Anda di halaman 1dari 23

PRESENTASI KASUS

EFUSI PLEURA et causa TB PARU

Oleh:
Primarini Kusuma Dewi A.

(110.2009.218)

Muhammad Taufiq Harahap

(110.2009.191)

Pembimbing:
dr. Ani Ariani, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BEKASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat Rahmat dan KaruniaNya saya dapat menyelesaikan tugas penyusunan presentasi kasus yang berjudul EFUSI
PLEURA ET CAUSA TB PARU.
Adapun referat ini dibuat untuk memenuhi syarat Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan
Anak Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Jakarta yang dilaksanakan di RSUD Kabupaten
Bekasi.
Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada dr. Ani Ariani, Sp.A selaku pembimbing,
yang telah membimbing dalam penyelesaian referat ini serta pihak yang secara langsung
maupun tidak langsung membantu dalam penyusunan referat ini.
Akhir kata bila ada kekurangan dalam pembuatan referat ini saya mohon kritik
dansaran yang bersifat membangun menuju kesempurnaan dengan berharap referat ini
bermanfaat bagi pembacanya.

Cibitung, December 2013

Penyusun

TINJAUAN PUSTAKA

I.

EFUSI PLEURA

Definisi
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura.
Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit primer
jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan
jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus. 1,4Efusi
pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan
visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan
penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung
sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan
permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi.4

Gambar

2.1 Anatomi Rongga Pleura

Gambar 2.2 Anatomi Rongga Pleura (Mikro)

Etiologi
Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada
dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium) dan
sindroma vena kava superior.4Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberculosis,
pneumonia, virus), bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura,
karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena
tuberculosis.4Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik,
tromboembolik, kardiovaskuler, dan infeksi. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat
mekanisme dasar :4

Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik

Penurunan tekanan osmotic koloid darah

Peningkatan tekanan negative intrapleural

Adanya inflamasi atau neoplastik pleura

Penyebab lain dari efusi pleura adalah:

Gagal Jantung

Kriptokokosis

Kadar protein yang rendah

Abses dibawah diafragma

Sirosis

Artritis rematoid

Pneumonia

Pankreatitis

Blastomikosis

Emboli paru

Koksidioidomikosis

Tumor

Tuberkulosis

Lupus eritematosus sistemik

Histoplasmosis

Pada anak-anak, efusi parapneumonik akibat infeksi dari pneumonia adalah penyebab

utama dan umum dari efusi pleura.Ada tiga tingkatan/tahap yang berhubungan dengan efusi
parapneumonik yang mungkin saling tumpang tindih. Tahap eksudatif (tahap efusi tanpa
komplikasi), tahap fibropurulent (tahap mulai masuknya kuman/bakteri) dan tahap organisasi
(tahap ketiga menuju empyema).5

Tabel 1. Penyebab umum efusi pleura pada anak-anak

c. Tanda dan Gejala

Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan, setelah

cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak, penderita akan sesak napas. Pada
anak masalah pernapasan adalah hal yang paling sering dikeluhkan.Apabila dihubungkan
dengan penyebabnya berupa pneumonia maka gejala yang muncul adalah batuk, demam,
sesak nafas, menggigil. Apabila penyebabnya bukan pneumonia, maka gejala pada anak
mungkin tidak ditemukan sampai efusi yang timbul telah mencukupi untuk menimbulkan
gejala sesak nafas atau kesulitan bernafas.4,5

Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri dada

pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat, batuk,
banyak riak. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi
penumpukan cairan pleural yang signifikan.4Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan
duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang
bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah

pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis
Damoiseu).5

Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas

garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong
mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan
ronki.4

Patofisiologi

Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh

permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura
parietalis karena adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sebagian
cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (1020%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter
seharinya.5

Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila

keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat
inflamasi, perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal
jantung).Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat
pleura.Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai
peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang
menurun. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar
langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga
mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau
nihil sehingga berat jenisnya rendah.5

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan didapati menghilangnya

sudut kostofrenik. Bila cairan lebih 300ml, akan tampak cairan dengan permukaan
melengkung. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum. 4Torakosentesis / pungsi pleura
untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis.Pungsi pleura

diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada sela iga ke-8.Didapati cairan yang
mungkin serosa (serotorak), berdarah (hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks).
Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang).4

Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, basil tahan asam

(untuk TBC), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase,
laktat dehidrogenase (LDH), protein), analisis sitologi untuk sel-sel malignan, dan pH. 4Pada
pemeriksaan fisik, dengan bantuan

stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara

pernafasan. Untuk membantu memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan berikut:

Rontgen dada

Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk

mendiagnosis efusi pleura, yang hasilnya menunjukkan adanya cairan.

Gambar 2.3 Gambaran radiologis efusi pleura daerah hemitoraks kanan

CT-Scan dada

CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan

adanya pneumonia, abses paru atau tumor.

Gambar 2.4 CT-Scan menunjukkan adanya akumulasi cairan sebelah kanan

USG dada

USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya

sedikit, sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.

Gambar 2.5 USG Efusi pleura dengan celah yang multipel

Torakosentesis
Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan

pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan


cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada
dibawah pengaruh pembiusan lokal).6 Pada orang dewasa, torakosentesis

sebaiknya

dilakukan pada setiap pasien dengan efusi pleura yang sedang-berat, namun pada anak-anak
tidak

semuanya

memerlukan

torakosentesis

sebagai

prosedur

yang

sama.

Efusi

parapneumonik yang dihubungkan dengan sudut costoprenicus yang tumpul minimal tidak
seharusnya mendapat prosedur torakosentesis.5

Torakosentesis atau penyaluran saluran dada (chest tube drainage) dianjurkan pada

pasien anak-anak yang memiliki demam menetap, toksisitas, organism tertentu (misalnya
S.aereus atau pneumococcus), nyeri pleura, kesulitan dalam bernafas, pergeseran
mediastinum, gangguan pernafasan yang membahayakan.Chest tube drainage semestinya

segera dilakukan apabila dari hasil analisa cairan pleura menunjukkan pH kurang dari 7,2
kadar glukosa < 40mg/dl dan kadar LDH lebih dari 1000 U/mL.5

Biopsi

Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka dilakukan

biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa.Pada sekitar 20%
penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, penyebab dari efusi pleura
tetap tidak dapat ditentukan.5Pada anak dilakukan apabila peradangan efusi pleura tidak bisa
dijelaskan.Teknik ini memiliki peran yang terbatas pada anak-anak namun memiliki
kepentingan yang besar dalam membedakan TB atau keganasan. Yang menjadi komplikasi
utama adalah pneumotoraks dan perdarahan.6

Analisa cairan pleura

Tabel 2. Perbedaan Transudat dan Eksudat

Bronkoskopi

Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang

terkumpul.

Terapi

yang

Kebanyakan pasien anak-anak yang memiliki efusi parapneumonik memberikan respon


baik

dengan

pemberian

terapi

antibiotic

sehingga

tidak

memerlukan

torakostomi.Pengobatan empyema (efusi parapneumonik yang telah mengalami komplikasi)


pada anak dimulai dengan terapi konservatif.Pemberian awal terapi antibiotic didasari pada
infeksi penyebab yang mendasarinya dan pengurasan/pengeluaran cairan yang terinfeksi
dengan torakosentesis atau torakostomi tertutup.

Tabel 3 Antibiotik pilihan sesuai dengan kuman penyebab

Antibiotik harusnya dipilih untuk mengatasi kebanyakan dari kuman penyebab

pneumonia pada kelompok usia anak-anak. Sampai kondisi sebenarnya telah tegak didiagnosa,
pemberian antibiotic spectrum luas diperbolehkan/dibenarkan untuk mengurangi angka
kematian yang tinggi dan kesakitan yang berhubungan dengan empyema.Antibiotic secara
intravena harus diteruskan sampai kondisi anak bebas demam setidaknya 7-10 hari, telah bebas
dari penggunaan oksigen dan tidak lagi terlihat sakit. Antibiotic secara oral kemudian diberikan
selama 1-3 minggu.5

Drainage atau pengurasan dari empyema mencegah dari perkembangan lokulasi dan

pengelupasan jaringan fibrotic. Lebih lanjut dari tahap kedua penyakit, pengurasan akan
menjadi kurang efektif. Apakah seluruh empyema membutuhkan pengurasan masih menjadi hal
yang controversial, tidak ada data yang dengan jelas menggambarkan penggunaannya pada
anak-anak. Keseluruhannya, torakostomi dengan pipa tertutup yang segera sebaiknya menjadi
pertimbangan yang kuat dengan indikasi :
pH cairan pleura kurang dari 7,2 atau lebih dari 0,05 unit dibawah pH arterial
glukosa cairan pleura kurang dari 40 mg/dL (2,2 mmol/L)
LDH cairan pleura lebih besar dari 1,000 U/L
Adanya pus yang terus-menerus
Terkontaminasi gram positif
Sepsis oleh karena S.aereus atau H.influenzae

Saat pengurasan cairan dengan pipa di dada mencapai kurang dari 30-50 ml/L dan tingkat
konstitusional pasien mengalami perbaikan, pipa di dada bisa dilepaskan.Pengobatan untuk
lokulasi efusi parapenumonik (khususnya tahap 2 dan 3) atau anak-anak yang masih ada
demam, sakit/sedih, dan kehilangan nafsu makan beberapa hari setelah terapi antibiotic secara
intravena jauh bervariasi.

Terapi efektif lainnya yang sedang diperkenalkan adalah streptokinase (SK) atau

urokinase (UK) ke dalam rongga empyema, yang telah menunjukkan mengurangi/mengecilkan


perlekatan/adhesi, meningkatkan pengurasan, dan memutus gejala.SK adalah protein turunan
bakteri yang aktifitas tidak langsungnya di system fibrinolisis. Masalah yang ikut menyertai
pengobatan ini adalah reaksi alergi dan neutralisasi antibody terhadap SK. Secara umum
pemberian SK adalah efektif dan aman, dan bisa membantu menyingkirkan kemungkinan
operasi/pembedahan pada kebanyakan kasus. Kombinasi dari terapi mesti diberikan seawall
mungkin setelah diganosa efusi parapneumonik ditegakkan.8

UK adalah aktifator plasminogen langsung.Tidak seperti SK, pada UK ada satu per satu

hubungan dari produksi plasmin dari setiap molekul UK, membuatnya penggunaannya semakin
efisien.UK bukan antigen.Beberapa penelitian mencatatkan penyelesaian yang lengkap dari
pengambilan cairan dengan lokulasi yang menetap dengan mengikuti pemasukan UK ke dalam
pipa dada.Tidak ada komplikasi yang dilaporkan baik pada kedua seri. Indikasi dasar untuk UK
pada efusi pleura termasuk :lokus yang multiple (banyak), sesuai yang digambarkan oleh USG
atau Ct-Scan,dugaan lokus multiple, sesuai dengan indikasi melalui pengurasan dengan hasil
yang kurang seperti diharapkan.

Kontraindikasi yang relative untuk penggunaan UK termasuk diantaranya adalah

perdarahan aktif, pembedahan beberapa waktu terakhir dan kehamilan.Dosis yang diberikan
bervariasi dari 20.000-100.000 U ke dalam pipa dada dicampur dengan larutan normal saline
(20-100 mL), dosis optimal belum dapat ditentukan.Setelah pemasukan UK, pipa dada ditutup
selama 1-2 jam, pasien didoronng untuk mengubah-ubah posisi agar larutan terdistribusi
merata. Pemberian UK mungkin bisa diulang sebanyak 2-3 kali dalam 2-3 hari.8

Karena penanganan empyema, khususnya pada tahap kedua dan ketiga masih menjadi

controversial, beberapa diantaranya menyarankan penggunaan bedah lebih awal, seperti Video
Assisted Thoracoscopy (VATS) atau thorakoskopi dengan bantuan video, dengan pembuangan
perlekatan pada jaringan pleura. Pendekatan seperti ini harus disesuaikan dengan tahapan

penyakit, pathogen penyebab, respon terhadap pemberian terapi awal dan derajat terjebaknya
paru.

Pada fibropurulent yang lama dan tahap organisasi, pengurasan pleura berkepanjangan

tidak mencukupi.Jika pasien masih memiliki kesulitan dalam bernafas, demam sehari-hari, dan
leukositosis yang menetap sesuai pemberian terapi antibiotic, VATS sebaiknya patut untuk
dipertimbangkan. Saat empyema mencapai tahap organisasi, ada sedikit kebebasan untuk tidak
melakukan prosedur.6

VATS harus dipertimbangkan bagi anak-anak yang telah dipilih dengan efusi

parapneumonik

atau

empyema

yang

gejala

klinisnya

tidak

mengalami

perbaikan,

terperangkapnya paru berat, atau empyema yang disebabkan oleh infeksi bakteri selain dari
S.aereus.USG atau CT-Scan yang menunjukkan lokus multiple atau perlekatan pleura yang luas
dan terperangkapnya paru menyarankan agar penggunaan VATS lebih cepat. Secara umum,
pembedahan seharusnya tidak dilakukan pada anak-anak selain daripada alasan sepsis pleura
yang menetap karena perbaikan klinis, fungsi system pernafasan dan radiografi yang tidak
normal terutama pada populasi anak-anak.5

Dalam laporan terbaru yang membanding penggunaan terapi empyema dengan

pengurasan, fibrinolisis atau pembedahan dalam hal ini menggunakan VATS, penggunaan
VATS dinyatakan sebagai terapi terbaik dalam menangani empyema

karena membantu

mengurangi length of stay (waktu rawat pasien).

Prognosis

Anak-anak yang memiliki efusi parapneumonik tanpa komplikasi memberikan respon

yang baik dengan penanganan yang konservatif tanpa tampak sisa kerusakan paru.Virus dan
mikoplasma penyebab penyakit pleura secara umum sembuh spontan.Pasien dengan empyema
memerlukan perawatan yang lebih lama di Rumah Sakit.Secara nyata tidak ada kematian yang
muncul dengan terapi yang benar. Kasus kematian rata-rata 3-6% telah dilaporkan pada
beberapa seri saat ini, dengan angka tertinggi muncul diantara bayi usia kurang dari 1 tahun.

STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN
Nama
: An. Susi Susanti
Usia
: 11 tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir
: Bekasi, 24/01/2002
Alamat
: Kp. Kebon Kopi Rt. 003/006 Cibarusah Jaya Bekasi
Agama
: Islam
Tanggal masuk
: 20 November 2013
Tanggal keluar
: 25 November 2013

IDENTITAS ORANG TUA

Nama

Tn. D

Ny. S

Umur

42 tahun

38 tahun

sekarang

Pertama

Pertama

Perkawinan

SMA

SMP

ke

Wiraswasta

Ibu

Pendidikan

Islam

Sunda

Islam

Sunda

terakhir

Pekerjaan

Pangkat

Agama

Suku bangsa

Rumah

Tangga

ANAMNESIS
Alloanamnesis dari ibu pasien
Keluhan Utama:
Demam sejak 3 hari yang lalu

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien datang ke Poliklinik Anak RSUD Kabupaten Bekasi pada

tanggal 18-11-2013 bersama dengan orang tuanya, dengan keluhan demam yang
memburuk sejak 3 hari yang lalu. Demam telah dirasakan sejak 2 minggu yang
lalu dan hilang timbul. Demam hanya menurun bila diberikan obat penurun panas.
Demam tidak disertai dengan mengigil, tidak mual, tidak muntah, kesadaran tidak
menurun, tidak mengigau, tidak kejang dan tidak sesak nafas.

Keluhan disertai dengan batuk kering sejak 2 minggu yang lalu.

Batuk tidak ada darah dan tidak ada sesak bila berbaring. Selain batuk, pasien
juga mengeluhkan nafsu makan berkurang, sakit di punggung sejak 1 minggu
yang lalu, dan menurut ibu pasien berat badan pasien mengalami penurunan sejak
sakit (sekitar 2-3kg). Buang air besar konsistensi padat, tidak ada darah atau
lendir, warna kuning kecoklatan dan buang air kecil 4-5x per hari dengan warna
kuning jernih.

Pasien melakukan Tes Mantoux pada tanggal (18-11-2013), dan

hasilnya keluar pada tanggal 20-11-2013, dengan hasil negatif. Pasien juga sudah

menjalani pemeriksaan Rontgen dada, dan didapatkan hasilnya TB Paru dengan


Efusi Pleura Sinistra.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

a. Riwayat minum OAT disangkal


b. Riwayat kencing manis disangkal

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Adik pasien yang tinggal dirumah bersama pasien pernah menderita TB paru BTA
(+) pada tahun 2011 dan sudah mendapat pengobatan selama 6 bulan dan dikatakan
sembuh.
RIWAYAT LINGKUNGAN
Pasien tinggal dirumah bersama orang tua dengan lingkungan rumah yang
sederhana, keterbatasan air bersih dan penerangan yang cukup.
RIWAYAT KEHAMILAN

Perawatan Antenatal

Penyakit selama Kehamilan : Tidak ada

: Teratur setiap bulan

RIWAYAT PERSALINAN

Tempat Kelahiran

Ditolong oleh : Bidan

Cara persalinan

Masa Gestasi : Cukup Bulan (9 bulan)

Trauma

Keadaan Saat Lahir

: Rumah Bidan

: Spontan

: Tidak ada

Nilai APGAR

Berat badan Lahir

Panjang Badan Lahir : 49 cm

Lingkar Kepala

: Tidak tahu

Menangis

: Langsung Menangis

Gerakan

: Aktif

RIWAYAT IMUNISASI

: Tidak tahu
: 3100 gram

Pasien tidak pernah imunisasi.

RIWAYAT MAKANAN

0 6 bulan

: ASI eksklusif

6 bln 12 bln

: susu formula +bubur saring

12 bln 2 thn

: susu formula + makanan lunak

2 thn sekarang

: nasi dengan lauk pauk

PEMERIKSAAN FISIK

Dilakukan pada tanggal 21 November 2013

Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda Vital

Tensi

: 100/70 mmHg

Nadi

: 100 kali/menit

Suhu

: 36,5 C

Respirasi

: 24 kali/menit

Data Antropometri

Berat Badan

Tinggi Badan : 130 cm

Status Gizi

: 22,8 Kg

: BB/TB x 100% = Normal (terlampir)

Status Generalis
Kepala

Normocephal, rambut hitam, distribusi


merata, tidak rontok
Eksoftalmus dan endoftalmus (-), edema
palpebra (-), konjungtiva palpebra pucat

Mata

(-), sklera ikterik (-), pupil isokor, reflek


cahaya normal, pergerakan mata kesegala

Telinga

arah baik.
Tophi (-),

nyeri

tekan

processus

mastoideus (-), pendengaran baik.


Bagian luar tidak ada kelainan, septum dan
tulang-tulang dalam perabaan baik, tidak

Hidung

ditemukan

penyumbatan

maupun

perdarahan, pernapasan cuping hidung


(-).
Tonsil tidak ada pembesaran, pucat pada
lidah (-), atrofi papil (-), gusi berdarah
Mulut

(-), stomatitis (-), rhagaden (-), bau


pernapasan khas (-), faring tidak ada

Gigi-Geligi

kelainan.
Karies (-)

Bentuk tidak ada kelainan, pembesaran


Leher

KGB (-). Trakea di tengah, kaku kuduk


(-)
Jantu

ng
Inspek

Pulsasi Iktus cordis tampak

si
Palpas

Teraba pulsasi iktus cordis di sela iga V

linea midclavicula sinistra


Batas jantung kanan pada sela iga V linea

sternalis dextra

Batas jantung kiri pada sela iga V satu jari di


Perkus
i

Thorax

Ausku

parasternalis sinistra
BJ I BJ II reguler murni, gallop (-),

ltasi
Paru
Inspek

Bentuk dada simetris dalam keadaan statis

si
Palpas

dan dinamis
Fremitus taktil dan vokal kanan > kiri

i
Perkus

Sonor pada lapangan paru kanan, redup

Abdome

depan linea midclavicula sinistra


Batas pinggang jantung pada sela iga III linea

murmur (-)

pada lapangan paru kiri


Vesikuler (+) normal pada paru kanan,

Ausku

vesikuler (+) melemah pada paru kiri,

ltasi

wheezing (-),ronkhi basah sedang pada

Inspek

lapangan paru kiri.


Datar, tidak ada pembesaran,

si
Ausku

meduase (-), venektasi (-)


Bising usus (+) normal

ltasi
Perkus

Timpani, shifting dullness (-)

i
Palpas

Supel, turgor kulit cukup, hepar tdak

caput

teraba membesar, konsistensi kenyal dan


permukaan rata, limpa tidak teraba

membesar, balotement ginjal tidak ada,


defens muskular tidak ada.
dekstra dan sinistra
tidak
Superi
Ekstremi

deformitas, tidak ada edema, akral

or

hangat, gerakan aktif, normotonus, tidak

tas
Inferio
r

sianosis, refleks fisiologis (+) normal.


tidak ada edema, akral hangat, gerakan
aktif, refleks fisiologis (+) normal.
Warna sawo matang, turgor kulit cepat

Kulit

kembali, capillary refill < 2 detik.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium tanggal 18 November 2013
Hematologi
Haemoglobin

: 9,5 g/dl

Hematokrit : 26 vol%
LED

Eosinofil

(12-16 g/dl)

(35-50 vol%)

: 40 mm/jam (P: <10; W: <20)

Basofil

:0
:1

Batang

(0-0)
(0-3)

:1

(2-6)

Segmen

: 80

(50-70)

Limfosit

: 17

(20-40)

Monosit

:1

(2-8)

Eritrosit

: 3,1 / l

(4,8-6,2 juta/lpb)

Leukosit

: 7500 / l

(3500-10000/mm)

Trombosit : 468.000/ l (150.000-390.000/mm3)

tampak

Pemeriksaan Radiologi Foto Thorax pada tanggal

Jantung tidak membesar


Aorta dan Mediastinum superior tidak melebar
Trachea di tengah, hilus tidak menebal
Terdapat infiltrat di kedua lapang paru
Kesuraman di lateral hemithoraks kiri
sinus kostofrenikus sinistra tumpul
Tulang dan jaringan lunak baik

Kesan: TB Paru dengan Efusi Pleura

RESUME

Telah diperiksa seorang anak perempuan berusia 14 tahun dengan

keluhan demam sejak 3 hari yang lalu. Demam timbul perlahan dan menetap
sepanjang harinya. Keluhan disertai dengan batuk kering sejak 1 minggu yang,
nafsu makan berkurang, sakit di punggung sejak 1 minggu yang lalu, dan menurut
ibu pasien berat badan pasien mengalami penurunan sejak sakit (sekitar 2-3kg).
Buang air besar konsistensi padat dan buang air kecil 4-5x per hari dengan warna
kuning jernih.

Pada pemeriksaan fisik didapati keadaan umum tampak sakit sedang,

kesadaran compos mentis, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 100 kali/menit,
respirasi 24 kali/menit, suhu 36,5 C, status gizi baik. Pada pemeriksaan palpasi
paru didapatkan fremitus taktil dan vokal kanan > kiri, perkusi paru redup pada
lapangan paru kiri, dan terdapat ronkhi basah sedang pada lapangan paru kiri.

Pada pemeriksaan hematologi didapatkan Haemoglobin: 9,5 g/dl,

Hematokrit: 26 vol%, LED: 40 mm/jam, Eritrosit: 3,1 / l, Leukosit: 7500 / l,


Trombosit: 468.000/ l (150.000-390.000/mm3). Dari hasil pemeriksaan Rontgen
dada, didapatkan infiltrat di kedua lapang paru, dan sinus kostofrenikus sinistra
hasilnya TB Paru dengan Efusi Pleura Sinistra.

DIAGNOSIS KERJA
Efusi Pleura et causa TB paru

USULAN PEMERIKSAAN
Kultur darah, Kultur Urin, Kultur Sputum, Analisis Cairan Pleura

PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa :

- O2 1 liter/menit
- IVFD KAEN 3A 12 tpm
- Cefotaxime 2 x750 mg (i.v)
- Gentamycine 2 x 50 mg (i.v)
- Isoniazide 1 x 200 mg
- Rifampicin 1 x 300 mg
- Pirazinamide 2 x 200 mg
- Prednisone
PROGNOSIS

Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam

: ad bonam

Quo ad Sanationam

: ad bonam

DAFTAR PUSTAKA

Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyano DB. Buku Ajar Respirologi Anak. 1 st ed.
Jakarta:Badan Penerbit IDAI. 2008.

Hardiono, dkk. 2005. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak.Ed.I. 2004. Jakarta:
Badan Penerbit IDAI.

Werdhani, Retno A. Patofisiologi, Diagnosis, dan Klasifikasi Tuberkulosis. Jakarta:


Departemen Ilmu kedokteran Komunitas, Okupasi, dan Keluarga FKUI.2002.

Garna. H, Melinda. H, Rahayuningsih. S.E. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi


Ilmu Kesehatan Anak Edisi ke-3. Bandung : Fakultas Kedokteran Universitas
Padjajaran.

Mansjoer, Arief M. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi Ke-3. Jakarta:
Media Aesculapius

PP Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2005. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak.


Jakarta