Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Data dari Reproductive Health Library menyatakan terdapat 180 sampai 200
juta kehamilan setiap tahun. Dari angka tersebut terjadi 585.000 kematian maternal
akibat komplikasi kehamilan dan persalinan. Sebab kematian tersebut adalah
perdarahan 24,8%, infeksi dan sepsis 14,9%, hipertensi dan preeklampsi/eklampsi
12,9%, persalinan macet (distosia) 6,9%, abortus 12,9%, dan sebab yang lain 7,9%.
Seksio sesarea di Amerika Serikat dilaporkan meningkat setiap tahunnya, Pada
tahun 2002 terdapat 27,6 % seksio sesarea dari seluruh proses kelahiran. Dari angka
tersebut, 19,1% merupakan seksio sesarea primer. Laporan American College of
Obstretician and Gynaecologist (ACOG) menyatakan bahwa seksio sesarea primer
terbanyak pada primigravida dengan fetus tunggal, presentasi vertex, tanpa
komplikasi. Indikasi primigravida tersebut untuk seksio sesarea adalah presentasi
bokong, preeklampsi, distosia, fetal distress, dan elektif. Panggul sempit (pelvic
contaction) merupakan salah satu kelainan jalan lahir yang akan menghambat
kemajuan persalinan karena ketidaksesuaian antara ukuran kepala janin dengan
panggul ibu yang biasa disebut dengan disproporsi sefalopelvik. Istilah disproporsi
sefalopelvik muncul pada masa dimana indikasi utama seksio sesarea adalah
panggul sempit yang disebabkan oleh rakhitis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Disproporsi sefalopelvik adalah keadaan yang menggambarkan ketidaksesuaian
antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui
vagina. Disproporsi sefalopelvik disebabkan oleh panggul sempit, janin yang besar
ataupun kombinasi keduanya.

2.2 Anatomi Panggul


2.2.1 Pintu Atas Panggul
Pintu atas panggul dibentuk oleh promontorium corpus vertebra sacrum 1, linea
innominata, serta pinggir atas simfisis.
Konjugata diagonalis adalah jarak dari pinggir bawah simfisis ke promontorium,
Secara klinis, konjugata diagonalis dapat diukur dengan memasukkan jari telunjuk
dan jari tengah yang dirapatkan menyusur naik ke seluruh permukaan anterior
sacrum, promontorium teraba sebagai penonjolan tulang. Dengan jari tetap
menempel pada promontorium, tangan di vagina diangkat sampai menyentuh arcus
pubis dan ditandai dengan jari telunjuk tangan kiri. Jarak antara ujung jari pada
promontorium sampai titik yang ditandai oleh jari telunjuk merupakan panjang
konjugata diagonalis.
Konjugata vera yaitu jarak dari pinggir atas simfisis ke promontorium yang dihitung
dengan mengurangi konjugata diagonalis 1,5 cm, panjangnya lebih kurang 11 cm.
Konjugata obstetrika merupakan konjugata yang paling penting yaitu jarak antara
bagian tengah dalam simfisis dengan promontorium, Selisih antara konjugata vera
dengan konjugata obstetrika sedikit sekali.

Gambar 1. Diameter pada Pintu Atas Panggul


2.2.2 Panggul Tengah (Pelvic Cavity)
Ruang panggul ini memiliki ukuran yang paling luas. Pengukuran klinis panggul
tengah tidak dapat diperoleh secara langsung. Terdapat penyempitan setinggi spina
isciadika, sehingga bermakna penting pada distosia setelah kepala engagement.
Jarak antara kedua spina ini yang biasa disebut distansia interspinarum merupakan
jarak panggul terkecil yaitu sebesar 10,5 cm. Diameter anteroposterior setinggi spina
isciadica berukuran 11,5 cm. Diameter sagital posterior, jarak antara sacrum dengan
garis diameter interspinarum berukuran 4,5 cm.
2.2.3 Pintu Bawah Panggul
Pintu bawah panggul bukanlah suatu bidang datar namun terdiri dari dua segitiga
dengan dasar yang sama yaitu garis yang menghubungkan tuber isciadikum kiri dan
kanan. Pintu bawah panggul yang dapat diperoleh melalui pengukuran klinis adalah
jarak antara kedua tuberositas iscii atau distansia tuberum (10,5 cm), jarak dari
ujung sacrum ke tengah-tengah distensia tuberum atau diameter sagitalis posterior
(7,5 cm), dan jarak antara pinggir bawah simpisis ke ujung sacrum (11,5 cm).

2.3 Panggul Sempit


Distosia adalah persalinan yang sulit dan ditandai oleh terlalu lambatnya
kemajuan persalinan. Distosia dapat disebabkan oleh kelainan pada servik, uterus,
janin, tulang panggul ibu atau obstruksi lain di jalan lahir. Kelainan ini oleh ACOG

dibagi menjadi tiga yaitu:


1. Kelainan kekuatan (power) yaitu kontraktilitas uterus dan upaya ekspulsif ibu.
a. Kelainan his : inersia uteri / kelemahan his
b. kekuatan mengejan yang kurang misalnya pada hernia atau sesak nafas.
2. Kelainan yang melibatkan janin (passenger), misalnya letak lintang, letak dahi,
hidrosefalus.
3. Kelainan jalan lahir (passage), misalnya panggul sempit, tumor yang
mempersempit jalan lahir.
Panggul dengan ukuran normal tidak akan mengalami kesukaran kelahiran
pervaginam pada janin dengan berat badan yang normal. Ukuran panggul dapat
menjadi lebih kecil karena pengaruh gizi, lingkungan atau hal lain sehingga
menimbulkan kesulitan pada persalinan pervaginam. Panggul sempit yang penting
pada obstetric bukan sempit secara anatomis namun panggul sempit secara
fungsional artinya perbandingan antara kepala dan panggul.
Selain panggul sempit dengan ukuran yang kurang dari normal, juga terdapat
panggul sempit lainnya. Panggul ini digolongkan menjadi empat, yaitu:
1. Kelainan karena gangguan pertumbuhan intrauterine: panggul Naegele, panggul
Robert, split pelvis, panggul asimilasi.
2. Kelainan karena kelainan tulang dan/ sendi: rakitis, osteomalasia, neoplasma,
fraktur, atrofi, nekrosis, penyakit pada sendi sakroiliaka dan sendi sakrokoksigea.
3. Kelainan panggul karena kelainan tulang belakang: kifosis, skoliosis,
spondilolistesis.
4. Kelainan panggul karena kelainan pada kaki: koksitis, luksasio koksa, atrofi atau
kelumpuhan satu kaki.
Setiap penyempitan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas panggul
dapat menyebabkan distosia saat persalinan. penyempitan dapat terjadi pada pintu

atas panggul, pintu tengah panggul, pintu bawah panggul, atau panggul yang
menyempit seluruhnya.
2.3.1 Penyempitan pintu atas panggul
Pintu atas panggul dianggap sempit apabila diameter anterioposterior
terpendeknya (konjugata vera) kurang dari 10 cm atau apabila diameter transversal
terbesarnya kurang dari 12 cm. Diameter anteroposterior pintu atas panggul sering
diperkirakan dengan mengukur konjugata diagonal secara manual yang biasanya
lebih panjang 1,5 cm. Dengan demikian, penyempitan pintu atas panggul biasanya
didefinisikan sebagai konjugata diagonal yang kurang dari 11,5 cm. Mengert (1948)
dan Kaltreider (1952) membuktikan bahwa kesulitan persalinan meningkat pada
diameter anteroposterior kurang dari 10 cm atau diameter transversal kurang dari 12
cm. Distosia akan lebih berat pada kesempitan kedua diameter dibandingkan sempit
hanya pada salah satu diameter. Diameter biparietal janin berukuran 9,5-9,8 cm,
sehingga sangat sulit bagi janin bila melewati pintu atas panggul dengan diameter
anteroposterior kurang dari 10 cm.
Wanita dengan tubuh kecil kemungkinan memiliki ukuran panggul yang kecil,
namun juga memiliki kemungkinan janin kecil. Dari penelitian Thoms pada 362
nullipara diperoleh rerata berat badan anak lebih rendah (280 gram) pada wanita
dengan panggul sempit dibandingkan wanita dengan panggul sedang atau luas. Pada
panggul sempit ada kemungkinan kepala tertahan oleh pintu atas panggul, sehingga
gaya yang ditimbulkan oleh kontraksi uterus secara langsung menekan bagian
selaput ketuban yang menutupi serviks. Akibatnya ketuban dapat pecah pada
pembukaan kecil dan terdapat resiko prolapsus funikuli. Setelah selaput ketuban
pecah, tidak terdapat tekanan kepala terhadap serviks dan segmen bawah rahim
sehingga kontraksi menjadi inefektif dan pembukaan berjalan lambat atau tidak
sama sekali. Jadi, pembukaan yang berlangsung lambat dapat menjadi prognosa
buruk pada wanita dengan pintu atas panggul sempit. Pada nulipara normal aterm,
bagian terbawah janin biasanya sudah masuk dalam rongga panggul sebelum
persalinan. Adanya penyempitan pintu atas panggul menyebabkan kepala janin
megapung bebas di atas pintu panggul sehingga dapat menyebabkan presentasi janin
5

berubah. Pada wanita dengan panggul sempit terdapat presentasi wajah dan bahu
tiga kali lebih sering dan prolaps tali pusat empat sampai enam kali lebih sering
dibandingkan wanita dengan panggul normal atau luas.
2.3.2 Penyempitan panggul tengah
Dengan sacrum melengkung sempurna, dinding-dinding panggul tidak
berkonvergensi, foramen isciadikum cukup luas, dan spina isciadika tidak menonjol
ke dalam, dapat diharapkan bahwa panggul tengah tidak akan menyebabkan
rintangan bagi lewatnya kepala janin. Penyempitan pintu tengah panggul lebih
sering dibandingkan pintu atas panggul.Hal ini menyebabkan terhentunya kepala
janin pada bidang transversal sehingga perlu tindakan forceps tengah atau seksio
sesarea.
Penyempitan pintu tengah panggul belum dapat didefinisikan secara pasti
seperti penyempitan pada pintu atas panggul. Kemungkinan penyempitan pintu
tengah panggul apabila diameter interspinarum ditambah diameter sagitalis posterior
panggul tangah adalah 13,5 cm atau kurang. Ukuran terpenting yang hanya dapat
ditetapkan secara pasti dengan pelvimetri roentgenologik ialah distansia
interspinarum. Apabila ukuran ini kurang dari 9,5 cm, perlu diwaspadai
kemungkinan kesukaran persalinan apalagi bila diikuti dengan ukuran diameter
sagitalis posterior pendek.
2.3.3 Penyempitan Pintu Bawah Panggul
Pintu bawah panggul bukan suatu bidang datar melainkan dua segitiga dengan
diameter intertuberosum sebagai dasar keduanya. Penyempitan pintu bawah panggul
terjadi bila diameter distantia intertuberosum berjarak 8 cm atau kurang.
Penyempitan pintu bawah panggul biasanya disertai oleh penyempitan pintu tengah
panggul. Disproporsi kepala janin dengan pintu bawah panggul tidak terlalu besar
dalam menimbulkan distosia berat. Hal ini berperan penting dalam menimbulkan
robekan perineum. Hal ini disebabkan arkus pubis yang sempit, kurang dari 900
sehingga oksiput tidak dapat keluar tepat di bawah simfisis pubis, melainkan menuju
ramus iskiopubik sehingga perineum teregang dan mudah terjadi robekan.

2.4 Perkiraan Kapasitas Panggul Sempit


Perkiraan panggul sempit dapat diperoleh dari pemeriksaan umum dan
anamnesa. Misalnya pada tuberculosis vertebra, poliomyelitis, kifosis. Pada wanita
dengan tinggi badan yang kurang dari normal ada kemungkinan memiliki kapasitas
panggul sempit, namun bukan berarti seorang wanita dengan tinggi badan yang
normal tidak dapat memiliki panggul sempit. Dari anamnesa persalinan terdahulu
juga dapat diperkirakan kapasitas panggul. Apabila pada persalinan terdahulu
berjalan lancar dengan bayi berat badan normal, kemungkinan panggul sempit
adalah kecil.
Pengukuran panggul (pelvimetri) merupakan salah satu cara untuk memperoleh
keterangan tentang keadaan panggul. Melalui pelvimetri dalam dengan tangan dapat
diperoleh ukuran kasar pintu atas dan tengah panggul serta memberi gambaran jelas
pintu bawah panggul. Adapun pelvimetri luar tidak memiliki banyak arti. Pelvimetri
radiologis dapat memberi gambaran yang jelas dan mempunyai tingkat ketelitian
yang tidak dapat dicapai secara klinis. Pemeriksaan ini dapat memberikan
pengukuran yang tepat dua diameter penting yang tidak mungkin didapatkan dengan
pemeriksaan klinis yaitu diameter transversal pintu atas dan diameter antar spina
iskhiadika. Tetapi pemeriksaan ini memiliki bahaya pajanan radiasi terutama bagi
janin sehingga jarang dilakukan. Pelvimetri dengan CT scan dapat mengurangi
pajanan radiasi, tingkat keakuratan lebih baik dibandingkan radiologis, lebih mudah,
namun biayanya mahal. Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan dengan MRI
dengan keuntungan antara lain tidak ada radiasi, pengukuran panggul akurat,
pencitraan janin yang lengkap. Pemeriksaan ini jarang dilakukan karena biaya yang
mahal. Dari pelvimetri dengan pencitraan dapat ditentukan jenis panggul, ukuran
pangul yang sebenarnya, luas bidang panggul, kapasitas panggul, serta daya
akomodasi yaitu volume dari bayi yang terbesar yang masih dapat dilahirkan
spontan.
Pada kehamilan yang aterm dengan presentasi kepala dapat dilakukan
pemeriksaan dengan metode Osborn dan metode Muller Munro Kerr. Pada metode
Osborn, satu tangan menekan kepala janin dari atas kearah rongga panggul dan
7

tangan yang lain diletakkan pada kepala untuk menentukan apakah kepala menonjol
di atas simfisis atau tidak. Metode Muller Munro Kerr dilakukan dengan satu tangan
memegang kepala janin dan menekan kepala ke arah rongga panggul, sedang dua
jari tangan yang lain masuk ke vagina untuk menentukan seberapa jauh kepala
mengikuti tekanan tersebut dan ibu jari yang masuk ke vagina memeriksa dari luar
hubungan antara kepala dan simfisis.

2.5 Janin yang besar


Normal berat neonatus pada umumnya 2500 - 4000gram dan jarang ada yang
melebihi 5000gram. Berat badan neonatus lebih dari 4000gram dinamakan bayi
besar. Frekuensi berat badan lahir lebih dari 4000gram adalah 5,3%, Dan berat
badan lahir yang melihi 4500gram adalah 0,4%. Biasanya untuk berat janin 40005000 gram pada panggul normal tidak terdapat kesulitan dalam proses melahirkan.
Factor keturunan memegang peranan penting sehingga dapat terjadi bayi besar.
Janin besar biasanya juga dapat dijumpai pada ibu yang mengalami diabetes
mellitus, postmaturitas, dan pada grande multipara. Selain itu, yang dapat
menyebabkan bayi besar adalah ibu hamil yang makan banyak, hal tersebut masih
diragukan.
Untuk menentukan besarnya janin secara klinis bukanlah merupakan suatu hal
yang mudah. Kadang-kadang bayi besar baru dapat kita ketahui apabila selama
proses melahirkan tidak terdapat kemajuan sama sekali pada proses persalinan
normal dan biasanya disertai oleh keadaan his yang tidak kuat. Untuk kasus seperti
ini sangat dibutuhkan pemeriksaan yang teliti untuk mengetahui apakah terjadi
sefalopelvik disproporsi. Selain itu, penggunaan alat ultrasonic juga dapat mengukur
secara teliti apabila terdapat bayi dengan tubuh besar dan kepala besar.
Pada panggul normal, biasanya tidak menimbulkan terjadinya kesulitan dalam
proses melahirkan janin yang beratnya kurang dari 4500gram. Kesulitan dalam
persalinan biasanya terjadi karena kepala janin besar atau kepala keras yang
biasanya terjadi pada postmaturitas tidak dapat memasuki pntu atas panggul, atau

karena bahu yang lebar sulit melalui rongga panggul. Bahu yang lebar selain dapat
ditemukan pada janin yang memiliki berat badan lebih juga dapat dijumpai pada
anensefalus. Janin dapat meninggal selama proses persalinan dapat terjadi karena
terjadinya asfiksia dikarenakan selama proses kelahiran kepala anak sudah lahir,
akan tetapi karena lebarnya bahu mengakibatkan terjadinya macet dalam melahirkan
bagian janin yang lain. Sedangkan penarikan kepala janin yang terlalu kuat ke
bawah dapat mengakibatkan terjadinya cedera pada nervus brakhialis dan muskulus
sternokleidomastoideus.

2.6 Penanganan
2.6.1 Persalinan Percobaan
Setelah dilakukan penilaian ukuran panggul serta hubungan antara kepala janin
dan panggul dapat diperkirakan bahwa persalinan dapat berlangsung per vaginan
dengan selamat dapat dilakukan persalinan percobaan. Cara ini merupakan tes
terhadap kekuatan his, daya akomodasi, termasuk moulage karena faktor tersebut
tidak dapar diketahui sebelum persalinan.
Persalinan percobaan hanya dilakukan pada letak belakang kepala, tidak bisa
pada letak sungsang, letak dahi, letak muka, atau kelainan letak lainnya. Ketentuan
lainnya adalah umur keamilan tidak boleh lebih dari 42 mingu karena kepala janin
bertambah besar sehingga sukar terjadi moulage dan ada kemungkinan disfungsi
plasenta janin yang akan menjadi penyulit persalinan percobaan.
Pada janin yang besar kesulitan dalam melahirkan bahu tidak akan selalu dapat
diduga sebelumnya. Apabila dalam proses kelahiran kepala bayi sudah keluar
sedangkan dalam melahirkan bahu sulit, sebaiknya dilakukan episiotomy
medioateral yang cukup luas, kemudian hidung dan mulut janin dibersihkan, kepala
ditarik curam kebawah dengan hati-hati dan tentunya dengan kekuatan terukur. Bila
hal tersebut tidak berhasil, dapat dilakukan pemutaran badan bayi di dalam rongga
panggul, sehingga menjadi bahu depan dimana sebelumnya merupakan bahu
belakang dan lahir dibawah simfisis. Bila cara tersebut masih juga belum berhasil,
9

penolong memasukkan tangannya kedalam vagina, dan berusaha melahirkan janin


dengan menggerakkan dimuka dadanya. Untuk melahirkan lengan kiri, penolong
menggunakan tangan kanannya, dan sebaliknya. Kemudian bahu depan diputar ke
diameter miring dari panggul untuk melahirkan bahu depan.
Persalinan percobaan ada dua macam yaitu trial of labour dan test of labour.
Trial of labour serupa dengan persalinan percobaan di atas, sedangkan test of labour
sebenarnya adalah fase akhir dari trial of labour karena baru dimulai pada
pembukaan lengkap dan berakhir 2 jam kemudian. Saat ini test of labour jarang
digunakan karena biasanya pembukaan tidak lengkap pada persalinan dengan pangul
sempit dan terdapat kematian anak yang tinggi pada cara ini.Keberhasilan persalinan
percobaan adalah anak dapat lahir spontan per vaginam atau dibantu ekstraksi
dengan keadaan ibu dan anak baik. Persalinan percobaan dihentikan apabila
pembukaan tidak atau kurang sekali kemajuannnya, keadaan ibu atau anak kurang
baik, setelah pembukaan lengkap dan ketuban pecah kepala tidak masuk PAP dalam
2 jam meskipun his baik, serta pada forceps yang gagal. Pada keadaan ini dilakukan
seksio sesarea.
2.6.2 Seksio Sesarea
Seksio sesarea elektif dilakukan pada kesempitan panggul berat dengan
kehamilan aterm, atau disproporsi sephalopelvik yang nyata. Seksio juga dapat
dilakukan pada kesempitan panggul ringan apabila ada komplikasi seperti
primigravida tua dan kelainan letak janin yang tak dapat diperbaiki.Seksio sesarea
sekunder (sesudah persalinan selama beberapa waktu) dilakukan karena peralinan
perobaan dianggap gagal atau ada indikasi untuk menyelesaikan persalinan selekas
mungkin sedangkan syarat persalinan per vaginam belum dipenuhi.
2.6.3 Simfisiotomi
Tindakan ini dilakukan dengan memisahkan panggul kiri dan kanan pada
simfisis. Tindakan ini sudah tidak dilakukan lagi.

10

2.6.4 Kraniotomi dan Kleidotomi


Pada janin yang telah mati dapat dilakukan kraniotomi atau kleidotomi.
Apabila panggul sangat sempit sehingga janin tetap tidak dapat dilahirkan, maka
dilakukan seksio sesarea.

11

BAB 3
LAPORAN KASUS
STATUS ORANG SAKIT
1. ANAMNESA PRIBADI
Nama
Umur
No. RM
Pekerjaan
Pendidikan
Agama
Suku
Alamat
Tgl Masuk
Jam

: Ny. P
: 19 tahun
: 21.74.02
: Ibu Rumah Tangga
: S1
: Islam
: Jawa
: Jl. Terusan Gg. Setia
: 06-07-2014
: 04.30 WIB

2. ANAMNESA PENYAKIT
Keluhan utama

: Keluar air dari kemaluan

Telaah

: Dialami OS sejak tgl 06-07-2014 pkl. 02.00 wib. Mulesmules mau melahirkan (-). Keluar lendir darah (-). Riw.
Keputihan (-). Riw. Demam (-).

RPT

: Hipertensi (-), DM (-), asma (-).

Riw. Persalinan :

RPO

: (-)

1. Hamil ini

ANC

: Bidan 5 x, dokter umum 2 x

HPHT
TTP

: 17 - 09 - 2013
: 24 - 06 - 2014

Status Presens

Sens

: CM

Anemis

: (-)

TD

: 140/90 mmhg

Ikterik

: (-)

HR

: 88 x/I

Sianosis

: (-)

RR

: 20 x/I

Dispnoe

: (-)

Temp

: 36,5 0C

Edema

: (-)
12

Status Obstetrikus :
Abdomen

: membesar asimetris

TFU

: 3 jari bawah procecus xyphoideus ( 30 cm)

Teregang

: kiri

Terbawah

: kepala

Gerak

: (+)

His

: tidak adekuat

DJJ

: 140 x/i

EBW

: (2600 - 2800) gram

VT

: Cx tertutup

ST

: lendir darah (-), air ketuban (+)

Adekuasi Panggul:
-

Promontorium teraba

Linea inominata teraba seluruh

Spina ischiadica menonjol

Arcus pubis tumpul

Sacrum cekung

Os coccygeus mobile

Dx : PG + KDR (Post Date 12 hari) + LK + AH + B. Inpartu + CPD


Th/ : - O2 2-4 l/i
- keteter menetap
- IVFD RL 2 flash ( cor ) / rehidrasi
- Inj. cefotaxime 2 gram
R/

: SC

Lapor supervisor jaga dr. Muslich Perangin - angin, SpOG ACC

13

Tanggal 06/7/2014 pukul 08.15 wib Lahir bayi , BB: 2700 gr, PB: 48 cm, A/S:
8/9, anus (+), LK 31 cm

LAPORAN OPERASI
Tanggal 06 Juli 2014 Laporan operasi SC a/i CPD lahir bayi laki-laki BB 2700 gr, PB: 48
cm, A/S: 8/9, anus (+).
Ibu dibaringkan di meja operasi dengan infus dan kateter terpasang baik.
Di bawah anestesi spinal dilakukan tindakan antiseptik pada dinding abdomen
dengan betadine sol. dan larutan alkohol 70%, lalu ditutup dengan doek steril,
kecuali lapangan operasi.
Dilakukan insisi pfanenstiel kutis-subkutis, fascia digunting ke kiri dan ke kanan,
otot dikuakkan secara tumpul. Peritoneum dijepit dengan klem, lalu digunting ke
atas dan ke bawah.
Tampak uterus gravidarum, besar sesuai usia kehamilan, identifikasi SBR, plika
vesikauterina disisihkan ke arah bawah.
Dilakukan insisi konkaf sampai subendometrium, lalu dilebarkan sesuai arah
insisi.
Evaluasi : kepala janin sudah masuk jauh ke bawah panggul, UUK arah jam 3,
mekonium (+)
Dengan memfleksikan kepala dan menarik ke atas, lahir bayi laki-laki, BB 2700
gr, PB: 48 cm, A/S: 8/9, anus (+)
Tali pusat diklem di dua sisi lalu digunting di antaranya.
Dengan PTT, plasenta dilahirkan, kesan lengkap.
Uterus dibersihkan dari sisa selaput ketuban dengan kasa terbuka.
Uterus dijahit continuous interlocking, lalu dilakukan overhecting, evaluasi
perdarahan : t.a.a.
Dilakukan reperitonealisasi, lalu dinding abdomen dijahit lapis demi lapis,
evaluasi perdarahan: t.a.a.
Keadaan umum ibu post-SC baik.

14

Instruksi
Awasi VS, tanda-tanda perdarahan, dan kontraksi uterus.
Cek darah rutin 2 jam post-SC, bila Hb kurang dari 8 gr% transfusi

Penatalaksanaan
1.

IVFD RL + Oksitosin 10-10-5-5 IU-20 gtt/mnt

2.

Cefotaxime inj 1 gr/ 8 jam iv.

3.

Metronidazole drips 500 mg/8 jam.

4.

Inj. Ketorolac 1 amp/ 8 jam iv.

Hasil lab tgl 06-07-2014 pukul 09:34 wib


-

Hb

: 10,5 g/dl

Ht

: 29,1 %

Leukosit

: 12.800 /uL

Trombosit

: 286.000 /uL

KALA IV
Jam
HR/menit
Tekanan

08.45
80
100/80

09.00
80
110/80

11.30
84
110/80

12.00
84
120/80

12.30
82
120/80

18
Kuat

18
Kuat

24
Kuat

20
Kuat

20
Kuat

darah
(mmHg)
RR/menit
Kontraksi
FOLLOW UP

15

Hari ke
Tanggal
Sensorium
TD
Nadi/ i
Suhu
RR
Abdomen
Peristaltik
TFU
Luka Operasi
ASI
P/V
Lochia
BAK
BAB
Terapi

NH0
06/07/2014
CM
110/80 mmHg
82 x/i
36,5 C
20 x/i
Soepel
2 jari dbp
Tertutup verban
kesan kering
(-)
Rubra
+
Tidak ada
IVFD
RL
+
Oksitosin 10-10-55 IU 20 gtt/i
Inj. cefotaxime 1
gr/8jam/IV
Metronidazole
drips 500 mg/8
jam/IV
Inj. Ketorolac 1
amp/8 jam/IV

NH1
07/07/2014
CM
110/80 mmHg
80 x/i
36,5 C
20 x/i
Soepel
+
2 jari dbp
Tertutup verban
kesan kering
(+/+)
Rubra
+
Tidak ada
IVFD
RL
+
Oksitosin 10-10-55 IU 20 gtt/i
Inj. cefotaxime 1
gr/8jam/IV
Metronidazole
drips 500 mg/8
jam/IV
Inj. Ketorolac 1
amp/8 jam/IV

NH2
08/07/2014
CM
110/80 mmHg
80 x/i
36,2 C
20 x/i
Soepel
+
3 jari dbp
Tertutup verban
kesan kering
(+/+)
Rubra
+
Ada
IVFD RL 20 gtt/i
Inj. cefotaxime 1
gr/8jam
Metronidazole
drips 500 mg/8
jam/IV
Inj. Ketorolac amp/
8 jam IV m/IV

DAFTAR PUSTAKA

16

1. Saifuddin AB. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Edisi Keempat. Jakarta:


BP-SP, 2008.
2. Lowe, N.K. The Dystocia Epidemic in Nulliparous Women. School of Nursing
Oregon

Health

&

Science

University.

2005.

[Online]

Hyperlink:

http://196.33.159.102/1961%20VOL%20XXXV
%20JulDec/Articles/10%20October/3.5%20A%20CLINICAL
%20CLASSIFICATION%20OF%20CEPHALO-PELVIC
%20DISPROPORTION.%20C.J.T.%20Craig.pdf, 10 Mei 2009.
3. Cunningham FG, Gant FN, Leveno KJ, dkk. Obstetri Williams. Edisi 21. Jakarta:
EGC, 2005.
4. Winkjosastro H. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Jakarta: YBP-SP, 2007.
5. Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Bandung. Obstetri Fisiologi. Bandung: Elemen, 1983.
6. Israr YA, Irwan M, Lestari, dkk. Arrest of Decent- Cephalopelvc Disproportion
(CPD).

2008.

[Online]

Hyperlink:

http://72.14.235.132/search?

q=cache:RqVXzDPzkgIJ:yayanakhyar.wordpress.com/2008/09/05/arrest-ofdecent-cephalopelvic-disproportion-cpd/+Cephalopelvic+disproportion&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id, 20 Mei 2009.


7. Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Bandung. Obstetri Patologi. Bandung: Elstar, 1982.

17