Anda di halaman 1dari 13

1

PRESENTASI KASUS

1. Identitas
-Nama

: Med

-Umur

: 1 tahun

- Jenis kelamin

: laki - laki

- Pekerjaan

:-

- Alamat

: Jayabaya

- Masuk RSUAM

: 20 05 2005 , pukul 17.00 WIB

2. Anamnesa
Alloanamnesa, ( 21 05 2005 )
- Keluhan utama
- Keluhan tambahan

: Mata kanan dan kiri terasa sakit


: Mata kanan dan kiri merah, kelopak mata kanan dan
kiri bengkak

- Riwayat penyakit sekarang


Pasien datang ke RSUAM dengan keluhan mata kiri terasa sakit sejak kemarin
sore. Menurut orang tuanya sebelumnya mata pasien tertabur bubuk PK sewaktu
bermain. Tidak berapa lama setelah kejadian tersebut, mata kanan dan kiri pasien
merah dan kelopak matanya bengkak. Karena merasa cemas, maka akhirnya orang
tua pasien langsung memutuskan untuk membawa pasien berobat ke RSUAM.

- Riwayat penyakit dahulu


Tidak ada

Riwayat penyakit keluarga


Tidak ada

3. Pemeriksaan Fisik ( 21 Mei 2005, pukul 08.15 wib)


Status Present
- Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

- Kesadaran

: Compos mentis

- Tekanan darah

: Tidak dinilai

- Nadi

: 96 x/menit

- Pernafasan

: 22 x/menit

- Suhu

: 37,8 C

Status Generalis
- Kepala
Bentuk

: Simetris

Mata

: Status Oftamologis

Telinga

: Tidak ada kelainan

Hidung

: Tidak ada kelainan

Mulut

: Tidak ada kelainan

- Toraks
Jantung

: Dalam batas normal

Paru

: Dalam batas normal

- Abdomen
Hepar

: Tidak teraba

Lien

: Tidak teraba

- Genitalia Externa
Kelamin
- Ekstremitas

: Laki - laki, tidak ada kelainan


: Tidak ada kelainan

STATUS OFTALMOLOGIS

OCCULUS DEXTRA
Sulit dinilai

VISUS

OCCULUS SINISTRA
Sulit dinilai

Tidak dilakukan

KOREKSI

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

SKIASKOPI

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

SENSUS COLORIS

Tidak dilakukan

Normal, tidak menonjol

BULBUS OCULI

Normal, tidak menonjol

Tidak ada kelainan

SUPER CILIA

Tidak ada kelainan

Tidak ada

PARESE/PARALYSE

Tidak ada

Edema, agak hiperemis

PALPEBRA SUPERIOR

Edema, hiperemis,

Edema, agak hiperemis

PALPEBRA INFERIOR

Edema, hiperemis

Edema, agak hiperemis,

CONJUNGTIVA PALPEBRA

Edema, Hiperemis,

nekrosis, corpal
Edema, agak hiperemis,

nekrosis, corpal
CONJUNGTIVA FORNICES

nekrosis, corpal

Edema, hiperemis,
nekrosis, corpal

Injeksi conjungtiva ( + )

CONJUNGTIVA BULBI

Injeksi conjungtiva ( + )

anikterik

SCLERA

anikterik

Jernih, laserasi ( - )

CORNEA

jernih, laserasi ( - )

Sedang

CAMERA OCULI ANTERIOR

Sedang

Gambaran kripta baik

IRIS

Gambaran kripta baik

Bulat, sentral, RC (+)

PUPIL

Bulat, sentral, RC (+ )

jernih

LENSA

jernih

Tidak dilakukan

FUNDUS REFLEKS

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

CORPUS VITREUM

Tidak dilakukan

T=N

TENSIO OCULI

T=N

Tidak dilakukan

SISTEM CANALIS

Tidak dilakukan

LACRIMALIS

Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan pH air mata

RESUME
Pasien anak laki - laki, berusia 1 tahun, datang dengan keluhan mata kiri terasa sakit
sejak kemarin sore. Keluhan disertai dengan kelopak mata kanan dan kiri bengkak,
setelah sebelumnya tertabur bubuk PK
Pada pemeriksaan fisik ditemukan
Status present

: Dalam batas normal

Status generalis : Dalam batas normal


Status oftalmologi
OCCULUS DEXTRA
Sulit dinilai

VISUS

OCCULUS SINISTRA
Sulit dinilai

Edema, agak hiperemis

PALPEBRA SUPERIOR

Edema, hiperemis,

Edema, agak hiperemis

PALPEBRA INFERIOR

Edema, hiperemis

Edema, hiperemis,

CONJUNGTIVA PALPEBRA

Edema, Hiperemis,

nekrosis, corpal
Edema, hiperemis,

nekrosis, corpal
CONJUNGTIVA FORNICES

nekrosis, corpal
Injeksi conjungtiva ( + )

Edema, hiperemis,
nekrosis, corpal

CONJUNGTIVA BULBI

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan pH air mata

Injeksi conjungtiva ( + )

Diagnosa Kerja
Combustio conjungtiva bulbi, conjungtiva fornices, conjungtiva palpebra ODS
e.c trauma kimia
Therapy
1. Bed rest
2. Medikamentosa
a.

Irigasi ( NaCl 0,9 % + Aqua ) 2 kolf : mata kanan dan kiri

b.

IVFD Asering 5

c.

Inj. ampicillin 200 mg / 6 jam

d.

Paracetamol syrup ( 3 x cth 1 )

e.

Tetes pantocain

f.

Rawat Ruang Mata

g.

Bila ada laserasi kornea beri tetes gentamicin

gtt VIII

/menit

Bila tidak ada beri salep gentamicin


Prognosa
- Quo ad vitam

: ad bonam

- Qou ad fungtionam

: ad bonam

FOLLOW UP
Tanggal

22 05 2005

Visus
Palpebra Superior
Palpebra Inferior
Konjungtiva Palpebra
Konjungtiva Fornices
Konjungtiva Bulbi
Therapi

OD
Sulit dinilai
Edema , agak hiperemis
Edema , agak hiperemis
Edema , agak hiperemis,
nekrosis, corpal
Edema , agak hiperemis,
nekrosis, corpal
Injeksi conjungtiva

- Irigasi NaCl 0,9 %


- Eye drops Gentamicin 0,3 %
gtt II / 6 jam
Inj. ampicillin 200 mg / 6 jam
Paracetamol Syr ( 3 x cth 1 )
Zaalf Gentamicin 0,3 %

Tanggal
Visus
Palpebra Superior
Palpebra Inferior
Konjungtiva Palpebra
Konjungtiva Fornices
Konjungtiva Bulbi
Therapi

23 05 - 2005
OD
OS
Sulit dinilai
Sulit dinilai
Edema ( - ), agak hiperemis
Edema , hiperemi
Edema ( - ), agak hiperemis
Edema , hiperemi
Edema ( - ), agak hiperemis,
edema, hiperemis, nekrosis,
nekrosis, corpal
corpal
Edema ( - ), agak hiperemis,
edema, hiperemis, nekrosis,
nekrosis, corpal
corpal
Injeksi conjungtiva
injeksi conjungtiva
- Irigasi NaCl 0,9 %
- Eye drops Gentamicin 0,3 %
gtt II / 6 jam
Inj. ampicillin 200 mg / 6 jam
Paracetamol Syr ( 3 x cth 1 )
- Zaalf Gentamicin 0,3 %

Tanggal
Visus

OS
Sulit dinilai
Edema, hiperemi
Edema, hiperemi
edema, hiperemis, nekrosis,
corpal
edema, hiperemis, nekrosis,
corpal
injeksi conjungtiva

24 05 2005
OD
Sulit dinilai

OS
Sulit dinilai

Palpebra Superior
Palpebra Inferior
Konjungtiva Palpebra
Konjungtiva Fornices
Konjungtiva Bulbi
Therapi

Edema ( - ), hiperemis
Edema ( - ), hiperemis
Edema ( - ), hiperemis ,
nekrosis, corpal ( - )
Edema ( - ), hiperemis ,
nekrosis, corpal ( - )
Injeksi conjungtiva

- Irigasi NaCl 0,9 %


- Eye drops Gentamicin 0,3 %
gtt II / 6 jam
Inj. ampicillin 200 mg / 6 jam
Paracetamol Syr ( 3 x cth 1 )
- Zaalf Gentamicin 0,3 %
Tanggal

Visus
Palpebra Superior
Palpebra Inferior
Konjungtiva Palpebra
Konjungtiva Fornices
Konjungtiva Bulbi
Therapi

Edema ( - ), hiperemis ( - )
Edema ( - ), hiperemis ( - )
Edema ( - ), hiperemis ( - ),
nekrosis, corpal ( - )
Edema ( - ), hiperemis ( - ),
nekrosis, corpal ( - )
Injeksi conjungtiva

25 05 2005
OD
OS
Sulit dinilai
Sulit dinilai
Edema ( - ), hiperemis ( - )
Edema ( - ), hiperemis
Edema ( - ), hiperemis ( - )
Edema ( - ), hiperemis
Edema ( - ), hiperemis ( - ),
Edema ( - ), hiperemis ,
nekrosis, corpal ( - )
nekrosis, corpal ( - )
Edema ( - ), hiperemis ( - ),
Edema ( - ), hiperemis ,
nekrosis, corpal ( - )
nekrosis, corpal ( - )
Injeksi conjungtiva ( - )
Injeksi conjungtiva
- Eye drops Gentamicin 0,3 %
gtt II / 6 jam
Inj. ampicillin 200 mg / 6 jam
Paracetamol Syr ( 3 x cth 1 )
- Zaalf Gentamicin 0,3 %

Pada tanggal 25 Mei 2005, pukul 11.15 wib pasien Pulang Atas Persetujuan Dokter

ULKUS KORNEA
Ulkus kornea dibedakan dalam bentuk :

Ulkus kornea sentral

Ulkus kornea perifer

1. Ulkus kornea sentral


Ulkus sentral biasanya merupakan ulkus infeksi akibat kerusakan pada epitel.
Lesi terletak di sentral, jauh dari limbus vaskular. Hipopion biasanya ( tidak selalu )
menyertai ulkus. Hipopion adalah pengumpulan sel-sel radang yang tampak
sebagai lapis pucat di bagian bawah kamera anterior dan khas untuk ulkus sentral
kornea bakteri dan fungi. Meskipun hipopion itu steril pada ulkus kornea bakteri,
kecuali terjadi robekan pada membran descement, pada ulkus fungi lesi ini
mungkin mengandung unsur fungus. Etiologi ulkus kornea sentral biasanya bakteri
(Pseudomonas, Pneumokok, Moraxela liquefaciens, Streptokok beta hemolitik,
Klebsiella pneumoni, E.coli, Proteus), virus (herpes simpleks,herpes zoster), jamur

(Candida albican, Fusarium solani, species Nokardia, Sefalosforium dan


Aspergilus).
Biasanya dimulai dengan trauma kecil dari epitel kornea, seperti tergores oleh
pensil atau terkena debu yang kemudian disusul dengan infeksi sekunder dengan
kuman-kuman. Kuman ini dapat berasal dari konjungtiva,sakus lakrimal. Oleh
karena itu jangan lupa melakukan pemeriksaan bakteriologis dari kerokan
konjungtiva dan isi dari sakus lakrimal. Juga tes anel, disamping pemeriksaan
yang harus biasa dilakukan pada keratitis. Penyakit ini biasa didapatkan pada
petani, buruh tambang,orang- orang dengan kesehatan yang buruk, orang jompo,
penderita glaukoma,pecandu alkohol dan obat bius. Pada tempat trauma di kornea
timbul infiltrat, oleh karena pengumpulan dari wandering cell disertai injeksi
perikornea dan injeksi konjungtiva. Penderita mengeluh kesakitan, disertai
pembengkakan dari palpebra. Infiltrat ini cepat membesar dan ulkusnya menjalar
ke arah permukaan dan ke dalam, sehingga ulkus tergaung bentuknya dan
penjalarannya dari sentral ke perifer.

2. Ulkus kornea perifer


Ulkus perifer merupakan peradangan kornea bagian perifer berbentuk khas
yang biasanya terdapat daerah jernih antara limbus kornea dengan tempat
kelainannya. Diduga dasar kelainannya adalah suatu reaksi hipersensitifitas
terhadap eksotoksin bakteri. Ulkus yang terutama terdapat pada bagian perifer
kornea, biasanya terjadi akibat alergi, toksik, infeksi dan penyakit kolagen
vascular.
Biasanya bersifat rekuren, dengan kemungkinan terdapatnya Streptococcus
pneumoniae, Hemophillus aegepty, Moraxella lacunata dan Esrichia.
Penglihatan pasien dengan ulkus perifer akan menurun disertai rasa sakit,
fotofobia dan lakrimasi. Terdapat pada satu mata blefarospasme, injeksi
konjungtiva, infiltrate atau ulkus yang memanjang dan dangkal. Terdapat unilateral
dapat tunggal atau multiple dan daerah yang jernih antara kelainan ini dengan
limbus kornea.

10

Kebanyakan ulkus kornea perifer bersifat jinak namun sangat sakit. Ulkus ini
timbul

akibat

konjungtivitis

blefarokonjungtivitis

stafilokok

bakteri
dan

akut

lebih

atau

jarang

menahun,

khususnya

konjungtivitis

koch-weeks

(Haemophilus aegyptius). Namun ulkus-ulkus ini bukan proses infeksi dan kerokan
tak mengandung bakteri penyebab. Ulkus timbul akibat sensitisasi terhadap
produk bakteri, antibodi dari pembuluh limbus bereaksi dengan antigen yang telah
berdifusi melalui epitel kornea.Ulkus kornea perifer antara lain berupa
- ulkus dan infiltrat marginal
- ulkus mooren
- keratokonjungtivitis phlyctenular
- keratitis marginal pada penyakit autoimun
- ulkus kornea akibat defisiensi vitamin A
- keratitis neurotropik
- keratitis pajanan (exposure)

Pengobatan dan Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan laboratorium sangat berguna untuk membantu membuat diagnosis

kausa. Pemeriksaan jamur dilakukan dengan sediaan hapus yang memakai larutan
KOH. Sebaiknya pada setiap ulkus kornea dilakukan pemeriksaan agar darah,
Saboraud, Triglikolat dan agar coklat.
Secara umum, pengobatan untuk ulkus kornea adalah dengan siklopegik,
antibiotic topical yang sesuai, dan pasien dirawat bila terjadi perforasi, pasien tidak
dapat memberi obat sendiri, tidak terdapat reaksi obat dan perlunya obat sistemik.
Pengobatan pada ulkus kornea bertujuan untuk menghalangi pertumbuhan bakteri
dengan pemberian antibiotika dan mengurangi reaksi radang dengan steroid. Secara
umum ulkus kornea diobati sebagai berikut :
Tidak boleh dibebat, karena akan menaikkan suhu sehingga berfungsi
sebagai incubator.
Secret yang terbentuk dibersihkan 4 kali sehari
Diperhatikan kemungkinan terjadinya glaucoma sekunder.
Debridement sangat membantu penyembuhan.

11

Diberi antibiotika yang sesuai dengan kausa. Biasanya diberi secara local,
kecuali pada keadaan yang berat.
Pengobatan dihentikan bila sudah terjadi epitelialisasi dan mata terlihat tenang,
kecuali bila penyebabnya Pseudomonas yang memerlukan tambahan pengobatan
selama 1-2 minggu.
Pada ulkus kornea dilakukan pembedahan atau keratoplasty apabila:
Dengan pengobatan tidak sembuh
Terjadinya jaringan parut yang mengganggu penglihatan.
Yang paling ideal untuk pengobatan terhadap ulkus kornea adalah pencegahan
terjadinya ulkus dengan pengobatan setiap trauma kornea sesteril mungkin. Kalau
terdapat debu, maka keluarkanlah debu tersebut dengan alat-alat yang steril,
kemudian beri antibiotic local yang berspektrum luas, kalau perlu juga sistemik dan
mata ditutup kasa steril dan diganti setiap hari sampai sembuh. Bila telah terbentuk
ulkus, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan mikrobiologi dan resistensi,
supaya pengobatannya tepat guna. Sebagai contoh:
Pneumokokus

: Streptomisin, penicillin, tetrasiklin local dan sistemik.

Pseudomonas

: Polimiksin B, dihidrostreptomisin.

Morax axenfeld

: kloramfenikol.

Fungus

: mikostatin, amfoterisin B, nistatin, dll.

Disamping itu juga diberikan Sulfas Atropin sebagai salep atau larutan sebagai
midriatika, mata ditutup juga diberikan roborantia, analgetika, sedative. Kalau tidak
sembuh dapat dilakukan:
Kauterisasi kimia dan mekanik
Parasentesa
Membuat flap konjungtiva, dll.

12

13

DAFTAR PUSTAKA

1. Sidartha Ilyas, Prof. Dr, SpM; Ulkus Kornea dalam Ilmu Penyakit Mata; BP
FKUI, Edisi kedua, Jakarta, 2002; hal. 164-172
2. N. Wijaya S. D, Dr; Ulkus Kornea dalam Ilmu Penyakit Mata, Jakarta, 1983.
3. Asbury Taylor, Sanitato James J. Trauma, dalam Vaughan Daniel G, Abury
Taylor, Eva Paul Riordan. Oftalmologi Umum. Edisi XIV. Jakarta : Widya
Medika; 2000.p.380-87
4. Perhimpunan Dokter Ahli Mata; Ilmu Penyakit Mata; Airlangga University
Press