Anda di halaman 1dari 16

RENCANA KONTIJENSI GUNUNG MERAPI

(KABUPATEN SLEMAN)

Oleh :
Mutia Yacob
Sanneti Hevianis
Sri Wahyuni
Sri Widyastari

Latar Belakang
Indonesia yang terletak dalam gugusan ring of
fire sehingga mempunyai potensi bencana yang
sangat tinggi dan bervariasi dari aspek jenis
bencana
Gunung Merapi adalah salah satu gunung api
yang teraktif didunia. Periode ulang aktivitas
erupsi berkisar antara 27 tahun
Aktivitas erupsi gunung Merapi tahun 2006 lahar
panas dan awan panas menuju ke hulu Kali
Gendol dan Opak di wilayah Sleman serta Kali
Woro di wilayah Klaten

Pengertian Kontijensi
Kontinjensi adalah suatu kejadian yang bisa terjadi, tetapi
belum tentu benarbenar terjadi.
Oleh karena ada unsur ketidakpastian,maka diperlukan suatu
perencanaan untuk mengurangi akibat yang mungkin terjadi
Perencanaan kontinjensi merupakan suatu upaya untuk
merencanakan sesuatu peristiwa yang mungkin terjadi, tetapi
tidak menutup kemungkinan peristiwa itu tidak akan terjadi
Proses perencanaan tersebut melibatkan sekelompok
orang
atau organisasi
yang bekerjasama
secara
berkelanjutan untuk merumuskan dan mensepakati tujuantujuan bersama, mendefinisikan tanggung jawab dan
tindakan-tindakan yang harus diambil oleh masing-masing
pihak

Tujuan
Rencana kontijensi gunung merapi kabupaten
Sleman bertujuan sebagai pedoman penanganan
bencana letusan Gunung Merapi pada saat tanggap
darurat bencana yang cepat dan efektif serta
sebagai dasar memobilisasi sumber daya para
pemangku
kepentingan
(stakeholder)
yang
mengambil peran dalam penyusunan kontijensi
plan.

Sifat Rencana Kontijensi


Dokumen rencana kontijensi letusan Gunung Merapi
bersifat :
1. Partisipatif, disusun oleh multi sektor dan multi
pihak
2. Dinamis dan selalu terbarukan

Ruang Lingkup

Ruang lingkup ancaman Erupsi Gunung Merapi dalam


rencana kontijensi dibatasi oleh batas administrasi
diwilayah Kabupaten Sleman yang meliputi 3 kecamatan
(Cangkringan,Pakem , Turi), 7 Desa dan 23 Dusun.

Tahapan Penyusunan Rencana


Kontijensi
Penyusunan rencana kontijensi meliputi tahapan sebagai berikut:
Penyamaan persepsi terhadap semua pelaku
penanggulanganbencana Merapi tentang pentingnya kontingensi plan
Pengumpulan data dan updating
Pengumpulan data dilakukan pada semua sektor penanganan
bencana dan lintas administratif.
Verfikasi data
Analisa data sumberdaya yang ada dibandingkan
proyeksikebutuhan penanganan bencana saat tanggap darurat.
Penyusunan rancangan awal kontinjensi plan
Penyusunan naskah akademis, pembahasan dan
perumusandokumen kontingensi plan yang disepakati.
Publik hearing/konsultasi public hasil rumusan kontingensi plan.
Penyebaran/disemenasi dokumen kontigensi plan kepada
semuapelaku penanggulangan bencana (multi stake holder).

Kawasan Rawan Bencana


1. Kawasan Rawan Bencana III
. Kawasan
rawan
bencana
III
adalah
kawasan yang sering terlanda awan panas,
aliran lava pijar (guguran/ lontaran material
pijar), gas beracun.
. Meliputi tiga wilayah kecamatan yaitu
Kecamatan, Kecamatan Pakem
dan
Kecamatan Turi.
. Desa
dan
dusun
wilayah
Kecamatan
Cangkringan yang termasuk KRB III yaitu
Desa Glagaharjo meliputi dusun Kali Tengah
Lor

2. Kawasan Rawan Bencana - II


. Kawasan rawan bencana II yang berpotensi
terlanda aliran awan panas, gas racun, guguran
batu (pijar) dan aliran lahar
. Terdiri atas 7 wilayah desa di 3 kecamatan
3. Kawasan Rawan Bencana I
. Kawasan rawan bencana I adalah kawasan yang
rawan terhadap lahar/ banjir dan kemungkinan
dapat terkena perluasan awan panas
. Meliputi : Sepanjang aliran sungai Gendol dan
Opak, sungai Boyong disebelah hilir disebut
sungai Code, sungai Krasak dan Sungai Kuning.

Mitigasi Penanggulangan Bencana


Alam
Sistem penanggulangan bencana alam kabupaten
Sleman memadukan sistem mitigasi fisik dan
mitigasi non fisik.
Mitigasi fisik adalah pengurangan resiko bencana
dengan struktur bangunan tertentu yang dapat
melindungi masyarakat dari ancaman bahaya
alam.
Mitigasi non fisik adalah pengurangan resiko
bencana dengan program pelatihan, sosialisasi,
dan gladiresik

Mitigasi fisik penanggulangan bencana di


Kabupaten Sleman

Mitigasi non fisik penanggulangan bencana


di Kabupaten Sleman

Simulasi Kejadian
Simulasi dapat ditentukan mulai dari tingkat minimal
medium, sampai dengan tingkat maksimal
Pemkab Sleman membuat rencana kontijensi gunung
merapi dengan kerangka kebijakan maksimal
Berdasarkan skenario yang ditetapkan, kerusakan dan
kerugian yang diperkirakan terjadi akan berdampak
pada :
a) Penduduk
b) Sarana dan Prasarana
c) Ekonomi
d) Pemerintahan
e) Lingkungan

Kebijakan
Minimalisasi korban meninggal ( road to zero victim)
Penanganan bencana alam berbasiskan komunitas masyarakat.
Titik berat kegiatan penanganan bencana banyak dilakukan
pada fasepra bencana (pengurangan resiko bencana)
Memadukan mitigasi fisik dan mitigasi non fisik.
Memberikan perlindungan perhatian khususnya kelompok
rentan, sertamemenuhi kebutuhan dasar secara realistis.
Memberikan
penyelamatan
dan
perlindungan
kepada
masyarakat sesuai skala prioritas tanpa diskriminasi
Memberdayakan segenap potensi yang ada dan menghindari
terjadinya ego sektor
Melakukan kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat dan
antar negara dalam menggalang bantuan, dengan tetap
memperhatikan etika kebangsaan

Strategi

Membentuk Posko Utama di Pakem sebagai fungsi


manajemen dan koordinasi penanganan bencana.
Memenuhi pelayanan logistik dengan mendirikan poskoposko ,tenda pengungsian dilengkapi dapur umum dengan
tetap memperhatikan kelompok rentan.
Memenuhi
pelayanan
kesehatan
dengan
menyelenggarakan posko kesehatan di setiap barak
pengungsian dan balai kesehatan lain.
Memenuhi
pelayanan
sarana-prasarana
kehidupan
(transport, tempat tinggal sementara, sanitasi) di
barak/tenda pengungsian (MCK, air bersih), dengan tetap
memperhatikan kelompok rentan.
Mengidentifkasi jenis-jenis bantuan, menghimpun bantuan
serta mendistribuikannya
Memberikan informasi yang jelas kepada pihak yang
membutuhkan

Memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal dan nilai-nilai


kebajikan dalam penanganan bencana
Evakuasi korban, meninggal dunia dan yang masih hidup
melalui relawan, tim SAR, LSM, dll
Penanganan Pengungsi (tenda, logistik, sarana dan
prasaranalainnya), lembaga terkait
Mengidentifikasi negara-negara yang memungkinkan
memberikan bantuan secara sukarela
Menyebarluaskan informasi tentang bencana yang terjadi
melalui, media cetak, elektronik dan telematika

TERIMA KASIH