Anda di halaman 1dari 36

BAB I

LATAR BELAKANG
A.

Latar Belakang
Pendidikan merupakan upaya meningkatkan mutu sumber daya
manusia yang pada akhirnya akan berperan menentukan di dalam
pemanfaatan sumber daya alam demi peningkatan mutu kehidupan
berdasarkan pemikiran yang berdasarkan wawasan masa depan. Pendidikan
Indonesia diharapkan mampu mengembangkan sumber daya memiliki
kepekaan kemandirian dan tanggung jawab ( Soemanto, 1988). Dan tujuan
pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar
mampu menghadapi masalah yang akan dihadapi di masa yang akan
datang.
Dalam Pendidikan Nasional bahwa Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermanfaat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,

dan

bertujuan meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang


beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekeri
luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil,
berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif
serta sehat jasmani dan rohani menumbuhkan jiwa patriotik dan
mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan
kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap

menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan (TAP MPR
No . II / MPR /1999).
Dengan demikian, untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional
tersebut, maka dibutuhkan usaha bekerja keras yang terus menerus dan
berkesinambungan serta melibatkan banyak faktor pendukung yaitu faktor
internal yang berupa motivasi belajar dan faktor ekternal yang meliputi
fasilitas belajar serta propesionalisme guru atau pendidik dalam penguasan
maupun penyampaian materi pelajaran, khususnya pada mata pelajaran
biologi. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan tehnologi pemerintah terus
berusaha membenahi dan meningkatkan sumber daya manusia yang
berkualitas di segala bidang termasuk di bidang pendidikan.
Guru-guru pada umumnya, dan guru biologi pada khususnya perlu
menguasai berbagai metode dalam mengajar bidang studi. Hal ini sangat
penting karna dalam menguasai berbagai metode, guru akan lebih terampil
dalam mengelola proses belajar mengajar, khususnya dalam mata pelajaran
biologi, pengusaan berbagai metode sangat penting untuk meningkatkan
motivasi siswa dalam belajar biologi, dengan demikian minat belajar
biologi peserta didik bangkit sehingga mereka akan merasa sangat giat
untuk belajar dan tertantang untuk berfikir dalam proses belajar mengajar
tersebut.
Di samping informasi di atas lain yang diproleh adalah sering kali
guru yang lebih aktif sedang siswa sebagai penerima pelajaran (pasif) yang
dituturkan guru tanpa ingin mengetahui apakah materi pelajaran tersebut

sudah dimengerti sama siswa apa belum. Hal ini disebabkan beberapa
faktor antara lain karena guru kurang memahami anak didik atau guru
mengalami kesulitan dalam memilih metode pengajaran agar siswa dapat
belajar secara aktif. Karena guru selama ini menyampaikan materi pelajaran
lebih banyak menerapkan strategi secara ekspositori mengenai teori-teori di
dominasi oleh guru. Untuk mengatasi hal tersebut maka salah satu cara
yang dapat dilakukan adalah dengan mengoptimalkan pencapaian tujuan
belajar melalui penggunaan metode mengajar yang efektif.
Metode mengajar merupakan salah satu cara yang dipergunakan
guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya
pembelajaran,

seperti

metode

ceramah,

metode

diskusi,

metode

eksperimen, dan metode pemberian tugas. Metode dan tehnik mengajar


tidak semua dapat digunakan sepenuhnya karena setiap metode memiliki
kelebihan atau kekurangan, dan tidak semua metode cocok untuk semua
materi pelajaran, karena itu pemilihan tehnik dan metode mengajar yang
tepat sangat berhubungan terhadap hasil belajar siswa, karena ketepatan
menggunakan metode sangat tergantung pada tujuan, isi proses belajar
mengajar dan kegiatan belajar mengajar. (Nana Saodiah, 1991:108).
Ketika melakukan observasi awal di SMP Negeri 5 Jonggat yaitu
melalui wawancara terhadap guru mata pelajaran biologi dan langsung
melihat kondisi sekolah tersebut ternyata gurunya masih menggunakan
metode ceramah dan Tanya jawab, sehingga siswanya masih sulit menerima
pelajaran dengan baik. Hal ini yang menyebabkan nilai siswa sangat kurang

baik, dapat diketahui dari data hasil belajar biologi siswa kelas VIII di SMP
Negeri 5 jonggat Lombok Tengah dimana persentase siswa yang tuntas
sebanyak 45%.
Hasil wawancara yang dilakukan di SMP Negeri 5 Jonggat, bahwa
kurangnya minat belajar siswa dipengaruhi oleh kurang tepatnya metode
yang di gunakan dalam proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran
cendrung tidak relevan dengan pola pendekatan atau metode pengajaran
yang digunakan. Hal ini yang menyebabkan sisi kualitas pengajaran yang di
harapkan kurang terpenuhi. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk melihat
efektifitas suatu pendekatan dan metode pengajaran proses belajar mengajar
yang di lakukan dapat berhasil, sehingga memudahkan bagi siswa dalam
memahami suatu disiplin ilmu atau mata pelajaran yang diterimanya.
Penggunaan metode pembelaajaran seperti ini yang lebih banyak
aktif siswa yang pintar dan daya serapnya lebih cepat, sedangkan siswa
yang daya serapnya lambat menjadi pasip serta minat dan perhatian siswa
dalam mengikuti kegiatan pembelajaran masih kurang.
Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu menggunakan
model/metode pembelajaran yang dapat menimbulkan siswa aktif, kreatif
dan menyenangkan salah satu metode yang dapat diterapkan dalam proses
belajar mengajar adalah kooperatif tipe round table pada mata pelajaran
IPA yang oleh penulis mengharapkan akan meningkatkan motivasi dan
hasil belajar siswa, dan peneliti ini hanya dibatasi pada mata pelajaran
Biologi kelas VIII di SMP Negeri 5 Jonggat tahun pelajaran 2012/2013.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka dalam penelitian ini


peneliti menerapan model pembelajaran kooperatif tipe round table untuk
meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA siswa kelas VIII SMP Negeri
5 Jonggat tahun pelajaran 2012/2013 dapat mengaktifkan daya ingat untuk
menekuni pelajaran biologi.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang diuraikan di atas dapat dirumuskan
permasahan sebagai berikut Bagaimana penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe round table dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar
biologi siswa kelas VIII

SMP Negeri 5 Jonggat Tahun Pelajaran

2012/2013.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe round table dalam
meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA siswa kelas VII SMP Negeri 5
Jonggat Tahun Pelajaran 2012/2013.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini di maksudkan sebagai sarana untuk memproleh
informasi tentang model pembelajaran kooperatif tipe round table terhadap
motivasi dan hasil belajar IPA maka hasil penelitian ini di harapkan
bermanfaat bagi:

1. Manfaat Praktis
a)

Guru dapat dijadikan alternatif model pembelajaran dalam


upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, serta
upaya mengurangi dominasi guru dalam proses belajar
mengajar.

b)

Siswa, dapat merangsang kemampuan berpikir siswa dalam


pemecahan masalah, menambah rasa percaya diri siswa, serta
meningkatkan hasil belajar siswa.

c)

Sekolah, dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada


pengelola sekolah dalam rangka memperbaiki teknik dan
metode pembelajaran yang lebih bervariasi.

2. Manfaat Teoritis
a) Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi untuk
memperdalam pengetahuan dan penelitian bagi pihak yang
dapat mengaktifkan siswa.
b) Sebagai

bahan

studi

untuk

mengembangkan

model

pembelajaran pada pokok bahasan lain pada bidang sama dan


penerapan model pada pokok bahasan yang lain pada bidang
yang berbeda.
E. Lingkup Penelitian
Lingkup penelitian bertujuan untuk membatasi penelitian yang
akan dibahas dan untuk memperlancar proses pelaksanaan yang dilakukan
yaitu :

1)

Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 5
Jonggat Tahun Pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 32 siswa

2)

Objek Penelitian
Yang menjadi obyek dalam penelitian adalah motivasi dan hasil
belajar siswa yang di ajukan melalui penerapan kooperatif tipe round
table pada mata pelajaran IPA.

3)

Lokasi Penelitian
Penelitian yang di laksanakan di SMP Negeri 5 Jonggat Tahun
Pelajaran 2012/2013.

F. Definisi Operasional
Beberapa istilah dalam judul ini hampir sebagian besar sudah jelas,
namun untuk menghindari terjadi kekeliruan terhadap makna judul dalam
penelitian ini perlu dijelaskan istilah sebagai berikut :
1) Pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperatif learning) adalah pendekatan
pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa
untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk
mencapai tujuan belajar.
2) Round table
Metode round table adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana
siswa diharapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan
atau pertanyaan yang bersipat problematis untuk dibahas dan

dipecahkan

bersama

yang

pembelajarannya

berbentuk

bulat

(lingkaran). Di dalam round table inilah proses belajar mengajar


berlangsung dimana terjadi interaksi antara individu (Trianto, 2007).
3) Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses kegiatan siswa dalam membangun
makna yang memadai atau pemahaman, maka siswa perlu diberi waktu
yang memadai untuk melakukan proses belajar. Artinya memberikan
waktu yang cukup untuk berfikir ketika siswa mengadapi masalah
sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk membangun sendiri
gagasannya.
4) Motivasi Belajar
Motivasi adalah dorongan atau kekuatan dalam diri siswa yang
menimbulkan motivasi kegiatan serta arah belajar untuk mencapai
tujuan yang dikehendaki siswa.Teori ini juga menyebutkan motivasi
sebagai fungsi dinamika psikologis prilaku manusia yang lebih
kompleks. Motivasi tidak saja merupakan fungsi melibatkan
kebutuhan, tujuan, sistem nilai, persepsi pribadi dan pengalaman.
5) Hasil Belajar
Hasil Belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah
dalam sikap dan tingkah lakunya aspek perubahan ini mengacu kepada
taksonomi

tujuan

pengajaran

yang

dikembangkan

oleh

Bloom,Simpson dan Harrow mencakup aspek kognitif, afektif dan


psikomotorik (Winkel, 1996 ).

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.

Landasan Teori
1. Teori Belajar dan Pembelajaran

Menurut

Syah

(2002),

belajar

merupakan

tahapan

perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap


sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang
melibatkan proses kongnitif.
Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada
individu yang terjadi melalui pengalaman, dan bukan karena
pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya atau karakteristik
seseorang sejak lahir. Proses belajar terjadi melalui banyak cara baik
disengaja maupun tidak disengaja dan berlangsung sepanjang waktu
dan menuju pada suatu perubahan pada diri pembelajar. Perubahan
yang dimaksud adalah perubahan prilaku tetap berupa pengetahuan,
pemahaman, keterampilan dan kebiasaan yang baru diperoleh
individu. Sedangkan pengalaman merupakan interaksi antara
individu dengan lingkungan sebagai sumber belajarnya. Jadi, belajar
disini diartikan sebagai proses perubahan perilaku tetap dari belum
tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari kurang
terampil menjadi lebih terampil, dan dari kebiasaan lama menjadi
kebiasaan baru serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu
itu sendiri (Trianto, 2009).

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi


unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan
prosedural

yang

saling

mempengaruhi

mencapai

tujuan

learning)

adalah

pembelajaran (Hamalik, 2009).


a) Pengertian Kooperatif
Pembelajaran
pendekatan

kooperatif

pembelajran

(cooperatif

yang

berfokus

pada

penggunaan

kelompok kecil siswa untuk kerja sama dalam memaksimalkan


kondisi belajar untu mencapai tujuan belajar.
Menurut Yatim Riyanto adalah model pembelajaran yang
dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic
Skill),

sekaligus

keterampilan

sosial

(social

skill)

termasuk interpersonal skill. Menurut pendapat Lie, yang dikutip


oleh Made Wena mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif
adalah sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada
siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas
terstruktur dan dalam sistem ini guru bertindak sebagai fasilitator.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran kooperatif adalah sistem pembelajaran yang berusaha
memanfaatkan teman sejawat (siswa lain) sebagai sumber belajar,
disamping guru dan sumber belajar yang lainnya.
Pada 1916, john dewey, menulis sebuah buku yang berjudul
democracy and education. Konsep dewey tentang pendidikan

10

menyatakan bahwa kelas seharusnya mencerminkan masyarakat


yang lebih luas menjadi laboratorium bagi pelajaran kehidupan
nyata. Pedagogi dewey mengharukaan guru untuk menciptakan
lingkungan belajar yang di tandai oleh prosedur-prosedur yang
demokratis dan tentang berbagai masalah social dan interpersonal.
b) Konsep Pokok Pembelajaran Kooperatif
Manusia memiliki derajat potensi, latar belakang historis,
serta harapan masa depan yang berbeda beda karena perbedaan itu,
manusia

dapat

saling

asah,

asih,

dan

asuh

(saling

mencerdaskan).pembelajaran kooperatif menciptakan interaksi


yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar
(learning community). Siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi
juga dari siswa-siswa.
Ciri-ciri kooperatif
a)

Saling ketergantungan positif

b)

Interaksi tatap muka

c)

Akuntabilitas individu

d)

Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi

c) Model Pembelajaran Roundtable


George (1995) mengemukakan Penerapan Kooperatif teknik
Round table, kelompok menuliskan pengalaman mereka sehingga
membuat membuat mereka belajar bekerjasama dengan keras.
Untuk melakukan ini dibutuhkan selembar kertas untuk masing-

11

masing tema dari masing-masing anggota kelompok. Tema


dituliskan di atas masing-masing kertas. Kertas itu kemudian
diteruskan(ke kiri atau ke kanan) hingga setiap anggota kelompok
mendapatkan kesempatan menulis masing-masing kertas paling
sedikit dua kali.
Menurut Yudha M. Saputra secara sistematik adalah sebagai
berikut :
1) Siswa dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil
yang beranggotakan 5-6 orang.
2) Setiap anggota memegang selembar kertas yang berisi
pertanyaan yang bebeda beda, selanjutnya pertanyaan
tersebut dianalisa dan dicari solusi pemecahannya.
3) Dalam waktu yang sudah ditentukan, lembar jawaban atas
pertanyaan itu diberikan pada anggota lain untuk dianalisis
dan dievaluasi.
4) Begitu seterusnya, sampai semua pertanyaan itu selesai
dijawab dan dianalisis.
5) Dilakukan

diskusi

kelas

untuk

mengemukakan,

mempertahankan hasil pekerjaannya, dengan giliran bicara


bisa sesuai arah perputaran arah jarum jam.
Metode round table adalah cara penyajian bahan pelajaran
dimana siswa diharapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa
pernyataan atau pertanyaan yang bersipat problematis untuk

12

dibahas dan dipecahkan bersama yang pembelajarannya berbentuk


bulat (lingkaran). Didalam round table inilah proses belajar
mengajar berlangsung dimana terjadi interaksi antara individu
(Trianto, 2007).
d)

Motivasi Belajar
Motivasi merupakan sebagai daya upaya yang mendorong
seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai
daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan
aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan
motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intrern (kesiap
siagaan).Berawal dari kata motif maka motivasi dapat diartikan
sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi
aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk
mencapai tujuan sangat dirasakan / mendesak (Sadirman : 2006 ).
Motivasi tidak sama dengan motif, meskipun akar katanya
sama yaitu motivum. Motivasi dapat difahami sebagai suatu
variabel penyelang yang digunakan untuk menimbulkan faktorfaktor tertentu di dalam organisme, yang membangkitkan,
mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku
menuju suatu sasaran . Sedangkan motif dipahami sebagai suatu
keadaan ketegangan di dalam individu, yang membangkitkan,
memelihara dan mengarahkan tingkah laku menuju suatu tujuan
atau sasaran. Pengertian motif tidak dapat dipisahkan daripada

13

kebutuhan (needs), seseorang atau suatu organisme yang berbuat


melakukan sesuatu, sedikit banyaknya ada kebutuhan di dalam
dirinya ada sesuatu yang hendak dicapainya.(Syaiful 2006).
Dalam membicarakan soal jenis-jenis motivasi, hanya akan
dibahas dari dua sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dari
dalam diri pribadiseseorang yang disebut Motivasi Intrinsik dan
Motivasi yang berasal dari luar diri seseorang yang disebut
motivasi ekterinsik (Djamarah, 2002).
a.

Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi
aktif atau berfungsi tidak perlu dirangsang dari luar, karena
dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk
melakukan sesuatu.
Motivasi intrinsik bila tujuannya dengan situasi belajar
dan bertemu dengan kebutuhan dan tujuan anak didik untuk
menguasai nilai-nilai yang terkandung dalam pelajaran itu.

b.

Motivasi Ekterinsik
Motivasi ekterinsik adalah kebalikan dari motivasi
intrinsik motivasi ekterinsik adalah motif-motif yang aktif dan
berfungsi karena danya perangsang dari luar. Motivasi
ekterinsik dikatakan ekterinsik bila anak didik menempatkan
tujuan belajarnya di luar Faktor-faktor situasi belajar anak
didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di

14

luar hal yang dipelajari. Misalnya, untuk mencapai angka


tinggi, diploma, gelar, kehormatan dan sebagainya.
Motivasi ekterinsik bukan berarti motivasi yang tidak
diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi
ekterinsik diperlukan agar anak didik mau belajar.
e) Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata
yaitu hasil dan belajar. Hasil adalah hasil dari suatu kegiatan
yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun
kelompok. Sedangkan Belajar adalah suatu aktivitas yang
dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari
bahan yang telah dipelajari (Djamarah, 1991).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil yang diproleh berupa
kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu
baik berupa sikap, kebiasaan dan keterampilan sebagai hasil dari
motivasi belajar. Dengan demikian hasil belajar sangat erat
hubunganya dengan kegiatan belajar di mana hasil belajar seperti
yang telah disebutkan diatas adalah merupakan hasil dari kegiatan
belajar itu sendiri.
Hasil belajar dalam tulisan ini dapat diartikan sebagai hasil
yang telah dicapai peserta didik berupa peningkatan hasil dan
proses perubahan tingkah laku melalui latihan dan pengalaman.

15

f) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar


Menurut Supartha (2003) pada dasarnya faktor yang
mempengaruhi hasil belajar dapat dikategorikan ke dalam dua
faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri pelajar (faktor
internal) dan faktor yang berasal dari luar diri peljar (faktor
ekternal). Faktor internal adalah faktor yang datang dari diri pelajar
terutama minat belajar, motivasi, itelegensi, bakat, Selain itu juga
terdapat faktor ekternal yaitu faktor yang datang dari luar seperti
lingkungan, bahan belajar, tempat belajar, metode mengajar,
metode belajar dan keadaan ekoonomi orang tua.
Adapun

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

hasil

belajar

diantaranya:
A. Faktor Internal (faktor dalam diri peserta didik) yakni keadaan
atau kondisi jasmani dan rohani peserta didik.
Faktor internal adalah faktor yang datang dari dalam diri
pelajar terutama kemampuan yang dimilikinya. Kemampuan
belajar yang dcapai. Adanya pengaruh dari dalam diri pelajar
merupakan hal yang logis jika dilihat bahwa perubahan belajar
adalah perubahan tingkahlaku individu yang disadarinya, jadi
sejauh mana usaha belajar untuk mengkondisikan dirinya bagi
perbuatan belajar, sejauh itu pula hasil belajar yang akan
dicapai.

16

1)

Minat Belajar
Minat belajar sangat besar pengruhnya dalam kegiatan
belajar, dengan minat yang tinggi akan mendorong
seseorang dalam belajar. Belajar tanpa minat dan perhatian
tidak akan pernah berhasil, sebab di dalam belajar harus
didasarkan oleh minat dan perhatian yang sungguhsungguh.

2)

Motivasi
Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang
bertindak dalam melakukan sesuatu motivasi yang kuat
untuk belajar itu mencapai motivasi dan hasil belajar yang
lebih tinggi jika dibandingkan dengan motivasi yang
lemah.

3)

Intelegensi
Intelegensi mempunyai peran yang sangat besar terhadap
motivasi dan hasil belajar, karena intelegensi adalah
keseluruhan kemampuan individu untuk berfikir dan
bertindak secara terarah.

4)

Bakat
Bakat merupakan potensi yang bersifat khusus yang ada
dalam diri individu, potensi tersebut apabila tidak dilatih
dengan baik maka akan besar sekali pengaruhnya terhadap

17

proses belajar dan hasil belajar peserta didik (Supartha,


2003).
B. Faktor Ekternal (faktor dari lur diri peserta didik) yakni kondisi
lingkungan di sekitar peserta didik.
Faktor Ekternal adalah faktor yang datang dari luar dirinya,
yang disebut lingkungan. Salah satu lingkungan belajar yang
paling dominan dalam mempengaruhi hasil belajar di sekolah
adalah kualitas pengajaran yang dikelola oleh pendidik. Hasil
belajar pada hakekatnya tersirat dalam tujuan pengajaran. Oleh
karena sebab itu, hasil belajar di sekolah dipengaruhi oleh
kapasitas pelajar dan kualitas pengajaran.
1) Lingkungan
Lingkungan

tempat

tinggal

sangat

mempengaruhi

keberhasilan peserta didik dalam belajar. Lingkungan


merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
menganalisa

problem pendidikan, peranannya cukup

menentukan hasil belajar yang dicapai.


2) Bahan Belajar
Bahan belajar adalah kelengkapan belajar berupa bukubuku

bacaan.Terbatasnya

bahan

pelajaran

akan

menghambat proses belajar peserta didik.

18

3) Tempat Belajar
Belajar dengan teratur dan sistematis memerlukan tempat
dan sasaran yang memadai.Tempat belajar merupakan salah
satu syarat dalam belajar, tanpa tempat belajar yang efektif
tidak mungkin proses belajar itu dapat berlangsung.
4) Metode mengajar
Metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus
dilalui oleh seorang pendidik dalam proses mengajar agar
dapat menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didiknya
dengan baik. Metode mengajar pendidik yang kurang baik
akan menyebabkan motivasi dan hasil belajar peserta didik
yang tidak baik pula. Pendidik juga harus dapat memilih
metode mengajar yang efektif dan efisien untuk membantu
meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar.
5) Metode Belajar
Metode belajar peserta didik juga merupakan faktor yang
mempengaruhi belajar peserta didik, Dengan metode
belajar, peserta didik dapat melaksanakan peserta didikan
proses belajar secara teratur dengan pembagian waktu yang
baik dan dapat memilih metode belajar yang tepat dan
efisien, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta
didik.

19

6) Kelainan Ekonomi Orang Tua


Faktor ini juga berperan dalam kegiatan belajar peserta
didik, karena apabila keadaan ekonomi orang tuanya
kurang mampu, maka akan berpengaruh pula terhadap
pesetra didik yang sedang belajar (Supartha, 2003).
B.

Kerangka Berpikir
Penerapan dalam pembelajaran merupakan salah satu faktor yang
menentukan hasil belajar siswa, hal ini yang membuat peneliti mencoba
untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe round table dalam
pembelajaran, sehingga membuat peningkatan dalam pembelajaran.
Kelebihan metode round table adalah perluasan wawasan kepada siswa dan
meransang kreativitas dalam mengemukan ide, gagasan, atau trobosan baru
dalam memecahkan masalah.
Kelemahan metode round table adalah pembicaraan kadang
menyimpang sehingga memerlukan waktu yang lumayan lama dan
biasanya dikuasai oleh siswa yang suka bicara, sehingga siswa yang lain
hanya menjadi pendengar tanpa memberikan masukan maupun pendapat.
Berdasarkan hal di atas maka peneliti dapat mengajukan kerangka
berpikir

dalam

pemecahan

masalah

penelitian

sebagai

berikut

pembelajaran model kooperatif tipe round table dengan pola dan


langkah-langkah yang benar dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar
siswa secara bertahap.

20

BAB III
METODE PENELITIAN
A.

Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan
kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh
peneliti di dalam kelas atau di sekolah tempat mengajar, dengan penekanan
pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses dalam
pembelajaran (Susilo, 2007 ). Model yang dikembangkan oleh Kurt Lewis
didasarkan atas konsep bahwa penelitian tindakan kelas terdiri dari empat
komponen pokok yang menunjukan langkah-langkah, yaitu:
(1) Merumuskan masalah dan merencanakan tindakan (planning).
(2) Melakssiswaan tindakan (acting).
(3) Pengamatan (observing),
(4) Merefleksika (refleting) hasil pengamatan (Suharsimi, 2006).

B.

Pendekatan Penelitian
Pendekatan adalah suatu cara yang digunakan oleh peneliti dalam
suatu penelitian tentang urutan-urutan bagaiman penelitian dilaksanakan.
Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan terbagi dalam dua jenis
yaitu:

21

1.

Pendekatan Kuantitatif
Pendekatan kuantitatif adalah suatu pendekatan yang dilakukan oleh
peneliti dalam bentuk kalimat, kata, gambar (Sugiono, 2009).

2.

Pendekatan Kualitatif
Pendekatan kualitatif adalah suatu pendekatan yang berbentuk angka
atau data kuantitatif yang diangkakan (skoring) (Sugiono :2009).

C.

Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan di SMP Negeri 5 Jonggat Lombok
Tengah yang melibatkan siswa Biologi kelas VIII Tahun Pelajaran
2012/2013.

D.

Rancangan Penelitian
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe round table dilakukan
oleh penelitian sedangkan guru sebagai observer. Peneliti dan guru
bekerjasama

dalam

pelaksanaan

pembelajaran

untuk

memperoleh

kesepakatan dan pemahaman yang sama terhadap masalah yang dihadapi.


Penelitian ini dilakukan dalam upaya meningkatkan motivasi dan hasil
belajar siswa.
Penelitian ini direncanakan beberapa siklus. Hal ini didasarkan pada
alokasi waktu dan banyaknya indicator yang dapat dicapai melalui
pembelajaran kooperatif tipe round table. Masing-masing siklus terdiri dari
perencanaan, pelaksanaan tindakan observasi dan evaluasi serta refleksi.

22

Siklus PTK secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut.


Perencanaan
Refleksi

Siklus I

Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi

Siklus II

Pelaksanaan

Pengamatan
Skema : 3.1 Model Peneilitian Tindakan Kelas ( Arikunto, 2010)

Penelitian ini dirancang dalam 2 siklus dengan tahapan persiklus


sebagai berikut:
1.

Siklus I
a.

Perencanaan
1) Penelit mensosialisasikan tentang pembelajran dengan metode
kooperatif tipe round table kepada guru sekolah.
2) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
3) Menyusun

format-format

instrumen

penelitian,

lembar

observasi, angket (Tertutup) serta tes hasil belajar siswa.

23

b.

Pelaksanaan Tindakan
Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah
melaksanakan pengajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) dan skenario pembelajaran yang telah disusun
diantaranya adalah:
1. Tahap Pendahuluan (Kegiatan Awal)
a.

Guru membuka pembelajaran dengan salam.

b.

Guru menilai kehadiran siswa (absensi).

c.

Guru menyampaikan topik atau tema pembelajaran yang


akan dibahas.

d.

Guru menyampaikan garis-garis besar tentang materi


yang diawali dengan memancing keaktifan siswa dengan
Tanya jawab sebagai brainstorming (pemanasan). Hal ini
untuk mengatifkan siswa agar lebih siap menghadapi bahan
pelajaran yang baru.

e.

Guru menyampaikan ilustrasi singkat mengenai proses


pembelajaran.

2. Tahap Kegiatan Inti


Kegiatan Guru
a. Guru membentuk kelompok siswa.
b. Membagikan lembar kerja siswa sebagai panduan
kegiatan belajar.
c. Guru menjelaskan penyampaian materi pembelajaran

24

d. Guru menugaskan setiap anggota kelompok untuk


mengerjakan Tes yang berupa tes essay.
e. Memandu siswa dalam mengerjakan tugas masingmasing anggota kelompok sesuai dengan materi.
f. Memberikan kesempatan kepada setiap kelompok kecil
untuk mengangkat permasalahan yang dihadapi masingmasing kelompok.
g. Mengarahkan jawaban siswa.
Kegiatan Siswa
a. Menerima lembar kerja siswa (LKS)
b. Memperhatikan penjelasan guru mengenai materi yang
akan dibahas
c. Mencari atau menelusuri informasi yang berkaitan
dengan materi.
d. Mendiskusikan berbagai masalah dalam kelompok dan
menanyakan materi-materi sulit yang belum dapat
dipecahkan.
e. Memperhatikan dan mencatat arahan jawaban yang
diberikan guru.
f. Mengumpulkan hasil kerja kelompok.
3. Tahap Penutup (Kegiatan Akhir)
a.

Guru bersama siswa melakukan evaluasi dan refleksi


terhadap kegiatan pebelajaran.

25

b.

Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk


mengungkapkan manfaat yang diperoleh dari kegiatan
pembelajaran.

c.

Guru

menyempurnakan

pemahaman

siswa

dengan

memberikan kesimpulan.
c.

Observasi
Selama pelaksanaan tindakan diadakan observasi, dalam
observasi ini akan diamati kegiatan guru dan siswa yang tampak
selama

proses

pembelajaran

serta

kegiatan

pembelajaran

dilaksnakan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah


dibuat. Semua kegiatan selama proses belajar mengajar tersebut
dicatat dalam lembar penelitian yang telah disiapkan. Pada akhir
siklus dilakukan evaluasi

hasil belajar untuk mengetahui

pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang dipelajari secara


individu.
d.

Refleksi dan Evaluasi


Refleksi dilakukan pada akhir siklus. Pada tahap ini peneliti
bersama guru mengkaji pelaksanaan dan hasil yang diperoleh
dalam pemberian tindakan tiap siklusnya. Sebagai acuan dalam
refleksi ini digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki serta
menyempurnakan perencanaan dan pelaksanaan tindakan pada
siklus selanjutnya.

26

2.

Siklus II.
Prosedur pada siklus kedua dan ketiga pada dasarnya sama dengan
pada siklus pertama, hanya saja pada siklus kedua dilakukan
perbaikan terhadap kekurangan yang terdapat pada siklus pertama
yang diketahui dari tes hasil belajar dan observasi belajar siswa yang
telah diamati.

E.

Tehnik Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah
sebagai berikut:
1.

Observasi
Pengamatan yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek
penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan untuk
memperoleh tujuan yang diharapkan (Ridwan, 2004).
Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas guru, aktivitas siswa
dan observer sendiri.

2.

Tes Hasil Belajar Siswa


Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang
digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi,
kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok
(Arikunto 2003). Tes dilakukan untuk mengetahui sejauh mana
penguasaan siswa terhadap pelajaran yang diberikan selama proses
belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe
round table.

27

Tes dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda yang diambil dari
buku paket biologi. Tes diberikan pada siswa setelah siswa menerima
materi pokok bahasan, kemudian diberikan skor dari hasil tes, skor 1
untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah.
3.

Angket
Pada dasarnya angket atau kuesioner adalah sebuah daftar
pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur
(responden). Dengan kuesioner ini orang dapat diketahui tentang
keadaan/data

diri,

pengalaman,

pengalaman

sikap

atau

pendapatnya, dan lain-lain (Arikunto 2003). Pendapat lain angket


adalah daftar pertanyaan atau pernyataan yang dikirimkan kepada
responden baik secara langsung atau tidak langsung.
Penelitian ini menggunakan angket dengan bentuk tertutup
dan langsung. Angket ini dipakai untuk mendapatkan data tentang
motivasi belajar siswa. Selanjutnya teknik pemberian skor terhadap
Penelitian ini menggunakan angket dengan bentuk tertutup dan
langsung. Angket ini dipakai untuk mendapatkan data tentang
motivasi belajar siswa. Selanjutnya teknik pemberian skor terhadap
angket.
F.

Instrumen Penelitian
Menurut Mardalis (2004), instrumen penelitian adalah suatu alat
ukur.Instrumen ini dapat dikumpulkan data sebagai alat untuk menyatakan
besaran serta lebih kurangnya dalam bentuk kuantitatif dan kualitatif.

28

Pendapat lain dikemukakan oleh Arikunto (2009) bahwa instrumen


penelitian adalah alat yang digunakan untuk melakukan penelitian.
Untuk memperoleh data yang valid, maka digunakan instrumen seperti
lembar observasi, angket motivasi belajar siswa, dan tes hasil belajar.
1. Lembar observasi
a)

Aktivitas Guru
Lembar observasi bertujuan untuk melihat kegiatan oleh
guru selama proses pembelajaran dengan menggunakan pedoman
observasi yang sesuai dengan skenario pembelajaran di (RPP).
Dan lembar observasi digunakan untuk mendapatkan data yang
berkaitan

dengan

keterlaksanaan

rencana

pelaksanaan

pembelajaran (RPP), dan aktifitas siswa dalam kegiatan belajar


mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe round table . Data yang diperoleh dalam observasi dicatat
dalam suatu lembar observasi.
2. Aktivitas Guru
Aspek

yang

diamati

dalam

aktivitas

guru

adalah:membangkitkan motivasi siswa dalam belajar, memberikan


apersepsi kepada siswa, menyampaikan materi kepada siswa,
menggunakan pembelajaran kooperatif tipe round table, mengatur
waktu untuk dan pengaturan kegiatan secara kelompok dengan
melihat situasi latihan soal yang berlangsung, pendampingan siswa

29

selama proses belajar mengajar berlangsung, pendampingan siswa


dalam kegiatan kelompok, memamerkan hasil karya siswa, dan
bersama-sama siswa membuat kesimpulan dengan bahasa sendiri.
Di dalam aktivitas guru ini maka skor penilaian yang
ditentukan adalah: jika semua diskriptor tidak tampak diberi skor 1,
skor 2 diberikan jika hanya satu diskriptor yang tampak, skor 3
diberikan jika ada dua diskriptor yang tampak, skor 4 diberikan jika
semua diskriptor tampak.
a) Aktivitas Siswa dan Motivasi Belajar Siswa
Motivasi belajar siswa dilihat pada antusias siswa dalam
mengikuti pembelajaran, Interaksi siswa dengan guru, Interaksi
siswa dengan siswa, kerjasama dalam kelompok, motivasi siswa
dalam

diskusi

kelompok,

dan

aktivitas

siswa

dalam

pembelajaran, partisipasi siswa dalam menyimpulkan hasil


belajar.
Penskorannya untuk setiap skor yang diperoleh pada tiaptiap aspek yang diamati (a) skor 1 diberikan jika X 25 %, (b)
skor 2 diberikan jika 25 % < X 50 %, (c) skor 3 diberikan jika
50 % < X 75 %, dan (d) skor 4 diberikan jika X > 75 %. X =
Jumlah siswa yang aktif melakukan aktivitas pembelajaran sesuai
dengan deskriptor.

30

1. Angket
Angket digunakan untuk mengukur motivasi hasil belajar siswa.
Angket motivasi belajar siswa

disusun oleh peneliti. Angket ini

menggunakan skala likert dengan 5 pilihan jawaban, yaitu: Sangat


Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Ragu-Ragu (RR), Setuju (S),
Sangat Setuju (SS). Pensekoran dalam angket dilakukan mengikuti
degradasi pilihan jawaban; yaitu skor 1 untuk Sangat Tidak Setuju
(STS), skor 2 untuk Tidak Setuju (TS), skor 3 untuk Ragu-Ragu (RR),
skor 4 untuk Setuju (S), skor 5 untuk Sangat Setuju (SS).
2. Agket (kuesioner)
Angket dalam penelitian ini adalah digunakan untuk SMP Negeri
5 Jonggat, pertanyaan angket disediakan dengan lima option jawaban.
jika memilih sangat tidak setuju diberi skor 1, tidak setuju diberi skor
2, ragu-ragu diberi skor 3, setuju diberi skor 4, dan sangat setuju diberi
skor 5.
3. Tes
Tes yang digunakan sebagai alat ukur atau instrumen dalam
penelitian ini adalah tes tertulis yang diberikan setelah selesai seluruh
siklus pembelajaran penelitian tindakan kelas. Tindakan yang
diberikan kepada objek penelitian berupa tes objektif (pilihan ganda)
yang berjumlah 20 butir dengan skor nilai. Bobot skor nilai untuk
jawaban yang benar = 5 dan jawaban yang salah= 0.

31

Tes yang digunakan diperoleh dari Buku Paket Biologi kelas VIII
untuk SMP Negeri 5 Jonggat. Tes dianggap standar, dengan demikian
tidak perlu dilakukan uji validitas dan Reabilitas.
G.

Analisis Data
1.

Data Observasi aktivitas guru dan aktivitas siswa


A=

x 100%

A = Persentase keterlaksanaan pembelajaran


X = Jumlah skor keterlaksanaan pembelajaran oleh guru
n = Total skor
Untuk mengetahui tingkat keterlaksanaan pembelajaran oleh
guru, maka persentasi keterlaksanaan di transformasi ke dalam
kategori-kategori seperti tertera pada tabel 3.1 berikut.
Tabel 3.1 pedoman skor aktivitas guru
No
1
2
3
4

Persentasi
55%
56%-70%
71%-85%
>85%
(Sabila, 2008).

Katagori
Tidak baik
Cukup baik
Baik
Sangat baik

Data respon siswa tentang motivasi belajar siswa dianalisis


dengan rerata jawaban / pernyataan siswa yang telah disediakan pada
angket motivasi belajar siswa.
Skor akhir yang diperoleh dari setiap kondisi kreteria-kreteria
dirata-ratakan ditentukan katagori penilaiannya yaitu: sangat kurang

32

baik ( 1,49) , kurang baik ( 1,50- 2,49), cukup baik (2,50-3,49),


baik (3,50-4,49), sangat baik (4,50-5,00) (Kardi, 2002).
2.

Data motivasi belajar siswa


Untuk menentukan motivasi belajar siswa digunakan rumus
persentase sebagai berikut:
P=

100%

keterangan:
P = Persentase motivasi belajar
X = Jumlah skor siswa
N = Jumlah skor total
Untuk mengetahui tingkat motivasi hasil belajar siswa, maka
persentasi motivasi belajar siswa hasil analisis ditransformasi ke
dalam kategori seperti tertera pada tabel 3.3. di bawah ini:

Tabel 3.3. Kategori motivasi belajar siswa


No.

Kategori

Persentase

Sangat tinggi

80-100%

Tinggi

66-79%

Cukup

56-65%

Kurang

40-55%

Sangat kurang

0-30%

(Sabila, 2008).

33

Data hasil belajar


1.

Ketuntasan individu
Setiap siswa dalam proses belajar mengajar dikatakan
tuntas apabila memperoleh nilai 65. Nilai ketuntasan minimal
sebesar 65 dipilih karena sesuai dengan kkm disekolah
tersebut.

2.

Ketuntasan Klasikal
Data tes hasil belajar siswa dianalisa menggunakan analisis
ketuntasan hasil belajar secara klasikal yaitu 85% dari jumlah
siswa memperoleh nilai 65. Dengan rumus ketuntasan belajar
klasikal (Depdiknas, 2004) sebagai berikut:

Keterangan:
KB = Ketuntasan belajar klasikal
P

= Banyak siswa yang memperoleh nilai 65

= Banyaknya siswa
Ketuntasan belajar klasikal tercapai jika 85% siswa

mencapai nilai minimal 65 yang akan terlihat pada hasil evaluasi


tiap-tiap siswa.

34

DAFTAR PUSTAKA

Sudirman A.M 2006 Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta :


Charisma Putra Utama Offiset.
Prof.dr. syaiful sagala,M.Pd Konsep Dan Makna Pembelajaran Jakarta :
rajakraindo persada.
Sudjana, Nana (1996), Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung :
Sinar Baru.

Arikunto suharsimi, (2006), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,


Jakarta : Rineka Cipta.

Sagala Syaiful. 2010, Konsep Dan Makna Pembelajaran, Bandung : Alfabeta


Bandung.

Drs. Sugiyanto M.Si, M. Si, Jhon Dewey (1916), Model-Model Pembelajaran


Inovatif, Surakarta : Yuma pustaka dan FKIP UNS.

Saputra M Yudha, Sunama, Jurnal Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPS


Melalui

Pembelajaran Koooperatif Tipe Roudtable, Bandung :

Pustaka UPI 2005.

35

36