Anda di halaman 1dari 5

A.

Sistematika
Divisi
: Bryophyta
Klas
: Hepaticopsida
Bangsa
: Marchantiales
Suku
: Marchantiaceae
Marga
: Marchantia
B. Distribusi dan Habitat
Marchantia merupakan salah satu marga lumut yang cukup populer.
Beranggotakan sekitar 65 spesies ditemukan di segenap penjuru dunia
(kosmopolitan). Habitatnya adalah tempat-tempat yang lembab, dingin, dan
teduh. Tumbuh di tebing-tebing sungai, dinding sumur, rawa, dan batu-batuan
yang basah. Jika tumbuh subur Marchantia akan terlihat bagaikan karpet
hijau yang terhampar di permukaan tanah. Beberapa spesies Marchatia antara
lain: M. palmatai, mempunyai ciri khas adanya garis hitam pada bagian
tengah permukaan dorsal talus. M. nepalensis, tidak memiliki garis hitam pada
bagian tengah permukaan dorsal talus, lobus talus pendek dan lebar. M.
polymorpha, talus besar, lebar dan pipih.
C. Periode Gametofit
Gametofit yang telah dewasa mempunyai susunan tubuh sebagai
berikut:
a. Struktur Luar
Tubuh tersusun dari talus dorsi-ventral yang berwarna hijau gelap,
pipih, bercabang dikotom. Percabangan talus disebut lobus dari talus. Berbeda
dengan Riccia yang percabangan talusnya membentuk pola roset, percabangan
pada Riccia tidak memperlihatkan percabangan tertentu. Bagian tengah talus
menebal embentuk rusuk. Pada ujung talus terdapat takik yang didasarnya
tertletak titik tumbuh.
Permukaan dorsal talus tersusun atas ruang-ruang udara atau aerolae
yang berbentuk trapesium. Setiap aerolae memiliki sebuha pori (lubang udara)
di permukaan atas terlihat seperti titik-titik kecil. Fungsi pori udara sebagai
jalan/lubang aerasi talus dengan penguapan seminimal mungkin. Selain itu di
permukaan dorsal, tepatnya dibagian rusuk, sering ditemukan kupula atau
mangkuk tempat tumbuh gemmae (tunas). Jika talus telah dewasa, pada
bidang dorsal tumbuh gametangiofor (struktur pembawa alat kelamin) yang

berbentuk seperti paying. Arkegoniofor (pembawa arkegonium) dan


anteridiofor (pembawa anteridium) tumbuh pada talus yang berbeda, sehingga
ada talus jantan dan talus betina (heterotalik atau dioeccius).
Pada bidang ventral muncul banyak sekali rhizoid yang merupakan
perpanjangan sel epidermis bawah. Ada dua macam rhizoid, yaitu rhizoid
berdinding halus dan rhizoid bersekat tidak sempurna. Yang pertama selnya
lebih lebar dan dindingnya tipis, sedangkan yang ke-dua selnya sempit dan
dindingnya tebal. Rhizoid tidak berwarna atau terlihat bening. Fungsi rhizoid
adalah sebagai alat untuk menempel/melekat pada substrat dan juga menyerap
air dan larutan garam.
Selain rhizoid pada bidang ventral juga tumbuh sisik, berbentuk pipih
dan terbentuk dari banyak sel, warnanya ungu dan biasanya tersusun dalam
dua sampai empat deret pada kedua sisi rusuk. Fungsi sisik untuk menjaga
kelembaban lingkungan sekitar talus dengan cara menyerap air. Gambar 3.1
memperlihatkan struktur luar talus Marchantia.
b. Struktur Internal (dalam) Talus
Dibandingkan dengan Riccia, struktur talus Marchantia lebih
kompleks. Struktur dalam talus dapat dibedakan menjadi tiga daerah, yaitu 1)
daerah epidermis, 2) daerah fotosintesis, dan 3) daerah penyimpanan
makanan.
1. Daerah Epidermis
Tersusun dari epidermis atas (pada permukaan bidang dorsal) dan
epidermis bawah (pada permukaan bidang ventral). Epidermis atas
menutupi daerah fotosintesis. Tersusun dari selapis sel. Selnya
berkloroplas, dinding sel yang menghadap permukaan atas lebih tebal.
Fungsi epidermis atas adalah untuk melindungi jaringan yang berada d
bawahnya dan mengatur penguapan air. Pada epidermis atas terdapat
pori udara yang dikelilingi oleh 4 tumpuk cincin, setiap cincin tersusun
dari 4-5 sel sehingga terbentuk suatu cerobong yang melebar di bagian
tengah dan menyempit di bagian ujungnya. Sel-sel penyusun cincin
yang paling bawah berbentuk papilae (menjulur ke arah dalam)
sehingga lubang berbentuk seperti bintang. Setiap pori berfungsi

sebagai pertukaran gas antara ruang udara dengan lingkungan luar


fotosintesis dan respirasi. Jadi analogi dengan stomata pada tumbuhan
tinggi.
Perubahan volume sel penyusun cincin (mengembang dan mengempis)
melalui proses imbibisi merupakan mekanisme pengaturan membuka
dan menutup pori udara.
2. Daerah Fotosintesis
Seeperti dsinggung di muka, permukaan dorsal talus tersusun dari
areolae yang terletak pas di bawah epidermis atas. Ruang udara
memiliki ukuran relatif sama antara yang satu dengan yang lain dan
dibatasi oleh dinding pemisah yang tersusun dari 3-4 sel. Setiap ruang
udara berhubungan dengan lingkungan luar melalui pori. Dari dasar
areolae muncul filamen-filamen bercabang yang tersusun dari sel-sel
berkloroplas. Filamen ini disebut filamen fotosintesis. Sel-sel dasar
ruang udara, sel-sel pemisah ruang udara, bahkan sel-sel epidermis
atas semuanya mengandung kloroplas. Oleh sebab itu keseluruhan
ruang udara akan menyusun daerah fotosintesis, yang sesuai dengan
namanya, berfungsi membentuk makanan melalui proses fotosintesis.
3. Daerah Penyimpanan Makanan
Terletak di bawah daerah fotosintesis. Tersusun dari sel-sel yang
berdinding tipis, berbentuk polygonal dengan ukuran relatif besar,
tersusun padat, dan biasanya tidak mempunyai kloroplas, sebagian
besar mengandung tepung dan butir-butir protein. Juga ada sel-sel
yang mengandung minyak (sel minyak), dan sel-sel mucilage
(mucilage = lendir berisi heterosakharida).
4. Epidermis Bawah
Tersusun dari selapis sel yang menyerupai sel penyusun epidermis atas
Dari sel-sel tersebut muncul rhizoid dan sisik.
D. Reproduksi
Cara reproduksi Marchantia dapat dibedakan menjadi reproduksi
vegetatif dan reproduksi seksual.
a. Reproduksi Vegetatif
1. Fragmentasi
Pada prinsipnya melalui proses seperti yang terjadi pada Riccia.

2. Adanya Cabang-cabang Adventif


Cabang-cabang ini bila terlepas dapat tumbuh menjadi talus baru.
Dijumpai pada M. palmata.
3. Pembentukan Gemmae (tunas)
Gemmae dibentuk di dalam kupula (mangkuk). Kupula tumbuh dari
sebuah sel yang berada di belakang titik tumbuh. Gemmae berkembang
dari sebuah sel yang mendasari kupula. Gemmae yang telah dewasa
berbentuk seperti lensa pipih yang tersusun dari banyak sel. Pada
bidang tengah terdapat takikan dimana terletak titik tumbuh. Gemmae
menempel pada dasar kupula dengan perantara tangkai pendek.
Sebagian besar sel penyusun gemmae berwarna hijau, juga ditemukan
sel-sel yang mengandung minyak (sel minyak). Selain itu pada
permukaan terdapat beberapa sel yang tidak berwarna yang disebut sel
rhizoid. Pada dasar kupula, berselang-seling dengan gemmae, tumbuh
rambut mucilage yang berperan dalam pelepasan gemmae. Jika
lingkungan basah, sel mucilage akan menyerap air sehingga
mengembang dan mendesak gemmae yang ada di sebelahnya sehingga
terlepas dari dasar kupula lantas terbawa oleh aliran air. Jika jatuh di
tempat yang cocok, sel-sel rhizoid pada gemmae akan membentuk
rhizoid. Dari kedua titik tumbuh yang terdapat pada takik akan tumbuh
talus baru dengan arah tumbuh yang berlawanan. Jadi dari sebuah
gemmae akan tubuh dua talus baru.
b. Reproduksi Seksual
Reroduksi seksual terjadi sekali selama musim pertumbuhan, yaitu
pada saat kelembaban cukup tinggi, siang hari lebih panjang dari pada
malam hari, dan kandungan Nitrogen pada substrat dalam keadaan rendah.
Alat kelamin, anteridium atau arkegonium, tumbuh pada ujung
gametangiofor; tepatnya pada bagian reseptakel. Gametangiofor itu sendiri
merupakan hasil pertumbuhan vertikal dari sebuah sel apikal pada takik
talus, yaitu masih ditemukan adanya rhizoid dan ruang udara.
Reseptakel anteridium berbentuk cakram dengan lekuk-lekuk lobus
yang tidak dalam. Pada umumnya jumlah lobus ada 8, kadang-kadang 4.

Setiap lobus memiliki ttik tumbuh pada ujungnya. Sayatan vertikal


reseptakel memperlihatkan susunan anatomis yang sama dengan talus. Ada
epidermis atas, ruang udara dan porinya, filamen fotosintesis, jaringan
penyimpanan makanan dan pada epidermis bawah juga tumbuh rhizoid dan
sisik.
Anteridium tumbuh di dalam ruang anteridium yang tertanam pada
permukaan setiap lobus, dalam susunan akropetal. Pada permukaan atas
anteridium terdapat lubang (ostiole).
Anteridium tumbuh dan berkembang dari sebuah sel di belakang titik
tumbuh pada lobus reseptakel. Pembentukan anteridium sejalan dengan
pemanjangan lobus, oleh sebab itu anteridium yang lebih tua terletak lebih
ke dalam dibandingkan yang muda. Inilah yang dimaksud susunan
akropetal. Proses pembentukan anteridium pada prinsipnya sama dengan
yang berlangsung pada Riccia.