Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
Mortalitas neonatus telah menurun secara progresif, angka mortalitas tertinggi terjadi 24
jam pertama setelah lahir, dan secara keseluruhan kira-kira merupakan 65% kematian dibawah
umur satu tahun. Penurunan selanjutnya pada mortalitas dan morbiditas yang terkait terutama
tergantung pada pencegahan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah (Low-Birth Weight =
LBW), diagnosis pranatal, dan pengobatan awal pada penyakit-penyakit akibat faktor-faktor yang
berperan selama kehamilan dan pada persalinan. Mortalitas perinatal menggambarkan kematian
janin dan neonatus yang dipengaruhi oleh keadaan pranatal dan keadaan di sekitar saat
persalinan. Sering didefinisikan sebagai kematian janin dan bayi dari usia kehamilan 20 minggu
sampai hari ke 28 sesudah lahir.
Di negara berkembang, termasuk Indonesia, tingginya morbiditas dan mortalitas BBLR
masih menjadi masalah utama. Penyebab utama morbiditas dan mortalitas BBLR di negara
berkembang adalah asfiksia, sindrom gangguan pernapasan, infeksi, serta komplikasi hipotermia.
Hipotermia sendiri dapat menimbulkan penyulit seperti infeksi, gagal ginjal, serangan apnea dan
lain-lain yang dapat mengakibatkan kematian.
Di Indonesia, sekitar 70% persalinan terjadi di pedesaan dan di tolong oleh dukun bayi.
Mungkin pula di tolong oleh mertua, anggota keluarga yang lain atau tetangga. Faktor utama yang
memberikan peluang terjadinya kematian neonatus di rumah adalah kegagalan untuk mengenal
faktor risiko pada kehamilan, persalinan, periode neonatus dan tidak merujuk bayi ke fasilitas
kesehatan pada saat yang tepat.
Penyebab BBLR sangatlah multifaktorial, antara lain asupan gizi ibu sangat kurang pada
masa kehamilan, gangguan pertumbuhan dalam kandungan (janin tumbuh lambat), faktor
plasenta, infeksi, kelainan rahim ibu, trauma dan lain-lain

BAB II
ISI
I.

Definisi
Bayi Berat Lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir

kurang dari 2.500 gram (sampai dengan 2499 gram). Berkaitan dengan penanganan dan
harapan hidupnya, bayi berat lahir rendah dibedakan dalam :

Bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 1.5002.500 gram

Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir < 1.500 gram

Bayi berat lahir ekstrem rendah (BBLER), berat lahir < 1.000 gram

Bayi berat lahir rendah mungkin prematur (kurang bulan), mungkin juga cukup bulan
(dismatur).
Grenwald menyatakan bahwa bila digunakan definisi yang lama, 3040% dari bayi
perempuan sebenarnya telah mempunyai masa gestasi 3738 minggu. Selain itu di negeri
yang masih berkembang batas 2.500 gram sebagai bayi prematur mungkin terlalu tinggi,
karena berat badan lahir rata-rata yang lebih rendah.
Untuk mendapat keseragaman, pada kongres European Perinatal Medicine ke 2 di
London (1970) telah diusulkan definisi sebagai berikut :

Bayi kurang bulan (pre-term) ialah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu
(kurang dari 259 hari)

Bayi cukup bulan (term) ialah bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu sampai 42
minggu (259293 hari)

Bayi lebih bulan (posterm) ialah bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau lebih
(294 hari atau lebih)
Dengan pengertian seperti yang telah diuraikan diatas, bayi BBLR dapat dibagi menjadi 2

golongan, yaitu :
1. Prematuritas murni

Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan
untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa
kehamilan (NKB-SMK).
2. Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu.
Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi yang kecil
untuk masa kehamilannya (KMK).
II.

Angka kejadian
Angka kejadian BBLR di RSCM pada tahun 1986 adalah 24%. Angka kematian
perinatal di rumah sakit dan tahun yang sama adalah 70% dan 73% dari seluruh kematian
yang disebabkan oleh BBLR
Prematuritas murni
Masa gestasi bayi prematur adalah kurang dari 37 minggu atau 259 hari. Di negara maju
angka kejadian kelahiran bayi prematur adalah sekitar 67 %. Di negara sedang
berkembang, angka kematian lebih kurang 3 kali lipat. Di Indonesia angka kejadian bayi
prematur beleum dapat dikemukakan di sini, tetapi angka di RSCM Jakarta berkisar antara
2224 % dari semua bayi yang dilahirkan dalam 1 tahun. Makin rendah masa gestasi dan
makin kecil bayi yang dilahirkan makin tinggi morbiditas dan mortalitasnya. Berdasarkan
atas timbulnya bermacam-macam problematika pada derajat prematuritas, maka Usher
(1975) menggolongkan bayi tersebut dalam tiga kelompok :
1. Bayi yang sangat prematur (extremely premature) : Masa gestasi 2430 minggu. Bayi
dengan masa gestasi 2427 minggu masih sangat sulkar hidup terutama di negara
yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 2830 minggu
masih mungkin hidup dengan perawatan yang sangat intensif agar dicapai hasil yang
optimum.
2. Bayi prematur derajat sedang (moderately premature) : Masa gestasi 3136 minggu.
Kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik jauh lebih baik dari golongan pertama dan

gejala sisa yang akan dihadapi dikemudian hari juga lebih ringan jika diberi
pengelolaan yang intensif.
3. borderline premature : Masa gestasi 3738 minggu. Bayi ini mempunyai sifat-sifat
prematur dan matur. Biasanya beratnya seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi
matur, akan tetapi sering timbul problematika seperti yang dialami bayi prematur,
seperti sindrom gangguan pernapasan, hiperbilirubinemia, daya isap yang lemah dan
sebagainya, sehingga bayi ini harus diawasi dengan seksama.
Penyebab
1. Faktor ibu

Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan, misalnya toksemia


gravidarum, perdarahan antepartum, kelainan uterus, hidarmnion, penyakit jantung
atau penyakit infeksi atau kronik lainnya, hipertensi, nefritis akut, diabetes melitus,
tindakan operatif, trauma psikis dan psikologis.

Usia. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun. Jarak dua kehamilan
terlalu dekat.

Riwayat kelahiran prematur sebelumnya.

2. Faktor janin, seperti cacat bawaan, hidramnion, ketuban pecah dini dan kehamilan ganda
pada umumnya akan mengakibatkan lahir bayi BBLR.
3. Keadaan sosial ekonomi yang rendah
4. Kebiasaan, seperti pekerjaan yang melelahkan, merokok.
5. Tidak diketahui.
Gambaran klinis
Tampak luar dan tingkah laku bayi prematur tergantung dari tuanya umur kehamilan.
Karakteristik untuk bayi prematur adalah berat lahir kurang dari atau sama dengan 2.500 gr,
panjang badan kurang dari atau sama dengan 45 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar
kepala kurang dari 33 cm, umur kehamilan kurang dari 37 minggu.
Kepala relatif lebih besar dari badannya, kulit tipis, transparan, lanugonya banyak,
lemak subkutan kurang, sering tampak peristaltik usus. Osifikasi tengkorak sedikit, ubun-ubun
dan sutura lebar, genitalia imatur. Desensus testikulorum biasanya belum sempurna dan labia

minora belum tertutup oleh labia major. Pembuluh darah kulit banyak terlihat. Rambut
biasanya tipis, halus dan teranyam sehingga sulit terlihat satu-persatu. Tulang rawan dan daun
telinganya belum cukup, sehingga elastisitas daun telinganya masih kurang. Jaringan
mammae belum sempurna, demikian pula puting susu belum terbentuk dengan baik. Bayi
kecil, posisinya masih posisi fetal, yaitu posisi dekubitus lateral, pergerakannya masih kurang
dan lemah. Bayi lebih banyak tidur daripada bangun.
Tangisnya lemah dan jarang, pernapasan belum teratur dan sering terdapat serangan
apnea. Bila hal ini sering terjadi dan tiap serangan lebih dari 20 detik maka kemungkinan
timbulnya kerusakan otak yang permanen lebih besar. Otot-otot masih hipotonik, sehingga
sikap selalu dalam keadaan kedua tungkai dalam abduksi, sendi lutut dan sendi kaki dalam
fleksi atau lurus dan kepala mengarah ke satu sisi.
Refleks tonik-leher biasanya lemah dan refleks moro dapat positif. Refleks mengisap
dan menelan belum sempurna, demikian pula refleks batuk. Bayi yang lapar akan menangis,
gelisah dan mengerak-gerakkan tangannya. Bila dalam waktu 3 hari tanda-tanda lapar ini tidak
terlihat, maka harus dicurigai adanya perdarahan intraventrikuler atau infeksi.
Edema biasanya sudah terlihat segera setelah lahir dan makin bertambah jelas dalam
2448 jam berikutnya. Kulit tampak mengkilat, licin, serta terdapat pitting edema. Edema ini
dapat berubah sesuai dengan perubahan posisi. Edema yang hebat merupakan tanda bahaya
bagi bayi tersebut. Edema ini seringkali berhubungan dengan perdarahan antepartum,
diabetes mellitus dan toksemia gravidarum.
Frekuensi nadi berkisar antara 100140 kali/menit. Frekuensi pernapasan bervariasi,
terutama pada hari-hari pertama. Pada hari pertama frekuensi pernapasan 4050 kali/menit.
Pada hari berikutnya 3545 kali/menit. Bila frekuensi pernapasan terus meningkat atau selalu
di atas 60 kali/menit, harus waspada akan kemungkinan terjadinya sindrom gangguan
pernapasan, seperti membran hialin, pneumonia, gangguan metabolik atau gangguan susunan
saraf pusat. Dalam hal ini penting sekali melakukan pemeriksaan foto toraks, USG dan lainlain.
Permasalahan
1. Suhu tubuh tidak stabil. Karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan
oleh penguapan yang bertambah akibatnya kurangnya jaringan lemak bawah kulit,

permukaan tubuh yang relatif lebih luas dibandingkan dengan berat badan, otot yang tidak
aktif, produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat yang sedikit, serta pusat
pengaturan suhu yang belum sempurna fungsinya.
2. Gangguan

pernapasan.

Disebabkan

oleh

kurangnya

jumlah

surfaktan

(rasio

lesitin/sfingomielin kurang dari 2), pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum
sempurna, otot pernapasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung.
Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita bayi prematur adalah penyakit
membrane hialin dan pneumonia aspirasi. Disamping itu sering timbul pernapasan periodik
dan apnea yang disebabkan oleh pusat pernapasan di medulla oblongata belum matur.
3. Gangguan pencernaan dan nutrisi. Terjadi distensi abdomen akibat dari motilitas usus
kurang, volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung bertambah,
daya untuk mencerna dan mengabsorbsi lemak, laktosa, vitamin yang larut lemak dan
beberapa mineral tertentu berkurang. Kerja dari sfingter kardio-esofagus yang belum
sempurna memudahkan terjadinya regurgitasi isi lambung ke esofagus dan mudah terjadi
aspirasi.
4. Hati imatur. Memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K.
Hiperbilirubinemia disebabkan faktor kematangan hepar kurang, sehingga konjugasi
bilirubin indirek menjadi bilirubin direk belum sempurna.
5. Ginjal imatur. Baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urin yang sedikit, urea
clearance yang rendah, tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari
badan dengan akibat mudah terkadi edema dan asidosis metabolik.
6. Perdarahan. Mudah terjadi perdarahan karena pembuluh darah yang rapuh, kekurangan
faktor pembekuan seperti protrombin, faktor VII dan faktor Chrismast.
7. Gangguan imunologik. Daya tahan tubuh terhadap infeksi kurang, karena rendahnya
kadar IgG gamma globulin. Bayi prematur relatif belum mampu membentuk antibodi dan
daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik
8. Perdarahan intraventrikuler. Lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan
intraventrikuler. Hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnea,
asfiksia berat dan sindroma gangguan pernapasan. Akibatnya bayi menjadi hipoksia,
hipertensi, dan hiperkapnia. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak bertambah.
Penambahan aliran darah ke otak akan lebih banyak lagi karena tidak adanya autoregulasi

serebral pada bayi premature, sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah
kapiler yang rapuh dan iskemia di lapisan germinal yang terletak di dasar ventrikel lateralis
antara nukleus kaudatus dan ependim. Luasnya perdarahan intraventrikuler dapat
didiagnosis dengan USG atau CT-Scan.
9. Fibroplasia retrolental. Penyakit ini ditemukan pada bayi prematur dan disebabkan oleh
penggunaan oksigen dengan konsentrasi tinggi (PaO2 lebih dari 115 mmHg = 15 kPa),
maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah retina yang diikuti oleh proliferasi
kapiler-kapiler baru ke daerah yang iskemia sehingga terjadi perdarahan fibrosis, distorsi
dan parut retina sehingga bayi menjadi buta. Stadium akut penyakit ini dapat terlihat pada
umur 3 6 minggu dalam bentuk dilatasi arteri dan vena retina. Kemudian dikuti oleh
pertumbuhan kapiler baru secara tidak teratur pada ujung vena. Kumpulan pembuluh
darah baru ini tampak sebagai perdarahan. Akhirnya sebagian kapiler baru ini tumbuh kea
rah korpus vitreum dan lensa. Selanjutnya akan terjadi edema pada retina dan retina
dapat terlepas dari dasarnya dan keadaan ini merupakan keadaan yang irreversible. Pada
stadium akhir akan terdapat massa retrolental yang terdiri dari jaringan ikat. Keadaan ini
dapat terjadi bilateral dengan mikroftalmus, kamar depan menyempit, pupil mengecil dan
tidak teratur, serta visus menghilang. Selain itu dapat pula disertai retardasi mental dan
cerebral palsy.
Pengobatan pada stadium dini dapat dicoba dengan memberikan ACTH atau
kortikosteroid. Hal yang paling penting ialah pencegahannya, yaitu : (1) Pada BBLR
penggunaan oksigen tidak melebihi 40% dan hal ini dapat dicapai dengan memberikan
oksigen 2 liter/menit, (2) , (3) Pemberian oksigen pada bayi yang berat badannya kurang
dari 2 kg, harus hati-hati dan sebaiknya PaO2 selalu dimonitor.
Penatalaksanaan
Mengingat belum sempurnanya kerja organ-organ tubuh yang diperlukan untuk pertumbuhan,
perkembangan dan penyesuaian diri dengan lingkungan di luar uterus, maka perlu
diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan, dan pencegahan infeksi.
1. Pengaturan suhu
Untuk mencegah hipotermi, perlu diusahakan lingkungan yang cukup hangat untuk bayi
dan dalam keadaan istirahat konsumsi oksigen sedikit, sehingga suhu tubuh bayi tetap

normal. Bila bayi dirawat dalam inkubator, maka suhu untuk bayi berat badan kurang dari
2 kg adalah 35 C, dan untuk bayi dengan berat badan 22,5 kg adalah 34 C.
Kelembaban inkubator berkisar antara 5060%. Kelembaban yang lebih tinggi diperlukan
pada bayi dengan sindrom gangguan pernapasan. Suhu inkubator dapat diturunkan 1 C
perminggu untuk bayi dengan berat badan 2 kg, dan secara berangsur-angsur ia dapat
diletakkan di tempat tidur bayi dengan suhu lingkungan 2729 C. Bila tidak ada inkubator,
pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakkan botol air hangat
atau lampu petromak didekat tempat tidur bayi.
Bayi dalam inkubator hanya dipakaikan popok untuk memudahkan pengawasan sehingga
kelainan yang timbul dapat dikenal sedini-dininya dan tindakan serta pengobatan dapat
dilaksanakan secepat-cepatnya.
2. Makanan
Pada bayi prematur refleks mengisap, menelan dan batuk belum sempurna, kapasitas
lambung sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase masih kurang, di samping itu
kebutuhan protein 35 gr/hari dan kalori tinggi (110 kal/kg/hari), agar berat badan
bertambah. Cara pemberian makanan setiap bayi BBLR harus secara sendiri-sendiri.
Adalah penting untuk menghindari kelelahan dan aspirasi makanan karena regurgitasi
atau karena proses pmeberian makanan. Pemberian makan oral (melalui puting) tidak
boleh dilakukan dengan keadaan gawat pernafasan, hipoksia, insufiseinsi sirkulasi, sekresi
yang berlebihan, penyumbatan mulut, sepsis, depresi SSP, imaturitas atau tanda-tanda
penyakit serius. Bayi-bayi ini akan memerlukan pemberian makanan secara parenteral
atau melalui sonde untuk memasok kalori, cairan dan elektrolit.
Jika bayi sehat, timbul gerakan penghisapan dan tidak dalam keadaan distres, pemberian
makanna orel dapat diupayakan; meskipun sebagian besar bayi yang beratnya kurang dari
1500 gram memerlukan pemberian makanna dengan pipa karena mereka tidak mamapu
mengkoordinasi pernafasan, penghisapan, dan penelanan. Kesiapan saluran usus untuk
menerima makanan mungkin dapat ditentukan oleh bising usus yang aktif, keluarnya
mekonium, tidak adanya kembung atau tanda-tanda peritonitis dan tidak ada aspirasi atau
muntah empedu. Untuk bayi yang beratnya kurang dari 1000 gram, pemberian makanan
yang mula-mula dapat diberikan adalah 1 ml dektrosa 5% atau 10 kal/ons formula
prematur. Jika hal ini berhasil, makanna berikutnnya diberiakan setiap 2 jam, dan kekuatan

(kekentalan formula) ditambah dari 10 menjadi 15-20 kal/ons. Sesudahnya, penembahan


volume susu 1 ml sesudah 12 kali pemberian makanan pada volume sebelumnya berhasil.
Tambahan volume susu harian harus tidak melebihi 20 ml/kg/hari. Bila volume 150
ml/kg/24 jam telah dicapai, kandungan kalori dapat ditambah sampai 24 atau 27 kkal/ons.
Dengan densitas kaloriu yang tinggi, bayi mempunyai resiko untuk mengalami dehidrasi,
edema, intolerasi laktosa, diare, flatus dan pengosongan lambung yang terlambat disertai
muntah. Protokol pemberian makanan bayi prematur yang beratnya > 1500 gram , dimulai
dengan menambah kadar susu, mulai dari 4 ml untuk 3x makan yang diberi setiap 3 jam
sampai kadar telah bertambah dari 10 menajdi 20 kal/ons. Selanjutnya, penambahan
volume susu formula harian total tidak boleh melebihi 20 ml/kg/hari.
Disamping penghisapan yang kuat, proses pemberian makanan oral memerlukan
koordinasi antara penelanan, penutupan laring dan saluran hidung oleh epiglotis dan
uvula, dan motilitas esofagus yang normal; merupakan suatu proses sinkronisasi yang
biasanya tidak ada sebelum kehamilan mencapai 34 minggu.
Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan pengisapan cairan lambung untuk
mengetahui ada atau tidaknya atresia esofagus dan mencegah muntah. Pengisapan
cairan lambung dilakukan setiap sebelum pemberian minum. Bayi yang lebih kecil atau
kurang kuat harus diberi makan melalui sonde; lebih disukai menggunakan sebuah pipa
plastik eksterna yang elastis yang berdiameter internanya sekitar 0.05 cm dengan ujung
atraumatis yang bulat dengan lubang pada kedua sisinya. Pipa dapat dibiarkan
ditempatnya selama 3-7 hari sebelum diganti dengan pipa yang sama melalui hidung yang
lainnya.
Sesudah 5 hari bayi dicoba menyusu pada ibunya. Bila daya isap cukup baik maka
pemberian ASI diteruskan. Pemberian melalui susu botol adalah dengan frekuensi
pemberian yang lebih sering dalam jumlah susu yang sedikit. Frekuensi pemberian minum
makin berkurang dengan bertambahnya berat bayi. Jumlah cairan yang diberikan pertama
kali adalah 15 ml/jam dan jumlahnya dapat ditambah sedikit demi sedikit setiap 12 jam.
Banyaknya cairan yang diberikan adalah 60 mL/kgBB/hari dan setiap hari dinaikkan
sampai 200 mL/kgBB/hari pada akhir minggu kedua. Bila tidak ada ASI dapat diberikan
susu buatan yang mengandung lemak yang mudah dicerna bayi (middle chain

triglyserides) dan mengandung 20 kal/30 mL air atau sekurang-kurangnya 110


kal/kgBB/hari.
Kadang-kadang diperlukan pemberian makanan melalui kateter. Sebaliknya dipakai
kateter dari polietilen yang dapat tinggal dilambung selama 45 hari tanpa iritasi. Bila
daya isap dan menelan mulai baik, kateter secara berangsur-angsur dapat diganti dengan
pipet, sendok atau botol dengan dot. Bayi yang sangat kecil tanpa gangguan pernapasan
dapat diberi makanan melalui tetesan lambung.
3. Kebutuhan Cairan
Kebutuhan cairan ini bervaraisi menurut umur kehamilan, keadaan lingkungan, status
penyak. Dapat dianggap bahwa kehilangan air minimal dalam tinja pada bayi-bayi yang
tidak mendapat cairan oral, kebutuhan airnya sama dengan kehilangan air yang tidak
terasa (insesible), ekskresi zat terlarut oleh ginjal, dan setiap kehilangan yang terusmenerus yang tidak biasa. Kehilangan air insesible secara tidak langsung terkait dengan
umur kehamilan; bayi preterm yang amat imatur (kurang dari 1000 gram) mungkin
memerlukan sebanyak 2-3 ml/Kg/jam. Kehilangan cairan insesible bertambah bila berada
di bawah pemanas radian, selama fototerapi dan pada bayi yang demam. Bayi prematur
yang lebih besar 2000-2500 gram yang dirawat dalam inkubator mengalami kehilangan air
insesible 0.6-0.7 ml/KgBB/jam. Masukan air bagi bayi cukup bulan biasanya dimulai dari
60-70 ml/KgBB pada hari pertama. Dan dinaikkan sampai 100-120 ml/KgBB pada hari
kedua. Bayi yang lebih prematur dan lebih kecil, pemberian minum mulai dengan 70100ml/KgBB pada hari pertama dan dilanjutkan dengan 150 ml/KgBB atau lebih pada hari
ketiga dan keempat.
4. Pencegahan infeksi.
Bayi prematur mudah sekali diserang infeksi, hal ini disebabkan karena daya tahan tubuh
terhadap infeksi berkurang, relatif belum sanggup membentuk antibodi dan daya tahan
fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum baik. Perlu dilakukan tindakan
pencegahan yang dimulai pada masa perinatal, seperti memperbaiki keadaan sosial
ekonomi, program pendidikan kesehatan, mencegah buta huruf, keluarga berencana,
perawatan antenatal, natal dan post-natal yang baik, skrining (TORCH, hepatitis, AIDS),
vaksinasi, menjaga kebersihan lingkungan.

10

Dismaturitas
Dismaturitas adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya kurang dibandingkan
dengan berat badan seharusnya untuk masa gestasi bayi itu (kecil masa kehamilan = KMK).
Batasan yang diajukan oleh Lubchenco (1963) adalah setiap bayi yang berat lahirnya sama
dengan atau lebih rendah dari 10th percentile untuk masa kehamilan pada Denver intrauterine
growth curves atau di bawah 2SD menurut kurva pertumbuhan intrauterine Usher dan Mc lean.
Ada 2 bentuk menurut renfield (1975), yaitu :
1. Proportionate IUGR. Janin menderita distress lama, gangguan pertumbuhan terjadi
berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir, sehingga berat, panjang
dan lingkar kepala dalam proporsi seimbang, tetapi secara keseluruhan masih di bawah
masa gestasi yang sebenarnya. Bayi ini tidak menunjukkan adanya wasted, karena
retardasi pada janin terjadi sebelum pembentukan jaringan adiposa
2. Disproportionate IUGR. Terjadi akibat distress subakut. Gangguan terjadi beberapa hari
sampai minggu sebelum lahir. Panjang dan lingkaran kepala normal, tetapi berat tidak
sesuai dengan masa gestasi. Bayi tampak wasted dengan tanda-tanda bayi kurus dan
lebih panjang, jaringan lemak di bawah kulit sedikit, kulit kering keriput dan mudah
diangkat.
Pada bayi IUGR terjadi juga perubahan organ-organ tubuh, dimana perkembangan dari
otak, ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya.

Penyebab
1. Faktor ibu, seperti hipertensi dan penyakit ginjal kronik, diabetes melitus berat,
toksemia, hipoksia ibu (tinggal di daerah pegunungan, hemoglobinopati, penyakit paru
kronik), gizi buruk, drug abuse, alkoholisme.
2. Faktor uterus dan plasenta, seperti kelainan pembuluh darah (hemangioma), insersi
tali pusat yang tidak normal, uterus bikornis, infark plasenta, transfusi dari kembar
yang satu ke kembar yang lain,sebagian plasenta lepas.
3. Faktor janin, seperti ganda, kelainan kromosom, cacat bawaan, infeksi dalam
kandungan (TORCH, sifilis).

11

4. Penyebab lain, seperti keadaan sosial ekonomi yang rendah, idiopatik.

Gambaran klinis
Bayi dengan berat badan kurang dari 2.500 gr, karakteristik fisis sama dengan bayi

prematur dan mungkin ditambah dengan retardasi pertumbuhan dan wasting. Pada bayi cukup
bulan dengan dismaturitas, gejala yang menonjol ialah wasting demikian pula pada post-term
dengan dismaturitas.
Gruenwald (1967) menyatakan bahwa tidak semua kekurangan makanan pada janin
diakibatkan oleh insufisiensi plasenta. Timbulnya gejala insufisiensi plasenta tergantung pada
berat dan lamanya bayi menderita defisit. Menurutnya defisit yang menyebabkan retardasi
pertumbuhan biasanya berlangsung kronis sehingga terjadi fetal distress. Fetal distress dibagi
menjadi 3 golongan, yaitu :
1. Acute fetal distress. Defisit atau fetal deprivation hanya mengakibatkan perinatal distress
tetapi tidak mengakibatkan retardasi pertumbuhan dan wasting.
2. subacute fetal distress. Fetal deprivation menujukkan wasting tetapi tidak ada retardasi
pertumbuhan.
3. Chronic fetal distress. Bayi menunjukkan retasdasi pertumbahan.
Bayi dismatur dengan tanda wasting atau insufisiensi plasenta dapat dibagi dalam 3
stadium menurut berat ringannya wasting tersebut (Clifford), yaitu :
1. Stadium pertama. Bayi tampak kurus dan lebih panjang, kulitnya longgar, kering seperti
perkamen tetapi belum terdapat noda mekonium.
2. Stadium kedua. Tanda stadium pertama ditambah dengan warna kehijauan pada kulit,
plasenta dan umbilikus. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur dengan
amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit, umbilikus dan plasenta akibat anoksia
intrauterin.
3. Stadium ketiga. Tanda stadium kedua ditambah dengan kulit, kuku, dan tali pusat yang
berwarna kuning serta anoksia intrauterin yang lama.

Permasalahan

12

Maturitas fisiologis bayi ini sesuai dengan masa gestasinya dan sedikit dipengaruhi
oleh gangguan pertumbuhan di dalam uterus. Bayi KMK yang tidak prematur lebih mudah
hidup di luar kandungan, tetapi harus waspada akan terjadinya beberapa komplikasi, seperti :
1. Sindrom aspirasi mekonium. Keadaan hipoksia intrauterin mengakibatkan janin
mengadakan gasping dalam uterus. Selain itu mekonium akan dilepaskan ke dalam likuor
amnion seperti yang sering terjadi pada subacute fetal distress, akibatnya cairan itu masuk
ke dalam janin paru karena inhalasi. Sering diikuti oleh pneumotoraks, disebabkan distress
yang sering dialami bayi pada ini persalinan.Insidens idiopathic respiratory distress
syndrome berkurang oleh karena IUGR mempercepat maturnya jaringan paru.
2. Hipoglikemia. Terutama bila pemberian minum terlambat dan terutama terdapat pada bayi
laki-laki. Disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningginya
metabolisme. Gejala klinis tidak khas, umumnya mula-mula bayi tidak menunjukkan
gejala, kemudian bayi tampak kaget, twitching, serangan apnea, sianosis, pucat, tidak
mau minum, lemas, apatis dan kejang. Diagnosis dibuat dengan pemeriksaan kadar gula
darah.
3. Hiperbilirubinemia. Mungkin disebabkan oleh gangguan pertumbuhan hati. Menurut
Gruenwald hati pada bayi dismatur beratnya kurang dibandingkan dengan bayi biasa.
4. Usher (1970) melaporkan bahwa 50% bayi KMK mempunyai hemoglobin yang tinggi,
mungkin disebabkan oleh hipoksia kronik di dalam uterus.
5. Asfiksia neonatorum.
6. Penyakit membran hialin. Terutama mengenai bayi dismatur yang pre-term, karena
surfaktan paru belum cukup, sehingga alveoli selalu kolaps. Akibat hal ini akan tampak
dispnea yang berat, retraksi epigastrium, sianosis dan pada paru terjadi atelektasis dan
akhirnya terjadi eksudasi fibrin dan lain-lain serta terbentuk membrane hialin. Penyakit ini
dapat mengenai bayi yang pre-term, terutama bila masa gestasinya kurang daripada 35
minggu.
Keadaan lain yang mungkin terjadi, seperti perdarahan paru massif, hipotermia, cacat bawaan
akibat kelainan kromosom (sindrom Down, Turner dan lain-lain), cacat bawaan oleh karena
infeksi intrauterin dan sebagainya.

Penatalaksanaan

13

Umumnya sama dengan perawatan neonatus lainnya, seperti pengaturan suhu


lingkungan, makanan, pencegahan infeksi dan lain-lain, tetapi perbedaan problematika harus
diperhatikan :
1. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterin serta menemukan
gangguan pertumbuhan. Waspada terhadap kelainan kongenital.
2. Frekuensi pernapasan terutama dalam 24 jam pertama harus selalu diawasi untuk
mengetahui adanya sindrom aspirasi mekonium atau sindrom gangguan pernapasan
idiopatik.
3. Memeriksa kadar gula darah (true glucose) dengan dextrostix atau di laboratorium. Kadar
gula darah harus diperiksa setiap 812 jam.
4. Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.
5. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan dengan bayi SMK.
6. Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi mekonium.
7. Pencegahan infeksi, karena bayi sangat rentan terhadap infeksi, yaitu karena pemindahan
IgG dari ibu ke janin terganggu.
8. Temperatur harus dikelola karena bayi dismatur lebih mudah menjadi hipotermik,
disebabkan luas permukaan tubuh bayi relatif lebih besar dan jaringan lemak subkutan
kurang.

Taksiran maturitas neonatus


Menilai dengan tepat lamanya masa gestasi untuk tiap neonatus sangat penting karena :
Penting untuk penatalaksanaan tiap neonatus terutama BBLR secara individu
Faktor maturasi bayi sangat berpengaruh pada morbiditas dan mortalitas bayi
Menilai tingkat perkembangan bayi prematur
Penelitian fisiologis neonatus dilakukan dengan mempertimbangkan lamanya masa
gestasi. Cara menilai maturitas neonatus yang dipakai sampai sekarang adalah :
1. Menghitung lamanya masa gestasi dengan menggunakan perhitungan hari pertama
haid terakhir (HPHT). Pengalaman menunjukkan bahwa dapat terjadi kekeliruan
dalam penentuan HPHT. Menurut Finnstrom (1970), walaupun HPHT dapat diingat

14

oleh ibu, biasanya masih ada kesalahan 1 minggu daripada lama masa gestasi yang
sebenarnya.
2. Penilaian ukuran antropometrik

Berat badan lahir (BBL), merupakan indeks terburuk untuk menentukan masa
gestasi, disebabkan pengaruh berbagai faktor. BBLR dapat merupakan bayi
prematur murni atau dismatur. Lama masa gestasi untuk BBLR sangat bervariasi.

Crown heel length, lingkaran kepala, diameter oksipito-frontal, diameter baparietal


dan panjang badan. Menurut Finnstrom (1971) hanya ukuran lingkar kepala yang
mempunyai korelasi baik dengan lamanya masa gestasi, dengan confidence limit
kira-kira 26,1 hari. Rumus :
Y = 11,03 + 7,75 x
Y = masa gestasi
X = lingkaran kepala

3. Pemeriksaan radiologis. Mengetahui lamanya masa gestasi dengan meneliti pusat


epifisis.
4. Motor conduction velocity. Dengan mengukur motor conduction velocity dari nervus
ulnaris.
5. Pemeriksaan elektroensefalogram (EEG)
6. Penilaian karakteristik fisis. Kriteria eksternal yang dapat dinilai untuk menentukan
masa gestasi neonatus adalah bentuk puting susu, ukuran mammae, plantar creases,
rambut kepala, transparansi kulit, membran pupil, alat kelamin, kuku dan tulang rawan
telinga. Usher (1966) mengemukakan hubungan antara masa gestasi dan beberapa
kriteria pada tabel 1. hasil penilaian kriteria eksternal ini bervariasi. Untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik, beberapa sarjana mengadakan skor terhadap
kriteria eksternal ini korelasi antara skor dengan masa gestasinya. Sistem skor Farr
(1966), Finnstrom (1972) dan Dubowitz (1970).
7. Penilaian kriteria neurologis. Beberapa kriteria neurologis atau refleks tertentu baru
timbul pada suatu masa gestasi. Penilaian masa gestasi dengan kriteria eksternal dan
neurologis merupakan cara penaksiran maturitas yang paling mendekati kebenaran.

15

Dengan membuat kombinasi beberapa cara penilaian, ketelitian dalam penaksiran


bertambah baik. Menurut Finnstrom (1972) cara yang paling mendekati kebenaran
adalah kombinasi dua daripada tiga cara di bawah ini, yaitu karakteristik eksternal,
kriteria neurologis dan lingkaran kepala. (lihat tabel)
8. Penilaian menurut Dubowitz. Menggabungkan hasil penilaian fisik eksternal dan
neurologis. Kriteria neurologis dan eksternal diberikan nilai dan dijumlah, kemudian
dengan menggunakan grafik regresi linier dicari masa gestasinya. (Penilaian fisik
eksternal tabel)
9. penilaian masa gestasi berdasarkan 10 kriteria fisik dan neurologis bayi baru lahir
RSCM (Monintja dkk, 1980). Kriteria yang dipakai adalah kriteria morfologik dan
neurologik dari penelitian terdahulu (Usher dkk, 1966 ; Robinson, 1966 ; Atmiel-Tison,
1968). Penilaian masa gestasi adalah dengan memeriksa ciri morfologik dan
neurologik bayi baru lahir dan selanjutnya disesuaikan dengan masa gestasi memakai
cara yang dianjurkan Dubowitz dkk (1970). (Lihat tabel)
Untuk penelitian dianjurkan memakai cara dubowitz, tetapi untuk dilapangan
sebaiknya cara Monintja dkk.

Prognosis
Prognosis tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa
gestasi, iskemia otak, sindrom gangguan pernapasan, perdarahan intraventrikular,
displasia bronkopulmonal, fibroplasia retrolental, infeksi, gangguan metabolik. Prognosis
juga tergantung dari keadaan sosial ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada
saat kehamilan, persalinan dan post-natal.
Pengamatan lanjut
Perlu pengamatan lebih lanjut oleh karena kemungkinan bayi ini akan mengalami
gangguan pendengaran, penglihatan, kognitif, fungsi motorik susunan saraf pusat dan
penyakit-penyakit lain seperti hidrosefalus, cerebral palsy dan lain sebagainya.

16

BAB III
KESIMPULAN

Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah premature baby dengan low birth weight
baby (bayi dengan berat badan lahir rendah = BBLR). Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi
dengan berat kurang dari 2.500 gram pada waktu lahir bayi prematur. Bayi Berat Lahir rendah
(BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2.500 gram (sampai
dengan 2499 gram). Bayi BBLR dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu prematuritas murni, dan
dismaturitas. Prognosis tergantung dari berat ringannya masalah perinatal.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku
Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Volume 3. Cetakan ke 7. Penerbit : Percetakan Infomedika K
: Jakarta, 1997.
2. Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan. Edisi Ke 3. Cetakan Ke 6. Penerbit : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta, 2002.
3. Saifuddin AB, dkk Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal.
Edisi Ke 1. Cetakan Ke 3. Penerbit : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo :
Jakarta, 2002.
4. Markum, A.H. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jilid I Cetak Ulang 2002. Balai Penerbit
FKUI : Jakarta , 2002.
5. Behrman, et al. Nelson Ilmu Kesehatan Anak; Janin dan Bayi Neonatus. Vol 2 edisi 15.
Penerbit EGC Jakarta, 2000. 532:5

18