Anda di halaman 1dari 12

Fisiologi Saraf Pada Invertebrata

Sistem saraf terdapat pada semua vertebrata dan kebanyakan


avertebrata. Sistem tersebut berhubungan dengan sifat universal
kehidupan yang kita sebut irritabilitas atau peka terhadap ransangan,
yakni kemampuan sel dan organisme utuh untuk merespon dengan cara
yang khas terhadap perubahan-perubahan di lingkungan yang
disebutstimulus (jamak, stimuli). Stimulus mungkin berasal dari
perubahan-perubahan internal maupun eksternal. Reaksi spesifik yang
disebabkan oleh suatu stimulus yang disebut respon. Umumnya respon
menyebabkan suatu penyesuaian yang berakibat pada entitas secara
keseluruhan. Reaksi-reaksi stimulus-respon biasanya cepat dan
menyediakan mekanisme yang berkelanjutan untuk menjaga kekonstanan
internal dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Pada kebanyakan sistem saraf, serabut-serabut yang saling berhubungan
membentuk jaringan komunikasi yang memungkinkan pengawasan secara
terus menerus atas kondisi-kondisi internal dan eksternal. Sinyal-sinyal
dalam bentuk aliran arus listrik yang disebut impuls saraf , diangkut dari
suatu bagian sistem saraf menuju bagian lain. Pembangkitan impuls
disebut eksitasi , dan merupakan akibat dari aliran ion terlokalisasi.
Sistem saraf yang dimiliki oleh hewan berbeda-beda, semakin tinggi
tingkatan hewan semakin komplek sistem sarafnya.
1.

Saraf pada Protozoa

Protoza misalnya amoeba tidak mempunyai susunan saraf tetapi


mempunyai kepekaan terhadap rangsang dari luar dan mampu
menanggapi rangsang tersebut, misalnya rangsangan yang berupa
cahaya dan sentuhan. Jika rangsanganya kuat, protozoa
menjauh,sebaliknya jika rangsang itu lemah akan mendekat.

Amoeba
Pada Amoebabelum mempunyai alat khusus untuk
menerima rangsang. Alatnya disebut taksisyang dibagi
menjadi beberapa macam taksis. Yaitu termotaksis positif
dan negaif, fototaksis positif dan negative, tigmotaksis
positif dan negative, kemotaksis positif dan negative,
galvanotaksis, geotaksis, dan rheotaksis (aliran air).

Paramaecium
Pada paramecium terdapat fibril yang
peka terhadap suhu dan sinar, serta
berfungsi untuk mengatur gerakan
silianya. Termotaksis pada hewan ini yang
optimum adalah 240C dan 280C.

Euglena viridis

Euglena viridis pada bagian


anterior dekat akhir kerongkongan
terdapat stigma (titik mata
merah)yang tersusun atas
protoplasma yang banyak
mengandung
granulla haematocrhrom.Diduga
stigma berfungsi sebagai mata yang primitive. Pendapat ini didasarkan
adanya lensa berupa butir-butir para amilum pada bagian anterior. Hewan
kecil ini dapat mendeteksi kekuatan dan arah cahaya. Ia lebih suka lokasi
dengan cahaya moderat dan menjauh dari kegelapan dan cahaya terang.
Euglena viridis mungkin menggunakan reseptor ini untuk menjaga diri
dalam cahaya yang mereka gunakan untuk fotosintesis. Euglena viridis
menggunakan fotosintesis untuk energi meskipun mereka bisa makan
makanan padat (seperti binatang), jika mereka disimpan di kegelapan.

2.

Saraf pada Porifera

Tubuh porifera masih diorganisasi tingkat seluler,


artinya tersusun atas sel-sel yang cenderung bekerja
secara mandiri, masih belum ada koordinasi antara
sel satu dengansel lainnya. Spons adalah satusatunya hewan tanpa system saraf. Mereka tidak
memiliki sel saraf ataupun sel indra. Akan tetapi
adanya sentuhan atau tekanan menyebabkan
kontraksi local tubuhnya. Hal ini berarti spons
menanggapi lingkungannya secara interseluler.

3.

Saraf pada Coelenterata


Hydra

Hydra memiliki sistem saraf difus. Disebut sistem


saraf difus karena sel-sel saraf masih tersebar dan
saling berhubungan satusama lain menyerupai

jala maka juga disebut saraf jala (jaring saraf). Sel-sel sarafnya belum
berkutup dan neurit yang dimiliki hanyalah tonjolan-tonjolan badan sel
saraf saja atu prosessus.
Hydra umunya bereaksi dengan cara yang sama tanpa memperhatikan
arah rangsangan, hal ini juga disebabkan karena kesederhanaan system
sarafnya.
Perilakunya:
a.

Reaksi terhadap stimulus internal

Pada substrat dan tidak diganggu gerak spontan tubuh dan tentakel
Jika makanan tersedia gerak tubuh dan tantakel lambat, dan cepat jika
lapar
Gerak dihasilkan dari serabut kontraktilsel apitel dan endotel ketika
distimulasi pada nerve
b.

Reaksi terhadap stimulus eksternal

Sentuhan /kontak
Lemah: bebrapa bagian tubuh/bagian yang disentuh saja
Kuat: seluruh tubuh
Cahaya
Sangat terangnegatif
Temperature
200-250 Cnegatif

Aurelia aurita (ubur-ubur)


Seperti ular naga itu, uburubur tersebut memiliki sistem
saraf ditandai oleh
serangkaian sel saraf
yang salingberhubungan
(jaring saraf). Jaring saraf

melakukan impuls di seluruh tubuh ubur-ubur. Kekuatan respon perilaku


sebanding dengan kekuatan rangsangan. Dengan kata lain, semakin kuat
stimulus, semakin besar tanggapan. Beberapa ubur-ubur
(misalnya, Aurelia) memiliki struktur khusus yang disebut "rhopalia".
Rhopalia ini memiliki reseptor untuk:

cahaya (disebut ocelli)

keseimbangan (disebut statocysts)

kimia deteksi (Penciuman)

sentuhan (disebut lappets indra)

Anemon Laut

System saraf anemone laut sangat sederhana.


Susunan sarafnya bersistem difus dan belum
Nampak adanya susunan saraf pusat. System
saraf tersebut terdiri atas pleksus epidermal dan
pleksus gastrodermal, yang masing-masing
tersusun atas serabut saraf dan sel ganglion yang
besar. Pleksus tersebut makin intensif terutama di
bagian tantakel, diskus oral maupun stomodium.
System saraf ini mempersarafi sitem musculusnya
yang telah berkembang lebih sempurna
dibandingkan dengan anggota coelenterate
lainnya. Bila ada makanan maka tantakel ini akan bergerak cepat untuk
menjeratnya.

4.

Saraf pada Platyhelminthes

Planaria

Susunan sarf planaria sudah ditemukan sejumlah


ganglion yang berfungsi sebagai pusat susunan saraf.
Planaria menghindarkan diri, bila terkena sinar yang
kuat. Pada planaria juga sudah memiliki organ indra,
berupa sepasang mata utuk yang berperan sebagai:
1.

Kemoreseptor

2.

Tangoreseptor

3.

Rheoreseptor

Mata atau ocelli terdapat sepasang. Padanya


terdapat cupe-like
ke artro-lateral. Cup dibatasi
lapisan sel pigmen. Pada mata tidak terdapat lensa. Mata tersebut tidak

mampu memfokuskan cahaya dan hanya berfungsi membedakan antara


gelap dan terang.

Cacing tanah

Cacing tanah ini memiliki sistem syaraf sederhana namun sensitif.


Ganglion otak, atau otak, terhubung ke kabel saraf perut, yang
menjalankan panjang tubuhnya. Setiap ganglion segmental harus
terkoordinasi satu sama lain karena mereka harus berinteraksi dalam
rangka untuk mengendalikan kontraksi otot di setiap segmen yang
bertanggung jawab untuk bergerak. Berkat sistem saraf responsif, cacing
tanah adalah sensitif terhadap sentuhan, cahaya dari depan atau di
belakang, kelembaban, bahan kimia, suhu, dan getaran. Beberapa macam
reseptor:
a. Reseptor epidermal meluas didaerah epidermis yaitu daerah ventral
dan lateral
b.

Reseptor bikal, terdapat di daerah bikal (rongga mulut)

c. Reseptor yang meluas di daerah dorsal. Fungsinya untuk menghindari


cahaya kuat dan tidak terdapat pada daerah klitelum

1) Anus
2) Usus
3) ganglion Cerebral
4) Prostomium
5) Mulut
6) Saraf kerah
7) Segmental ganglion

7) 8) Pharynx
9) kerongkongan
10) saraf Segmental
11) lambung
12) rempela
13) kabel saraf ventral

Hirudinea (lintah)

Hewan ini telah memiliki indra sebagai organ reseptor. Memiliki 5 pasang
mata.
1.

Ujung saraf bebas

Terdapat di seluruh permukaan tubuh (antara epidermis dan sel ganglion).


Fungsinya sebagai kemoreseptor.
2.

Reseptor annular

Terdiri dari 36 baris annular dan terbagi menjadi 18 baris yang berada di
daerah dorsal serta 18 baris lainnya di daerah ventral. Fungsinya sebagai
tangoreseptor atau organ yang peka terhadap sentuhan.
3.

Reseptor segmental

Terdapat 4 pasang di daerah dorsal dan 3 pasang di daerah ventral.


Terdapat dua tipe sel yaitu tango reseptor dan photorreseptor. Sel-sel
photoreceptor yang hanya ada di daerah dorsal terdiri dari subtract
hyaline (lensa).

Gambar Lintah
5.

Saraf pada Insekta

Salah satu contoh dari insekta adalah belalang. Organ reseptor belalang
terdiri dari:

a. Organ takstilberupa antena, kaki yang paling besar, cerci, dan distal
system kaki. Fungsinya adalah sebagai tigmoreseptor.
b.

Organ olfaktoriantena

c.

Organ gustatoriantena

d.

Organ visualmata majemuk dan mata oceli

e. Organ audotiterdiri dari membrane timpani berupa cincin chitio. Di


bagian apparatus terdapat organ muler yang terdiri dari scolopidia.
f.

Mata majemuk pada belalang tidak terdapat batang/tangkai

g. Suara yang berasal dari getaran tibial spiner (spina pada daerah tibia)
pada kaki belalang dan bagian vena sayap.
Sensitifitas terhadap tekanan dan sentuhan adalah mekanoreseptor.
Diantara mekanoreseptor yang paling sederhana adalah ujung-ujung saraf
yang ditemukan pada jaringan ikat dikulit. Struktur sensori ini berfungsi
sebagai filter terhadap energi mekanik melalui berbagai cara. Pada
antropoda ujung-ujung sensori sensitif secara mekanik dihubungkan
dengan erabut otot khususdan sensila seperti rambut yang merentang
pada eksos skeleton anntropoda.
Belalang memiliki sepasang potongan kecil sensori pada antena, toraks
dan abdomen yang sensitif terhadap panas. Bila potongan kecil itu
dihilangkan maka belalang tidak lagi merespon terhadap sumber panas.
Belalang akan mendekati sumber cahaya bila dalam keadaan jauh dan
akan menjauhinya bila dalam keadaan dekat. Hal ini dikarenakan oleh
mata mejemuk yang dimiliki oleh serangga yang berfungsi sabagai
reseptor penglihatan yang terpisah. Cahaya yang dapat masuk hanya
cahaya yang masuk kedalam omatidium yang paralel (atau hampir)
dengan sumbu panjang yang mundur yang diserap oleh pigmen-pegmen
penyaring. Sifat faset dalam mata mejemuk pada serangga bertindak
sebagai lensa yang menghimpun khas cahaya dari seluruh bagian objek
yang dipandang dan meneruskannya kembali. Serangga akan menjauhi
cahaya dalam jarak dekat dikarenakan terlalu banyaknya cahaya yang
masuk ke sistem mata mejemuk yang hanya dapat menyaring cahaya
dalam jumlah kecil.
Kemoreseptor pada insekta dalam hal ini adalah belalang
terlatak pada bagian mulut, antenna, dan kakinya. Oleh
karena itu walaupun gerakan beleleng menjauhi cahaya
namun antenna dan kakinya bergerak.

System saraf belalang ditunjukkan oleh warna biru.

6.

Saraf pada Echinodermata

Salah satu contoh Echinodermata adalah bintang laut. System sarafnya


terdiri dari batang saraf radial pada masing-masing lengan yang menjulur
di atas alur ambulakral. Disebut juga sebagai system cincin pusat. Batangbatang saraf radial itu bertemu pada cincin saraf oralis yang melingkari
daerah mulut atau oral. Pada masing-masing batang sarf radial terdapat
cabang: 1. Sepasang saraf ke daerah aboral, 2. Saraf ke aboral
peritoneum, Serabut-serabut saraf yang menuju ke indra perasa pada
kaki.
Ujung saraf radial mengecil, lunak, bersambungan dengan indra peraba
dan titik mata yang peka terhadap sinar. Diantara sel-sel epidermis
terdapat daerah-daerah jaringan saraf, sedang pada branchia dermalis
terdapat alat sensoris.
Tampakan cincin saraf Bintang
Laut

Gambar Bintang
Laut

SUMBER

http://makalahbiologiku.blogspot.com/2009/09/reseptor-pada-serangga.html
http://makalahbiologiku.blogspot.com/2009/09/reseptor-pada-serangga.html.
http://harveymoningka.wordpress.com/zoologi-invertebrata-fillum-platyhrlminthes/
http://zaifbio.wordpress.com/2009/06/20/sistem-koordinasi-pada-hewan/.
http://www.lihatkita.co.cc/2010/03/sistem-saraf-pada-invertebrata.html
http://www.wikipedia.com.

Sistem saraf pada Protozoa


Protoza misalnya amoeba tidak mempunyai susunan saraf tetapi mempunyai kepekaan terhadap
rangsang dari luar dan mampu menanggapi rangsang tersebut, misalnya rangsangan yang berupa
cahaya dan sentuhan. Jika rangsanganya kuat, protozoa menjauh,sebaliknya jika rangsang itu
lemah akan mendekat. Pada paramecium terdapat fibril yang peka terhadap suhu dan sinar, serta
berfungsi untuk mengatur gerakan silianya.

2. Sistem saraf pada Coelenterata


Hydra memiliki sistem saraf difus. Disebut sistem saraf difus karena sel-sel saraf masih tersebar
dan saling berhubungan satu sama lain menyerupai jala maka juga disebut saraf jala (jaring
saraf).

3. Sistem saraf pada Echinodermata


Pada bintang laut memiliki sistem saraf sirkuler yang terdiri dari cincin saraf yang melingkari
kerongkongan dengan cabang-cabangnya menuju ke setiap lengan.

4. Sistem saraf pada Serangga


Pada belalang terlihat susunan saraf tangga tali dari simpul saraf yang disebut ganglia (jamak dari
ganglion).
Ganglion merupakan pusat peogolah rangsang.
Ada 3 macam ganglion :
(1) Ganglion kepala, menerima urat saraf yang berasal dari mata dan antena.
(2) Ganglion di bawah kerongkongan, mengkoordinasi aktivitas sensoris dan motoris rahang
bawah (mandibula), rahang atas (maksila), dan bibir bawah (labium).
(3) Ganglion ruas-ruas badan berupa serabut-serabut saraf yang menuju ruas-ruas dada, perut,
dan alat-alat tubuh yang berdekatan.

Ganglion bawah kerongkongan dan ganglion ruas-ruas badan terletak dibawah saluran
pencernaan.
Pada serangga terdapat 2 benang saraf yang membentang sejajar sepanjang tubuhnya dan
menghubungkan ganglion satu dengan ganglion yang lain.

5. Sistem saraf pada Cacing


Sistem saraf cacing tanah disebut susunan saraf tangga tali, yaitu berupa sederetan ganglion yang
terdapat pada setiap ruas tubuhnya. Ganglion satu dengan ganglion yang lain dihubungkan oleh
benang-benang saraf yang memanjang disepanjang poros tubuhnya. Ganglion cacing juga
dibedakan atas ganglion kepala, ganglion bawah kerongkongan, dan ganglion ruas-ruas badan.

SISTEM SARAF PADA INVERTEBRATA


1. Sistem saraf pada Protozoa
Protoza misalnya amoeba tidak mempunyai susunan saraf tetapi mempunyai kepekaan
terhadap rangsang dari luar dan mampu menanggapi rangsang tersebut, misalnya rangsangan
yang berupa cahaya dan sentuhan. Jika rangsanganya kuat, protozoa menjauh,sebaliknya jika
rangsang itu lemah akan mendekat. Pada paramecium terdapat fibril yang peka terhadap suhu
dan sinar, serta berfungsi untuk mengatur gerakan silianya.
Gambar. Sistem Saraf Amoeba Proteus
2. Sistem saraf pada Coelenterata
Hydra memiliki sistem saraf difus. Disebut sistem saraf difus karena sel-sel saraf masih
tersebar dan saling berhubungan satu sama lain menyerupai jala maka
juga disebut saraf jala (jarring saraf).
3. Sistem saraf pada Echinodermata
Pada bintang laut memiliki sistem saraf sirkuler yang terdiri atas batang saraf radial pada
masing-masing lengan yang menjulur di atas alur ambulakral. Batang-batang saraf radial

bertemu pada cincin saraf oralis yang melingkari daerah mulut atau oral. Pada masing-masing
batang saraf radial terdapat cabang, yaitu:
a. Sepasang saraf ke daerah aboral
b. Saraf ke aboral peritoneum
c. Serabut-serabut saraf yang menuju ke indera perasa pada kaki-kaki. Ujung saraf radial
mengecil, lunak, bersambung dengan indera peraba dan titik mata yang peka terhadap sinar.
Gambar. Sistem Saraf Bintang Laut
4. Sistem saraf pada Serangga
Pada belalang terlihat susunan saraf tangga tali dari simpul saraf yang disebut
ganglia (jamak dari ganglion). Ganglion merupakan pusat peogolah rangsang.

a.
b.
c.

5.

6.

Ada 3 macam ganglion,yaitu: :


Ganglion kepala, menerima urat saraf yang berasal dari mata dan antena.
Ganglion di bawah kerongkongan, mengkoordinasi aktivitas sensoris dan motoris rahang
bawah (mandibula), rahang atas (maksila), dan bibir bawah (labium).
Ganglion ruas-ruas badan berupa serabut-serabut saraf yang menuju ruas-ruas
dada, perut, dan alat-alat tubuh yang berdekatan.
Ganglion bawah kerongkongan dan ganglion ruas-ruas badan terletak
dibawah saluran pencernaan. Pada serangga terdapat 2 benang saraf yang membentang sejajar
sepanjang tubuhnya dan menghubungkan ganglion satu dengan ganglion yang lain.
Gambar. Sistem saraf Serangga
Sistem saraf pada Cacing
Sistem saraf cacing tanah disebut susunan saraf tangga tali, yaitu berupa sederetan
ganglion yang terdapat pada setiap ruas tubuhnya. Ganglion satu dengan ganglion yang lain
dihubungkan oleh benang-benang saraf yang memanjang disepanjang poros tubuhnya.
Ganglion cacing juga dibedakan atas ganglion kepala, ganglion bawah kerongkongan, dan
ganglion ruas-ruas badan.
Gambar 9.1. Sistem Koordinasi Planaria dan Hirudinea
Berbeda dengan Planaria, Annelida (misalnya lintah) mempunyai jumlah neuron yang
lebih banyak di bagian otak. Saraf yang terdapat di sepanjang tubuhnya merupakan saraf
ventral yang tersusun atas beberapa ganglion. Di dalam ganglion terdapat interneuron yang
mengoordinasi berbagai aksi pada setiap segmen. Planaria, yang termasuk golongan cacing
pipih memiliki sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat Planaria terdapat
pada otak disebut juga ganglion anterior. Otak ini berukuran kecil. Sistem saraf tepi cacing
berupa dua saluran yang menuju ke arah posterior, masing-masing saraf tersebut berada di
daerah lateral tubuh cacing, keduanya dihubungkan oleh saraf penghubung. Saraf yang juga
tersusun simetri bilateral ini digunakan untuk merespon cahaya. Apabila cacing pipih terkena
sinar, otak akan memerintahkan cacing bergerak ke tempat gelap, misalnya di bagian bawah
batu.
Sistem saraf pada Molusca
Sistem saraf pada cumi-cumi terdiri dari 7 buah ganglion yang terletak did lam kepala.
Pada prinsipnya ganglion-ganglion tersebut sama halnya dengan gastropoda yaitu terdiri dari:
ganglion cerebral, ganglion pedal, ganglion visceral, tapi di samping itu terdapat ganglion

supra buccalis, ganglion infra buccalis, ganglion stellata, ganglion optis. Indera sensoris,
sangat maju berkembangnya. Dua statocyst dan alat pembau. Teradapat pula mata, dimana
mata tersebut tingkatnya sudah sama dengan mata pada vertebrata.
Gambar. Sistem Saraf pada Cumi-cumi

DAFTAR PUSTAKA
Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Penerbit Sinar Wijaya
Soewolo. 2003. Fisiologi Manusia. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk siswa Perawat. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran.
Tabin, Amin.2012. Sistem saraf pada Invertebrata. Http:Amintabin_ Sistem saraf pada
Invertebrata/html. Diakses pada tanggal 4 April 2012.
Tim Penyusun. 2006. Anatomi Buku ajar Umum. Makassar: Bagian Anatomi Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin.