Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Haemorragic Postpartum atau perdarahan pasca persalinan adalah
perdarahan lebih dari 500 600 ml selama 24 jam setelah anak lahir.
Perdarahan postpartum adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari 500 600
cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir.
Haemoragic Post Partum( HPP ) adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml
dalam 24 jam pertama setelah lahirnya bayi. Normalnya, perdarahan dari
tempat plasenta terutama dikontrol oleh kontraksi dan retraksi anyaman seratserat otot serta agregasi trombosit dan trombus fibrin di dalam pembuluh
darah desidua. Perdarahan postpartum dibagi atas dua bagian yaitu perdarahan
postpartum dini dan lanjut. Perdarahan postpartum dini adalah perdarahan
yang berlebihan selama 24 jam pertama setelah kala tiga persalinan selesai,
sedangkan perdarahan postpartum lanjut adalah perdarahan yang berlebihan
selama masa nifas, termasuk periode 24 jam pertama setelah kala tiga
persalinan selesai.
Di Indonesia, Sebagian besar persalinan terjadi tidak di rumah sakit,
sehingga sering pasien yang bersalin di luar kemudian terjadi perdarahan post
partum

terlambat

sampai

ke

rumah

sakit,

saat

datang

keadaan

umum/hemodinamiknya sudah memburuk, akibatnya mortalitas tinggi.


Menurut Depkes RI, kematian ibu di Indonesia (2002) adalah 650 ibu tiap
100.000 kelahiran hidup dan 43% dari angka tersebut disebabkan oleh
perdarahan post partum.HPP adalah perdarahan yang masif yang berasal dari
tempat implantasi plasenta, robekan pada jalan lahir dan jaringan sekitarnya
dan merupakan salah satu penyebab kematian ibu disamping perdarahan
karena hamil ektopik atau abortus. HPP bila tidak mendapat penanganan yang
semestinya akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu serta proses
penyembuhan kembali.Apabila terjadi perdarahan yang berlebihan pasca
persalinan harus dicari etiologi yang spesifik. Atonia uteri, retensio plasenta
(termasuk plasenta akreta dan variannya), sisa plasenta, dan laserasi traktus
genitalia merupakan penyebab sebagian besar perdarahan post partum.

Dalam 20 tahun terakhir, plasenta akreta mengalahkan atonia uteri sebagai


penyebab tersering perdarahan post partum yang keparahannya mengharuskan
dilakukan tindakan histerektomi. Laserasi traktus genitalia yang dapat terjadi
sebagai penyebab perdarahan post partum antara lain laserasi perineum,
laserasi vagina, cedera levator ani dan cedera pada serviks uteri.Berdasarkan
hal tersebut di atas dan dari temuan kami di klinik diperoleh kasus retensio
plasenta sebagai salah satu penyebab kasus HPP, maka dari itu kami akan
berupaya untuk mengkaji kasus tersebut dengan judul Haemoragic Post
Partum.
1.2

Tujuan
1.2.1

Tujuan Umum

Mengetahui hal-hal sehubungan dengan HPP


1.2.2 Tujuan Khusus
a) Untuk mengetahui pengertian HPP
b) Untuk mengetahui penyebab HPP
c) Untuk mengetahui tindakan keperawatan kepada pasien dengan HPP
d) Untuk mengetahui asuhan keperawatan dengan HPP
1.3 Manfaat
Penyusun mengharapkan makalah ini bermanfaat :
1.3.1 Dapat mengaplikasikan ilmu tersebut atau menerapkannya dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien Haemoragic Post
1.3.2

Partum ( HPP ) dengan baik dan benar.


Bagi para pembaca, sebagai bahan bacaan dan referensi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Haemorragic Post Partum
Post partum / puerperium adalah masa dimana tubuh menyesuaikan, baik
fisik maupun psikososial terhadap proses melahirkan. Dimulai segera setelah

bersalin sampai tubuh menyesuaikan secara sempurna dan kembali mendekati


keadaan sebelum hamil ( 6 minggu ).
Masa post partum dibagi dalam tiga tahap : Immediate post partum dalam
24 jam pertama, Early post partum period (minggu pertama) dan Late post partum
period ( minggu kedua sampai minggu ke enam)..Potensial bahaya yang sering
terjadi adalah pada immediate dan early post partum period sedangkan perubahan
secara bertahap kebanyakan terjadi pada late post partum period. Bahaya yang
paling sering terjadi itu adalah perdarahan paska persalinan atau HPP.
Menurut Willams & Wilkins (1988) perdarahan paska persalinan adalah
perdarahan yang terjadi pada masa post partum yang lebih dari 500 cc segera
setelah bayi lahir. Tetapi menentukan jumlah perdarahan pada saat persalinan sulit
karena bercampurnya darah dengan air ketuban serta rembesan dikain pada alas
tidur. POGI, tahun 2000 mendefinisikan perdarahan paska persalinan adalah
perdarahan yang terjadi pada masa post partum yang menyebabkan perubahan
tanda vital seperti klien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, dalam
pemeriksaan fisik hiperpnea, sistolik < 90 mmHg, nadi > 100 x/menit dan kadar
HB < 8 gr %.
2.2 Klasifikasi perdarahan
2.2.1 Perdarahan paska persalinan dini/ early HPP/ primary HPP
Perdarahan paska persalinan dini adalah perdarahan berlebihan ( 600 ml
atau lebih ) dari saluran genitalia yang terjadi dalam 12 - 24 jam pertama
setelah melahirkan, Banyaknya terjadi pada 2 jam pertama.

2.2.2 Perdarahan paska persalinan lambat / late HPP/ secondary HPP


Perdarahan paska persalinan lambat adalah perdarahan yang terjadi setelah 24
jam pertama ,antara hari kedua sampai enam minggu paska persalinan.
2.3 Etiologi
Penyebab perdarahan dibagi dua sesuai dengan jenis perdarahan yaitu :

2.3.1 Penyebab perdarahan paska persalinan dini :


a. Perlukaan jalan lahir : ruptur uteri, robekan serviks, vagina dan
perineum, luka episiotomi.
b. Perdarahan pada tempat menempelnya plasenta karena : atonia uteri,
retensi plasenta, inversio uteri.
c. Gangguan mekanisme pembekuan darah.
2.3.2 Penyebab perdarahan paska persalinan terlambat biasanya disebabkan
oleh sisa plasenta atau bekuan darah, infeksi akibat retensi produk
pembuangan dalam uterus sehingga terjadi sub involusi uterus.
2.4 Faktor predisposisi
2.4.1 Faktor faktor Predisposisi dan penyebab dari hemoragi Post Partum primer
menurut (Chalik, 1997: 165) :
1. Perlukaan pada jalan lahir
a. Ruptura Uteri
b. Robekan serviks Vagina dan Perineum
c. Luka Episiotomi
2. Perdarahan Pada tapak Plasenta
a. Kelemahan kontraksi otot rahim (Atonia Uteri) dan Retraksi yang
terganggu
1) Anestesia umum
2) Sirkulasi darah miometrium sangat berkurang
a) Perdarahan banyak oleh sebab apapun
b) Premedikasi/ konduksis anastesia
3) Pembesaran rahim yang berlebihan
a) Kehamilan ganda
b) Hidramnion
c) Bayi besar
4) Partus lama
5) Partus presipitatus
6) Induksi partus dengan oksitosin
7) Grande multipara
8) Atonia uteri pada persalinan terdahulu
9) korioamnionitis
b. Tertahannya sisa konsepsi atau bekuan darah
1) Sisa plasenta atau selaput ketuban
2) Plasenta suksenturiata
3) Perlekatan parsial plasenta terlalu kuat
4) Qbekuan darah kala IV yang tertahan
c. Kontraksi rahim terganggu

1) Mioma
2) Parut
3) Inversion uretri
3. Gangguan Mekanisme Pembekuan Darah
Umumnya disebabkan oleh hipo/afibrinogenemia atau pembekuan
intravaskuler merata. Semua jenis mekanisme pembekuan darah bila
berlangsung abnormal akan memperlambat kehilangan darah yang terjadi.
2.4.2 Faktor faktor penyebab dari hemoragi Post Partum sekunder menurut
(Chalik, 1997: 185-186)
Biasanya disebabkan karena ada bagian dari plasenta atau selaput ketuban
atau bekuan darah yang telah terorganisir yang tertahan dalam rahim. Robekan
yang belum sembuh diikuti oleh senggama yang dilakukan terlalu dini dan
pelarutnya kembali thrombus yang menutup luka di temppat plasenta melekat atau
sembarang perlukaan jalan lahir dapat juga menyebabkan perdarahan beberapa
waktu setelah partus. Demikian juga sub invulusio uteri, terutama bila bersamasama dengan adanya infeksi. Infeksi lebih sering terjadi bila terdapat sisa plasenta
atau selaput ketuban karena jaringan yang nekrotik dan darah beku merupakan
sumber bahan makanan yang baik bagi bakteri. Walaupun jarang, mioma sub
mukosa, karsinoma servik dan koriokarsinoma bisa mendatangkan perdarahan
post partum sekunder.
2.5 Patofisiologi
Pada dasarnya perdarahan terjadi karena pembuluh darah didalam uterus
masih terbuka. Pelepasan plasenta memutuskan pembuluh darah dalam stratum
spongiosum sehingga sinus-sinus maternalis ditempat insersinya plasenta terbuka.
Pada waktu uterus berkontraksi, pembuluh darah yang terbuka tersebut
akan menutup, kemudian pembuluh darah tersumbat oleh bekuan darah sehingga
perdarahan akan terhenti. Adanya gangguan retraksi dan kontraksi otot uterus,
akan menghambat penutupan pembuluh darah dan menyebabkan perdarahan yang
banyak. Keadaan demikian menjadi faktor utama penyebab perdarahan paska
persalinan. Perlukaan yang luas akan menambah perdarahan seperti robekan
servix, vagina dan perinium.

Perdarahan
pascapersalinan terlambat
(terjadi pada hari ke2-6
minggu pasca persalinan)
Perdarahan pasca persalinan
dini (terjadi pada 12 24jam
pertama)

Cedera jaringan lunak


setelah persalinan

Perdarahan pervagina

Lemas, Pucat,
Mual, Muntah

Nutrisi<kebu
Hipovolemik

tuhan

2.6 Gambaran klinik


Untuk

memperkirakan

kemungkinan

penyebab

perdarahan

paska

persalinan sehingga pengelolaannya tepat, perlu dibenahi gejala dan tanda sebagai
berikut :
Gejala dan tanda
Penyulit
Uterus tidak berkontraksi dan - Syok
lembek

Bekuan darah pada

Diagnosa penyebab
- Atonia uteri

Perdarahan segera setelah bayi serviks atau pada posisi

lahir
-

terlentang akan menghambat


aliran darah keluar
Darah segar mengalir segera - Pucat

setelah anak lahir

Lemah

Uterus berkontraksi dan keras

Mengigil

Plasenta lengkap
Plasenta belum lahir setelah -

30 menit
-

Perdarahan segera, uterus -

berkontraksi dan keras


Plasenta atau sebagian selaput

Tali pusat putus

Robekan

jalan

lahir

Retensio plasenta

Inversio uteri
Perdarahan lanjutan
Uterus berkontraksi tetapi

Tertinggalnya

tidak lengkap

tinggi fundus uteri tidak sebagian plasenta

Perdarahan segera
Uterus tidak teraba

berkurang
Neurogenik syok, pucat dan

Lumen vagina terisi massa

limbung

Inversio uteri

2.7 Penatalaksanaan
2.7.1 Penatalaksanaan umum
a. Ketahui secara pasti kondisi ibu bersalin sejak awal
b. Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman
c. Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat
d. Segera lakukan penilaian klinik dan upaya pertolongan apabila
dihadapkan dengan masalah dan komplikasi
e. Atasi syok jika terjadi syok
f. Pastikan kontraksi berlangsung baik ( keluarkan bekuan darah, lakukan
pijatan uterus, beri uterotonika 10 IV dilanjutkan infus 20 ml dalam 500 cc
NS/RL dengan tetesan 40 tetes/menit ).
g. Pastikan plasenta telah lahir lengkap dan eksplorasi kemungkinan robekan
jalan lahir
h. Bila perdarahan tidak berlangsung, lakukan uji bekuan darah.

i.
j.

Pasang kateter tetap dan pantau cairan keluar masuk


Lakukan observasi ketat pada 2 jam pertama paska persalinan dan
lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya.

2.7.2 Penatalaksanaan khusus


1. Atonia uteri
a. Kenali dan tegakan kerja atonia uteri
b. Sambil melakukan pemasangan infus dan pemberian uterotonika,
lakukan pengurutan uterus
c. Pastikan plasenta lahir lengkap dan tidak ada laserasi jalan lahir
d. Lakukan tindakan spesifik yang diperlukan :
e. Kompresi bimanual eksternal yaitu menekan uterus melalui
dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah
telapak tangan yang melingkupi uteus. Bila perdarahan berkurang
kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus dapat kembali
berkontraksi atau dibawa ke fasilitas kesehata rujukan.
f. Kompresi bimanual internal yaitu uterus ditekan diantara telapak
tangan pada dinding abdomen dan tinju tangan dalam vagina
untuk menjempit pembuluh darah didalam miometrium.
g. Kompresi aorta abdominalis yaitu raba arteri femoralis dengan
ujung jari tangan kiri, pertahankan posisi tersebut genggam tangan
kanan kemudian tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus
dengan sumbu badan, hingga mencapai kolumna vertebralis,
penekanan yang tepat akan menghetikan atau mengurangi, denyut
arteri femoralis.
2. Retensio plasenta dengan separasi parsial
a. Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan dengan
tindakan yang akan diambil.
b. Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk mengejan, bila
ekspulsi tidak terjadi cobakan traksi terkontrol tali pusat.
c. Pasang infus oksitosin 20 unit/500 cc NS atau RL dengan tetesan
40/menit, bila perlu kombinasikan dengan misoprostol 400mg per
rektal.
d. Bila traksi terkontrol gagal melahirkan plasenta, lakukan manual
plasenta secara hati-hati dan halus.
e. Restorasi cairan untuk mengatasi hipovolemia.
f. Lakukan transfusi darah bila diperlukan.

g. Berikan antibiotik profilaksis ( ampicilin 2 gr IV/oral +


metronidazole 1 g supp/oral ).
3. Plasenta inkaserata
a. Tentukan diagnosis kerja
b. Siapkan peralatan dan bahan untuk menghilangkan kontriksi
serviks yang kuat, tetapi siapkan infus fluothane atau eter untuk
menghilangkan kontriksi serviks yang kuat, tetapi siapkan infus
oksitosin 20 Untuk500 NS atau RL untuk mengantisipasi
gangguan kontraksi uterus yang mungkin timbul.
c. Bila bahan anestesi tidak tersedia, lakukan manuver sekrup untuk
melahirkan plasenta.
d. Pasang spekulum Sims sehingga ostium dan sebagian plasenta
tampak jelas.
e. Jepit porsio dengan klem ovum pada jam 12, 4 dan 8 dan lepaskan
spekulum
f. Tarik ketiga klem ovum agar ostium, tali pusat dan plasenta
tampak jelas.
g. Tarik tali pusat ke lateral sehingga menampakkan plasenta disisi
berlawanan agar dapat dijepit sebanyak mungkin, minta asisten
untuk memegang klem tersebut.
h. Lakukan hal yang sama pada plasenta kontra lateral
i. Satukan kedua klem tersebut, kemudian sambil diputar searah
jarum jam tarik plasenta keluar perlahan-lahan.
4. Ruptur uteri
a. Berikan segera cairan isotonik ( RL/NS) 500 cc dalam 15-20
menit dan siapkan laparatomi
b. Lakukan laparatomi untuk melahirkan anak dan plasenta, fasilitas
pelayanan kesehatan dasar harus merujuk pasien ke rumah sakit
rujukan
c. Bila konservasi uterus masih diperlukan dan kondisi jaringan
memungkinkan, lakukan operasi uterus
d. Bila luka mengalami nekrosis yang luas dan kondisi pasien
mengkwatirkan lakukan histerektomi
e. Lakukan bilasan peritonial dan pasang drain dari cavum abdomen
f. Antibiotik dan serum anti tetanus, bila ada tanda-tanda infeksi.
5. Sisa plasenta
a. Penemuan secara dini, dengan memeriksa kelengkapan plasenta
setelah dilahirkan
b. Berika antibiotika karena kemungkinan ada endometriosis

c. Lakukan

eksplorasi

digital/bila

serviks

terbuka

dan

mengeluarkan bekuan darah atau jaringan, bila serviks hanya


dapat dilalui oleh instrument, lakukan evakuasi sisa plasenta
dengan dilatasi dan kuret.
d. Hb 8 gr% berikan transfusi atau berikan sulfat ferosus
600mg/hari selama 10 hari
6. Ruptur peritonium dan robekan dinding vagina
a. Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan
sumber perdarahan
b. Lakukan irigasi pada tempat luka dan bubuhi larutan antiseptik
c. Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan kemudian ikat dengan
benang yang dapat diserap
d. Lakukan penjahitan luka dari bagian yang paling distal
e. Khusus pada ruptur perineum komplit dilakukan penjahitan lapis
demi lapis dengan bantuan busi pada rektum, sebagai berikut :
f. Setelah prosedur aseptik- antiseptik, pasang busi rektum hingga
ujung robekan
g. Mulai penjahitan dari ujung robekan dengan jahitan dan simpul sub
mukosa, menggunakan benang polyglikolik No 2/0 ( deton/vierge )
hingga ke sfinter ani, jepit kedua sfinter ani dengan klem dan jahit
dengan benang no 2/0.
h. Lanjutkan penjahitan ke lapisan otot perineum dan sub mukosa
dengan benang yang sama ( atau kromik 2/0 ) secara jelujur.
i. Mukosa vagina dan kulit perineum dijahit secara sub mukosa dan
sub kutikuler
j. Berikan antibiotik profilaksis. Jika luka kotor berikan antibiotika
untuk terapi.
7. Robekan serviks
a. Sering terjadi pada sisi lateral, karena serviks yang terjulur akan
mengalami robekan pada posisi spina ishiadika tertekan oleh
kepala bayi.
b. Bila kontraksi uterus baik, plasenta lahir lengkap, tetapi terjadi
perdarahan banyak maka segera lihat bagian lateral bawah kiri
dan kanan porsio
c. Jepitan klem ovum pada kedua sisi porsio yang robek sehingga
perdarahan dapat segera di hentikan, jika setelah eksploitasi
lanjutkan tidak dijumpai robekan lain, lakukan penjahitan, jahitan

dimulai dari ujung atas robekan kemudian kearah luar sehingga


semua robekan dapat dijahit
d. Setelah tindakan periksa tanda vital, kontraksi uterus, tinggi
fundus uteri dan perdarahan paska tindakan
e. Berikan antibiotika profilaksis, kecuali bila jelas ditemui tandatanda infeksi
f. Bila terjadi defisit cairan lakukan restorasi dan bila kadar Hb
dibawah 8 gr% berikan transfusi darah
2.8 Komplikasi
Komplikasi yang paling berat dari pendarahan post partum primer adalah
syok. Bila terjadi syok berat dan pasien selamat komplikasi lanjutan adalah
anemia dan infeksi dalam masa nifas. Infeksi dalam keadaan anemia bisa
berlangsung berat sampai sepsis. Pada perdarahan yang disertai pembekuan
intravascular merata dapat terjadi kegagalan fungsi organ-organ, seperti gagal
ginjal mendadak.
Komplikasi yang berkaitan dengan tindakan bergantung pada penyebab
perdarahan post partum. Akibat dari tranfusi darah dapat terjadi penularan
penyakit infeksi seperti hepatitis, AIDS, atau kecelakaan yang fatal akibat
golongan darah yang tidak sesuai.
Pemberian cairan infuse yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan
pada system pembekuan darah, dan bila disertai dengan gagal ginjal dapat
menyebabkan edema paru-paru dan gagal jantung akut.
Pengeluaran plasenta dengan tangan dapat menyebabkan perforasi jalan
lahir bagian atas bila dikerjakan secara tidak hati-hati (Chalik, 1997:183-184).
Sedangkan, komplikasi yang paling sering dari perdarahan post partum
sekunder adalah anemia dan infeksi. Jika tidak mendapat penanganan yang
memadai, infeksi bisa meningkat menjadi sepsis. Pada keadaan yang demikian
jika sepsi sampai mengancam jiwa perlu dilakukan histerktomi.

2.9 Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan darah lengkap harus dilakukan sejak periode antenatal. Kadar


hemoglobin di bawah 10 g/dL berhubungan dengan hasil kehamilan yang

buruk
Pemeriksaan golongan darah dan tes antibodi harus dilakukan sejak
periode antenatal - Perlu dilakukan pemeriksaan faktor koagulasi seperti
waktu perdarahan dan waktu pembekuan

b. Pemeriksaan radiologi
-

Onset perdarahan post partum biasanya sangat cepat. Dengan diagnosis


dan penanganan yang tepat, resolusi biasa terjadi sebelum pemeriksaan
laboratorium atau radiologis dapat dilakukan. Berdasarkan pengalaman,
pemeriksaan USG dapat membantu untuk melihat adanya jendalan darah

dan retensi sisa plasenta.


USG pada periode antenatal dapat dilakukan untuk mendeteksi pasien
dengan resiko tinggi yang memiliki faktor predisposisi terjadinya
perdarahan post partum seperti plasenta previa. Pemeriksaan USG dapat
pula meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas dalam diagnosis plasenta
akreta dan variannya (Smith, J. R., Brennan, B. G., 2004)

2.10 Pendidikan Kesehatan


Cara

yang

terbaik

untuk

mencegah

terjadinya Perdarahan

Post

Partum adalah memimpin kala II dan kala III persalinan secara legeartis. Apabila
persalinan diawasi oleh dokter spesialis obstetric-ginekologi ada yang
menganjurkan untuk memberikan suntikan ergometrik secara IV setelah anak
lahir, dengan tujuan untuk mengurangi perdarahan yang terjadi

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
Haemoragic Post Partum
3.1 Pengkajian
3.1.1

Identitas : Sering terjadi pada ibu usia dibawah 20 tahun dan diatas 35

tahun

3.1.2

Keluhan utama : Perdarahan dari jalan lahir, badan lemah, limbung, keluar keringat
dingin, kesulitan nafas, pusing, pandangan berkunang-kunang.

3.1.3

Riwayat kehamilan dan persalinan : Riwayat hipertensi dalam kehamilan, preeklamsi /


eklamsia, bayi besar, gamelli, hidroamnion, grandmulti gravida, primimuda, anemia,
perdarahan saat hamil. Persalinan dengan tindakan, robekan jalan lahir, partus
precipitatus, partus lama/kasep, chorioamnionitis, induksi persalinan, manipulasi kala II
dan III.

3.1.4

Riwayat kesehatan : Kelainan darah dan hipertensi

3.1.5

Pengkajian fisik :

a.

Tanda vital :

Tekanan darah : Normal/turun ( kurang dari 90-100 mmHg)

Nadi

: Normal/meningkat ( 100-120 x/menit)

Pernafasan

: Normal/ meningkat ( 28-34x/menit )

Suhu

: Normal/ meningkat

Kesadaran

: Normal / turun

b.
c.
d.
e.

Fundus uteri/abdomen : lembek/keras, subinvolusi


Kulit : Dingin, berkeringat, kering, hangat, pucat, capilary refil memanjang
Pervaginam : Keluar darah, robekan, lochea ( jumlah dan jenis )
Kandung kemih : distensi, produksi urin menurun/berkurang

3.2 Diagnosa Keperawatan


3.2.1

Kekurangan volume cairan b/d perdarahan pervagina

3.2.2

Gangguan perfusi jaringan b/d perdarahan pervagina

3.2.3

Cemas/ketakutan b/d perubahan keadaan atau ancaman kematian

3.2.4

Resiko infeksi b/d perdarahan

3.2.5

Resiko shock hipovolemik b/d perdarahan yang terjadi secara terus menerus

3.3 Rencana tindakan keperawatan


3.3.1 Kekurangan volume cairan b/d perdarahan pervagina
Tujuan

: Mencegah disfungsional bleeding dan memperbaiki volume cairan

Intervensi

1. Tidurkan pasien dengan posisi kaki lebih tinggi sedangkan badannya tetap terlentang

R/ Dengan kaki lebih tinggi akan meningkatkan venous return dan memungkinkan
darah keotak dan organ lain.

2. Monitor tanda vital

R/

Perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan semakin hebat

3. Monitor intake dan output setiap 5-10 menit

R/ Perubahan output merupakan tanda adanya gangguan fungsi ginjal

4. Evaluasi kandung kencing

R/ Kandung kencing yang penuh menghalangi kontraksi uterus

5.

Lakukan masage uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakan diatas
simpisis.

R/ Massage uterus merangsang kontraksi uterus dan membantu pelepasan placenta,


satu tangan diatas simpisis mencegah terjadinya inversio uteri

6. Batasi pemeriksaan vagina dan rectum

R/ Trauma yang terjadi pada daerah vagina serta rektum meningkatkan terjadinya
perdarahan yang lebih hebat, bila terjadi laserasi pada serviks / perineum atau
terdapat hematom
Bila tekanan darah semakin turun, denyut nadi makin lemah, kecil dan cepat, pasien
merasa mengantuk, perdarahan semakin hebat, segera kolaborasi.

7. Berikan infus atau cairan intravena

R/ Cairan intravena mencegah terjadinya shock

8. Berikan uterotonika ( bila perdarahan karena atonia uteri )

R/ Uterotonika merangsang kontraksi uterus dan mengontrol perdarahan

9. Berikan antibiotic

R/ Antibiotik mencegah infeksi yang mungkin terjadi karena perdarahan pada


subinvolusio

10. Berikan transfusi whole blood ( bila perlu )

R/ Whole blood membantu menormalkan volume cairan tubuh

3.3.2 Gangguan perfusi jaringan b/d perdarahan pervagina


Tujuan : Tanda vital dan gas darah dalam batas normal
Intervensi :
1. Monitor tanda vital tiap 5-10 menit
R/ Perubahan perfusi jaringan menimbulkan perubahan pada tanda vital
2. Catat perubahan warna kuku, mukosa bibir, gusi dan lidah, suhu kulit

R/ Dengan vasokontriksi dan hubungan keorgan vital, sirkulasi di jaingan perifer


berkurang sehingga menimbulkan cyanosis dan suhu kulit yang dingin

3. Kaji ada / tidak adanya produksi ASI

R/ Perfusi yang jelek menghambat produksi prolaktin dimana diperlukan dalam


produksi ASI

4. Tindakan kolaborasi :
- Monitor kadar gas darah dan PH (perubahan kadar gas darah dan PH merupakan
tanda hipoksia jaringan).
- Berikan terapi oksigen (Oksigen diperlukan untuk memaksimalkan transportasi
sirkulasi jaringan).
3.3.3 Cemas/ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan atau ancaman kematian
Tujuan : Klien dapat mengungkapkan secara verbal rasa cemasnya dan mengatakan perasaan
cemas berkurang atau hilang.
Intervensi :
1.

2.

3.

4.

Kaji respon psikologis klien terhadap perdarahan paska persalinan


R/ Persepsi klien mempengaruhi intensitas cemasnya
Kaji respon fisiologis klien ( takikardia, takipnea, gemetar )
R/ Perubahan tanda vital menimbulkan perubahan pada respon fisiologis.
Perlakukan pasien secara kalem, empati, serta sikap mendukung
R/ Memberikan dukungan emosi.
Berikan informasi tentang perawatan dan pengobatan
R/ Informasi yang akurat dapat mengurangi cemas dan takut yang tidak diketahui

5.

6.

Bantu klien mengidentifikasi rasa cemasnya


R/ Ungkapan perasaan dapat mengurangi cemas
Kaji mekanisme koping yang digunakan klien
R/ Cemas yang berkepanjangan dapat dicegah dengan mekanisme koping yang tepat.

3.3.4 Potensial infeksi sehubungan dengan perdarahan


Tujuan : Tidak terjadi infeksi (lokea tidak berbau dan TV dalam batas normal)
Intervensi:
1. Catat perubahan tanda vital
R/ Perubahan tanda vital (suhu) merupakan indikasi terjadinya infeksi.
2. Catat adanya tanda lemas, kedinginan, anoreksia, kontraksi uterus yang lembek, dan
nyeri panggul
R/ Tanda-tanda tersebut merupakan indikasi terjadinya bakterimia, shock yang tidak
terdeteksi
3. Monitor involusi uterus dan pengeluaran lochea
R/ Infeksi uterus menghambat involusi dan terjadi pengeluaran lokea yang
berkepanjangan
4. Perhatikan kemungkinan infeksi di tempat lain, misalnya infeksi saluran nafas, mastitis
dan saluran kencing
R/ Infeksi di tempat lain memperburuk keadaan.
5. Tindakan kolaborasi
-Berikan zat besi (Anemi memperberat keadaan).
-Beri antibiotika (Pemberian antibiotika yang tepat diperlukan untuk keadaan infeksi).

3.3.5 Resiko terjadinya syock hipovolemik b/d perdarahan yang terjadi terus menerus
Tujuan: tidak terjadi syock hipovolemik dalam masa perawatan
KH:
- Tidak terjadi penurunan kesadaran
- TTV dalam batas normal
- Turgor kulit baik
Intervensi
1. Anjurkan pasien untuk lebih banyak minum

R/ peningkatan intake cairan dapat meningkatkan volume intravaskuler yang dapt

meningkatkan perfusi jaringan


2. Observasi TTV tiap 4 jam
R/ perubahan TTV dapat merupakan indikator terjadinya dehidrasi secara dini
3. Observasi terhadap tanda-tanda dehidrasi
R/ dehidrasi merupakan awal terjadinya syock bila dehidrasi tidak ditangan secara baik
4. Observasi intake cairan dan output
R/ intake cairan yang adekuat dapat mengimbangi pengeluaran cairan yang berlebihan.
3.4 Evaluasi
Semua tindakan yang dilakukan diharapkan memberikan hasil :
3.4.1 Tanda vital dalam batas normal :
a. Tekanan darah

: 110/70-120/80 mmHg

b. Denyut nadi

: 70-80 x/menit

c. Pernafasan

: 20 24 x/menit

d. Suhu

: 36 37 oc

3.4.2 Kadar Hb

: Lebih atau sama dengan 10 g/dl

a. Gas darah dalam batas normal.


b. Klien dan keluarganya mengekspresikan bahwa dia mengerti tentang komplikasi
c.

dan pengobatan yang dilakukan.


Klien dan keluarganya menunjukkan kemampuannya dalam mengungkapkan

perasaan psikologis dan emosinya.


d. Klien dapat melakukan aktifitasnya sehari-hari.
e. Klien tidak merasa nyeri.
f. Klien dapat mengungkapkan secara verbal perasaan cemasnya.
3.5 Tinjauan Kasus
Pada bab ini penulis akan memaparkan hasil penerapkan asuhan keperawatan di ruang
Khotijah RS Islam pada tanggal 19 April 2013 pada Ny. E dengan perdarahan post partum
melalui pendekatan proses keperawatanyang meliputi Pengkajian, Diagnosa keperawatan,
Rencana keperawatan,Implementasi keperawatan, dan Evaluasi keperawatan.
A. Pengkajian
Pengkajian awal dilakukan pada tanggal 19 April jam 15.00 WIB didapat data sebagai berikut:
1. Gambaran umum kasus yang dikelola oleh penulis dimulai dari biodata:

Nama pasien : Ny. E,


Umur : 24 tahun,
Agama : islam
Suku /bangsa :Jawa / Indonesia
Pendidikan :SLTP
Pekerejaan : Ibu rumah tangaga
No.Reg :83662.
Alamat : Gemuh kendal RT 01/RW 2
Diagnosa Medis : Haemorogic post partum33
2. Penanggung jawab :
Nama : Tn. A
Umur : 30 tahun
Pendidika : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
Alamat : Gemuh kendal RT01/RW 02
Hubungan dengan pasien : Suami

B. Data Biologis
a. Keluhan utama:
Pasien mengatakan darah merembes banyak dari jalan lahir, tembus sampai kekain.
b. Riwayat kesehatan sekarang:
3 jam setelah melahirkan pasien mengatakan, perutnya mules, badanlemes, kepala
pusing,mata berkunang - kunang, ada darah merembesbanyak dari jalan lahir tembus sampai
kain.Terdapat luka jahitan diperineum terasa nyeri seperti diiris - iris, durasi 5 menit,
frekuensi 10menit.terdapat 5 jahitan,bekas jahitan terlihat kemerahan ,terdapatsedikit
bengkak pada labia mayora dan labia minora ,terdapat adanyapengeluaran lochea pada jalan
lahir pada saat penggantian pembalutselama 2 jam 2x. Terdapat kebiruan pada daerah
genital. Adanyajahitan pada perineum 12 jahitan.
c. Riwayat kesehatan dahulu:
Pasien mengatakan tidak mempunyai penyakit yang memperberatperdarahannya dan
memperlambat pemulihanya, seperti penyakitdiabetes melitus, hipertensi.

d. Riwayat kesehatan keluarga:


Pasien mengatakan keluarganya tidak mempunyai penyakit yang menurun.
e. Riwayat KB: pasien mengatakan setelah post partum ingin menjalani kontrasepsi suntik
3 bulan.
f. Riwayat perkawinan: pasien mengatakan menikah 1 kali, lama pernikahan 2 tahun.
g. Riwayat kehamilan dan persalinan ( G0 P1 A0 ):
Tahun kehamilan 2011, umur kehamilan 9 bulan 10 hari, ditolong oleh bidan dan
perawat, partus secara normal spontan, berat badan bayi 2800 gram, panjang badan bayi 48
cm, laki laki, lahir hidup, ibu sekarang pada masa post partum. Obat yang diminum
vitamin dan tablet penambah darah yang didapat dari posyandu. Periksa selama hamil
periksa rutin tiap bulan ke Posyandu. Frekuensi periksa trimester pertama 3 kali trimester, ke
dua 3 kali, trimester ke tiga 6 kali.

C. Pengkajian pola nutrisi didapat data sebagai berikut:


1. pola nutrisi
a) Sebelum melahirkan. Makan: frekuensi makan 3 kali sehari, jenis makanan nasi, lauk
pauk, sayur, buah, porsi makan banyaksampai 2 porsi 3xsehari . Minum 1200 cc sampai
1500 cc perhari. Jenis minuman air putih, teh manis, jus buah, dan susu.
b) Setelah melahirkan makan: jenis makanan nasi, sayur, lauk pauk, buah dan susu,
frekuensi 3 kali sehari, porsi makan habis walaupun makan secara bertahap. Minum 1000
cc sampai 1300 cc per hari, jenis minuman air putih, teh manis, susu.
2. Pola eliminasi
a). BAB: sebelum melahirkan: frekuensi 1 kali sehari waktu lebih sering pagi hari, warna
kuning, konsistensi lembek tapi kadang keras, posisi jongkok.
BAK frekuensi 5 6 kali, warna kuning jernih bau khas urine.
b). Setelah melahirkan: pasien mengatakan selama di rawat belum BAB.
BAK frekuensi 2 3 kali sehari, warna kuning jernih, bau khas urine. Lokhea jenis
lokhea rubra warna merah jumlah 100 cc.
3. Pola aktivitas dan tidur:

a). sebelum melahirkan aktivitas sehari hari dalam kegiatan dirumah dilakukan tanpa
bantuan orang lain meski sedang hamil. Dan kebutuhan istirahat tidur pasien mengatakan
tetap tidur siang selama36x2 jam, tidur malam normal 7 8 jam, dan tidak ada kesulitan
untuk istirahat disela - sela aktivitas sehari hari.
b). Setelah melahirkan aktivitas sehari hari pasien mengatakan seluruh aktivitas dan
kegiatanya di bantu oleh ibu, suami, dan perawat, karena harus bedrest karena adanya
perdarahan dan luka jahitan pada perineum yang masih terasa nyeri, kebutuhan istirahat
tidur pasien mengatakan tidurnya agak terganggu rasa nyeri pada luka jahitan bersih, dan
lembab.
4. Pola Kebersihan
a). Pasien mengatakan sebelum melahirkan mandi 2 kali sehari memakai sabun mandi,kramas
3 kali dalam semingu dengan sampo, kulit kepala tidak gatal, kulit kepala bersih tidak ada
ketombe dan menggosok gigi 2 kali sehari, gigi bersih, mukosa bibir lembab.
b). Setelah melahirkan pasien mengatakan mandi dengan disibin, belum keramas, rambut
agak kusam dan agak bau, kulit kepala terlihat agak kotor tapi gosok gigi 2 kali sehari
menggunakan pasta gigi ditempat tidur dengan posisi miring, mukosa bibir lembab, gigi
bersih.
5. Pola persepsi sensori
Pasien mengatakan penglihatanya agak berkunang kunang tapi dapan mendengar
dengan jelas, tidak memakai alat bantu pendengaran dan penglihatan. Hal yang diharapkan
pasien adalah cepat sembuh, cepat ingin menyusui bayinya, dan berkumpul dengan keluarganya
dirumah.
6. Pengkajian pola psikologis
Pasien mengatakan takut atau cemas bila perdarahanya sulit berhenti suami dan
keluarganya sangat mendukung dalam proses pemulihan dan penyembuhan sehingga orang yang
sangat berarti dalam hidupnya adalah suami dan bayinya.
7. Pengkajian pola spiritual

Pasien mengatakan suami dan keluarganya selalu berdoa untuk pemulihan dan
penyembuhanya serta menyadari bahwa perdarahan yang dialaminya sekarang ini adalah ujian
dari Tuhan.
8. Pengkajian fisik
keadaan umum pasien lemah, kesadaran composmentis, tanda vital tekanan darah
100/80mmHg, nadi 80 kali per menit, suhu 37,80 celcius, respirasi 24 kali per menit, ukur berat
badan 58 kg dan tinggi 158 cm.
9. Pemeriksaan fisik:
a. Kepala

: mesochepal, rambut hitam, ikal tapi agakkotor dan agak bau, kulit kepala agak
kotor.

b. Mata

: conjugtiva tampak anemis, sklera tidak ikterik,

c. Hidung

: tidak ada sekret yang berlebihan dan tidak tampak polip,

d. Telinga

: simetris, tidak ada serumen berlebih, tidak memakai alat bantu pendengaran,38

e. Mulut,gigi : bersih, mukosa bibir lembab,


f. Leher

: tidak ditemukan pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada nyeri telan,

g. Dada, aksila: simetis, puting susu tampak menonjol, mammae tampak penuh, areola berwarna
coklat tua dan terdapat colustrum
h. Genital : tampak luka robekan perineum 5 cm, tampak ada 5 jahitan catgut, leukosit 10.000
ribu H/mmk.
i. Ekstremitas : pasien terpasang infus pada tangan kiri, pasien tampak bedrest ditempat tidur,
pasien tampak gelisah dan bingung, pasien selalu bertanya tentang kondisinya.
D. Database
a. Data subjektif:
Pasien mengatakan matanya agak berkunang kunang, badanya terasa lemas, kepalanya
terasa pusing, pasien mengatakan perdarahannya banyak dan tembus sampai ke kain, pasien
mengatakan nyeri seperti diiris iris, lokasi diperineum, durasi 10 menit, frekuensi setiap 5
menit, pasien mengatakan belum keramas selama paska melahirkan: mandi dengan disibin,

seluruh aktivitasnya dibantu oleh keluarga dan pasien mengatakan takut jika perdarahanya
tidak dapat berhenti.39
b. Data Obyektif :
ASI keluar sedikit,terdapat colustrum mammae berstruktur kenyal teraba agak keras axila
tidak ditemukan benjolan atau massa, abdomen TFU 3 jari dibawah pusat, tampak linea nigra,
tampak striagravidarum dan umbilikus ditengah, genetalia vulva dan vagina terdapat luka
robekan perineum 5 cm, warna luka kemerahan tidak terdapat bengkak pada labia mayora dan
labia minora, tampak 5 jahitan benang catgut pada perineum, terdapat keluaran lokhea rubra,
rectum tidak tampak polip yang keluar, ektremitas tangan kiri terpasang infus, dan kaki tida
ada varises,tapi tampak agak oedema.

E. Pemeriksaan penunjang: hasil laboraturium Hb 8,9 gr %, haematokrit 31 %, leukosit 10.000


H/mmk, trombosit 310.000 mm3.
F. Terapi serta program pengobatan infus RL 40 tpm, injeksi asamtraneksamat 3x500 mg, anrain
3x1000mg, cefotaxime 3x1 gram,bledstop 3x1 ampul
G. Analisa Data
No
1.

Data
DS: Pasien mengatakan

Etiologi
Devisit volume

Problem
Perdarahan

Kepalanya agak pusing

cairan

pervagina

Badannya terasa lemas


Perdarahannya
merembes tembus sampai
kekain
Matanya
kunang

berkunang-

DO:

Perdarahan

pervagina 600 cc
Pasien tampak
lemah
Wajaha gak pucat
Conjungtiva
tampak anemis
Hb 8,9 gr%
Hematokrit 31%
TD : 100/80 mmHg
Nadi 80x/menit
2

Suhu 37,80
DS: Pasien mengatakan

Nyeri akut

Terputusnya

nyeriseperti di iris-iris di

kontinuitas

perineum,Rasa

jaringan

nyerisekali

perinium

,durasi 10 menit
,intensitastiap 5 menit
,lokasi di perineum
DO: Wajah tampak
meringis menahan
sakit,skala nyeri 6,nadi
80x
permenit,respirasi: 24 x
permenit,terdapat luka
3

robekan perineum
DS:DO:

terdapat

Resiko infeksi
luka

robekan
perineum 5 cm dengan 5
jahitan benang catgut.
Leukosit 10.000 H/mmk,

Prosedur invasif

suhu 37,8 0
4

C
DS: pasien memngatakan

Devisit

belum keramas selama

perawatan diri

Kelemahan fisik

pasca melahirkan. Mandi


dengan disibin, seluruh
aktivitasnya dibantu
keluarga.
DO: fambut tampak kotor
dan

agak

bau.

Kulit

tampak
kusam, erpasang infus
ditangan kiri, tampak
bedrest di tempat tidur,
5

kulit rambut agak kotor.


DS: pasien mengatakan
takut jika perdarahanya

Takut

Krisis
situasional

tidak berhenti.
DO:

pasien

tampak

gelisah

dan

bingung.

Pasien

selalu

bertanya

tentang
Respirasi

keadaaya.
24

x/menit.

Nadi
80x/menit

H. Intervensi Keperawatan
Dengan data yang diperoleh dari pengkajian awal sampai diprioritaskan diagnosa
keperawatan, penulis memaparkan rencana asuhan keperawatan dari kasus kelolaan Ny.E dengan
perdarahan post partum di ruang Khotijah RS Islam Kendal sebagai berikut:

Dengan rencana keperawatan yang telah di susun dapat dilakukan Implementasi


Keperawatan untuk Ny. E dengan perdarahan post partum yang
No
1

Waktu
17-4-

Tujuan & KH
Setelah

Intervensi Kep
1. Monitor

2013

dilakukan

jumlah

perdarahan bisa berakibat

Jam

tindakan

perdarahan

syok

14.00

keperawatan

2. Monitor hasil

Anemi akibat kehilangan

selama 2x7 jam

laboratorium

darah dapat terjadi terapi

diharapkan

(Hb)

penggantian

tidak terjadi

3. Tidurkan

darah

mungkin diperlukan

perdarahan

pasien dengan

dengan criteria

posisi kaki lebih tinggi dapat meningkatkan

hasil :

sedangkan

Perdarahan berhenti

badannya tetap

terjadi

Hb di atas

terlentang

semakin hebat

Normal

4. Monitor tanda

Tanda vital dibatas normal


TD; 120/80
mmHg,nadi :

Vital

5. Monitor intake

Dengan kaki lebih tinggi


Perubahan tanda vital
bila

output

merupakan tanda adanya


gangguan sirkulasi darah

dan output

Massage
merangsang

18-

uterus

6. Lakukan

perdarahan

Perubahan

80x/mnt, suhu :36c,RR ; setiap 1jam


20x/ mnt

Rasional
Kehilangan darah akibat

dan

utrus
kontraksi
membantu

massage uterus

pelepasan

dengan satu

placenta,satu tangan diatas

tangan serta

simpisis

tangan lain

terjadinyan inversio uteri

diatas simpisis
1. Kaji

Senin

Setelah

Untuk

17-4-

dilakukan

nyeri tiap 6

mengetahui

2013.

tindakan

am

derajat nyeri

14.15

keperawatan

skala,intensi

Untuk

selama 2x7 jam diharapkan as, lokasi,

mengalihkan

tidak

perhatian pasien

frekuensi

sisa
mencegah

terjadi infeksi

2. Ajarkan

terhadap nyerinya

dengan kriteria hasil

tehnik

Mengetahui

Lochea tidak

relaksasi dan

perubahan tanda

Berbau

distraksi

vital dan untuk

Daerah genital

3. Kaji tanda

tidak infeksi

Vital

dapat melakukan
intervensi
selanjutnya

Senin

Setelah

1. Catat

17-4

dilakukan

perubahan tanda

tanda vital

2013

tindakan

vital

merupakan

14.15

keperawatan

2. Catat adanya

Perubahan

indikasi

selama 2x7 jam

tanda lemas

terjadinya

di harapkan

,kedinginan ,anoreksia ,

infeksi

kebutuhan

kontraksi uterus

Tanda-tanda

aktivitas fisik

yang lembek

tersebut

pasien terpenuhi dengan dan nyeri

merupakan ndikasi

kriteria

terjadinya

panggul

hasil :

3. Monitor

Pasien dapat melakukan involusi uterus


aktivitas tanpa bantuan
Pasien

dan pengeluaran

menyatakan lochea

bakterimia,
shock yang
tidak terdeteksi
Infeksi uterus

kenyamanan

terhadap
4. Perhatikan

menghambat

kemampuan

melakukan pengeluaran

involusi dan

aktivitasnya

dan

pasien infeksi ditempat

terbebas dari bau badan

terjadinya

lain misalnya

pengeluaran

infeksi saluran

lochea yang

nafas, mastitis

berkepanjangan

saluran kencing

Infeksi di

5. Berikan
perawatan

tempat lain
memperburuk

6.

perineal dan

keadaan

pertahankan

Pembalut

agar pembalut

yang terlalu

jangan sampai

basah

terlalu basah

menyebabkan

Kolaborasi

kulit iritasi dan

dengan tim

dapat menjadi

medis dengan

media untuk

pemberian zat

pertumbuhan

besi dan

bakteri peningkatan

antibiotik

resiko infeksi
Anemi dapat
memperberat
keadaan dan
pemberian
untuk keadaan

Selasa

Setelah dilakukan tindakan


1. Monitor

infeksi
Kem ampuan

17-4-

dikepera

kemampuan

pasien dalam

2013

Watan selama

klien untuk

perawatan diri

15.30

2x27 jam diharapk an

perawatan diri

meningkatkan

Kebutuha n aktifitas

yang mandiri

rasa percaya

Fisik

pasien

terpenuhi
2. Monitor

diri

dengan kriteria hasil :

kebutuhan klien

Untuk

pasien dapat

untuk alat-alat

membantu

melakukan

bantu untuk

meningkatkan

aktifitas tanpa

kebersihan diri,

kemampuan

bantuan

berpakaian

aktivitas pasien

pasien

,berhias,toiletig

Meningkatkan

mengatakan kenyamanan

dan makan

kemampuan

terhadap

3. Berikan

melakukan perawatan diri

kemampuan

bantuan sampai

mandiri yang

melakukan

klien mampu secara utuh

optimal sesuai

aktifitasnya

melakukan

kemampuan.

dan pasien

perawatan diri

terbebas dari
bau badan

4. Dorong klien
untuk
melakukan
aktivitas seharihari yang
normal sesuai
kemampuan
yang dimiliki
,tapiberi bantuan
ketika klien
tidak mampu
melakukannya

17-4-

Setelah

2013

dilakukan

psikologis klien

mempengaruhi

16.00

tindakan

terhadap

intensitas cemasnya

keperawatan

perdarahan

Perubahan

selama 2x7 jam


diharapkan
cemas hilang

1. Kaji respon

2. Kaji respon
fisiologis klien
3. Perlakukan

Persepsi klien

tanda vital
menimbulkan
perubahan pada

atau berkurang

pasien secara

respon

dengan kriteria

empati,serta

fisiologis

hasil ;

bersikap

Memberikan

Pasien dapat

mendukung

dukungan emosi

Mengungkapkan

secara
4. Berikan

Informasi

verbal

informasi

yang dapat

rasa cemasnya

tentang

mengurangi

dan pasien

perawatan dan

cemas dan takut

mengatakan

pengobatan

yang tidak

perasaan cemas
atau hilang

5. Bantu klien
Mengidentifikasi
cemasnya
6. Kaji ekanisme

diketahui
rasa

Ungkapkan
perasaan dapat
mengurangi

koping yang

cemas

digunakan klien

Cemas yang
berkepanjangan
dapat dicegah
dengan
mekanisme
koping yang
tepat

J. Diagnosa Keperawatan
Setelah dilakukan pengkajian pada Ny. E dengan perdarahan post partum di ruang
Khotijah RS Islam Kendal didapat data yang kemudian dianalisa dan prioritas rumusan diagnosa
keperawatan sebagai berikut:
1. Devisit volume cairan b.d perdarahan vagina.
2. Nyeri akut b.d agen injuri fisik ( luka jahitan perineum ).
3. Resiko infeksi b.d prosedur invasif.
4. Defisit perawatan diri b.d kelemahan fisik.
5. Cemas b.d krisis situasional.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Perdarahan post partum didefinisikan sebagai perdarahan yang melebihi 500 ml dalam 24
jam pertama setelah anak lahir12, atau setara dengan pengeluaran darah 1000 ml pada seksio
sesarea.
Perdarahan post partum primer / dini (early postpartum hemarrhage) : Perdarahan yang
terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utamanya adalah atonia uteri, retention plasenta, sisa
plasenta dan robekan jalan lahir. Banyaknya terjadi pada 2 jam pertama. Perdarahan Post Partum
Sekunder / lambat (late postpartum hemorrhage) : Perdarahan yang terjadi setelah 24 jam
pertama
4.2 Saran
Setelah adanya makalah ini diharapkan mahasiswa perawat memiliki intelektual dan
mampu menguasai pengetahuan dan ketrampilan terutama berkaitan dengan asuhan keperawatan
pada klien dengan Haemoragic Post Partum ( HPP )

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito , Lynda .2001.Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta:EGC


Chalik, T. 1997. Hemoragi Utama Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Widya Medika.
Cook, John. 1993. Penatalaksanaan Bedah Obstetric Ginekologi Ortopedi dan Traumatologi
di Rumah Sakit. Jakarta : EGC
Doenges, M. E, Moorhouse, M.F. 2001. Rencana Perawatan Maternal/ Bayi. Jakarta:EGC.
Dxoin, Harry & Forte, William R. 1990. Patologi dan Fisiologi Persalinan. Yogyakarta :
Yayasan Esencia Medika.
Mansjoer, Arif,dkk.2001.Kapita Selekta Kedokteran ,Jilid 1.Jakarta:Media Aesculapius
Mochtar, Rustam. 1998. Sipnosin Obstetric jilid I. Jakarta : EGC
Prawirohardjo Sarwono ; EdiWiknjosastro H.1997.Ilmu Kandungan.Jakarta:Gramedia.
Smith, J. R., Brennan, B. G., 2004, Postpartum Hemorrhage (http://www.emedicine.com)
Syaifudin. Abdul Bari. 1996. Kedaruratan Post Partum. Jakarta : Pusat Pendidikan Tenaga
Kesehatan Departemen Ksehatan RI.