Anda di halaman 1dari 23

RESPIRATORY DISTRESS

SYNDROME (RDS)
Oleh: Primarini Kusuma Dewi A.
(110.2009.218)
Pembimbing: dr. Natalina S, Sp.A

PENDAHULUAN
Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut
juga Hyaline Membrane Disease (HMD),
merupakan
sindrom
gawat
napas
yang
disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada
bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang.
Angka kejadian berhubungan dengan umur
gestasi dan berat badan. Persentase kejadian
menurut usia kehamilan adalah 60-80% terjadi
pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan
kurang dari 28 minggu; 15-30% pada bayi
antara 32-36 minggu dan jarang sekali
ditemukan pada bayi yang cukup bulan.

DEFINISI
RDS gangguan napas pada bayi baru lahir yang
terjadi segera atau beberapa saat setelah lahir
dan menetap atau menjadi progresif dalam 48-96
jam pertama kehidupan dan hampir sebagian
besar terjadi pada Bayi Kurang Bulan, yang masa
gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat
kurang dari 2500 gram.

ETIOLOGI
kekurangan surfaktan, suatu zat aktif
pada alveoli yang mencegah kolaps paru. RDS
seringkali terjadi pada bayi prematur

PATOFISIOLOGI

MANIFESTASI KLINIS

Takipnea
grunting,
retraksi intercostal dan subcostal
pernafasan cuping hidung
Sianosis meningkat, yang biasanya tidak
responsif terhadap oksigen
Pada inspirasi dalam dapat terdengar ronkhi
basah halus, terutama pada basis paru
posterior.

KLASIFIKASI

Gangguan Nafas Berat


Gangguan Nafas Sedang
Gangguan Nafas Ringan

FAKTOR RISIKO

Bayi kurang bulan (BKB)


Kegawatan neonatal
Bayi dari ibu diabetes mellitus
Bayi lahir dengan operasi sesar
Bayi yang lahir dari ibu yang menderita
demam, ketuban pecah dini dapat terjadi
pneumonia bakterialis atau sepsis
Bayi dengan kulit berwarna seperti mekonium

DIAGNOSIS

Tabel Silverman Score

Pemeriksaan Penunjang

Foto Thoraks

Terdapat 4 Derajat :

Derajat 1 (ringan): kadang normal atau gambaran


retikulogranuler, homogen,tidak ada air bronchogram.

Derajat 2 (ringan-sedang):
1 + air bronchogram. Gambaran
air bronchogram yang menonjol
menunjukkan bronkiolus yang menutup
latar belakang alveoli yang kolaps

Pemeriksaan Penunjuang (lanjutan)


Derajat 3 (sedangberat): 2 + batas
jantung-paru kabur

Derajat 4 (berat): 3 +
white lung

Laboratorium

Darah
Analisis gas darah (PaO2 kurang dari 50 mmHg,
PaCO2 kurang dari 60 mmHg, saturasi oksigen
92% 94%, pH 7,31 7,45)
Rasio lesitin/sfingomielin (L/S ratio <2:1).
Shake test (tes kocok)

TATALAKSANA
Manajemen Spesifik Untuk Gangguan
Nafas
Gangguan Napas Sedang
Memberian O2 2-3 liter/menit dengan kateter
nasal, bila masih sesak dapat diberikan O2 4-5
liter/menit dengan sungkup
Bayi jangan diberikan minum (di puasakan).
Berikan antibiotika (ampisilin dan gentamisin)
untuk terapi kemungkinan besar sepsis

Gangguan Napas Ringan

Transient Tachypnea of the Newborn (TTN),


Terutama terjadi pada bayi aterm setelah bedah
sesar. Biasanya kondisi tersebut akan membaik
dan sembuh sendiri tanpa pengobatan. Langkah
langkah pengobatan :
1. Amati pernapasan bayi setiap 2 jam selama 6
jam. Bila dalam pengamatan gangguan napas
memburuk atau timbul gejala sepsis lainnya,
terapi untuk kemungkinan besar sepsis.

2. Berikan ASI bila bayi mampu mengisap. Bila tidak,


berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu
cara alternatif pemberian minum.
3. Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada
perbaikan gangguan napas. Hentikan pemberian O2
jika frekuensi napas antara 30 60 kali/menit.
4. Amati bayi selama 24 jam berikutnya, jika frekuensi
napas menetap antara 30-60 kali/menit, tidak ada
tanda-tanda sepsis, dan tidak ada masalah lain yang
memerlukan perawatan, bayi dapat dipulangkan.

Gangguan Napas Berat :


Siapkan rujukan ke RS Rujukan
Stabilisasi sebelum merujuk
Rujukan disertai petugas yg mahir resusitasi
Perhatikan Jalan napas dan Oksigenasi selama
transportasi

TERAPI
1. Ventilasi
Ventilator Mekanik

- CPAP (Continuous Positive Airway


Pressure )

Ventilator Konvensional
- Peak Inspiratory Pressure (PIP)
- Positive End Expiratory Pressure (PEEP)
- Frekuensi
- Kecepatan aliran

2. Sirkulasi
3. Koreksi asidosis metabolik
4. Jaga kehangatan suhu bayi sekitar 36,5C
36,8C (suhu aksiler) untuk mencegah
vasokonstriksi perifer
5. Langkah selanjutnya untuk mencari
penyebab distres respirasi
6. Terapi pemberian surfaktan

KOMPLIKASI

Patent Ductus Arteriosus


Hemorrhagic Pulmonary Edema
Pulmonary Interstitial Emphysema (PIE)
Infeksi
Perdarahan intracranial dan
leukomalasia periventrikuler

PROGNOSA

Sangat bergantung pada berat badan lahir


dan usia gestasi (berbanding terbalik dengan
kemungkinan timbulnya penyulit). Prognosis
baik bila gangguan napas akut dan tidak
berhubungan dengan keadaan hipoksemi
yang lama.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kosim MS. Gangguan Napas Pada Bayi Baru Lahir. Dalam : Kosain MS, Yunanto
Ari, Dewi Rizalya,penyunting. Buku Ajar Neonatologi IDAI 2012 Edisi Pertama.
Jakarta : IDAI, 2012.h.126-145
2. Djojodibroto, Darmanto.2009. Respirology [Respiratosy Medicine]. Jakarta:EGC
3. Hasgur Y. Askep Respiratori Distres Sindrom. Diunduh dari :
http//hasgurstika.blogspot.com/2011/02/askep-respiratori-distres-sindrom.html
4.Davis MA. Respiratory disorders of the newborn. Diunduh dari URL:
http//www.Respiratory Disorders of the Newborn Library Med.htm
5. respiratory-distress-syndrome-rds.html
6. Schematic outlines the pathology of respiratory distress syndrome (RDS).
Diunduh dari URL: http://blog.daum.net
7. Penyakit Membran Hialin. Pusponegoro HD, Hadinegoro SR, Firmanda D,
penyunting. Dalam Standar Pelayanan Medis Kecehatan Anak Edisi I 2004. Badan
Penerbit IDAI.
8. McClure PC. Hyaline Membrane Disease Imaging. Diunduh dari URL :
http://emedicine.medscape.com/article/409409-overview#01
9. http://www.scribd.com/doc/186686333/Laporan-Kasus-g3-Nafas
10. Nataprawira HM. Garna Herry Ed. Penyakit Membran Hialin (PMH) (Hyalin
Membran Disease). Dalam : Pedoman Diagnosis dan Terapi. Bandung : IKA
Universitas Padjajaran Dr. Hasan Sadikin, 2005.h.91-93