Anda di halaman 1dari 12

PRAKTIKUM ANALISIS SISTEM TENAGA

UNIT 2
LOAD FLOW ANALYSIS

Nama

: Yashinta Putriana

NIM

: 11524097

Hari/jam

: Selasa, 13.00-selesai

Asisten

: Dytta Azi Cahyani

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2014

BAB I
1.1 Tujuan
Mahasiswa mengetahui konsep aliran daya dalam sistem tenaga listrik
Menganalisa masalah-masalah aliran daya pada sistem tenaga listrik
1.2 Alat dan Bahan
Komputer dengan software ETAP
Modul Praktikum
Lembar Kerja
1.3 Dasar Teori
Percobaan aliran daya ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik aliran daya
yang berupa pengaruh dari variasi beban dan rugi-rugi transmisi pada aliran daya dan
juga mempelajari adanya tegangan jatuh di sisi beban .
Aliran daya pada suatu sistem tenaga listrik secara garis besar adalah suatu
peristiwa daya yang mengalir berupa daya aktif (P) dan daya reaktif (Q) dari suatu sistem
pembangkit (sisi pengirim) melalui suatu saluran atau jaringan transmisi hingga sampai
ke sisi beban (sisi penerima). Pada kondisi ideal, maka daya yang diberikan oleh sisi
pengirim akan sama dengan daya yang diterima beban. Namun pada kondisi real, daya
yang dikirim sisi pengirim tidak akan sama dengan yang diterima beban. Hal ini
dipengaruhi oleh beberapa hal:
1. Impedansi di saluran transmisi.
Impedansi di saluran transmisi dapat terjadi karena berbagai hal dan sudah
mencakup resultan antara hambatan resistif, induktif dan kapasitif. Hal ini yang
menyebabkan rugi-rugi daya karena terkonversi atau terbuang menjadi energy lain dalam
transfer energi.
2. Tipe beban yang tersambung jalur.
Ada 3 tipe beban, yaitu resistif, induktif, dan kapasitif. Resultan antara besaran
hambatan kapasitif dan induktif akan mempengaruhi

P.F. sehingga mempengaruhi

perbandingan antara besarnya daya yang ditransfer dengan yang diterima.

1.4 Langkah Percobaan


Buatlah suatu sistem one line diagram dengan ketentuan di bawah ini :
Saluran Transmisi
Saluran antar
bus
5
7

7
8

Panjang

km

Ohm/km

Ohm/km

10
10

1,069386
0,280402

5,334274
2,37086

(x 10^-6)
si/km
35,794942
17,486097

8
6
4
4

9
9
6
5

25
10
20
10

0,393924
1,308432
0,561518
0,330352

3,324869
5,642276
3,031185
2,80886

24,50626
41,836699
18,53601
20,647408

Bus
Pembangkitan
Bus

Beban

v (pu)

P
(MW)
425

Q
(MVAR)
~

P
(MW)
~

Q
(MVAR)
~

163

85

4
5
6
7
8
9

~
~
~
~
~
~

~
~
~
~
~
~

~
125
90
~
100
~

~
50
30
~
35
~

Transformator
Bus
1
2
3

kV
4
7
9

16,5
18
13,8

MVA
230
230
230

200
200
200

16,5 kV
(1,04)
18 kV
(1,025)
13,8 kV
(1,025)

Keteran
gan

swing bus

BAB II
2.1 Hasil Percobaan

2.2 Analisis dan Pembahasan


Percobaan pada praktikum analisis sistem tenaga listrik kali ini mengenai load flow
analysis yang akan dijalankan dengan software ETAP. Tentu bisa dilihat dari percobaan
sebelumya cara membuat one line diagram berserta konfigurasinya. Yang akan praktikan buat
pada percobaan ini adalah membuat suatu sistem tenaga listrik dalam one line diagram seperti
di bawah ini :

Pada sistem tersebut komponen yang digunakan ada 3 buah generator, 3 trafo, 3 beban
statik dan 9 bus yang yang saling menghubungkan antara pembangkit dan beban. Masukkan
semua ketentuan rating yang ada pada lembar praktikum pada langkah percobaan, khusus
untuk generator 1 diatur sebagai swing bus. Artinya, generator 1 bertindak sebagai pensuplay
daya ke semua beban statik (load1, load2, dan load3) pada sistem. Sementara generator 2 dan
3 sebagai voltage control saja. Setelah dijalankan Run Load Flow akan muncul beberapa
parameter elemen masing-masing yang kita inginkan seperti terlihat pada gambar (atas). Dan
dengan tombol Alert View dapat dilihat kondisi critical dan marginal pada setiap elemen,
seperti terlihat di bawah ini :

Dari hasil di atas dapat praktikan analisa masalah yang ada pada sistem yang telah
dibuat. T1 atau Trafo 1 kondisinya overload, hal ini disebabkan T1 beroperasi melebihi
kapasitasnya yang hanya 200 MVA menjadi 289,19 MVA atau bila dilihat dari % operasinya
hingga 144,6 %. Tentunya ini adalah akibat dari beban yang terlalu besar yang harus disuplay
oleh generator 1 yang melewati T1. Selain itu tidak ada lagi masalah yang berarti karena
tidak ada lagi yang beroperasi melebihi kapasitasnya.

Untuk mengatasi overload yang dialami trafo 1 ada 2 cara yang bisa dilakukan oleh
praktikan, diantaranya adalah :
1. Mengaktifkan Generator 2 dan Generator 3 menjadi swing agar bisa mensuplay daya
ke beban

Maka kondisinya akan berubah seperti terlihat di bawah ini, Trafo 1 tidak bermasalah
tetapi Generator 3 yang overload. Hal ini disebabkan karena Generator 3 hanya bisa
menyuplay daya sebesar 85 MW

Kemudian ada cara kedua yang bisa dilakukan, yaitu :

2. Merubah atau menaikkan rating Trafo 1 itu sendiri agar dapat dilewati beban yang
besar

Saat rating trafo dinaikkan menjadi 300 MVA ternyata masi terjadi overload,
kemudian dinaikkan lagi menjadi 500 MVA baru tidak ada overload lagi. Tetapi masih ada

permasalahan pada bus yang mengalami under voltage, sehingga dibutuhkan pemasangan
kapasitor bank pada sistem untuk mengatasinya.
Kemudian untuk analisa aliran daya pada bus 5 dan 6 dilihat dari kondisinya,
sebenarnya keduanya beroperasi tidak jauh berbeda. Bus 5 beroperasi sebesar 212,234 kV
dengan power factor 92,20% dan bus 6 213,185 kV dengan pf 92,69%. Tetapi ada perbedaan
drop tegangan pada bus 5 lebih besar dibandingkan bus 6 karena beban pada bus 5 lebih besar
yaitu 134,629 MVA. Drop tegangan juga terjadi pada bus 7 karena telah terjadi drop pada bus
5, begitu juga bus 8 yang mendapat aliran tegangan dari bus 7 mendapatkan 209,6 kV.
Berbeda pada bus 9, karena tegangan kembali naik karena mendapat suplay dari 2 bus yaitu
bus 6 dan bus 8. Besar drop tegangan pada sistem berkisar antara 5- 8,9 %.

BAB III
3.1 Kesimpulan
Dari praktikum di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. Generator 1 yang bertindak sebagai swing mensuplay daya ke seluruh beban pada
sistem
2. Beban yang terlalu besar ditanggung oleh generator 1 menyebabkan trafo 1
mengalami overloas karena melebihi kapasitas operasinya yang hanya 200 MVA
3. Untuk mengatasi overload pada trafo 1, ada 2 cara yang dapat dilakukan yaitu
menjadikan generator 2 dan 3 sebagai swing juga, atau menaikkan kapasitas trafo 1
itu sendiri.
4. Cara menaikkan kapasitas trafo adalah yang terbaik untuk mengatasi overload pada
sistem
5. Terjadinya perbedaan besar aliran daya pada tiap cabang depengaruhi oleh faktor
beban, ukuran kabel, dan panjang kabel. Semakin panjang kabelnya maka hambatan
semakin besar sehingga menyababkan tegangan menjadi naik dan arusnya turun
6. Drop tegangan di setiap bus pada sistem berkisar antara 5 8,9 %.

3.2 Tugas

1. Analisa aliran daya pada bus 5 dan 6 pada percobaan?


Bus 5 dan 6 dilihat dari kondisinya, keduanya beroperasi tidak jauh berbeda. Bus 5
beroperasisebesar 212,234 kV dengan power factor 92,20% dan bus 6 213,185 kV
dengan pf 92,69%. Tetapi ada perbedaan drop tegangan pada bus 5 lebih besar
dibandingkan bus 6 karena beban pada bus 5 lebih besar yaitu 134,629 MVA.
2. Apa yg mnyebabkan perbedaan besaran aliran daya pd setiap percabangan?
Terjadinya perbedaan besar aliran daya pada tiap cabang depengaruhi oleh faktor
beban, ukuran kabel, dan panjang kabel. Semakin panjang kabelnya maka hambatan
semakin besar sehingga menyababkan tegangan menjadi naik dan arusnya turun.
3. Dari hasil aliran daya yg ditampilkan apa yang mnyebabkan perbedaan bus voltage
dan bus angle ?
Bus voltage menunjukkan besar tegangan yang sampai pada bus, sementara bus angle
menunjukkan besar sudut fase tegangan pada bus.
4. Apa yg mnyebabkan voltage drop pada sistem?
Drop tegangan disebabkan oleh perbedaan besar beban yang ditanggung oleh
generator terlalu besar, juga karena adanya rugi-rugi daya pada sisi trafo dan saluran
transmisi. Hal ini dipengaruhi juga oleh ukuran kabel serta panjang kabel yang
digunakan.
5. Melalui tombol alert view, analisa apa yg terjadi pd kondisi critical?
T1 atau Trafo 1 kondisinya overload, hal ini disebabkan T1 beroperasi melebihi
kapasitasnya yang hanya 200 MVA menjadi 289,19 MVA atau bila dilihat dari %
operasinya hingga 144,6 %. Tentunya ini adalah akibat dari beban yang terlalu besar
yang harus disuplay oleh generator 1 yang melewati T1.

LAMPIRAN

ETAP

Project:

7.5.0

Location:

Page:

Date:

13-05-2014

Contract:

SN:

12345678

Engineer:

Revision:

Base

Config.:

Normal

Filename:

Study Case: LF
II

LOAD FLOW REPORT


Bus
ID

Voltage

Generation

Ang.

MW

Load

Mvar

MW

Load Flow

kV

% Mag.

Mvar

ID

MW

* Bus1

16.500

100.000

0.0

274.150

92.047

0 Bus4

274.150

Bus2

18.000

91.612

-20.2

0 Bus7

0.000

Bus3

13.800

93.442

-19.7

0 Bus9

Bus4

230.000

95.367

-10.3

0 Bus5

XFMR
Mvar

Amp

% PF

92.047

10119.0

94.8

0.000

0.0

0.0

0.000

0.000

0.0

0.0

169.543

38.864

457.8

97.5

Bus6

103.363

0.929

272.1

100.0

Bus1

-272.906

-39.793

725.9

99.0

-167.437

-30.628

463.0

98.4
-98.1

Bus5

230.000

92.276

-15.9

106.437

42.567 Bus4
Bus7

61.000

-11.939

169.1

Bus6

230.000

92.689

-17.8

77.323

25.770 Bus4

-100.847

-4.687

273.4

99.9

Bus9

23.524

-21.083

85.5

-74.5

0 Bus5

-60.113

0.356

164.7

100.0

Bus8

60.113

-0.356

164.7

100.0

Bus2

0.000

0.000

0.0

0.0
99.6

Bus7

230.000

91.612

-20.2

Bus8

230.000

91.139

-22.0

83.066

29.061 Bus7

-59.884

-5.431

165.6

Bus9

-23.182

-23.630

91.2

70.0

Bus9

230.000

93.442

-19.7

0 Bus8

23.326

-2.767

63.1

-99.3

Bus6

-23.326

2.767

63.1

-99.3

Bus3

0.000

0.000

0.0

0.0

* Indicates a voltage regulated bus ( voltage controlled or swing type machine connected to it)
# Indicates a bus with a load mismatch of more than 0.1 MVA

% Tap