Anda di halaman 1dari 22

DIARE

LAPORAN KASUS

OLEH:
YURIKO ANDRE

0910312086

PRATIWI DIAN P

0910312111

ANISA PERSIA

0910312116

PEMBIMBING:
Dr. Roni Eka Saputra, Sp. OT(K)

PUSKESMAS AIR DINGIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
TAHUN 2014

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 LATAR BELAKANG
Diare masih merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak-anak
di berbagai negara berkembang. Setiap tahun diperkirakan lebih dari 1 milyar kasus di dunia
dengan 3,3 juta kasus kematian sebagai akibatnya. Diare masih merupakan penyebab kematian
penting pada anak-anak di negara berkembang. Kombinasi paparan lingkungan yang patogenik,
diet yang tidak memadai, malnutrisi menunjang timbulnya kesakitan dan kematian karena diare.
Hal itu terjadi lebih dari 1 milyar episode setiap tahun, dengan 2-3 % jatuh kedalam keadaan
dehidrasi1.
Menurut laporan Depkes RI, di Indonesia setiap anak mengalami diare 1,6-2 kali setahun.
Sekitar 80 % kematian yang berhubungan dengan diare yang terjadi pada 2 tahun pertama
kehidupan. Penyebab kematian adalah karena dehidrasi sebagai akibat dari kehilangan cairan dan
elektrolit melalui tinja2.
Diare masih juga merupakan penyebab penting kekurangan gizi pada bayi dan balita. Hal
ini disebabkan karena adanya anoreksia sehingga makan lebih sedikit dan biasanya kemampuan
menyerap sari makanan juga berkurang. Padahal kebutuhan sari makanan meningkat dengan
adanya infeksi serta kebiasaan yang salah dari orang tua yang menghentikan semua jenis
makanan unutk mengistirahatkan usus sehingga diare akan berkurang2.
Oleh karena masih tingginya angka kematian dan kesakitan pada anak karena penyakit
diare ini, pencegahan harus dilakukan dengan cara hidup sehat dan penanganan yang cepat dan
tepat dalam mengatasi diare ini juga sangat penting untuk menurunkan angka kematian akibat
penyakit ini2.
1.2 DEFINISI
Diare didefinisikan sebagai berak-berak encer dengan frekuensi lebih dari 3 kali pada
anak dan lebih dari 4 kali pada bayi dengan disertai atau tanpa adanya darah atau lendir2.
I.3 KLASIFIKASI
Secara klinis diare dapat dibedakan menjadi 3 yaitu2 :

1. Diare akut yaitu diare yang terjadi mendadak pada anak yang sebelumnya sehat,
berlangsung kurang dari 14 hari.
2. Diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi non infeksi .
3. Diare persisten yaitu diare yang terjadi lebih dari 14 hari dengan etiologi infeksi.
I.4 ETIOLOGI
Beberapa penyebab seperti virus, kuman patogen, dan parasit yang sering didapatkan pada anak
dengan diare yang ke sarana pengobatan adalah 2,5:
a. Rotavirus

:15-25 %

b. Echerichia coli enterotoksigenik(ETEC)

:10-20 %

c. Shigella

: 5-10 %

d. Campylobakter jejuni

:10-15 %

e. Vibrio cholera

: 5-10 %

f. Salmonella thypi

: 1- 5 %

g. Escherichia coli enteropatogenik(EPEC)

: 1- 5 %

h. Cryptosporidium

: 5- 15 %

i. Giardia lamblia
j. Entamoeba hystolitika
k. Parasit lain (cacing)
1.5 EPIDEMIOLOGI
Di dunia diare akut menyebabkan kematian sebanyak 5 juta pertahun, 25 % diantaranya
disebabkan oleh diare kronik. Di Indonesia angka kesakitan diare pada saat ini adalah 230-330 /
1000 penduduk untuk golongan umur balita dan 1,6 2,2 episode diare tiap tahunnya untuk
golongan umur batita. Angka kematian diare golongan umur balita adalah sekitar 4 per 1000
balita. Diare pada bayi dan balita sekarang menduduki peringkat kedua setelah ISPA dengan
persentase 15 % pada bayi dan 25 % pada balita.1,5.
Cara penularan diare pada umumnya secara oro-fekal melalui :
1. makanan dan minuman yang telah terkontaminasi dengan enteropatogen

2. kontak langsung penderita atau barang-barang yang telah tercemar dengan tinja
penderita atau secara tidak langsung melalui lalat(4F yaitu food, feces, finger,and
fly).5
Penyakit diare akut pada anak-anak mungkin juga disertai dengan penyakit lain seperti :
1. Infeksi saluran nafas (Bronkopneumonia, Bronkitis, dll)
2. Infeksi susunan saraf pusat (meningitis, ensefalitis, dll)
3. Infeksi saluran kemih
4. Kurang gizi (KEP berat, defisiensi vitamin A,dll)
5. Infeksi sistemik lainnya
6. Penyakit lain yang disertai diare akan tetapi lebih jarang terjadi (penyakit jantung yang
berat atau gagal jantung dan penyakit ginjal atau gagal ginjal)1
1.6 PATOGENESIS
Mekanisme yang menyebabkan diare adalah sebagai berikut :
1. gangguan osmotik
Makanan yang tidak dapat diserap dengan baik akan menyebabkan tekanan osmotik
rongga usus meninggi, hal ini menyebabkan pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga
usus.
2. Gangguan sekresi
Adanya rangsangan tertentu misalnya toksin pada dinding usus akan menyebabkan
peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus.
3. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik usus akan meneyebabkan kesempatan untuk melakukan penyerapan
makanan menurun sehingga timbul diare. Hiperperistaltik usus menyebabkan
perpindahan makanan dalam usus menjadi lambat sehingga memungkinkan pertumbuhan
bakteri. Bakteri yang tumbuh ini akan mengeluarkan toksin yang akan merangsang
sekresi air dan elektrolit sehingga timbul diare.
Adapun patofisiologi yang mendasari timbulnya manifestasi klinis dehidrasi adalah:
1. Intake kurang
-

minum kurang

anoreksia

hipodipsi karena fungsi hipotalamus terganggu

2. Pengeluaran meningkat
-

keringat banyak atau insensible loss meningkat (hiperventilasi, panas tinggi, dll).

osmotic diuresis renal loss.1,6

1.7 GEJALA KLINIS


1. Cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan menurun atau tidak ada,
kemudian tinbul diare.
2. Anus dan daerah sekitarnya bisa lecet (eritema natum)
3. Muntah yang dapat timbul sebelum atau sesudah diare
4. Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit maka gejala dehidrasi
mulai muncul dan dirasakan seperti : rasa haus, elastisitas kulit /turgor kulit turun,
berat badan menurun, bibir dan mukosa mulut kering, mata cekung, airmata tidak ada,
ubun-ubun kecil cekung, air kencing sedikit (oliguria bahkan anuria), tekanan darah
rendah, takikardia dan penurunan kesadaran 1,4
Penilaian keadaan dehidrasi
Tabel 1. Penilaian derajat dehidrasi
Penilaian
1. lihat
Keadaan umum++
Mata
Airmata
Mulut dan lidah
Rasa haus

Baik sadar
Normal
Ada
Basah
Minum biasa

Gelisah, rewel*
Cekung
Tidak ada
Kering
Haus,minum*

Lesu lunglai*
Sangat cekung
Tidak ada
Sangat kering
Malas minum atau
tidak bisa minum

2. Periksa Turgor kulit

Kembali cepat Kembali lambat*

3. Derajat dehidrasi

Tidak
dehidrasi

ada Dehidrasi
atau

Sangat lambat*

ringan Dehidrasi berat bila

sedang bila ada 1 tanda * +1

ada 1 tanda * +1 atau


atau
4. Terapi

Rencana A

lebih

lain
Rencana B

lebih

tanda lain
Rencana C

tanda

1.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Pemeriksaan laboratorium darah rutin
2. Pemeriksaan feses
a. Makroskopik (konsistensi, jumlah, bau, lendir, darah)
b. Mikroskopik (leukosit, eritrosit, telur cacing, kista dan tropozoit protozoa)
1.9 PENATALAKSANAAN
Prinsip pengobatan :
1. mencegah dehidrasi
2. terapi dietetik
3. obat-obatan.
1.9.1 Terapi Rehidrasi
a. Diare akut tanpa dehidrasi (rencana pengobatan A)
Mengganti cairan yang keluar sesegera mungkin dengan minum lebih banyak dari yang keluar.
Cara minum sedikit demi sedikit, diberikan dengan sendok pada posisi anak duduk atau setengah
duduk. Cairan yang dapat diberikan adalah oralit, cairan rumah tangga antara lain Larutan Gula
Garam (LGG), air tajin, air sayur, air sup, bila ASI tidak ada dapat diberikan susu pengganti
ASI, anak tetap diberi makan sesuai umur dengan prinsip mudah dicerna dan mudah diserap,
tidak berserat dan tidak merangsang, diberikan dalan porsi kecil tapi dengan frekuensi sesering
mungkin
a. Anak umur 2 tahun berikan -1/2 gelas (50-100 cc) / berak encer
b. Anak umur 2-5 tahun -1 gelas (100-200 cc) / berak encer
c. Anak umur > 5 tahun minum semaunya
b. Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang (rencana Pengobatan B)
Jumlah larutan oralit yang harus diminum selama 3-4 jam pertama adalah 75 ml/ kgBB. Dapat
juga diberikan berdasarkan umur , bila berat badan tidak diketahui :
a. Umur < 1 tahun

: 300 cc

b. Umur 1-5 tahun

: 600 cc

c. Umur > 5 tahun

: 1200 cc

d. Dewasa

: 2400 cc

Setelah 3 sampai 4 jam nilai lagi keadaan anak dengan menggunakan bagan penilaian kemudian
pilih rencana A, B, atau C untuk melanjutkan pengobatan2,4.
c. Diare dengan dehidrasi berat (Rencana Pengobatan C)
tabel 2. Tatalaksana dehidrasi berat pada anak
Umur
< 1 tahun
> 1 tahun

30 ml/ kgBB
1 jam pertama
-1 jam pertama

70 ml/ kgBB
5 jam berikutnya
2 -3 jam berikutnya

a. Nilai kembali pemberian tiap 1-2 jam bila rehidrasi belum tercapai percepat tetesan
b. Juga berikan Oralit 5 ml/ kgBB/ jam bila penderita bisa minum
c. Selah 6 jam pada anak nilai lagi penderita dengan menggunakan bagan penilaian dan
pilih rencana terapi yang sesuai
1.9.2 Farmakoterapi pada Diare
Sebagian besar kasus diare disebakan oleh infeksi virus. Oleh karena itu penatalaksaan lebih
difokuskan dalam upaya merehidrasi untuk mencegah pasien jatuh dalam kondisi dehidrasi yang
berat. Antibiotik dan antiprotozoa baru digunakan untuk kasus-kasus diare spesifik misalnya
pada kasus disentri, kolera, disentri amoeba dan giardiasis.
Tabel 3. Penggunaan antibiotik dan antiprotozoa pada kasus diare spesifik menurut Depkes RI8
Penyakit

Kolera

Antimikroba
oral

Doksisiklin
Tablet atau
kapsul,
300 mg
Tetrasiklin
Tablet atau
kapsul,
300 mg
Trimethoprim

ANAK-ANAK
Perkiraan dosis berdasarkan BB (kg) dalam
bentuk tablet, kapsul atau ml sirop

Dosis/frekuensi
lama
pemberian
Tidak sesuai
untuk anak
dibawah 12
tahun
12,5 mg/kgBB
4x sehari
selama 3 hari

3-5 kg

6-9 kg
-

10-14
kg
-

15-19
kg
-

20-29
kg
-

DEWASA
DOSIS
(tablet/kapsul)

300 mg, dosis


tunggal
1 tablet atau
kapsul
500 mg (2
tablet atau
kapsul)
4xsehari
selama 3 hari

(TMP) +
Sulfametoxazole
(SMX)

Disentri

Amubiasis

160 mg TMP
+ 800 mg
SMX
2 tablet, 2 x
sehari selama
3 hari

Tablet dewasa
80 mg TMP +
400 mg SMX

5 mg TMP +
25 mg/kgBB, 2
x sehari selama
3 hari

Tablet anak:
20 mg TMP +
100 mg SMX

5 mg TMP +
25 mg/kgBB, 2
x sehari selama
3 hari

Syrup
40 mg TMP +
200 mg SMX
dalam 5 ml

5 mg TMP +
25 mg/kgBB, 2
x sehari selama
3 hari

2,5 ml

5 ml

7,5 ml

10 ml

15 ml

Furazolidon
100 mg tablet

1,25 mg/kgBB
4x sehari
selama 3 hari

100 mg
4xsehari
selama 3 hari

Tablet dewasa
80 mg TMP +
400 mg SMX

5 mg TMP +
25 mg/kgBB, 2
x sehari selama
5 hari

Tablet anak:
20 mg TMP +
100 mg SMX

5 mg TMP +
25 mg/kgBB, 2
x sehari selama
5 hari

160 mg TMP
+ 800 mg
SMX
2 tablet, 2 x
sehari selama
5 hari

Syrup
40 mg TMP +
200 mg SMX
dalam 5 ml

5 mg TMP +
25 mg/kgBB, 2
x sehari selama
5 hari

2,5 ml

5 ml

7,5 ml

10 ml

15 ml

Asam
Nalidiksilat
Tablet 250 mg

15 mg/kgBB
4x sehari
selama 5 hari

1 gram ( 4
tablet)
4x sehari
selama 5 hari

Ampicillin
250 mg
tablet/kapsul

25 mg/kgBB
4x sehari
selama 5 hari

1 gram ( 4
tablet)
4x sehari
selama 5 hari

Metronidazol

10 mg/kgBB

Trimethoprim
(TMP) +
Sulfametoxazole
(SMX)

usus

250 mg tablet

3 x sehari
selama 5 hari
(10 hari untuk
kasus yang
berat)

750 mg (3
tablet)
3x sehari
selama 5 hari
(10 hari untuk
kasus yang
berat)

giardiasis

Metronidazol
250 mg tablet

5 mg/kgBB
3 x sehari
selama 5 hari

250 mg (1
tablet)
3xsehari
selama 5 hari

Sedangkan World Gastroenterology Organisation (WGO) merekomendasikan terapi diare


sebagai berikut :
Tabel 4. Penggunaan antimikroba pada diare akut menurut World Gastroenterology Organisation9
Penyebab
Kolera

Antimikroba pilihan
Doksisiklin
Dewasa: 300 mg dosis tunggal
Anak-anak: 2 mg/kg BB( (tidak direkomendasikan)
Azitromisin
Dewasa : 1 gram, dosis tunggal
Anak-anak: 20 mg/kgBB dosis tunggal
Ciprofloxacin
Dewasa: 500 mg setiap 12 jam selama 3 hari atau 2
gram dosis tunggal
Anak-anak: 15 mg/kgBB setiap 12 jam selama 3
hari

Shigellosis

Ciprofloxacin
Dewasa: 500 mg 2x sehari selama 3 hari, atau 2
gram dosis tunggal
Pivmecillinam
Dewasa: 400 mg 3 - 4 kali/hari selama 5 hari
Anak-anak: 20 mg/kgBB 4x/hari selama 5 hari

Amebiasis

Ceftriaxone
Dewasa: 2- 4 gram dosis tunggal
Anak-anak: 50100 mg/kgBB 1x/hari IM selama 2
5 hari
Metronidazol
Dewasa: 750 mg 3x/hari selama 5 hari (10 hari jika
berat)

Anak-anak: 10 mg/kgBB 3x/hari selama 5 hari (10


hari jika berat)
Giardiasis

Metronidazol
Adults: 250 mg 3x/hari selama 5 hari
Anak-anak: 5 mg/kgBB 3x/hari selama 5 hari
Tinidazole
Dapat juga diberikan sebagai dosis tunggal50
mg/kgBB per oral, maksimal 2 gram

Campylobacter

Azitromisin
Dewasa: 500 mg 1x/hari selama 3 hari
Anak-anak: 30 mg/kgBB segera setelah onset
penyakit
Florokuinolon seperti ciprofloxacin
Dewasa: 500 mg 1x/hari selama 3 hari

Pengobatan dengan zinc pada diare anak merupakan rekomendasi dari WHO dan
UNICEF sejak tahun 2004.

Zinc merupakan mikronutrien esensial untuk proses tumbuh

kembang dan pemeliharaan sistem imun. Sesuai rekomendasi, zinc 20 mg per hari dianjurkan
untuk anak di atas usia 6 bulan, sedangkan untuk anak di bawah usia 6 bulan dianjurkan
pemeberrian zionc 10 mg per hari. Masing-masing diberikan selama 10 hari. Pemakaian obat
antidiare seperti antimotilitas (loperamid, difenoksilat) dan adsorben (kaolin, antapulgit) tidak
dianjurkan pada anak-anak.5,6
1.10 PERAN PROBIOTIK, PREBIOTIK DAN SINBIOTIK DALAM PENANGANAN
DIARE AKUT
1.10.1 Definisi probiotik, prebiotik dan sinbiotik
Dalam 15 tahun terakhir terapi probiotik telah berkembang dengan demikian pesat. Akhir-akhir
ini banyak dilakukan penelitian tentang manfaat prebiotik terhadap kesehatan manusia.
Probiotik adalah bakteri hidup yang apabila diberikan atau dikonsumsi dalam jumlah
cukup dapat memberikan efek menguntungkan bagi tubuh yaitu dengan menciptakan
keseimbangan flora usus sehingga dapat mencegah dan mengobati kondisi patologis usus.
Bakteri yang mempunyai sifat probiotik adalah bakteri penghasil asam laktat (Lactic Acid

Bacteria, LAB), seperti Bifidobacterium dan Lactobacillus, yang dapat diberikan dalam bentuk
tunggal atau campuran dengan bakteri lain.7
Tabel 5. Mikroorganisme probiotik
Lactobacilli

Lactobacillus acidophillus
Lactobacillus rhamnosus
Lactobacillus gaseri
Lactobacillus casei
Lactobacillus rauteri
Lactobacillus plantaricum
Lactobacillus bulgaricum
Lactobacillus johnsoni

Bifidobacteria

Lactobacillus lactis
Bifidobacterium bifidum
Bifidobacterium longum
Bifidobacterium breve
Bifidobacterium infantis

Others Bacteria

Bifidobacterium adolescentis
Escherichia coli
Enterococcus fecalis
Streptococcus thermophylus

Yeast

Saccaromyces boulardii

Suatu probiotik yang masuk ke dalam saluran cerna harus dapat mempertahankan
kestabilannya di dalam suasana lambung yang asam hingga dapat mencapai target kerjanya.
Kriteria yang harus dipenuhi suatu mikroorganisme yang tergolong sebagai probiotik adalah
berasal dari manusia, nonpatogen, tidak mengalami proses di dalam saluran cerna (hidrolisa,
absorbsi) dan stabil di dalam asam dan cairan empedu. Di samping itu, mikroorganisme juga
harus mempunyai sifat adhesif terhadap jaringan epithelial target, mampu bertahan di dalam
saluran cerna, memproduksi substansi antimikroba, mempunyai kemampuan memodulasi sistem
imun dan mempengaruhi aktivitas metabolik.7
Prebiotik adalah substrat, umumnya karbohidrat, yang apabila dikonsumsi akan
merangsang pertumbuhan kuman probiotik karena prebiotik merupakan nutrisi yang diperlukan

untuk metabolisme kuman probiotik. Substrat yang paling banyak digunakan adalah inulin,
laktulosa, dan fruktooligosakarida (FOS). Keduanya telah terbukti dapat merangsang
perbumbuhan bakteri Bifidobacteria dalam lumen usus. Jadi efek positif prebiotik terhadap
ketahanan saluran cerna terjadi secara tidak langsung, yaitu merangsang pertumbuhan bakteri
probiotik Bifidobacteria.7
Sinbiotik adalah kombinasi probiotik dan prebiotik. Penambahan mikroorganisme hidup
(probiotik) dan substrat (prebiotik) untuk pertumbuhan bakteri misalnya fruktooligosakarida
(FOS) dengan bifidobacterium atau lactitol dengan lactobacillus. Keuntungan dari kombinasi ini
adalah meningkatkan daya tahan hidup bakteri probiotik oleh karena substrat yang spesifik telah
tersedia untuk fermentasi sehingga tubuh mendapatkan manfaat yang lebih sempurna dari
kombinasi ini.7
1.10.2 Mekanisme Kerja Probiotik Pada Diare
Mekanisme kerja probiotik belum sepenuhnya diketahui. Studi in vitro menjelaskan bahwa
probiotik beraksi dalam tubuh pejamu melalui beberapa mekanisme.
Mekanisme efek probiotik pada diare diantaranya:
a. Perubahan lingkungan mikro lumen usus (pH, oksigen)
Lactobacillus dan bifidobacteria menjaga keseimbangan flora usus dengan memproduksi
komponen-komponen organik dari proses fermentasi dari asam laktat, hidrogen peroksida dan
asam asetat yang semuanya akan meningkatkan derajat keasaman dalam usus sehingga dapat
menghambat proliferasi bakteri yang berpotensi menghancurkan epitel usus.7
b. Produksi substansi bersifat antimikroba
Bakteri yang berperan sebagai probiotik menghasilkan substansi yang dikenal sebagai
bakteriosin, suatu protein yang dimetabolisme secara aktif dan berperan menghancurkan
mikroorganisme yang merugikan. Sebagai contoh adalah reuterin, yang diproduksi oleh
L.reuteri. Baik Lactobacillus dan bifidobacteria keduanya dapat menghasilkan bakteriosin.
Selain itu Lactobacillus rhamnosus GG disamping memproduksi bakteriosin juga menghasilkan
biosurfaktan yang berperan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.7

c. Kompetisi nutrien
Salah satu faktor penghambat pertumbuhan bakteri dalam lumen usus ialah adanya makanan.
Kompetisi terjadi lebih hebat di kolon bagian distal, dimana terdapat lebih sedikit residu
makanan dibandingkan kolon proksimal atau usus kecil. Dengan meningkatnya jumlah
lactobacillus dan bifidobacteria, maka proliferasi bakteri patogen tidak akan terjadi.7
d. Kompetisi adhesi pada reseptor enterosit
Salah satu faktor yang berperan dalam kerja bakteri patogen di saluran cerna adalah kemampuan
melekat/ adhesi pada reseptor spesifik mukosa usus, begitu pula dengan mikroorganisme
probiotik. Akibat sifat ini maka probiotik tidak akan tereliminasi dengan adanya gerakan
peristaltik usus sehingga dapat mencegah efek enteropatogenik bakteri patogen seperti
S.Typhimurium, Y.enterocolitica, serta E.coli.7
e. Efek imunomodulasi
Usus merupakan organ limfoid terbesar dan berperan penting dalam respon imun terhadap
mikroorganisme maupun protein asing, melalui pembentukan antibodi imunoglobulin A (IgA) di
lamina propia dan epitel usus. Selain itu pada pasien-pasien alergi susu sapi dan dermatitis
atopik, efek probiotik yang tampak ialah dengan meningkatkan produksi gamma-interferon.7
f. Perbaikan permeabilitas usus
Beberapa spesies lactobacillus mempunyai efek pada ekspresi gen mucin yang akan
menstimulasi produksi mukus dari mukosa usus sehingga akan semakin meningkatkan fungsi
barier mukosa usus.7
1.10.3 Dosis Probiotik
Suatu preparat probiotik harus berisi bakteri dengan jumlah minimum tertentu yang dinyatakan
dalam satuan dosis Colony-forming units (CFUs). Natural Health Products Directorate of Canada
saat ini telah merekomendasikan dosis penggunaan probiotik sebesar 5 Milyar (5x10 9) CFU per
hari, diberikan dalam 5 hari berturut-turut. Sediaan yang beredar di pasaran pada umumnya

tersedia dalam bentuk kapsul atau bubuk dengan dosis lebih dari 50 Milyar CFU per dosis.
Penggunaan dosis terapeutik bervariasi berkisar antara 106-109sebagai dosis efektif minimum.7
1.11. PENCEGAHAN
Diare dapat dicegah dengan cara:
a. Mencuci tangan menggunakan sabun pada lima waktu yang penting, yaitu : sebelum
makan, setelah buang air besar, sebelum memegang bayi, setelah membersihkan anak
dari BAB, dan sebelum menyiapkan makanan
b. Mengkonsumsi makanan sehat.
Makanan dapat terkontaminasi oleh enteropatogen pada tahap produksi, penyajian, atau
penyimpanan. Makanan harus dimasak hingga matang. Pisahkan makanan yang telah
dimasak dengan yang belum dimasak, yang telah dicuci dengan yang belum dicuci, serta
hindari makanan dari vektor serangga seperti lalat.
c. Mengkonsumsi air minum sehat yaitu air minum dari sumber yang sehat dan yang sudah
dimasak hingga mendidih.
d. Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa,
lipas, dan lain-lain)
e. Buang air besar dan kecil pada tempatnya.

BAB II
LAPORAN KASUS
1.

Identitas pasien
Nama

:A

Umur

: 1 tahun 6 Bulan

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan/pendidikan : belum bersekolah


Alamat
2.

: Lubuk Minturun, Padang.


Latar belakang sosial, ekonomi, demografi, lingkungan keluarga

a. Jumlah saudara

: Anak ke 2 dari 2 bersaudara

b. Status ekonomi keluarga

: Ayah pasien bekerja sebagai pedagang dengan


penghasilan Rp1.000.000,00 /bulan, ibu pasien
hanya seorang ibu rumah tangga

c. Kondisi lingkungan rumah

Rumah permanen, pekarangan sempit

Lantai rumah dari ubin, ventilasi udara dan sirkulasi kurang baik, pencahayaan
cukup, 2 kamar dengan ukuran 3x3 meter

Listrik ada

Sumber air dari PDAM.

Jamban ada di dalam rumah

Sampah ditumpuk di belakang rumah untuk kemudian dikubur atau dibakar

Jumlah penghuni 4 orang : pasien, ayah, ibu, dan kakak pasien .

Kesan : higiene dan sanitasi kurang


d. Kondisi lingkungan keluarga

Pasien tinggal di daerah pinggir pantai dengan penduduk yang padat.

Jarak antar rumah penduduk rapat

3. Aspek psikologis di keluarga


Hubungan dengan keluarga baik
4. Riwayat Penyakit Sekarang
-

Berak-berak encer sejak 2 hari yang lalu, frekuensi BAB sebanyak 3-4 kali/hari,
jumlahnya 4 sdm- gelas/kali BAB, ampas (+), lendir tidak ada, darah tidak ada.

Demam sejak 1 hari yang lalu. Demam tidak tinggi, tidak berkeringat dan tidak
menggigil.

Mual dan muntah tidak ada

Kejang tidak ada

Batuk dan sesak napas tidak ada

Riwayat ganti susu formula tidak ada.

Anak masih mau minum.

Kembung tidak ada, lecet di dubur tidak ada.

BAK, jumlah dan warna biasa.

Anak belum diberikan oralit dan pengobatan lainnya

5. Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya
6. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.
7. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Frekuensi Nadi

: 92 x/menit

Frekuensi Nafas

: 28 x/menit

Suhu

: 37,2oC

Berat Badan

: 11 kg

Tinggi Badan

: 80 cm

Status Gizi

BB/U : 94 %
TB/U : 97 %
BB/TB: 96%
KESAN : Status gizi baik
KGB
Kulit
Kepala

tidak teraba pembesaran KGB


teraba hangat, turgor kembali cepat
bentuk bulat simetris, rambut hitam tak mudah dicabut, lingkaran
kepala 49 cm (Normal menurut standar Nellhauss), UUB telah
menutup.

Mata

Tidak tampak cekung, air mata ada, konjungtiva tak anemis, sklera tak

Telinga
Hidung
Mulut
Tonsil
Faring
Leher

ikterik.
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Mukosa mulut dan bibir tidak tampak kering
T1 T1 , tidak hiperemis
Tidak hiperemis
Kaku kuduk (-), KGB tak membesar

Dada

Paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: normochest, simetris kiri = kanan


: fremitus kiri = kanan
: sonor
: bronkovesikuler, ronki (-), wheezing (-)
: iktus tidak terlihat
: iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
: batas jantung normal
: bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-)

Abdomen

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
:

Inspeksi

: tidak membuncit, distensi tidak ada

Palpasi

: supel, hepar teraba - , kenyal, tajam, rata, turgor kembali lambat.

Perkusi

: timpani

Jantung

Auskultasi : bising usus (+) Normal


Punggung

: tidak ada kelainan

Alat kelamin : tidak ada kelainan


Anus

: colok dubur tidak dilakukan. Eritema natum (-).

Ekstremitas : akral hangat, refilling kapiler baik, RF +/+, RP -/C. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan anjuran:
- Pemeriksaan laboratorium darah rutin
- Pemeriksaan feses (makroskopis dan mikroskopis)

D. DIAGNOSIS KERJA
Diare akut tanpa dehidrasi
E.MANAJEMEN PENATALAKSANAAN
1.Preventif
a. Menerapkan perilaku hidup sehat dalam keluarga seperti BAB di toilet, menjaga
kebersihan jamban, cuci tangan dengan sabun sesudah BAB
b. Menjaga higienitas peralatan makan dan alat bermain anak
c. Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam mengolah dan menyajikan
makanan dan minuman sehari-hari
d. Berantas lalat agar tidak menghinggapi makanan. Salah satunya dengan cara tidak
membiarkan sampah menumpuk di sekitar rumah

2.Promotif
a. Memberikan edukasi kepada keluarga pasien (karena pasien masih balita, edukasi
terutama diberikan kepada orang yang mengasuh pasien) tentang diare, cara
penularannya, faktor-faktor predisposisi dan presipitasi dari diare
b. Menjelaskan kepada keluarga pasien tindakan pertama yang bisa dilakukan dalam
penanggulangan diare seperti prinsip mengganti cairan tubuh yang hilang
(rehidrasi) dan cara pembuatan oralit
c. Mengedukasi keluarga pasien pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan
d. Menjelaskan kepada keluarga pasien pentingnya menjaga daya tahan tubuh pasien
yang masih balita dengan memperhatikan kecukupan gizinya dan pemberian
imunisasi secara lengkap
3.Kuratif
a. Paracetamol syrup 1 cth

b. Oralit dilarutkan dalam 200 cc air dan diminum setiap kali BAB encer
c. Zink tablet 20 mg
4.Rehabilitatif
a. Istirahat yang cukup
b. Banyak minum untuk menggantikan cairan yang hilang karena diare dan
mencegah dehidrasi
c. Lanjutkan pemberian makanan seperti biasa dan hindari makanan yang sifatnya
merangsang/mengiritasi saluran cerna.

Resep
Dinas Kesehatan Kota Padang
Puskesmas Air Dingin
Dokter
Tanggal

: Yuriko Andre
: 27 Oktober 2014

R/ Paracetamol syr fls


S3 dd cth 1

No. I

R/ Oralit sach
No. X
S sach1/200 ml ad libit post defaec
R/ Zinc tab 20 mg
S1dd tab 1

Pro
:A
Umur : 1 tahun 6 bulan
Alamat: Lubuk Minturun, Padang

No.X

BAB III
DISKUSI
Telah dilaporkan sebuah kasus seorang pasien anak laki-laki berumur 1 tahun 6 bulan
dengan diagnosis Diare akut tanpa dehidrasi. Diagnosis tersebut ditegakkan berdasarkan
anamnesis adanya berak-berak encer sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, frekuensi BAB
sebanyak 3-4 kali/hari, jumlahnya 4 sdm- gelas/kali BAB, lendir tidak ada, darah tidak ada.
Diare juga disertai demam sejak 1 hari yang lalu, tidak tinggi, tidak menggigil dan tidak
berkeringat.
Dari pemeriksaan fisik tidak ditemukan ditemukan adanya tanda-tanda dehidrasi. Mata
tidak tampak cekung,air mata ada, mukosa mulut dan bibir tidak kering dan turgor kulit kembali
cepat.
Pada pasien ini tidak terdapat tanda-tanda dehidrasi sehingga ditatalaksana dengan
rencana pengobatan A yaitu mengganti cairan yang keluar sesegera mungkin dengan minum
lebih banyak cairan dari jumlah yang keluar. Cairan yang dapat diberikan adalah oralit, cairan

rumah tangga antara lain Larutan Gula Garam (LGG), air tajin atau air sayur. Anak tetap diberi
makan sesuai umur dengan prinsip mudah dicerna, mudah diserap, rendah serat dan tidak
merangsang.
Diare adalah salah satu penyakit yang berkaitan dengan higienitas lingkungan.
Penularannya terjadi secara fecal-oral, umumnya melalui konsumsi makanan atau minuman yang
terkontaminasi. Oleh karena itu, upaya preventif dan promotif lebih ditekankan kepada
perubahan perilaku menuju perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Perubahan perilaku yang
dimaksud diantaranya dengan membiasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah
makan serta sesudah buang air besar, menjaga higienitas peralatan makan dan peralatan bermain
anak, menjaga kebersihan jamban, memperhatikan kebersihan dalam pengolahan dan penyajian
makanan dan minuman sehari-hari. Orang tua juga perlu diedukasi mengenai tatalaksana awal
jika anak diare, yaitu dengan memberikan cairan rumah tangga atau cairan oralit untuk mencegah
anak mengalami dehidrasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Irwanto, Rahim A, Sudarmo MS. Diare Akut pada Anak. Dalam : Soegeng S eds. Ilmu
Penyakit Anak, Diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta, Salemba Medika, 2002 :73 91
2. Depkes RI. Buku Ajar Diare Pegangan Bagi Mahasiswa. Dirjen PPM & PLP Depkes RI,
Jakarta, 1999
3. Staf Pengajar IKA FK- Unand. Ilmu Kesehatan Anak : Pedoman Diagnosis dan
Terapi.Padang, Bagian IKA FK- Unand / RSUP. Dr. M. Djamil,: 6 20
4. Staf Pengajar FK- Unpad. Diare Akut Dalam : Pedoman Diagnosis dan terapi Bandung,
bagian IKA FK- Unpad / RS Hasan Sadikin, 2000 : 237 44.

5. Markum AH. Saluran Cerna. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta,
Balai Penerbit FKUI, 1991 : 448 56
6. Staf Pengajar FKUI. Diare pada Bayi dan Anak. Dalam buku kuliah IKA, jilid II, Jakarta,
Balai Penerbit FKUI, 1985.
7. Gunawan, Shyrli. Peran Probiotik Pada Diare Akut Anak. Dalam Ebers Papyrus Volume
13 No 3. Penerbit FK Univiversitas Tarumanegara, 2007:112-123.
8. Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Buku Ajar Diare.1999.
9. Acute diarrhea in adults and children : a global perspective. 2013. Diakses dari
www.worldgastroenterology.org tanggal 27 Oktober 2014.