Anda di halaman 1dari 9

Surjono/MK Kemiskinan

Bab 1 Pengukuran Kemiskinan dan Analisisnya


1.1.

Pendahuluan

Pertama yang perlu dipahami dalam upaya dan perencanaan pengentasan kemiskinan
adalah bahwasanya kemiskinan akan selalu berkaitan erat dengan ketimpangan dan
kerentanan (3K). Hal ini menjadi penting kala pengambil keputusan membutuhkan informasi
yang cukup dalam upayanya memonitor capaian dari upaya pengentasan kemiskinan serta
dalam menetapkan kebijakan yang tepat. Cara mengukur yang tepat merupakan tugas
tenaga ahli yang bertanggung jawab. Bab ini menguraikan alat untuk analisis serta informasi
penting apa yang diperlukan dalam penetapan kebijakan serta bagaimana informasi
tersebut dapat diperoleh.
Mendefinisikan kemiskinan berarti pula harus memahami konsep yang ada terhadap makna
makmur. Oleh karena itu dalam mendefinisikan kemiskinan dapat dilihat dari tiga aspek
(World Bank, 2002) yaitu: Pertama, dikaitkan dengan apa yang pada umumnya dimaknai
sebagai miskin, baik individu maupun keluarga dimana mereka tidak memiliki cukup sumber
daya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Konsep ini adalah dengan melakukan
perbandingan terhadap pendapatan, konsumsi, pendidikan atau atribut lainnya dari si
miskin dengan ambang batas yang telah didefinisikan, sehingga bisa dikategorikan bahwa
yang bersangkutan miskin untuk atribut tertentu. Aspek kedua adalah terkait dengan
ketimpangan dalam hal distribusi pendapatan, konsumsi, atau atribut lainnya yang ada
dalam populasi. Aspek ini didasarkan pada premis bahwa posisi relatif seseorang/keluarga
dalam masyarakat adalah merupakan aspek penting dari tingkat kemakmuran mereka.
Selanjutnya tingkat ketimpangan dalam kelompok populasi, wilayah atau negara, baik dari
dimensi moneter maupun non-moneter, mencerminkan ringkasan indikator dari tingkat
kemakmuran kelompok tersebut. Aspek ketiga adalah
dimensi kerentanan yang
didefinisikan sebagai probabilitas atau resiko saat kini untuk menjadi miskin atau justru
jatuh ke tingkat kemiskinan yang lebih dalam pada suatu titik di masa mendatang.
Kerentanan adalah kunci dimensi kemakmuran karena mempengaruhi perilaku individu
(berkenaan dengan investasi, pola produksi, strategi) dan persepsi terhadap situasi mereka
sendiri.
Sesungguhnya konsep, pengukuran dan alat analisis yang ada bisa diaplikasikan pada
berbagai dimensi terkait kemakmuran, seperti misalnya: pendapatan, konsumsi, kesehatan,
kepemilikan asset, namun bab ini lebih difokuskan pada aspek pendapatan dan konsumsi
dan untuk dimensi lain akan lebih sedikit disinggung, sehingga bab ini lebih menguraikan
prinsip umum yang valid untuk berbagai seting, namun untuk metode analisisnya harus
disesuaikan dengan kondisi karakteristik daerah/negara dan ketersediaan data.
Sesuai dengan tujuan instruksional yang disusun maka struktur pembahasan dalam bab ini
terdiri dari: sub bab 1.2. pengukuran dan analisis kemiskinan yang secara umum penting
untuk diketahui; sub bab 1.3. ketimpangan; dan sub bab 1.4. kerentanan. Untuk masing
masing sub bab akan dibahas definisi beberapa konsep, indikator dan alat ukur yang bisa
digunakan. Sub bab 1.5. menguraikan kajian terhadap sumber-sumber lain yang berbeda
dan tipe data yang bisa digunakan. Pada akhir bab akan diberikan sumber referensi dan
laman situs untuk kajian lebih lanjut yang bisa dipelajari secara mandiri oleh mahasiswa.

1.2.

Pengukuran dan analisis kemiskinan

Sub bab ini memberikan pengenalan terhadap konsep dan pengukuran kemiskinan yang
didefinisikan sebagai ketidakcukupan untuk saat ini terhadap beberapa dimensi kebutuhan
dasar manusia. Pembahasan dimulai dari apa yang harus dilakukan untuk mengukur
kemiskinan (sub bab 1.2.1) sebelum melakukan analisis yang dapat dilaksanakan dengan
menggunakan alat ukur yang ditetapkan (sub bab 1.2.2).

Surjono/MK Kemiskinan
1.2.1 Konsep tentang kemiskinan dan pengukurannya
Terdapat tiga komponen dalam perhitungan untuk mengukur kemiskinan yaitu: pertama,
harus ditetapkan terlebih dahulu dimensi dan indikator yang relevan yang akan diukur.
Kedua, harus ditetapkan pula garis kemiskinan yang akan dipergunakan sebagai tolak ukur
dimana seseorang atau keluarga bisa diklasifikasikan sebagai miskin. Yang terakhir, harus
dipilih pengukuran kemiskinan yang akan digunakan untuk menggambarkan populasi secara
keseluruhan atau suatu kelompok populasi tertentu saja.
Mendefinisikan indikator sejahtera/miskin
Bagian ini menitikberatkan pada dimensi moneter terhadap kondisi sejahtera, pendapatan
dan konsumsi secara obyektif dan kuantitatif. Namun demikian bab ini juga sedikit
menyinggung aspek subyektif dan kualitatif dari konsep sejahtera/miskin yang antara lain
dilihat dari dimensi kesehatan, pendidikan dan asset.
Indikator moneter dari kemiskinan
Ketika kita diminta untuk mengukur kemiskinan dari aspek financial/moneter maka kita harus
pilih antara pendapatan atau pengeluaran. Banyak yang berpendapat bahwa untuk
mengukur kemiskinan dari aspek finansial melalui survey rumah tangga pendekatan dari
pertimbangan pengeluaran keluarga/individu lebih baik daripada mengukur pendapatan. Hal
ini didasarkan pada beberapa pertimbangan:
Konsumsi merupakan indikator outcome yang lebih baik dari penghasilan.
Konsumsi lebih menunjukkan tingkat kesejahteraan seseorang berdasar pada
definisi bahwa sejahtera adalah kemampuan seseorang/keluarga untuk memenuhi
kebutuhan dasar. Sedangkan penghasilan hanya merupakan salah satu komponen
dalam hal kemampuan pemenuhan kebutuhan terhadap suatu benda, sehingga
melewatkan aspek akses dan ketersediaan.
Konsumsi bisa diukur lebih baik daripada penghasilan. Di kawasan agraris,
penghasilan masyarakat berfluktuasi sepanjang tahun tergantung dari musim panen.
Sedangkan di kawasan perkotaan dengan banyak sektor informal, penghasilan
mungkin menjadi akan sangat sulit untuk diukur, sehingga survey yang didasarkan
pada tingkat penghasilan akan memberikan kualitas data yang tidak sempurna. Di
samping itu seringkali kebutuhan bisa dipenuhi tanpa melibatkan aspek moneter
sehingga pengukuran dari pendekatan konsumsi akan lebih dapat dipercaya
(reliable).
Konsumsi bisa lebih merefleksikan standar hidup aktual dari keluarga dan
kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasarnya. Pengeluaran konsumsi
tidak hanya mencerminkan barang dan pelayanan yang bisa diperoleh berdasarkan
penghasilan mereka tapi juga akses terhadap pasar kredit dan simpanan keluarga
saat penghasilan lagi turun bahkan negatif.
Namun penggunaan pendekatan tersebut di depan tidaklah harus dogmatis. Penggunaan
penghasilan sebagai basis pengukuran kemiskinan mungkin lebih sesuai bila kita
menghendaki perbandingan sumber sumber penghasilan atau pada situasi bilamana
pengukuran konsumsi atau pengeluaran sulit dilakukan. Bila tersedia data konsumsi
maupun penghasilan, analis bisa menggunakan keduanya dan membuat perbandingan
hasilnya. Cara mudah untuk mengukur sensitivitas dari hasil pengukuran konsumsi dan
penghasilan bisa dilakukan dengan menghitung matrik transisi. Untuk menyusun matrik
transisi dilakukan dengan membagi populasi ke dalam beberapa grup, misalnya 10 bagian
(deciles) masing masing merepresentasikan 10% populasi dari 10% termiskin sampai 10%
terkaya. Setiap keluarga masuk ke dalam satu decile untuk tiap indikator, tapi suatu keluarga
mungkin masuk dalam decile yang berbeda bila dilihat dari indikator konsumsi dan
penghasilan, dimana mungkin banyak keluarga tidak akan berada pada diagonal dari matrik.

Surjono/MK Kemiskinan
Karena konsumsi maupun penghasilan mewakili aspek yang berbeda dari kemiskinan, maka
matrik akan menunjukkan bahwa rangking keluarga dipengaruhi oleh definisi.
Baik pada pendekatan konsumsi maupun penghasilan, secara umum diperlukan
pengukuran indikator informasi agregat yang penentuannya merupakan proses yang
komplek. Diperlukan penyesuaian (adjustment) agar pengukuran yang dihasilkan mengarah
pada keakurasian yang baik. Beberapa panduan untuk pengukuran indikator agregat antara
lain:
Penyesuaian perbedaan kebutuhan antar keluarga dan intrakeluarga. Rumah
tangga dengan ukuran dan komposisi yang berbeda memiliki kebutuhan berbeda
pula. Pertama, keputusan harus diambil untuk menetapkan apakah perlu
penyesuaian terhadap umur dewasa dan anak-anak -, mungkin pula jender?
Kedua, apakah rumah tangga dengan ukuran berbeda juga harus dipertimbangkan
secara berbeda? Mengingat keluarga yang besar bisa membeli kebutuhan dalam
volume yang lebih besar sehingga harga satuannya menjadi lebih murah.
Penyesuaian perbedaan harga lintas daerah pada waktu yang berbeda. Harga
kebutuhan pokok sangat mungkin berbeda pada wilayah yang berbeda. Data
nominal terkait konsumsi maupun penghasilan perlu dibandingkan secara spasial
dengan melakukan penyesuaian tingkat harga (indek harga wilayah)yang berbeda
untuk wilayah yang berbeda dalam suatu negara. Semakin luas wilayah suatu
Negara maka semakin penting untuk dilakukan penyesuaian. Bila indek-indek harga
regional dan tingkat inflasi tersedia datanya, maka penyesuaian dapat dilakukan
dengan cara: 1) gunakan deflator spasial dan waktu untuk penghasilan atau
konsumsi untuk tiap rumah tangga dan bandingkan datanya dengan garis
kemiskinan tunggal yang ditetapkan. 2) hitung garis kemiskinan untuk setiap
daerah/wilayah sesuai dengan waktu pengukurannya.
Keluarkan data input dan pengeluaran untuk investasi. Pengeluaran untuk input
jangan diperhitungkan sebagai bagian dari produksi rumah tangga seperti misalnya
pengeluaran untuk membeli peralatan produksi, pupuk, air atau benih untuk sektor
agraris. Bila dimasukkan dalam perhitungan maka data yang diperoleh bisa
overestimasi.
Perkirakan data untuk harga dan informasi kuantitas lain yang penting yang
tidak tersedia. Tidak semua rumah-tangga memberikan informasi yang dibutuhkan
dalam survey. Bila informasi tentang barang dan harga yang dikonsumsi tidak
tersedia maka kekosongan data ini harus diprediksi (imputasi).
Rasionalisasi. Ketika menyusun agregat konsumsi, kita harus ingat bahwa pasar
dapat dirasionalkan. Misal, harga yang dibayarkan warga lebih murah daripada
pemanfaatan yang diperoleh. Untuk kondisi ini yang diperhitungkan adalah yang
kedua (pemanfaatan riil).
Cek ada tidaknya laporan yang tidak akurat (underreporting).
Indikator non-moneter
Kemiskinan juga bisa dilihat dari dimensi lain. Kemiskinan tidak selalu hanya terkait pada
penghasilan atau konsumsi yang tidak cukup namun juga dapat dilihat dari ketidakcukupan
outcome yang terkait dengan kesehatan, nutrisi, dan pendidikan serta kekurangan dalam
hubungan sosial, ketidakamanan, harga diri yang rendah dan ketidakberdayaan
(powerless). Untuk beberapa kasus perhitungan untuk pendekatan moneter dapat dilakukan
pula untuk indikator non-moneter. Dalam hal ini diperlukan pula tolak ukur berupa ambang
garis kemiskinan yang dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan dasar.
Beberapa dimensi kapabilitas dimana teknik pengukuran dan analisis kemiskinan biasa
dilakukan antara lain:

Surjono/MK Kemiskinan

Kesehatan dan nutrisi. Status kesehatan anggota keluarga dapat dipakai sebagai
indikator penting dari tingkat kesejahteraan (well-being). Analisis dapat difokuskan
pada kesehatan anak, penyebaran penyakit tertentu (diare, malaria, demam
berdarah, gangguan pernafasan) atau umur harapan hidup dari kelompok yang
berbeda dalam populasi. Bila data tersebut tidak ada, input proxy dapat dipakai
misalnya jumlah kunjungan dari individu ke rumah sakit atau puskesmas, akses ke
pelayanan kesehatan khusus (pre and post natal care), atau tingkat pelayanan dalam
vaksinasi kepada anak.
Pendidikan. Dalam bidang pendidikan tingkat literasi dapat dipergunakan untuk
mengukur garis kemiskinan. Pada negara dimana pendidikan sudah sangat baik,
dapat pula dilakukan pengukuran melalui skor tes khusus di sekolah untuk
membedakan tingkat literasi antar kelompok dalam populasi. Alternatif lain adalah
dengan membandingkan lama pendidikan yang diperoleh penduduk dengan lama
pendidikan yang diharapkan bisa ditempuh.
Indek kesejahteraan komposit. Sebagai alternatif, selain penggunaan dimensi
kemiskinan tuggal, bisa dilakukan penghitungan komposit dari kombinasi berbagai
aspek kemiskinan. Salah satu kemungkinannya adalah dengan membuat
pengukuran yang mengkombinasikan penghasilan, kesehatan, asset dan pendidikan.

Untuk mengukur kemiskinan di Indonesia, BPS menggunakan konsep kemampuan


memenuhi kebutuhan dasar (basic need approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan
dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar
makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan kata lain,
kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi
kebutuhan makanan maupun non makanan yang bersifat mendasar. Penduduk miskin
adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis
kemiskinan. Pengukuran kemiskinan dengan menggunakan konsep kemampuan memenuhi
kebutuhan dasar (basic need approach) tidak hanya digunakan oleh BPS tetapi juga oleh
negara-negara lain, seperti Armenia, Senegal, Pakistan, Bangladesh, Vietnam, Sierra
Leone, dan Gambia.
Secara umum alat pengukuran kemiskinan secara global bisa digunakan standar Bank
Dunia. Melalui alat ini bisa dibandingkan kondisi secara umum di berbagai negara, namun
diperlukan konversi terlebih dahulu standar yang digunakan per negara ke dalam standar
Bank Dunia ini. World Bank membuat garis kemiskinan absolut US$ 1 dan US$ 2 PPP
(purchasing power parity/paritas daya beli) per hari (bukan nilai tukar US$ resmi) dengan
tujuan untuk membandingkan angka kemiskinan antar negara/wilayah dan
perkembangannya menurut waktu untuk menilai kemajuan yang dicapai dalam memerangi
kemiskinan di tingkat global /internasional.
Angka konversi PPP di Indonesia adalah banyaknya rupiah yang dikeluarkan untuk
membeli sejumlah kebutuhan barang dan jasa dimana jumlah yang sama tersebut dapat
dibeli sebesar US$ 1 di Amerika Serikat. Angka konversi ini dihitung berdasarkan harga dan
kuantitas di masing-masing negara yang dikumpulkan dalam suatu survei yang biasanya
dilakukan setiap lima tahun. Chen dan Ravallion (2001) membuat suatu penyesuaian angka
kemiskinan dunia dengan menggunakan garis kemiskinan US$ 1 perhari. Garis kemiskinan
PPP disesuaikan antar waktu dengan angka inflasi relatif, yaitu menggunakan angka indeks
harga konsumen. Pada tahun 2006, garis kemiskinan US$ 1 PPP ekuivalen dengan
RP.97.218,- per orang per bulan dan garis kemiskinan US$ 2 PPP ekuivalen dengan
RP.194.439,- per orang per bulan. Perbandingan garis kemiskinan dan persentase
penduduk miskin di Indonesia tahun 2006 menurut BPS dan World Bank adalah sebagai
berikut:

Surjono/MK Kemiskinan
Tabel 1.1
Garis Kemiskinan dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Tahun 2006
sumber
Garis Kemiskinan (Per
Garis
Penduduk
Hari)
Kemiskinan (Per
Miskin (%)
Bulan)
BPS
Rp. 5.066,57,- US$ 1,55
Rp. 151.997,17,80
PPP
World Bank
USS 1 PPP Rp. 3.240,60,Rp. 97.218,7,40
USS 2 PPP Rp. 6.841,30,Rp. 194.439,49,00
Sumber: BPS dan World Bank

Menetapkan dan mengestimasi garis kemiskinan


Bila agregat data konsumsi, penghasilan atau data non-moneter sudah didapatkan, maka
langkah berikutnya adalah dengan menetapkan satu atau lebih garis kemiskinan (poverty
line). Garis kemiskinan adalah titik pemisah antara miskin dan tidak miskin, bisa berupa
indikator moneter, misal tingkat konsumsi tertentu, atau non-moneter, misal tingkat literasi.
Penggunaan garis kemiskinan ganda dapat membantu membedakan tingkat kemiskinan.
Yang umum dipergunakan adalah garis kemiskinan relatif dan garis kemiskinan absolut.
Garis kemiskinan relatif. Didefinisikan dalam hubungannya dengan distribusi
pendapatan atau konsumsi secara keseluruhan dalam suatu negara, misal, garis
kemiskinan ditetapkan pada 50% dari mean pendapatan atau konsumsi dari suatu
negara.
Garis kemiskinan absolut. Didasarkan pada standar absolut di mana suatu
keluarga mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Untuk pendekatan moneter, bisa
dilakukan dengan mengukur harga untuk kebutuhan dasar akan pangan, yaitu harga
dari beberapa nutrisi tertentu minimal yang diperlukan agar keluarga sehat. Untuk
kasus negara sedang berkembang, garis absolut ini kemungkingan lebih relevan.
Penghitungan garis kemiskinan (GK) di Indonesia dilakukan dengan mengkompilasi dua
komponen pokok yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan NonMakanan (GKNM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah
perkotaan dan pedesaan.

GK GKM GKNM
dimana
GKM = nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan
2.100 kilokalori perkapita per hari.
GKNM = kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.
Patokan GKM mengacu pada hasil Widyakarya Pangan dan Gizi 1978. Paket komoditi
kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan,
daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll).
Ke-52 jenis komoditi ini merupakan komoditi-komoditi yang paling banyak dikonsumsi oleh
penduduk miskin. Jumlah pengeluaran untuk 52 komoditi ini sekitar 70 persen dari total
pengeluaran orang miskin. Sedangkan patokan untuk GKNM didasarkan pada paket
komoditi yang diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.
Teknik penghitungan garis kemiskinan
Tahap pertama adalah menentukan penduduk referensi, yaitu 20 persen penduduk yang
berada di atas Garis Kemiskinan Sementara, yaitu garis kemiskinan periode lalu yang diinflate dengan inflasi umum (IHK). Dari penduduk referensi ini kemudian dihitung Garis
Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).

Surjono/MK Kemiskinan
Garis Kemiskinan Makanan adalah jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi dasar
makanan yang riil dikonsumdi penduduk referensi dan kemudian disetarakan dengan nilai
energi 2.100 kilokalori perkapita per hari. Penyetaraan nilai pengeluaran kebutuhan
minimum makanan dilakukan dengan menghitung harga rata-rata kalori dari ke-52 komoditi
tersebut. Selanjutnya GKM tersebut disetarakan dengan 2.100 kilokalori dengan cara
mengalikan 2.100 terhadap harga implisit rata-rata kalori.
Formula dasar dalam menghitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah:
52

52

k 1

k 1

GKM j Pjk .Q jk V jk
Dimana :
GKMj = Gris Kemiskinan Makanan daerah j (sebelum disetarakan menjadi 2100 kilokalori).
Pjk
= Harga komoditi k di daerah j.
Qjk
= Rata-rata kuantitas komoditi k yang dikonsumsi di daerah j.
Vjk
= Nilai pengeluaran untuk konsumsi komoditi k di daerah j.
j
= Daerah (perkotaan atau pedesaan)
Selanjutnya GKMj tersebut disetarakan dengan 2100 kilokalori dengan mengalikan 2100
terhadap harga implisit rata-rata kalori menurut daerah j dari penduduk referensi, sehingga:
52

HKj

V
k 1
52

K
k 1

jk

JK

Dimana :
Kjk
= Kalori dari komoditi k di daerah j

HKj

= Harga rata-rata kalori di daerah j

F j HK j x 2100
Dimana :
Fj
= Kebutuhan minimum makanan di daerah j, yaitu yang menghasilkan energi setara
dengan 2100 kilokalori/kapita/hari.
Garis Kemiskinan Non-Makanan merupakan penjumlahan nilai kebutuhan minimum dari
komoditi-komoditi non-makanan terpilih yang meliputi perumahan, sandang, pendidikan, dan
kesehatan. Nilai kebutuhan minimum per komoditi/sub-kelompok non-makanan dihitung
dengan menggunakan suatu rasio pengeluaran komoditi /sub-kelompok tersebut terhadap
total pengeluaran komoditi/sub-kelompok yang tercatat dalan data Susenas modul
konsumsi. Rasio tersebut dihitung dari hasil Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar
(SPKKD), yang dilakukan untuk mengumpulkan data pengeluaran konsumsi rumahtangga
per komoditi non-makanan yang lebih rinci dibandingkan data Susenas modul
konsumsi. Nilai kebutuhan minimum non makanan secara matematis dapat diformulasikan
sebagai berikut :
n

NFP r1 xVi
i 1

Surjono/MK Kemiskinan
Dimana:
NFp = Pengeluaran minimun non-makanan atau garis kemiskinan non makanan daerah p
(GKNMp).
Vi
= Nilai pengeluaran per komoditi/sub-kelompok non-makanan daerah p (dari
Susenas modul konsumsi).
ri
= Rasio pengeluaran komoditi/sub-kelompok non-makanan menurut daerah (hasil
SPPKD 2004).
i
= Jenis komoditi non-makanan terpilih di daerah p.
p
= Daerah (perkotaan atau pedesaan).
Garis Kemiskinan merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan dan Garis
Kemiskinan Non-Makanan. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per
bulan di bawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.
Memilih dan mengestimasi alat ukur kemiskinan
Ukuran kemiskinan adalah suatu fungsi statistik yang menterjemahkan perbandingan
indikator kesejahteraan keluarga dan garis kemiskinan kedalam satu angka agregat dari
populasi secara keseluruhan atau sub-populasi. Banyak alternatif ukuran yang bisa
digunakan:
Indek headcount (incidence of poverty) (HCI-P0). Persentase penduduk di bawah
garis kemiskinan (GK). Merupakan besaran angka penduduk yang penghasilannya
atau konsumsinya di bawah garis kemiskinan, yaitu kelompok populasi yang tidak
mampu membeli satu paket bahan kebutuhan pokok. Seorang analis bisa
menggunakan beberapa garis kemiskinan, misal, satu untuk kategori miskin dan
untuk kategori sangat miskin. Hal yang sama juga bisa dilakukan untuk kategori
miskin dari tinjauan non-moneter. Sumber data utama yang dipakai adalah data
Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

1 q z yi

n i 1 z

Dimana:

=0
z
= garis kemiskinan.
yi
= Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada
dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi< z
q
= Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
n
= jumlah penduduk.

Indek Kedalaman kemiskinan (kesenjangan/poverty gap indek P1). Indikator


ini menyampaikan informasi terkait jarak antara kemampuan suatu keluarga dengan
garis kemiskinan. Indikator ini mengukur pendapatan atau konsumsi agregat ratarata (mean) relatif di bawah garis kemiskinan. Sumber data utama yang dipakai
adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

1 q z yi

n i 1 z

Dimana :

=1
z
= garis kemiskinan.

Surjono/MK Kemiskinan
yi
q
n

= Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada di bawah


garis kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi< z
= Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
= jumlah penduduk.

Keparahan kemiskinan (poverty severity/squared poverty gap). Ukuran ini tidak


hanya memperhitungkan jarak antara si miskin dengan garis kemiskinan (poverty
gap), namun juga ketidaksetimbangan (inequality) di antara populasi yang diukur
tersebut. Bobot yang lebih tinggi ditempatkan pada mereka yang jaraknya lebih jauh
dari garis kemiskinan.

1 q z yi

n i 1 z

Dimana:

=2
z
= garis kemiskinan.
yi
= Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada di bawah
garis kemiskinan (i=1, 2, 3, ...., q), yi< z
q
= Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
n
= jumlah penduduk.
Semua ukuran tersebut di depan dapat dihitung untuk level rumah tangga (KK). Namun
lebih baik dilakukan pengukuran berbasis populasi dalam hal ini individual sehingga
akan dipertimbangkan jumlah individu dalam tiap KK. Pengukuran poverty gap dan squared
poverty gap adalah indikator komplementer yang menunjukkan tingkat kemiskinan. Dua alat
ukur ini penting untuk alat evaluasi program dan kebijakan yang dilaksanakan. Contoh data
BPS terkait dua indikator ini terdapat pada table 1.2.
Tabel 1.2
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Indonesia
Menurut Daerah Maret 2011Maret 2012
Indeks/tahun
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1)
Maret 2011
Maret 2012
Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)
Maret 2011
Maret 2012
Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret

kota

desa

Kota + desa

1,52
1,40

2,63
2,36

2,08
1,88

0,39
0,70
0,55
0,36
0,59
0,47
2011 dan Maret 2012

Suatu program mungkin sangat efektif mengurangi jumlah penduduk miskin (incidence of
poverty/headcount index), tapi mungkin hanya terjadi pada mereka yang berhimpit / terdekat
dengan garis kemiskinan, sehingga bisa dikatakan dampaknya kecil terhadap pengurangan
kesenjangan (poverty gap). Kebijakan lain mungkin lebih diarahkan kepada mereka yang
sangat miskin sehingga memberikan dampak kecil terhadap pengurangan headcount index
(mendekatkan ke garis kemiskinan tapi belum melampaui garis).
1.2.2 Analisis Kemiskinan
Jika garis kemiskinan dan pengukuran telah ditetapkan, berbagai karakteristik kelompok
yang berbeda (miskin dan sangat miskin) dapat dibandingkan untuk melihat korelasi
kemiskinan. Dapat pula dibandingkan ukuran kemiskinan kelompok kelompok keluarga
miskin dari karakteristik yang berbeda dalam kurun waktu tertentu. Contoh penyajian data
untuk analisis kemiskinan seperti pada tabel 1.3.

Surjono/MK Kemiskinan
Tabel 1.3
Klasifikasi kemiskinan berdasarkan kelompok sosial ekonomi
Kelompok sosial
Head count ranking
kesenjangan ranking
keparahan
ekonomi
Petani kecil
81.6
1
41.0
1
24.6
Petani besar
77.0
2
34.6
2
19.0
Buruh kasar
62.7
3
25.5
4
14.0
Nelayan
61.4
4
27.9
3
16.1
Pensiunan/penyandan
50.6
5
23.6
5
14.1
g cacat
Sumber: World Bank 1996 Madagascar 1994

ranking
1
2
5
3
4

Dalam melakukan analisis harus diingat bahwa perbedaan karakteristik di antara kelompok
berbeda, atau perbedaan persentase penduduk miskin di antara kelompok yang berbeda
atau kurun waktunya haruslah secara statistik signifikan.
Karakteristik individual dan KK dalam kelompok miskin yang berbeda
Langkah pertama dalam menyusun profil kemiskinan adalah dengan mengangalisis
karakteristik dari kelompok sosial ekonomi yang berbeda ditinjau dari penghasilan atau
konsumsinya. Data ini akan memberikan pemahaman siapa yang miskin dan apa
perbedaan antara yang miskin dan tidak miskin. Ketika melakukan analisis akan lebih baik
jika memisahkan data pada tabel yang diharapkan bisa bisa menunjukkan perbedaan yang
nyata. Seperti pada tabel 1.4 yang menunjukkan informasi tentang indikator yang ada di
desa dan kota.
Tabel 1.4
Persentase penduduk miskin menurut propinsi, 2011
Propinsi

Persentase penduduk
miskin
Kota
Desa
Kota+
desa

Garis kemiskinan (Rp)


Kota

Desa

Kota
+desa
30369
2`
24656
0
26171
9
28247
9
24227
2

NAD

13.,69 21,87

19,57

333355

292085

Sumatera Utara

10,7
5
7,42

11,89

11,33

271713

222226

Sumatera Barat

10,07

9,04

293018

241924

Riau

6,37

9,83

9,47

306504

267007

Jambi

11,1
9

7,53

8,65

284522

210144

P1 (%)
Kota

Desa

P2 (%)
Kota+
desa

Kota

Desa

2,78

3,78

3,50

0,84

0,98

Kota
+des
a
0,94

1,84

1,85

1,84

0,53

0,49

0,51

1,25

1,42

1,36

0,35

0,36

0,35

0,77

1,48

1,21

0,16

0,37

0,29

1,31

0,81

0,96

0,26

0,14

0,18

dst

Sumber: BPS 2012

Tabel tersebut di depan menunjukkan bahwa kemiskinan di Indonesia lebih dalam terjadi di
perdesaan daripada area perkotaan, bukan hanya persentase, namun juga tingkat
kesenjangan dan keparahannya. Cara lain menyajikan informasi adalah dengan
menunjukkan sebaran secara lebih merata, bukan hanya miskin dan tidak miskin, namun
dengan menampilkan data decile (per sepuluh bagian) dan quintile (per lima bagian)
sebagaimana ditunjukkan pada tabel 1.5.
Tabel 1.5
Perbedaan sosial ekonomi dalam bidang kesehatan (studi kasus Senegal)
Indikator

Persentase penduduk
miskin
ter
kedua
Tengah
misk
tengah
in

Garis kemiskinan (Rp)


keempa
t

terkaya

NAD

13.,69 21,87

19,57

333355

292085

Sumatera Utara

10,7
5
7,42

11,89

11,33

271713

222226

Sumatera Barat

10,07

9,04

293018

241924

Riau

6,37

9,83

9,47

306504

267007

Jambi

11,1
9

7,53

8,65

284522

210144

dst

Sumber: BPS 2012

Ratarata
popula
si
30369
2`
24656
0
26171
9
28247
9
24227
2

P1
(%)
Rasio
termis
kin/ter
kaya
2,78

P2 (%)

3,78

3,50

0,84

0,98

0,94

1,84

1,85

1,84

0,53

0,49

0,51

1,25

1,42

1,36

0,35

0,36

0,35

0,77

1,48

1,21

0,16

0,37

0,29

1,31

0,81

0,96

0,26

0,14

0,18

Desa

Kota+
desa

Kota

Desa

Kota
+des
a