Anda di halaman 1dari 3

Contoh cerpen

Hari ini, hari yang telah kami sepakati, meskipun diriku tahu, bahwa hanya akulah yang akan
menepati janji kami, meskipun begitu, aku tahu bahwa engkau masih mengingat janji itu, aku
tahu.
Dini hari, ku berjalan menuju tempat yang telah kita sepakati, dengan perlahan, saat-saat kita
berjumpa mulai muncul sedikit demi sedikit dalam benakku, aku ingat dengan pasti, tanggal,
hari, waktu dan tempat kejadiannya. 8 tahun yang lalu, disaat umur kita 10 tahun, engkau
datang ke depan pintu rumahku, bersama ibumu dengan membawa sekotak kue di kedua
tanganmu, ibumu memberitahu ibuku tentang sesuatu, hanyalah kata, pindah, yang bisa
kuingat, begitu lugunya diriku saat itu, aku tidak tahu apa yang sedang ibu kita lakukan,
dengan mata yang berbinar-binar, engkau melihat ke arahku, tepatnya ke arah mainan yang
sedang kugenggam, entah mengapa ketika mengingatnya membuatku sedikit geli. Aku
berhenti sejenak melihat ke langit, matahari belum terbit, tentu saja, ini masih sangat pagi.
Aku melihat ke belakang, berharap engkau mengikutiku, seperti dulu sekali, tapi itu hanya
harapan.
Aku, sendirian, benar-benar keadaan yang sangat berbeda, padahal dulu kita selalu berdua,
sungguh menyedihkan. Aku berjalan dengan berbagai pertanyaan dalam benakku, mengapa
engkau begitu antusias dengan berbagai hal? Apa yang membuat dirimu penasaran? Ingatan
perlahan muncul dengan sendirinya, saat hari pertamamu di sekolah, kita satu kelas, sungguh
keajaiban, di hari pertamamu, engkau sudah menjadi pusat perhatian, dengan berbagai
pertanyaan yang aneh.
keke tanpa kusadari aku terkekeh. Dengan sendirinya terasa beban yang sangat berat
muncul dalam benakku, janji itu, apa engkau masih mengingatnya? Itu sudah sangat lama,
dengan sendirinya, kakiku berhenti melangkah, aku memandang langit, cahaya matahari telah
muncul, aku berlari, dalam benakku, antara optimis dan kekecewaan telah kuredam, lagipula
siapa yang peduli dia masih ingat atau tidak, air mata menetes dengan sendirinya mengaliri
wajahku, aku tak bisa menahan beban ini, terlalu menyedihkan.
Akhirnya, aku sampai, di tempat kita berjanji, sambil melihat sang surya dengan berani
menunjukkan dirinya, pagi hari, tepat tanggal 22 maret, hari ulang tahunku, sekaligus hari
dimana kita bertemu, di tempat kenangan, alangkah bagusnya jika engkau ada disini,
kawanku, sahabatku, cinta pertamaku.
Dibalik pohon muncul sosok seorang laki-laki, membawa kado di genggamannya, berjalan
tepat berada di depanku, engkau muncul, dengan senyuman yang menyebalkan terpapar di
atas wajahmu, aku tak percaya, engkau ada disini, aku benar-benar tidak menyangka.
aku benar-benar membencimu, bodoh, aku benar-benar menyayangimu, ucapku tanpa
sadar, dengan air mata yang mengalir dengan deras, membasahi wajahku.

PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN


Bulan Januari 2014 akan menjadi suatu kenangan yang tidak pernah terlupakan seumur
hidup saya bisa dikatakan suatu pengalaman indah atau bahkan suatu pengalaman yang
menyedihkan.
Pagi itu saya bermaksud membersihkan halaman rumah ketika saya sedang menyapu di
sela sela pintu saya hanya bermaksud untuk merapatkan pintu tapi tanpa saya sadari
mungkin saya terlalu kuat mendorong pintu tersebut hingga pintu terkunci dengan sendirinya,
saya bingung saya harus bagaimana sedangkan semua orang di rumah sedang berangkat ke
rumah Nenek saya.
Perasaan saya saat itu campur aduk saya sudah tidak bisa berkata-kata lagi saya hanya
bisa bicara pada diri sendiri apa yang kamu lakukan kenapa kamu bodoh sekali sudah tahu
di rumah tidak ada orang kenapa tidak berhati-hati tidak ada yang bisa saya lakukan selain
menyalahkan diri sendiri, tapi disela-sela saya menyalahkan diri saya sendiri ada suara di
dalam hati saya berkata untuk apa kamu menyalahkan dirimu sendiri toh semuanya sudah
terjadi dan tidak dapat di putar ulang lebih baik sekarang memikirkan bagaimana caranya
supaya saya bisa membuka pintu itu.
Akhirnya saya meminta bantuan kepada tetangga untuk membuka pintu tersebut dengan
cara menjebol pintu, setelah itu ada 2 hal yang saya pikirkan yaitu saya menjadi pencuri di
rumah saya sendiri dan bagaimana supaya pintu tersebut kembali seperti semula supaya saya
bisa kembali tenang karena saya takut Ayah dan Ibu saya marah karena kecerobohan yang
saya lakukan selain itu saya takut ada hal yang lain yang terjadi setelah tetangga saya tahu
kalau di rumah saya sedang tidak ada orang.
Ketakutan itu semakin menjadi-jadi ketika saya berpikir bagaimana caranya untuk
memberitahukan kejadian ini pada keluarga saya, jujur saya takut sekali bukan hanya karena
takut dimarahin tapi saya juga takut meninggalkan rumah setelah kejadian itu.
Saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk menenangkan diri saya karena saya tahu
Tuhan bisa memberikan ketenangan bagi saya, di dalam hati saya ada sejumlah jawaban dari
pertanyaan yang saya berikan antara lain teleponlah pasti tidak akan dimarahi dan perasaan di
dalam hatimu lebih tenang.
Setelah menelepon benar saja apa yang dikatakan suara hati, saya tidak dimarahi dan
perasaaan saya lebih tenang.

Tapi sampai sekarang saya masih trauma atas kejadian tersebut dan semoga yang saya
takuti tidak akan pernah terjadi amin.dan Semoga ini bisa menjadi pelajaran hidup yang
sangat berharga untuk saya dan tidak akan pernah terulang lagi seumur hidup saya.
KHALIQ IBNUL WALID
9844
28
XII IPA PLUS

Anda mungkin juga menyukai