Anda di halaman 1dari 5

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

JL. Kaliurang Km. 14,5 Sleman Yogyakarta 55584 Tel: 0274 - 898444 ext 2097 | Fax: + 2007
http://www.medicine.uii.ac.id/ | Email: humas@fk.uii.ac.id

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL, HIV& AIDS


dr.Titik Kuntari, MPH

Angka kejadian HIV/ AIDS dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.
Kalau dicermati di sekitar kita dan juga media massa, perilaku- perilaku berrisiko
sangatlah memprihatinkan, seks bebas, pemerkosaan, penyalahgunaan narkoba, pesta
miras dan lain-lain. Bahkan dalam suguhan sinetron, perilaku- perilaku tersebut disajikan
seakan-akan merupakan perilaku yang sudah umum( lazim/jamak).
AIDS disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang bisa menular
melalui berbagai cairan tubuh, seperti sperma, cairan vagina, darah, dan ASI. Secara
statistik, HIV positif dan AIDS banyak dialami oleh kalangan homoseksual, penganut
freesex (bergonta-ganti pasangan seksual),

pengguna

narkoba (suntik).

Selain

kejadiannya yang terus meningkat, hal yang memprihatinkan lainnya adalah sebagian
besar penderita HIV/AIDS adalah dari kelompok usia muda. Apalagi adanya dugaan
bahwa fenomena ini adalah sebuah fenomena gunung es, bahwa data yang ada tersebut
belum menunjukkan angka kejadian yang sebenarnya karena masyarakat kita lebih tidak
siap mengetahui kalau dia mengidap sebuah penyakit. Sehingga, memang orang
cenderung tidak mau memeriksakan kesehatannya secara rutin termasuk para pekerja
yang beresiko tinggi tertular virus ini seperti dokter spesial obsgyn yang hampir setiap hari
berurusan dengan darah orang-orang bersalin, yang bisa saja diantaranya adalah
pengidap HIV/AIDS.
Homoseksual
Homoseksual adalah suatu penyimpangan kejiwaan dan perilaku, sehingga
seseorang menjadi tertarik (secara seksual) kepada sesama

jenis.

Perilaku

menyimpang ini berisiko untuk menularkan berbagai penyakit menular seksual.


Kebiasaan oral dan anal seks meningkatkan risiko tertular HIV/AIDS, sifilis, herpes, dan
lain-lain. Data menunjukkan bahwa kaum homoseksual jumlahnya terus meningkat,
bahkan ada kecenderungan perubahan paradigma, golongan ini semakin berani dan terus
terang menunjukkan identitas kehomoannya. Tidak segan-segan dan tanpa malu kaum
selebriti mengaku di depan publik bahwa mereka adalah seorang homoseks. Padahal
sebelumnya, keadaan tersebut merupakan sesuatu yang dianggap tabu dan harus
disembunyikan.
Situasi modernisme dengan titik tekan kepada nilai hak asasi manusia, membuat
kaum homo-seks semakin PD saja. Bahkan di dalam paradigma ilmu psikologi modern,
Elearning Pendidikan Klinik Stase Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


JL. Kaliurang Km. 14,5 Sleman Yogyakarta 55584 Tel: 0274 - 898444 ext 2097 | Fax: + 2007
http://www.medicine.uii.ac.id/ | Email: humas@fk.uii.ac.id

homo-seksualitas

tidak

lagi

dikelompokkan

sebagai

sebuah

bentuk

devias

(penyimpangan) perilaku. Sehingga di negara-negara yang disiplin ilmu psikologinya


maju, seperti di Jerman, Inggris, Prancis dan Amerika homoseks dilegitimasi. EltonJohn adalah pasangan selebritis pertama dunia yang mendapatkan legalitas melalui
pengadilan Inggris ketika menikahi pasangan homo-seksnya.
Islam secara tegas melarang homoseksualitas. Diciptakan laki-laki adalah
pasangan dari perempuan.

Artinya: Mengapa pula kamu menggauli laki-laki? Dan kamu tinggalkan istri- istri
yang disediakan Allah untukmu. Kamulah orang-orang yang melampaui batas
{Q.S. Asy-Syuaraa:165-166}

Di zaman Rasulullah Saw dan Khulafaurrasyidin setelah beliau, hukuman untuk


para homo-seks ini sangat keras. Di zaman kekhalifahan Imam Ali bin Abu Thalieb
pernah menghukum orang-orang homo-seks ini beberapa kali. Oleh karena itu, untuk
menyelamatkan generasi muda maka pen-sikapan terhadap homo-seks ini harus sangat
tegas dan tidak bisa separuh hati. Artinya, manusia harus didorong terus untuk kembali
kepada fitrahnya. Bukan justru diberikan ruang berkumpul ditengah-tengah deviasi dan
kecenderungan menyimpang tersebut.
Sodomi/ anal seks
Perilaku sodomi/ anal seks adalah perilaku seksual dengan memasukkan alat
kelamin laki-laki ke lubang anus (bukan ke vagina). Praktek sodomi ini sering kali
dilakukan oleh orang dengan penyimpangan seksual, misalnya pada kasus robot gedek,
dan kaum homo. Namun, akhir-akhir ini sodomi atau anal seks sedang menjadi trend di
tengah-tengah manusia modern. Di berbagai situs-situs porno di internet berbagai
dokumen aktivitas seks melalui lubang dubur ini tersebar luas, baik dalam bentuk
rekaman video, 3G atau dalam bentuk foto-foto mesum. Anal seks ini dicitrakan
menawarkan kenikmatan luar biasa, melampaui kenikmatan berhubungan intim melalui
saluran yang seharusnya yang lobang senggama/ lobang vagina sehingga menimbulkan
rasa penasaran bagi anak-anak muda untuk mencobanya. Selain itu, menurut mereka
berhubungan intim melalui lubang dubur ini juga bebas dari resiko kehamilan.
Bagaimanapun, diciptakan dan diatur bahwa hubungan seksual salah satu
tujuannya adalah untuk mendapatkan keturunan selain untuk menyalurkan syahwat,
sehingga tempat yang tepat adalah vagina.
Elearning Pendidikan Klinik Stase Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


JL. Kaliurang Km. 14,5 Sleman Yogyakarta 55584 Tel: 0274 - 898444 ext 2097 | Fax: + 2007
http://www.medicine.uii.ac.id/ | Email: humas@fk.uii.ac.id

Ditinjau dari kesehatan, anus merupakan bagian dari saluran cerna yang banyak
mengadung kotoran dan kuman. Perilaku sodomi berisiko untuk dapat menimbulkan
perlukaan / erosi baik di daerah anus maupun alat kelamin. Tentu saja kondisi ini akan
meningkatkan risiko terinfeksi/ masuknya berbagai kuman ke dalam tubuh dan
merupakan salah satu cara efektif penularan HIV/ AIDS. Maka sejak zaman Nabi-nabi
terdahulu, seperti di zaman Nabi Nuh a.s atau di zaman Nabi Luth a.s perilaku sodomi ini
sudah diharamkan untuk dilakukan untuk ummat-ummat di zaman tersebut. Juga di
zaman Nabi Musa a.s dan di zaman Nabi Isa a.s sebagai nabi-nabi yang diturunkan di
tengah-tengah orang-orang Yahudi. Namun, anehnya tradisi seks anal ini justru masih
eksis dilakukan hingga hari ini oleh orang-orang Yahudi.
Di dalam pandangan Islam, hubungan intim antara suami isteri adalah sebuah
bentuk hubungan yang tidak hanya pro-kreasi (reproduksi) tetapi juga pro-fun. Sehingga,
diberikan kebebasan untuk melakukannya dengan cara-cara yang mereka sukai.
Kebolehannya dapat kita lakukan di dalam gaya bahasa analogi, bahwa hubungan intim
itu seperti orang yang menanami sawahnya.


Artinya: isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka
datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.
dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan
ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira
orang-orang yang beriman {Q.S. Al Baqarah:223}

Namun demikian, di dalam berhubungan suami-isteri tetap harus dilakukan


dengan tata cara yang baik, meskipun berdasarkan ayat di atas diberikan kebebasan.
Namun tetap ada batasan-batasan yang harus dijaga. Hal-hal yang harus dijaga itu
meliputi etika, misal diharamkan masing-masing pasangan menceritakan rahasia
hubungan suami-isterinya kepada orang lain (rahasia kamar pengantin jangan sampai
terdengar kepada orang lain). Demikian juga dengan melakukan anal seks adalah sebuah
perilaku yang buruk dan menyerupai (tasyabuh) kebiasaan orang-orang Yahudi.
Sehingga, anal seks sendiri termasuk perbuatan yang diharamkan untuk dilakukan. Dari
madzhab yang empat (Maliki, Syafiie, Hambali dan Hanafi) bersepakat bahwa melakukan
hubungan seks-anal (sodomi) adalah perbuatan menyimpang dan melampaui batas.

Elearning Pendidikan Klinik Stase Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


JL. Kaliurang Km. 14,5 Sleman Yogyakarta 55584 Tel: 0274 - 898444 ext 2097 | Fax: + 2007
http://www.medicine.uii.ac.id/ | Email: humas@fk.uii.ac.id


Artinya : dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka
Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di
balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. {Q.S: AlMuminun:5-7}
Ayat: Famanibtagha waroa dzalika faula ika humul adun (barangsiapa mencari
yang dibalik itu. Maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas) adalah daliel
yang menunjukkan kepada keharaman berbagai perilaku seks yang menyimpang seperti
onani/masturbasi, zinah dan termasuk juga kegiatan sodomi baik yang dilakukan oleh
para homo-seks/lesbi atau pasangan normal namun perilaku seksnya tidak normal,
yakni menyukai kegiatan sodomi tersebut.
Daliel berikutnya adalah kaidah:
Darul mafasid awla min jalbil masolih (Menghindari yang mungkar jauh lebih
penting daripada mengambil yang maslahat).
Dari daliel akli berdasarkan riset ilmu kedokteran bahwa perilaku sodomi itu sendiri
merusak, tidak bermanfaat dan membuka ruang potensi penyakit kelamin yang beragam
dan kompleks. Sehingga, dengan demikian tidak melakukan sodomi sama dengan
menghindari kemungkaran yang lebih besar. Maka setiap muslim yang baik, berkewajiban
untuk menghindari perilaku anal-seks atau sodomi ini. Kesempurnaan iman seseorang,
harus didukung dengan fondasi perilaku seksual yang benar dan sehat sesuai tuntunan
syariat. Tanpa itu semua, maka kita hanya menjadi orang-orang munafik yang terus
bergerak ke arah yang menyimpang. Wallahu Alamu Bishawwab

Elearning Pendidikan Klinik Stase Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


JL. Kaliurang Km. 14,5 Sleman Yogyakarta 55584 Tel: 0274 - 898444 ext 2097 | Fax: + 2007
http://www.medicine.uii.ac.id/ | Email: humas@fk.uii.ac.id

DAFTAR PUSTAKA

Abdushshamad, M.K. Mukjizat Ilmiah dalam Al Quran. Akbar Media Eka Sarana. 2002
Al Asyhar, T.2004. Fiqih Gaul. Be The New You. P.T. Syaamil Cipta Media. Bandung
Al Bukhary, Al Iman Muhammad. 2010. Shahih Al- Bukhari. Prilaku Kehidupan Rasulullah
SAW. Pustaka Adil. Surabaya
Almath, M.F. Qobasun Min Nuri Muhammad. 1974 (edisi bahasa Indonesia)
Asy syarawi, M.M., 1995. Anda Bertanya Islam Menjawab Jilid 1-5. Gema Insani Press.
Jakarta
Dahlan, A.R,2010. Ushul Fiqh. Edisi 1. Amzah. Jakarta
Kessler, J., Dillon, J. The Demographics of Abortion. The Great Divide Between Abortion
Rhetoric and Abortion Reality. Third Way Issues Brief. August 30,2005
Payande, Abulghasim. 2011. Nahjul Fashahah. Ensiklopedi Hadis Masterpiece
Muhammad SAW (edisi terjemahan). Pustaka Iman. Jakarta
Pernoll,M.L. 2001. Benson & Pernollss Handbook of Obstetrics & Gynecology.10th
edition. McGraw-Hill.
Quran Karim dan Terjemahan Artinya. UII Press
Wilopo, S.A. 2005. Makalah Kunci. Seminar Kita Selamatkan remaja dari Aborsi dalam
Rangka Pemantapan Keluarga Berkualitas 2015. Medan 11 April 2005.
Yasin, N. 2008. Fikih Kedokteran (edisi Terjemahan). Pustaka Al Kautsar. Jakarta

Elearning Pendidikan Klinik Stase Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM)

Anda mungkin juga menyukai