Anda di halaman 1dari 6

Pengertian Corporate Governance

Corporate Governance merupakan proses dan struktur yang


digunakan
untuk mengarahkan dan mengelola bisnis serta urusan-urusan
perusahaan, dalam rangka meningkatkan kemakmuran bisnis dan
akuntabilitas perusahaan, dengan tujuan utama mewujudkan nilai
pemegang saham dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan
kepentingan stakeholders yang lain.
(Malaysian Finance Committee on Corporate Governance February
1999)
Corporate Governance adalah seperangkat peraturan yang
menetapkan
hubungan antara pemegang saham, pengurus, pihak kreditur,
pemerintah,
karyawan serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal
lainnya
sehubungan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata
lain sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan.
(Forum for Corporate Governance in Indonesia / FCGI)
Corporate governance adalah suatu proses dan struktur yang digunakan
oleh suatu organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan
akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai Pemegang Saham
dalam
jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder
lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika .
(Keputusan Menteri BUMN Nomor Kep-117/M-MBU/2002)
Good corporate governance juga merupakan sistem yang harus
menjamin terpenuhinya kewajiban perusahaan kepada shareholders dan
seluruh stakeholders, dan harus mampu bekerjasama dengan
stakeholders

dalam mencapai tujuan perusahaan. Buruknya hubungan perusahaan


dengan stakeholders dapat menimbulkan hambatan dan gangguan pada
jalannya operasi perusahaan.

Pengertian Corporate
Governance

Tujuan dari corporate governance adalah menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang
berkepentingan (stakeholders). Corporate governance digunakan untuk menjelaskan peranan
dan perilaku dari dewan direksi, dewan komisaris dan para pemegang saham. Corporate
governance memiliki tiga komite yaitu Komite Audit, Komite Nominasi dan Remunerasi.
Definisi tentang corporate governance menurut Cadbury Committee dalam Forum Corporate
Governance Indonesia adalah:
seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus
(pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang
kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka,
atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan.
Corporate governance merupakan konsep yang didasari pada teori keagenan, yang
memberikan keyakinan pada investor bahwa agen akan bekerja untuk kepentingan mereka
(Restuningdiah, 2007). Rezaee (2007) mendefinisikan corporate governance sebagai berikut:
is a process effected by legal, regulatory, contractual, and market based mechanism and
best practices to create substantial shareholders value whileprotecting the interest of other
shareholders.
Selain itu, Solomon (2007) mendefinisikan corporate governance sebagai berikut:

the system of check and balance, both internal and external to companies which ensures
that companies discharge their accountability to all their stakeholders and act in a socially
responsible way in all areas of their bussiness activity.
Tata kelola perusahaan yang baik menurut Menteri Keuangan adalah struktur dan proses yang
digunakan dan diterapkan organ perusahaan untuk meningkatkan pencapaian sasaran hasil
usaha dan mengoptimalkan nilai perusahaan bagi seluruh stakeholder. Pelaksanaan tata kelola
perusahaan yang baik diperlukan untuk memenuhi kepercayaan masyarakat dan dunia
internasional
sebagai syarat mutlak bagi industri untuk berkembang dengan baik dan sehat yang bertujuan
mewujudkan stakeholder value (Restuningdiah, 2007). Gagasan utama tata kelola perusahaan
yang baik adalah mewujudkan tanggung jawab social perusahaan yang peduli terhadap sosial
dan

TATA KELOLA ETIS DAN


AKUNTABILITAS
Kegagalan Enron, WorldCom, KAP ArthurAndersen merupakan pemicu tentang harapan baru
dalam tata kelola dan akuntabilitas di
Amerika. Para politisi Amerika menciptakan kerangka
tata kelola dan akuntabilitas baru yang dikenal dengan
Sarbanes-Oxley Act untuk memulihkan kembali
kepercayaan masyarakat dan memfokuskan kembali
tata kelola perusahaan pada tanggung jawab direksi
terhadap kewajiban fidusia mereka terhadap
kepentingan shareholders dan masyarakat.
I. Ancaman Bagi Tata Kelola Perusahaan dan
Akuntabilitas yang Baik
1. Salah mengartikan tujuan dan kewajiban fidusia
Pada kasus Enron, perusahaan melakukan
manipulasi untuk keuntungan jangka pendek yang
ternyata berakibat fatal bagi perusahaan itu
sendiri.

2.

Kegagalan untuk mengidentifikasi dan mengelola


resiko etika.
Resiko etika terjadi ketika terdapat kemungkinan
ekspektasi stakeholder tidak terpenuhi.
Menemukan resiko etika penting untuk
menghindari kehilangan dukungan
daristakeholder.

3.

Konflik kepentingan

Konflik kepentingan terjadi ketika


penilaian indepenpen atau pengambilan keputusan
seseorang goyah atau ada kemungkinan goyah
karena adanya kepentingan lain yang bergantung
pada penilaian tersebut. Sumber utama konflik
kepentingan adalah hubungan dan keluarga dan
kepentingan ekonomi.
II. Elemen Penting dari Tata Kelola dan Akuntabilitas
Mengembangkan, menerapkan, dan Kode Etik
Mengelola Budaya Direktur, pemilik, dan
manajemen senior dalam proses mewujudkan
bahwa mereka dan karyawan mereka perlu
memahami bahwa: Organisasi organisasi akan
lebih baik jika memperhatikan
kepentingan stakeholder, dan bukan
hanya shareholder dan dalam membuat
keputusan mempertimbangkan nilai etis yang
penting.

III. Menurut Murphy, tiga pendekatan yang dapat


diterapkan untuk menanamkan prinsip-prinsip etika ke
dalam bisnis, yaitu:
1.

Credo perusahaan yang mendefinisikan dan


mengarahkan kepada nilai-nilai perusahaan.
Credo adalah pernyataan ringkas dari penyerapan
nilai-nilai suatu perusahaan

a.

Credo dapat diinterpretasikan dengan simple sebagai


sebuah pernyataan misi dari organisasional, bukan
sebagai sebuah dokumen

b.

Credo tidak dapat didudukkan dalam waktu yang


cukup lama sehingga belum dapat dinilai.

2.

Program etika dimana perusahaan berfokus pada isuisu etika


Program etika menyediakan petunjuk yang lebih detail
untuk menyelesaikan masalah etika yang potensial
daripada credo umum.

3.

Kode etik yang memberikan panduan spesifik untuk


karyawan di area bisnis fungsional
Kode etika adalah mekanisme structural perusahaan
yang digunakan sebagai tanda komitmen mereka
terhadap prinsip-prinsip etika. Mekanisme dirasakan
sebagai cara yang paling efektif untuk mendukung
kebiasaan etika bisnis. Kode etika biasanya membahas
isu-isu seperti konflik kepentingan, kompetitor, privasi,
pemberian dan penerimaan pemberian, dan kontribusi
politik.
Penelitian Murphy tentang etika dalam manajemen
menghasilkan kesimpulan yang harus diingat manajer

perusahaan yaitu:
1. Tidak ada pendekatan ideal tunggal untuk etika
perusahaan.
Rekomendasinya dimulai dari perusahaan kecil
dengan sebuah credo dan juga sebuah
perusahaan besar dengan mempertimbangkan
program yang disesuaikan. Hal itu dimungkinkan
untuk mengintegrasikan program-program dan
menghasilkan sebuahhybrid contohnya dalam
berurusan dengan insider trading.

2. Manajemen puncak harus berkomitmen.


Manajer senior harus memenangkan rancangan etika tertinggi bagi
perusahaan mereka. Komitmen ini tampak jelas melalui pernyataan keras
dan jelas dalam surat CEO, laporan, dan pernyataan publik
3. Pengembangan suatu struktur tidak cukup untuk perusahaan itu sendiri.
Struktur tidak akan berguna jika tidak didukung oleh proses manajerial.
Credo pertemuan pada Security Pasific dan seminar di Chemical Bank
adalah contoh dari proses yang mendukung struktur.
4. Meningkatkan kesadaran etis dari suatu organisasi tidak mudah
Banyak perusahaan yang telah menghabiskan waktu dan uang untuk
mengembangkan, mendiskusikan, merevisi, dan mengkomunikasikan

prinsip-prinsip etika perusahaan. dan pada kenyataannya itu semua tidak


menjamin peningkatan kesadaran etis