Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Al-quran merupakan salah satu kitab Allah SWT yang turun melalui malaikat
jibril dan disampaikan kepada nabi muhammad SAW sebagai pedoman hidup
untuk dirinya sendiri dan umatnya. Al-quran juga mempunyai karakteristik,
fungsi-fungsinya didalam kehidupan manusia, dan cara-cara al-quran
menetapkan hukum. Kita juga dapat mengetahui kandungan isi al-quran, nama
lain dari al-quran, kehujjahan al-quran, bukti keoutentikan al-quran, dan
komitmen muslim terhadap al-quran.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud dengan al-quran.
2. Apa saja karakteristik al-quran.
3. Apa saja fungsi al-quran dalam kehidupan manusia.
4. Bagaimanakah cara al-quran menetapkan hukum.
5. Apa saja kandungan isi al-quran.
6. Apa saja nama lain dari al-quran.
7. Apa yang dimaksud dengan kehujjahan al-quran.
8. Apa saja bukti keoutentikan al-quran.
9. Dan bagaimana komitmen muslim terhadap al-quran.
1.3 TUJUAN
1. Menambah wawasan peengetahuan pembaca dan pemakalah tentang alquran.
2. Untuk memenuhi tugas diskusi kelompok mata kuliah Agama Islam.

Al-Quran
1

A. Pengertian Al-Quran Secara Etimologi Dan Terminologi


ETIMOLOGI
Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Quran berasal dari bahasa Arab yang berarti
"bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Quran adalah bentuk kata
benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini
dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur'an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah
Al-Qiyamah yang artinya: Sesungguhnya mengumpulkan Al-Quran (di dalam dadamu)
dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika
Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti {amalkan} bacaannya.(75:17-75:18)
TERMINOLOGI
Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut: Kalam Allah SWT
yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di
mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah.
Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:
Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan
ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta
membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan
ditutup dengan surat An-Nas".
Manna' Al-qaththan mendefinisikan Al-Quran sebagai berikut: Kitab Allah yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan orang yang membacanya akan memperoleh
pahala.
Al-Jurjani mendefinisikan Al-Quran sebagai berikut:Yang diturunkan kepada
Rasulullah SAW, ditulis dalam mushaf, dan diriwayatkan secara mutawatir tanpa keraguan.
Abu Syahbah mendefinisikan Al-Quran sebagai berikut:Kitab Allah yang
diturunkan baik lafadz maupun maknanya kepada Nabi terakhir, Muhammad SAW,
diriwayatkan secara mutawatir, yakni dengan penuh kepastian dan keyakinan, serta ditulis
pada mushaf, mulai dari awal surat Al-Fatihah sampai akhir surat an-Nas.

B. Karakteristik Al-Quran
Dr. Yusuf Qaradhawi memaparkan beberapa karakteristik Al-Quran dalam kitabnya Kaifa
Nataamal maal al-Quran,( Bagaimana berinteraksi dengan Al-Quran), secara singkatnya
sebagai berikut :
1) Al-Quran adalah Kitab Ilahi
Al-Quran berasal dari Allah SWT, baik secara lafal maupun makna. Diwahyukan oleh
Allah SWT kepada Rasul dan Nabi-Nya; Muhammad saw melalui wahyu al-jaliy wahyu
yang jelas. Yaitu dengan turunnya malaikat utusan Allah, Jibril a.s untuk menyampaikan
wahyu kepada Rasulullah SAW yang manusia, bukan melalui jalan wahyu yang lain ; seperti
ilham, pemberian inspirasi dalam jiwa, mimpi yang benar atau cara lainnya.


Artinya : Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta
dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi
Maha tahu ( Huud 1)
2) Al-Quran adalah Kitab Suci yang terpelihara
Diantara karakteristik Al-Quran yang lainnya adalah ia merupakan kitab suci yang
terpelihara keasliannya. Dan Allah SWT sendiri yang menjamin pemeliharaannya, serta
tidak membebankan hal itu pada seorang pun. Tidak seperti yang dilakukan pada kitab-kitab
suci selainnya, yang hanya dipelihara oleh umat yang menerimanya. Hal ini sebagaimana
dijelaskan dalam firman Allah SWT :

. disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah (Al-Maidah 44)
Adapun makna dipeliharanya al-Quran adalah Allah SWT memeliharanya dari pemalsuan
dan perubahaan terhadap teks-teksnya, seperti yang terjadi terhadap Taurat, Injil, dan Zabur.
Al-Quran adalah kitab suci yang dimudahkan untuk dihapal dan diulang-ulang dan
ia juga mudah untuk diingat dan dipahami. "Dan sesungguhnya telah kami mudahkan al
Quran-untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran"
Lafazh-lafazh Al-Quran, redaksi-redaksinya, dan ayat-ayatnya megandung keindahan,
kenikmatan dan kemudahan sehingga mudah untuk dihapalkan, menyimpannya dalam hati,
dan menjadikan hatinya sebagai tempat Al-Quran.
Kita mendapati ribuan umat muslim yang menghapal Al-Quran dan mayoritas dari
mereka adalah anak-anak yangbaru saja menginjak usia balig. Dalam usia yang masih anakanak itu, mereka belum begitu paham akan nilai kitab suci tersebut, apakah ia suci atau
tidak, namun tetap saja Al-Quran dihapal oleh mereka.

Apabila kita perhatikan umat-umat beragama selain agama Islam, kita tidak akan
mendapatkan seorang pun yang hafal isinya, tidak setengahnya, atau seperempatnya, dari
kalangan orang-orang beriman denagn kitab suci tersebut, bahkan pararahib, pendeta, tingkat
yang tertinggi sekalipun. dimudahkan Pemahannya
Al-Quran adalah kitab yang memberi penjelasan dan mudah dipahami. Tidak seperti
kitab filsafat, yang cenderung untuk menggunakan simbol-simbol dan penjelasan yang sulit,
tidak pula seperti kitab sastra yang menggunakan perlambang-perlambang, yang
berlebihandalam menyembunyikan substansi, sehingga sulit dipahami akal.
Allah Subahanahu wa Ta'ala menurunkan Al-Quran agar makna-maknanya dapat
ditangkap, hukum-hukumnya dapat dimengerti,rahasia-rahasianya dapat dipahami, serta
ayat-ayatnya dapat ditadabburi. Oleh karena itu Allah Subahanahu wa Ta'ala menurunkan
Al-Quran dengan jelas dan memberi penjelasan, tidak samar dan sulit dipahami.
Sebagaimana firman Allah Subahanahu wa Ta'ala:
"Dan sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah
orang yang mengambil pelajaran?"
3) Al-Quran adalah Kitab suci yang menjadi Mukjizat
Diantara karakteristik Al-Quran adalah kemukjizatannya. Ia adalah mukjizat terbesar
yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sehingga bangsa arab hanya menyebutnyebut mukjizat itu saja, tidak yang lainnya, meskipun dari beliau terjadi mukjizat yang lain
yang tidak terhitung jumlahnya.
4) Al-Quran adalah Kitab Suci yang menjadi Penjelas dan Dimudahkan Pemahamannya
Al-Quran adalah kitab yang memberi penjelasan dan mudah dipahami. Tidak seperti
kitab filsafat, yang cenderung untuk menggunakan simbol-simbol dan penjelasan yang sulit,
tidak pula seperti kitab sastra yang menggunakan perlambang-perlambang, yang berlebihan
dalam menyembunyikan substansi, sehingga sulit dipahami akal.
Allah SWT menurunkan Al-Quran agar makna-maknanya dapat ditangkap, hukumhukumnya dapat dimengerti, rahasia-rahasianya dapat dipahami, serta ayat-ayatnya dapat
ditadabburi. Oleh karena itu Allah SWT menurunkan Al-Quran dengan jelas dan memberi
penjelasan, tidak samar dan sulit dipahami. Sebagaimana firman Allah SWT :

Artinya : Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka
Adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qomar 17)
5) Al-Quran adalah Kitab Suci yang Lengkap
Al-Quran adalah kitab agama yang menyeluruh, pokok agama dan ruh wujud islam.
Darinya disimpulkan konsep akidah Islam, tatacara ibadah, tuntutan akhlak, juga pokokpokok legislasi dan hukum. Allah SWT berfirman :

3
4

Artinya : ..dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala
sesuatu (An-Nahl 89)
6) Al-Quran adalah Kitab Suci Seluruh Zaman
Makna Al-Quran sebagai kitab keseluruhan zaman adalah ia merupakan kitab yang
abadi, bukan kitab bagi suatu masa tertentu, yang kemudian habis masa berlakunya.
Maksudnya, hukum-hukum Al-Quran, perintah dan larangannya, tidak berlaku secara
temporer dengan suatu kurun waktu tertentu, kemudian habis masanya.
7) Al-Quran adalah Kitab suci bagi Seluruh Umat Manusia
Al-Quran bukanlah kitab yang hanya ditujukan pada suatu bangsa, sementara tidak
kepada bangsa yang lain, tidak juga untuk hanya satu warna kulit manusia, atau suatu
wilayah tertentu. Tidak juga hanya bagi kalangan yang rasional, dan tidak menyentuh
mereka yang emosional dan berdasarkan intuisi. Tidak juga hanya bagi rohaniawan,
sementara tidak menyentuh mereka yang materialis. Al-Quran adalah kitab bagi seluruh
golongan manusia.
Allah SWT berfirman :

Artinya : Al-Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi alam semesta (At-Takwir 27)

C. Bukti Keountentikan Al-Quran


Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah
satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah,
dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu
lahafizhun (Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah Pemeliharapemelihara-Nya) (QS 15:9).
Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang diberikan atas
dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan
oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat di atas, setiap
Muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai Al-Quran tidak berbeda
sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah saw., dan yang didengar serta
dibaca oleh para sahabat Nabi saw.
Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain? Dan, dapatkah
bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak percaya akan jaminan
Allah di atas? Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan di atas, karena seperti yang ditulis
oleh almarhum 'Abdul-Halim Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar: "Para orientalis yang dari
saat ke saat berusaha menunjukkan kelemahan Al-Quran, tidak mendapatkan celah untuk
meragukan keotentikannya."1 Hal ini disebabkan oleh bukti-bukti kesejarahan yang
mengantarkan mereka kepada kesimpulan tersebut.
Bukti-bukti dari Al-Quran Sendiri
Pendapat seorang ulama besar Syi'ah kontemporer, Muhammad Husain AlThabathaba'iy, yang menyatakan bahwa sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak
turunnya sampai masa kini. Ia dibaca oleh kaum Muslim sejak dahulu sampai sekarang,
sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan
keotentikannya. Kitab Suci tersebut lanjut Thabathaba'iy memperkenalkan dirinya sebagai
Firman-firman Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa pun untuk
menyusun seperti keadaannya. Ini sudah cukup menjadi bukti, walaupun tanpa bukti-bukti
kesejarahan. Salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita sekarang adalah
Al-Quran yang turun kepada Nabi saw. tanpa pergantian atau perubahan --tulis
Thabathaba'iy lebih jauh-- adalah berkaitan dengan sifat dan ciri-ciri yang diperkenalkannya
menyangkut dirinya, yang tetap dapat ditemui sebagaimana keadaannya dahulu.
Dr. Mustafa Mahmud, mengutip pendapat Rasyad Khalifah, juga mengemukakan
bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan akan keotentikannya.
Huruf-huruf hija'iyah yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran
adalah jaminan keutuhan Al-Quran sebagaimana diterima oleh Rasulullah saw. Tidak
berlebih dan atau berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang digunakan oleh Al-Quran.
Kesemuanya habis terbagi 19, sesuai dengan jumlah huruf-huruf B(i)sm Ali(a)h AlR(a)hm(a)n Al-R(a)him. (Huruf a dan i dalam kurung tidak tertulis dalam aksara bahasa
Arab).
Huruf (qaf) yang merupakan awal dari surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57
kali atau 3 X 19.
Huruf-huruf kaf, ha', ya', 'ayn, shad, dalam surah Maryam, ditemukan sebanyak 798
kali atau 42 X 19.
Huruf (nun) yang memulai surah Al-Qalam, ditemukan sebanyak 133 atau 7 X 19.
Kedua, huruf (ya') dan (sin) pada surah Yasin masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau
15 X 19. Kedua huruf (tha') dan (ha') pada surah Thaha masing-masing berulang sebanyak
342 kali, sama dengan 19 X 18.
6

Huruf-huruf (ha') dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah yang dimulai
dengan kedua huruf ini, ha' mim, kesemuanya merupakan perkalian dari 114 X 19, yakni
masing-masing berjumlah 2.166.
Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat Al-Quran,
oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keotentikan Al-Quran. Karena, seandainya
ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau
kalimat yang lain, maka tentu perkalian-perkalian tersebut akan menjadi kacau.
Angka 19 di atas, yang merupakan perkalian dari jumlah-jumlah yang disebut itu,
diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surah Al-Muddatstsir
ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap seorang yang meragukan kebenaran AlQuran.
Demikianlah sebagian bukti keotentikan yang terdapat di celah-celah Kitab Suci
tersebut.
Bukti-bukti Kesejarahan
Al-Quran Al-Karim turun dalam masa sekitar 22 tahun atau tepatnya, menurut
sementara ulama, dua puluh dua tahun, dua bulan dan dua puluh dua hari.
Ada beberapa faktor yang terlebih dahulu harus dikemukakan dalam rangka
pembicaraan kita ini, yang merupakan faktor-faktor pendukung bagi pembuktian otentisitas
Al-Quran.
(1) Masyarakat Arab, yang hidup pada masa turunnya Al-Quran, adalah masyarakat yang
tidak mengenal baca tulis. Karena itu, satu-satunya andalan mereka adalah hafalan. Dalam
hal hafalan, orang Arab --bahkan sampai kini-- dikenal sangat kuat.
(2) Masyarakat Arab --khususnya pada masa turunnya Al-Quran-- dikenal sebagai
masyarakat sederhana dan bersahaja: Kesederhanaan ini, menjadikan mereka memiliki
waktu luang yang cukup, disamping menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
(3) Masyarakat Arab sangat gandrung lagi membanggakan kesusastraan; mereka bahkan
melakukan perlombaan-perlombaan dalam bidang ini pada waktu-waktu tertentu.
(4) Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat
mengagumkan bukan saja bagi orang-orang mukmin, tetapi juga orang kafir. Berbagai
riwayat menyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum musyrik seringkali secara sembunyisembunyi berupaya mendengarkan ayat-ayat Al-Quran yang dibaca oleh kaum Muslim.
Kaum Muslim, disamping mengagumi keindahan bahasa Al-Quran, juga mengagumi
kandungannya, serta meyakini bahwa ayat-ayat Al-Quran adalah petunjuk kebahagiaan
dunia dan akhirat.
(5) Al-Quran, demikian pula Rasul saw., menganjurkan kepada kaum Muslim untuk
memperbanyak membaca dan mempelajari Al-Quran dan anjuran tersebut mendapat
sambutan yang hangat.
(6) Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan
peristiwa-peristiwa yang mereka alami, bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
Disamping itu, ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah
pencernaan maknanya dan proses penghafalannya.
(7) Dalam Al-Quran, demikian pula hadis-hadis Nabi, ditemukan petunjuk-petunjuk yang
mendorong para sahabatnya untuk selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam menyampaikan
berita --lebih-lebih kalau berita tersebut merupakan Firman-firman Allah atau sabda RasulNya.
Faktor-faktor di atas menjadi penunjang terpelihara dan dihafalkannya ayat-ayat AlQuran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menginformasikan bahwa terdapat
ratusan sahabat Nabi saw. yang menghafalkan Al-Quran. Bahkan dalam peperangan
7

Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah wafatnya Rasul saw., telah gugur tidak kurang
dari tujuh puluh orang penghafal Al-Quran.
Walaupun Nabi saw. dan para sahabat menghafal ayat-ayat Al-Quran, namun guna
menjamin terpeliharanya wahyu-wahyu Ilahi itu, beliau tidak hanya mengandalkan hafalan,
tetapi juga tulisan. Sejarah menginformasikan bahwa setiap ada ayat yang turun, Nabi saw.
lalu memanggil sahabat-sahabat yang dikenal pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat
yang baru saja diterimanya, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam
surahnya. Ayat-ayat tersebut mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit-kulit atau tulangtulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat-ayat tersebut secara
pribadi, namun karena keterbatasan alat tulis dan kemampuan maka tidak banyak yang
melakukannya disamping kemungkinan besar tidak mencakup seluruh ayat Al-Quran.
Kepingan naskah tulisan yang diperintahkan oleh Rasul itu, baru dihimpun dalam bentuk
"kitab" pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar r.a.5
Penulisan Mushhaf
Dalam uraian sebelumnya dikemukakan bahwa ketika terjadi peperangan Yamamah,
terdapat puluhan penghafal Al-Quran yang gugur. Hal ini menjadikan 'Umar ibn AlKhaththab menjadi risau tentang "masa depan Al-Quran". Karena itu, beliau mengusulkan
kepada Khalifah Abu Bakar agar mengumpulkan tulisan-tulisan yang pernah ditulis pada
masa Rasul. Walaupun pada mulanya Abu Bakar ragu menerima usul tersebut --dengan
alasan bahwa pengumpulan semacam itu tidak dilakukan oleh Rasul saw.-- namun pada
akhirnya 'Umar r.a. dapat meyakinkannya. Dan keduanya sepakat membentuk suatu tim
yang diketuai oleh Zaid ibn Tsabit dalam rangka melaksanakan tugas suci dan besar itu.
Zaid pun pada mulanya merasa sangat berat untuk menerima tugas tersebut, tetapi
akhirnya ia dapat diyakinkan --apalagi beliau termasuk salah seorang yang ditugaskan oleh
Rasul pada masa hidup beliau untuk menuliskan wahyu Al-Quran. Dengan dibantu oleh
beberapa orang sahabat Nabi, Zaid pun memulai tugasnya. Abu Bakar r.a. memerintahkan
kepada seluruh kaum Muslim untuk membawa naskah tulisan ayat Al-Quran yang mereka
miliki ke Masjid Nabawi untuk kemudian diteliti oleh Zaid dan timnya. Dalam hal ini, Abu
Bakar r.a. memberi petunjuk agar tim tersebut tidak menerima satu naskah kecuali yang
memenuhi dua syarat:
Pertama, harus sesuai dengan hafalan para sahabat lain.
Kedua, tulisan tersebut benar-benar adalah yang ditulis atas perintah dan di hadapan
Nabi saw. Karena, seperti yang dikemukakan di atas, sebagian sahabat ada yang menulis atas
inisiatif sendiri.Untuk membuktikan syarat kedua tersebut, diharuskan adanya dua orang
saksi mata.
Sejarah mencatat bahwa Zaid ketika itu menemukan kesulitan karena beliau dan
sekian banyak sahabat menghafal ayat Laqad ja'akum Rasul min anfusikum 'aziz 'alayh ma
'anittun harish 'alaykum bi almu'minina Ra'uf al-rahim (QS 9:128). Tetapi, naskah yang
ditulis di hadapan Nabi saw. tidak ditemukan. Syukurlah pada akhirnya naskah tersebut
ditemukan juga di tangan seorang sahabat yang bernama Abi Khuzaimah Al-Anshari.
Demikianlah, terlihat betapa Zaid menggabungkan antara hafalan sekian banyak sahabat dan
naskah yang ditulis di hadapan Nabi saw., dalam rangka memelihara keotentikan Al-Quran.
Dengan demikian, dapat dibuktikan dari tata kerja dan data-data sejarah bahwa Al-Quran
yang kita baca sekarang ini adalah otentik dan tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang
diterima dan dibaca oleh Rasulullah saw., lima belas abad yang lalu.
Dikemukakan bahwa Rasyad Khalifah, yang menemukan rahasia angka 19 yang
dikemukakan di atas, mendapat kesulitan ketika menemukan bahwa masing-masing kata
yang menghimpun Bismillahirrahmanirrahim, kesemuanya habis terbagi 19, kecuali Al8

Rahim. Kata Ism terulang sebanyak 19 kali, Allah sebanyak 2.698 kali, sama dengan 142 X
19, sedangkan kata Al-Rahman sebanyak 57 kali atau sama dengan 3 X 19, dan Al-Rahim
sebanyak 115 kali. Di sini, ia menemukan kejanggalan, yang konon mengantarnya
mencurigai adanya satu ayat yang menggunakan kata rahim, yang pada hakikatnya bukan
ayat Al-Quran. Ketika itu, pandangannya tertuju kepada surah Al-Tawbah ayat 128, yang
pada mulanya tidak ditemukan oleh Zaid. Karena, sebagaimana terbaca di atas, ayat tersebut
diakhiri dengan kata rahim.
Sebenarnya, kejanggalan yang ditemukannya akan sirna, seandainya ia menyadari
bahwa kata rahim pada ayat Al-Tawbah di atas, bukannya menunjuk kepada sifat Tuhan,
tetapi sifat Nabi Muhammad saw. Sehingga ide yang ditemukannya dapat saja benar tanpa
meragukan satu ayat dalam Al-Quran, bila dinyatakan bahwa kata rahim dalam Al-Quran
yang menunjuk sifat Allah jumlahnya 114 dan merupakan perkalian dari 6 X 19.

D. Nama-Nama Al-Quran

Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat)
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)

Asy-Syifa' (obat/penyembuh)
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)

Al-Hukm (peraturan/hukum)
Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur'an itu sebagai peraturan (yang
benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka
setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan
pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS. Ar Ra'd [13]:37)

Al-Hikmah (kebijaksanaan)
Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah
kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu
dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat
Allah). (QS. Al Israa' [17]:39)

Al-Huda (petunjuk)
Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur'an), kami beriman
kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan
penguranganpahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan
kesalahan. (QS. Al Jin [72]:13)

At-Tanzil (yang diturunkan)


Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta
alam, QS. Asy Syuaraa [26]:192)

Ar-Rahmat (karunia)
Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman. (QS. An Naml [27]:77)

Ar-Ruh (ruh)
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur'an) dengan perintah
Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur'an) dan
tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu
cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hambahamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan
yang lurus. (QS. Asy Syuura [42]:52)

Al-Bayan (penerang)
10

(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta
pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran [3]:138)

Al-Kalam (ucapan/firman)
Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan
kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah,
kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan
mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS. At Taubah [9]:6)

Al-Busyra (kabar gembira)


Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Tuhanmu
dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan
menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri
(kepada Allah)". (QS. An Nahl [16]:102)

An-Nur (cahaya)
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu.
(Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang
terang benderang. (Al-Qur'an). (QS. An Nisaa' [4]:174)

Al-Basha'ir (pedoman)
Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
meyakini. (QS. Al Jaatsiyah [45]:20)

Al-Balagh (penyampaian/kabar)
(Al-Qur'an) ini adalah kabar yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka
diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia
adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil
pelajaran. (QS. Ibrahim [14]:52)

Al-Qaul (perkataan/ucapan)
Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al-Qur'an)
kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran. (QS. Al Qashash [28]:51)

11

E. Fungsi Al-Quran Dalam Kehidupan


1. Al-Quran sebagai hudan.
Kata hudan di dalam Al-Quran memiliki berbagai pengertian. Hudan bisa berarti
petunjuk, pedoman, peraturan dan juga bisa bermakna undang-undang. Mengapa bisa
demikian ?
Ketika seseorang sedang mengendarai motor atau mobil di jalan raya ia harus mengikuti
peraturan dan petunjuk yang berkaitan dengan rambu lalu lintas. Bagaimana jadinya jika ia
tidak mau mengikuti peraturan dan pentunjuk tersebut, seperti pada saat melihat rambu lalu
lintas berwarna merah, namun ia tetap meneruskan menjalankan mobilnya ? Tentu akan
terjadi benturan dan tabrakan yang terus menerus. Demikian juga umat manusia, pada saat
menjalankan kehidupan yang serba komplek di dunia ini, tentu sangat memerlukan peraturan
dan petunjuk agar mereka bisa hidup lebih baik dan tidak terjadi kekacauan.
Allah swt telah menciptakan langit, bumi dan berbagai macam jenis makhluk lainnya.
Diantara berbagai macam makhluk tersebut ada yang bisa dilihat dengan panca indra dan
ada juga yang tidak bisa dilihat. Dan diantara mereka ada yang bergerak secara dinamis dan
ada juga yang tidak bergerak, statis. Seperti gunung, batu, pohon, rumput, sungai, laut bisa
dikatagorikan sebagai makhluk yang tidak bergerak, statis. Sedangkan manusia dan binatang
ternasuk jenis makhluk yang bergerak dan dinamis. Untuk menjaga keseimbangan dan
kelangsungan kehidupan mereka, khususnya manusia dan makhluk hidup lainnya, maka
diperlukan adanya petunjuk, pedoman, peraturan, atau undang-undang yang mengatur
kehidupan mereka. Untuk inilah, maka Al-Quran diturunkan sebagai hudan (petujuk).
a. Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia.
Suatu ketika Allah swt memanggil para malaikat, lalu berkata kepada mereka bahwa Ia
hendak smenjadikan seorang Khalifah(pemimpin) di muka bumi. Lalu para malaikat itu
bertanya : Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi, padahal mereka akan
membuat kerusakan dan penumpahan darah di dalamnya. Keraguan malaikat itu dijawab
oleh Allah dengan mengatakan : Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui. Dialog ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Quran :

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata : Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau? Tuhan berfirman : Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
mengetahui. (QS Al-Baqarah : 30).
Untuk mengatur kehidupan manusia agar tidak membuat kerusakan dan melakukan
penumpahan darah sesama mereka di muka bumi ini, maka perlu adanya pedoman atau
undang-undang. Dan disinilah sesungguhnya Allah swt menurukan Al-Quran yang
berfungsi dan berperan sebagai hudan linnas (petunjuk bagi manusia). Hal ini sesuai dengan
firman-NYa :

12

Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai


petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang
hak dan yang bathil). (QS Al-Baqarah : 185

b. Al-Quran sebagai hudan lil muslimin, mukminin dan muttaqin


Dalam surat Al-Baqarah ayat 185 telah dijelaskan bahwa Al-Quran diturunkan sebagai
petunjuk bagi manusia. Pengertian manusia di dalam Al-Quran ini bisa berarti seorang
muslim, bisa juga berarti non muslim. Tapi yang jelas, kata manusia masih bersifat umum,
siapa saja. Namun dalam surat dan ayat yang lain Allah swt menjelaskan bahwa Al-Quran
diturunkan secara khusus sebagai petunjuk dan pedoman bagi orang-orang mukmin, muslim
dan muttaqin.
Diantara surat dan ayat yang menjelaskan bahwa Al-Quran itu berfungsi dan berperan
sebagai hudan (petunjuk) bagi orang mukmin, muslim dan muttaqin adalah sebagai berikut :

H
ai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh
bagi penyakit-penyakit (yang berada dalam) dada dan petunjuk (pedoman) serta rahmat
bagi orang-orang yang beriman.(QS Yunus : 57).
Dalam ayat yang lain.

D
an kami turunkan Al-Kitab(Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta
rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri(muslimin). (QS An-Nahl :
89). Dan dalam ayat yang lain.

13

Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa.(QS Al-Baqarah : 2 ).

2. Al-Quran sebagai mukjizat.


Al-Quran disamping sebagai petunjuk juga berfungsi sebagai mukjizat. Mukjizat
berasal dari kata ajaza yujizu mujizatun yang berarti yang melemahkan. Dengan
kata lain bahwa Al-Quran diturunkan untuk melemahkan kafir Quraiys, khususnya para
pembesar dan para ahli syiir yang telah membanggakan diri mereka dengan syiir-syiirnya
dan juga kehadirannya sebagai bukti kebenaran Muhammad saw sebagai Rasulullah.
Banyak dikalangan pemuka kafir quraiys dan para penyairnya yang mengingkari ajaranajaran yang dibawa Rasulullah saw, akan tetapi mereka sangat mengagumi keindahan dan
kehalusan susunan bahasa Al-Quran. Diantara pemuka dan penyair kafir Quraiys yang
kagum namun mereka mengingkari ajaran Islam adalah 1. Walied bin Mughirah 2. Utbah
bin Rabiah dan 3. Nadhar bin Harits.
Utbah bin Rabiah adalah seorang pemuda Quraiys yang gagah berani, pandai berpidato,
lancar berbicara dan cakap berbantah. Ketika ia diutus oleh para pemuka Quraisy untuk
memperdayakan Nabai saw, maka setelah dibacakan ayat-ayat Al-Quran oleh Nabi saw
seketika itu ia berkata : Cukuplah, cukuplah sekian dulu ya Muhammad dan cukuplah
sekian saja. Janganlah engkau teruskan. Aku minta hendaknya engkau menerangkan dan
berbicara yang selain itu!. Dan dalam waktu yang lain ia berkata : Demi Allah, aku
selama hidup belum pernah mendengar perkataan yang seperti perkataan Muhammad.
Perkataannya akan saya anggap syiir bukan syiir. Lantaran ia memang bukan tukang syiir,
dan akan saya anggap perkataan tukang tilik, ia bukan tukang tilik, dan saya akan anggap
perkataan orang gila, ia bukan orang gila. Lantaran itu, aku tidaklah dapat menjawab
perkataan yang diucapkan oleh Muhammad sepatah katapun.
Diantara ayat-ayat yang menunjukan kemukjizatan Al-Quran adalah :

Kata
kanlah : Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa AlQuran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun
sebagian menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (QS Al-Israa : 88)

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang kami wahyukan kepadpa
hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan
ajaklalh ajaklah penolongmu selain Allah, jika kamu orang yang benar. (QS Al-Baqarah :
23).

14

Saat ini, ada sebagian kelompok yang meragukan kebenaran isi Al-Quran. Jika
anda berjumpa dengan seseorang atau sekelompok manusia yang meragukan kebenaran dan
keontentikan Al-Quran, sebaiknya anda tanyakan kepada orang tersebut dan suruhlah
mereka untuk membuat satu ayat atau satu surat semisal Al-Quran.
3. Sebagai Alat Untuk Menghidupkan Manusia Sebagai Manusia
Al-Quran adalah sebagai alat untuk menghidupkan manusia sebagai manusia
hamba Allah, kalau manusia tidak memakai Al-Quran, maka kehidupannya dinyatakan
tuhan sebagai kehidupan hewan terjahat, sebagaimana tercantum di QS. Muhammad ayat
12, yang artinya:
Sesungguhnya Allah memasukan orang-orang mumin dan beramal sholeh kedalam
Jannah yang mengalir dibawanya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenangsenang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam
adalalh sebagai tempat tinggal mereka (kelak). (QS. Muhammad: 12)
4. Sebagai Rahmat Dari Allah.
Allah telah turunkan kepada manusia rahmat yang tak terkira kepadanya. Kalau
manusia hendak menghitungnya, ia tidak akan mampu untuk menghitungnya. Seperti
yang telah dijelaskan dalam QS. An-Nahl ayat 18 yang artinya:
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat
menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar maha pengampun lagi
maha penyayang. (QS. An-Nahl: 18)
5. Sebagai pembeda antara yang hak dan yang bathil, antara yang salah dan yang
benar, antara yang baik dan yang buruk, Dan antara perintah dan larangan.
6. Sebagai pemberi penjelasan terhadap berbagai persoalan yang akan dihadapi
oleh manusia di dunia ini dan di akhirat nanti.

15

F. Kehujjahan Al-Quran
A. Kebenaran Al-Quran
Abdul Wahab Khallaf (Mardias Gufron, 2009) mengatakan bahwa kehujjahan AlQuran itu terletak pada kebenaran dan kepastian isinya yang sedikitpun tidak ada keraguan
atasnya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:


Artinya: Kitab (Al-Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa (Q. S. Al-Baqarah, 2 :2).
Berdasarkan ayat di atas yang menyatakan bahwa kebenaran Al-Quran itu tidak ada
keraguan padanya, maka seluruh hukum-hukum yang terkandung di dalam Al-Quran
merupakan aturan-aturan Allah yang wajib diikuti oleh seluruh ummat manusia sepanjang
masa hidupnya.
M. Quraish Shihab (Mardias Gufron, 2009) menjelaskan bahwa seluruh Al-Quran
sebagai wahyu, merupakan bukti kebenaran Nabi SAW sebagai utusan Allah, tetapi fungsi
utamanya adalah sebagai petunjuk bagi seluruh ummat manusia.
B. Kemukjizatan Al-Quran
Mukjizat memiliki arti sesuatu yang luar biasa yang tiada kuasa manusia
membuatnya karena hal itu adalah di luar kesanggupannya (Yayasan Penyelenggara
Penterjemah/Pentafsiran Al-Quran, 1990).
Mukjizat merupakan suatu kelebihan yang Allah SWT berikan kepada para nabi dan
rasul untuk menguatkan kenabian dan kerasulan mereka, dan untuk menunjukan bahwa
agama yang mereka bawa bukanlah buatan mereka sendiri melainkan benar-benar datang
dari Allah SWT. Seluruh nabi dan rasul memiliki mukjizat, termasuk di antara mereka
adalah Rasulullah Muhammad SAW yang salah satu mukjizatnya adalah Kitab Suci AlQuran.
Al-Quran merupakan mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad
SAW, karena Al-Quran adalah suatu mukjizat yang dapat disaksikan oleh seluruh ummat
manusia sepanjang masa, karena Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT untuk keselamatan
manusia kapan dan dimana pun mereka berada. Allah telah menjamin keselamatan AlQuran sepanjang masa, hal tersebut sesuai dengan firman-Nya yang berbunyi,

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami tetap
memeliharanya (Q. S. Al-Hijr, 15:9).
Adapun beberapa bukti dari kemukjizatan Al-Quran, antara lain:
1. Di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang berisi tentang kejadian-kejadian yang
akan terjadi di masa mendatang, dan apa-apa yang telah tercantum di dalam ayatayat tersebut adalah benar adanya.
2. Di dalam Al-Quran terdapat fakta-fakta ilmiah yang ternyata dapat dibuktikan
dengan ilmu pengetahuan pada zaman yang semakin berkembang ini.
C. Dasar-Dasar Al-Quran dalam Membuat Hukum
Allah SWT menurunkan Al-Quran untuk dijadikan dasar hukum yang disampaikan kepada
ummat manusia agar mereka mengamalkan segala perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya. Pedoman Al-Quran dalam mengadakan perintah dan larangan-Nya adalah
tidak memberatkan dan diturunkan secara berangsur-angsur.
Al-Quran Tidak Memberatkan
Al-quran diturunkan tidak untuk memberatkan ummat manusia, sebagaimana firman-Nya:
16



Artinya: Allah menghendaki kelonggaran bagimu dan tidak menghendaki kesempitan
bagimu (Q.S. Al-Baqarah, 2:185).
Al-Quran Turun Secara Berangsur-Angsur
Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun, yaitu 13 tahun di Makkah
dan 10 tahun di Madinah. Hikmah diturunkannya Al-Quran secara berangsur-angsur, antara
lain:
1. Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan.
2. Turunnya Al-Quran berdasarkan suatu kejadian tertentu akan lebih mengesankan
dan berpengaruh di hati.
3. Memudahkan dalam menghafal dan memahaminya.
D. Al-Quran Sebagai Sumber Ijtihad yang Pertama
Ijihad adalah sebuah usaha untuk menetapkan hukum Islam berdasarkan Al-Quran dan
Hadits (Lina Dahlan, 2006). Terdapat beberapa macam ijtihad, di antaranya adalah sebagai
berikut:
1. Ijma: Kesepakatan ulama,
2. Qiyas: diumpamakan dengan suatu hal yang mirip dan sudah jelas hukumnya,
3. Maslahah Mursalah: untuk kemaslahatan ummat,
4. Urf: kebiasaan.
Para fuqaha dari berbagai madzhab-madzhab Islam telah mengungkapkan berbagai
pandangan mereka yang berbeda-beda mengenai sumber-sumber Ijtihad.
Al-Quran merupakan sumber utama hukum-hukum Ilahi. Al-Quran lebih diutamakan
daripada
sumber-sumber
lain
yang
dirujuk
guna
mendapatkan
berbagai
hukum (ahkam) syariah. Al-Quran telah dan akan tetap selain merupakan sumber
konfrehensif hukum-hukum Ilahi juga menjadi kriteria untuk menilai berbagai hadits. Atas
dasar inilah, sejak zaman nabi Muhammad SAW hingga saat ini dan untuk selamanya, AlQuran telah menjadi sumber rujukan utama bagi para fuqaha Islam.

G. Kandungan Pokok Al-Quran


1. Aqidah / Akidah
Aqidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang pasti
wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia. Alquran mengajarkan akidah tauhid kepada kita
yaitu menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT yang satu yang tidak pernah tidur dan
tidak beranak-pinak. Percaya kepada Allah SWT adalah salah satu butir rukun iman yang
pertama. Orang yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai orang-orang kafir.
2.
Ibadah
Ibadah adalah taat, tunduk, ikut atau nurut dari segi bahasa. Dari pengertian
"fuqaha" ibadah adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dkerjakan untuk
mendapatkan ridho dari Allah SWT. Bentuk ibadah dasar dalam ajaran agama islam yakni
seperti yang tercantum dalam lima butir rukum islam. Mengucapkan dua kalimah syahadat,
sholat lima waktu, membayar zakat, puasa di bulan suci ramadhan dan beribadah pergi haji
bagi yang telah mampu menjalankannya.
3.
Akhlaq / Akhlak
Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji atau
akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah. Allah SWT mengutus
Nabi Muhammd SAW tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlaq. Setiap
manusia harus mengikuti apa yang diperintahkanNya dan menjauhi laranganNya.
4.
Hukum-Hukum
17

Hukum yang ada di Al-quran adalah memberi suruhan atau perintah kepada orang
yang beriman untuk mengadili dan memberikan penjatuhan hukuman hukum pada sesama
manusia yang terbukti bersalah. Hukum dalam islam berdasarkan Alqur'an ada beberapa
jenis atau macam seperti jinayat, mu'amalat, munakahat, faraidh dan jihad.
5.Peringatan / Tadzkir
Tadzkir atau peringatan adalah sesuatu yang memberi peringatan kepada manusia
akan ancaman Allah SWT berupa siksa neraka atau waa'id. Tadzkir juga bisa berupa kabar
gembira bagi orang-orang yang beriman kepadaNya dengan balasan berupa nikmat surga
jannah atau waa'ad. Di samping itu ada pula gambaran yang menyenangkan di dalam
alquran atau disebut juga targhib dan kebalikannya gambarang yang menakutkan dengan
istilah lainnya tarhib.
6. Sejarah-Sejarah atau Kisah-Kisah
Sejarah atau kisah adalah cerita mengenai orang-orang yang terdahulu baik yang
mendapatkan kejayaan akibat taat kepada Allah SWT serta ada juga yang mengalami
kebinasaan akibat tidak taat atau ingkar terhadap Allah SWT. Dalam menjalankan kehidupan
sehari-hari sebaiknya kita mengambil pelajaran yang baik-baik dari sejarah masa lalu atau
dengan istilah lain ikibar.
7. Dorongan Untuk Berpikir
Di dalam al-qur'an banyak ayat-ayat yang mengulas suatu bahasan yang
memerlukan pemikiran menusia untuk mendapatkan manfaat dan juga membuktikan
kebenarannya, terutama mengenai alam semesta.

18

H. Cara-Cara Al-Quran Menetapkan Hukum


Suatu ketetapan hukum dalam al-Quran memperhatikan kondisi dan situasi masyarakat
dan dilakukan secara bertahap sehingga ketetapan hukum tersebut tidak mengejutkan dan
membuat kaget dan juga tidak memberatkan umat muslim dalam menjalankannya ini
menunjukkan bahwasannya Allah tidak semena-mena dalam memberikan suatu hukum atau
memberikan suatu petunjuk kepada umat-Nya.. Contoh ketetapan hukum yang dilakukan
secara bertahap adalah penetapan hukum minuman keras yang memabukkan sebagai
berikut :
a) Pada permulaan Islam kaum muslimin meminum khamar karena bagi mereka adalah
halal pada saat itu. Pernyataan bahwa kurma dan anggur dapat mendatangkan rezeki, tetapi
juga memabukkan (Q.S an-Nahl 16 dan 67)
b) Mereka bertanya tentang khamar, dan turunlah ayat yang mengungkapkan bahwa
minuman keras dan perjudian mendatangkan manfaat dan dosa besar (Q.S Al-Baqoroh :219).
Karena ada nash bahwa terdapat manfaat dalam khamar maka sebagian orang masih
mengkonsumsinya.
c) Dalam hajatan Abdirrahman Auf dihidangkan berbagai macam makanan dan khamar.
Ketika datang waktu shalat magrib seorang imam salah dalam membaca ayat karena
pengaruh khamar tersebut. Maka turunlah ayat janganlah kamu sholat sedang kamu dalam
keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (Q.S an-Nisa :43) khamar
diharamkan pada waktu-waktu sholat
d.) Kemudian mereka mengkonsumsi khamar setelah shalat isya. Pada suatu pesta yang
terdapat didalamnya Saad ibn Abi Waqas mereka meminum khamar dan bersyair yang
berisikan kebanggaan akan kaumnya dan menghina kaum Anshar. Lalu seorang Anshar
mengambil tulang dan dipukulkan kepada Saad hingga terluka. Ketika Saad mengadu
kepada Rosul turunlah ayat yang menyatakan bahwa khamar, judi, berhala, mengundi adalah
perbuatan syaitan (Q.S al-Maidah:90) kemudian merekapun berhenti mengkonsumsi
khamar.
Penetapan hukum yang dilakukan secara bertahap ini, disesuaikan dengan kondisi
Arab pada masa itu. Khamar adalah hobi yang dilakukan oleh umat Islam dan merupakan
kegiatan wajib yang dilakukan pada setiap acara yang diadakan oleh bangsa Arab. Jika
hukum yang menetapkan keharaman khamr dilakukan secara langsung, maka bangsa Arab
akan menantangnya dan tidak akan menaati hukum tersebut. Bahkan mungkin mereka akan
keluar karena keberatan dengan penetapan hukum tersebut.
Tapi itulah Islam, agama yang fleksibel, mudah, dan sangat bijaksana. Jika Allah egois dan
tidak melihat kondisi arab saat itu, bisa saja Allah menetapkan hukum tersebut secara
langsung, tanpa melihat kondisi masyarakat bangsa Arab ketika itu.
Dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip penetapan hukum Islam, Umar Shihab
mengemukakan beberapa prinsip sebagai berikut:
1. Mempersedikit pembuatan undang-undang. Hukum-hukum tidaklah disyareatkan untuk
menguraikan persoalan-persoalan wajib atau untuk memisah persengketan yang mungkin
akan timbul.hal ini nampak jelas pada adanya larangan dalam al-Quran dan as-sunnah untuk
memperbanyak pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan timbulnya hukum yang
memberatkan, sunguh Alloh berfirman sebagai berikut orang-orang mukmin! Janganlah
engkau menanyakan (kepada nabimu) hal-hal yang kalau di jelaskan padamu tentu malah
akan menyusahkan engkau, dan kalau engkau menanyakannya ketika alquran sedang di
turunkan,tentu akan di jelaskan kepadamu (Qs. Al-maidah.101).
2. Memudahkan dan meringankan beban. Prinsip ini nampak lebih jelas dalam perundang
19

undangan islam.di dalam kebanyakan hukum-hukum itu menunjukkan bahwa hikmah di


syriatkan hukum-hukum itu untuk memberi kelonggaran dan keringanan (bagi orang
dewasa). Alloh berfirman yang artinya: Allah menghendaki kemudahan bagimu,dan tidak
menghendaki kesempitan bagimu (al-Baqoroh.185), dan firmannya lagi yg artinya: Alloh
menghendaki keringanan padamu,sebab manusia di jadikan bersifat lemah.(an-Nisa:28).
dalam hadits sohih terdapat keterangan bahwa: Rosulullah tidak di suruh memilih di antara
dua perkara asalkan tidak perbuatan dosa.
3. Menetapkan hukum secara bertahap, contoh: penetapan hukum khamar dan perjudian
4. Sejalan dengan kemaslahatan manusia, contoh : Allah mengganti qiblat shalat dari Baitul
Maqdis menjadi ke Kabah (Q.S al-baqarah :144). Allah menghapus kewajiban iddah bagi
wanita yang ditinggal meninggal oleh suaminya dari 1 tahun menjadi 4 bulan 10 hari.
Perubahan hukum ini membuktikan bahwa perundang-undangan Islam berjalan sesuai
dengan kemaslahatan manusia.
Adapun metode penetapan hukum menurut Umar Shihab, yaitu:
1. ( ) Semua urusan sesuai dengan maksudnya
2. ( ) Kesukaran mendatangkan kemudahan , metode ini bersumber dari
hadits Nabi , adapun penyebab keringanan dalam pelaksanaan
hukum tersebut ada 7 yaitu : (1) perjalanan/ safar, (2) sakit, (3) paksaan, (4) lupa, (5)
ketidaktahuan, (6) kesulitan yang sangat, (7) pengurangan.
3. ( ) Kemudharatan harus ditinggalkan, contoh : dibolehkannya makan daging
daging ular jika seseorang berada di tengah hutan, untuk menghindari kematian yang
disebabkan oleh kelaparan
4. ( ) Adat dapat ditetapkan sebagai hukum, contoh : haid, balighnya seseorang,
masa sedikitnya haid, nifas, thaharah dan lain sebagainya.
5. ( ) Suatu yang diyakini kebenarannya tidak terhapus karena adanya keraguan,
contoh : keraguan seseorang dalam sholat, apakah dia mengerjakan 3 rakaat atau 4 rakaat,
tetapi ia yakin menjalankan 3 rakaat walaupun aslinya dia mengerjakan 4 rakaat, maka
kesalahan tersebut dimaafkan.

I. Komitmen Muslim Terhadap Al-Quran


1.

Mengimani
Kita harus yakin bahwa Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan oleh Allah
Subhanahu Wa Taala kepada Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Salam. Kita wajib
mengimani semua ayat-ayat yang kita baca, baik yang berupa hukum-hukum maupun
kisah-kisah. Baik yang menurut kita terasa masuk akal maupun yang belum dapat kita
pahami, yang nyata maupun yang gaib.
Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad),
kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Quran) yang
telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata : ya Tuhan kami,
kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas
kebenaran Al-Quran dan kenabian Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wa Salam).(Q.S.
Al-Maidah : 83).

2.

Membaca
Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa membaca dengan sebenar-benar bacaan (haqqa
20

tilawah) merupakan parameter keimanan orang tersebut kepada Al-Quran. Firman Allah
Subhanahu Wa Taala :
Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya
dengan haqqa tilawah mereka itulah orang-orang yang beriman kepadanya. Dan barang
siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.(Q.S.Al
Baqarah:121)
3.

Mentadabburi
Tadabbur Al-Quran dapat dilakukan dengan mengulangi ayat-ayat yang kita baca dan
meresapinya kedalam hati serta memikirkan maknanya dengan bacaan yang lambat.
Tidak hanya hati yang mentadabburi, tapi fisik kita yang lain pun ikut bertadabbur.
Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Salam merupakan contoh terbaik bagi kita dalam cara
mentadabburi Al-Quran, diriwayatkan ketika diturunkan surat Huud dan Al Waqiah
sampai beruban rambutnya karena takut terhadap Allah Subhanahu Wa Taala.
Maka apakah mereka tidak mentadabburkan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu
turun dari sisi selain Allah tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak
didalamnya.(Q.S.An Nissa : 82).

4.

Menghapal
Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Salam mengatakan barang siapa yang didalam rongga
tubuhnya tidak ada sedikitpun Al Qurn, tak ubahnya bagaikan rumah yang bobrok.
(HR. At Tarmidzi, hadist no.998,hlm 417).

5.

Mengamalkan
Mengamalkan berawal dari memahami ilmu-ilmunya serta berpegang teguh pada hukumhukumnya, kemudian menyelaraskan hisup dan tingkah laku serta akhlaknya, sebagaiman
akhlak Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Salam dalam Al Quran.
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada
memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah
buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada
memberi petunjuk pada kaum yang dzalim.(Q.S.Al Jumaah:5).

BAB III
21

PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah kami uraikan dapat disimpulkan bahwa AlQuran merupakan sumber ajaran islam pertama dan utama sebelum sumber ajaran islam
lainnya seperti As-Sunnah dan Ijtihad para ulama. Al-Quran memiliki banyak keistimewaan
didalamnya memuat semua aspek kehidupan umat manusia didunia dan akhirat kelak.
Pentingnya mengenal dan mempelajari Al-Quran memberikan banyak manfaat bagi hidup kita
antara lain:
1.Mengetahui apa-apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT.
2.Menambah kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
3.Meyakinin bahwa agama yang diridhoi Allah hanyalah Agama Islam.
4.Mendapat banyak pahala yang kelak mempermudah kita menuju surga Allah SWT.
5.Terhindar dari perbuatan yang dimurkai Allah SWT dan Rasul-Nya.
6.Lebih berhati-hati dalam bertindak dan melakukan segala sesuatu didasari oleh AlQuran.
B.Saran
Kepada generasi muda jangan mudah terpengaruh dengan lahirnya teknologi modern
seperti handphone, tablet, televisi, internet, dll. Yang akan melalaikan kamu dalam
menjalankan perintah-perintah Allah SWT. Salah satunya adalah belajar Al-Quran (membaca,
menulis, menghafal, dan mentafsirkan isi Al-Quran). Teknologi modern lebih banyak
memberikan dampak negatif daripada dampak positif terhadap diri kalian. Sedangkan belajar
Al-Quran akan membawa manfaat yang banyak bagi kehidupan dunia maupun
Akhirat.

22