Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN
Uveitis adalah peradangan atau inflamasi yang terjadi pada lapisan traktus
uvealis yang meliputi peradangan pada iris, korpus siliaris dan koroid yang disebabkan
oleh infeksi, trauma, neoplasia, atau proses autoimun . Struktur yang berdekatan dengan
jaringan uvea yang mengalami inflamasi biasanya juga ikut mengalami inflamasi.
Peradangan pada uvea dapat hanya mengenai bagian depan jaringan uvea atau iris yang
disebut iritis. Bila mengenai badan tengah disebut siklitis. Iritis dengan siklitis disebut
iridosiklitis atau disebut juga dengan uveitis anterior dan merupakan bentuk uveitis
tersering. Dan bila mengenai lapisan koroid disebut uveitis posterior atau koroiditis.
Uveitis umumnya unilateral, biasanya terjadi pada dewasa muda dan usia pertengahan.
Ditandai adanya riwayat sakit, fotofobia, dan penglihatan yang kabur, mata merah
tanpa sekret mata purulen dan pupil kecil atau ireguler. Insiden uveitis di Amerika
Serikat dan di seluruh dunia diperkirakan sebesar 15 kasus/100.000 penduduk dengan
perbandingan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Uveitis merupakan salah satu
penyebab

kebutaan.

terbentuknya

Morbiditas akibat uveitis terjadi karena

sinekia

posterior

sehingga

menimbulkan

peningkatan tekanan intraokuler dan gangguan pada nervus


optikus. Selain itu, dapat timbul katarak akibat penggunaan steroid. Oleh karena itu,
diperlukan penanganan uveitis yang meliputi anamnesis yang komprehensif,
pemeriksaan fisik dan oftalmologis yang menyeluruh, pemeriksaan penunjang dan
penanganan yang tepat.

Uvea adalah organ yang terdiri dari beberapa kompartemen mata


yang berperan besar dalam vaskularisasi bola mata. Terdiri atas iris,
badan silier dan koroid. Uveitis didefinisikan sebagai inflamasi yang terjadi pada
uvea. Meskipun demikian sekarang istilah uveitis digunakan untuk menggambarkan
berbagai bentuk inflamasi intraokular yang tidak hanya pada uvea tetapi juga struktur
yang ada didekatnya, baik karena proses infeksi, trauma, neoplasma, maupun
autoimun.

1 | Page

BAB 11
PEMBAHASAN
A. ANATOMI UVEA :
Uvea atau traktus uvealis merupakan lapisan vaskular di dalam bola mata yang terdiri
atas iris, badan siliar, dan koroid.

1. Iris
Iris merupakan suatu membran datar sebagai lanjutan dari badan siliar ke

depan (anterior). Di bagian tengah iris terdapat lubang yang disebut pupil yang
berfungsi untuk mengatur besarnya sinar yang masuk mata. Permukaan iris warnanya
sangat bervariasi dan mempunyai lekukan-lekukan kecil terutama sekitar pupil yang
disebut kripte. Pada iris terdapat 2 macam otot yang mengatur besarnya pupil, yaitu :
Musculus dilatator pupil yang berfungsi untuk melebarkan pupil dan Musculus sfingter
pupil yang berfungsi untuk mengecilkan pupil. Kedua otot tersebut memelihara
ketegangan iris sehingga tetap tergelar datar. Dalam keadaan normal, pupil kanan dan
kiri kira-kira sama besarnya, keadaan ini disebut isokoria. Apabila ukuran pupil kanan
dan kiri tidak sama besar, keadaan ini disebut anisokoria. Iris menipis di dekat
perlekatannya dengan badan siliar dan menebal di dekat pupil.

2 | Page

Pembuluh darah di sekeliling pupil disebut sirkulus minor dan yang berada dekat
badan siliar disebut sirkulus mayor. Iris dipersarafi oleh nervus nasoiliar cabang dari
saraf cranial III yang bersifat simpatik untuk midriasis dan parasimpatik untuk miosis.
1. Corpus Siliar
Korpus siliaris merupakan susunan otot melingkar dan mempunyai sistem

eksresi dibelakang limbus. Badan siliar dimulai dari pangkal iris ke belakang
sampai koroid terdiri atas otot-otot siliar dan prosesus siliaris. Otot-otot siliar berfungsi
untuk akomodasi.
Badan siliar berbentuk cincin yang terdapat di sebelah dalam dari tempat tepi kornea
melekat di sklera. Badan siliar merupakan bagian uvea yang terletak antara iris dan
koroid. Badan siliar menghasilkan humor akuos. Humor akuos ini sangat menentukan
tekanan bola mata (tekanan intraokular = TIO). Humor akuos mengalir melalui

kamera okuli posterior ke kamera okuli anterior melalui pupil, kemudian


ke angulus iridokornealis, kemudian melewati trabekulum meshwork
menuju canalis Schlemm, selanjutnya menuju kanalis kolektor masuk ke
dalam vena episklera untuk kembali ke jantung.

3 | Page

2.

Koroid

Koroid merupakan bagian uvea yang paling luas, terletak antara retina (di sebelah
dalam) dan sklera (di sebelah luar). Koroid berbentuk mangkuk yang tepi depannya
berada di cincin badan siliar. Koroid adalah jaringan vascular yang terdiri atas
anyaman pembuluh darah. Retina tidak menempati (overlapping) seluruh koroid, tetapi
berhenti beberapa millimeter sebelum badan siliar. Bagian koroid yang tidak
terselubungi retina disebut pars plana.
Vaskularisasi uvea berasal dari arteri siliaris anterior dan posterior yang berasal dari
arteri oftalmika. Vaskularisasi iris dan badan siliaris berasal dari sirkulus arteri mayoris
iris yang terletak di badan siliaris yang merupakan anastomosis arteri siliaris anterior
dan arteri siliaris posterior longus. Vaskularisasi koroid berasal dari arteri siliaris
posterior longus dan brevis.
Fungsi dari uvea antara lain : Regulasi sinar ke retina,Imunologi (bagian yang berperan
dalam hal ini adalah khoroid), Produksi akuos humor oleh korpus siliaris, dan sebagai
nutrisi.

4 | Page

B. UVEITIS
1.

DEFINISI

Uveitis adalah peradangan atau inflamasi yang terjadi pada lapisan traktus uvealis yang
meliputi peradangan pada iris, korpus siliaris dan koroid yang disebabkan oleh infeksi,
trauma, neoplasia, atau proses autoimun.
2.

KLASIFIKASI

Uveitis adalah peradangan atau inflamasi yang terjadi pada lapisan traktus uvealis yang
meliputi peradangan pada iris, korpus siliaris dan koroid. Klasifikasi uveitis dibedakan
menjadi empat kelompok utama, yaitu klasifikasi secara anatomis, klinis, etiologis, dan
patologis. Penyakit peradangan traktus uvealis umumnya unilateral, biasanya terjadi
pada oreng dewasa dan usia pertengahan. Pada kebanyakan kasus penyebabnya tidak
diketahui.

1.
Klasifikasi berdasarkan Anatomis
a)
Uveitis anterior
Merupakan inflamasi yang terjadi terutama pada iris dan korpus siliaris atau disebut
juga dengan iridosiklitis.
b)
Uveitis intermediet
Merupakan inflamasi dominan pada pars plana dan retina perifer yang disertai dengan
peradangan vitreous.
c)
Uveitis posterior
Merupakan inflamasi yang mengenai retina atau koroid.
d)
Panuveitis
Merupakan inflamasi yang mengenai seluruh lapisan uvea.

5 | Page

2.
Kla
sifikasi berdasarkan Klinis
a)
Uveitis akut
Uveitis yang berlangsung selama < 6 minggu, onsetnya cepat dan bersifat simptomatik.
b)
Uveitis kronik
Uveitis yang berlangsung selama > 6 minggu bahkan sampai berbulan-bulan
atau bertahun-tahun, seringkali onset tidak jelas dan bersifat asimtomatik.
3.
Klasifikasi berdasarkan Etiologis
a)
Uveitis infeksius
Uveitis yang disebabkan oleh infeksi virus, parasit, dan bakteri
b)
Uveitis non-infeksius
Uveitis yang disebabkan oleh kelainan imunologi atau autoimun.
4.
Klasifikasi berdasarkan patologis
a)
Uveitis non-granulomatosa
Reaksi vaskular dominan dengan nyeri, injeksi silier, hiperemia, dan lakrimasi akibat
banyaknya sitokin yang keluar, serta fotofobia. Akibat permeabilitas pembuluh darah
naik maka terjadi transudasi ke bilik depan mata depan sehingga penderita merasa
penglihatannya kabur.
b)
Uveitis granulomatosa
Reaksi sel yang dominan berupa sebukan limfosit dan makrofag, namun reaksi
vaskular minimal, tanpa rasa nyeri, tanpa hiperemia, maupun lakrimasi.

3.
2.1

UVEITIS ANTERIOR
DEFINISI

Uveitis anterior merupakan peradangan iris dan bagian depan badan siliar (pars
plicata), kadang-kadang menyertai peradangan bagian belakang bola mata, kornea dan
6 | Page

sklera. Peradangan pada uvea dapat mengenai hanya pada iris yang disebut iritis atau
mengenai badan siliar yang di sebut siklitis. Biasanya iritis akan disertai dengan siklitis
yang disebut iridosiklitis atau uveitis anterior.
2.2

KLASIFIKASI

Menurut klinisnya uveitis anterior dibedakan dalam uveitis anterior akut yaitu uveitis
yang berlangsung selama < 6 minggu, onsetnya cepat dan bersifat simptomatik dan
uveitis anterior kronik uveitis yang berlangsung selama > 6 minggu bahkan sampai
berbulan-bulan

atau bertahun-tahun,

seringkali

onset

tidak

jelas

dan bersifat

asimtomatik. Pada kebanyakan kasus penyebabnya tidak diketahui.


Berdasarkan patologi dapat dibedakan dua jenis besar uveitis: yang non-granulomatosa
(lebih umum) dan granulomatosa. Penyakit peradangan traktus uvealis umumnya
unilateral, biasanya terjadi pada oreng dewasa dan usia pertengahan. Uveitis nongranulomatosa terutama timbul di bagian anterior traktus uvealis ini, yaitu iris dan
korpus siliaris. Terdapat reaksi radang, dengan terlihatnya infiltrat sel-sel limfosit dan
sel plasma dengan jumlah cukup banyak dan sedikit mononuklear. Uveitis
granulomatosa yaitu adanya invasi mikroba aktif ke jaringan oleh bakteri. Dapat
mengenai uvea bagian anterior maupun posterior. Infiltrat dominan sel limfosit, adanya
aggregasi makrofag dan sel-sel raksasa multinukleus. Pada kasus berat dapat terbentuk
bekuan fibrin besar atau hipopion di kamera okuli anterior.
Perbedaan Uveitis granulomatosa dan non-granulomatosa
Onset

Non- Granulomatosa
Akut

Granulomatosa
Tersembunyi

Nyeri

Nyata

Tidak ada atau ringan

Fotofobia

Nyata

Ringan

Penglihatan Kabur

Sedang

Nyata

Merah Sirkumneal

Nyata

Ringan

Keratic precipitates

Putih halus

Kelabu

Pupil

Kecil dan tak teratur

(mutton fat)

Sinekia posterior

Kadang-kadang

Kecil dan tak teratur

Noduli iris

Tidak ada

Kadang-kadang

Lokasi

Uvea anterior

Kadang-kadang
Uvea

besar

anterior,

posterior,difus
7 | Page

Perjalanan penyakit

Akut

Kronik

Kekambuhan

Sering

Kadang-kadang

2.3

ETIOLOGI

Penyebab eksogen seperti trauma uvea atau invasi mikroorganisme atau agen lain dari
luar.

Secara

endogen

dapat

disebabkan

idiopatik,

autoimun,

keganasan,

mikroorganisme atau agen lain dari dalam tubuh pasien misalnya infeksi tuberkulosis,
herper simpleks. Etiologi uveitis dibagi dalam :
Berdasarkan spesifitas penyebab :
1.

Penyebab spesifik (infeksi) Disebabkan oleh virus, bakteri, fungi, ataupun

parasit yang spesifik.


2.

Penyebab non spesifik (non infeksi) atau reaksi hipersensitivitas

Disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap mikroorganisme atau antigen yang


masuk kedalam tubuh dan merangsang reaksi antigen antibodi dengan predileksi pada
traktus uvea.
Berdasarkan asalnya:
1.

Eksogen : Pada umumnya disebabkan oleh karena trauma, operasi intraokuler,

ataupun iatrogenik.
2.

Endogen : disebabkan idiopatik, autoimun, keganasan, mikroorganisme atau

agen lain dari dalam tubuh pasien misalnya infeksi tuberkulosis, herpes simpleks.
2.4

PATOFISIOLOGI

Peradangan uvea biasanya unilateral, dapat disebabkan oleh efek langsung suatu
infeksi atau merupakan fenomena alergi. Infeksi piogenik biasanya mengikuti suatu
trauma tembus okuli, walaupun kadang-kadang dapat juga terjadi sebagai reaksi
terhadap zat toksik yang diproduksi oleh mikroba yang menginfeksi jaringan tubuh
diluar mata.
Uveitis

yang

berhubungan

dengan

mekanisme

alergi

merupakan

reaksi

hipersensitivitas terhadap antigen dari luar (antigen eksogen) atau antigen dari dalam
(antigen endogen). Dalam banyak hal antigen luar berasal dari mikroba yang infeksius.
Sehubungan dengan hal ini peradangan uvea terjadi lama setelah proses infeksinya
yaitu setelah munculnya mekanisme hipersensitivitas. Radang iris dan badan siliar
menyebabkan rusaknya Blood Aqueous Barrier sehingga terjadi peningkatan protein,
8 | Page

fibrin, dan sel-sel radang dalam humor akuos. Pada pemeriksaan biomikroskop (slit
lamp) hal ini tampak sebagai flare, yaitu partikel-partikel kecil dengan gerak Brown
(efek tyndall).
Pada proses peradangan yang lebih akut, dapat dijumpai penumpukan sel-sel radang
berupa pus di dalam COA yang disebut hipopion, ataupun migrasi eritrosit ke dalam
COA, dikenal dengan hifema. Apabila proses radang berlangsung lama (kronis) dan
berulang, maka sel-sel radang dapat melekat pada endotel kornea, disebut sebagai
keratic precipitate (KP). Ada dua jenis keratic precipitate, yaitu :
1.

Mutton fat KP : besar, kelabu, terdiri atas makrofag dan pigmen-pigmen yang

difagositirnya, biasanya dijumpai pada jenis granulomatosa.


2.

Punctate KP : kecil, putih, terdiri atas sel limfosit dan sel plasma, terdapat pada

jenis non granulomatosa.


Apabila tidak mendapatkan terapi yang adekuat, proses peradangan akan berjalan terus
dan menimbulkan berbagai komplikasi. Sel-sel radang, fibrin, dan fibroblas dapat
menimbulkan perlekatan antara iris dengan kapsul lensa bagian anterior yang disebut
sinekia posterior, ataupun dengan endotel kornea yang disebut sinekia anterior. Dapat
pula terjadi perlekatan pada bagian tepi pupil, yang disebut seklusio pupil, atau seluruh
pupil tertutup oleh sel-sel radang, disebut oklusio pupil.
Perlekatan-perlekatan tersebut, ditambah dengan tertutupnya trabekular oleh sel-sel
radang, akan menghambat aliran akuos humor dari bilik mata belakang ke bilik mata
depan sehingga akuos humor tertumpuk di bilik mata belakang dan akan mendorong
iris ke depan yang tampak sebagai iris bombans (iris bombe). Selanjutnya tekanan
dalam bola mata semakin meningkat dan akhirnya terjadi glaukoma sekunder.
Pada uveitis anterior juga terjadi gangguan metabolisme lensa yang menyebabkan
lensa menjadi keruh dan terjadi katarak komplikata. Apabila peradangan menyebar
luas, dapat timbul endoftalmitis (peradangan supuratif berat dalam rongga mata dan
struktur di dalamnya dengan abses di dalam badan kaca) ataupun panoftalmitis
(peradangan seluruh bola mata termasuk sklera dan kapsul tenon sehingga bola mata
merupakan rongga abses).
Bila uveitis anterior monokuler dengan segala komplikasinya tidak segera ditangani,
dapat pula terjadi symphatetic ophtalmia pada mata sebelahnya yang semula sehat.

9 | Page

Komplikasi ini sering didapatkan pada uveitis anterior yang terjadi akibat trauma
tembus, terutama yang mengenai badan silier.
2.5

MANIFESTASI KLINIS

Keluhan pasien dengan uveitis anterior adalah mata sakit, mata merah, fotofobia,
penglihatan turun ringan dengan mata berair. Keluhan sukar melihat dekat pada pasien
uveitis dapat terjadi akibat ikut meradangnya otot-otot akomodasi. Dari pemeriksaan
mata dapat ditemukan tanda antara lain : Hiperemia perikorneal, yaitu dilatasi
pembuluh darah siliar sekitar limbus, dan keratic precipitate. Pada pemeriksaan slit
lamp dapat terlihat flare di bilik mata depan dan bila terjadi inflamasi berat dapat
terlihat hifema atau hipopion. Iris edema dan warna menjadi pucat, terkadang didapatkan
iris bombans. Dapat pula dijumpai sinekia posterior ataupun sinekia anterior. Pupil kecil

akibat peradangan otot sfingter pupil dan terdapatnya edema iris. Lensa keruh terutama
bila telah terjadi katarak komplikata. Tekanan intra okuler meningkat, bila telah terjadi
glaukoma sekunder. Pada proses akut dapat terjadi miopisi akibat rangsangan badan

siliar dan edema lensa. Pada uveitis non-granulomatosa dapat terlihat presipitat halus
pada dataran belakang kornea. Pada uveitis granulomatosa dapat terlihat presipitat
besar atau mutton fat noduli Koeppe (penimbunan sel pada tepi pupil) atau noduli
Busacca (penimbunan sel pada permukaan iris).

3.

UVEITIS INTERMEDIATE

Uveitis intermediate disebut juga uveitis perifer atau pars planitis adalah peradangan
intraokular terbanyak kedua. Tanda uveitis intermediet yang terpenting yaitu adanya
peradangan vitreus. Uveitis intermediet biasanya bilateral dan cenderung mengenai
pasien remaja akhir atau dewasa muda. Pria lebih banyak yang terkena dibandingkan
wanita. Gejala- gejala yang khas meliputi floaters dan penglihatan kabur. Nyeri,
fotofobia dan mata merah biasanya tidak ada atau hanya sedikit. Temuan pemeriksaan
yang menyolok adalah vitritis seringkali disertai dengan kondensat vitreus yang
melayang bebas seperti bola salju (snowballs) atau menyelimuti pars plana dan corpus
ciliare seperti gundukan salju (snow-banking). Peradangan bilik mata depan minimal
tetapi jika sangat jelas peradangan ini lebih tepat disebut panuveitis. Penyebab uveitis
intermediate tidak diketahui pada sebagian besar pasien, tetapi sarkoidosis dan multipel
sklerosis berperan pada 10-20% kasus. Komplikasi uveitis intermediate yang tersering
10 | P a g e

adalah edema makula kistoid, vaskulitis retina dan neovaskularisasi pada diskus
optikus.
4.

UVEITIS POSTERIOR

Uveitis posterior adalah peradangan yang mengenai uvea bagian posterior yang
meliputi retinitis, koroiditis, vaskulitis retina dan papilitis yang bisa terjadi sendirisendiri atau secara bersamaan. Gejala yang timbul adalah floaters, kehilangan lapang
pandang atau scotoma, penurunan tajam penglihatan. Sedangkan pada koroiditis aktif
pada makula atau papillomacular bundle menyebabkan kehilangan penglihatan sentral
dan dapat terjadi ablasio retina.
5.

PENATALAKSANAAN

Tujuan utama dari pengobatan uveitis adalah untuk mengembalikan atau memperbaiki
fungsi penglihatan mata. Apabila sudah terlambat dan fungsi penglihatan tidak dapat
lagi dipulihkan seperti semula, pengobatan tetap perlu diberikan untuk mencegah
memburuknya penyakit dan terjadinya komplikasi yang tidak diharapkan. Adapun
terapi uveitis dapat dikelompokkan menjadi :
Terapi non spesifik :
1. Penggunaan kacamata hitam
Kacamata hitam bertujuan untuk mengurangi fotofobi, terutama akibat pemberian
midriatikum.
2. Kompres hangat
Dengan kompres hangat, diharapkan rasa nyeri akan berkurang, sekaligus untuk
meningkatkan aliran darah sehingga resorbsi sel-sel radang dapat lebih cepat.
3. Midritikum/ sikloplegik
Tujuan pemberian midriatikum adalah agar otot-otot iris dan badan silier

relaks,

sehingga dapat mengurangi nyeri dan mempercepat penyembuhan. Selain itu,


midriatikum sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya sinekia, ataupun
melepaskan sinekia yang telah ada.
Midriatikum yang biasanya digunakan adalah:
a.

Sulfas atropin 1% sehari 3 kali tetes

b.

Homatropin 2% sehari 3 kali tetes

c.

Scopolamin 0,2% sehari 3 kali tetes

4. Anti inflamasi
11 | P a g e

Anti inflamasi yang biasanya digunakan adalah kortikosteroid, dengan dosis sebagai
berikut:
Dewasa : Topikal dengan dexamethasone 0,1 % atau prednisolone 1 %. Bila radang
sangat hebat dapat diberikan subkonjungtiva atau periokuler : :
a.

Dexamethasone phosphate 4 mg (1 ml)

b.

Prednisolone succinate 25 mg (1 ml)

c.

Triamcinolone acetonide 4 mg (1 ml)

d.

Methylprednisolone acetate 20 mg

Bila belum berhasil dapat diberikan sistemik Prednisone oral mulai 80 mg per hari
sampai tanda radang berkurang, lalu diturunkan 5 mg tiap hari.
Anak : prednison 0,5 mg/kgbb sehari 3 kali.
Pada pemberian kortikosteroid, perlu diwaspadai komplikasi-komplikasi yang
mungkin terjadi, yaitu glaukoma sekunder pada penggunaan lokal selama lebih dari
dua minggu, dan komplikasi lain pada penggunaan sistemik.
Terapi spesifik
Terapi yang spesifik dapat diberikan apabila penyebab pasti dari uveitis anterior telah
diketahui. Karena penyebab yang tersering adalah bakteri, maka obat yang sering
diberikan berupa antibiotik, yaitu :
Dewasa : Lokal berupa tetes mata kadang dikombinasi dengan steroid.
Anak : Chloramphenicol 25 mg/kgbb sehari 3-4 kali.
Walaupun diberikan terapi spesifik, tetapi terapi non spesifik seperti disebutkan diatas
harus tetap diberikan, sebab proses radang yang terjadi adalah sama tanpa memandang
penyebabnya.
Terapi terhadap komplikasi
1. Sinekia posterior dan anterior
Untuk mencegah maupun mengobati sinekia posterior dan sinekia anterior, perlu
diberikan midriatikum, seperti yang telah diterangkan sebelumnya.
2. Glaukoma sekunder
12 | P a g e

Glaukoma sekunder adalah komplikasi yang paling sering terjadi pada uveitis anterior.
Terapi yang harus diberikan antara lain:
Terapi konservatif :
Timolol 0,25 % - 0,5 % 1 tetes tiap 12 jam
Acetazolamide 250 mg tiap 6 jam
Terapi bedah:
Dilakukan bila tanda-tanda radang telah hilang, tetapi TIO masih tetap tinggi.
a. Sudut tertutup : iridektomi perifer atau laser iridektomi, bila telah terjadi
perlekatan iris dengan trabekula (Peripheral Anterior Synechia atau PAS)
dilakukan bedah filtrasi.
b. Sudut terbuka : bedah filtrasi.
3. Katarak komplikata
Komplikasi ini sering dijumpai pada uveitis anterior kronis. Terapi yang diperlukan
adalah pembedahan, yang disesuaikan dengan keadaan dan jenis katarak serta
kemampuan ahli bedah.

6.

KOMPLIKASI

BAB III
KESIMPULAN
Uveitis adalah peradangan atau inflamasi yang terjadi pada lapisan traktus uvealis yang
meliputi peradangan pada iris, korpus siliaris dan koroid. Klasifikasi uveitis dibedakan
menjadi empat kelompok utama, yaitu klasifikasi secara anatomis, klinis, etiologis, dan
patologis. Penyakit ini dapat disebabkan oleh faktor eksogen, endogen, infeksi maupun
noninfeksi. Tujuan utama dari pengobatan uveitis adalah untuk mengembalikan atau
memperbaiki fungsi penglihatan mata. Apabila sudah terlambat dan fungsi penglihatan
tidak dapat lagi dipulihkan seperti semula, pengobatan tetap perlu diberikan untuk
mencegah memburuknya penyakit dan terjadinya komplikasi yang tidak diharapkan.
13 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
1. Suhardjo SU, Hartono. Uveitis dalam Ilmu kesehatan mata. UGM.
Yogyakarta. 2007
2. Ilyas, Sidarta : Anatomi dan Fisiologi mata dalam Ilmu Penyakit Mata.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI, Edisi 3, 2008. Hal 1-12
3. Hartono. Ringkasan Anatomi dan Fisiologi Mata. UGM. Yogyakarta. 2007
4. Riordan Paul Eva et al : Anatomi dan Embriologi Mata dalam : Riordan
Paul Eva, et al : Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum. Jakarta : EGC,
edisi 17, 2009
5. Vaughan, Dale. General Ophtalmology (terjemahan), Edisi 14. Jakarta: Widya
Medika, 2000.
6. Ilyas, S, Penuntun Ilmu Penyakit Mata Edisi ketiga. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta : 2004
7. Department of Ophthalmology and Visual Sciences, The Chinese University of
Hong Kong Sept 2002. www.afv.org.hk/Uveitis/uveitis_3.jpg
8. Wijaya,Nana. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan ke-6. Semarang. Universitas
Diponegoro.
9. PDSMI. Ilmu Penyakit Mata. PDSMI

14 | P a g e