengan bapel dan memberi rekomendasi.
Kesekreatariatan dewan pengawas ini terletak di 2 (dua) tempat, yaitu di Banda Aceh
dan Jakarta.