Anda di halaman 1dari 33

Bab I

Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Kanker mulut rahim merupakan kanker terbanyak nomor dua di seluruh dunia maupun
di Indonesia, sampai saat ini kanker mulut rahim masih merupakan masalah kesehatan
perempuan di Indonesia sehubungan dengan angka kejadian dan angka kematiannya yang
tinggi. Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut, keadaan umum yang lemah, status sosial
ekonomi yang rendah, keterbatasan sumber daya, keterbatasan sarana dan prasarana, serta
derajat pendidikan ikut serta dalam menentukan prognosis dari penderita. Oleh karena itu,
Indonesia mengembangkan upaya pengendalian kanker leher rahim dan payudara melalui
deteksi dini sejak tahun 2007.1 Berdasarkan IARC 2008 dengan perkiraan age standardized
rate , kanker leher rahim menempati urutan kedua dengan incidence rate 15,2 per 100.000
perempuan, kasus baru yang ditemukan 8,8% (530 232 kasus) dengan angka kematian
8,2%(275 008) per tahun dari seluruh kasus kanker pada perempuan di dunia. 2 Penelitian
World Health Organization (WHO) tahun 2005 menyebutkan, terdapat lebih dari 500.000
kasus baru, dan 260.000 kasus kematian akibat kanker leher rahim, 90% diantaranya terjadi
di negara berkembang.3
Sedangkan kanker payudara menduduki peringkat pertama menurut data International
Agencies for Research on Cancer (IACR) tahun 2008 , insidens rate 38,9 per 100.000
perempuan. Ditemukan sekitar 22,9% kasus baru yang terjadi di negara berkembang dan
angka kematian 12,4% dari seluruh kasus kanker pada perempuan di dunia.2
Salah satu faktor yang dapat menurunkan angka kanker leher rahim tersebut adalah
dengan melalui metode penapisan dengan syarat harus efektif dalam mendeteksi lesi
prakanker yang mengandalkan kesederhanaan teknik, dan dapat memberikan hasil yang
segera meskipun dalam sumber daya yang terbatas sekalipun. Hingga saat ini telah ditemukan
bahwa pemeriksaan visual dengan asam asetat atau dikenal dengan Inspeksi Visual dengan
Asam Asetat (IVA) merupakan alternatif yang memenuhi kriteria di atas, yaitu memerlukan
biaya rendah, teknik yang sederhana, dengan sumber daya yang terbatas bagi pemeriksaan
kanker leher rahim. Sedangkan pemeriksaan deteksi dini kanker payudara menggunakan
metode Clinical Breast Examination (CBE) dan edukasi mengenai SADARI (periksa
payudara sendiri).4

Pada Kabupaten Karawang, program penapisan kanker leher rahim dan kanker
payudara di Kabupaten Karawang yang telah berlangsung dari tahun 2007.Secara
keseluruhan, target WUS yang telah ditetapkan adalah sebanyak 139 715, dan selama 5
tahun yang berhasil ditapis untuk mendeteksi dini dan pencegahan kanker leher rahim
melalui program inspeksi visual asam asetat sebanyak 37.080 yang meliputi 20
kecamatan, sehingga telah mampu menapiskan sebesar 26,5% dari seluruh wanita usia
subur dan dengan target sebesar 80%. Terdapat kesenjangan yang tinggi diantara target
yang telah yang ditetapkan dengan hasil cakupan penapisan program deteksi dini ini.
Untuk wilayah kerja Puskesmas Cikampek sendiri, dari data Dinas Kesehatan
Karawang didapatkan jumlah perempuan berusia diantara 30 hingga 50 sebanyak 13.718
orang dengan target penapisan sebanyak 10.975 untuk periode 5 tahun. Angka penapisan
diharapkan mencapai target 80% secara keseluruhan pada tahun terkhir program IVA
berjalan pada Puskesmas Cikampek, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang. Oleh
karena belum diketahuinya tingkat keberhasilan pelaksanaan program

pencegahan

kanker leher rahim dan kanker payudara di Puskesmas Cikampek, Kabupaten Karawang
pada periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012, maka perlu adanya evaluasi
program.
1.2. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1.2.1 Tingginya angka kesakitan dan kematian kanker leher rahim di dunia, yaitu kasus baru
yang ditemukan 8,8% dan jumlah kematian 8,2% per tahun dari seluruh kasus kanker
pada perempuan di dunia dan merupakan penyebab kematian kedua pada perempuan
menurut IARC tahun 2008.
1.2.2 Tingginya angka kanker payudara sekitar 22,9 % kasus baru yang terjadi di negara
berkembang dan angka kematian 12,4 % dari seluruh kasus kanker pada perempuan di
dunia berdasarkan data dari International Agencies for Research on Cancer (IARC)
tahun 2008.
1.2.3 Tingginya angka incidence rate untuk kanker leher rahim di Indonesia, sekitar 15,2 per
100.000 perempuan dengan angka kematian 8,2 per 100.000 setiap tahun
1.2.4 Tingginya angka incidence rate untuk kanker payudara di Indonesia, sekitar 38,9 per
100.000 perempuan dan angka kematian 12,4 per 100.000 setiap tahun.

1.2.5 Tingginya angka kesenjangan diantara target yang telah ditetapkan oleh WUS dengan
hasil penapisan untuk mendeteksi dini dan pencegahan kenker leher rahim melalui
program inspeksi visual asam asetat di Kabupaten Karawang.
1.2.6 Belum diketahuinya tingkat keberhasilan pelaksanaan program pencegahan kanker
leher rahim dan kanker payudara di Puskesmas Kecamatan Cikampek periode Januari
sampai Desember 2012.
1.3. Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan permasalahan pelaksanaan program
pada pencegahan kanker leher rahim dan kanker payudara di Puskesmas Kecamatan
Cikampek periode Januari 2012 sampai Desember 2012 dengan menggunakan metode
pendekatan sistem.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Diketahuinya cakupan penyuluhan kelompok dan konseling perempuan berusia 3050 tahun di Puskesmas Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang periode Januari
2012 sampai dengan Desember 2012.
2. Diketahuinya cakupan penapisan kanker leher rahim pada perempuan berusia 30-50
tahun di Puskesmas Kecamatan Cikampek , Kabupaten Karawang periode Januari
2012 sampai dengan Desember 2012.
3. Diketahuinya cakupan perempuan dengan hasil positif dari tes Inspeksi Visual
dengan Asam Asetat (IVA) pada penapisan kanker leher rahim di Puskesmas
Kecamatan Cikampek , Kabupaten Karawang periode periode Januari 2012 sampai
dengan Desember 2012.
4. Diketahuinya cakupan perempuan yang dilakukan krioterapi pada penapisan kanker
leher rahim dengan IVA positif di Puskesmas Kecamatan Cikampek, Kabupaten
Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012.
5. Diketahuinya cakupan pelayanan rujukan pada penapisan kanker leher rahim di
Puskesmas Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang periode Januari 2012
sampai dengan Desember 2012.
6. Diketahuinya cakupan penapisan kanker payudara pada perempuan berusia 30-50
tahun di Puskesmas Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang periode Januari
2012 sampai dengan Desember 2012.
3

7. Diketahuinya cakupan pelayanan rujukan pada penapisan kanker payudara di


Puskesmas Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang periode Januari 2012
sampai dengan Desember 2012.
1.4. Manfaat
1.4.1 Bagi Evaluator
1. Menerapkan

ilmu

pengetahuan

yang

telah

diperoleh

saat

kuliah

dan

membandingkan dengan keadaan sebenarnya di dalam masyarakat.


2. Mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam mengatur program.
3. Mengembangkan kemampuan minat dan bakat dalam mengevaluasi program
Puskesmas dan berpikir secara ilmiah
1.4.2 Bagi Perguruan Tinggi
1. Mengamalkan Tri Darma Perguruan Tinggi.
2. Mewujudkan kampus sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di bidang
kesehatan.
1.4.3 Bagi Puskesmas yang dievaluasi
1. Mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam program Puskesmas dan
pemecahan masalahnya.
2. Memperoleh masukan-masukan berupa hasil evaluasi dan saran untuk meningkatkan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya efisiensi dan efektivitas program
pencegahan kanker leher rahim dan kanker payudara
1.4.4 Bagi Masyarakat
Menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat kanker leher rahim dan kanker
payudara melalui program Puskesmas dengan penyuluhan, cara deteksi dini dan
perlakuan yang tepat pada masyarakat.
1.5

Sasaran
Semua perempuan berusia 30-50 tahun di wilayah kerja Puskesmas Cikampek,
Kabupaten Karawang, periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012.

Bab II
Materi dan Metode
2.1. Materi
Materi yang dievaluasi dalam program ini terdiri dari laporan bulanan Puskesmas
mengenai program pencegahan kanker leher rahim dan kanker payudara di wilayah kerja
Puskesmas Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai
dengan Desember 2012, yang berisi terdiri dari: 4
1. Penyuluhan kelompok dan konseling
2. Penapisan kanker leher rahim
3. Penapisan dengan hasil IVA positif pada penapisan kanker leher rahim
4. Penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim dengan IVA positif
5. Pelayanan rujukan pada penapisan kanker leher rahim
6. Penapisan kanker payudara
7. Pelayanan rujukan pada penapisan kanker payudara

2.2 Metode
Evaluasi dilakukan dengan cara membandingkan cakupan program pencegahan kanker
leher rahim dan kanker payudara di Puskesmas Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang
periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012 terhadap tolok ukur yang ditetapkan
dengan mengadakan pengumpulan data, pengolahan data, analisis data dan interpretasi data
dengan menggunakan pendekatan sistem sehingga dapat ditemukan masalah yang ada dari
pelaksanaan program, kemudian dibuat usulan dan saran untuk memecahkan masalah
tersebut. Data yang disajikan dalam bentuk tekstular dan tabular.

Bab III
Kerangka Teoritis
5

3.1.

Bagan Pendekatan Sistem

Gambar di atas menerangkan sistem menurut Ryans adalah gabungan dari elemenelemen yang saling dihubungkan dengan suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu
kesatuan organisasi dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan.
Pendekatan sistem adalah prinsip pokok atau cara kerja sistem yang diterapkan pada
waktu menyelenggarakan pekerjaan administrasi. Dibentuknya suatu sistem pada dasarnya
untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Untuk terbentuknya sistem
tersebut perlu dirangkai beberapa unsur atau elemen sedemikian rupa sehingga secara
keseluruhan membentuk suatu kesatuan dan secara bersama-sama berfungsi untuk mencapai
kesatuan.
Ada 6 unsur yang saling berhubungan dan mempengaruhi pada system, yaitu : 6
1. Masukan (input)
Masukan adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang
diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut. Terdiri dari tenaga (man), dana
(money), sarana (material) dan metode (method).
2. Proses (process)
Proses adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan berfungsi
untuk mengubah

masukan (input) menjadi keluaran (output) yang direncanakan.

Menurut George R Terry, proses terdiri dari perencanaan (planning), organisasi


(organization), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling).
3. Keluaran (output)
Keluaran adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari berlangsungnya
proses dalam sistem.
6

4. Lingkungan (environment)
Lingkungan adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola oleh sistem, tetapi
mempunyai pengaruh besar terhadap sistem.
5. Umpan Balik (feed back)
Umpan balik adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran dari
sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.
6. Dampak (impact)
Dampak adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.
3.2.

Tolok Ukur Keberhasilan


Tolok ukur keberhasilan terdiri dari variabel masukan, proses, keluaran,
lingkungan, umpan balik, dan dampak. Digunakan sebagai pembanding atau target
yang harus dicapai dalam program pencegahan kanker leher rahim dan kanker
payudara.

Bab IV
Penyajian Data

4.1.

Sumber Data :

Sumber data dalam evaluasi ini diambil dari data sekunder yang berasal dari:
4.1.1 Data sekunder :
Data Demografi Puskesmas Kecamatan Cikampek tahun 2012
Laporan Pembangunan Kesehatan UPTD Puskesmas Cikampek tahun 2012, Dinas
Kesehatan Kabupaten Karawang.
Laporan hasil deteksi dini dan pencegahan kanker leher rahim dan payudara, di
puskesmas klinik IVA kabupaten Karawang Januari 2012 hingga desember 2012.
4.2. Jenis Data
4.2.1. Data Umum
4.2.1.1 Data Geografis 7
Puskesmas Cikampek adalah salah satu Puskesmas yang gedung nya berlokasi di
Jalan Ahmad Yani No.50 kecamatan Cikampek , kabupaten Karawang. Puskesmas cikampek
berada pada ketinggian 2.529 m di atas permukaan laut, dengan wilayah kerja Puskesmas
Cikampek yang terdiri dari 10 Desa yang memilki batas-batas fisik sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Tirtamulya;
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Klari;
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Purwasari; dan
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kotabaru.
Luas Kecamatan Cikampek adalah 4.638 Ha dengan kondisi wilayah sebagian besar
merupakan dataran rendah dan bersifat agraris yang terdiri dari tanah sawah seluas 492 Ha
dan sisanya merupakan tanah darat dengan berbagai peruntukan seluas 4.146 Ha.
4.2.1.2 Data Demografi
Jumlah penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cikampek pada tahun 2012
berdasarkan sumber data kependudukan kecamatan Cikampek sebanyak 104.254 jiwa
dengan jumlah rumah tangga sebanyak 29.512 rumah tangga. Jumlah penduduk tersebut
bervariasi berdasarkan sumber datanya.Penduduk laki-laki 51788 jiwa dan perempuan
52466 jiwa dan untuk WUS sebanyak 23.627 jiwa.
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa desa Cikampek Barat mempunyai jumlah
penduduk terbanyak yaitu 20.372 jiwa, namun jumlah rumah tangga terbanyak adalah desa
Cikampek Barat dengan jumlah 4831 rumah tangga.Jumlah rumah tangga yang ada di
wilayah kerja UPTD Puskesmas kecamatan Cikampek adalah sebanyak 27.925

rumah

tangga.Proporsi penduduk miskin di daerah wilayah kerja UPTD Puskesmas Cikampek

sebanyak 23,201 % dengan jumlah KK miskin sebanyak 23,466 % dari jumlah seluruh
penduduk dan KK.
4.2.1.3 Data Kepercayaan / Agama
Puskesmas Cikampek merupakan Puskesmas perkotaan dengan penduduk yang cukup
padat dan urbanisasi yang cukup tinggi .
Berdasarkan kepercayaan agama :7
a. Jumlah penduduk pemeluk Agama Islam

: 95,7 %

b. Jumlah penduduk pemeluk Agama Kristen Katolik

: 2,26 %

c. Jumlah penduduk pemeluk Agama Budha

: 1,54 %

d. Jumlah penduduk pemeluk Agama Hindu

: 0,5 %

4.2.1.4 Data Mata pencaharian


Mata pencaharian penduduk di wilayah kerja Puskesmas kecamatan Cikampek adalah
sebagai berikut: 7
a. Petani
Pemilik tanah :
Penggarap tanah:
Buruh tani
:
b. Pengrajin industri kecil :
c. Buruh industri
:
d. Pedagang
:
e. Buruh angkut
:
f. Peternak
:
g. PNS
:
h. ABRI
:

2677 orang
2016 orang
1213 orang
16062 orang
1696 orang
12775 orang
2678 orang
7677 orang
276 orang
20 orang

4.2.1.5 Data Tingkat Pendidikan


Tingkat pendidikan penduduk di wilayah kerja Puskesmas kecamatan
Cikampek adalah sebagain berikut:
a. Tidak tamat SD : 0,22%
b. Tamat SD
: 12,72%
c. Tamat SMP
: 25,12%
d. Tamat SMA
: 57,9%
e. Sarjana
: 4,04%
4.2.2. Data Khusus
4.2.2.1 Masukan
A. Tenaga
9

Dokter (terlatih)

: -

Bidan

: 5 orang bidan terlatih

Kader

: 9 kader iva terlatih

B. Dana
APBD

: Ada

C. Sarana
Medis
1. IVA test
Meja peralatan (trolley)

: 1 buah

Wadah peralatan dengan tutup

: 2 buah

Meja pemeriksaan

: 1 buah

Lampu sorot sumber cahaya

: 1 buah

Senter

: 2 buah ( 1 rusak )

Baterai kering untuk senter

: 2 buah/bulan

Bivalved speculum

: 20 (10 ukuran kecil, 8 sedang, 2 kecil)

4 rusak
Kain perlak untuk meja ginekologi

: 12 buah

Kain penutup perut klien

: 12 buah

Kursi pemeriksa

: 1 buah

Gallipots antikarat

: 24 buah

Kapas lidi kassa

: Jumlah cukup

Sarung tangan disposable

: Jumlah cukup

Spatula kayu

: Jumlah cukup

Asam asetat 5%

: Jumlah cukup

Masker

: Jumlah cukup

2. Krioterapi
Unit Krioterapi

: 1 buah

Krioterapi tip

: 1 buah

Karet penahan untuk krio unit

: 1 per unit

Tabung CO2

: 1 buah

Kereta dorong untuk tabung CO2

: 1 buah
10

Tang/ spanner

: 1 buah

Mur/ baut Washers krio machine

: Ada

Pengatur waktu/Timer

: 1 buah

3. Pencegahan Infeksi
Ember plastik dekontaminasi

: 3 buah

Larutan klorin 0,5%

: Ada

Sabun bubuk

: Ada

Sikat gigi (untuk cuci alat)

: Ada

Sarung tangan rumah tangga

: Ada

Tempat sampah plastik

: Ada

Kantung plastik

: Ada

4. Antibiotik untuk IMS

: Ada

Non medis:
Pengatur waktu/Timer

: 1 buah

Tinta stempel

: 1 buah

Leaflet

: Ada

Poster

: Ada

Atlas IVA

: 2 buah

Kartu pemeriksaan IVA

: Ada

Catatan medik pemeriksaan IVA dan payudara

: Ada

Buku Acuan

: Ada

D. Metode
1. Penyuluhan Kelompok dan konseling
Sebelum menjalani test IVA, sesi edukasi, konseling, penyuluhan serta anamnesis setiap
yang menjalani test. Pada sesi tersebut dibahas beberapa topik, yaitu : 1

Menghilangkan kesalahpahaman konsep dan rumor tentang IVA dan krioterapi

Sifat dari kanker leher rahim atau payudara sebagai sebuah penyakit

Faktor- faktor risiko terkena penyakit tersebut

Pentingnya penapisan dan pengobatan dini


11

Konsekuensi bila tidak menjalani penapisan

Mengkaji pilihan pengobatan bila hasil test IVA abnormal

Peran pasangan pria dalam penapisan dan keputusan menjalani pengobatan

Pentingnya pendekatan kunjungan tunggal sehingga ibu siap menjalani krioterapi


pada hari yang sama jika mereka mendapat hasil IVA abnormal

Arti test IVA positif atau negatif

Pentingnya membersihkan daerah genital atau kemaluan sebelum menjalani test IVA

Pada anamnesis perorangan dicari faktor risiko baik kanker leher rahim atau payudara yang
tercantum dalam status pemeriksaan, seperti : 1

Menstrusai < 12 tahun

Usia pertama berhubungan seksual <17 tahun

Sering keputihan

Merokok

Terpapar asap rokok > 1 jam sehari

Kurang konsumsi buah dan sayur

Sering konsumsi makanan berlemak dan berpengawet

Kurang aktifitas fisik (30 menit/hari)

Pernah pap smear

Riwayat keluarga kanker dan jenis kanker

KB hormonal (pil > 5 tahun atau suntik > 5 tahun)

Riwayat tumor jinak payudara (dalam keluarga maupun diri sendiri)

Riwayat operasi kandungan

Menopause > 50 tahun

Kehamilan pertama > 35 tahun

Pernah atau tidak menyusui

Pernah atau tidak melahirkan

2. Penapisan kanker leher rahim


Upaya pemeriksaan atau test sederhana dan mudah dilaksanakan pada populasi
masyarakat yang sehat yang bertujuan untuk mengetahui masyarakat yang sakit atau berisiko
12

terkena penyakit di antara masyarakat yang sehat, dilakukan Inspeksi Visual dengan aplikasi
Asam Asetat (IVA) untuk pemeriksaan lesi prakanker leher rahim. Tindakan sesuai prosedur
legeartis.
3.Penapisan dengan hasil IVA positif pada penapisan kanker leher rahim
Tabel 4.1 : tabel klasifikasi lesi pada hasil tes IVA 1,4
Klasifikasi IVA
Tes negative

Kriteria klinis
Halus, berwarna merah muda, seragam, tidak berfitur,
ektropion, servicitis, ovula Nabothi dan lesi acetowhite tidak

Tes positif

signifikan.
Bercak putih( aceto white epithelium yang sangat jelas
terlihat) dengan batas yang tegas dan meninggi, tidak

Dicurigai kanker

mengkilapyang

terhubung

atau

meluas

dari

SSK(squamocolumnar junction)
Pertumbuhan massa seperti kembang kol yang mudah
berdarah atau luka bernanah/ ulcer
4. Penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim 1
Proses pembekuan leher rahim baik menggunakan CO 2 terkompresi atau NO2 sebagai
pendingin (pendinginan terus-menerus selama 3 (tiga) menit untuk membekukan, diikuti
pencairan selama 5 (lima) menit kemudian 3 (tiga) menit pembekuan kembali). Tindakan
sesuai prosedur legeartis.

Tabel 4.2 : klasifikasi lesi yang dapat di lakukan krioterpi di Puskesmas 1


Lesi yang dapat dilakukan krioterapai di Krioterapi yang tidak dapat dilakukan
puskesmas dan unit pelayanannya dan RS oleh tenaga dokter umum/bidan di
yang mempunyai pelayanan ginekologi.
puskesmas
1. Lesi aceto white yang menutupi
1. Lesi aceto white yang menutupi
serviks kurang dari 75%( jika lebih

serviks lebih dari 75% permukaan

dari

leher rahim.

75%

serviks

tertutup

harus

dilakukan oleh seorang ginekolog)


2. Tidak lebih dari 2 mm di luar daerah
kriotop.
3. Lesi tidak meluas sampai dinding

2. Lesi acetowhite meluas sampai ke


dinding vagina atau lebih dari 2 mm di
luar kriotip.
3. Klien menginginkan pengobatan lain
13

vagina.

selain dari krioterapi atau meminta tes

4. Tidak dicurigai kanker.

diagnosa lebih lanjut.


4. Dicurigai kanker
5. Pada pemeriksaan bimanual, dicurigai
adanya massa ovarium(ovarium mass)

5. Pelayanan Rujukan Kanker leher rahim


Bidan dan dokter umum harus merujuk klien yang mengalami kondisi di bawah ini ke tingkat
fasilitas perawatan yang lebih tinggi : 1
Lesi acetowhite lebih dari 75% permukaan serviks
Lesi acetowhite meluas sampai dinding vagina atau melebihi 2 mm dari tepi luar

prob krioterapi
Lesi acetowhite postif tetapi klien meminta pengobatan lain.
Dicurgai kanker
Kondisi ginekologis laim (misalnya massa ovarium , polip )

6. Penapisan kanker payudara


Skrining kanker payudara (Clinical Breast Examination) dan edukasi masyarakat tentang
Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI). Pemeriksaan sesuai prosedur legeartis.
7. Pelayanan rujukan kanker payudara
Pada setiap kasus berat yang menunjukkan tanda bahaya yang tidak dapat diatasi serta pada
kasus yang dicurigai keganasan.

4.2.2.2 Proses
A. Perencanaan
Ada perencanaan tertulis mengenai :
1.Penyuluhan kelompok dan konseling
Dilakukan Senin Kamis oleh bidan di Puskesmas dengan memberikan sesi
konseling perorangan wawancara atau anamnesa,dan penyuluhan kelompok pada
saat IVA keliling.
2. Penapisan kanker leher rahim
Dilakukan Senin kamis oleh bidan di Puskesmas atau tempat lain secara
berkelompok oleh bidan Puskesmas beserta bidan Desa yang diadakan satu bulan
satu kali di setiap desa.
3.Penapisan dengan hasil IVA positif pada penapisan kanker leher rahim
Dil akukan Senin kamis oleh bidan di Puskesmas atau tempat lain secara
berkelompok oleh bidan Puskesmas beserta bidan Desa yang diadakan satu bulan
satu kali di setiap desa. Pemeriksaan dengan cara mengamati secara inspekulo
14

serviks yang telah dipulas dengan asam asetat atau larutan cuka(3-5%). Pada lesi
prakanker akan menampilkan warna bercak putih yang disebut sebagai aceto
white epithelium ( IVA positif).
4. Penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim
Setiap kasus dengan hasil IVA positif harus dilakukan Single Visit Approach
oleh dokter/bidan berkenaan supaya tindakan dapat dilakukan langsung setelah
hasil pemeriksaan IVA keluar.
5.Pelayanan rujukan kanker leher rahim
Segera rujuk ke fasilitas perawatan yang lebih tinggi jika setiap lesi atau hasil
pemeriksaan IVA yang dicurigai kanker .
6. Penapisan kanker payudara
Dilakukan Senin Kamis oleh bidan di Puskesmas atau tempat lain secara
berkelompok oleh bidan Puskesmas beserta bidan desa yang diadakan satu bulan
satu kali di setiap desa.
7. Pelayanan rujukan
Segera rujuk klien dengan benjolan yang dicurigai kearah tumor/kanker
payudara, saat melakukan penapisan.

B. Pengorganisasian
Struktur organisasi tertulis dan pemberian tugas yang teratur dalam melaksanakan
tugasnya.
Bagan Struktur Organisasi Program IVA
Kepala Puskesmas,
Dr. H.La Ode Ahmad
Koordinator Program
Wiwi Dwi Gayantini
Am.Keb
Ratna Syiahriah,
Am.Keb
B. Pelaksanaan
C.
1.

Tuti Nengsih,
Am.Keb

Martinawati,
Am.Keb

Retno Wulan,
Am.Keb

Pelaksanaan
Penyuluhan kelompok dan konseling
Dilakukan kepada semua klien pada Senin - Kamis oleh bidan di Puskesmas,
namun untuk penyuluhan kelompok belum di lakukan
15

2. Penapisan kanker leher rahim


Dilakukan senin - kamis di Puskesmas oleh bidan, tetapi untuk kunjungan ke
desa-desa belum dilakukan
3. Penapisan dengan hasil IVA positif pada penapisan kanker leher rahim
Dilakukan senin-kamis di puskesmas oleh bidan terlatih.Pemeriksaan dengan cara
mengamati secara inspekulo serviks yang telah dipulas dengan asam asetat atau
larutan cuka(3-5%). Pada lesi prakenker akan menampilkan warna bercak putih
yang disebut sebagai aceto white epithelium. Pemeriksaan hanya dilakukan bidan
terlatih dan dilakukan secara legeartis.
4. Penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim
Dilakukan sesuai jadwal yang di tentukan atau bidan di puskesmas bila ada IVA
positif

5. Pelayanan rujukan kanker leher rahim


Dilakukan senin-kamis jika ditemukan kasus pada penapisan kanker leher rahim
yang harus dirujuk
6. Penapisan kanker payudara
Dilakukan senin - kamis di Puskesmas oleh bidan, namun tidak dilakukan untuk
kunjungan ke desa-desa
7. Pelayanan rujukan kanker payudara
Dilakukan senin-kamis jika ditemukan kasus pada penapisan kanker payudara yang
harus dirujuk
D. Pengawasan
Pencatatan dan pelaporan : Dilakukan oleh bidan di puskesmas setiap bulan
Rapat : Dilakukan setiap bulan
4.2.2.3 Keluaran
A. Cakupan Penyuluhan Kelompok dan Konseling
Penyuluhan kelompok masih belum dilakukan di dalam gedung Puskesmas. Untuk
program luar gedung, penyuluhan kelompok dijadwalkan bersama-sama IVA keliling,
namun penyuluhan itu tidak dilakukan.
16

Persentase Konseling
=

Jumlah penapisan kanker leher rahim dan payudara

x 100%

Jumlah perempuan yang mendapatkan konseling


= 224 x 100%
224
= 100%
B. Cakupan Penapisan Kanker Leher Rahim
1. Perkiraan Target Sasaran
Data Dinas Kesehatan Karawang tahun 2012, jumlah sasaran penapisan Puskesmas
Cikampek (perempuan usia 30-50 tahun) = 13.718 orang perempuan

Target penapisan = 80% x 13.718


= 10.975 orang perempuan
Target yang akan ditapis tiap tahun

= 10.975 : 5 = 2195 orang perempuan/

tahun.
Target yang akan ditapis tiap tahun %

= 2195 x 100
13.718
= 16%

2. Penapisan Kanker Leher Rahim


Tabel 1. Jumlah Penapisan Kanker Leher Rahim Puskesmas Cikampek
periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012
Bulan
Inspeksi
IVA (+)
Krioterapi
Rujukan
Visual dengan
Asam Asetat

Januari 2012
Februari 2012
Maret 2012
April 2012
Mei 2012
Juni 2012
Juli 2012
Agustus 2012

7
17
14
8
38
12
8
2

0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
17

September2012

47
0
12
59
224

Oktober 2012
November 2012
Desember 2012

TOTAL

0
0
0
0
0

0
0
0
0
0

0
0
0
0
0

Persentase Penapisan Kanker Leher Rahim


= Pencapaian Penapisan Kanker Leher Rahim

x 100 %

Jumlah perempuan usia 30-50 tahun


= 224

x 100 %

2195
= 10.20%
C. Cakupan Penapisan dengan Hasil IVA Positif
Persentasi Penapisan dengan Hasil IVA Positif
=

Penapisan dengan Hasil IVA Positif

x 100%

Jumlah yang ditapis


=

0 x 100 %
224

= 0 %
D. Cakupan Penanganan dengan Krioterapi pada Penapisan Kanker Leher Rahim
Persentasi penanganan dengan krioterapi
=

Penanganan dengan krioterapi

x 100%

Penapisan dengan hasil IVA positif


= 0 x 100 %
0
= 0%
E. Cakupan Pelayanan Temuan Kasus Rujukan Penapisan Kanker Leher Rahim
1. Cakupan Temuan Kasus Rujukan Kanker Leher Rahim
Persentase Temuan Kasus Rujukan Kanker Leher Rahim
=

Temuan Kasus Rujukan Kanker Leher Rahim

x 100%

Penapisan dengan hasil IVA positif


=

0 x 100 %
18

0
= 0%
2. Cakupan Pelayanan rujukan Kanker Leher Rahim
Cakupan pelayanan rujukan Kanker Leher Rahim
=

Jumlah Temuan Kasus Rujukan Kanker Leher Rahim

x 100 %

Jumlah Pelayanan Kasus Kanker Leher Rahim yang Harus dirujuk


= 0 x 100%
0
= 0%

Penapisan untuk tahun 2012 adalah sebanyak 10,20%, seharusnya cakupannya


adalah 80%. Setiap tahun penapisan harus dilakukan pada 2195 wanita dari 10.975
wanita yang meliputi 80% dari wanita usia 30-50 tahun daripada target WUS. Dari
hasil penapisan, didapatkan dari 224 orang wanita berusia 30 hingga 50 tahun yang
dilakukan tes, tidak ada orang yang memberikan hasil positif pada tahun 2012, tidak
adanya temuan kasus

menimbulkan keraguan apakah petugas yang memeriksa

benar-benar terlatih, atau apakah peralatan medis yang dipakai tidak memenuhi
syarat.
=

pencapaian Penapisan Kanker Leher Rahim tahun 2012

x 100%

Jumlah Target Wanita berumur diantara 30 hingga 50 tahun per 5 tahun


=

224

x 100

10.975
=

2,04 %

Persentase yang harus dicapai per tahun adalah sebanyak 16% dibanding dengan
target wanita berumur 30 hingga 50 tahun per 5 tahun. Pada tahun 2012, didapatkan
penapisan sebanyak 2,04 % dari 16% dengan kesenjangan sebanyak 13,9%.

19

F. Cakupan Penapisan Kanker Payudara


Perkiraan Target Sasaran
Tabel 2. Jumlah Penapisan Kanker Payudara Puskesmas Cikampek
periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012
Clinical Breast
Bulan
Januari 2012
Februari 2012
Maret 2012
April 2012
Mei 2012
Juni 2012
Juli 2012
Agustus 2012
September 2012
Oktober 2012
November 2012
Desember 2012
Total

Examination
7
17
14
8
38
12
8
2
47
0
12
59
224

Benjolan (+)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1

Rujukan
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1

Persentase Penapisan Kanker Payudara


=

Pencapaian Penapisan Kanker Payudara

x 100 %

Jumlah perempuan usia 30-50 tahun


= 224 x 100 %
2195
= 10,20 %
20

G. Cakupan Pelayanan Rujukan pada Penapisan Kanker Payudara


1. Cakupan Temuan Kasus Rujukan Kanker Payudara
Persentase Temuan Kasus Rujukan Kanker Payudara
=

Temuan Kasus Rujukan pada Penapisan Kanker Payudara

x 100%

Jumlah Target Penapisan Kanker Payudara pertahun


=

x 100 %

2195
= 0,04 %
2. Cakupan Pelayanan Rujukan Kanker Payudara
=

Jumlah Temuan Kasus Rujukan Kanker Payudara

x 100 %

Jumlah Pelayanan Kasus Kanker Payudara yang Harus dirujuk


= 1 x 100%
1
= 100%
4.2.2.4 Lingkungan
A. Lingkungan
Fisik
Lokasi Puskesmas

: Mudah dijangkau

Transportasi

Tersedia sarana transportasi(ojek, becak,angkutan umum)

Non Fisik
Pendidikan

: Mayoritas berpendidikan sedang sebanyak 60363 orang


(57,90%).

Sosial Ekonomi : Mayoritas bekerja sebagai pengrajin industry kecil sebanyak


16.062 orang (34,10%). Karena sebaigan WUS bekerja sebagai

21

buruh pabrik sehingga tidak dapat meluangkan untuk


pemeriksaan IVA.
Agama

: Mayoritas beragama Islam (95,7%)

Dukungan

: Mayoritas istri akan meminta pesetujuan suami

4.2.2.5 Umpan Balik


Rapat
kegiatan

kerja

yang
setiap

membahas

laporan

bulannya

untuk

Ada

mengevaluasi program yang telah dijalankan

4.2.2.6 Dampak
A. Langsung
1.Menurunkan jumlah kesakitan kanker leher rahim Belum dapat dinilai
dan kanker payudara
2.Menurunkan jumlah kematian kanker leher rahim Belum dapat dinilai
dan kanker payudara
B. Tidak Langsung
Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

Belum dapat dinilai

22

Bab V
Pembahasan
Masalah Menurut Variabel Keluaran :
No.
1.

2.

Variabel

Tolok Ukur

Pencapaian

Masalah

Penyuluhan kelompok

1x/bulan/desa

Tidak ada

(+)

Persentase penapisan

80%

10,20%

(+)

kanker leher rahim


3.

Cakupan penemuan IVA

87,25%
5-10%

0%

positif
4.

(+)
100%

Persentase penapisan

80 %

10,20 %

kanker payudara

(+)
87,25%

Masalah Menurut Variabel masukan :


No
1.

Variabel
1.1. Tenaga

Tolok ukur

Pencapaian

Masalah
(+)

Dokter (terlatih)

1 orang

Bidan (terlatih)

5 orang

5 orang

Kader

10 orang

9 orang

23

2.

1.2. Material

Spekulum

24, berfungsi

4 rusak

Senter

Cukup

1 rusak

(+)

Masalah Menurut Variabel Proses :


No.
1.

Variabel
Pengorganis

Tolok Ukur
Terdapat pengaturan,

Pencapaian
Masalah
Tidak terdapat pembagian tugas ( + )

asian

pembagian tugas, dan

secara

penanggung jawab yang

melaksanakan tugasnya

teratur

dalam

teratur dalam
2.

Penyuluhan

melaksanakan tugasnya
Dilakukan
Senin-

perorangan

Kamis,

dan

atau sebelum,

Untuk Senin-Kamis, penyuluhan ( + )

dilakukan
semasa

yang

dan

kelompok

setelah

dalam

melaksanakan program

dilakukan

mayoritasnya perorangan, yang

selesai

seharusnya

dilakukan

diikuti

gedung

perorangan.

kelompok

penyuluhan
di

desa

1kali/bulan/desa

secara

berkelompok terlebih dahulu dan

maupun luar IVA dan pemeriksaan


payudara

adalah

dengan

penyuluhan

Untuk program IVA keliling dan


penyuluhan

kelompok

belum

dilaksanakan
3.

Penanganan

Tindakan dilakukan

dengan

oleh

krioterapi

bidan terlatih.

dokter

atau

Tidak terdapat seorang dokter ( + )


terlatih

untuk

melakukan

tindakan krioterapi.

Tindakan krioterapi

Tindakan

dilakukan

bergantung ada atau tidak dokter

sesuai

hari pelayanan IVA

krioterapi

penanggungjawab

dilakukan

pada

masa

tersebut/bidan terlatih jika ada

(+)

boleh langsung dilakukan, jika


tidak ada harus membuat janji

24

Visit

Single

Masih belum dijalankan Single (+)

Approach

harus

Visit Approach untuk setiap kasus

dilakukan

pada

IVA positif yang ditemui.

kasus IVA+

Masalah menurut variabel Lingkungan :


No.
1.

Variabel
Sosial ekonomi

Tolok Ukur
Tidak menjadi

Pencapaian

Masalah

Mayoritas bekerja

(+)

faktor penghambat sebagai pengrajin


industri kecil
sebesar 34,90 %
2.

Dukungan suami

Tidak menjadi

Mayoritas suami

(+)

faktor penghambat tidak menyetujui


tindakan krioterapi

25

Bab VI
Perumusan Masalah
Masalah menurut keluaran (masalah sebenarnya) :
A. Penyuluhan kelompok tidak ada (0%)
B. Cakupan penapisan kanker leher rahim masih kurang (10,20%) dari target sebesar
80%.
C. Cakupan penapisan IVA positif ( 0%) dari target sebesar 5-10%
D. Cakupan penapisan kanker payudara masih kurang (10,20%) dari target sebesar 80%.

Masalah lain (penyebab) :


1. Masukan tenaga(man) masih kurang. Ini karena dokter terlatih nya tidak ada, dan
untuk setiap desa seharusnya dilantik seorang bidan desa yang terlatih untuk Program
IVA, yang mencakup 10 desa, serta bidan yang siap datang untuk penyuluhan
kelompok minimal 1- 2 kali setiap bulan kepada penduduk wanita desa yang berusia
30 hingga 50 tahun. Untuk masukan tenaga juga,setiap desa harus memiliki 1 kader
IVA karena kader lebih dekat dengan masyarakat.
2. Peralatan medis masih tidak mencukupi karena spekulum ada yang rusak sedangkan
pada saat IVA keliling kadang kekurangan spekulum sehingga klien harus menunggu
lama untuk disterilkan,bahkan kadang dibatasi pasien yang datang sesuai jumlah
spekulum. Lampu senter di pakai untuk program IVA keliling, namun senter yang
ada rusak yang memberikan dampak pada hasil pemeriksaan IVA.
3. Struktur organisasi tidak terdapat pembagian tugas dan penanggungjawab yang
teratur dalam menjalankan tugas.
4. Untuk penyuluhan yang dilakukan di dalam gedung adalah mayoritasnya perorangan,
yang seharusnya dilakukan secara berkelompok terlebih dahulu dan diikuti dengan
penyuluhan perorangan .
5. Jangkauan pemeriksaan IVA dan penyuluhan ke desa-desa tidak ada, seharusnya
setiap desa 1 kali/bulan.

26

6. Tindakan krioterapi dilakukan bergantung ada atau tidak dokter atau bidan
penanggungjawab pada masa tersebut, jika ada boleh langsung dilakukan, jika tidak
ada harus membuat temu janji pada pertemuan berikut.
7. Masih belum dijalankan Single Visit Approach untuk setiap kasus IVA positif yang
ditemui.
8. Mayoritas suami tidak menyetujui tindakan krioterapi
9. Mayoritas WUS bekerja sebagai Buruh pabrik

27

Bab VII
Prioritas Masalah
Masalah menurut keluaran :
A. Cakupan penyuluhan kelompok tidak ada ( 0%)
B. Cakupan penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara masih kurang
(10,20%) dari target sebesar 80%.
C. Cakupan IVA positif 0% dari target 5-10%
Prioritas Masalah :
No.
1
2.
3.
4.
5.

Parameter
Besarnya masalah
Berat ringannya akibat yang ditimbulkan
Keuntungan sosial yang diperoleh
Teknologi yang tersedia
Sumber daya yang tersedia
Total

A
5
3
5
3
4
20

Masalah
B
C
4
5
4
5
5
5
4
4
4
5
21
24

Keterangan derajat masalah :


5 = Sangat penting
4 = Penting
3 = Cukup penting
2 = Kurang penting
1 = Sangat kurang penting
Yang menjadi prioritas masalah adalah :
1.

Cakupan penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara masih kurang (10,20%) dari

2.

target sebesar 80%.


Cakupan IVA positif 0% masih kuang dari target 4-10 %

Bab VIII
28

Penyelesaian Masalah
Masalah :
1.

Cakupan penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara masih kurang
(10,20%) dari target sebesar 80%.
Penyebab :
Masukan tenaga(man) masih kurang. Ini karena tidak ada dokter terlatih dan di setiap
desa seharusnya dilantik seorang bidan desa yang terlatih untuk Program IVA, yang
mana wilayah kerjanya mencakup 10 desa, serta bidan yang siap untuk penyuluhan
kelompok minimal 1 kali setiap bulan kepada penduduk wanita desa yang berusia 30
hingga 50 tahun. Untuk masukan tenaga juga,masih ada kader yang tidak aktif
seharusnya kader juga berperan, karena kader lebih dekat dengan masyarakat
Peralatan medis masih tidak mencukupi karena spekulum masih ada yang rusak,
sehingga saat IVA keliling jumlah klien lebih banyak dari sediaan spekulum sehingga
kadang klien di batasi atau harus menunggu untuk disterilisasi . Lampu senter diguna
pakai untuk program IVA keliling, namun senter yang ada rusak sehinga bisa
memberikan dampak pada hasil pemeriksaan IVA.
Jangkauan semua desa belum tercapai karena seharusnya kunjungan ke desa minimal
1 kali/bulan, namun ternyata dilapangan tidak dilakukan secara merata.
Kurangnya penyuluhan yang dilakukan di desa-desa untuk menarik minat penduduk
tempatan melakukan pemeriksaan.
Sebagian besar WUS bekerja sebagai buruh pabrik sehingga tidak sempat mengkuti
pemeriksaan saat bekerja.
Penyelesaian :
Perlunya pelatihan penyuluhan untuk kader dan bidan desa supaya dapat menjadi
sumber informasi masyarakat terdekat.
Memperbaiki atau mengganti peralatan medis yang rusak
Harus dilakukan penyebaran info mengenai pelayanan

IVA dan pemeriksaan

payudara yang diberikan di puskesmas dengan bantuan lintas sektor seperti balai
pengobatan umum, lansia dan MTBS dan lintas program seperti POSYANDU dan
kelas ibu hamil.
Memberikan penyuluhan secara rutin sesuai dengan perencanaan awal untuk
meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pencegahan
29

kanker leher rahim dan payudara. Penyuluhan sebaiknya diadakan dengan sistem
terbuka melalui kerja sama dari puskesmas dengan pihak luar seperti media massa,
pamong desa, tokoh agama, sponsor bakti sosial, PKK, yang dilakukan secara rutin.
Untuk dapat meningkatkan motivasi dari masing-masing pihak diperlukan pula
penghargaan pada kegiatan yang dilakukan, sehingga dapat terus dilaksanakan dengan
rutin.
Melakukan pelayanan IVA ke desa-desa dengan frekuensi 1 kali/bulan secara rutin
dan menyeluruh.
Melakukan pelayanan IVA di pabrik-pabrik atau melakukan pelayanan IVA di luar
hari kerja.
2.

Cakupan IVA positif 0 % dari target 5-10%

Penyebab:

Rendahnya cakupan jumlah WUS yang di tapis, sehingga semakin kecil peluang
wanita dengan IVA positif

Kurangnya tenaga terlatih dalam melakukan IVA test


Kurangnya pelatihan bagi tenaga kesehatan mengenai IVA test
Adanya peralatan medis yang tidak memenuhi syarat sehingga ada kemungkinan
menjadi faktor penghambat dan menjadi penyebab kesalahan penilaian IVA

Penyelesaian :
Menyelesaikan faktor penyebab terjadinya cakupan penapisan yang rendah
Melakukan pelatihan bagi dokter maupun bidan mengenai IVA test
Memperbaiki kinerja kerja dari para petugas
Memperbaiki peralatan medis yang rusak.

BAB IX

Kesimpulan dan Saran

30

9.1.

Kesimpulan

Dari hasil evaluasi program pencegahan kanker leher rahim dan payudara yang dilakukan
dengan cara pendekatan sistem di Puskesmas Kecamatan Cikampek Kabupaten Karawang
periode Januari

2012 sampai dengan

Desember 2012 belum mencapai target, dimana

didapatkan :

Cakupan konseling perorangan mengenai deteksi dini dan pencegahan kanker leher
rahim adalah 100%

konseling kelompok mengenai deteksi dini dan pencegahan kanker leher rahim tidak
dilakukan.

Cakupan penapisan deteksi dini dan pencegahan kenker leher rahim tahun 2012
adalah 10,20%

Cakupan presentase hasil IVA positip tahun 2012 adalah 0%

Cakupan presentase penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim
adalah 0%

Cakupan presentase rujukan lesi curiga kanker ke fasilitas kesehatan tingkat yang
lebih tinggi adalah 0%

Cakupan penapisan deteksi dini kanker payudara tahun 2012 adalah 10,20%

Cakupan presentase rujukan penapisan kanker payudara tahun 2012 adalah 100%

Dipilih dua prioritas masalah, yaitu:


1. Cakupan penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara masih kurang (10,20%) dari
2.

9.2.

target sebesar 80%.


Cakupan IVA positif pada penapisan kanker leher rahim (0%) dari target 5-10%.

Saran
Diharapkan kedua prioritas masalah tersebut dapat terselesaikan apabila saran berikut
ini dapat dijalankan dengan benar, antara lain:

31

Perlunya adanya bantuan penyebaran informasi mengenai program IVA yang


dilaksanakan di ruang KIA puskesmas Cikampek melalui lintas sektoral serta lintas
program terutama program POSYANDU dan kelas ibu hamil.

Perlu diusulkan adanya pelatihan bidan atau dokter yang baru mengenai tindakan IVA
dan

krioterapi karena jika dokter penanggungjawab tidak berada ditempat atau

dipindah tugas ke puskesmas lain, maka masih ada pengganti yang dapat melakukan
tindakan krioterapi.

Perlunya kerjasama bidan desa dan kader untuk sama-sama mensosialisasikan


informasi kepada masyarakat mengenai program IVA dan krioterapi.

Penyuluhan yang diberikan tidak hanya untuk kelompok wanita, namun juga
dilakukan untuk kelompok pria (suami) untuk meningkatkan tingkat pengetahuan
akan pentingnya pencegahan kanker leher rahim dan payudara sehingga diharapkan
adanya dukungan dari pihak pria (suami) terhadap kegiatan pencegahan kanker leher
rahim.

Memberikan reward bagi desa dengan cakupan penapisan yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

32

1.

Buku acuan pencegahan kanker leher rahim dan kanker payudara.


Direktoral pengendalian penyakit tidak menular . Departemen Kesehatan RI. 2007.

2.

Ferlay J, Shin HR, Bray F, Forman D, Mathers C and Parkin DM.


GLOBOCAN 2008 v2.0, Cancer incidence and mortality worldwide: IARC
CancerBase No 10. (Internet). Lyon, France: International Agency for Research on
Cancer. Diunduh dari http://globocan.iarc.fr on March 2013.

3.

World Health Organization. Comprehensive Cervical Cancer Control.


A Guide to Essential Practice. Geneva : WHO, 2006.

4.

Pedoman Teknis Pengendalian Kanker Payudara dan Kanker Leher


Rahim. Kepmenkes RI No. 798/Menkes/ SK/ VII/ 2007.

5.

Data Program Penapisan Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara


Kabupaten Karawang. Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Jawa Barat. 2012.

6.

HS, Djap. Pedoman evaluasi progran. Bagian Ilmu Kesehatan


Masyarakat dan Kedokteran UKRIDA.2011

7.

Laporan Pembangunan Kesehatan UPTD Puskesmas Cikampek tahun


2012, Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang.

33